Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: || ...:: Mengenal Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ::... ||  (Dibaca 10673 kali)


Offline isa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2006
  • Tulisan: 3.123
    • Lihat Profil
« Jawab #90 pada: 02 April 2008, 18:51:31 »
Saya tidak menentang ayat Al-Quran. Anda nuduh saya menentang ayat AL-Quran.

Wajar kan, kalau si penuduh membuktikan tuduhannya ?
2:42. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.


Offline al_anwar14

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 385
    • Lihat Profil
« Jawab #91 pada: 03 April 2008, 13:20:00 »
Kutip
Coba anda bayangkan: Muhammad, Rosulullah terakhir, yang ada di dunia ini beradad-abad setelah Ibrahim, justru menjadi muslim mendahului Ibrahim

Secara implisit, statement anda mengandung penolakan terhadap penjelasan Al Qur'an tentang adanya Nabi/Rasul Ulul Azmi. Sehingga anda menolak Muhammad SAW adalah Penghulunya para Nabi/Rasul Ulul Azmi dan bahkan semulia-mulianya makhluq Allah. Sepakat semua 'ulama mufasirin Nabi/Rasul Ulul Azmi: Nuh AS, Ibarahim AS, Musa AS, Isa AS dan Muhammad SAW.

Ketika Al Qur'an menyatakan demikian maka hal tersebut sudah tidak terikat ruang dan waktu. Dan kenyataannya dalam beberapa ayat Al Qur'an terdapat informasi yang tidak terikat dengan ruang dan waktu.

Sebenarnya hal ini mudah dipahami berdasarkan ayat-ayat Al Qur'an yang sudah dikemukakan oleh Sayyid Kamal Haidari.

Kalo gak sependapat, jangan hanya sekedar statement, kemukakan saja menurut anda Rasul SAW itu apa, siapa dan bagaimana? Ok...

Kok anda ini ribet amat.........., apa gak malu mas, bahwa Allah SWT, Muhammad SAW dan Orang-Orang Beriman, melihat dan menilai segala perbuatan yang disembunyikan atau yang dinyatakan.....?

QS 9:105

وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

9:105. Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".

Offline ridho_hamba_allah

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 216
  • Lokasi: Lahat
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dg Menyebut Nama Allah,Maha Pengasih dan Penyayang
    • Lihat Profil
« Jawab #92 pada: 15 Mei 2008, 04:49:43 »
maaf, kok pada berselisih di sini??
ya udah.. kebenaran hanya milik Allah...
kita ini manusia mungkin dari mas Anwar ada salah tanggep dari yang di sampaikan mas isa....
jadi.. gak perlu sampai ngotot2 segala...

maaf kalo terkesan ikut campur.. aku hanya menengahi... thank's
Ya Allah...Buka Mata dan Buka Hati ku.... Selalu...

Offline al_anwar14

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 385
    • Lihat Profil
« Jawab #93 pada: 05 Juni 2008, 16:17:46 »
@atasku

Keberadaan makhluk dapat bewujud dalam bentuk non materi dan wujud materi. Kita saja bahkan seluruh manusia (dalam wujud non materi) dalam  Al Qur'an diinfokan pernah bersaksi untuk mengakui keesaan Allah SWT. Informasi spt ini gak tahu kapan terjadinya alias tidak terikat ruang dan waktu.

kita gak ngotot2an disini, saya berusaha menjelaskan bahwa informasi Al Qur'an tentang peristiwa sesuatu atau khususnya tentang keberadaan dan posisi Nabi Muhammad SAW adalah penghulu para Nabi/Rasul seluruhnya dan bahkan sebagai Rahmat Semesta Alam. Berarti kita bisa pahami bahwa walaupun Rasul SAW lahir didunia setelah nabi Ibrahim, maka keberadaan posisi/maqom Nabi SAW (keberadaa Nabi pada alam non materi-nyapun telah unggul dari semua makhluknya--termasuk malaikat2Nya).   

Statement sdr isa yang dipahaminya adalah dari sisi hidup didunia (alam materi) saja.

Dari sisi alam dunia memang Ibrahim lebih dulu ada, baru Muhammad SAW kemudian, tapi dari sisi keberadaan makhluk pada alam non materi sebelum adanya dunia, Muhammad SAW dalam bentuk NUR-Nya adalah makhluk terawal yang pertama kali diciptakan-Nya.

Sebutan Allah SWT bahwa Muhammad SAW adalah Rahmat Semesta Alam adalah keutamaan dari seluruh makhluk; baik alam non materi sblm dunia maupun setelah  menjelmanya dunia bahkan hingga alam akhirat.

Jadi bukan sekedar "menjadi muslim" terlebih dahulu, apakah Ibrahim AS atau Muhammad SAW.
« Edit Terakhir: 05 Juni 2008, 16:22:10 oleh al_anwar14 »

Offline Mr_BOB

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 234
    • Lihat Profil
« Jawab #94 pada: 16 Januari 2009, 16:07:28 »
si isa nggak ada referensi dari DR shabir...nya maka pertanyaannya bolak balik ayat yg mana?, tdk sesuaii....diangan2....dst... wong dia kagak mudeng dan nggak punya argumentasi yg argumnetatif ...jadi ya ngono..itu...huakakaak

Offline kurnia tra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2009
  • Tulisan: 1.593
  • Lokasi: pada jiwa dalam Qalbu ^_^
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Anugrahkan ampunan dan rahmat dari sisi-Mu
    • Lihat Profil
« Jawab #95 pada: 02 Juli 2009, 16:32:01 »
Awalnya bagus :)...eeh ujung2nya debat :(
Ada Yang Bersamaku

Muslim hidup diantara perintah yg harus dikerjakan
larangan yg harus dijauhi
takdir yg harus di terima
dan nikmat yg harus disyukuri

Karenanya harus sabar setiap saat

Offline ryuken

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2007
  • Tulisan: 31
  • Lokasi: diy
  • Jenis kelamin: Pria
  • ayam jago
    • Lihat Profil
« Jawab #96 pada: 06 Agustus 2009, 00:57:21 »
[bgcolor=#2222FF]12. MARIA AL-QABTIYYA: Dia awalnya adalah orang yang membantu menangani permasalahan dirumah Rasullullah yang dikirim oleh Raja Mesir. Dia sempat melahirkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Ibrahim akhirnya meninggal pada umur 18 bulan. Tiga tahun setelah menikah, Nabi SAW meninggal dunia, dan Maria (thx buat Joan) akhirnya meninggal 5 tahun kemudian, tahun 16 A.H. Waktu itu, Umar bin Khatab yang menjadi Iman sholat Jenazahnya, dan kemudian dimakamkan di Al-Baqi.

Kalau sudah tahu begini dan kalau memang dikatakan mau mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW, kira-kira masih minat dan berani nggak ya kaum Adam untuk ber-istri lebih dari 1?
[/bgcolor]
jalanku tak panjang . . . .
Amri maruf Nahyi munkar

Offline ridho_hamba_allah

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 216
  • Lokasi: Lahat
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dg Menyebut Nama Allah,Maha Pengasih dan Penyayang
    • Lihat Profil
« Jawab #97 pada: 06 Agustus 2009, 14:53:39 »
numpang nyimak...

Makin cinta aku ama Rosul ku ini ...
Ya Allah...Buka Mata dan Buka Hati ku.... Selalu...

Offline just_muslimah

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2008
  • Tulisan: 1.168
  • Lokasi: Bogor
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Ada apa ya di luar sana?
    • Lihat Profil
« Jawab #98 pada: 06 Agustus 2009, 14:59:40 »
rindu kami padamu ya Rasul..
rindu tiada terperi..

ikut menyimak..
(Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". (ALI 'IMRAN :8)

Offline erah

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2009
  • Tulisan: 352
    • Lihat Profil
« Jawab #99 pada: 22 Agustus 2009, 14:25:29 »
MUHAMMAD DARI KELAHIRAN                   
SAMPAI PERKAWINANNYA

 Perkawinan Abdullah dengan Aminah -Abdullah wafat - Muhammad lahir disusukan oleh Keluarga Sa'd - Kisah dua malaikat - Lima tahun selama tinggal di pedalaman - Aminah wafat - Di bawah asuhan Abd'l-Muttalib -Abd'l-Muttalib wafat - Di bawah asuhan Abu Talib -
Pergi ke Suria dalam usia dua belas tahun- Perang Fijar - Menggembala kambing - Ke Suria membawa dagangan Khadijah - Perkawinannya dengan Khadijah

USIA Abd'l-Muttalib sudah  hampir  mencapai  tujuhpuluh  tahun atau   lebih   tatkala  Abraha  mencoba  menyerang  Mekah  dan
menghancurkan Rumah Purba. Ketika itu  umur  Abdullah  anaknya sudah duapuluh empat tahun, dan sudah tiba masanya dikawinkan.
Pilihan Abd'l-Muttalib jatuh kepada Aminah bint Wahb  bin  Abd Manaf  bin Zuhra, - pemimpin suku Zuhra ketika itu yang sesuai
pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat. Maka  pergilah anak-beranak  itu hendak mengunjungi keluarga Zuhra. Ia dengan
anaknya menemui Wahb dan melamar puterinya.  Sebagian  penulis sejarah  berpendapat,  bahwa  ia  pergi  menemui  Uhyab, paman
Aminah, sebab waktu itu ayahnya sudah  meninggal  dan  dia  di bawah  asuhan  pamannya.  Pada hari perkawinan Abdullah dengan
Aminah itu, Abd'l-Muttalib  juga  kawin  dengan  Hala,  puteri
pamannya.  Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Nabi dan yang seusia dengan dia. Abdullah dengan Aminah  tinggal  selama  tiga  hari  di  rumah
Aminah,  sesuai  dengan  adat  kebiasaan  Arab bila perkawinan
dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah  itu mereka  pindah  bersama-sama  ke  keluarga Abd'l-Muttalib. Tak seberapa lama kemudian Abdullahpun  pergi  dalam  suatu  usaha perdagangan  ke  Suria  dengan  meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil. Tentang ini masih terdapat beberapa  keterangan yang  berbeda-beda:  adakah  Abdullah kawin lagi selain dengan
Aminah;  adakah  wanita  lain  yang  datang  menawarkan   diri kepadanya?     Rasanya    tak    ada    gunanya    menyelidiki keterangan-keterangan semacam ini. Yang pasti  ialah  Abdullah adalah  seorang  pemuda  yang tegap dan tampan. Bukan hal yang
luar biasa jika ada wanita lain yang ingin  menjadi  isterinya selain  Aminah. Tetapi setelah perkawinannya dengan Aminah itu hilanglah harapan yang lain walaupun  untuk  sementara.  Siapa tahu,   barangkali   mereka  masih  menunggu  ia  pulang  dari perjalanannya ke  Syam  untuk  menjadi  isterinya  di  samping Aminah.
Dalam  perjalanannya  itu  Abdullah  tinggal  selama  beberapabulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali  lagi. Kemudian  ia  singgah  ke  tempat  saudara-saudara  ibunya  di Medinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan.  Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah ke Mekah. Akan tetapi kemudian ia menderita  sakit  di  tempat saudara-saudara  ibunya  itu.  Kawan-kawannyapun  pulang lebih
dulu meninggalkan dia. Dan merekalah yang menyampaikan  berita sakitnya itu kepada ayahnya setelah mereka sampai di Mekah.

Begitu  berita sampai kepada Abd'l-Muttalib ia mengutus Harith - anaknya yang sulung - ke  Medinah,  supaya  membawa  kembali
bila  ia  sudah  sembuh.  Tetapi  sesampainya  di  Medinah  ia mengetahui bahwa Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan
pula,   sebulan   sesudah   kafilahnya   berangkat  ke  Mekah. Kembalilah Harith kepada keluarganya dengan  membawa  perasaan
pilu  atas  kematian  adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa hati Abd'l-Muttalib, menimpa hati Aminah, karena ia kehilangan
seorang  suami  yang  selama  ini  menjadi harapan kebahagiaan hidupnya. Demikian juga Abd'l-Muttalib sangat sayang kepadanya
sehingga penebusannya terhadap Sang Berhala yang demikian rupa belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arab sebelum itu.

Peninggalan Abdullah sesudah  wafat  terdiri  dari  lima  ekor unta,  sekelompok  ternak kambing dan seorang budak perempuan,
yaitu Umm Ayman - yang kemudian menjadi pengasuh  Nabi.  Boleh jadi   peninggalan   serupa  itu  bukan  berarti  suatu  tanda
kekayaan; tapi  tidak  juga  merupakan  suatu  kemiskinan.  Di samping  itu  umur  Abdullah yang masih dalam usia muda belia,
sudah mampu bekerja dan berusaha mencapai kekayaan. Dalam pada itu  ia  memang tidak mewarisi sesuatu dari ayahnya yang masih hidup itu.

Aminah sudah hamil, dan kemudian, seperti  wanita  lain  iapun melahirkan.  Selesai  bersalin  dikirimnya berita kepada Abd'l
Muttalib  di  Ka'bah,  bahwa  ia   melahirkan   seorang   anak laki-laki.  Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima
berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira sekali  hatinya  karena  ternyata pengganti anaknya sudah ada.
Cepat-cepat ia menemui menantunya itu,  diangkatnya  bayi  itu lalu  dibawanya  ke  Ka'bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini
tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian dikembalikannya  bayi  itu  kepada  ibunya. Kini mereka sedang
menantikan orang yang akan menyusukannya  dari  Keluarga  Sa'd (Banu  Sa'd),  untuk  kemudian  menyerahkan anaknya itu kepada
salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum
bangsawan Arab di Mekah.

Mengenai  tahun  ketika  Muhammad  dilahirkan,  beberapa  ahli berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah
(570  Masehi).  Ibn  Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat  kelahirannya  itu  limabelas
tahun sebelum peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari  atau  beberapa  bulan  atau  juga
beberapa  tahun  sesudah  Tahun  Gajah. Ada yang menaksir tiga puluh tahun, dan ada  juga  yang  menaksir  sampai  tujuhpuluh tahun.

Juga para ahli berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya. Sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan Rabiul Awal. Ada
yang  berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain berpendapat dalam bulan Safar, sebagian lagi menyatakan dalam bulan Rajab,
sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.Kelainan  pendapat itu juga mengenai hari bulan ia dilahirkan.
Satu pendapat mengatakan pada malam kedua  Rabiul  Awal,  atau malam   kedelapan,   atau   kesembilan.  Tetapi  pada  umumnya
mengatakan, bahwa dia dilahirkan pada tanggal duabelas  Rabiul Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.

Selanjutnya   terdapat   perbedaan   pendapat  mengenai  waktu kelahirannya, yaitu siang atau malam, demikian  juga  mengenai
tempat  kelahirannya di Mekah. Caussin de Perceval dalam Essai sur  l'Histoire  des   Arabes   menyatakan,   bahwa   Muhammad
dilahirkan bulan Agustus 570, yakni Tahun Gajah, dan bahwa dia dilahirkan di Mekah di rumah kakeknya Abd'l-Muttalib.

Pada  hari  ketujuh  kelahirannya  itu  Abd'l-Muttalib   minta disembelihkan   unta.   Hal   ini  kemudian  dilakukan  dengan
mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui bahwa  anak  itu  diberi  nama Muhammad, mereka bertanya-tanya
mengapa ia tidak suka memakai nama nenek  moyang.  "Kuinginkan dia akan  menjadi  orang  yang Terpuji,1  bagi Tuhan di langit
dan bagi makhlukNya di bumi," jawab Abd'l Muttalib.

Aminah masih menunggu  akan  menyerahkan  anaknya  itu  kepada salah  seorang  Keluarga  Sa'd  yang  akan menyusukan anaknya,
sebagaimana sudah menjadi kebiasaan  bangsawan-bangsawan  Arab di    Mekah.    Adat   demikian   ini   masih   berlaku   pada bangsawan-bangsawan  Mekah.  Pada   hari   kedelapan   sesudah dilahirkan  anak  itupun  dikirimkan  ke  pedalaman  dan  baru
kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun.  Di  kalangan  kabilah-kabilah  pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di antaranya  ialah  kabilah  Banu  Sa'd. Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah
menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu  Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah yang juga kemudian disusukannya. Jadi  mereka  adalah  saudara susuan.

Sekalipun  Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusukan, namun ia tetap memelihara hubungan yang baik sekali selama hidupnya.
Setelah  wanita  itu  meninggal  pada tahun ketujuh sesudah ia hijrah ke Medinah,  untuk  meneruskan  hubungan  baik  itu  ia
menanyakan  tentang  anaknya yang juga menjadi saudara susuan.
Tetapi kemudian  ia  mengetahui  bahwa  anak  itu  juga  sudah meninggal sebelum ibunya.

Akhirnya  datang  juga  wanita-wanita  Keluarga Sa'd yang akan menyusukan itu ke Mekah. Mereka memang mencari bayi yang  akan mereka  susukan.  Akan  tetapi  mereka  menghindari  anak-anak yatim. Sebenarnya mereka masih mengharapkan sesuatu jasa  dari
sang  ayah.  Sedang  dari  anak-anak yatim sedikit sekali yang dapat mereka harapkan. Oleh karena itu di  antara  mereka  itu
tak  ada  yang  mau  mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat hasil yang lumayan bila mendatangi keluarga yang dapat  mereka
harapkan.Akan tetapi Halimah bint Abi-Dhua'ib yang pada mulanya menolak
Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata tidak mendapat bayi  lain  sebagai gantinya. Di samping itu karena dia memang
seorang  wanita  yang  kurang  mampu,  ibu-ibu  lainpun  tidak menghiraukannya.  Setelah  sepakat  mereka  akan  meninggalkan
Mekah. Halimah berkata kepada Harith bin Abd'l-'Uzza suaminya:
"Tidak  senang  aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim  itu dan akan kubawa juga."

"Baiklah,"  jawab  suaminya.  "Mudah-mudahan  karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita."

Halimah  kemudian  mengambil  Muhammad  dan  dibawanya   pergi bersama-sama   dengan   teman-temannya   ke   pedalaman.   Dia
bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa  mendapat berkah.   Ternak   kambingnya   gemuk-gemuk   dan   susunyapun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya.

Selama dua tahun Muhammad tinggal di  sahara,  disusukan  oleh Halimah  dan  diasuh oleh Syaima', puterinya. Udara sahara dan
kehidupan pedalaman yang  kasar  menyebabkannya  cepat  sekali menjadi  besar,  dan  menambah  indah  bentuk  dan pertumbuhan
badannya. Setelah cukup dua tahun dan  tiba  masanya  disapih,
Halimah  membawa  anak  itu  kepada  ibunya  dan  sesudah  itu membawanya kembali ke  pedalaman.  Hal  ini  dilakukan  karena
kehendak  ibunya,  kata sebuah keterangan, dan keterangan lain mengatakan karena kehendak Halimah sendiri. Ia dibawa  kembali
supaya  lebih  matang,  juga  memang  dikuatirkan  dari adanya serangan wabah Mekah.

Dua tahun lagi anak itu tinggal  di  sahara,  menikmati  udara pedalaman  yang  jernih  dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.

Pada masa itu, sebelum usianya  mencapai  tiga  tahun,  ketika itulah  terjadi  cerita  yang  banyak dikisahkan orang. Yakni,
bahwa  sementara  ia  dengan  saudaranya  yang  sebaya  sesama anak-anak   itu  sedang  berada  di  belakang  rumah  di  luar
pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga Sa'd itu   kembali   pulang  sambil  berlari,  dan  berkata  kepada
ibu-bapanya: "Saudaraku yang dari Quraisy  itu  telah  diambil oleh  dua  orang  laki-laki  berbaju  putih.  Dia dibaringkan,
perutnya dibedah, sambil di balik-balikan."

Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan,  bahwa  mengenai diri  dan suaminya ia berkata: "Lalu saya pergi dengan ayahnya
ke  tempat  itu.  Kami  jumpai  dia  sedang  berdiri.  Mukanya pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami
tanyakan: "Kenapa kau, nak?" Dia menjawab: "Aku didatangi oleh dua  orang  laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu
perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari."

Halimah dan suaminya kembali pulang ke rumah. Orang itu sangat ketakutan, kalau-kalau anak itu sudah kesurupan. Sesudah  itu,
dibawanya  anak  itu  kembali  kepada  ibunya  di  Mekah. Atas peristiwa ini Ibn Ishaq  membawa  sebuah  Hadis  Nabi  sesudah
kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibn Ishaq nampaknya  hati-hati  sekali  dan   mengatakan   bahwa   sebab
dikembalikannya  kepada  ibunya bukan karena cerita adanya dua malaikat itu, melainkan - seperti cerita Halimah kepada Aminah
-  ketika  ia di bawa pulang oleh Halimah sesudah disapih, ada beberapa orang Nasrani  Abisinia  memperhatikan  Muhammad  dan
menanyakan   kepada   Halimah  tentang  anak  itu.  Dilihatnya belakang anak itu, lalu mereka berkata:

"Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di  negeri  kami. Anak  ini  akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui
keadaannya." Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri  dari mereka  dengan  membawa  anak  itu.  Demikian juga cerita yang
dibawa oleh Tabari, tapi  ini  masih  di  ragukan;  sebab  dia menyebutkan   Muhammad   dalam   usianya   itu,  lalu  kembali
menyebutkan  bahwa  hal  itu  terjadi   tidak   lama   sebelum kenabiannya dan usianya empatpuluh tahun.
 
oleh Muhammad Husain Haekal (1/3)