Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Adakah Istirahat dari Berjihad?  (Dibaca 458 kali)


Offline ipin4u

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.969
  • Lokasi: Balikpapan
  • Jenis kelamin: Pria
  • We support Palestine!
    • Lihat Profil
    • my blogs at multiply
« pada: 14 Juli 2008, 16:47:25 »
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ (38) إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (39) إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (40) انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (41) لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (42) عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ (43) لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ (44) إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ (45) وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ (46) لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (47) لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِنْ قَبْلُ وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ حَتَّى جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ (48) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ (49) إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ (50)

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan ALLAAH, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya ALLAAH menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudaratan kepada-Nya sedikit pun. ALLAAH Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka Sesungguhnya ALLAAH telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya ALLAAH beserta kita. Maka ALLAAH menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan menjadikan kalimat orang-orang kafir itu rendah dan kalimat ALLAAH itu tinggi. ALLAAH Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan ALLAAH, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu Amat jauh terasa oleh mereka. mereka akan bersumpah dengan (nama) ALLAAH: Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersamamu. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan ALLAAH mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Semoga ALLAAH memaafkanmu, mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? Orang-orang yang beriman kepada ALLAAH dan hari Kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. dan ALLAAH mengetahui orang-orang yang bertaqwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ALLAAH dan hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi ALLAAH tidak menyukai keberangkatan mereka, Maka ALLAAH melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. dan ALLAAH mengetahui orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya dari dahulu pun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan) mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan ALLAAH) dan menanglah agama ALLAAH, Padahal mereka tidak menyukainya. Di antara mereka ada orang yang berkata: Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah. Ketahuilah bahwa merekalah yang telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi perang). Dan mereka berpaling dengan rasa gembira.” (QS. At Taubah: 38-50)

Sabab Nuzul:

Imam Al-‘Ayni dalam saat men-syarah Shahih Al Bukhari dalam kitabnya[1] menyatakan bahwa ayat ke-38 di atas turun saat Ghazwah Tabuk, menghadapi pasukan Romawi, yang bertepatan dengan saat ranumnya buah-buahan di Madinah (musim panen Kurma), lalu musim panas sedang amat teriknya[2], maka sebagian mukminin ada yang tertinggal tidak ikut berperang[3], juga dengan perjalanan yang amat jauh (letak Tabuk sekitar 600 km jauhnya dari Madinah, sehingga perang ini disebut juga Ghazwah ‘Usrah/perang yang amat sulit)[4]), dan menghadapi musuh yang amat banyak serta kuat[5]. Imam Al-Qurthubi menambahkan bahwa peristiwa ini terjadi pada tahun ke-9 Hijrah setahun setelah peristiwa Fathu Makkah[6]. Syaikh Al Qaththan menambahkan bahwa saat itu pasukan muslimin terkumpul sekitar 30.000 orang melawan 100.000 orang pasukan Romawi, dan pada perang inilah kaum muslimin memberikan pengorbanan yang luar biasa, Utsman RA menyumbang 1000 dinar emas untuk peperangan, lalu datang Umar dengan setengah dari hartanya, dan Abubakar dengan menginfaqkan seluruh hartanya di jalan ALLAAH[7].

Malas Berjihad adalah Ciri Cinta Dunia

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

Dalam ayat ini ALLAAH Yang Maha Rahman, berkata Imam Abu Ja’far[8] bahwa makna “an-nafar” adalah: dari berangkat untuk berperang, sehingga maknanya adalah: Mengapakah kalian wahai orang beriman jika dikatakan kepada kalian keluarlah kalian untuk berjihad di jalan ALLAAH kalian berlambat-lambat karena lebih senang berada di negeri kalian atau di rumah kalian atau duduk-duduk saja[9]. Imam Al Baghawi menafsirkannya: Berangkatlah dengan bersegera dengan bersungguh-sungguh & bersemangat untuk mendukung hizbuLLAAH & menegakkan agama-NYA untuk membenarkan panggilan iman kalian[10]. Imam Al-Qurthubi menambahkan bahwa lafzh “ma lakum” merupakan harfu-istifham yang maknanya penegasan sekaligus celaan, sementara lafzh “tsaqaltum ilal ardh” artinya berlambat-lambat karena nikmat dunia[11], sementara Imam Al Baghawi menafsirkannya lebih suka tinggal di rumah kalian[12]. Sayyid Quthb memberikan gambaran yang mendalam tentang ayat ini, kata beliau: Ketahuilah bahwa beratnya dunia, keindahannya, perhiasan serta harta bendanya, semua itu akan membuat rasa takut akan kematian pada diri seseorang, takut kehilangan hartanya, takut kehilangan posisi & jabatannya, senang dengan istirahat & kemapanan, berat karena rencana-rencana jangka pendek yang telah dibuat serta tujuan-tujuan sesaat yang telah dirancang, yang kesemuanya mempengaruhi badannya, darahnya serta seluruh tubuhnya, sehingga seolah-olah ia menjadi terbenam ke dalam bumi, inilah makna yang tercermin dari potongan kata “tsaaqaltum”, yaitu bagaikan jasad yang telah terbenam, sehingga sulit untuk digerakkan, apalagi menerima komando untuk bangun & bergerak[13].

Malas Berjihad Menyebabkan Turunnya Adzab ALLAAH SWT

إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Berkata Imam At Thabari bahwa berfirman ALLAAH SWT mengingatkan kepada kaum mu’min dari golongan sahabat Nabi SAW, untuk tidak meninggalkan jihad, bersegera memenuhi panggilan qiyadah, dan taat kepada ALLAAH & Rasul-NYA, untuk melawan bangsa Romawi: Jika kalian tidak berangkat maka ALLAAH akan menyegerakan azab bagi kalian di dunia & mengganti kalian dengan kaum yang lain, yang tidak meninggalkan jihad, bersegera memenuhi panggilan qiyadah, serta taat kepada ALLAAH & Rasul-NYA[14]. Berkata Imam Al-Qurthubi bahwa ini adalah pernyataan yang amat tegas dan ancaman yang amat kuat bagi siapa-siapa yang meninggalkan jihad untuk menegakkan Kalimat ALLAAH[15]. Imam Al Alusy menyatakan bahwa jika kalian meninggalkan jihad, maka akan diazab dua kali yaitu di dunia & di akhirat lalu akan diganti dengan kaum lain yang lebih baik & lebih taat pada perintah jihad, karena DIA Maha Kaya dari membutuhkan kalian sedikitpun dan kemalasan kalian itu tidak berpengaruh terhadap ketetapan-NYA sedikit pun[16]. Imam Khazin menambahkan bahwa sebagian ulama menyatakan bahwa ayat ini telah di-nasakh oleh ayat QS 9:122, tetapi jumhur ulama menyatakan bahwa ayat ini muhkamat karena ia adalah khithab untuk semua, oleh sebab itu maka tidak ada nasakh baginya[17]. Ada seorang sahabat yang pada asalnya juga ingin mangkir, yaitu Abu Khaitsamah RA, namun saat ia pulang ke rumahnya ia melihat istrinya telah menyiapkan ranjang yang empuk, menyiapkan makanan yang enak & buah-buahan serta minuman yang dingin, lalu ia berkata pada dirinya sendiri: “RasuluLLAAH SAW di tengah sengatan panasnya matahari & kerasnya tiupan angin musim panas padang pasir, sementara Abu Khaitsamah di bawah naungan yang teduh, makanan yang enak dan istri yang cantik.. Tidak! Tidak boleh begini!” Lalu ia langsung membereskan perbekalannya dan memacu tunggangannya mengejar RasuluLLAH SAW dan pasukannya[18].

(Bersambung Insya ALLAAH…)

___
Catatan Kaki:

[1] ‘Umdatul Qari, XV/457
[2] Ini juga pendapat Imam Ibnu Katsir, lih. Tafsir Al-‘Azhim, IV/153
[3] Yaitu orang-orang munafik, beberapa kabilah Badui, dan 3 orang sahabat terkenal (Ka’ab Ibnu Malik, Hilal Ibnu Umayyah & Murarah Ibnu Rabi’)
[4] Tafsir Al Qaththan, II/138
[5] Ma’alimu Tanzil, IV/48
[6] Jami’ Li Ahkam, I/2431
[7] Tafsir Al-Qaththan, II/138
[8] Jami’ul Bayan, XIV/251
[9] Imam Ibnu Katsir menambahkan: Lebih suka menikmati wangi buah-buah an (asyik berbisnis/niaga), lih. Al-‘Azhim, IV/153
[10] Nuzhmud Durar, III/453
[11] Jami’ul Ahkam, I/2431
[12] Ma’alimu Tanzil, IV/48
[13] Azh-Zhilal, IV/30
[14] Jami’ul Bayan, XIV/254
[15] Jami’ul Ahkam, I/2432
[16] Madarikut Tanzil, I/444
[17] Lubab At-Ta’wil, III/269
[18] Tafsir Al-Qaththan, II/138


Sumber: http://www.al-ikhwan.net/index.php/manhaj-haraki/2008/adakah-istirahat-dari-berjihad/

*menyemangati diri :hihi: %peace%

Offline ipin4u

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.969
  • Lokasi: Balikpapan
  • Jenis kelamin: Pria
  • We support Palestine!
    • Lihat Profil
    • my blogs at multiply
« Jawab #1 pada: 14 Juli 2008, 16:48:52 »
Turunnya NashruLLAAH pada Para Mujahid yang Sabar Walaupun Sedikitnya Jumlah Mereka dan Ketidakbutuhan ALLAAH SWT Terhadap Pertolongan Manusia

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Berkata Imam Abu Ja’far: Ini adalah pernyataan ALLAAH SWT kepada para sahabat Rasul SAW, bahwa IA lah yang bertanggung jawab menolong Nabi SAW dari musuh-musuh agama-NYA dan memenangkannya baik mereka membantu ataupun tidak, serta peringatan-NYA bahwa IA berkuasa menolong Nabi-NYA saat dalam jumlah sedikit (2 orang) dikepung musuh sedemikian banyak, maka apatah lagi saat kaum muslimin sudah banyak..?![1] Di dalam Shahih Bukhari & Muslim disebutkan bahwa Abubakar RA berkata pada Nabi SAW saat berada di dalam gua: Wahai RasuluLLAAH, seandainya salah seorang dari mereka melihat melalui bawah kakinya maka niscaya mereka akan melihat kita. Maka Nabi SAW menjawab: Wahai Abu Bakar! Bagaimana dugaanmu tentang 2 orang yang ALLAAH adalah yang ketiganya..?![2]

Dan semua perjuangan jihad yang dilakukan haruslah dengan niat yang ikhlas demi menolong agama ALLAAH SWT dan menegakkan syari’ahnya, bukan demi kepentingan pribadi, harta, jabatan, dsb. Karena semua tujuan itu telah direndahkan dalam ayat ini, bahwa tujuan seorang mujahid haruslah menjadikan Kalimah ALLAAH menjadi Tinggi dan Kalimah orang Kafir menjadi rendah. Dalam Ash-Shahihain disebutkan bahwa Nabi SAW ditanya tentang orang yang berjuang karena menunjukkan keberaniannya, ada pula yang karena fanatisme, ada pula yang karena ingin dipuji, maka kata nabi SAW: “Barangsiapa yang berjuang dengan niat untuk menegakkan Kalimah ALLAAH menjadi Tinggi, maka itulah FII SABILILLAAH!”[3]

Dalam ayat ini juga diberikan sebuah contoh loyalitas dan tadhhiyyah luar biasa dari seorang jundi kepada qiyadahnya, kesetiaannya dalam berjihad di belakang qiyadahnya baik dalam keadaan lapang maupun sempit, susah maupun senang, semangat maupun malas. Imam Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya tentang makna ayat ini: Jika kalian tidak mau menolong Nabi SAW dalam perang Tabuk ini, maka sungguh ALLAAH SWT telah memberikan sahabat yang jauh lebih baik dari kalian (yaitu Abu Bakar RA), telah berkata Imam Laits bin Sa’d: ALLAAH SWT tidak memberikan seorang sahabat pada para Nabi yang lain yang lebih setia dari Abu Bakar RA, berkata Sufyan Ibnu ‘Uyainah: Abu Bakar RA adalah sahabat yang dijadikan contoh teladan tertinggi melalui ayat ini[4].

Jihad Harus Dilakukan Baik Saat Malas Maupun Semangat

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Berkata Imam –muhyis sunnah- Al-Baghawy menyitir pendapat para sahabat Al Hasan, Adh-Dhahhak, Mujahid, Qatadah & Ikrimah bahwa makna khifafan wa tsiqalan: Syubbanan wa Syuyukhan (baik sudah tua atau muda); berkata Ibnu Abbas: Baik sedang semangat maupun malas; berkata ‘Athiyyah Al-Aufy: Baik punya kendaraan ataupun berjalan kaki; berkata Abu Shalih: Baik miskin maupun kaya; berkata Ibnu Zayd: Baik ada yang dikuatirkan maupun tidak ada yang ditakutkan[5]. Imam Ibnu Katsir menambahkan, berkata Al-Hakam Ibnu ‘Utaybah: Sedang sibuk maupun tidak sibuk, bahkan ada seorang yang minta izin tidak ikut berjihad karena badannya yang amat gemuk bernama Al-Miqdad tetapi ALLAAH SWT malah menurunkan ayat ini[6]. Sayyid Quthb menambahkan: Demikianlah contoh-contoh totalitas para sahabat Nabi SAW dalam jihad menegakkan Kalimah ALLAAH, sehingga berkembanglah Islam dengan cepatnya dan semerbaklah dunia dengan cahayanya, bergeraklah semua hati-hati manusia dari penyembahan manusia atas manusia, menuju penyembahan hanya kepada ALLAAH SWT saja, dari kerendahan perbudakan agama-agama menuju ketinggian dan kesucian Islam, dan berakhirnya jihad adalah setelah ia berhasil membebaskan hati manusia kepada kemerdekaannya yang abadi, yaitu hanya tunduk dan merendahkan diri di hadapan Pencipta-NYA[7].

Imam Asy Syaukani menambahkan bahwa ayat ini bersifat muhkamat sehingga tidak ada nasakh baginya, hanyalah diberikan kelonggaran bagi mereka yang disebutkan dalam QS At-Taubah, 9:91 dan An-Nur, 24:122 saja[8]. Dalam ayat ini pula dikenal riwayat seorang sahabat yang lanjut usia bernama Abu Thalhah RA, demikian tuanya sehingga alisnya seluruhnya telah putih dan jatuh dimatanya, saat membaca ayat ini ia berkata: Jahhizuni ya bunayya..! (Siapkanlah bekalku wahai anak-anakku), maka berkatalah anak-anaknya: yarhamukaLLAAH..! Sungguh engkau telah berjihad bersama Nabi SAW sampai beliau wafat, lalu bersama Abu Bakar RA sampai beliau wafat, lalu bersama Umar RA sampai beliau wafat, lalu setelah itu tugas kami lah untuk meneruskan. Tetapi ia menolak, lalu ia meninggal di tengah lautan, dan mereka tidak menemukan daratan kecuali setelah 9 hari lamanya, tetapi jenazahnya sedikitpun tidak berubah, sehingga ia bisa dikuburkan di daratan[9]. RahimahuLLAAHu Abu Thalhah, semoga kami yang muda ini bisa meneladani semangat juang beliau, aamiin ya RABB…

(Bersambung Insya ALLAAH…)

___

Catatan Kaki:

[1] Tafsir At-Thabari, XIV/257
[2] HR Bukhari no. 3653; Muslim no. 2381; Ahmad dlm Musnad-nya I/4
[3] HR Bukhari no. 2810 & Muslim no. 1904
[4] Tafsir Al-Qurthubi, I/2433
[5] Tafsir Al-Baghawy, IV/53
[6] Tafsir Ibnu Katsir, IV/157
[7] Azh-Zhilal, IV/33
[8] Fathul Qadir, III/257
[9] Tafsir Ibnu Katsir, IV/156; haditsnya di-shahih-kan oleh Imam Abu Ya’la Al-Mushili dlm shahih-nya


Sumber: http://www.al-ikhwan.net/index.php/manhaj-haraki/2008/adakah-istirahat-dari-berjihad-bag-ii/

Offline ipin4u

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.969
  • Lokasi: Balikpapan
  • Jenis kelamin: Pria
  • We support Palestine!
    • Lihat Profil
    • my blogs at multiply
« Jawab #2 pada: 14 Juli 2008, 16:50:43 »
Seandainya Kemenangan itu Mudah dan Cepat Didapat, Niscaya Semua Orang Akan Mau Ikut Berjihad

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Berkata Imam Abu Ja’far: Berfirman ALLAAH SWT kepada Nabi SAW - saat sebagian sahabat beliau ada yang minta izin untuk tidak ikut berjihad - seandainya yang kamu serukan kepada mereka yang minta izin dan tidak ikut berjihad itu ghanimah (harta/kedudukan) yang sudah jelas atau perjuangan yang mudah dilakukan, maka mereka pasti akan ikut semua berjihad[1]. Imam Al-Baghawy menafsirkan “ba’udat ‘alayhimu syuqqah” dengan: Lemahnya tujuan/visi perjuangan mereka dalam berjuang[2]; sementara Imam Ibnul Jauzy menambahkan beberapa pendapat bahwa: Ibnu Quthaybah menafsirkannya perjalanan yang jauh, Az-Zujjaj menafsirkannya tujuan/maksud/niat yang lemah, sementara Ibnu Faris menafsirkannya perjalanan menuju bumi yang jauh[3].

Imam At-Thabari menambahkan: Maka mereka akan bersumpah padamu wahai Muhammad, seandainya kami sanggup, atau ada waktu, atau punya kendaraan, atau punya uang, atau sehat fisik dan punya kekuatan, maka kami pasti akan ikut berjuang bersamamu[4]. Imam An-Nasafy menambahkan: Ayat ini termasuk salah satu dalil kenabian Muhammad SAW, yaitu dengan menyampaikan sesuatu yang belum terjadi, yaitu: Wahai Muhammad! Orang-orang Munafiq itu nanti akan bersumpah dengan Nama ALLAAH, kalau kami sanggup kami pasti akan ikut…[5]. Sementara Imam Khazin menyatakan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa sumpah palsu merusak iman seseorang dan rusaknya iman menyebabkannya menjadi nifaq[6].

Sayyid Quthb menambahkan: Berapa banyaknya umat yang selalu menilai dari sisi kesulitan dan pengorbanan yang harus dikeluarkan ketimbang sebuah cita-cita yang mulia, karena mayoritas manusia lebih terkesan kepada panjangnya jalan yang harus ditempuh, sehingga mereka tertinggal dari barisan para Mujahid RABBani, karena mereka lebih senang dengan uang receh dan hasil yang juga remeh, demikianlah yang terjadi pada setiap zaman dan tempat, kesenangan sesaat dan keberhasilan jangka pendek merupakan ujian yang senantiasa berulang bagi manusia, sehingga mereka meninggalkan hasil yang mahal dan tujuan yang tinggi, ketahuilah olehmu bahwa uang receh yang engkau punyai itu kelak takkan mampu bisa membeli Syurga ALLAAH yang mahal..!!![7]

Orang Beriman Pantang Meminta Izin untuk Tidak Ikut Berjihad

لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ

Berkata Imam Abu Ja’far: Ini merupakan pernyataan dari ALLAAH SWT kepada nabi-NYA SAW tentang ciri orang munafik, bahwa salah satu ciri mereka yang mudah diketahui adalah tertinggalnya mereka dari berjihad di jalan ALLAAH[8], dan mereka selalu minta izin pada Nabi SAW untuk tidak ikut berjihad[9] tersebut dengan alasan udzur yang dusta[10]. Imam Ibnu Katsir menambahkan bahwa orang beriman tidak akan meminta izin untuk tidak berjihad karena mereka memahami bahwa jihad itu adalah upaya mendekatkan diri kepada ALLAAH SWT, maka begitu mereka diminta melakukannya maka mereka saling berlomba dan bersegera dalam menerima perintah tersebut[11].

Imam As-Suyuthi meriwayatkan atsar dari Ibnu Abbas RA[12] bahwa ayat ini telah di-nasakh (dihapus) dengan ayat di QS An Nur, 62; tetapi Syaikh Sulayman Ad-Dimasyqi membantah kebenaran atsar tersebut, ia berkata: Tidak dapat diterima naskh dalam ayat ini, karena kedua ayat tersebut bisa diamalkan kedua-dua-nya, karena ayat di QS At-Taubah menjelaskan tentang ciri orang munafik yang meminta izin tanpa adanya udzur syar’i, sementara ayat di QS An-Nur menjelaskan tentang udzur yang syar’i dari mereka yang mu’min[13].

Dalam kaitan ini Nabi SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhan[14]: “Celakalah hamba dinar (uang besar), dan celakalah hamba dirham (uang receh), dan hamba pakaian (mode), jika mereka diberi mereka merasa senang dan jika tidak diberi maka mereka marah. Dan berbahagialah seorang hamba yang senantiasa memegang kendali kudanya di jalan ALLAAH, rambutnya telah kusut dan telapak kakinya telah penuh dengan debu, tetapi jika ia ditugaskan di garis depan (menjadi qiyadah, atau tokoh, atau tampil di forum) maka ia lakukan dengan sungguh-sungguh dan jika ia ditugaskan di garis belakang (menjadi jundi, tidak diberi jabatan publik) ia juga lakukan dengan sungguh-sungguh, tetapi jika ia meminta izin maka tidak diterima dan jika ia meminta bantuan tidak ada yang membantu.”

Orang yang Meminta Izin tidak Ikut Berjihad Hanyalah Para Munafiqin

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ (45) وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

Berkata Imam Abu Ja’far: Ini adalah maklumat dari ALLAAH SWT kepada nabi-NYA SAW tentang salah satu ciri orang-orang munafik yang mudah dilihat, yaitu senantiasa tertinggal dari jihad di jalan ALLAAH, dan mereka selalu meminta izin kepada nabi SAW untuk tidak ikut dalam jihad saat di mobilisasi dengan izin yang tidak benar[15]. Ibnu Katsir menambahkan: Bahwa orang yang beriman tidak akan meminta izin dari berjihad karena mereka sangat memahami bahwa jihad adalah pendekatan, maka ketika mereka diajak untuk berangkat maka mereka serentak menyambutnya dan melaksanakannya[16].

Imam Al-Alusiy menafsirkannya: Bukan hanya tidak pantas bagi seorang mu’min untuk meminta izin untuk tidak ikut berjihad, melainkan juga tidak boleh bagi nabi SAW (qiyadah) untuk mengizinkan mereka, karena yang demikian itu (meminta izin tidak berjihad) bukanlah sifat orang beriman dan bukan pula tradisi mereka. Hal ini karena: Pertama, hal tersebut bukan merupakan karakteristik orang beriman, karena karakteristik orang beriman adalah suka kepada yang ma’ruf dan suka membantu saudaranya fillah; Kedua, orang beriman tidak akan membenci berjihad karena jihad adalah hal yang diperintah oleh syariah dan dicintai oleh AR-RABB[17]. Demikianlah sehingga ayat ini diakhiri dengan “Sesungguhnya ALLAAH Maha Mengetahui terhadap orang yang bertaqwa.” SELESAI kutipan dari Al-Alusiy[18].

Sayyid Quthb menambahkan: Inilah kaidah dasar yang tak pernah salah: Orang yang beriman pada ALLAAH, meyakini Hari Pembalasan maka takkan mau ia meninggalkan kewajiban jihad, bahkan mereka akan bersegera menyambutnya baik dalam keadaan berat maupun ringan demi ketaatan mereka pada ALLAAH, keyakinan mereka untuk berjumpa dengan-NYA, kepercayaan mereka akan balasan-NYA serta keinginan mereka untuk mendapatkan ridha-NYA. Adapun orang munafik, karena kecilnya keyakinan mereka, lemahnya keimanan mereka, kuatnya godaan dunia pada mereka, maka mereka akan melihat izin untuk tidak ikut berjihad sebagai sebuah peluang dan jihad di jalan ALLAAH dianggap sebagai sebuah beban, yang mereka ingin lari daripadanya. Maka ingatlah..! Sesungguhnya jalan menuju ALLAAH itu terang-benderang (wadhihah) dan lurus (mustaqimah), maka barangsiapa yang ragu-ragu serta berlambat-lambat, maka saksikanlah oleh kalian bahwa mereka sama-sekali belum mengetahui jalan itu..[19] SELESAI DENGAN IZIN ALLAAH (JALLA WA ‘ALA).

والله أعلم با الصواب

___
Catatan Kaki:

[1] Tafsir At-Thabari, XIV/271
[2] Tafsir Al-Baghawy, IV/54
[3] Tafsir Zadul Masir, III/181
[4] Ibid.
[5] Tafsir An-Nasafy, I/446
[6] Tafsir Khazin, III/280
[7] Azh-Zhilal, IV/34
[8] Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, lih. Juga Zadul Masir, III/183
[9] Ini merupakan pendapat Az-Zujjaj, Ibid.
[10] Tafsir At-Thabari, XIV/274
[11] Tafsir Ibnu Katsir, IV/159
[12] Ad-Durrul Mantsur, V/86
[13] Lih. Zadul Masir, III/183
[14] HR Bukhari, bab Al-Hirasah Fil Ghazwi Fi SabiliLLAAH, X/11 no.2673; dan Muslim, bab Fadhlul Jihad war Rabthu, IX/476 no. 3503
[15] Tafsir At-Thabari, XIV/274
[16] Tafsir Ibnu Katsir, IV/159
[17] Dalam Shahih Muslim (IX/476 hadits no. 3503) disebutkan: “Sebaik-baik kehidupan seseorang adalah seorang yang senantiasa memegang kendali kudanya di jalan ALLAAH, segera memacu kudanya saat mendengar perintah dan aba-aba serta mencari syahid dari tempat-tempatnya.”
[18] Tafsir Al-Alusiy, VII/248
[19] Azh-Zhilal, IV/35


Sumber: http://www.al-ikhwan.net/index.php/manhaj-haraki/2008/adakah-istirahat-dari-berjihad-bag-iii-habis/

Offline SalmanAlFarisi2

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2008
  • Tulisan: 178
  • Lokasi: Tangrang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hidup Mulia atau Mati Syahid
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 26 Juli 2008, 20:27:49 »
sesungguhnya jihad merupakan jalan menuju tempat peristirahatan terindah, jadi untuk apa beristirahat dari jihad???
karena begitu banyak kemuliaan didalamnya...
HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID

TELAH KUGADAIKAN JIWA DAN RAGAKU HANYA UNTUK BERJUANG DIJALAN ALLAH

Offline Akhina Ifa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 808
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • I Love Allah...
    • Lihat Profil
    • Lembaran-lembaran Hati
« Jawab #4 pada: 28 Juli 2008, 18:41:42 »
Subhanallah... :)

This Group on Facebook | Ikutan Gabung yha... ^^

.::Yaa Allah... Aku Melaksanakan ini KarenaMu, Karena Aku MencintaiMu::.

Offline maren

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.344
  • Lokasi: Ibu Kota RI
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Karena damai itu indah
    • Lihat Profil
    • I Love being a Nurse ^_~
« Jawab #5 pada: 28 Juli 2008, 18:55:59 »
Ayo, Pin tetap berjihad di Samarinda Yah :topOK:

ngutip kata2 Ustadz Rahmat Abdullah : Istirahat itu nanti, nanti di syurga :) that's right ;)

met berjuang teman :)
Jangan jadi orang yang penuh dendam, jadilah orang yang memiliki banyak kata maaf untuk orang2 yang telah menyakiti kita :) bekerjalah dengan ikhlas

Offline nyu2n

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 455
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Power of Galz!
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 28 Juli 2008, 19:08:59 »
Yg paling penting diingat adl bahwa jihad bukhan cm perang aza. Jadi jgn kecewa klo negeri kita aman sentosa, "yah tidak ada perang, jadi thak bisa berjihad." Smentara klo di swatu daerah ada konflik, lngsung bilang, "akhirnya ada ladang jihad!"
Jihad jugha adalah menjaga perdamaian supaya jgn ada perang laghi,
& mengisi perdamaian ithu dgn pembangunan kehidupan, memberantas kemiskinan & kebodohan.

Tak peduli warna kulitmu, tak peduli etnismu, tak peduli agamamu, kita tetap sahabat kan? ^_^

Offline maren

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.344
  • Lokasi: Ibu Kota RI
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Karena damai itu indah
    • Lihat Profil
    • I Love being a Nurse ^_~
« Jawab #7 pada: 28 Juli 2008, 19:21:33 »
@ atas

lebih jauh mengenal makna jihad bisa lihat disini:

http://ikasiasaka.blogspot.com/2006/04/makna-jihad.html O0
Jangan jadi orang yang penuh dendam, jadilah orang yang memiliki banyak kata maaf untuk orang2 yang telah menyakiti kita :) bekerjalah dengan ikhlas

Offline nyu2n

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 455
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Power of Galz!
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 28 Juli 2008, 19:27:26 »
makasi, kak maren.
Jihad offensive? Apakah maqsudnya org Islam harus menyerang smua negara kafir?
Qita khan hanya boleh membela diri jika kita diganggu.

Tak peduli warna kulitmu, tak peduli etnismu, tak peduli agamamu, kita tetap sahabat kan? ^_^

Offline maren

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.344
  • Lokasi: Ibu Kota RI
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Karena damai itu indah
    • Lihat Profil
    • I Love being a Nurse ^_~
« Jawab #9 pada: 28 Juli 2008, 19:30:29 »
makasi, kak maren.
Jihad offensive? Apakah maqsudnya org Islam harus menyerang smua negara kafir?
Qita khan hanya boleh membela diri jika kita diganggu.

menurutmu mereka mengganggu kita gak?
Jangan jadi orang yang penuh dendam, jadilah orang yang memiliki banyak kata maaf untuk orang2 yang telah menyakiti kita :) bekerjalah dengan ikhlas

Offline nyu2n

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 455
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Power of Galz!
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 28 Juli 2008, 19:38:18 »
@ka maren

Ada yg menganggu, ada yg tidhak. Klau mereka tidhak mengganggu, masakan qita mau menganggu?

Tak peduli warna kulitmu, tak peduli etnismu, tak peduli agamamu, kita tetap sahabat kan? ^_^

Offline maren

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.344
  • Lokasi: Ibu Kota RI
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Karena damai itu indah
    • Lihat Profil
    • I Love being a Nurse ^_~
« Jawab #11 pada: 28 Juli 2008, 19:43:45 »
@ka maren

Ada yg menganggu, ada yg tidhak. Klau mereka tidhak mengganggu, masakan qita mau menganggu?

emang kapan kita mengganggu duluan? :)
Jangan jadi orang yang penuh dendam, jadilah orang yang memiliki banyak kata maaf untuk orang2 yang telah menyakiti kita :) bekerjalah dengan ikhlas

Offline ^_^adinda_aisyah^_^

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 695
  • lagi kondangan, pake batik pula
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 29 Juli 2008, 11:56:40 »
mundur dari perjuangan adalah sebuah penghianat
Allah....Allah...Allah.......

Offline nienie

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 3.497
  • Lokasi: Bekasi - Bandung
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Lihatlah dari sisi yang berbeda .^_^.
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 29 Juli 2008, 16:31:26 »
pernah diskusi dengan seorang yang sangat ana segani dalam dakwah ini beliau mengatakan
" Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan seperti itu, maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?"

beliau pun memberikan sebuah tausyiah yang cukup mengena di hati
Bila da’inya bermental ayam negeri yang tak tahan angin, mudah terkena penyakit sampar dan mengandalkan jatah makanan olahan, maka kiamat dakwah sudah terdengar serunainya. Tetaplah berputar bersama di jalan ini, saudaraku, hingga Allah menetapkan satu dari dua kebaikan bagi kita, menang atau syahid di jalanNya.

semoga kita kan selalu ikut berputar bersama dan menjadi bagian dalam jalan dakwah ini
seperti air yang terus mengalir dan tidak pernah berhenti
" Proses Menjadi Baik Itu Panjang..Tapi Keputusan Untuk Memulai Menjadi Baik Hanya Memerlukan Waktu Beberapa Saat"

Offline nyu2n

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 455
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Power of Galz!
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 31 Juli 2008, 17:29:34 »
emang kapan kita mengganggu duluan? :)

Nah makhanya offensive ithu tak bole, karna offensive ithu berarti menganggau duluan.

Tak peduli warna kulitmu, tak peduli etnismu, tak peduli agamamu, kita tetap sahabat kan? ^_^