myQuran - Komunitas Muslim Indonesia
Jadwal Sholat untuk kota Jakarta dan sekitarnya : Selasa, 01 Desember 2009 / 14 Zulhijjah 1430 - Shubuh 04:06 Dzuhur 11:43 Ashar 15:07 Maghrib 17:59 Isya' 19:13
01 Desember 2009, 12:30:14 *
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
Lupa email aktivasi Anda?

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Ini menunjukkan bahwa Anda belum login / terdaftar menjadi bagian myQers.
Silakan login terlebih dahulu, atau mendaftar dengan mengklik di sini
Berita: Ingin kirim Kartu Ucapan ke Saudara, Teman, atau Rekanan Kerja Anda? myQ ECard dapat membantu Anda.. insyaAllah!
 
  Depan   Forum   myQGaleri Chat MobileChat eCard Wiki Radio alQuran Plug in alQuran IklanBaris Bantuan Cari Kalender Masuk Daftar  

Halaman: 1 [2] 3 4 ... 7   Turun
  Cetak  
Pembuat Topik: adakah 'ulama di negeri ini?  (Baca 1426 kali)
abie1102
Moderator
myQ Setia
*
Offline Offline

Kelamin: Pria
Tulisan: 7620

Assalamualaikum ... ini Althaf, salam kenal ya ...


Lihat Profil
« Jawab #15 pada: 21 Juli 2008, 15:59:37 »

pertnyaan mas abut ni reaktif dr tret sblh?
esensiny ap sh?
Masuk

\"Disebut al-ied karena ia berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang baru.\"<br />(Lisaanul Arab)<br /><br />Abie dan keluarga mengucapkan, \"Taqabbalallahu minna waminkum, Happy \'Ied Mubarak!\"<br /><br />
moeqbile
myQ Junior
*
Offline Offline

Tulisan: 98


Lihat Profil
« Jawab #16 pada: 21 Juli 2008, 16:05:23 »

eit,poliTikus ulama bukan ?
Masuk
tuingtuing
myQ Setia
*
Offline Offline

Tulisan: 9418


Grrr... gue jitak!!!!


Lihat Profil
« Jawab #17 pada: 21 Juli 2008, 17:04:24 »

pertnyaan mas abut ni reaktif dr tret sblh?
esensiny ap sh?

Mau nunjukin bahwa di Indonesia tuh ngga ada ulama, makanya ngekor lah dia sama Syaikh muqbil (si pemegang bendera jarh wat ta'dil, Ulama ma'shum abad 21)

Pokonya, kalo dah di jarh sama Syaikh Muqbil, pasti sesat...pasti deh...
Masuk

Saya tidak menyembah tuhan yang bisa ketusuk, kelaperan, dan kagak bisa nyuruh pohon berbuah 

Inna-Llaha 'ala kulli syaiin qadiir... Senyum manis
tuingtuing
myQ Setia
*
Offline Offline

Tulisan: 9418


Grrr... gue jitak!!!!


Lihat Profil
« Jawab #18 pada: 21 Juli 2008, 17:05:56 »

eit,poliTikus ulama bukan ?

Sama juga, kalo ulama ngga ngerti politik mending ngaji aja di mesjid, dzikiran pake tangan kanan yang banyak.

Kalo ngga ngerti ilmu astronomi janga bikin fatwa yang aneh-aneh

Kalo ngga ngerti politik juga ngga usah ngomong politik ....

Okeh? Ngus?
Masuk

Saya tidak menyembah tuhan yang bisa ketusuk, kelaperan, dan kagak bisa nyuruh pohon berbuah 

Inna-Llaha 'ala kulli syaiin qadiir... Senyum manis
e0d0i
myQ Pro-Aktif
*
Offline Offline

Tulisan: 943


Lihat Profil WWW
« Jawab #19 pada: 21 Juli 2008, 22:50:04 »

seringkali rasa penasaran saya membuncah, ketika saudara2ku di sini menyebut ulama indonesia, ulama NU dan yang sejenisnya. Saya sangat ingin tahu apakah di indonesia pernah lahir seseorang dengan klasifikasi yang disebutkan Imam An Nawawi di atas.

Memangnya kenapa kalau selama ini belum ada ?

Kalau memang dirasa belum ada ... khan bisa import dari timur tengah ..... gampang khan ...
Maksudnya, dari Mesir gitu lho ...  Ngikik..

Masuk

Dapatkan e-book: "Islam, Pemilu dan Demokrasi  (Sebuah Antitesis Atas Pemikiran Kelompok Salafy)" di:
http://faham.wordpress.com/salafy-dan-politik/
DodyKurniawan 07
myQ Pejuang
*
Offline Offline

Kelamin: Pria
Tulisan: 4081


araahumunii al baathilu syaithaana.....


Lihat Profil WWW
« Jawab #20 pada: 21 Juli 2008, 23:30:32 »

he..he...

atasku...
tar dibilang...apa di Mesir ada ulama juga...jawabnya kayaknya gak ada, kalo yg ngaku2 mah banyak.... Putar mata
padahal hafizh, ahli hadits di sana kayaknya juga banyak lho.... Senyum manis

susah deh kalo kaya gitu...kapan bisa diskusi...
mendingan tidur aja ah,,udah malem... Huaam.. ngantuk.. bobo Huaam.. ngantuk.. bobo Zzz.. Zzz..

he...he.....
Masuk

anist
myQ Perambah
*
Offline Offline

Kelamin: Pria
Tulisan: 318


menebar senyum..


Lihat Profil
« Jawab #21 pada: 22 Juli 2008, 00:37:00 »

2 abu thahara..

iya sih.. kita toleran aja dengan pemakaian istilah..

tapi benar juga
ya kalo umatnya seperti kamu, aku dan dia..
sesuatu yang wajar jika mereka disebut ulama.. Top Abizzz Ngakak

yups.. siul siul
Masuk

biarkan keluguanmu kawan..
seperti keluguan yang mengukir senyum polos diwajah seorang anak.
Dan "ketidak-tahuan" yang tak merugikan lebih baik ketimbang "tahu" yang tak bermanfaat.
moeqbile
myQ Junior
*
Offline Offline

Tulisan: 98


Lihat Profil
« Jawab #22 pada: 22 Juli 2008, 07:49:18 »

kalo yang ngaku ngaku ulama banyak lho..
makanya harus hati hati nyari guru
Masuk
Kang Peyi
myQ Pro-Aktif
*
Offline Offline

Tulisan: 501


Lihat Profil
« Jawab #23 pada: 22 Juli 2008, 08:20:23 »

Sebutin saja siapa2 yang mempunyai kriteria Ulama seperti yang di sebutkan Imam Nawawi diatas, tidak usah ribut2. Amalkan Ilmu yang sudah kita ketahui, tidak usah adu hujjah (memang nggak ada hadits yang melarang adu hujjah? seseorang yang memenggal leher Saudaranya).Yang ngaku ulama ya biar saja nanti diakhirat akan didustakan oleh Allah, kamu dusta kamu belajar 'Ilmu supaya disebut Ulama atau Qori' (kemudian diseret wajahnya dan dicampakkan ke neraka).

Mohon maaf kalau nggak shahih



Masuk
abu_tahara
myQ Aktivis
*
Offline Offline

Kelamin: Pria
Tulisan: 1688


Lihat Profil
« Jawab #24 pada: 22 Juli 2008, 08:39:01 »

AstaghfiruLlaahal 'azhiim
 Sedih deh kenapa thread ini malah menjadi ajang sentimen?
Demi Alloh, saya menulis thread ini tidak ada hubungan dengan yang di-su'uzhon-kan oleh tuingtuing, juga dengan apa yang diduga oleh abie1102.
thread ini saya tulis untuk bertanya, bukan mempertanyakan. saya bertanya kepada antum semua karena sepengetahuan saya -yang cetek ini- belum ada 'ulama di Indonesia. silakan jika ada di antara antum yang mengetahui bahwa negeri ini pernah melahirkan seorang 'ulama, tuliskan di sini, lebih baik lagi jika antum punya referensinya. Jika memang ada, tentu ada pula karya-karyanya, tentu ini akan memperkaya referensi dalam menuntut ilmu.
Saya fokus ingin tau apakah ada ulama (mungkin ulama hadits, ulama fiqh dsb) di negeri ini, bukan ingin membahas bermacam2 jenis ulama dengan segala kriteria dan tetek bengeknya, silakan bagi yang ingin membahas hal tsb membuat thread lain.

« Edit Terakhir: 22 Juli 2008, 08:52:30 oleh abu_tahara » Masuk
abu_tahara
myQ Aktivis
*
Offline Offline

Kelamin: Pria
Tulisan: 1688


Lihat Profil
« Jawab #25 pada: 22 Juli 2008, 08:50:17 »

@DodyKurniawan07
silakan Akh, jika antum ingin membahas hal tsb di thread lain saja.
oiya sekalian sedikit masukan dr saya, sebelumnya maaf ya,... saya pribadi kurang suka berdiskusi dg orang yang sedikit-sedikit tertawa, tersenyum, atau apalah, maaf terkesan kurang menghargai. tersenyumlah, tertawalah, atau yg lain sesuai pada situasi kondisinya.
jangan mudah berprasangka tidak baik ya,...

@tuingtuing, kipli, e0d0i
semoga Alloh mengampuni saya dan menjauhkan saya dari tabiat prasangka buruk, suka menuduh, dan suka men-generalisir.

@all
berdiskusilah secara 'sehat'
Masuk
danysyahban
myQ Aktivis
*
Offline Offline

Kelamin: Pria
Tulisan: 2055


.... D.Z.I.N.C ....


Lihat Profil WWW
« Jawab #26 pada: 22 Juli 2008, 10:00:07 »

Ini Ulama Fiqh dari web tetangga...


SYEIKH ARSYAD AL-BANJARI

Ulama yang Membangun Saluran Irigasi

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812) adalah ulama fiqih madzhab Syafi'i pengarang kitab Sabilal Muhtadin yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Kitabnya yang paling terkenal ini banyak dijadikan rujukan Hukum Fiqih mazhab Syafi'i di Asia Tenggara.

Beliau dilahirkan di desa Lok Gabang pada hari kamis dini hari 15 Shafar 1122 H. bertepatan 19 Maret 1710 M sebagai anak pertama dari keluarga muslim yang taat beragama, yaitu Abdullah dan Siti Aminah. Nama lengkap Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari bin Saiyid Abu Bakar bin Saiyid Abdullah al-'Aidrus bin Saiyid Abu Bakar as-Sakran bin Saiyid Abdur Rahman as-Saqaf bin Saiyid Muhammad Maula ad-Dawilah al-'Aidrus, dan seterusnya sampai kepada Saidina Ali bin Abi Thalib dan Saidatina Fatimah bin Nabi Muhammad SAW.

Kakek Arsyad berhasil mendirikan Kerajaan Mindanao di Filiphina. Ayah Abdullah bernama Abu Bakar (kakek Muhammad Arsyad) adalah Sultan Mindanao. Abdullah pernah pula memimpin pasukan Mindanao dalam peperangan melawan Portugis, kemudian ikut melawan Belanda lalu pindah bersama isterinya ke Banjar (Martapura, Kalimantan).


Sekilas Kelebihan

Pada suatu hari, tatkala Sultan Kerajaan Banjar (Sultan Tahmidullah) mengadakan kunjungan ke kampung-kampung, hingga sampailah sang Sultan ke kampung Lok Gabang. Alangkah terkesimanya Sang Sultan manakala melihat lukisan yang indah dan menawan hatinya. Maka sang Sultan bertanya, siapakah pelukisnya, lalu ia mendapat jawaban bahwa Muhammad Arsyad adalah sang pelukis yang sedang dikaguminya. Mengetahui kecerdasan dan bakat sang pelukis, terbesitlah di hati sultan, sebuah keinginan untuk mengasuh dan mendidik Arsyad kecil di istana. Usia Arsyad sendiri ketika itu baru sekitar tujuh tahun.

Sultanpun mengutarakan keinginan hatinya kepada kedua orang tua Muhammad Arsyad. Pada mulanya Abdullah dan istrinya merasa enggan melepas anaknya tercinta. namun demi masa depan sang buah hati yang diharapkan menjadi anak yang berbakti kepada agama, negara dan orang tua, maka diterimalah tawaran sang sultan. Kepandaian Muhammad Arsyad dalam membawa diri, sifatnya yang rendah hati, kesederhanaan hidup serta keluhuran budi pekertinya menjadikan segenap warga istana sayang dan hormat kepadanya. Bahkan sultan pun memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.

Setelah dewasa beliau dinikahkan dengan seorang perempuan sholihah (yang juga) bernama Siti Aminah (Tuan "BAJUT"), seorang perempuan yang ta'at lagi berbakti pada suami sehingga terjalinlah hubungan saling pengertian dan hidup bahagia, seiring sejalan, seia sekata, bersama-sama meraih ridho Allah semata. Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.

Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya Siti Aminah mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian do'a mengiringi kepergiannya.

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada para ulama terkemuka pada masa itu. Di antara guru beliau adalah Syekh 'Athoillah bin Ahmad al Mishry, al Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al Kurdi dan al-'Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani yang merupakan guru Muhammad Arsyad di bidang tasawuf. Di bawah bimbingan gurunya inilah Muhammad Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah dengan kedudukan sebagai khalifah.

Menurut riwayat dari Khalifah al-Sayyid Muhammad al-Samman, pada waktu itu Indonesia hanya ada empat orang khalifah, yaitu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (kalimantan), Syekh Abdulk Shomad al-Palembani (Palembang, Sumatera), Syekh Abdul Wahab Bugis (Sulawesi) dan Syekh Abdul Rahman Mesri (Betawi Jawa). Mereka berempat dikenal dengan "Empat Serangkai dari Tanah Jawi" yang sama-sama menuntut ilmu di al-Haramain al-Syarifain.

Muhammad Arsyad belajar di Mekah sekitar 30 tahun dan di Madinah sekitar lima tahun. Sahabatnya yang paling penting yang banyak disebut oleh hampir semua penulis ialah Syeikh `Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Abdur Rahman al-Mashri al-Batawi dan Syeikh Abdul Wahhab Bugis, yang terakhir ini kemudian menjadi menantunya.

Guru-gurunya

Di antara sekian banyak ulama yang menjadi gurunya, beberapa di antaranya sangat populer, yakni Syeikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, Syeikh `Athaullah dan Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Madani.

Selain belajar kepada ulama-ulama Arab, bersama dengan kawan-kawan seangkatannya, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, juga belajar kepada ulama-ulama yang berasal dari NUsantara. Di antara gurunya yang berasal dari Melayu ialah Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Mubin Pauh Bok al-Fathani, Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh dan Syeikh Muhammad `Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani, dan lain-lain.

Selama belajar di Mekah Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari tinggal di sebuah rumah yang dibeli oleh Sultan Banjar. Rumah tersebut terletak di kampung Samiyah yang disebut juga dengan Barhat Banjar.

Semua ilmu keislaman yang telah dipelajarinya di Mekah dan Madinah mempunyai sanad atau silsilah yang musalsal (bersambung kontinyu tanpa putus. Hal ini cukup jelas seperti yang ditulis oleh Syeikh Yasin Padang dalam beberapa karyanya.

Durasi masa belajar di Mekah dan Madinah yang demikian lama serta banyaknya jumlah pelajaran dan jenis kitab dipelajari, dan kapabilitas ulama tempatnya berguru menjadikan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari akhirnya menjadi seorang ulama besar tanah Jawi atau dunia Melayu (Nusantara).


Jasa-jasa bagi Bangsa

Setelah sekitar 35 tahun menuntut ilmu di tanah suci, timbullah kerinduannya pada kampung halaman. Pada Bulan Ramadhan 1186 H. bertepatan 1772 M., sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya kembali, Martapura pusat Kerajaan Banjar pada masa itu. Sultan Tamjidillah (Raja Banjar) menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyat pun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama "Matahari Agama" yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Nusantara.

Aktivitas Muhammad Arsyad sepulangnya dari Tanah Suci, dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga ia menjadi raja yang 'alim dan wara'.

Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah seorang ulama yang diakui kehebatannya oleh para ulama setelahnya. Tanda kebesaran jasanya ini selain berupa karya-karya tulisnya yang telah menjadi bagian integral dalam khasanah keilmuan Islam Nusantara juga dapat kita buktikan hingga saat ini melalui jalur irigasi yang dibangunnya bersama warga masyarakat Banjar untuk melancarkan dan meningkatkan produksi pertanian di tanah Banjar. Hingga saat ini manfaat saluran irigasi yang dibangun oleh sang syeikh masih dapat dirasakan oleh penduduk sekitar. Kini saluran irigasi tersebut diberi nama Sungai Datuk uantuk mengenang jasa-jasa beliau.

Dalam menyampaikan ilmunya Syekh Muhammad Arsyad mempunyai beberapa metode yang saling menunjang antara satu dengan yang lainnya. Metode-metode dakwah tersebut adalah :

Dakwah bilhal : Keteladanan yang baik (uswatun hasanah) yang direfleksikan dalam tingkah-laku, gerak-gerik dan tutur kata sehari-hari serta disaksikan secara langsung bersama murid-muridnya.

Dakwah billisan : mengadakan pengajaran dan pengajian yang bisa diikuti siapa saja, baik keluarga, kerabat, sahabat, handai taulan dan seluruh masyarajat secara umum.

Dakwah bilkitabah : menggunakan bakat di bidang tulis-menulis, sehingga lahirlah kitab-kitab yang menjadi pegangan umat.


Karya-karya

Semasa hidupnya, di tengah-tengah perjuangannya berdakwah, Syeikh Arsyad selalu menyempatkan diri untuk menggoreskan tinta demi kesinambungan tersampainya ilmu-ilmu pengetahuan kepada umat sepanjang generasi.

Adapun karya-karya Syeikh Arsyad yang sempat dicatat adalah :

1. Tuhfah al-Raghibin fi Bayani Haqiqah Iman al-Mu'minin wa ma Yufsiduhu Riddah al-Murtaddin, karya pertama, diselesaikan tahun 1188 H./1774 M.
2. Luqtah al-'Ajlan fi al-Haidhi wa al-Istihadhah wa an-Nifas an-Nis-yan, diselesaikan tahun 1192 H./1778 M.
3. Sabil al-Muhtadin li at-Tafaqquhi fi Amri ad-Din, diselesaikan pada hari Ahad, 27 Rabiulakhir 1195 H./1780 M.
4. Risalah Qaul al-Mukhtashar fi ‘Alamatil Mahdil Muntazhar, diselesaikan pada hari Khamis 22 Rabiul Awal 1196 H./1781 M.
5. Kitab Bab an-Nikah.
6. Bidayah al-Mubtadi wa `Umdah al-Auladi
7. Kanzu al-Ma'rifah
8. Ushul ad-Din
9. Kitab al-Faraid
10. Kitab Ilmu Falak
11. Hasyiyah Fathul Wahhab
12. Mushhaf al-Quran al-Karim
13. Fathur Rahman
14. Arkanu Ta'lim al-Shibyan
15. Bulugh al-Maram
16. Fi Bayani Qadha' wa al-Qadar wa al-Waba'
17. Tuhfah al-Ahbab
18. Khuthbah Muthlaqah Pakai Makna.

Meninggalkan banyak sekali keturunan di berbagai belahan Nusantara. Putera-puteri yang ditinggalkan merupakan generasi lintas bangsa karena Syeikh Arsyad memiliki beberapa Istri lintas bangsa. Di antara keturunan-keturunan Beliau banyak sekali yang kemudian menjadi ulama-ulama besar di berbagai bangsa penghuni Nusantara sepereti Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam dan Pattani.
Setelah sekitar 40 tahun mengembangkan dan menyiarkan Islam di wilayah Kerajaan Banjar, akhirnya di Pagar Dalam, pada hari selasa, 6 Syawwal 1227 H. (1812 M.) Allah SWT memanggil kembali Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari ke hadirat-Nya dalam usia 105 tahun. Karena dimakamkan di desa Kalampayan, Beliau juga dikenal dengan sebutan Datuk Kalampayan.

http://www.nu.or.id/page.php


Masuk

Temen-temen yang mau belajar Open Source Grafis, silahkan klik!
DodyKurniawan 07
myQ Pejuang
*
Offline Offline

Kelamin: Pria
Tulisan: 4081


araahumunii al baathilu syaithaana.....


Lihat Profil WWW
« Jawab #27 pada: 22 Juli 2008, 11:15:53 »

 Senyum manis
terimakasih atas postingannya akh danny...btw banyak sekali ulama Nusantara...ada Syaikh Nawawi Al Jawi yg menjadi mufti di Makkah...dll...

akh abu tahara..

afwan bila ada postingan ana yang kurang berkenan di mata saudara...
masalah he..he... itu sudah menjadi ciri khas saya, silahkan dilihat postingan2 saya....dan tidaklah dimaksudkan untuk merendahkan orang lain...justru dengan itu menunjukkan bahwa saya masih berusaha menjaga emosi....
tapi kalau saudara tidak berkenan okeylah...

kemudian masalah kriteria dan definisi ulama, sebenarnya sangat berkaitan dengan pertanyaan antum..
pertanyaan saya tentang adakah asatidz antum yg memenuhi kriteria ulama pun ada korelasinya...jadi bukan bermaksud OOT...

insyaAllah kalau saudara berkenan, mungkin bisa saya tuliskan.... Senyum manis
maaf mungkin saudara masih salah paham dengan maksud perkataan ana....
Masuk

fattahillahe
myQ Pejuang
*
Offline Offline

Kelamin: Pria
Tulisan: 3201


Sepiro gedene sengsoro yen tinompo amung dadi cobo


Lihat Profil WWW
« Jawab #28 pada: 22 Juli 2008, 12:07:31 »

Senyum manis
...btw banyak sekali ulama Nusantara...ada Syaikh Nawawi Al Jawi yg menjadi mufti di Makkah...dll...


sekalian ane tambahain ya kang .... Senyum manis ane yaqin nich kang dody dah mengkajinye boleh loh dibagi2 ilmunye  Sip, mantap!
ini nich diantara karyanya antara lain :

* Fath ai-Majid, Tijan al-Durari, Nur al Dzulam, al-Futuhat al-Madaniyah, al-Tsumar alYaniah, Bahjat al-Wasail, Kasyifat as-Suja dan Mirqat al-Su'ud

* Syarh Safinat a/-Naja, Syarh Sullam a/-Taufiq, Nihayat a/-Zain fi Irsyad a/-Mubtadi'in dan Tasyrih a/a Fathul Qarib

* Misbah alZulam, Qami' al-Thugyan dan Salalim al Fudala

 Sip, mantap!
Masuk

Dahar Ketupat Kuahipun Santen - Menawi Lepat Nyuwun Pengapunten
http://hastransport.blogspot.com/
kosambi amin
myQ Aktivis
*
Offline Offline

Kelamin: Pria
Tulisan: 1136


Bismilaah


Lihat Profil
« Jawab #29 pada: 22 Juli 2008, 13:04:11 »

Ini Ulama Fiqh dari web tetangga...


SYEIKH ARSYAD AL-BANJARI

Ulama yang Membangun Saluran Irigasi

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812) adalah ulama fiqih madzhab Syafi'i pengarang kitab Sabilal Muhtadin yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Kitabnya yang paling terkenal ini banyak dijadikan rujukan Hukum Fiqih mazhab Syafi'i di Asia Tenggara.

Beliau dilahirkan di desa Lok Gabang pada hari kamis dini hari 15 Shafar 1122 H. bertepatan 19 Maret 1710 M sebagai anak pertama dari keluarga muslim yang taat beragama, yaitu Abdullah dan Siti Aminah. Nama lengkap Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari bin Saiyid Abu Bakar bin Saiyid Abdullah al-'Aidrus bin Saiyid Abu Bakar as-Sakran bin Saiyid Abdur Rahman as-Saqaf bin Saiyid Muhammad Maula ad-Dawilah al-'Aidrus, dan seterusnya sampai kepada Saidina Ali bin Abi Thalib dan Saidatina Fatimah bin Nabi Muhammad SAW.

Kakek Arsyad berhasil mendirikan Kerajaan Mindanao di Filiphina. Ayah Abdullah bernama Abu Bakar (kakek Muhammad Arsyad) adalah Sultan Mindanao. Abdullah pernah pula memimpin pasukan Mindanao dalam peperangan melawan Portugis, kemudian ikut melawan Belanda lalu pindah bersama isterinya ke Banjar (Martapura, Kalimantan).


Sekilas Kelebihan

Pada suatu hari, tatkala Sultan Kerajaan Banjar (Sultan Tahmidullah) mengadakan kunjungan ke kampung-kampung, hingga sampailah sang Sultan ke kampung Lok Gabang. Alangkah terkesimanya Sang Sultan manakala melihat lukisan yang indah dan menawan hatinya. Maka sang Sultan bertanya, siapakah pelukisnya, lalu ia mendapat jawaban bahwa Muhammad Arsyad adalah sang pelukis yang sedang dikaguminya. Mengetahui kecerdasan dan bakat sang pelukis, terbesitlah di hati sultan, sebuah keinginan untuk mengasuh dan mendidik Arsyad kecil di istana. Usia Arsyad sendiri ketika itu baru sekitar tujuh tahun.

Sultanpun mengutarakan keinginan hatinya kepada kedua orang tua Muhammad Arsyad. Pada mulanya Abdullah dan istrinya merasa enggan melepas anaknya tercinta. namun demi masa depan sang buah hati yang diharapkan menjadi anak yang berbakti kepada agama, negara dan orang tua, maka diterimalah tawaran sang sultan. Kepandaian Muhammad Arsyad dalam membawa diri, sifatnya yang rendah hati, kesederhanaan hidup serta keluhuran budi pekertinya menjadikan segenap warga istana sayang dan hormat kepadanya. Bahkan sultan pun memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.

Setelah dewasa beliau dinikahkan dengan seorang perempuan sholihah (yang juga) bernama Siti Aminah (Tuan "BAJUT"), seorang perempuan yang ta'at lagi berbakti pada suami sehingga terjalinlah hubungan saling pengertian dan hidup bahagia, seiring sejalan, seia sekata, bersama-sama meraih ridho Allah semata. Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.

Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya Siti Aminah mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian do'a mengiringi kepergiannya.

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada para ulama terkemuka pada masa itu. Di antara guru beliau adalah Syekh 'Athoillah bin Ahmad al Mishry, al Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al Kurdi dan al-'Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani yang merupakan guru Muhammad Arsyad di bidang tasawuf. Di bawah bimbingan gurunya inilah Muhammad Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah dengan kedudukan sebagai khalifah.

Menurut riwayat dari Khalifah al-Sayyid Muhammad al-Samman, pada waktu itu Indonesia hanya ada empat orang khalifah, yaitu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (kalimantan), Syekh Abdulk Shomad al-Palembani (Palembang, Sumatera), Syekh Abdul Wahab Bugis (Sulawesi) dan Syekh Abdul Rahman Mesri (Betawi Jawa). Mereka berempat dikenal dengan "Empat Serangkai dari Tanah Jawi" yang sama-sama menuntut ilmu di al-Haramain al-Syarifain.

Muhammad Arsyad belajar di Mekah sekitar 30 tahun dan di Madinah sekitar lima tahun. Sahabatnya yang paling penting yang banyak disebut oleh hampir semua penulis ialah Syeikh `Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Abdur Rahman al-Mashri al-Batawi dan Syeikh Abdul Wahhab Bugis, yang terakhir ini kemudian menjadi menantunya.

Guru-gurunya

Di antara sekian banyak ulama yang menjadi gurunya, beberapa di antaranya sangat populer, yakni Syeikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, Syeikh `Athaullah dan Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Madani.

Selain belajar kepada ulama-ulama Arab, bersama dengan kawan-kawan seangkatannya, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, juga belajar kepada ulama-ulama yang berasal dari NUsantara. Di antara gurunya yang berasal dari Melayu ialah Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Mubin Pauh Bok al-Fathani, Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh dan Syeikh Muhammad `Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani, dan lain-lain.

Selama belajar di Mekah Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari tinggal di sebuah rumah yang dibeli oleh Sultan Banjar. Rumah tersebut terletak di kampung Samiyah yang disebut juga dengan Barhat Banjar.

Semua ilmu keislaman yang telah dipelajarinya di Mekah dan Madinah mempunyai sanad atau silsilah yang musalsal (bersambung kontinyu tanpa putus. Hal ini cukup jelas seperti yang ditulis oleh Syeikh Yasin Padang dalam beberapa karyanya.

Durasi masa belajar di Mekah dan Madinah yang demikian lama serta banyaknya jumlah pelajaran dan jenis kitab dipelajari, dan kapabilitas ulama tempatnya berguru menjadikan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari akhirnya menjadi seorang ulama besar tanah Jawi atau dunia Melayu (Nusantara).


Jasa-jasa bagi Bangsa

Setelah sekitar 35 tahun menuntut ilmu di tanah suci, timbullah kerinduannya pada kampung halaman. Pada Bulan Ramadhan 1186 H. bertepatan 1772 M., sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya kembali, Martapura pusat Kerajaan Banjar pada masa itu. Sultan Tamjidillah (Raja Banjar) menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyat pun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama "Matahari Agama" yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Nusantara.

Aktivitas Muhammad Arsyad sepulangnya dari Tanah Suci, dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga ia menjadi raja yang 'alim dan wara'.

Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah seorang ulama yang diakui kehebatannya oleh para ulama setelahnya. Tanda kebesaran jasanya ini selain berupa karya-karya tulisnya yang telah menjadi bagian integral dalam khasanah keilmuan Islam Nusantara juga dapat kita buktikan hingga saat ini melalui jalur irigasi yang dibangunnya bersama warga masyarakat Banjar untuk melancarkan dan meningkatkan produksi pertanian di tanah Banjar. Hingga saat ini manfaat saluran irigasi yang dibangun oleh sang syeikh masih dapat dirasakan oleh penduduk sekitar. Kini saluran irigasi tersebut diberi nama Sungai Datuk uantuk mengenang jasa-jasa beliau.

Dalam menyampaikan ilmunya Syekh Muhammad Arsyad mempunyai beberapa metode yang saling menunjang antara satu dengan yang lainnya. Metode-metode dakwah tersebut adalah :

Dakwah bilhal : Keteladanan yang baik (uswatun hasanah) yang direfleksikan dalam tingkah-laku, gerak-gerik dan tutur kata sehari-hari serta disaksikan secara langsung bersama murid-muridnya.

Dakwah billisan : mengadakan pengajaran dan pengajian yang bisa diikuti siapa saja, baik keluarga, kerabat, sahabat, handai taulan dan seluruh masyarajat secara umum.

Dakwah bilkitabah : menggunakan bakat di bidang tulis-menulis, sehingga lahirlah kitab-kitab yang menjadi pegangan umat.


Karya-karya

Semasa hidupnya, di tengah-tengah perjuangannya berdakwah, Syeikh Arsyad selalu menyempatkan diri untuk menggoreskan tinta demi kesinambungan tersampainya ilmu-ilmu pengetahuan kepada umat sepanjang generasi.

Adapun karya-karya Syeikh Arsyad yang sempat dicatat adalah :

1. Tuhfah al-Raghibin fi Bayani Haqiqah Iman al-Mu'minin wa ma Yufsiduhu Riddah al-Murtaddin, karya pertama, diselesaikan tahun 1188 H./1774 M.
2. Luqtah al-'Ajlan fi al-Haidhi wa al-Istihadhah wa an-Nifas an-Nis-yan, diselesaikan tahun 1192 H./1778 M.
3. Sabil al-Muhtadin li at-Tafaqquhi fi Amri ad-Din, diselesaikan pada hari Ahad, 27 Rabiulakhir 1195 H./1780 M.
4. Risalah Qaul al-Mukhtashar fi ‘Alamatil Mahdil Muntazhar, diselesaikan pada hari Khamis 22 Rabiul Awal 1196 H./1781 M.
5. Kitab Bab an-Nikah.
6. Bidayah al-Mubtadi wa `Umdah al-Auladi
7. Kanzu al-Ma'rifah
8. Ushul ad-Din
9. Kitab al-Faraid
10. Kitab Ilmu Falak
11. Hasyiyah Fathul Wahhab
12. Mushhaf al-Quran al-Karim
13. Fathur Rahman
14. Arkanu Ta'lim al-Shibyan
15. Bulugh al-Maram
16. Fi Bayani Qadha' wa al-Qadar wa al-Waba'
17. Tuhfah al-Ahbab
18. Khuthbah Muthlaqah Pakai Makna.

Meninggalkan banyak sekali keturunan di berbagai belahan Nusantara. Putera-puteri yang ditinggalkan merupakan generasi lintas bangsa karena Syeikh Arsyad memiliki beberapa Istri lintas bangsa. Di antara keturunan-keturunan Beliau banyak sekali yang kemudian menjadi ulama-ulama besar di berbagai bangsa penghuni Nusantara sepereti Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam dan Pattani.
Setelah sekitar 40 tahun mengembangkan dan menyiarkan Islam di wilayah Kerajaan Banjar, akhirnya di Pagar Dalam, pada hari selasa, 6 Syawwal 1227 H. (1812 M.) Allah SWT memanggil kembali Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari ke hadirat-Nya dalam usia 105 tahun. Karena dimakamkan di desa Kalampayan, Beliau juga dikenal dengan sebutan Datuk Kalampayan.

http://www.nu.or.id/page.php



makasih....

ada yang laen lagi ga ya...
Masuk

Bismillaahi laa yadhurru ma'asmihi syai un fil ardhi walaa fis samaa i wahuwas samii 'ul 'aliim
Halaman: 1 [2] 3 4 ... 7   Naik
  Cetak  
 
Lompat ke:  

Didukung oleh MySQL Didukung oleh PHP Powered by SMF 1.1.10 | SMF © 2006-2009, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!
Halaman dibuat dalam 0.561 detik dengan 18 permintaan.

Chitch@tbaru! pada irc.myQuran.org !
Kenapa gak dicoba? Klik sini

Chating via HP? Coba klik mIrcQu

myQuran banner kecil myQ Search Engine Plugin FF

(c) 2006, 2007, 2008 - myQuran.org
Komunitas Muslim Indonesia