saya sudah menjawab di sebelumnya, bahwa perselisihan di antara para shahabat adalah perbedaan ijtihad..
nanti saya lengkapi lagi kalau belum puas...dengan referensi yang lebih jelas insyaALlah
Pendapat dan logika yang lemah, apakah sahabat khususnya muawiyah terjamin kesuciannya sehingga ia terbebas dari kesalahan dalam berijtihad? Sementara Imam ALi adalah manusia suci(Ahlul Khisa) yang dicuikan Allah dalam Al-Azhab: 33.
Silahkan dilengkapi.
hehe...berubah2 terus ,,,
Pemahaman anda sendiri saja. Silahkan.
hehe...saudara bilang ada shahabat yang munafik...
padahal definisi kaum munafik adalah : orang KAFIR yang pura-pura masuk Islam, menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafirannya, tokohnya diantaranya adalah abdullah bin ubay bin salul...
Cukuplah kitab bukhari dan muslim yang menjawab anda :
Syaikhul hadits Imam Bukhari menulis dalam kitab Shahihnya pada bab fi al-Haudh. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda:
"Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang laki-laki diantara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata, "Halumma (Ayo)!" Aku bertanya, "Kemana?" Ia menjawab, "Ke neraka, demi Allah!" Aku bertanya, "Ada apa dengan mereka?" Ia menjawab: "Mereka berbalik (irtaddu) setelah engkau wafat."
Dari Ibn Musayyab bahwa Nabi (Saw.) bersabda: Sebagian dari sahabatku mendatangiku di Haudh, dan kemudian mereka dipisahkan dari Haudh. Maka aku berkata: Ya Rabbi! Mereka adalah para sahabatku (ashabi), dan mendapat jawaban: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka lakukan selepasmu. Sesungguhnya mereka telah berbalik mengingkari sepeninggalmu (inna-hum irtaddu ba ‘da-ka ‘ala Adbari-ka l-Qahqariyy)
Dari Abdullah bahwa Nabi saww bersabda, "Aku akan mendahului kamu di Haudh dan sebagian dari kamu akan dibawa di hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Aku akan bersabda: wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi).Maka dijawab: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)."
Dan beberapa hadits lagi dengan kata-kata serupa yang diriwayatkan dengan jalur sanad yang berbeda, juga pada bab yang sama. Sedangkan pada bab Ghaswah Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al-'Ala bin Musayyib dari ayahnya yang berkata, "Aku bertemu al-Barra bin 'Azib dan aku berseru, "Selamat bagi anda, anda beruntung menjadi sahabat nabi dan anda telah membaiat rasul di bawah pohon, bai'ah tahta syajarah!". Ia menjawab, "Wahai saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat!".
Dalam bab yang sama, kembali Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dari Rasulullah saw, "Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri dan aku berseru, "Sahabatku-sahabatku!" dan terdengar jawaban dengan kata-kata, "Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu."
Yang dimaksud Rasulullah saw jalan kiri pada hadits di atas bisa kita temukan pada Surah Al-Waqiah ayat 41-44. Allah SWT berfirman, "…dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. (Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dan naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan."
Hadits Riwayat Muslim
Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya, kitab Fadhail. Dari Abi Hazim berkata: Aku telah mendengar Sahlan berkata: Aku telah mendengar Nabi saww bersabda: "Aku akan mendahului kamu di Haudh. Siapa yang melaluinya, dia akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya, dia tidak akan dahaga selama-lamanya. Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku (para sahabatku). Kemudian dipisahkan di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata: Nu‘man bin Abi ‘Iyasy telah mendengarnya dan aku telah memberitahu mereka tentang Hadis ini. Maka dia berkata: Adakah anda telah mendengar Sahlan berkata sedemikian? Dia berkata: Ya."
Perawi berkata: "Aku bersaksi bahwa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya mereka itu adalah dariku (inna-hum min-ni). Dan dijawab: "Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi saw) bersabda, "Jauh! Jauh! (dari rahmat Allah)/ke Neraka mereka yang telah mengubah/menukarkan (hukum Tuhanku dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di).
Perawi berkata: Asma‘ binti Abu Bakar berkata: Rasulullah saww bersabda: "Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (dariku), maka aku akan bersabda: "Wahai Tuhanku! Mereka itu dari (sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab: "Tidakkah engkau tahu apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka senantiasa berbalik ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas engkau meninggalkan mereka (Wa Llahi! Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un ‘ala a‘qabi-him) Dia berkata: Ibn Abi Mulaikah berkata: “ Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan dari Mu supaya kami tidak berbalik ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”
Dari Abdillah, Rasulullah (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan aku akan bertelaga dengan mereka (aqwaman). Kemudian aku akan menguasai mereka. Maka aku bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku. Mereka itu adalah para sahabatku (Ya Rabb! Ashabi, ashabi). Lantas dijawab: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)"
Dari Anas bin Malik bahwa Nabi (Saw.) bersabda: "Akan datang kepadaku di Haudh beberapa lelaki (rijalun) dari mereka yang telah bersahabat denganku (mimman sahabani) sehingga aku melihat mereka diangkat kepadaku. Kemudian mereka dipisahkan dariku. Maka aku bersabda: "Ya Rabbi! Mereka adalah para sahabatku. Mereka adalah para sahabatku (Usaihabi) Akan dijawab kepadaku: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)."
Hadits-hadits yang terdapat dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim di atas dengan jelas menunjukkan bahwa orang-orang yang dikenal oleh Rasulullah sebagai sahabatnya ternyata sepeninggal beliau banyak yang berbalik dan kembali kepada kekafiran. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT, "Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.” (Qs. Ali Imran: 144). Allah SWT menegaskan, bahwa orang-orang yang murtad dan kembali kepada kekafiran sepeninggal Rasulullah tidak akan menimbulkan sedikitpun kerugian pada agama Allah dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur. Pertanyaannya siapakah mereka yang bersyukur itu? Dan mengapa Allah menggunakan frasa 'orang yang bersyukur' bukan menyebut orang-orang bertakwa, beriman, setia dan sebutan lainnya yang bisa dinilai lebih cocok dengan padanan kata-kata sebelumnya. Frasa 'orang yang bersyukur' tidaklah dipilih Allah SWT tanpa alasan atau secara kebetulan belaka, melainkan untuk menunjukkan realitas bahwa mereka yang tetap pada keimanannya dan tidak berbalik ke belakang (murtad) jumlahnya sedikit, tidaklah banyak. Kita bisa merujuk pada ayat-ayat lain dalam Al-Qur'an, setiap Allah SWT menyebut orang-orang yang bersyukur selalu disertakan bahwa jumlah mereka sedikit. Seperti misalnya, Allah SWT berfirman, "Sesunggguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." (Qs. Al-Baqarah: 243). Pada ayat yang lain, "Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (Qs. Al-A'raf: 17). Juga pada surah Saba': 13: ”Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang bersyukur.” Baca juga pada Al-Qur'an surah Al-Mu'min: 61 dan surah Al-Mulk: 23.
Allah SWT berfirman, "Barang siapa menaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." (Qs. An-Nisa': 80).
wujud dari taqiyahh.... Ehmmm
Tidak perlu saya bertaqiyah. Karena taqiyah digunakan hanya dalam keadaan darurat jika jiwa kita terancam. Seperti taqiyah yang dilakukan istri firaun yang menyembunyikan keimanannya kepada Allah dan Nabinya di hadapan firaun. Sementara saya masih menganggap anda adalah saudara muslim, jadi tidak ada alasan bagi saya untuk bertaqiyah. Andaipun di kehidupan nyata pun anda mengancam saya maka saya juga tidak perlu bertaqiyah.
