Gaul dan Gaya Hidup Islami > Bina Keluarga
Cinta Adalah Kebijaksanaan
(1/1)
al-muhandis (12 April 2006, 14:44:34):
Era abad 20 diawali dengan pertumpahan darah yang cukup besar.Dimana perang dunia terjadi hampir melibatkan seluruh negara. Otomatis dunia pada saat itu terpecah menjadi blok-blok. Jutaan manusia menjadi korbannya. Termasuk di dalamnya adalah pembataian etnis pada benua afrika...apakah yang menyebabkan hal ini ?
Era globalisasi mengalir begitu deras, menghujani setiap keluarga. Dari sebuah kotak kecil bernama televisi. Maka kita akan banyak mendapatkan pembenaran-pembenaran dari remaja-remaja dan orang-orang dewasa atas cinta yang menghinggapinya. Mulai dari berduaan penuh nafsu, pegangan tangan, ciuman, sampai dengan kehamilan tanpa akad, atau ada juga bunuh diri karena putus cinta...apakah yang menyebabkan hal ini ?
Cinta, Amor, Love atau apapun kata itu, yang jelas maknanya hanya satu..Perasaan untuk mendapati belahan jiwa. Yang ternyata hal ini cukup besar mempengaruhi peradaban dunia. Bagaimana Taj Mahal yang megah itu dibangun ? Bagaimana Piramid yang tinggi itu dibuat ? Bagaimana Istana dibangun ? Bagaimana jutaan mayat korban karena perang ?..semua karena cinta...(termasuk juga bagaimana mereka bisa bertahan hingga mendapat sms terbanyak..:p). Luar biasanya sifat ini maka manusia tidak akan lepas dari 5 huruf ini. Lihatlah apa yang telah dibuat oleh para sinemas kita, Ada Apa Dengan Cinta, 30 Hari Mencari Cinta, Eiffel I’m In Love, Nostalgia SMU, dll, belum lagi ditambah dengan jutaan lagu-lagu yang lebih banyak didominasi dengan tema-tema percintaan sebelum pernikahan, maka kemanakah percintaan setelah pernikahan ?
Tulisan ini bertujuan untuk mencoba merefleksi kita semua, yang sedang pacaran, yang sudah menikah, yang akan bercinta, yang berjuang atas nama cinta..It All About Love..karena pada dasarnya cinta adalah kebijaksanaan...koq bisa ?
Buat yang masih pacaran,ketika sang pria harus pergi meninggalkan wanita karena ada kontrak kerja,maka mereka berdua akan saling menuggu tanpa ada kejelasan. Padahal bisa jadi dalam masa tunggu itu pria maupun wanita bisa bertemu jodohnya masing-masing yang mungkin lebih baik dari pasangannya saat ini. Karena pintu rezeki Allah sangat berlimpah, namun mereka terlalu picik untuk memaksakan kehendak untuk hidup bersama. Oleh karenanya penutup pintu rezeki itu bernama pacaran tanpa status. Sehingga mereka terjebak pada zina-zina kecil..dan bisa berubah zina besar. Karena ketika cinta adalah bijaksana,maka mereka seharusnya mengikhlaskan diri menunda hubungan sampai mereka berdua siap untuk ke jenjang berikutnya. Sehingga pernikahan akan menjadi berkah karena diisi dengan lebih banyak taqarrab kepada Allah SWT, bukan foto-foto akhwat yang tidak jelas calon istri atau bukan. Ada juga kasus yang banyak menimpa ABG kita saat ini, ketika roman picisan menjadi cover bagi cinta mereka. Maka ketika mereka “putus” pacaran sampai ada yang patah hati..itu masih lumayan..tapi tragisnya ada yang sampai mengakhiri hidupnya..Naudzubillahi min dzalik. Lebih banyak sebenarnya mereka berdua habisi waktu dengan berdua, jalan berdua, pengangan tangan, ciuman hingga ketaraf yang paling dibenci Allah SWT..Zina...walau kebanyakan orang saat ini sudah menganggap biasa, padahal hukum Allah terus berjalan, tidak tergantung pandangan seseorang atau sebuah bangsa...Karenanya Sang Pencipta telah menyiapkan balasan yang setimpal di akhirat kelak. Karena ketika cinta adalah bijaksana, maka mereka berdua seharusnya dewasa dalam bertindak sesuai dengan norma agama. Mengakhiri hidup karena alasan patah hati...terlalu sempit untuk dilakukan. Zina atas nama cinta..terlalu naif untuk meluapkan nafsu birahi yang nikmatnya hanya sesaat tapi siksanya kelak sepanjang hayat..Naudzubillahi min dzalik
Buat yang sudah menikah, ketika istri atau suaminya sudah tidak semenarik yang dulu lagi, badannya yang bertambah besar, kulitnya yang tidak kencang, senyumnya yang mulai jarang. Maka kebanyakan orang awam akan mengambil jalan pintas..Selingkuh. Atau minimal ia akan merasa rumah tangga biasa saja. Datar tanpa makna. Jangankan puisi cinta, untuk memberikan senyuman saja susah. Karena jika cinta adalah bijaksana, maka mereka seharusnya introspeksi diri, dan bertekad mengisi keluarga dengan lebih berarti lagi. Tidak mudah tergoda hawa nafsu sesaat, tidak cepat marah karena banyak menuntut, tapi bijaksana akan mengisi kesabaran untuk menahan diri melihat pasangan kita berubah secara bertahap, bijaksana pula untuk memberikan yang terbaik buat pasangannya. Karena mereka sudah tahu, bahwa amal yang mereka lakukan akan menjadi catatan pahala buat di akhirat kelak..sesuai dengan perintah rasul..Menjadi sebaik-baiknya untuk keluarganya. Karena sekali lagi, pernikahan bukan melulu urusan fisik, wajah cantik, kulit putih bersih, tinggi ideal, lesung pipit, bibir merah delima, dst...banyak yang bisa diisi, mengaji berdua, saling bercanda, mesra berpegangan tangan, sholat qiyamullail berjamaah, hadir ke pengajian sama-sama, berpetualang bersama, berkemah berdua, dll...karena semua menjadi indah jika dilakukan bersama-sama..termasuk memasak...daripada membujang gitu lho !!!
Buat para aktifis da’wah, ketika momen taaruf datang, tapi selalu gagal karena ada saja yang tidak cocok. Bahkan alasanpun menjadi batu hitam. Masalah sepele terlalu dibesar-besarkan, “ada tahi lalat di pipinya, jadi nggak sreg”..aneh...memangnya nikah tiap hari bakal megangin tahi lalat. Kulit agak gelap sedikit sudah mundur, ekonomi kurang sepadan juga batal, dan alasan-alasan sepele lainnya. Yang sebenarnya hal itu malah memperlihatkan ketidaksiapan dia, terlalu banyak kriteria, terlalu ideal kriteria, dll. Padahal bisa jadi dia lebih sering ber-sms-an ceria dengan akhwat, ya itu tadi..Ikhwah Tapi Mesra (ITM). Kriteria itu lumrah, tapi jadi tidak lumrah ketika kita tidak bersabar dengan apa yang ada di depan kita. Dan di dunia inipun tidak ada yang sempurna, karenanya jangan sampai akhirnya ia menggadaikan kriteria, “ya sudahlah terserah siapa,asal mau sama saya”, karena umurnya yang mulai bertambah.
Sekali lagi ini tulisan ini bukan bermaksud untuk menghakimi, namun lebih bersikap untuk memberi cara pandang yang lebih baik pada arti cinta sesungguhnya..yaitu kebijaksanaan..untuk mengambil yang halal dan menjauhi yang haram, untuk memikirkan jangka panjang ketimbang jangka pendek, untuk memilih yang lebih primer ketimbang sekunder, untuk lebih menghidupkan kehidupan rumah tangganya ketimbang melakukan perselingkuhan, untuk lebih menahan diri ketimbang menjalani pacaran diluar batas, untuk lebih Ikhlas....itu saja.
Al Muhandis
(dedicated buat teman2 ku yang akan taaruf..gud lak ya nov!)
ukhti-sari (29 April 2006, 00:13:59):
:)
Cakrawala (29 April 2006, 16:43:17):
:) juga...
Setuju... O0 O0 O0
"bijaksana" adalah kunci dari segalanya untuk menjalani dan menghadapi kehidupan... %peace%
Navigasi
[0] Indeks Pesan
Ke versi lengkap