Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: adakah 'ulama di negeri ini?  (Dibaca 1953 kali)


Offline supriman

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2008
  • Tulisan: 2.473
  • Lokasi: Kolong Langit Pertama
  • Jenis kelamin: Pria
  • KRL Kemana2 KRL.. Kemana2.. Haahh..Haahh.. Peddass
    • Lihat Profil
    • Dolanan Dunia Maya::Blog-Blogan
« Jawab #75 pada: 01 Agustus 2008, 15:06:31 »
Di negeri ini ada Ulama ? Yang ngaku2 banyaaaakk :D
Setauku sih blm ada.. Mudah2an akan ada ... Amiiin

Biasalaah namanya anak mudaa ^_^

Visit my blog n leave comment there:

http://supriman.wordpress.com

Offline fidayen

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 3
    • Lihat Profil
« Jawab #76 pada: 05 Agustus 2008, 11:21:30 »
Ya akhi, anta memang benar, kalau memang cerita itu berasal dari kitab yang sama maka ada kesalahan dalam menukil yang cukup fatal. Insyaallah akan ana tanyakan kalau bertemu beliau kembali.

Bagaimana mas, sudah dapat klarifikasi dari Ustadz anta tentang cerita yang anta kutip?...kalaulah cerita yang ustadz anta bilang adalah benar maka merupakn suatu kemuliaan bagi Syaikh Al-Albany tapi sekiranya salah mohon segera diperbaiki karena kita sama-sama tidak ingin Rasulullah dizhalimi dengan fitnah cerita yang tidak jelas asal-usulnya kan :)
 

Kutip
Seandainya memang cerita itu benar, maka betul itu kurang amanah di satu sisi, akan tetapi ana juga pernah membaca tentang karamah  Imam Hasan Al Bashry, seingat ana seperti ini: Imam Hasan Al Bashri i'tiqaf di Masjidil Haram, saat menjelang fajar, dia diminta (atau Imam meminta, ana lupa) mengambilkan air zam-zam untuk minum kepada seorang laki-laki yang  dekat tempat duduknya dengan Imam, laki-laki itu tidak mengenal Imam karena hari masih gelap. Maka dia dia minum demikian juga laki-laki itu, yang menjadikan laki-laki terheran, ternyata air zam-zam itu manis seperti madu. Hari berikutnya pun sama, malah air zam-zam semakin terasa manis, maka sampai hari ketiga laki-laki itu penasaran, siapa laki-laki yang memberinya minum itu, maka dia memberanikan diri untuk bertanya siapa sebenarnya laki-laki itu. Maka Imam berpesan jangan engkau ceritakan kisah ini kepada siapa pun, bahwa beliau mengaku dia adalah  Imam Hasan Al Bashry rahimahullah seorang tabi'n yang agung.

Akan tetapi faktanya cerita itu akhirnya sampai kepada kita. Demikian juga sebenarnya banyak kisah karomah para wali Allah, mungkin  muncull pesan untuk tidak menceritakan, karena takutnya terhadap riya' dan menunjukkan sikap tawadlu'. Akan tetapi setelah meninggal illat itu telah hilang. Wallahu'alam.

Boleh saya tau anta mendapat kisah tersebut dari kitab apa?...setau saya, Air Zamzam berasa manis merupakan kisah dari Syaikh Sufyan Ats-Tsauri Rahimullah...saya belum tau kalau Imam Hasan Al-Bashry juga mengalaminya.

SUFYAN ATS-TSAURI DAN AIR ZAM ZAM
Selasa, 24 April 07

Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abi Ibad al-Makki, dia berkata, Seorang syaikh yang dijuluki Abu Abdillah mendatangi kami. Dia berkata, "Pada waktu sahur aku pergi ke sumur Zam Zam. Di tempat ini aku bertemu dengan seorang syaikh yang membiarkan kainnya menutupi wajahnya, dia datang ke sumur dan minta diambilkan air. Kemudian aku mengambilkan air untuk syaikh tersebut. Aku juga meminum sebagian air itu. Ternyata rasa air tersebut seperti air bercampur madu yang aku belum pernah merasakannya. Ketika aku me-noleh, syaikh tersebut telah pergi.

Pada waktu sahur hari kedua, aku pergi ke sumur Zam Zam lagi. Aku melihat seorang syaikh masuk dari arah pintu masjid dengan menutupkan kain di wajahnya juga. Beliau menuju sumur dan minta diambilkan air. Setelah minum beliau pergi. Aku minum air sisanya, terasa lebih enak dari sebelumnya.

Pada malam ketiga, beliau datang lagi ke sumur dan minta air. Lalu aku memegang ujung selimut tebalnya, ia menangkap tanganku. Aku juga minum air sisanya, terasa seperti air susu manis, yang aku belum pernah merasakan minum senikmat itu.

Aku bertanya kepada syaikh, 'Demi Pemilik Baitullah ini, sebenarnya siapa anda?' Dia bertanya, 'Sanggupkah kamu mera-hasiakannya?' Aku menjawab, 'Ya!', Dia berkata, 'Aku Sufyan Ats Tsauri'."

(SUMBER: 99 KISAH ORANG SHALEH, sebagai yang dinukil dari Bahrud Dumu’, 107. PENERBIT DARUL HAQ, TELP (021)4701616)


http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkisah&id=125

Offline fidayen

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 3
    • Lihat Profil
« Jawab #77 pada: 05 Agustus 2008, 11:23:04 »
Di negeri ini ada Ulama ? Yang ngaku2 banyaaaakk :D
Setauku sih blm ada.. Mudah2an akan ada ... Amiiin

Maksudnya, MUI itu cuma kumpulan manusia yang ngaku2 Ulama yah?  :wataw:  :'(  :toktok:

Offline supriman

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2008
  • Tulisan: 2.473
  • Lokasi: Kolong Langit Pertama
  • Jenis kelamin: Pria
  • KRL Kemana2 KRL.. Kemana2.. Haahh..Haahh.. Peddass
    • Lihat Profil
    • Dolanan Dunia Maya::Blog-Blogan
« Jawab #78 pada: 05 Agustus 2008, 11:38:04 »
Ya sesuaikan ajah ma kriteria Imam Nawawi diatas mas :hihi: :hihi:
Imam Nawawi khan bermadzhab Syafii.. Nah cocokin dah ma yang semadzhab ;)
Biasalaah namanya anak mudaa ^_^

Visit my blog n leave comment there:

http://supriman.wordpress.com

Offline Abu Ziyad

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 217
    • Lihat Profil
« Jawab #79 pada: 05 Agustus 2008, 11:42:16 »
Bagaimana mas, sudah dapat klarifikasi dari Ustadz anta tentang cerita yang anta kutip?...kalaulah cerita yang ustadz anta bilang adalah benar maka merupakn suatu kemuliaan bagi Syaikh Al-Albany tapi sekiranya salah mohon segera diperbaiki karena kita sama-sama tidak ingin Rasulullah dizhalimi dengan fitnah cerita yang tidak jelas asal-usulnya kan :)
 

Boleh saya tau anta mendapat kisah tersebut dari kitab apa?...setau saya, Air Zamzam berasa manis merupakan kisah dari Syaikh Sufyan Ats-Tsauri Rahimullah...saya belum tau kalau Imam Hasan Al-Bashry juga mengalaminya.

SUFYAN ATS-TSAURI DAN AIR ZAM ZAM
Selasa, 24 April 07

Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abi Ibad al-Makki, dia berkata, Seorang syaikh yang dijuluki Abu Abdillah mendatangi kami. Dia berkata, "Pada waktu sahur aku pergi ke sumur Zam Zam. Di tempat ini aku bertemu dengan seorang syaikh yang membiarkan kainnya menutupi wajahnya, dia datang ke sumur dan minta diambilkan air. Kemudian aku mengambilkan air untuk syaikh tersebut. Aku juga meminum sebagian air itu. Ternyata rasa air tersebut seperti air bercampur madu yang aku belum pernah merasakannya. Ketika aku me-noleh, syaikh tersebut telah pergi.

Pada waktu sahur hari kedua, aku pergi ke sumur Zam Zam lagi. Aku melihat seorang syaikh masuk dari arah pintu masjid dengan menutupkan kain di wajahnya juga. Beliau menuju sumur dan minta diambilkan air. Setelah minum beliau pergi. Aku minum air sisanya, terasa lebih enak dari sebelumnya.

Pada malam ketiga, beliau datang lagi ke sumur dan minta air. Lalu aku memegang ujung selimut tebalnya, ia menangkap tanganku. Aku juga minum air sisanya, terasa seperti air susu manis, yang aku belum pernah merasakan minum senikmat itu.

Aku bertanya kepada syaikh, 'Demi Pemilik Baitullah ini, sebenarnya siapa anda?' Dia bertanya, 'Sanggupkah kamu mera-hasiakannya?' Aku menjawab, 'Ya!', Dia berkata, 'Aku Sufyan Ats Tsauri'."

(SUMBER: 99 KISAH ORANG SHALEH, sebagai yang dinukil dari Bahrud Dumu’, 107. PENERBIT DARUL HAQ, TELP (021)4701616)


http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkisah&id=125

Ya akhi, ana belum bertemu beliau. Jadi ana belum bisa tanyakan. Untuk kisah kedua Jazakallah antum benar, beliau adalah Sufyan at Tsauri, bukan Hasan Al Bashry. Ini sebagai ralat atas tulisan ana sebelumnya. Ya, Allah ampunilah hambamu yang dhoif ini.
Jadikanlah hidupmu seperti orang yang sehari berpuasa, dan berbukanya adalah kematian (Nasehat Slaf)

Offline DodyKurniawan 07

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 4.226
  • Lokasi: Magelang City
  • Jenis kelamin: Pria
  • fayaa ilaahiththufbinaa...
    • Lihat Profil
    • IstanaIslamku
« Jawab #80 pada: 05 Agustus 2008, 14:13:14 »
Ya sesuaikan ajah ma kriteria Imam Nawawi diatas mas :hihi: :hihi:
Imam Nawawi khan bermadzhab Syafii.. Nah cocokin dah ma yang semadzhab ;)

he...he...

mas supri....
justru ini masalahnya yg perlu kita kupas, apakah benar ada kriteria ulama, kyai, ustadz di negeri seperti yg ditunjukkan Imam Nawawi dan Imam Ahmad sebagaimana yg sudah diposting kemarin2.... ::)

kalau jaman sekarang ana belum tahu, tapi kalau jaman dahulu insyaALlah ada...

makanya biar adil juga ketika TS menanyakan apakah ulama/kyai NU sudah memililki persyaratan di atas....
maka wajar juga dong kalo saya kembalikan pertanyaan itu buat para asatidz salafi juga, sebagaimana awal tret...

mungkin para salafiyyin menjawab ya sementara ini belum ada asatidz salafi yg memenuhi syarat di atas...
 :hmmm: kalau demikian orang syafiiyah pun bisa menjawab : apakah kami hanya mengikuti ulama/kyai kami tanpa merujuk kepada ulama dan kitabnya yang lebih mu'tabar.... ::)

ini yg perlu diketahui oleh kita sekalian tentang metodologi pengambilan keputusan hukum/fatwa dalam kelompok ttt semisal NU, apakah hanya mengambil dari pendapat kyai mereka SAJA atau merujuk kepada ulama dan kitab2nya yg sudah diakui kemu'tabarannya.... ::)

he...he....

Offline Abu Ziyad

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 217
    • Lihat Profil
« Jawab #81 pada: 05 Agustus 2008, 14:36:53 »
Bagaimana mas, sudah dapat klarifikasi dari Ustadz anta tentang cerita yang anta kutip?...kalaulah cerita yang ustadz anta bilang adalah benar maka merupakn suatu kemuliaan bagi Syaikh Al-Albany tapi sekiranya salah mohon segera diperbaiki karena kita sama-sama tidak ingin Rasulullah dizhalimi dengan fitnah cerita yang tidak jelas asal-usulnya kan :)
 

Alhamdulillah hari ini setelah shalat dhuhur, Ust. Muhtarom hafidzallahu sudah mengisi kembali kajian rutin Riyadhusshalihin di Masjid Sudirman Tower, setelah hampir sebulan libur. Setelah kajian ana sodorkan print out seperti yang antum kutip, sambil mengingatkan perkataan beliau sebelumnya. Beliau membaca yang ana berikan dan menanyakan darimana cerita ini ana ambil. Kemudian setelah itu ana tanyakan ke beliau dari mana mengambil cerita sebelumnya, yaitu tentang mimpi seorang akhwat yang bermimpi bertemu Rasulullah shalallah 'alaihi wasalam dan menitipkan salam kepada Syaikh Al Albany?
Ustadz menjawab bahwa cerita itu beliau dapatkan saat dhauroh yang kebetulan diisi oleh murid Syaikh Al Albany beberapa tahun yang lalu di Jawa Timur, akan tetapi beliau lupa, apakah Syaikh Salim Ied Al Hilaly ataukah Syaikh Ali Hasan yang menceritakan. Dan cerita syaikh disampaikan bukan di forum terbuka, dimana setiap peserta dhaurah mendengarnya, akan tetapi di forum informal yang terbatas. Dari sini ana berkesimpulan bahwa ini adalah dua cerita yang berbeda, meskipun settingnya sama yaitu mimpi bertemu Rasulullah shalallahu'alaihi wasalam. Wallahu'alam.

Jadikanlah hidupmu seperti orang yang sehari berpuasa, dan berbukanya adalah kematian (Nasehat Slaf)

Offline supriman

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2008
  • Tulisan: 2.473
  • Lokasi: Kolong Langit Pertama
  • Jenis kelamin: Pria
  • KRL Kemana2 KRL.. Kemana2.. Haahh..Haahh.. Peddass
    • Lihat Profil
    • Dolanan Dunia Maya::Blog-Blogan
« Jawab #82 pada: 05 Agustus 2008, 16:47:31 »
@DodyKurniawan 07:

Emang ada ya pembagian ustadz salafy and ustadz syafii keknya beda golongan jah gt ;) padahal ustadz salafy juga merujuknya ke Kitabnya ulama2 Syafii koq :hihi:

Kalo ustadz mah banyak di Indonesia mas ;)

Cuman klo ulama nah ntu perlu dipertanyakan lagih?

Mosok ada ulama yang kainnya bisa buat nyapu lantai :hihi:
Biasalaah namanya anak mudaa ^_^

Visit my blog n leave comment there:

http://supriman.wordpress.com

Offline DodyKurniawan 07

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 4.226
  • Lokasi: Magelang City
  • Jenis kelamin: Pria
  • fayaa ilaahiththufbinaa...
    • Lihat Profil
    • IstanaIslamku
« Jawab #83 pada: 06 Agustus 2008, 15:25:10 »
@DodyKurniawan 07:

Mosok ada ulama yang kainnya bisa buat nyapu lantai :hihi:

 :hmmm: mosok ada 'ulama' yg ga paham bahwa masalah tsb adalah khilaf..... ::)

Offline kosambi amin

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 1.119
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bismilaah
    • Lihat Profil
« Jawab #84 pada: 06 Agustus 2008, 15:32:11 »
:hmmm: mosok ada 'ulama' yg ga paham bahwa masalah tsb adalah khilaf..... ::)
hehe... seru neh... tapi tetep adem... O0
Bismillaahi laa yadhurru ma'asmihi syai un fil ardhi walaa fis samaa i wahuwas samii 'ul 'aliim

Offline abu_tahara

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.707
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #85 pada: 14 Agustus 2008, 09:41:39 »
makanya biar adil juga ketika TS menanyakan apakah ulama/kyai NU sudah memililki persyaratan di atas....
maka wajar juga dong kalo saya kembalikan pertanyaan itu buat para asatidz salafi juga, sebagaimana awal tret...
saya bertanya secara umum, tidak membatasi NU saja

Offline teroris_bagi_barat

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2008
  • Tulisan: 226
    • Lihat Profil
« Jawab #86 pada: 25 Agustus 2008, 17:38:08 »
Kayaknya susah untuk menemukan sosok ulama di negeri ini, mengingat syarat2 menjadi ulama tsb sangat berat.
Diantaranya:
- ulama itu haruslah yg benar2 takut pada Alloh melebihi materi duniawi, penguasa, orang2 yg mencela dan memfitnah, aparat hukum, dll:
"...Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (FAATHIR (PENCIPTA) ayat 28)


- ulama2 salaf seperti imam2 mazhab, ibnu Taymiyah, dll. dahulu adalah orang2 yg berperang/berjihad karena dengan itu petunjuk Alloh akan turun:
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik". (AL'ANKABUUT (Laba-laba) ayat 69)
 Ibnu Taymiyah: "dengan jihad maka akan bannyak hidayah yg mengelilingi pintu2 ilmu"
Ibnu Qoyyim, dll: "jika berselisih paham tentang sesuatu tanyalah pada ahlus tsughur (orang2 yg berjihad, yg murribath/menjaga perbatasan wilayah Islam)

Offline rhien_dian

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2008
  • Tulisan: 510
  • Jenis kelamin: Wanita
  • tegakkan kalimatullah, tegaknya dien ini
    • Lihat Profil
« Jawab #87 pada: 27 Agustus 2008, 20:52:02 »
Imam An Nawawi berkata dalam Mukaddimah Tadriebur Rawi: "Ulama (hadits) paling tidak adalah orang yang telah menguasai Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah dan lain-lain, menguasai ilmu Ushul Fiqih, ilmu Ushul Hadits, telah mempelajari dengan baik paling tidak kitab-kitab hadits yang tujuh: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan An-Nasa'i, dan Musnad Imam Ahmad, ditambah telah hafal sejumlah besar hadits, puluhan atau ratusan ribu hadits..."

Dari penjelasan di atas -penjelasan sejenis juga pernah diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan sering disebut-sebut meski dengan bahasa berbeda oleh para ulama- menjadi ulama adalah hal yang teramat sulit, kecuali dengan rahmat Alloh.

(Diketik kembali dari Majalah Elfata Edisi 7/I/2001 dengan sedikit perubahan kata-kata)

seringkali rasa penasaran saya membuncah, ketika saudara2ku di sini menyebut ulama indonesia, ulama NU dan yang sejenisnya. Saya sangat ingin tahu apakah di indonesia pernah lahir seseorang dengan klasifikasi yang disebutkan Imam An Nawawi di atas.

ya semua ngaku ulama, padahal menjadi ulama itu bukan syarat mutlak menjadi imam di jama'ahnya, menjadi ulama itu bisa menjadi rujukan dari semua harakah. adapun syarat2 spt kata imam an nawawi, mungkin di Indonesia agak susah nyarinya,,,yah hunting2 dulu
Rabb, aku datang bersama kerinduaan di pagi hari untuk mencapai ridho-Mu, Allohu Robb,jadikan dien ini tegak ditangan mereka yang memegang kalimatullah,,

Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #88 pada: 29 Agustus 2008, 13:15:16 »
Kutip dari: abu_tahara
Imam An Nawawi berkata dalam Mukaddimah Tadriebur Rawi: "Ulama (hadits) paling tidak adalah orang yang telah menguasai Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah dan lain-lain, menguasai ilmu Ushul Fiqih, ilmu Ushul Hadits, telah mempelajari dengan baik paling tidak kitab-kitab hadits yang tujuh: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan An-Nasa'i, dan Musnad Imam Ahmad, ditambah telah hafal sejumlah besar hadits, puluhan atau ratusan ribu hadits..."
Kayaknya keliru nih pak,

Kalau yang anda kutip ini khusus untuk 'ulama hadits. Apakah selain kriteria di atas maka tidak ada yang berhak disebut 'ulama ?

'ulama عُلَمَاء kata jama' dari عَالِمٌ artinya '[orang] yang mengetahui', 'yang mengerti/memahami' sesuatu.

Dari sini jelas, bahwa 'ulama ini bisa disandang oleh setiap orang yang mengetahui/mengerti/memahami sesuatu. Bidang-bidang 'ilmu (عِلْمٌ) banyak, dan tidak terbatas hanya pada 'ilmu hadits semata, bahkan 'ilmu hadits ini banyak cabang 'ilmunya.

Nampaknya memang, sebutan 'ulama (عُلَمَاء) mengalami penyempitan arti, hanya berlaku bagi yang mengerti ilmu-ilmu agama islam saja, sedangkan di luar ilmu-ilmu agama tidak bisa dikatakan 'ulama. Lalu bagaimana dengan sebutan mu'allim (مُعَلِّمٌ) ? Apakah ini khusus bagi yang mengajarkan ilmmu-ilmu agama ?

Banyak kriterian 'ulama itu dan tidak terbatas pada kriteria 'ulama hadits semata. Ada 'ulama Tafsir, ada 'ulama Fiqh, ada 'ulama Nahwu, ada 'ulama kimia, fisika, matematika, dll.

Apakah syarat yang ditetapkan oleh Imam Nawawi mencakup semua 'ulama ? dimana jika sudah menguasai kriteria di atas maka semua kepintaran dan pengetahuan berada di tangannya ?

 :hmmm:
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline BADARrap

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2008
  • Tulisan: 187
  • Lokasi: lenteng agung jakarta selatan
  • Jenis kelamin: Pria
  • jangan tinggalkan memanah itu sunnah
    • Lihat Profil
« Jawab #89 pada: 29 Agustus 2008, 20:33:46 »
Ciri-Ciri Ulama

Oleh Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi
Rabu, 09 Juli 2008 - 20:17:20
Hit: 529







Siapa yang dinamakan Ulama?
Terdapat beberapa ungkapan ulama dalam mendefinisikan ulama. Ibnu Juraij rahimahullah menukilkan (pendapat) dari ‘Atha, beliau berkata: “Barangsiapa yang mengenal Allah, maka dia adalah orang alim.” (Jami’ Bayan Ilmu wa Fadhlih, hal. 2/49)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab beliau Kitabul ‘Ilmi mengatakan: “Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah.” (Kitabul ‘Ilmi hal. 147)
Badruddin Al-Kinani rahimahullah mengatakan: “Mereka (para ulama) adalah orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan diharamkan, dan mengajak kepada kebaikan serta menafikan segala bentuk kemudharatan.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 31)
Abdus Salam bin Barjas rahimahullah mengatakan: “Orang yang pantas untuk disebut sebagai orang alim jumlahnya sangat sedikit sekali dan tidak berlebihan kalau kita mengatakan jarang. Yang demikian itu karena sifat-sifat orang alim mayoritasnya tidak akan terwujud pada diri orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu pada masa ini. Bukan dinamakan alim bila sekedar fasih dalam berbicara atau pandai menulis, orang yang menyebarluaskan karya-karya atau orang yang men-tahqiq kitab-kitab yang masih dalam tulisan tangan. Kalau orang alim ditimbang dengan ini, maka cukup (terlalu banyak orang alim). Akan tetapi penggambaran seperti inilah yang banyak menancap di benak orang-orang yang tidak berilmu. Oleh karena itu banyak orang tertipu dengan kefasihan seseorang dan tertipu dengan kepandaian berkarya tulis, padahal ia bukan ulama. Ini semua menjadikan orang-orang takjub. Orang alim hakiki adalah yang mendalami ilmu agama, mengetahui hukum-hukum Al Quran dan As Sunnah. Mengetahui ilmu ushul fiqih seperti nasikh dan mansukh, mutlak, muqayyad, mujmal, mufassar, dan juga orang-orang yang menggali ucapan-ucapan salaf terhadap apa yang mereka perselisihkan.” (Wujubul Irtibath bi ‘Ulama, hal. 8)
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan ciri khas seorang ulama yang membedakan dengan kebanyakan orang yang mengaku berilmu atau yang diakui sebagai ulama bahkan waliyullah. Dia berfirman:

إِنَّماَ يَخْشَى اللهَ مِنْ عِباَدِهِ الْعُلَمآءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama.” (Fathir: 28)

Ciri-ciri Ulama
Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui siapa sesungguhnya yang pantas untuk menyandang gelar ulama dan bagaimana besar jasa mereka dalam menyelamatkan Islam dan muslimin dari rongrongan penjahat agama, mulai dari masa terbaik umat yaitu generasi shahabat hingga masa kita sekarang.
Pembahasan ini juga bertujuan untuk memberi gambaran (yang benar) kepada sebagian muslimin yang telah memberikan gelar ulama kepada orang yang tidak pantas untuk menyandangnya.
a. Sebagian kaum muslimin ada yang meremehkan hak-hak ulama. Di sisi mereka, yang dinamakan ulama adalah orang yang pandai bersilat lidah dan memperindah perkataannya dengan cerita-cerita, syair-syair, atau ilmu-ilmu pelembut hati.
b. Sebagian kaum muslimin menganggap ulama itu adalah orang yang mengerti realita hidup dan yang mendalaminya, orang-orang yang berani menentang pemerintah -meski tanpa petunjuk ilmu.
c. Di antara mereka ada yang menganggap ulama adalah kutu buku, meskipun tidak memahami apa yang dikandungnya sebagaimana yang dipahami generasi salaf.
d. Di antara mereka ada yang menganggap ulama adalah orang yang pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan alasan mendakwahi manusia. Mereka mengatakan kita tidak butuh kepada kitab-kitab, kita butuh kepada da’i dan dakwah.
e. Sebagian muslimin tidak bisa membedakan antara orang alim dengan pendongeng dan juru nasehat, serta antara penuntut ilmu dan ulama. Di sisi mereka, para pendongeng itu adalah ulama tempat bertanya dan menimba ilmu.
Di antara ciri-ciri ulama adalah:
1. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, dan membenci segala bentuk pujian serta tidak menyombongkan diri atas seorang pun.” Al-Hasan mengatakan: “Orang faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabbnya.” Dalam riwayat lain: “Orang yang tidak hasad kepada seorang pun yang berada di atasnya dan tidak menghinakan orang yang ada di bawahnya dan tidak mengambil upah sedikitpun dalam menyampaikan ilmu Allah.” (Al-Khithabul Minbariyyah, 1/177)
2. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang tidak mengaku-aku berilmu, tidak bangga dengan ilmunya atas seorang pun, dan tidak serampangan menghukumi orang yang jahil sebagai orang yang menyelisihi As-Sunnah.”
3. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang berburuk sangka kepada diri mereka sendiri dan berbaik sangka kepada ulama salaf. Dan mereka mengakui ulama-ulama pendahulu mereka serta mengakui bahwa mereka tidak akan sampai mencapai derajat mereka atau mendekatinya.”
4. Mereka berpendapat bahwa kebenaran dan hidayah ada dalam mengikuti apa-apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَيَرَى الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

“Dan orang-orang yang diberikan ilmu memandang bahwa apa yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu adalah kebenaran dan akan membimbing kepada jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Terpuji.” (Saba: 6)
5. Mereka adalah orang yang paling memahami segala bentuk permisalan yang dibuat Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al Qur’an, bahkan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَتِلْكَ اْلأَمْثاَلُ نَضْرِبُهاَ لِلنَّاسِ وَماَ يَعْقِلُهاَ إِلاَّ الْعاَلِمُوْنَ

“Demikianlah permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah bagi manusia dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabut: 43)
6. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian melakukan istinbath(mengambil hukum) dan memahaminya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِذَا جآءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ اْلأَمْنِ أَوْ الْخَوْفِ أَذَاعُوْا بِهِ وَلَوْ رَدُّوْهُ إِلَى الرَّسُوْلِ وَإِلَى أُولِي اْلأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِطُوْنًهُ مِنْهُمْ وَلَوْ لاَ فَضْلَ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطاَنَ إِلاَّ قَلِيْلاً

“Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalau mereka menyerahkan kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang mampu mengambil hukum (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri). Kalau tidak dengan karunia dan rahmat dari Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikuti syaithan kecuali sedikit saja.” (An-Nisa: 83)
7. Mereka adalah orang-orang yang tunduk dan khusyu’ dalam merealisasikan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ آمَنُوا بِهِ أَوْ لاَ تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِيْنَ أَوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذِا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلأًذْقاَنِ سُجَّدًا. وَيَقُوْلُوْنَ سُبْحاَنَ رَبِّناَ إِنْ كاَنَ وَعْدُ رَبِّناَ لَمَفْعُوْلاً. وَيَخِرُّوْنَ لِلأَذْقاَنِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعاً

“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra: 107-109) [Mu’amalatul ‘Ulama karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, Wujub Al-Irtibath bil ‘Ulama karya Asy-Syaikh Hasan bin Qasim Ar-Rimi]
Inilah beberapa sifat ulama hakiki yang dimaukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur’an dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam Sunnahnya. Dengan semua ini, jelaslah orang yang berpura-pura berpenampilan ulama dan berbaju dengan pakaian mereka padahal tidak pantas memakainya. Semua ini membeberkan hakikat ulama ahlul bid’ah yang mana mereka bukan sebagai penyandang gelar ini. Dari Al-Quran dan As-Sunnah mereka jauh dan dari manhaj salaf mereka keluar.

Contoh-contoh Ulama Rabbani
Pembahasan ini bukan membatasi mereka akan tetapi sebagai permisalan hidup ulama walau mereka telah menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka hidup dengan jasa-jasa mereka terhadap Islam dan muslimin dan mereka hidup dengan karya-karya peninggalan mereka.
1. Generasi shahabat yang langsung dipimpin oleh empat khalifah Ar-Rasyidin: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.
2. Generasi tabiin dan di antara tokoh mereka adalah Sa’id bin Al-Musayyib (meninggal setelah tahun 90 H), ‘Urwah bin Az-Zubair (meninggal tahun 93 H), ‘Ali bin Husain Zainal Abidin (meninggal tahun 93 H), Muhammad bin Al-Hanafiyyah (meninggal tahun 80 H), ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud (meninggal tahun 94 H atau setelahnya), Salim bin Abdullah bin ‘Umar (meninggal tahun 106 H), Al-Hasan Al-Basri (meninggal tahun 110 H), Muhammad bin Sirin (meninggal tahun 110 H), ‘Umar bin Abdul ‘Aziz (meninggal tahun 101 H), dan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (meninggal tahun 125 H).
3. Generasi atba’ at-tabi’in dan di antara tokoh-tokohnya adalah Al-Imam Malik (179 H), Al-Auza’i (107 H), Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri (161 H), Sufyan bin ‘Uyainah (198 H), Ismail bin ‘Ulayyah (193 H), Al-Laits bin Sa’d (175 H), dan Abu Hanifah An-Nu’man (150 H).
4. Generasi setelah mereka, di antara tokohnya adalah Abdullah bin Al-Mubarak (181 H), Waki’ bin Jarrah (197 H), Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (203 H), Abdurrahman bin Mahdi (198 H), Yahya bin Sa’id Al-Qaththan (198 H), ‘Affan bin Muslim (219 H).
5. Murid-murid mereka, di antara tokohnya adalah Al-Imam Ahmad bin Hanbal (241 H), Yahya bin Ma’in (233 H), ‘Ali bin Al-Madini (234 H).
6. Murid-murid mereka seperti Al-Imam Bukhari (256 H), Al-Imam Muslim (261 H), Abu Hatim (277 H), Abu Zur’ah (264 H), Abu Dawud (275 H), At-Tirmidzi (279 H), dan An-Nasai (303 H).
7. Generasi setelah mereka, di antaranya Ibnu Jarir (310 H), Ibnu Khuzaimah (311 H), Ad-Daruquthni (385 H), Al-Khathib Al-Baghdadi (463 H), Ibnu Abdil Bar An-Numairi (463 H).
8. Generasi setelah mereka, di antaranya adalah Abdul Ghani Al-Maqdisi, Ibnu Qudamah (620 H), Ibnu Shalah (643 H), Ibnu Taimiyah (728 H), Al-Mizzi (743 H), Adz-Dzahabi (748 H), Ibnu Katsir (774 H) berikut para ulama yang semasa mereka atau murid-murid mereka yang mengikuti manhaj mereka dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sampai pada hari ini.
9. Contoh ulama di masa ini adalah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz,Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Muhammad Aman Al-Jami, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, dan selain mereka dari ulama yang telah meninggal di masa kita. Berikutnya Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Asy-Syaikh Zaid Al-Madkhali, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad, Asy-Syaikh Al-Ghudayyan, Asy-Syaikh Shalih Al-Luhaidan, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Asy-Syaikh Shalih As-Suhaimi, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri dan selain mereka yang mengikuti langkah-langkah mereka di atas manhaj Salaf. (Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama)
Wallahu a’lam

Sumber :
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_on