Antum wa antunna yang lagi nagkring di sini, jangan melihat karena suami TS hanyalah seorang pegawai honorer, lalu kemudian sudut pandang keadilan ekonomi dijadikan alasan menghujjah niat TS itu. sy kadang heran, ikhwan dan akhwat yang saban hari baca Quran, Hadits, ikut kajian, atau apalah namanya, masih gak yakin dengan ketentuan Allah mengenai rejeki. Wahai akhwat dan ikhwah sekalian, rejeki itu tidak diukur dari punya NIP atau tidak, direktur atau bukan, pejabat atau rakyat jelata. Rejeki itu tergantung ketaqwaan seseorang pada Allah.
Masih ingat janji Allah kan???, "Man yattaqillaah, yaj'allahu makhroja,wayarzuqhu min haetsu la yahtasib" (Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, akan dibeikan jalan keluar baginya dari semua persoalannya, dan akan diberikan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
apakah kalian semua masih juga ragu dengan firman Allah ini???
Untuk TS, jika itu sudah niat, pantang menyerah dan jangan putus asa, insya Allah syurganya Allah menantimu. Jangan dengar bisikan orang-orang yang senantiasa mengukur segala-sesuatunya dengan akal dan parameter keduniaan.