Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Isra Mi'raj Nabi  (Dibaca 4328 kali)


Offline dade

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 388
  • Lokasi: bEkasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Yang Logis Dari ALLAH
    • Lihat Profil
« pada: 16 Agustus 2006, 11:22:51 »
Mi'raj


     Memang banyak didengar keterangan yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad sewaktu Mi'rajnya menerima perintah Shalat langsung dari ALLAH. Ditambahkan pula dengan cerita pertemuan beliau dengan beberapa orang Nabi di langit, di antaranya Nabi Musa yang mengusulkan agar Shalat yang diperintahkan 50 kali sehari dikurangi, untuk mana Nabi Muhammad berulang kali kembali naik menemui ALLAH untuk memohon agar perintah itu diringankan, dan diringankan lagi. Akhirnya terdapatlah kata putus bahwa Shalat harus dilaksanakan lima kali dalam sehari. Dalam hal ini banyak sekali yang harus dibicarakan, tentunya berdasarkan Firman ALLAH, pengalaman dan logika karena memang Islam adalah agama logis, cocok dengan capaian pemikiran wajar.
                                               
1. Berdasarkan Ayat 33/40, ternyata Muhammad ditentukan ALLAH sebagai Nabi terakhir, penutup para Nabi. Jika benar beliau menemui Nabi Musa di langit begitupun Nabi lainnya, maka kelirulah Ayat 33/40 tadi padahal berulang   kali dinyatakan dalam Alquran bahwa Ayat-ayat Suci itu tidak pernah mengandung keraguan, kekeliruan, dan pertantangan.   Pengalaman dan pemikiran membuktikan bahwa Ayat 33/40 adalah benar, tiada Nabi lain sewaktu Muhammad hidup dan pada waktu sesudahnya. Beliau tidak pernah bertemu dengan seorang Nabi manapun di dunia ini. Sebab itu jelaslah bahwa keterangan tadi palsu, salah, atau dongeng yang dipalsukan.

2. Keterangan itu menyatakan Muhammad bertemu dengan Nabi Musa dan beberapa Nabi lain yang dulunya bertugas di Bumi dan telah mati sekira ratusan atau ribuan tahun sebelumnya. Ini berarti bahwa para Nabi tersebut hidup kembali lalu berjumpa dengan Muhammad.
Keterangan ini pun berlawanan dengan pengalaman dan pemikiran wajar, apalagi dengan ketentuan ALLAH pada beberapa Ayat Suci seperti misalnya Ayat 40/11, bahwa manusia hanyalah hidup dua kali dan mati dua kali. Mati pertama ialah sebelum manusia dilahirkan ibunya, mati kedua yaitu kematian     yang setiap diri harus mengalaminya di dunia kini. Sementara itu hidup pertama ialah hidup di dunia kini, dan hidup kedua yaitu kebangkitan semua diri di Akhirat nanti. Itulah dua kali mati dan dua kali hidup yang pasti terlaksana, maka tiada hidup dan tiada mati selain dari itu. Karena itu teranglah keterangan tadi suatu kepalsuan yang sengaja diada-adakan.

3. Dikatakan Muhammad bertemu dengan Nabi Musa di langit begitupun dengan beberapa Nabi lain. Istilah langit sudah lama menjadi sebutan, tetapi    dalam Alquran dipakai dengan istilah "samawaat."  Menurut Ayat 65/12, ternyata samawaat itu planet-planet yang wujud dan keadaannya sama dengan Bumi. Memang ada tujuh planet mengorbit di atas Bumi mengelilingi Surya, planet-planet itu ialah Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto, dan Muntaha. Menurut pemikiran wajar, tidak mungkin para Nabi tersebut akan dijumpai Muhammad di planet lain karena Musa misalnya sudah lama meninggal dunia dan berkubur di Bumi. Kalau akan ditemui juga, tentulah    yang mungkin ditemui adalah tulang belulangnya di Bumi, bukan di planet lain apalagi dalam keadaan hidup segar. Keadaan inipun membuktikan bahwa keterangan tadi hanyalah isapan jempol dengan maksud tertentu.

4. Dikatakan bahwa Nabi Musa telah mengusulkan kepada Muhammad agar naik kembali menemui ALLAH untuk memohon perintah Shalat dikurangi dari 50 kali menjadi 5 kali sehari. Dalam hal ini timbul pertanyaan, apakah Nabi Musa    lebih cerdas daripada Muhammad? Apakah dengan itu orang-orang Yahudi bermaksud meninggikan Nabi pembawa Taurat daripada Nabi pembawa Alquran?
Sebaiknya orang-orang Islam mempertimbangkan masak-masak sebelum membenarkan dongeng tak teranalisakan itu.

5. Dikatakan Muhammad naik kembali menemui ALLAH untuk memohon agar perintah Shalat 50 kali sehari dikurangi dan dikurangi hingga menjadi 5 kali sehari, yaitu sepuluh persen dari jumlah yang ditetapkan bermula.
Semisalnya seorang pedagang menyatakan harga barangnya 50 rupiah kemudian sesudah tawar-menawar, barang itu dijualnya 5 rupiah, maka pada otak si pembeli akan timbul suatu anggapan bahwa pedagang itu sangat kejam atau kurang waras. Sebaliknya pedagang waras yang menghadapi penawar barangnya sepuluh persen dari harga yang ditetapkannya, tentu tidak akan meladeni penawar itu karena dianggapnya kurang waras.
Dalam pada itu Ayat 6/115, 10/64, menyatakan tiada perubahan bagi Kalimat
ALLAH, dan Ayat 33/62, 35/43, menyatakan tiada perubahan bagi Ketentuan    ALLAH dan Ayat 30/30 menyatakan tiada perubahan bagi Ciptaan ALLAH. Jika    masih berlaku tawar-menawar antara Muhammad dan ALLAH mengenai jumlah    Shalat setiap hari, tentulah pernyataan ALLAH pada beberapa Ayat Suci tersebut tidak benar. Namun menurut pemikiran wajar, tidaklah mungkin berlaku tawar-menawar antara Khaliq dan makhIuk-NYA.

6. Dikatakan bahwa sewaktu Mi'raj, Nabi menjemput atau menerima perintah    Shalat dari ALLAH, kemudian sesudah berjumpa dengan Musa, beliau naik kembali berulang kali menemui ALLAH untuk memohon keringanan. Hal ini menyimpulkan bahwa ALLAH tidak ada di Bumi atau di langit tempat Nabi Musa   itu berada. Sungguh keadaan demikian sangat bertantangan dengan Firman ALLAH yang banyak tercantum dalam Alquran, terutama Ayat 50/16, dan 7/3,    di mana dinyatakan bahwa ALLAH ada di mana saja bersama setiap diri, malah    DIA lebih dekat kepada seseorang daripada urat leher orang itu sendiri.  Sebab itu, nyata sekali keterangan tadi batal atau sengaja dimasukkan ke dalam masyarakat Islam oleh penganut agama lain.

7. Dalam  Alquran dinyatakan bahwa para Nabi serta pengikutnya sudah melakukan Shalat sebagaimana mestinya sebelum Muhammad lahir di Makkah,    begitupun Nabi ini sendiri sebelum dimi'rajkan selama 11 tahun masa kenabiannya. Hal ini telah dibicarakan. Bahkan Muhammad diperintah ALLAH untuk melaksanakan ajaran Ibrahim begitu juga kita semua seperti tersebut pada Ayat 3/95, 6/161, 16/123, dan 22/78, maka keterangan yang menyatakan Muhammad menjemput perintah Shalat sewaktu Mi'rajnya menyimpulkan bahwa Nabi ini tidak pernah Shalat selama 11 tahun kenabiannya, juga menyimpulkan bahwa doktrin Ibrahim belum sempurna dan semua Rasul selama jutaan tahun sebelum Muhammad tidak pernah melakukan Shalat. Hal ini bertantangan dengan pemikiran wajar dan berlawanan dengan Ayat 42/13 yang maksudnya:
     
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ
وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُ
وا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

42/13.   DIA syariatkan bagimu dari agama itu apa yang DIA wasiatkan pada Nuh  dan yang KAMI wahyukan kepadamu
serta apa yang KAMI wasiatkan pada Ibrahim dan Musa dan Isa agar kamu mendirikan agama itu dan jangan berpecah-pecah
padanya. Sangat besar atas orang-orang musyrik apa yang engkau seru mereka kepadanya. ALLAH memilih kepada-NYA
 siapa yang DIA kehendaki serta menunjuki kepada-NYA siapa yang kembali.



Jadi, pendapat yang menyatakan Muhammad menjemput perintah Shalat sewaktu Mi'rajnya sebagai memperlihatkan bahwa Muhammad menganut agama baru, bukan agama Ibrahim dan para Nabi lainnya. Hal ini menantang pada beberapa Ayat Suci terutama Ayat 3/19 dan 3/83.


Alquran selaku Kitab Suci Islam sudah komplit, sempurna, dan selesai untuk dijadikan pedoman dan dasar hukum tentang tiap sesuatu, terutama sekali dinyatakan pada Ayat 5/3, 6/115 dan 16/89. Namun dalam Alquran tidak pernah dinyatakan bahwa Nabi Muhammad menjemput atau menerima perintah Shalat swaktu Mi'rajnya. Beliau dimi'rajkan ALLAH dengan maksud yang utamanya untuk diperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran ALLAH tentang Tatasurya dan semesta raya sebagai termuat pada Ayat 17/1, 53/18, 81/23, dan untuk mendahului tingkat peradaban seluruh manusia yang paling tinggi hanyalah penerbangan antar planet dalam daerah Tatasurya ini, dinyatakan pada Ayat 53/17 dan 81/27.


     Ayat Suci yang sehubungan dengan Mi'raj Nabi pada garis besarnya terdiri pada empat kelompok, terjemahannya sebagai berikut:

Nabi Ibrahim:
     
6/75.   Seperti itulah KAMI perlihatkan pada Ibrahim kerajaan-kerajaan
 planet-planet dan Bumi agar dia termasuk orang-orang yakin.
                             
21/68.  Mereka berkata: "Bakarlah dia dan tolonglah tuhan-tuhanmu jika kamu akan melakukan."
                               
21/69.  KAMI katakan:”Hai api, jadilah dingin dan keselamatan atas Ibrahim.”
     
29/24.  Maka tiada jawaban kaumnya kecuali mengatakan: "Bunuhlah dia atau
 bakarlah dia. “Lalu ALLAH menyelamatkannya dari api (dengan memi'rajkan).
 Bahwa pada yang demikian ada Ayat-ayat bagi kaum beriman.
     
29/26.  Maka Luth percaya padanya yang mengatakanya “Aku hijrah kepada
 (planet-planet) Tuhanku, bahwa DIA mulia bijaksana.
                               
37/97.  Mereka berkata: "Dirikanlah untuknya bangunan,
lalu tempatkan dia dalam api siksaan.”
                                     
37/98.  Mereka menginginkan tipu daya padanya,
lalu KAMI jadikan mereka orang-orang rendah.
                                       
37/99.  Dan dia katakan: "Aku pergi kepada (planet-planet) TUHAN-ku.
DIA akan menunjuki aku."



Nabi Muhammad:
      
17/1.    Mahasuci DIA yang memperjalankan (memi'rajkan) hamba-NYA suatu malam dari Masjidil Haraam
ke Masjidil Aqsha (di planet Muntaha) yang KAMI berkahi kelilingnya (Muhammad) agar KAMI
perlihatkan padanya dari Ayat-ayat KAMI. Bahwa DIA mendengar lagi melihat.
                     
17/90.   Mereka katakan: "Kami tidak akan percaya padamu hingga ENGKAU
 pancarkan untuk kami berupa mata air dari Bumi. "
     
17/93.   "Atau ada bagimu rumah dari kemewahan, atau engkau melayang di angkasa.
Dan tidaklah kami akan percaya pada layangmu hingga engkau turunkan atas kami kitab yang kami baca.
 "Katakanlah:"Mahasuci  Tuhanku, adakah aku ini selain seorang Rasul?"     
                   
15/87.   Sesungguhnya telah KAMI datangkan padamu tujuh (planet)
yang berulang-ulang dan Alquran yang besar.
 
53/1.    Demi bintang (Surya) ketika dia jatuh (di barat).

53/2.    Temanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru.

53/3.    Dan dia tidak bicara tentang kejatuhan.   

53/4.    Bahwa dia melainkan wahyu yang diwahyukan.

53/5.    Dia ditunjuki oleh Yang Sangat Kuat.       

53/6.    Pemilik pusat orbit, lalu dia sempurna.         

53/7.    Dan did add di ufuk (planet) yang lebih tinggi.

53/8.    Kemudian dia merendah lalu jadi jelas.           

53/9.    Maka dia berjarak dua penembakan atau lebih rendah.

53/10.   Lalu DIA wahyukan kepada Hamba-NYA apa yang DIA wahyukan.                                 

53/11.   Tidaklah mental mendustakan yang dia lihat.

53/12.   Apakah kamu ingkari dia akan apa yang dia lihat?

53/13.   Sesungguhnya dia (Ibrahim) telah melihatnya pada kesempatan yang lain.
`   
53/14.   Pada planet Muntaha.                         

53/15.   Padanya ada kebun tempat tinggal.         

53/16.   Ketika planet itu ditutupi oleh (banjir) yang menutupi.

53/17.   Tidaklah menyimpang pemandangan (peradaban) dan tidak melampaui.

53/18.   Sungguh dia melihat di antara Ayat-ayat terbesar dari Tuhannya.                           
   
81/23.   Sungguh dia telah melihatnya di planet nyata.

81/24.   Bukanlah dia pendongeng atas keghaiban.

81/25.   Juga dia bukan dengan perkataan setan yang diancam.

81/26.   Kemanapun kamu pergi (antarplanet).

81/27.   Bahwa dia melainkan pemikiran untuk seluruh manusia.



Pada semua Ayat Suci yang menyangkut dengan Mi'raj, tiada satu pun yang menyatakan Muhammad menjemput atau menerima perintah Shalat, begitupun Ibrahim sewaktu Mi'rajnya. Mungkin orang mendasarkan pendapatnya pada Ayat 53/10 di mana dinyatakan bahwa ALLAH mewahyukan sesuatu kepada Muhammad, tetapi wahyu itu mungkin mengenai persoalan lain, mungkin juga wahyu yang terkandung pada Ayat 15/87, namun yang jelas bahwa tidak seorang pun yang tahu pasti tentang wahyu tersebut. Jika wahyu itu misalnya berisikan perintah Shalat, maka hal ini bahkan lebih praktis dan lebih utama disampaikan ALLAH pada Ibrahim sewaktu Mi'rajnya karena memangnya Ibrahim itu adalah IMAM bagi manusia sesudah topan di zaman Nuh, bahkan juga Muhammad dan kita semua diperintah mengikuti doktrin Ibrahim.

     Dengan begitu dapatlah dijawab pertanyaan tadi, bahwa Nabi Muhammad bukanlah menjemput perintan Shalat sewaktu Mi'rajnya tetapi untuk diperlihatkan kepadanya susunan Tatasurya ini  dan bintang-bintang lain di angkasa raya yang semuanya tampak jelas atau lebih meyakinkan bila dipandang dari luar lapisan ionosfir. Maka para Nabi serta pengikutnya semenjak dulu kala, begitupun Muhammad sendiri telah lebih dulu melakukan Shalat sebelum kenaikannya ke angkasa itu. Tentang keterangan palsu mengenai Mi'raj, hendaklah orang-orang Islam lebih waspada terhadap siapa pun, karena persoalan Mi'raj adalah persoalan penting terutama dalam abad penerbangan antar planet tentang mana Muhammad sudah lebih dulu mengalaminya selaku Teladan yang baik.
                                                 
  84/19.   Pastilah akan kamu naiki (planet-planet itu) dari tingkat ke tingkat.
                                                       
84/20.   Apakah bagi mereka untuk tidak beriman?
 


Ibadah Shalat telah berlangsung semenjak bermulanya masyarakat manusia ada di dunia ini, karena memang untuk itulah mereka diciptakan ALLAH. Walaupun sesudah kematian seseorang Nabi, para pengikutnya meninggalkan Shalat lalu mengikuti kehendak syahwat seperti dinyatakan pada Ayat 19/59,  tetapi di antara masyarakat manusia itu masih ada yang beriman atau yang kemudian bertobat lalu beriman dan beramal shaleh, dijelaskan pada Ayat 19/60.
Kita sudah mengetahui bahwa syarat utama untuk menjadi penduduk Surga di Akhirat nanti ialah melakukan Shalat sewaktu hidup di dunia ini, sebagaimana tampak jelas pada maksud Ayat Suci berikut ini tentang ucapan penyesalan penduduk Neraka:
                                               
    74/43.   Mereka berkata "Kami tidak termasuk orang-orang yang Shalat."   

Maka alangkah banyaknya manusia semenjak jutaan tahun yang nantinya akan jadi penduduk Neraka jika Shalat itu baru dilaksanakan orang sesudah Muhammad Mi'raj sekira 15 abad yang lalu. Sementara itu beberapa Ayat Alquran menyatakan adanya masyarakat manusia di planet lain, di antaranya dibuktikan oleh Ayat 3/83 dan 42/29, tetapi sampai pada akhir abad 14 Hijriah, Alquran yang disampaikan Muhammad belum dibawa orang ke planet-planet itu dengan arti bahwa manusia di sana belum Shalat jika Shalat itu baru berlaku menurut ajaran Muhammad. Jika keadaannya benar demikian, tentulah semua penduduk planet lain nantinya akan jadi penduduk neraka. Hal ini berlawanan dengan maksud Ayat 3/83 sendiri, juga dengan maksud Ayat 56/13 yang menyatakan orang-orang dulu lebih banyak menjadi penduduk Surga.

Mungkin penduduk Makkah sewaktu kenabian Muhammad sudah mencampurkan syirik ke dalam ibadah Shalat, terbukti dengan Ka'bah masih dianggap tempat paling mulia di Bumi sementara bapak Nabi bernama Abdullah berarti Hamba ALLAH dan ibunya bernama Aminah berarti Yang Beriman, namun keadaan sebenarnya dari penduduk Makkah waktu itu masih sangat kabur dan belum kita dapatkan yang pasti tentangnya, maka menghabiskan syirik itulah salah satu dari tugas Nabi. Kemudian itu berlakulah Shalat menurut yang diredhai tanpa syirik, dan ibadah ini akan tetap berlaku sampai ke akhir zaman, sementara penduduk planet lain dalam Tatasurya ini akan beriman menurut Alquran yang akan mereka terima sesudah berlakunya penerbangan antar planet, dinyatakan pada Ayat 15/15, 43/14, walaupun di antara mereka masih juga terdapat yang kafir menurut Ayat 14/4 dan 43/15.


Juga baca/ klik di bawah:

http://myquran.org/forum/index.php/topic,6695.msg119192.html#msg119192
« Edit Terakhir: 18 Januari 2008, 08:04:07 oleh dade »
ALLAH, Puja.puji untukNYA. DIAlah yang awal dan yang akhir tanpa serikat, tidak dilahirkan dan tidak beranak, malah DIA tujuan samadi. Tiada bandingan

Offline Yuka

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2006
  • Tulisan: 480
  • Lokasi: Medan
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Muslimah
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 16 Agustus 2006, 12:07:45 »
Ilmu baru neehh... O0
Bagus Juga..
...Tuntutlah Ilmu sampai ke Negeri China...

Offline sandy

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2006
  • Tulisan: 9
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 16 Agustus 2006, 16:48:58 »

terus nabi muhammad pergi ke yerussalem untuk apa....... kok nggak ada hasil apa-apa ...... cuma numpang lewat..... nah ini perlu kajian lebih mendalam....... soalnya denger2 ... yang mbangun masjidil aqsa di yerussalem adalah umar bin khattab........

bagi pecinta ilmu yang objektif ilmiah silahkan untuk mencari jawaban....

Offline Bad Boy

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.384
  • Lokasi: Dalam kekuasaan Allah...
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 17 Agustus 2006, 04:59:55 »
53/13.   Sesungguhnya dia (Ibrahim) telah melihatnya pada kesempatan yang lain.

   Koq yang dikurung Ibrahim mas.....? Dapet dari mana????


Sedangkan yang ini Koq Beda,

53/2.    Temanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru.
ياهو يامن لا هو الاّ هو
    يامن اجاب نوحا في قومه    يامن نصر ابراهيم عل اعدائه    يامن ردّ يوسف عل يعقوب    يامن كشف ضرّ ايوب    يامن قبل تسبيح يونس بن متا   
لا اله الاّ هو

Offline Syafril

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2006
  • Tulisan: 1.014
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 17 Agustus 2006, 09:15:58 »
@all
Tolong koreksinya dunk.......... 8)
%peace%
:D

Offline dade

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 388
  • Lokasi: bEkasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Yang Logis Dari ALLAH
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 18 April 2006, 20:25:56 »
53/13.   Sesungguhnya dia (Ibrahim) telah melihatnya pada kesempatan yang lain.

   Koq yang dikurung Ibrahim mas.....? Dapet dari mana????


Sedangkan yang ini Koq Beda,

53/2.    Temanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru.

Pada ayat 53/13.  Disitu di ceritakan ada 2 manusia yang di Mi'raj kan, sedangkan Nabi Muhammad hanya melakukan kesempatan 1 kali Mi'raj.

Sedangkan ayat 53/2 menceritakan tentang Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim dicerikan pada ayat 53/13 dengan cara menghubungkan ayat-ayat seperti di atas.

wassalam
ALLAH, Puja.puji untukNYA. DIAlah yang awal dan yang akhir tanpa serikat, tidak dilahirkan dan tidak beranak, malah DIA tujuan samadi. Tiada bandingan

Offline Bad Boy

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.384
  • Lokasi: Dalam kekuasaan Allah...
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 19 Agustus 2006, 05:39:20 »
53/13.   Sesungguhnya dia (Ibrahim) telah melihatnya pada kesempatan yang lain.

   Koq yang dikurung Ibrahim mas.....? Dapet dari mana????


Sedangkan yang ini Koq Beda,

53/2.    Temanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru.

Pada ayat 53/13.  Disitu di ceritakan ada 2 manusia yang di Mi'raj kan, sedangkan Nabi Muhammad hanya melakukan kesempatan 1 kali Mi'raj.

Sedangkan ayat 53/2 menceritakan tentang Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim dicerikan pada ayat 53/13 dengan cara menghubungkan ayat-ayat seperti di atas.

wassalam

    Dapet dari mana mas...????
ياهو يامن لا هو الاّ هو
    يامن اجاب نوحا في قومه    يامن نصر ابراهيم عل اعدائه    يامن ردّ يوسف عل يعقوب    يامن كشف ضرّ ايوب    يامن قبل تسبيح يونس بن متا   
لا اله الاّ هو

Offline dade

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 388
  • Lokasi: bEkasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Yang Logis Dari ALLAH
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 22 Agustus 2006, 11:30:20 »
53/13.   Sesungguhnya dia (Ibrahim) telah melihatnya pada kesempatan yang lain.

   Koq yang dikurung Ibrahim mas.....? Dapet dari mana????


Sedangkan yang ini Koq Beda,

53/2.    Temanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru.

Pada ayat 53/13.  Disitu di ceritakan ada 2 manusia yang di Mi'raj kan, sedangkan Nabi Muhammad hanya melakukan kesempatan 1 kali Mi'raj.

Sedangkan ayat 53/2 menceritakan tentang Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim dicerikan pada ayat 53/13 dengan cara menghubungkan ayat-ayat seperti di atas.

wassalam

    Dapet dari mana mas...????

Ini di dapat dari hasil peng analisaan dengan merangkaikan Ayat per ayat Alquran
ALLAH, Puja.puji untukNYA. DIAlah yang awal dan yang akhir tanpa serikat, tidak dilahirkan dan tidak beranak, malah DIA tujuan samadi. Tiada bandingan

Offline dade

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 388
  • Lokasi: bEkasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Yang Logis Dari ALLAH
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 24 Agustus 2006, 10:15:22 »
Semua ayat Alquran itu diturunkan mengandung hal-hal yang logis, dapat dicapai oleh pikiran manusia, tetapi ilmu Alquran itu diterangkan kepada orang-orang  berilmu  disebutkan  pada  ayat 41/2, malah sudah dipermudah untuk pemikiran, 54/17, terbagi atas dua babak : Muhkamat dan Mutasyabihat, 3/7. Yang Muhkamat yaitu pertunjuk hidup yang mudah dimengerti tersebut pada ayat 2/18S, sedangkan yang Mutasyabihat adalah hal-hal yang susah dimengerti karena dia berupa keterangan tentang pertunjuk dan harus diteliti dengan merangkaikan atau menjalinkannya satu sama lain hingga dengan begitu terdapat pengertian khusus tentang hal yang dimaksudkan. Karena Alquran itu mengandung keterangan tentang seluruh persoalan seperti termaktub pada ayat 16/89 pada mana belum banyak yang sudah ditemui manusia realitanya, maka itu bukan berarti Alquran itu tidak boleh dianalisa tetapi menandakan daya penganalisaan masih sangat rendah. Alquran sengaja diturunkan Allah untuk kepentingan hidup manusia umum, tentunya semua ayat Alquran itu akan difahami maksudnya oleh manusia ramai hanya saja haruslah ditunggu perkembangan peradaban. Sebaliknya orang dapat memakai Alquran itu sebagai titik tolak untuk peningkatan peradaban, tetapi orang ini sedikit sekali  karena  dia haruslah orang genius beriman yang memiliki daya inisiatif yang besar. Hal ini pernah berlaku dulunya dan akan berlaku lagi di masa mendatang. Walaupun banyak usaha kafir untuk meliputi dan menyelimutinya tetapi sejarah akan membukakan bahwa Mukmin genius tadi telah meningkatkan kesadaran umat untuk peradaban yang lebih tinggi. Ada orang bertanya tentang teknologi, tetapi dia lupa bahwa teknologi adalah urusan manusia. Alquran bukan manusia tetapi mengandung science atau hikmah selaku dasar untuk peningkatan  teknologi itu.
ALLAH, Puja.puji untukNYA. DIAlah yang awal dan yang akhir tanpa serikat, tidak dilahirkan dan tidak beranak, malah DIA tujuan samadi. Tiada bandingan

Offline dade

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 388
  • Lokasi: bEkasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Yang Logis Dari ALLAH
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 24 Agustus 2006, 10:52:17 »
Kini ditanyakan dapatkah persoalan Mi'raj dianalisa secara ilmiah, bisakah hal itu dicapai oleh pemikiran manusia? Secara tegas kita jawab: "dapat", malah bukan saja dapat dianalisakan tetapi juga akan terlaksana di antara manusia ramai pada tahun-tahun mendatang, sesuai dengan maksud ayat 55/33, 15/14, 65/12 dan ayat 84/19. Untuk manusia sebelum Noah dimana diterangkan bahwa mereka telah melakukan penerbangan antar planet berdasarkan ayat 71/25.
ALLAH, Puja.puji untukNYA. DIAlah yang awal dan yang akhir tanpa serikat, tidak dilahirkan dan tidak beranak, malah DIA tujuan samadi. Tiada bandingan

Offline dade

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 388
  • Lokasi: bEkasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Yang Logis Dari ALLAH
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 24 Agustus 2006, 11:04:28 »
Yang menjadi pokok dasar tentang Mi'raj Muhammad sebagai yang terkandung dalam Alquran ialah ayat 17/1; Untuk memahami maksud ayat ini hendaklah dihubungkan dengan maksud ayat-ayat lain.   Jarang sekali Alquran memberikan keterangan tentang sesuatu cukup dalam satu baris ayat suci saja, karenanya timbullah pendapat pada para ahli tafsir bahwa suatu ayat haruslah ditafsir dengan ayat lain. Ayat 17/1 ini dapat dihubungkan dengan ayat 17/60, 15/87, 10/39, 53/1 s/d 53/18, 81/23 dan beberapa ayat lainnya. Walaupun maksud ayat 17/1 itu telah kita muat sebelumnya tetapi agar lebih terang, baiklah kita ulangi sekali lagi:

 
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
            بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي 


  17/1. Mahasuci DIA (Tuhan) yang memperjalankan hambaNYA suatu malam dari  Masjidul Haraam
  (di Makkah) ke Masjidul Aqsha (di Muntaha) yang kami berkahi sekelilingnya (hamba itu) agar Kami
  perlihatkan kepadanya dari pertanda-pertanda Kami. Bahwa DIA mendengar dan Melihat.
   


         
ِ
   
ALLAH, Puja.puji untukNYA. DIAlah yang awal dan yang akhir tanpa serikat, tidak dilahirkan dan tidak beranak, malah DIA tujuan samadi. Tiada bandingan

Offline dade

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 388
  • Lokasi: bEkasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Yang Logis Dari ALLAH
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 24 Agustus 2006, 11:11:09 »
Pada ayat suci ini terdapat beberapa istilah yang harus difahami dengan sesungguhnya tak mungkin diartikan sambil lalu saja. Istilah-istilah itu ialah :

a.  DIA yang memperjalankan.   DIA dalam hal ini adalah ALLAH yang menentukan dan yang memperjalankan dengan maksud memi'rajkan atau  memberangkatkan Muhammad dari Bumi ini. Dengan itu jelaslah Mi'raj itu bukan kehendak Muhammad sendiri dan bukanlah dengan kepintaran yang ada pada Muhammad, malah dengan keilmuan dan kekuasaan Allah yang memperjalankan.
ALLAH, Puja.puji untukNYA. DIAlah yang awal dan yang akhir tanpa serikat, tidak dilahirkan dan tidak beranak, malah DIA tujuan samadi. Tiada bandingan

Offline dade

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 388
  • Lokasi: bEkasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Yang Logis Dari ALLAH
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 24 Agustus 2006, 11:25:31 »
b.  MEMPERJALANKAN istilah aslinya yaitu ASRAA BI. Dalam ayat 8/70 dan 8/67 terdapat pula istilah "Asraa" yang artinya "tawanan", berupa kata-benda, noun atau isim. Dengan berbaik sangka kita mengartikan "asraabi" pada ayat 17/1 itu dengan "memperjalankan dalam penjagaan" sebagai kata-kerja, verb atau fi'il. Hal ini dapat dibanding pada maksud ayat 26/52 dimana terdapat istilah yang sama tetapi fi'il amar untuk memperjalankan Bani Israel dengan penjagaan untuk menyeberangi Laut Merah.

         Jadi ASRAA dalam ayat  17/1  bukanlah berarti perjalanan antara Makkah dan Palestina, sebagai dikatakan orang, dan dari Palestina dikatakan MI'RAJ sampai ke planet Muntaha, padahal ayat 17/1 tidak menyebut istilah Mi'raj itu. Orang harus mengingat bahwa jarak antara Makkah dan Palestina hanyalah sekira 1.000 mil dan jarak antara Makkah dan Muntaha lebih dari pada 4.000 juta mil. Jika ayat 17/1 menyebut perjalanan yang 1.000 mil saja maka itu berarti perjalanan yang 4.000 juta mil tidak berarti, tetapi hal itu tidak mungkin jadi.

    Jadi bagaimana persoalan ini sebenarnya? Dalam menceritakan kejadian yang telah berlaku, Muhammad memakai istilah MI'RAJ, artinya NAIK, dari Makkah ke planet Muntaha. Hal ini wajar sekali karena beliau memang telah terbang dari Bumi sebagai planet yang mengorbit di bahagian bawah dalam daerah tatasurya kepada planet yang paling tinggi. Tetapi istilah Mi'raj berarti Naik, hanya sekadar naik, dan istilah itu kurang lengkap karena jarak antara Bumi dan Muntaha sangat jauh di mana terdapat kehampaan yang menyebabkan kematian sebab ketiadaan udara untuk bernafas atau dibentur oleh meteorites yang melayang. Karena itulah ayat 17/1 memakai istilah ASRAA yang    artinya "Memperjalankan Dalam Penjagaan". Dengan memakai istilah itu dapat diyakinkan secara ilmiah bahwa Nabi dalam penerbangannya itu berada  dalam  keadaan  aman, tidak terancam oleh kekurangan udara karena dia dilingkupi oleh suatu berkah yang sekaligus menyelamatkan dia dari benturan meteorites.

         Jadi, dalam menerangkan penerbangan antar planet itu Nabi memakai istilah Mi'raj  sekadar dapat dimengerti oleh masyarakat umum di zaman hidupnya, tetapi ayat 17/1 memakai istilah Asraa yang mengandung pengertian ilmiah yang cocok untuk dipakaikan di segala zaman di mana berlaku peradaban yang semakin tinggi.
ALLAH, Puja.puji untukNYA. DIAlah yang awal dan yang akhir tanpa serikat, tidak dilahirkan dan tidak beranak, malah DIA tujuan samadi. Tiada bandingan

Offline dade

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 388
  • Lokasi: bEkasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Yang Logis Dari ALLAH
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 24 Agustus 2006, 11:54:42 »
c.  HAMBANYA adalah istilah yang mengandung pengertian HAMBA dari DIA.   Tentang DIA telah diterangkan pada sub a di atas tadi yang maksudnya ialah ALLAH yang menguasai semesta raya ini. DIA mempunyai wewenang penuh dan mutlak untuk memperlakukan sesuatu menurut kehendakNYA tanpa rintangan, maka dalam ayat 17/1. DIA itu telah memperjalankan Muhammad dalam penjagaan, secara patuh atau tidak, tetapi kejadian telah terlaksana menurut kehendakNYA.

         Istilah HAMBA dalam ayat 17/1 mengandung pengertian berlakunya hukum ALLAH atas seseorang yang tidak memiliki daya untuk membantah kehendakNYA. Di sini tidak disebutkan nama seseorang itu, tetapi setelah kita meneliti ayat 17/1 sepenuhnya maka didapatlah ketentuan bahwa seseorang itu ialah Muhammad selaku Hamba yang diperjalankan dalam penjagaan. Kenapa kita memahami istilah Hamba di sini dengan Muhammad ?  Alquran disampaikan oleh Muhammad yang bertempat tinggal di sekitar Masjidul Haraam, sedangkan keterangan mengenai berlakunya Asraa itu disebutkan dalam Alquran yang disampaikan Nabi itu. Di samping tiada pribadi lain yang mungkin dimaksudkan oleh ayat 17/1     maka hanya Muhammadlah yang memulai kenabiannya di Makkah, dialah yang menerangkan bahwa Asraa itu telah berlaku atas dirinya, maka nyatalah yang dimaksud dengan hamba itu ialah Muhammad sendiri.
ALLAH, Puja.puji untukNYA. DIAlah yang awal dan yang akhir tanpa serikat, tidak dilahirkan dan tidak beranak, malah DIA tujuan samadi. Tiada bandingan

Offline Muh_Farras

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 1.145
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bagian dari makhluk alam semesta
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 24 Agustus 2006, 12:08:11 »
Pada ayat suci ini terdapat beberapa istilah yang harus difahami dengan sesungguhnya tak mungkin diartikan sambil lalu saja. Istilah-istilah itu ialah :

a.  DIA yang memperjalankan.   DIA dalam hal ini adalah ALLAH yang menentukan dan yang memperjalankan dengan maksud memi'rajkan atau  memberangkatkan Muhammad dari Bumi ini. Dengan itu jelaslah Mi'raj itu bukan kehendak Muhammad sendiri dan bukanlah dengan kepintaran yang ada pada Muhammad, malah dengan keilmuan dan kekuasaan Allah yang memperjalankan.


Menarik dari akh Dade. Terima kasih.  :)
Bahkan tak kurang kita dapat hikmahnya 2 hari lalu, libur krn memperingati Isra' Mi'raj, tetapi adakah yang mencoba merenungkannya disaat kita berlibur..... (ane jg kagak sempat  ::) )

Sepakat bahwa:
Allah yang memperjalankan Nabi Muhammad Saw, untuk memperlhatkan tanda-tanda kekuasaan Tuhan Yang Besar dan Maha Agung.
17/1.    Mahasuci DIA yang memperjalankan (memi'rajkan) hamba-NYA suatu malam dari Masjidil Haraam
ke Masjidil Aqsha (di planet Muntaha) yang KAMI berkahi kelilingnya (Muhammad) agar KAMI
perlihatkan padanya dari Ayat-ayat KAMI. Bahwa DIA mendengar lagi melihat.
atau DEPAG:
[17.1] Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Khabarnya, menurut riwayat (dari Aisyah ra) , Rasulullah selalu menangis sepulang Isra' mi'raj ketika membaca ayat berikut (DEPAG):
[3.190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
[3.191] (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Rasulullah telah melihat langsung tanda-tanda Kekusaan Allah melalui Isra' Mi'raj.  8)

====
Pertanyaan sambil lalu :
1. Ketika bisa dibayangkan bahwa teknologi manusia pada saatnya kedepan akan mampu melakukan perjalanan yang kurang lebih serupa, maka mungkin langkah pertama adalah seperti kejadian itu menurut pendekatan sainstifik (yg mutakhir) ?  O0
2. Apakah perjalanan ini memang secara fisik atau secara rohani ? (seringkali jadi diskusi panjang tanpa ujung) tetapi output sbg sebuah kesadaran begitu rupa gak berbeda antara fisis dan rohani...  ::)

Wallahu A'lam.

Salam.
kesadaran dan keseimbangan  :)