Saya termasuk orang yg tidak menabukan menanyakan or mencari kejelasan thd hal hal yg belum jelas bagi saya. Hal itu berdasarkan pada keyakinan yg ada pada diri saya bahwa ada keterbatasan pada setiap diri makhluk , baik itu manusia atau makhluk lain terutama diri saya sendiri.
Maka pertanyaan perlu diajukan baik itu kepada Sang Khalik maupun kepada makhluk lain , baik itu berupa perenungan berdasarkan pertanyaan yg muncul maupun dialog dengan sesama .
Tidaklah harus terjawab atas pertanyaan itu , karena --kembali-- adanya keterbatasan tadi , baik yg ada pada diri sendiri --sehingga tidak bisa menangkap jawaban dari Allah-- , ataupun tidak mendapatkan jawaban dari sesama makhluk karena ketidak mampuan or keterbatasan mkhluk tadi.
Dalam mensikapi jawaban/tidak adanya jawaban tadi , insyallah saya berusaha untuk tidak akan merubah keimanan saya thd pokok pokok keimanan yg diwajibkan dalam Islam. Karena dalam agama (Islam) jelas masalah "keimanan" adalah dasar dari agama. Tidak jadi masalah darimana datangnya keimanan itu. Tidak harus keimanan itu datang dari hasil pemikiran !!!! Saya yg alhamdulillah sejak lahir hidup dan dididik dalam lingkunagan Islam , keimanan itu datang dan tumbuh dengan bertambahnya usia , pasang surut ya, selalu ada , terus terang bisa dibilang keimanan saya bukan didapat (mula mula) dari "akal" atau hasil olah pikir , tetapi keimanan itu tumbuh dan (insyallah) makin kokoh dengan melalui akal perenungan dan pengalaman. Saya yakin hala demikan juga dialami oleh banyak umat Islam didunia ini. Namun demikian saya yakin banyak juga yang mendapatkan hidayah keimanan karena hasil olah pikir mereka , pengalaman hidup mereka , perenungan dan penelitian or pencarian mereka, itu saya sangat yakin akan ini.
Maka menurut saya pertanyaan TS itu adalah wajar dan mungkin banyak yg punya pertanyaan spt itu.
Mungkin sulit untuk mencari jawaban yg sudah "matang" tersaji , seperti QS sekian , ayat sekian , hadist riwayat ini , riwayat itu dengan sanad ini dengan tingkat keshihan begini begitu dll dll dll.
Mungkin jawabannya merupakan suatu "kesimpulan" atau yg bisa disimpulkan sbg demikian.
Atau memang tidak ada riwayatnya. Toh soal pencatatan itu, periwayatan itu bisa saja tidak dilakukan , bisa saja para sahabat tidak mempermasalahkan itu sehingga tak terungkap mengenai hal ini . Namun jelas nabi sudah mencontohkan bagaimanan sholat itu dan Allah sendiri bersabda bahwa kalau kita taat pada rosulnya berart taat kepada Allah juga.
Jadi sebetulnya apapunjawaban dari pertanyan TS tidak perlu merubah or menggoyah keimanan kita , toh memangRosul lah yng selama ini penyampai massage or risalah Nya untuk umat ini.
Syukur alhamdulillah klo memang ada yg tahu jawaban pertanyaan sangTS.
Just sharing mannnnn
