Saya perhatikan anak saya yang baru berumur 18 bulan, kalau dia melihat tayangan adzan maghrib di teve, apapun yg saat itu dia lakukan, langsung berhenti. Matanya menatap ke layar teve, sambil tangannya menunjuk-nunjuk. Begitu adzan selesai dikumandangkan, dia melanjutkan lagi kegiatannya. Sering saya melihat seperti itu.
Saya bukan ahli kejiwaan anak, jadi saya tidak tahu apa itu hanya kebetulan saja atau memang seperti itu. Saya juga tidak tahu apa anak seusia itu tertarik melihat tayangan gambarnya saja atau tertarik nada lagu pembawa adzan atau tertarik yang lain. Tapi beberapa teman ternyata juga melihat hal yang sama pada anaknya, seperti yg saya lihat.
Karena itulah saya merasa, terkadang Allah punya banyak cara unik untuk menasehati kita-kita yang sudah menganggap dirinya dewasa ini. Saya jadi malu sendiri melihat anak saya. Entah sudah berapa lama saya kurang khusyuk mendengar lantunan adzan, atau sekedar mendengar tapi tidak menyimak. Atau malah tidak peduli sama sekali. Padahal, yang saya tahu, kalimat-kalimat yang diucapkan sang muadzin punya makna yang sangat dalam. Mungkin karena kita keseringan mendengar adzan lima hari sekali, jadinya kita menganggap itu hal yang lumrah.
Imam al-Ghazali pernah menasehati :
“Jika kamu mendengar adzan, bayangkanlah dirimu berada di Padang Mahsyar, sedang mendengarkan suara sangkakala yang mengumpulkan seluruh mahkluk, untuk menerima pengadilan Tuhan”