ADAT MINANG
Source :
http://marisma.multiply.com/journal/item/12/_ADAT_MINANG
1. Sifat Adat Adat adalah peraturan hidup sehari-hari. Sebagai peraturan hidup dengan sendirinya adat mengikat orang perseorangan dan masyarakat untuk tunduk dan mematuhinya. Kalau tidak demikian, adat itu sendiri hanya akan menjadi "semboyan di bibir" yang tak punya arti dan fungsi apa-apa.
Adat Minang bagaimanapun dibanggakan dan dipuja tidak ada artinya bila "orang Minang" sendiri tidak merasa terikat untuk mematuhinya. Namun demikian, adat itu sendiri sebagai suatu aturan hidup tidaklah bersifat kaku, bahkan sebagian dari ketentuan adat itu mempunyai daya lentur yang sangat tinggi.
Sifat dasar dari adat Minang itu sesuai pepatah adat adalah sebagai berikut:
Adat babuhue sintak
Syarak babuhue mati
Buhue artinya simpul atau ikatan, sedangkan sintak atau sentak artinya mudah dilonggarkan atau dikencangkan.
Buhue sintak artinya ikatan adat merupakan suatu ikatan yang dapat dibuka untuk menerima perkembangan baru yang sesuai dengan pertimbangan alue dan patuik menurut logika orang Minang. Sebaliknya dapat pula lebih dikencangkan atau diperketat terhadap sesuatu aturan adat yang mulai longgar, sesuai bunyi pepatah "usang-usang diperbarui", atau "nan buruak dibuang jo etongan, nan elok dipakai jo mufakat".
Disini dapat dilihat bahwa adat Minang mempunyai daya lentur yang luar biasa. Inilah sebenarnya salah satu kunci kenapa adat Minang dapat bertahan hidup berabad-abad lamanya. Namun, perlu dicatat bahwa daya lentur adat itu tidak sama. Hal ini sesuai dengan klasifikasi adat Minang itu sendiri yang terbagi menjadi empat tingkat iaitu:
1. Adat nan sabana Adat
2. Adat yang diadatkan
3. Adat yang teradat
4. Adat- istiadat.
Dari deretan diatas dapat dilihat bahawa daya lentur yang paling tinggi atau dengan kata lain, adat yang paling mudah berubah adalah adat yang terletak paling bawah, iaitu "adat-istiadat", sedangkan yang paling rendah daya lenturnya, adalah adat yang paling sulit untuk berubah. Kalau sampai diubah, maka "keseluruhan" bangunan adat itu akan runtuh, terutama yang nombor teratas iaitu "adat nan sabana Adat".
Adat nan sabana adat inilah yang menurut pepatah adat disebut:
Adat nan indak akan lakang dek paneh
Nan takkan lapuak dek ujan
Paling-paling balumuik dek cindawan.
Inilah sifat adat Minang yang perlu diperhatikan untuk lebih dapat memahami nilai-nilai adat Minang.
2. Tingkat- Tingkat Adat Minang. Dengan memperhatikan daya lentur ketentuan adat Minang, maka ketentuan adat Minang dapat diklasifikasikan ke dalam empat tingkat sebagaimana berikut:
a) Adat nan sabana adat
Yang dimaksudkan dengan "adat nan sabana adat" adalah aturan pokok dan falsafah yang mendasari kehidupan suku Minang yang berlaku turun-temurun tanpa terpengaruh oleh tempat, waktu dan keadaan sebagaimana dikiaskan dalam kata-kata adat;
Nan tidak lakang dek paneh
Nan indak lapuak dek ujan
Paling-paling balumuik dek cindawan.
Adat nan sabana adat ini pada dasarnya berlaku umum di seantaro Ranah Minang, baik di Luhak nan Tigo maupun di Rantau.
Yang termasuk dalam adat nan sabana adat ini adalah;
1. Silsilah keturunan menurut garis ibu yang lazim disebut garis keturunan "Matrilineal".
2. Perkahwinan dengan pihak luar pesukuan yang lazim dikenal dengan tata perkahwinan eksogami, dan suami yang bertempat tinggal dalam lingkungan kerabat isteri yang disebut "matrilocal".
3. Harta pusaka tinggi yang turun-temurun menurut garis ibu dan menjadi milik bersama "sajurai" yang tidak boleh diperjualbelikan, kecuali punah.
4. Falsafah "Alam Takambang Jadi Guru" dijadikan landasan utama pendidikan alamiyah dan rasional serta menolak pendidikan mistik dan irrasional (tahyul).
Keempat-empat hal tersebut di atas, menurut kami termasuk dalam klasifikasi adat nan sabana adat yang daya lenturnya sangat kuat dan sulit untuk digoyahkan. Namun kalau sampai goyah, seluruh adat Minang pun akan runtuh kerana keempat hal tersebut di atas "tonggak tuo-nya adat Minang".
b. Adat nan diadatkan
Yang dimaksud dengan "adat nan diadatkan" adalah peraturan setempat yang telah diambil dengan kata mufakat ataupun kebiasaan yang sudah berlaku umum dalam suatu nagari.
Perubahan atas peraturan setempat ini hanya dapat dilakukan dengan permufakatan pihak-pihak yang tersangkut dengan peraturan itu, sesuai dengan pepatah "Nan elok dipakai jo mufakat, nan buruak dibuang jo etongan, adat habih dek bakarilahan".
Adat nan diadatkan ini dengan sendirinya hanya berlaku dalam satu nagari saja dan tak boleh dipaksakan untuk juga berlaku umum di nagari lain.
Yang termasuk dalam adat nan diadatkan ini, antara lain mengenai tata cara, syarat, serta upacara pengangkatan penghulu, tata cara, syarat, serta upacara perkahwinan yang berlaku dalam tiap-tiap nagari.
c. Adat nan teradat
Yang dimaksudkan dengan "adat nan teradat" adalah kebiasaan seseorang dalam kehidupan masyarakat yang boleh ditambah atau dikurangi dan bahkan boleh ditinggalkan, selama tidak menyalahi landasan berfikir orang Minang iaitu alue, patuik, raso-pareso, anggo tanggo dan musyawarah.
Adat nan teradat ini dengan sendirinya menyangkut pengaturan tingkah laku dan kebiasaan peribadi orang perseorangan seperti tata cara berpakaian, makan minum dan seterusnya.
Dahulu misalnya para pemuda di kampung biasa memakai kain sarung, kini sudah terbiasa memakai celana ala Eropah, malah sudah biasa dengan blue jean-nya. Dulu setiap Muslim Minang pulang dari haji dengan memakai serban, sekarang sudah biasa memakai peci, malah sering tanpa tutup kepala. Dahulu orang Minang biasa makan dengan tangan, kini sudah biasa pula memakai sudu garpu ala Amerika. Perubahan tata cara ini dianggap tidak melanggar adat.
d. Adat-istiadat
Yang dimaksudkan dengan "adat-istiadat" adalah anika kelaziman dalam suatu nagari yang mengikuti pasang naik dan pasang surut situasi masyarakat. Kelaziman ini pada umumnya menyangkut hal-hal seni budaya masyarakat seperti acara-acara keramaian anak nagari, seperti pertunjukan randai, saluang, rebab, tari-tarian dan anika kesenian yang dihubungkan dengan upacara perhelatan perkahwinan, puntiang penghulu maupun untuk menghormati kedatangan tamu agung. Kebanyakan adat sopan santun dan baso basi serta tatakrama pergaulan termasuk dalam klasifikasi adat-istiadat ini.
Adat-istiadat semacam ini sangat tergantung pada situasi sosial ekonomi masyarakat. Bila keadaan ekonomi baik, biasanya pelaksanaan acaranya penuh megah dan meriah, begitu pula bila keadaan sebaliknya.
Di samping pembagian empat tingkat adat di atas, masih ada satu pengaturan adat yang bersifat khusus dan merupakan ketentuan yang berlaku umum, baik di ranah maupun di rantau. Pengaturan itu adalah apa yang dikenal dengan "limbago nan sapuluah" yang menjadi dasar dari Hukum Adat Minang.
Yang termasuk dalam "limbago nan sapuluah" ini adalah "cupak nan duo", "undang nan ampek" dan "kato nan ampek" yang menjadi asas hukum yang berlaku di seantaro Ranah Minang.