Hasan Al Banna Menyimpang Dalam Aqidah ? (Bagian 2)
Hasan al Banna dan Pandangannya tentang Asma’ dan Shifat Allah
Dalam masalah asma’ wa shifat, al Banna telah melakukan seperti yang dilakukan para salaf, misalnya membaca Risalah al ‘Aqaid. Namun, ia masih diingkari dengan keras. Itulah salah satu bagian yang membuat kita mengerutkan dahi, mengelus dada dan menggelengkan kepala. Hampir-hampir menghantarkan kita pada sebuah kesimpulan bahwa kritik yang dialami al Banna dari kaum jufat (penghujat) telah keluar dari batas-batas ilmiah dan cenerung emosional dan tendensius. Mereka membaca kitab, tetapi tidak memiliki ilmu untuk memahaminya. Mereka melihat, tetapi tidak mengerti yang sedang mereka lihat. Mereka mencela, tetapi tidak tahu yang sedang mereka cela.
Terhadap sifat-sifat Allah swt yang tertera dalam ayat-ayat atau hadis, manhaj salaf adalah itsbat(menetapkan) adanya sifat-sifat Allah swt sesuai kesempurnaan-Nya, bukan ta’wil(memberikan makna), ta’thil(mengingkari/meniadakan), tahrif(mengubah), tasybih(menyerupai makhluk) dan takyif(bertanya bagaimana). Hasan al Banna telah menetapkan yang demikian itu dalam al Aqaid-nya, tetapi risalah itu tidak dipahami (atau tidak dihargai) dengan semestinya. Al Banna tetap dicela. Ia dituduh berpaham tafwidh, yaitu menyerahkan kandungan makna sifat-sifat-Nya kepada Allah swt tanpa meyakininya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa tafwidh adalah model akidah paling buruk (Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Asy Syihy, Dialog Bersama Ikhwani, hlm. 16-18. Lihat juga As Sunnah edisi 05/Th. III/1419-1998, hlm. 26)
Benarkah tuduhan tersebut?
Hasan al Banna berkata, “Engkau telah mengetahui bahwa mazhab salaf mengenai ayat-ayat dan hadis-hadis yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah swt mengikuti yang disebutkan tentangnya (ucapan itu sesuai dengan yang dikatkan Imam Sufya bin Uyainah, “Tiap kali Allah sifatkan diri-Nya dalam kitab-Nya, penafsirannya adalah bacaan (seperti adanya) dan bersikap diam.” Ucapan itu ada dalam Ushulus Sunnah Imam al Lalika’i.) tanpa tafsir dan takwil. Bagi mazhab khalaf, mereka mena’wilnya dengan sesuatu yang tidak menodai kesucian Allah.” (ucapan ini sesuai dengan yang dikatakan Imam asy Syatibi dalam al I’tisham, “kita dapatkan bahwa masing-masing pihak-salaf dan khalaf-berkeyakinan melindungi kesucian, menafikan kekurangan, dan meninggikan derajatnya.”)
Ia pun berkata, “Adapun ulama salaf-semoga Allah swt ridha’ kepada mereka-berkata, ‘kita beriman kepada ayat-ayat dan hadis-hadis apa adanya dan menyerahkan penjelasan tentang maksudnya kepada Allah swt; mereka itsbat (menetapkan) adanya tangan, mata, bersemayam, tertawa,…” Kemudian, al Banna memilih mazhab salaf untuk dirinya, “Kami berkeyakinan bahwa pendapat salaf-yaitu diam dan menyerahkan kandungan maknanya kepada Allah swt-lebih utama dengan memotong habis ta’wil dan ta’thil(peniadaan).” (Hasan al Banna, Risalah Pergerakan IM jilid II, hlm. 257-265)
Itulah pandangan al Banna tentang sifat-sifat Allah dan ia tidak berubah tentang hal itu. Tampak dengan terang-seterang siang-bahwa ia sejalan dengan pemahaman salafush shalih. Jika demikian, apa yang membuatnya diserang dengan tuduhan tafwidh? apakah mereka juga menuduh bahwa Hasan al Banna menilai salafush shalih sebagai tafwidh bukan itsbat? (Yusuf al Qaradhawy, 70 tahun IM, hlm. 301. Lihat juga Dialog Bersama Ikhwani, hlm. 17-1 8)
Seandainya orang-orang itu mau ikhlas dan jujur, mareka akan menemukan di dalam al Aqaid bahwa Hasan al Banna dengan tegas mengatakan “Mereka para salaf telah itsbat adanya tangan, mata, bersemayam, tertawa,..” Jadi, kalimat mana yang membenarkan anggapan mereka bahwa al Banna menuduh para salaf tafwidh, bukan itsbat? itu adalah kebutaan yang tidak pantas terjadi.
“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi hati yang di dalam dada.” (QS alhajj:46)
Barangkali, anggapan al Banna menuduh salaf telah tafwidh adalah ketika beliau mengatakan pendapat salaf diam dan menyerahkan kandungan maknanya kepada Allah swt’ seperti ang sudah kami kutip sebelumnya. Itu mereka artikan sebagai tafwidh (lihat lagi definisi tafwidh). Seandainya tuduhan mereka benar bahwa al Banna telah melakukan tafwidh, apakah tarwidh selalu buruk dan salah seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyah?
Tafwidh Ada Dua Macam
(Abdul Halim Hamid, Ibnu Taimiyah, Hasan al Banna dan IM, hlm. 152-154)
Persoalan tafwidh dapat menyangkut ayat yang muhkan (jelas) dan mutasyabbih (samar). Tafwidh yang selalu dianggap buruk sebagian orang, ternyata memiliki beragam makna. Paling tidak, ada dua makna.
Pertama, tafwidh yang terpuji dan kita wajib meyakininya.
Kedua, tafwidh yang tercela dan kita wajib menjauhinya.
Tafwidh yang baik dan wajib diyakini adalah tafwidh (penyerahan) secara total hakikat makna ketika kita sandarkan kepada zat Allah swt. Oleh karena kita tidak mengerti eksistensi-Nya, bagaimana mungkin kita tahu hakikat sifat-Nya?
“Tiada suatu pun yang serupa dengan-Nya dan Ia maha mendengar lagi maha mengetahui.” (QS asy Syura:11)
“Mereka dengan ilmunya tidak dapat menjangkau-Nya” (QS Thaha:110)
Adapun tafwidh yang tercela adalah tafwidh seseorang bahwa lafal pada ayat-ayat sifat dan hadis-hadis sifat tidak memiliki makna sama sekali. Dari berbagai sudut pandang, kata-katanya tidak dapat dipahami, misalnya alif, lam, mim, tha, sin, mim dan seterusnya.
Jika kita kaji ucapan Imam al Banna, jelas sekali bahwa tafwidh yang dimaksud berhubungan dengan Zat Allah swt dalam bentuk atau kesempurnaannya. Manusia tidak mengetahuinya secara hakikat, jadi pengertiannya kita serahkan kepada Allah swt. Itu semua sesuai dengan hadis Nabi saw yang memerintahkan kita agar jangan memikirkan Zat Allah, tetapi pikirkanlah ciptaan-Nya.
Imam Ahmad bin Hambal berkata tentang hadis ‘Allah turun ke langit dunia’ atau ‘Allah menyaksikan…’ “kita beriman kepadanya dan membenarkannya tanpa harus membayangkan wujudnya, caranya, maknanya, dan tanpa menolak sesuatu pun darinya.” (Hasan al Banna Op cit, hlm. 25 8)
Itulah Imam Ahmad! makna apa yang tidak boleh dibayangkan menurutnya? tentu makna dalam tinjauan bentuk dan hakikat yang berhubungan dengan Zat Allah swt.
Bersama Para Imam dan Hasan al Banna
(Yusuf al Qaradhawy, Op cit hlm 301-303. Sebagian pandangan para Imam itu tertera juga dalam al Aqaid-nya al Banna. Apakah mereka-para pencela-tidak mengambil pelajaran darinya?)
Berikut sederetan Imam yang memiliki kesamaan pandangan dengan al Banna dalam memahami sifat-sifat Allah swt, yaitu pemahaman Ahlus sunnah, yang menyerahkan kandungan makna kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Syaikh Mar’i bin Yusuf al Karami al Maqdisi al Hambali (wafat 1032 H) seorang pakar mazhab Hanbali pada masanya. Ia berkata dalam kitabnya Aqawil ats Tsiqat fi Ta’wil al Asma’ was Sifat, “jika sudah semikian, ketahuilah diantara hal-hal yang bersifat mutasyabihat (samar) adalah ayat-ayat sifat yang penakwilan isinya sangatlah jauh (tidak mungkin). Oleh karena itu, jangan ditakwilkan dan jangan ditafsirkan.” Ia pun berkata, “Saya sebutkan dalam buku saya al Burhan fi Tafsir al Qur’an tentang firman Allah swt, ‘Tiada yang dinanti-nantikan (pada hari kiamat), melainkan datangnya Allah dalam naungan awan.’ (QS al Baqarah:210). Setelah menyebutkan aliran-aliran para penakwil, Syaikh Mar’i berkata, “Mazhab salaf dalam masalah tersebut adalah tidak memasuki hal-hal seperti itu (tidak mau membincangkannya), bersikap diam, dan menyerahkan ilmunya kepada Allah swt.”
Ibnu Abbas Ra berkata, “Ayat seperti itu termasuk hal yang dirahasiakan dan tidak boleh ditafsirkan. Sikap paling baik adalah hendaknya manusia percaya kepada zhahir-nya dan menyerahkan ilmunya kepada Allah swt.” Demikianlah jalan para Imam salaf.
Ibnu Abdul Barr dalam Jami’ Bayan al Ilmu wa Fadhlihi berkata, “Az Zuhri, Malik, al Auza’i, Sufyan ats Tsauri, al Laits bin Sa’ad, Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hambal dan Ishaq Rahawaih berkata tentang ayat di atas dan semisalnya, “Biarkanlah demikian sebagaimana datangnya.”
Di dalam Risalah at Tadmuriyah disebutkan bahwa mayoritas pengikut Ahlussunnah, salaf dan ahlul hadits mengimaninya serta menyerahkan maknanya kepada Allah swt. Ibnu Taimiyah berkata “Kami tidak menafsirkannya. Kami menyucikan-Nya dari hakikat (ayat-ayat sifat tersebut).”
Imam al Lalika’i al Hafizh dalam Ushulus Sunnah telah meriwayatkan dari Muhammad bin hasan (murid Abu Hanifah) yang berkata “Para fuqaha seluruhnya dari Timur hingga Barat sepakat mengimani sifat-sifat-Nya tanpa menafsirkan, menyerupakan dan washf (menetapkan sifat yang tidak seharusnya).” Ucapan itu dikutip Imam adz Dzahabi juga dalam al ‘Uluw dan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al Fatawa.
Imam atTirmidzi dalam Sunan-nya berbicara tentang hadis “melihat Allah swt”. Ia menganut para pakar dari Imam-Imam, seperti Sufyan ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Malik, Ibnu ‘Uyainah dan Waki’. Mereka berkata, “Kami meriwayatkan hadis itu seperti waktu kami terima. Kami percaya padanya dan tidak bertanya ‘bagaimana?’. Kami pun tidak menafsirkan dan tidak pula membayangkannya.” Sufyan bin Uyainah berkata “Tiap kali Allah swt sifatkan diriNya dalam kitabNya, penafsirannya adalah bacaan (apa adanya) dan bersikap diam. Tidak boleh seorangpun menafsirkan kecuali Allah dan RasulNya.” Ucapan itu terdapa dalam Ushulus Sunnah Imam al Lalika’i dan Syarhus Sunnah Imam al Baghawy.
Imam Ibnu Khuzaimah ditanya tentang diskusi mengenai nama dan sifat-sifat Allah swt. Jawabnya, “Para imam kaum muslimin, pentolan mazhab, para pemimpin agama-Imam Malik, Imam Sufyan, Imam al Auza’i, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ishaq bin Rahawaih, Imam Yahya bin Yahya, Imam Ibnul Mubarak, Imam Abu Hanifah, Imam Muhammad bin Hasan, dan Imam Abu Yusuf-tidak pernah membicarakan hal itu dan mereka melarang rekan-rekannya terjun ke dalamnya serta menuntun mereka kepada Kitab dan Sunnah.”
Kutipan-kutipan menunjukkan, tidak syak lagi, bahwa Imam asy Syahid Hasan al Banna ridhwanullah ‘alaih berada satu fikrah dan shaff bersama pakar Islam, para Imam, salafush shalihin ridhwanullah ‘alaihim ajmai’in. Para salaf tidak pernah berkeinginan terlibat dalam perdebatan penafsiran nash-nash yang diributkan manusia belakangan. Mereka justru diam. Itu bukan menunjukkan ketidakpahaman mereka, melainkan manhaj mereka yang mulia-mengimaninya dan bukan mengutak-atiknya seperti yang Allah swt isyaratkan dalam surat Ali Imran (7) “Orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepadanya (ayat-ayat mutasyabihat) karena semuanya berasal dari sisi Allah’.”
Sikap para Salaf menunjukkan kedalaman ilmu mereka dan kearifannya. Membiarkan ayat seperti pada waktu datangnya dan menyerahkan maknanya kepada Allah swt adalah bentuk kesadaran bahwa kemampuan akal manusia amat terbatas. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dia mengetahui yang ada di hadapan mereka dan yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya.”(QS. Thaha: 110)
Tudingan Terakhir Masalah Ini
Hasan al Banna, walau memihak mazhab salaf, menganggap perbedaan antara mazhab salaf dan khalaf dalam memahami asma wash shifat tidaklah signifikan. Namun, hal itu tidak diterima sebagian kecil kalangan, bahkan al Banna dianggap berupaya mendekatkan al haq dan al bathil (Abu Abdillah A. bin Muhammad Asy Syihy, Dialog Bersama Ikhwani, hlm. 16-20)
Hasan al Banna mengutarakan titik temu yang terlihat baginya antara salaf dan khalaf agar kaum muslimin dapat menarik manfaat dari kesimpulannya dan tidak fanatik terhadap kelompok mereka. Titik temu tersebut meliputi, pertama, kedua kelompok sepakat dalam menyucikan Allah swt dari penyerupaan dengan makhlukNya. Kedua, keduanya sepakat maksud kata-kata dalam teks alQuran dan hadis tentang Allah swt bukanlah yang tersurat seperti jika diperuntukkan kepada makhluk. Hal itu berpengaruh pada sikap sepakat mereka untuk meniadakan tasybih (penyerupaan dengan makhluk). Ketiga, kedua pihak mengetahui lafal itu diletakkan untuk mengungkapkan sesuatu yang tebersit dalam benak dari hal-hal yang berhubungan dengan (pemilik) bahasa.
Jika demikian, kata al Banna, secara prinsip antara salaf dan khalaf sebenarnya sepakat pada keharusan ta’wil. Perbedaan keduanya hanyalah karena khalaf menambahkan pembatasan makna yang dikandung dengan tetap menjaga kesucian Allah swt yang maksudnya menjaga akidah orang awam dari terjerumus ke dalam tasybih. Perbedaan semacam itu sebenarnya tidak sampai melahirkan guncangan (Hasan al Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin Jilid II, hlm 264-265).
Terlihat al Banna menganggap ringan perbedaan kedua mazhab itu dan itulah yang beliau pahami sesuai penelitiannya. Apakah hal itu memiliki landasan dari ulama terdahulu?
Berkata Imam asy Syatibi dalam al I’tisham, “Salah satu ikhtilaf terbesar adalah seperti penetapan sifat. Jika kita teliti maksud dari kedua kelompok itu (salaf dan khalaf), kita dapati masing-masing berkeyakinan melindungi kesucian, menafikan kekurangan dan meninggikan derajatNya. Perbedaan mereka hanya pada metode yang ditempuh dan hasilnya tidak mengurangi niat suci mereka sama sekali. Jadi, perbedaan itu kadarnya seperti perbedaan masalah furu’ saja” (A. Halim Hamid, Ibnu Taimiyah, Hasan al Banna dan IM, hlm. 142).
Itulah Imam asy Syatibi! Ungkapannya mirip sekali dengan kesimpulan Hasan al Banna; hanya beda gaya penulisannya. Asy Syatibi mengatakan-seperti al Banna-bahwa salaf dan khalaf sepakat menyucikan Allah swt dari unsur tasybih dan kekurangan. Kata kunci yang membedakan dua mazhab itu: salaf itsbat tanpa tasybih dan ta’wil, sedangkan khalaf men-ta’wil dalam batas-batas syara’, logika, maupun bahasa.
Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ al Fatawa, “Adapun perbedaan-perbedaan lain seperti khilaf dalam ragam atau khilaf dalam memahami lafal serta ungkapan merupakan khilaf yang ringan. Hal itu banyak terjadi dalam masalah-masalah khabariyah (keyakinan).” (Ibid, hlm 43). Adapula al ‘Allamah al Wahity as Salafy ash Shufi (wafat 712 H)-dijuludi, “junaid pada masanya’ (Junaid adalah ulaam sufi yang salafi dan diakui Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim)-yang mencairkan perbedaan antara salaf dan khalaf dalam risalah berjudul an Nashihah (Yusuf al Qaradhawy, 70 Tahun IM, hlm. 304)
Oleh karena itu, penilaian al Banna bahwa perbedaan salaf dan khalaf hanyalah perbedaan ringan merupakan pemahaman para Imam Rabbani masa lalu yang pandai memahami dan menempatkan masalah pada tempatnya sesuai kadar urgensi dan hajjiyat-nya. Sesuai neraca ilmu, mereka memandang masalah secara jernih dan sehat, tidak menyamaratakan semua masalah adalah urgen, primer, besar dan ushul karena di sana ada masalah yang memang sekadar biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan seperti yang besar tidak perlu diringan-ringankan.
Sebenarnya dibalik kesimpulan al Banna itu tersimpan niat mulia, yaitu ingin umat Islam tidak berpecah belah dengan meributkan perbedaan salaf dan khalaf yang sebenarnya tidak seberapa dibandingkan permasalahan besar yang ada pada masa itu. (Dalam kalimat terakhir pembahasan, Ia berkata: “Hal paling penting untuk diarahkan ka kaum muslimin sekarang adalah penyatuan barisan dan menyatukan kalimat sedapat yang kita lakukan”). Lagi-lagi, al Banna tidak berbeda pandangan denan para ulama muhaqqiq (peneliti) masa lalu yang antusias membangun, bukan menghancurkan dan menyatukan, bukan mencerai-beraikan.
Membongkar Kedustaan
Dusta terhadap al Banna
Kaum jufat rela menodai diri, ilmu dan agamanya demi mencapai ambisinya, yaitu memisahkan generasi dakwah dari arus besar. Berdusta pun rela, asal tujuan tercapai agar tidak ada lagi manusia mau mendekati dan menelaah karya-karya al Banna dan fikrahnya. Namun, dengan karunia Allah ‘Azza wa Jalla, upaya itu terbongkar dengan mudah.
Dalam buku kecil, Dialog Bersama Ikhwani, penulisnya telah menempatkan ucapan al Banna tidak pada tempat dan maksudnya. Kami berharap itu tidak mencerminkan akhlak mereka keseluruhan. Sesungguhnya al Banna berkata dalam al Aqaid, “Hal yang paling penting untuk menjadi arah perhatian kaum muslimin sekarang adalah penyatuan kalimat sedapat yang kita lakukan.”
Penulis Dialog Bersama Ikhwani, yaitu Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy Syihi telah memanipulasi kalimat al Banna. Kalimat itu dianggapnya sebagai isyarat keinginan al Banna menyatukan berbagai sekte dalam Islam dengan Ahlussunnah, termasuk Nashrani! Subhanallah!
Seandainya orang itu mau jujur, ikhlas, cerdas dan takut kepada Allah swt, tentu ia tidak usah sampai berbohong seperti itu. Teks ucapan al Banna ini – bagi yang membaca secara utuh dari awal hingga akhirnya – ada ketika beliau sedang membicarakan polemik antara paham salaf dan khalaf mengenai asma’ was shifat. Kalimat itu adalah nasihat dari beliau kepada kaum muslimin untuk tidak memperpanjang lagi polemik karena yang terpenting adalah persamaan persepsi dan amal soleh yang produktf, bukan pergolakan furu’iyah ringan seperti yang dikatakan Imam Syatibi dan Ibnu Taimiyah. Jadik bisikan dari mana yang membuat Abu Abdillah menjadikan ucapan al Banna sebagai bukti untuk menguatkan tuduhannya yang tidak ilmiah itu bahwa al Banna mencoba menyatukan berbagai aliran yang menyimpang? Seperti biasa, al haq akan sulit ditemukan bagi orang yang memiliki penyakit di dalam hatinya.
Wallahu a’lam
http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/29/hasan-al-banna-menyimpang-dalam-aqidah/