trus caranya mencegah zat kimiawi asing reaktif yang masuk ke dalam tubuh secara mendadak dan insidental gmn dong Kang DeKil?
Cara mencegahnya ya jangan kontak dengan zat kimiawi tsb. Misalnya kalo tau ngeliat ada ulat bulu ya jangan dipegang. Trus kenali juga bahan2 makanan yang menyebabkan reaksi alergi pada tubuh kita. Kalo dah tau, ya jangan dimakan.
Kenapa ya, rata2 obat batuk dikombinasi antara GG ma dextro,
padahal GG mrangsang batuk sementara dextro menekan batuk?
Klo stau ane si batuknya dirangsang dulu biar dahak kluar, stlh itu ditekan
biar ga batuk2. Kerja GG lebih dulu drpd dextro, sktr 1/4 jam-an lbh dulu.
Tapi apa yakin setelah 1/4 jam dahak dah sdh kluar smua. Klo dahak
ternyata masih trus batuk malah ditekan, nasibnya gimana dong? 
Obat batuk itu secara farmakologis dibagi menjadi 2 golongan besar :
ANTITUSIFYaitu obat yang mempunyai efek menekan pusat refleks batuk. Tetapi golongan ini tidak dapat mengeluarkan lendir dari bronkus. Contoh obat golongan ini adalah Dextromethorpan (contoh: Romilar Tablet), Noscapine (contoh: Mercotin Drops), Codein (Narkotika).
Obat golongan ini dipakai untuk mengatasi serangan
batuk kering (tanpa lendir / dahak). Biasanya batuk seperti ini bisa disebabkan oleh reaksi alergi (debu, bulu binatang) ataupun radang tenggorokan.
EKSPEKTORANGolongan ini bekerja dengan mengeluarkan lendir yang menyebabkan terjadinya batuk. Jadi ekspektoran ini hanya efektif untuk batuk berdahak. Contoh obatnya adalah Gliseril Guaiakolat (GG), Bromheksin, Succus Liquiritiae. Biasanya tersedia di pasaran dalam bentuk formulasi sirup cair untuk dewasa (Benadryl Syrup, OBH syrup, dll).
Metode pengobatan batuk berdahak yang benar adalah seperti yang pakde mumu bilang. Seharusnya pasien mendapat terapi dengan zat mukolitik (ekspektoran yang mengeluarkan mukus/lendir) sehingga semua lendir keluar habis. Barulah minum antitusif untuk menekan sisa refleks batuk.
Ekspektoran bekerja dengan mengeluarkan lendir saat pasien batuk, sehingga saat kita minum ekspektoran frekuensi batuk-batuk akan meningkat sehingga semua lendir bisa keluar terdorong oleh batuk. Apabila ekspektoran dicampur dengan antitusif, maka kerja yang terjadi adalah berlawanan, dimana batuk yang berfungsi mendorong dahak keluar, justru malah ditekan oleh antitusif. Akibatnya lendir jadi lama keluarnya.
Campuran antitusif dan ekspektoran saat bersamaan dalam 1 formula obat batuk sebenarnya merupakan contoh pengobatan yang
tidak rasional. Pengobatan batuk berdahak yang rasional adalah dengan menggunakan ekspektoran dahulu untuk menguras lendir selama beberapa hari, baru minum antitusif. Misalnya : minum Ambroxol Tablet selama 2-3 hari (orang dewasa), barulah minum Romilar Tablet.
Kalo batuk kering sih tinggal minum antitusif saja.
Posting Digabung: 12 Oktober 2009, 09:44:49
@ ireallycute...
Kalo ternyata kondisi sampeyan seperti itu, sebenarnya bisa dikurangi dengan cara rajin membersihkan muka dengan pembersih muka yang cocok. Pembersih mukanya harus yang mengandung bahan antiseptik ya, merknya terserah mau ponds, biore, JF sulfur soap, terserah aja.
Yang jelas sebelum anda berangkat naik motor, cuci muka dulu. Sesudah sampai cuci muka lagi. Sebelum tidur cuci muka juga.
Atau kalo anda merasa risih harus sering cuci muka karena sering bepergian bolak-balik, saran saya anda cuci muka setiap sebelum wudhu sholat fardhu saja. Kan 5x sehari cuci muka + cuci dosa. Insya Allah rontok tuh kotoran di muka & dosa-dosanya.
Memang sih anda benar, bahwa kalo pake obat, jerawatnya sembuh, tapi kalo ga pake obat selang beberapa waktu kumat lagi. Tapi coba deh saran saya tersebut, Insya Allah frekuensi jerawatan anda akan berkurang.
Kalo ternyata masih juga, berarti memang pure (murni) gangguan hormonal..
Posting Digabung: 12 Oktober 2009, 09:58:36
pak devil mo tanya donk...emang klo antibiotik hrs diminum sampe abis ya? cnthnya mnm amoxcilin...klo mslkan sakitnya dah sembuh tuh obat apakah hrs dihabiskan?
trus emang klo minum obat gak boleh pake teh manis ya?
mbak janur...
Dalam pengobatan infeksi sistemik, antibiotik memang harus dihabiskan. Karena, ketika 80% bakteri yang menginfeksi tubuh pasien sudah dimusnahkan oleh antibiotika, maka tubuh pasien akan mengalami perubahan yang positif dan signifikan secara fisik. Terlihat seolah pasien sudah sembuh. Padahal masih ada sekitar 20% bakteri di dalam tubuh. Apabila pasien berhenti minum antibiotik, maka sisa bakteri di dalam tubuh akan kembali berkembang biak dan menimbulkan penyakit kembali.
Pada serangan yang kedua (bahsa inggrisnya disebut kumat), maka bakteri akan mempelajari struktur kimia antibiotik yang sudah digunakan tersebut. Sel bakteri akan membuat mekanisme pertahanan kimiawi agar kebal dari serangan antibiotik. Istilah jawa nya disebut mutasi.
Pada kasus senyawa amoksisiklin yang merupakan antibiotik golongan beta laktam, maka bakteri akan memproduksi enzim beta-laktamase sehingga cincin beta-laktam dari amoksisilin akan rusak dan kerja antibiotiknya jadi hilang.
Nah, supaya tidak terjadi hal yang membahayakan tersebut, maka pasien harus menghabiskan dosis antibiotik yang diberikan, meskipun sudah merasa sehat.
Biasanya untuk penanganan bakteri yang resisten dengan antibiotika, maka antibiotikanya diganti dengan jenis lain yang memiliki mekanisme kerja berbeda dan daya kerjanya lebih poten.
Semoga penjelasan saya bisa dimengerti sama mbak janur...