Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Guratan Pena Hati  (Dibaca 242 kali)


Offline yangga

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 6.053
  • Lokasi: Di depan komputer
  • Jenis kelamin: Pria
  • I am moving, and will continue moving.
    • Lihat Profil
« pada: 26 Juli 2006, 01:14:18 »
Dari ruang tetangga sebelah...
--------------------------
Guratan Pena Hati

"Suami saleh menulis... Bila malam telah beranjak mendapati Subuh,
bangunlah
sejenak. Lihatlah isteri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi
Anda.Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi gurat-gurat kepenatan, karena

seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang
sekejab, Jikalau tidak ada air wudhu' yang membasahi wajah itu setiap
hari,
barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tiada lagi.

Suami saleh menulis...Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di
saat
Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih isteri
Anda
barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya.

Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya,
membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan
najis tiada habisnya. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi kencing
lagi.
Padahal tangan isteri Anda pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda fikirkan tenang dia? Masihkah Anda

memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada
anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng, sementara di saat yang
sama
Anda menuntut dia untuk menjadi isteri yang penuh perhatian, santun
dalam
bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya
sebagai isteri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan
kewajiban isteri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang
perempuan
yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja Jangan
sampai Anda membiarkan isteri kita membentak anak-anak dengan mata
membelalak. Tidak.

Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat
letih,
sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia
tidak
sabar.

Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh
kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan
menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak
kita
menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang isteri salehah memang tidak boleh
bermanja-manja
secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi isteri salehah
tetap
manusia yang memerlukan penerimaan.

Ia juga perlu diakui, meski tidak pernah meminta kepada Anda. Sementara
gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, sediakan telinga yang selalu
setia
untuk mendengar.

Kalau kegelisahan jiwanya tidak pernah menemukan muaranya berupa
kesediaan
untuk mendengar, atau ia tidak pernah Anda akui kewujudannya, maka
jangan
pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba
meledak.

Jangankan isteri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, isteri Nabi
pun
pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang
membuatnya
meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tidak mau mendengar, melainkan
semata-mata karena dibakar api cemburu. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam

menghadapi 'Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti

mangkok yang dipecahkan.

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita
menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan

hanya nasehat yang perlu kita berikan.

Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak

dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada
penerimaan
yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya
sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang.

Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan fikirannya,
agar
ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita.
Sepenat apapun dia.

Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski dia tidak pernah menuntut, tetapi
mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah

kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah
melewati tengah malam, pandanglah isteri Anda yang terbaring letih itu.
Lalu
fikirkankah sejenak, tidak adakah yang bisa kita lakukan sekadar untuk
mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang?

Boleh dengan kata yang berbunga-bunga, boleh juga tanpa kata. Dan
sungguh,
lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu,
alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman
hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.
Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir minuman

hangat untuk isteriku. Perlukah aku antarkan untuk itu?"

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin
sekadar
membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, Mungkin juga dengan

tindakan-tindakan lain, asal tidak salah niat kita. Kalau kita terlibat
dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil
sebelum
mengantarnya ke sekolah, itu bukan karena gender-friendly; tetapi
semata-mata karena mencari ridho Allah.

Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tidak ada artinya apa yang kita
lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan
Allah
di yaumil-qiyamah.

Allaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah kepada Anda. Yang
jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau
tindakan
yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih...

Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tidak ada
airmata
duka yang menitis dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita
untuk
membuka telinga baginya, tidak ada lagi isteri yang berlari
menelungkupkan
wajah di atas bantal karena merasa tidak didengar.

Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak
isteri
kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda 'Aisyah radhiyallahu
anha
berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., "Ah, semua perilakunya
menakjubkan bagiku."

Sesudah engkau puas memandangi isterimu yang terbaring letih, sesudah
engkau
perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak
untuk
meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa
mengusik
tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke
tubuh
isterimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak habisnya oleh perubahan.

Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan
wanita
kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat
kembali
ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang isteri kita.

"Wahai manusia, sesungguhnya isteri kalian mempunyai hak atas kalian
sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,"kata
Rasulullah
Saw. melanjutkan, 'kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari
Allah,
dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah
kepada
Allah dalam mengurus isteri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk
selalu
berbuat baik."

Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita
harus
melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya,

ataukah kita mengabaikannya sehingga gurat-guratan dengan cepat
menggerogoti
wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya?

Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk isteri? Saya
tidak
tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami, saya sudah
cukup baik. Jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata isteri.

Saya hanya berharap isteri saya benar-benar memaafkan kekurangan saya
sebagai suami. Indahnya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.
Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda
bisa
menerima ungkapan yang lebih agung untuk isteri Anda.

Pengirim: Aidil Heryana