update kabar baru deh.... 2012
'Musuh' Warnet Bukan Lagi Razia SoftwareArdhi Suryadhi -
detikinetJakarta - Warnet kini tengah berjuang menjaga eksistensinya. Jika dulu banyak warnet yang begitu takut razia software dapat mematikan bisnis mereka. Kini tantangan yang datang berganti, bukan lagi razia. Lantas?
Menurut mantan Kepala Perwakilan Business Software Alliance (BSA) Indonesia, Donny A. Sheyoputra, pemilik warnet sekarang tengah berjuang untuk tetap hidup. Pasalnya, pengunjung semakin berkurang, dan akses internet bisa didapatkan dari gadget yang murah.
"Musuhnya sudah bukan lagi polisi yang melakukan razia software," tukasnya kepada detikINET.
"Laptop murah semakin banyak, akses broadband semakin mudah. Jadi semua bisa terkoneksi internet lebih gampang. Sedangkan tarif Rp 3.000 per jam sudah tidak bisa lagi menutup biaya operasional mereka," imbuh Donny.
Tantangan lainnya adalah persaingan yang tidak sehat di antara pebisnis warnet. Dimana beberapa warnet beroperasi dengan cara mencuri listrik dan menggunakan software bajakan.
"Jadi warnet ilegal inilah yang melakukan 'kanibalisme'. Jadi musuhnya sudah bukan polisi jahat, tapi sesama mereka yang bersaing tidak sehat," tukas pria yang kini menjalankan Advokat & Konsultan HKI Sheyoputra Law Office tersebut.
Padahal, lanjutnya, dengan segala keterbatasan yang ada, banyak warnet yang sudah makin sadar HKI. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang terpikir mau mendaftarkan HKI mereka, termasuk merek.
Tapi karena profit mereka semakin kecil dan tidak cukup untuk biaya operasional, maka niat baik itu terus tertunda. Akibatnya, HKI mereka -- seperti merek -- tidak terlindungi.
"Di sisi lain, negara kehilangan potensi pemasukan yang seharusnya bisa ada jika warnet-warnet ini daftar HKI. Sementara sebagian warnet-warnet kecil yang ilegal pada enak-enakan merusak harga dengan mencuri listrik," Donny menandaskan.
Menurut kompilasi data Kementerian Komunikasi dan Informatika sendiri, pada tahun 2011, jumlah warnet yang beroperasi di Tanah Air diperkirakan ada 20 ribu. Jumlah itu termasuk game center.
Sementara menurut Internet World Statistic, Indonesia menempati urutan ke-4 setelah China, India dan Jepang dengan pengguna internet mencapai 40 juta dari total populasi 245 juta jiwa.
Warnet Bisa Bernasib Seperti WartelArdhi Suryadhi - detikinet
285.jpg?w=285)
Jakarta - Bisnis warnet tak semanis beberapa tahun lalu. Akses internet kian mudah didapat masyarakat, sehingga membuat warnet kerap tak dilirik. Hal ini diperparah dengan panasnya persaingan, di mana ada pemilik warnet yang beroperasi dengan mencuri listrik.
Budi, pemilik warnet di daerah Bogor menyatakan bahwa aksi pencurian listrik dilakukan beberapa pelaku bisnis warnet untuk menekan biaya operasional mereka. Hal ini dianggap 'mendesak' dilakukan lantaran biaya berlangganan warnet kian murah.
Hanya saja, imbasnya juga sampai kepada pengusaha warnet lain yang tengah berjuang menahan laju tagihan listrik.
"Kalau di Bogor, warnet sekarang tarifnya Rp 3.000 per jam, bahkan ada yang Rp 2.500. Sedangkan tagihan listrik setiap tahun kan naik," tukas Budi kepada detikINET.
"Hal ini diperparah dengan adanya persaingan bisnis dimana ada pemilik warnet yang beroperasi dengan mencuri listrik. Mereka bisa bertahan dengan mencuri listrik tersebut, dan bisa menawarkan tarif yang lebih murah," lanjutnya.
Pemilik warnet yang mencuri listrik ini biasanya adalah pengusaha kecil, yang beroperasi di pojok-pojok perumahan. Bukan bermaksud menggeneralisasi seluruhnya, namun jika warnet yang ada di jalur-jalur umum alias jalan raya akan lebih mudah terpantau.
"Entah ada main dengan orang PLN atau tidak, yang pasti mereka (warnet yang mencuri listrik-red.) tetap saja dibiarkan," lanjut Budi.
Budi sendiri memiliki dua warnet, satu di Bogor satu lagi di Jakarta. Di Bogor, warnetnya memiliki 60 unit PC dan di Jakarta 20 unit. Adapun tagihan listrik yang harus dibayarkan setiap bulan mencapai Rp 4 - 5,5 juta tiap bulan untuk setiap warnet.
"Sementara pendapatan bisa mencapai Rp 25 juta per bulan. Cuma kan harus dipotong biaya-biaya lainnya, seperti listrik, bandwidth, air, telepon, karyawan, dan banyak lagi. Jadi kadang malah gak ketutup pengeluarannya," keluhnya.
"Kalau dulu pendapatan dari satu warnetnya bisa mencapai Rp 1,2 juta per hari. Sekarang, Rp 600 ribu per hari saja sudah bagus," imbuhnya.
Dengan kondisi ini, ia pun berharap pihak PLN dapat mengambil tindakan agar persaingan di bisnis warnet menjadi lebih sehat. Terlebih, sekarang ini masyarakat semakin mudah untuk bisa online dengan keberadaan ponsel, modem, dan komputer jinjing yang semakin terjangkau, sehingga membuat warnet tak lagi dilirik.
warnet biasa (bukan game center) klo mo bertahan bisa bikin warnet download + hotspot
Harga perjam bisa 10 ribu tapi untuk streaming HD & download maknyuss

pake router wireless seharga 500rb dah bisa bikin sistem voucher hotspot buat pengguna laptop, smartphone, gadget sekitar cafe / warnet

lebih maknyuss lagi tambahin bisnis
yang ini 