Hak Asasi itu bukan Hak untuk menistakan Agama orang lain..Perbuatan yg menistakan Hak orang lain itu harus ditindas.Ahmadiyah itu berHak beribadah tanpa menistakan agama lain...Tapi kalau seperti saat ini di Indonesia, mereka beribadah Sambil Menistakan agama lain.. itu sih bukan HAK ASASI, tapi penistaan.
Ini cuma masalah persepsi, kalau diikuti jalan fikiran seperti ini maka akan terbina generasi ekstrimis yang suka jahil untuk melakukan tindakan hukum dengan mengabaikan undang-undang negara yang menjadi bagian dari kehiduapan mereka.Bisa-bisa setelah Ahamdiyah ada agama lain yang dikerjain oleh ekstemis seperti itu, sebab dianggapnya agama lain telah menghina Allah dengan menyebut Allah dengan sebutan lain, atau menganggap Allah beranak pinak yang mereka anggap telah menghinakan Allah. Padahal kita tahu kaum nasrani menamakan Alloh dengan Allah, nah Alloh ini adalah hak khas ummat Islam kenapa disebut dengan Allah, ternyata sudah banyak orang-orang kurang kerjaan yang mengutak-atik hal ini. Mereka menilai kasus Ahmadiyah dengan pandangan sempit dengan klaim-klaim yang memalukan. Apalagi dengan tuduhan yang berlebihan (kebohongan, kecurangan lah), padahal ulama jaman sekarang adalah sumber kebohongan dan pembodohan yang dipertontonkan dengan pamer keikut sertaan mereka dalam gerakan firqoh dalam Islam (partai-partai politik) yang dengan gemarnya melakukan kampanye janji busuk yang kecium sebelum diucapkan dan tak terbukti kemudian.Padahal Muhammad tidak pernah melarang satu agamapun selama hidupnya bahkan setelah beliau berkuasa dibumi. Hanya saja bedanya mereka dilindungi dengan hukum Islam, selama mereka tunduk patuh (aslma) kepada hukum Islam mereka diberikan kemerdekaan beragama dan beribadah menurut keyakinan mereka masing-masing.Hanya saja saat ini pengikuti Islam ekstreem (yang nyata-nyata menolak hukum Islam), justru menunjukkan sifat kenaehan dengan menghakimi golongan lain berdasarkan alasan yang dicari-cari. Muhammad sebagai contoh terbaik bagi mereka tidak pernah dijadikan suri teladan, mereka terkena jebakan Artabisme yang keterlaluan.
maaf OOT, lovelymoslem ini yg dulu menggunakan ID Keadilan bukan?
assalaamu'alaikum wr. wb.argumen tipikal para pembela nabi palsu, baik dari kalangan pengikutnya, maupun dari kalangan sekularis-pluralis-liberalis, dan insya Allah mudah menjawabnya...
1. Lovelymoslems menyebut Ahmadiyah sebagai "agama lain" (lihat paragraf 2).
Sebenarnya memang inilah yg diinginkan oleh umat Islam, yaitu pengakuan dari pihak Ahmadiyah sendiri bahwa mereka bukanlah umat Islam. Silakan teruskan syariatnya sendiri, asal tidak menyebut diri sebagai Muslim. Pihak Nasrani, biarpun di Indonesia sama-sama menggunakan terminologi "Allah" (dengan penyebutan berbeda), namun tidak menyebut dirinya Islam, itulah sebabnya umat Islam bersikap toleran thd mereka. Akan tetapi jika menyebut diri Muslim, maka harus sesuai dengan 'pakem' ajarannya, minimal dari segi aqidahnya.
Dalam soal-soal furu'iyah diperbolehkan berbeda, misalnya dalam menentukan mazhab sesuai kecenderungan masing-masing. Namun kalau aqidahnya beda, maka tidak boleh menyebut dirinya Muslim.
Dalam kasus Ahmadiyah, tidak mungkin menyebut diri Muslim namun mendustakan Nabi Muhammad saw. yg berulang kali menyatakan bahwa dirinya adalah Nabi terakhir. Silakan saja kalau mau bersikeras mengikuti Ghulam Ahmad al-Kadzdzab, tapi jangan sebut diri sebagai Muslim.
Mungkin ada yg bertanya, apa susahnya sih mengakui mereka sbg Muslim? Well, kalau mengakui mereka Muslim, maka ada banyak konsekuensinya, antara lain : kita boleh shalat bermakmum di belakang mereka, boleh menikah dengan mereka, boleh mewariskan harta pada mereka, mereka boleh pergi ke tanah suci Mekkah, dsb. Itulah sebabnya status sbg Muslim harus diperjelas sejelas-jelasnya, sehingga tidak ada keraguan. Demikian pula status kekafiran harus jelas sejelas-jelasnya, supaya tidak membingungkan.
Sama dengan daging babi, Non Muslim bebas berjualan sop babi atau sate babi, asalkan jelas dikatakan bahwa itu adalah produk babi. Kalau jualan daging babi tapi mengaku ayam, itu menipu namanya, dan umat Islam berhak protes...
. Nabi Muhammad saw. memang tak pernah melarang perkembangan agama-agama lain, tapi justru itulah masalahnya. Agama lain bebas berkembang, tapi aliran sesat tidak boleh. Coba ingat-ingat lagi, bagaimana sikap beliau thd penyembahan berhala di Mekkah? Ketika Mekkah telah dibebaskan, semua berhala di sekitar Ka'bah dihancurkan tanpa ampun, dan tradisi jahiliyah seperti thawaf tanpa busana dilarang total. Dari perspektif yg digunakan oleh Lovelymoslems, tindakan Rasulullah saw. ini bisa dikategorikan sadis, melanggar HAM, dsb, tapi ingatlah lagi bahwa kaum jahiliyah Mekkah yang menyembah berhala dan thawaf di Ka'bah tanpa busana itu mengaku tengah menjalankan syariat Nabi Ibrahim as., padahal mereka jelas-jelas melanggarnya.
Tindakan represif Rasulullah saw. didasari pada fakta bahwa para penyembah berhala itu tidak menyebut dirinya Nasrani atau Yahudi, namun mendompleng identitas Rasulullah saw. sebagai penerus ajaran tauhid Nabi Ibrahim as. Seandainya mereka tidak menggunakan identitas tsb (yaitu sbg penerus ajaran tauhid Nabi Ibrahim as.), barangkali tindakan Rasulullah saw. tidak akan sedemikian. Disamping, tentu saja, Masjidil Haram dan Mekkah adalah milik sah umat Muslim, bukan yg lain. Itu sebabnya semua tradisi ritual lain dienyahkan dari Mekkah.
Apakah sdr. Lovelymoslems berani mengatakan tindakan Rasulullah saw. menghancurkan berhala ini sebagai tindakan ekstrimis dan jahil, serta melanggar HAM terhadap agama / kepercayaan lain? wah, saya ingin lihat jawabannya...
Yah beginilah jawaban typikal ekstremist.
Tulisan saya Bisa-bisa setelah Ahamdiyah ada agama lain , lalu kesimpulan OOT dari mana neeeh.
Pakem dari mana ? mana undang-undang yang menyatakan pembenaran (bahkan dalam al Quran sendiri) terhadap pendapat pribadi anda itu ? Lihat saja diforum isgala sudah ada debat-debatan tentang Tuhan-Tuhan, saya kira anda terlalu teledor dalam bersikap.
Memang Muslim itu hanya milik segolongan ummat nmanusia gitu, darimana anda mengetahui bahwa anda itu muslim ? Kalau dari nyangka-nyangka boleh jadi lah. Anda membolehkan manusia memilih mahzab dalam Islam, ajaran mungkar dari mana ini ?
Soal ini kan cuma persepsi, bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada manusia kalau tidak melalui RasulNya ? Memang anda memilih Islam sebagai agama anda sudah bisa membuktikan bahwa anda itu muslim sebagai rahmatan lil alamin. Loh qo masih ada benci-membenci kepada golongan lain, memang apa untungnya anda membenci Ahmadiyah, apa pasti dijamin masuk sorga, lah siapa percaya !!!
Wah yang mengaku muslim saja banyak yang nggak jelas, masa koruptor naik haji, artis yang biasa hidup bebas umrah. Anda melihat manusia dari statusnya bukan akhlaknya, inilah aqidah yang sangat berbahaya.
Wong kalau lebaran gini daging sapi dicampur daging celeng banyak banget, tapi karena murahan, banyak juga yang membiarkan diri ditipu qo.
Wah ini baru terungkap bahwa anda tidak sama sekali mengenal Muhammad, berhala yang dihancurkan itu adalah menganggap ilah-ilah lain (apa itu ajaran, hukum, lambang, partai) di Mekkah.Lah anda lihat di Senayan sana banyak berhala, qo nggak anda hancurin ?
Wah kalau soal haji, i'tikaf, puasda sudah dijalankan oleh Quraisy Mekkah, tetapi kenapa Muhammad meluuruskan mereka ? Sebab jangan mengaku sebagai muslim kalau ada ilah lain disamping mereka. Anda tahu kan apa yang disembah (yang diikuti aturan dan hukumnya) ummat Islam di Indonesia dan didunia khususnya, apakah cuma Allah ? Wah anda jangan membiarkan diri anda tertipu oleh slogan-slogan kosong padahal mayoritas yang ngaku muslimin itu adalah penyembah berhala model Quraisy Mekkah, lihat di senayan sono ada Dewa Nashr, gede buanged lagi.
Nabi itu merebut Mekkah karena disuruh Allah, karena memang tujuan perjuangan adalah membebaskan kota suci dari kemusyrikan. Lah ente yang hidup di Jakarta dimana kemusyrikan bertebaran dimana-mana (banyak banged partai, golongan, madzhab dalam Islam) yang pelakunya adalah muslimin model Quraisy Mekkah, yang jelas-jelas dibenci Muhammad, qo anda biarkan. Bukannya seharusnya patung-patung (pimpinan partai) itu yang harus anda bersihkan, itupun kalau aqidah anda memang sebagai muslim sejati.
assalaamu'alaikum wr. wb.yah, begitulah penyangkalan tipikal pembela nabi palsu...
Dari kalimat itu, implikasinya adalah bahwa Ahmadiyah adalah sebuah agama tersendiri, dan bukan Islam. Kalau ada kalimat "Setelah Michael Jordan ada pebasket lain...." artinya Michael Jordan adalah pebasket kan? Nah, jika Anda bilang "Setelah Ahmadiyah ada agama lain...", itu artinya Ahmadiyah adalah suatu agama yang berdiri sendiri di luar Islam. Terima kasih telah mempertunjukkan kemampuan bahasa Anda yg sangat minim
Saya kira hanya orang yg tidak paham agama Islam sajalah yang berkata bahwa tidak ada pakem dalam Islam. Jika ada yg berdebat, misalnya, apakah Allah berkehendak begini atau begitu, maka pelaku perdebatan itu masih dalam koridor Islam. Namun jika ada yg berargumen bahwa Allah itu seperti gurita (ini adalah salah satu klaim Ahmadiyah) atau memiliki anak (klaim Nasrani) atau bisa 'salah kirim wahyu' (klaim salah satu sekte Syi'ah), maka itu sudah pasti keluar dari koridor Islam. Ini bukan pendapat pribadi, melainkan sudah terbaca jelas dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Tidak ada perdebatan mengenai hal-hal yang pokok dalam aqidah.
Sekali lagi, argumen khas kaum sepilis (sekularis-liberalis-pluralis) dan pembela nabi palsu. Islam bukan milik siapa-siapa, kecuali Allah SWT.
Namun bukan berarti kita 100% tidak tahu apa-apa soal Islam. Kalau kita tidak bisa menentukan mana yg ajaran Islam dan mana yg bathil, buat apa Allah menurunkan ajaran Islam? Buat apa ada Islam kalau ujung-ujungnya manusia tidak tahu apa-apa? Setiap orang yg membenarkan syahadat adalah Muslim, dan saya yakin 100% saya adalah Muslim.
Muslim memang ada yg baik, ada juga yg jahat. Ada yg banyak amalnya, ada yg minim kesalehannya. Tapi membedakan Muslim dan tidak (dalam kasus nabi palsu) tidaklah sulit untuk dilakukan, karena sudah ada aturannya dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ini bukan pendapat pribadi, karena disandarkan pada Qur'an dan Sunnah. Kalau seenaknya buat kaidah sendiri, nah itu baru pendapat pribadi namanya. Beriman pada seseorang yg disebut 'nabi' setelah Rasulullah saw., padahal Qur'an dan Sunnah mengatakan bahwa beliau adalah Nabi terakhir, nah itu baru 'nyangka-nyangka' atau mengikuti hawa nafsu sendiri.
Mengenai mazhab, itu bukan ajaran munkar, melainkan akibat dari perbedaan pendapat dalam hal-hal furu'iyyah. Semua ulama mengakui perbedaan pendapat dalam bidang fiqih. Mazhab2 tsb tidak berbeda pendapat dalam hal-hal pokok. Justru pendapat Anda-lah yg munkar, karena mengakui adanya nabi setelah Rasulullah saw., padahal ini adalah pokok aqidah.
Sudah ada Rasul terakhir, yaitu Rasulullah saw., dan sudah ditegaskan oleh beliau bahwa takkan ada Nabi sesudah beliau. Beda dengan nabi-nabi lain yg selalu memberitakan kedatangan nabi terakhir yg akan menyempurnakan syariat. Masalah membenci jelas diajarkan dalam Islam, misalnya membenci Iblis, syaithan, dan perbuatan yang keji. Ahmadiyah mengajarkan sesuatu yang keji, dan hal ini sudah dicontohkan sendiri oleh Ghulam Ahmad al-Kadzdzab yg pernah disidang karena rajin mengeluarkan kata-kata kotor pada lawan debatnya (kurang lebih seperti Anda ini). Ghulam Ahmad juga melaknat seseorang yg menolak menikahkan anak perempuannya dengannya. Ghulam Ahmad juga mengkonsumsi opium dan tunduk patuh pada penjajah. Bukankah teladan semacam ini memang patut dibenci perbuatannya? Dengan membenci keburukan yg dilakukannya, diharapkan kita terhindar dari keburukan semacamnya. Secara nggak langsung, ini adalah langkah kita menuju ridha Allah SWT (dan orang2 yg diridhai-Nya pasti akan hidup di surga). Tidak ada yg menjamin siapa yg akan masuk surga, oleh karena itu kita wajib berusaha. Yang aneh justru Anda, karena mengejek orang yg ingin ke surga, dan nampaknya tidak ada usaha untuk ikut mencapai surga-Nya, salah satunya dengan membenci keburukan, dalam hal ini adalah keburukan Ghulam Ahmad al-Kadzdzab dan ajaran sesatnya.
Benar, yg mengaku Muslim pun banyak yg jahat. Saya sudah tegaskan hal ini di atas. Tapi status sebagai Muslim tidak luntur karena kezalimannya. Justru aqidah Anda yg sangat berbahaya, karena menilai status keislaman seseorang dari akhlaqnya.
Kalau begini, maka akan terlampau mudah mengkafirkan orang lain, dan sebaliknya, orang kafir justru disebut-sebut Muslim. Abu Thalib yg banyak melindungi Rasulullah saw. pun tetap dianggap kafir, karena tidak menyebut syahadatain hingga akhir hayatnya. Sebaliknya, perempuan Muslimah pezina yang menyerahkan diri untuk diqishash oleh Rasulullah saw. justru tidak boleh dicela, karena ia sudah menghapus dosa-dosanya dengan qishash tsb, dan keislamannya tetap diakui.
Muslim ada yg baik dan ada yg jahat, orang kafir pun ada yg baik dan ada yg jahat. Pembatasnya adalah pada iman, dimana yang Muslim beriman pada Allah dengan koridor yg telah Dia tetapkan, sedangkan orang kafir tidak.
Sebagai analogi, tengoklah seorang perempuan yang bernama X. Ada banyak lelaki yg berbuat baik padanya, namun hanya suaminya sajalah yg kebaikannya dibalas dengan kecupan sayang, sementara yg lain hanya diberi ucapan terima kasih saja. Perbuatan baik yg didasari rasa cinta tidak bisa disamakan dengan perbuatan baik yg lain, meskipun kualitasnya sama saja. Al-Qur'an sendiri banyak menyebutkan orang-orang kafir pun beramal, namun amal-amal mereka tidak dinilai oleh Allah, karena mereka tidak beriman pada ajaran Islam. Paling-paling, perbuatan baik orang kafir hanya berdampak baik di dunia. Sama seperti seorang istri yg bisa membedakan mana lelaki yg harus diberi 'kecupan sayang' dan mana yg cukup diberi 'ucapan terima kasih', Allah SWT pun pasti membedakan mana manusia yg perlu diberi ganjaran surga dan mana yg cukup diberi kenikmatan dunia saja.
Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kasus nabi palsu yg kita bicarakan. Lagi-lagi masalah kemampuan berdiskusi ilmiah yg sangat minim Yang jelas, Anda telah bertindak sangat kasar dengan menuduh para korban penipuan tsb sebagai orang-orang yg membiarkan diri tertipu. Terima kasih telah menunjukkan jati diri Anda yg sangat minim empati
Justru Anda yg tidak mengenal Rasulullah saw., karena akhlaq Anda sangat buruk thd beliau. Akhlaq yg baik terhadap para Nabi dan Rasul, minimal adalah dengan memuliakannya. Untuk semua nabi sebaiknya tidak hanya sebut nama, tapi juga gelarnya, yaitu sallallaahu 'alaihi wa sallaam (untuk Nabi Muhammad saw.) dan 'alaihissalaam (untuk Nabi-Nabi lain). Ini sudah sangat minimal, dan Anda tidak melakukannya.
Benar, berhala tsb adalah ilah-ilah selain Allah SWT. Tapi di gereja-gereja Nasrani dan kuil-kuil Yahudi juga banyak ilah, namun kenyataannya Nasrani dan Yahudi tidak diganggu oleh Rasulullah saw. Jadi jelas bahwa yg dihancurkan bukan sembarang 'ilah selain Allah', tapi ajaran sesat yg mengotori Islam. Karena itu saya bertahan pada pendapat saya, yaitu bahwa agama selain Islam dipersilakan hidup aman, namun aliran sesat yg mengotori ajaran Islam wajib dimusnahkan.
Soal Senayan, silakan definisikan dulu mana yg berhala dan mana yg bukan. Jangan seenaknya mengatakan 'di tempat ini banyak berhala' tanpa penjelasan. Dan jgn seenaknya menyuruh orang menghancurkan berhala di Senayan jika Anda sendiri tak berbuat apa-apa.
Komentar Anda soal haji, i'tikaf dan puasa menunjukkan bahwa Anda tidak membaca tulisan saya secara serius. Saya sudah tegaskan mengapa ajaran-ajaran sesat mereka diluruskan 'dengan paksa' oleh Rasulullah saw. Silakan membaca lagi.
Yang saya garisbawahi di sini adalah bahwa Anda dengan ringannya mengklaim bahwa 'mayoritas yg ngaku Muslimin itu adalah penyembah berhala model Quraisy Mekkah'. Bahkan MUI pun hanya mengatakan ajaran Ahmadiyah sesat, namun tidak merujuk pada pribadi penganutnya. Dengan kata lain, Anda telah dengan mudahnya mengkafirkan mayoritas Muslimin. Kata Rasulullah saw., "Jika ada seorang Muslim mengkafirkan sesama Muslim, maka salah satunya pasti kafir!" Artinya, jika si A menuduh si B kafir, dan tuduhan tsb ternyata salah, maka justru si A yg dinilai kafir oleh Allah. Apalagi kalau sampai menuduh mayoritas Muslimin sebagai penyembah berhala, maka probabilitas kesalahan tuduhan tsb sangat tinggi, demikian pula probabilitas berbaliknya tuduhan tsb kepada si penuduh.
Benar, merebut Mekkah adalah perintah Allah SWT, karena Rasulullah saw. takkan melakukan sesuatu yg tidak diperintahkan oleh Allah. Tapi tidak benar jika dikatakan saya tinggal di Jakarta
Jika Anda berpendapat kemusyrikan bertebaran di mana-mana, maka sebaiknya jgn marah-marah dan menyuruh orang lain, tapi mulailah dari diri sendiri. Saya tidak melihat peranan Anda dalam menghancurkan kemusyrikan. Di forum MyQuran ini pun tidak ada peranan Anda selain berkata-kata kasar, bahkan mengkafirkan mayoritas Muslimin. Jika memang ingin menghancurkan kemusyrikan, maka mengapa menempuh jalan kekafiran (dengan menuduh kafir mayoritas Muslimin)?
Terakhir, memerangi kemusyrikan memang perintah Allah dan Rasul-Nya. Tapi menumpas nabi palsu juga merupakan hal yg dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya lho... wassalaamu'alaikum wr. wb.
Selama Ahmadiyah masih menggunakan embel2 "ISLAM", hal ini harus dilawan.Apabila Ahmadiyah sudah memutuskan untuk jadi Agama sendri dan LEPAS (100% *Ed.) dari atribut Islam. Yah berlaku lakum dinukum waliyadin..
panjang2 amat jawabnya, sejak awal om sotongbakar sudah reply dengan sangat tepat;Selama Ahmadiyah masih menggunakan embel2 "ISLAM", hal ini harus dilawan.Apabila Ahmadiyah sudah memutuskan untuk jadi Agama sendri dan LEPAS (100% *Ed.) dari atribut Islam. Yah berlaku lakum dinukum waliyadin..