Alhamdulillah, wassholatu wassalaamu 'ala Rasulillah, wa 'ala alihi wa ashabihi wa man tabi'ahum bil ihsan ila yaumil Qiyamah.
Sebelum dijawab, saya ingin menegaskan bahwa jawaban ini adalah untuk kebaikan, bukan untuk debat kusir tanpa manfaat. Sebab saya merasa, banyak alasan-alasan yang saya kemukakan di bagian sebelum, dibiarkan begitu saja. Jadi kesannya, debat kusir tanpa akhir. Moga Allah memaafkan saya dan Antum sekalian jika berlebih-lebihan, amin.
Anda katakan: "...Saya rasa Anda tidak adil. Anda hanya menyalahkan saya karena memakai nama kunyah dan nisbah "At Thalibi". "
Saya tidak menyalahkan secara mutlak. Hanya saja karena awalnya barangkali 'identitas' Anda gelap, sementara Anda 'mengkoreksi' banyak orang, akibatnya ada beberapa yang saling bertanya-tanya dan mencari siapa sih sebenarnya At Thalibi itu dan akhirnya memunculkan aib-aib Anda yang sebetulnya tidak perlu dimunculkan. Lagi pula jika hendak mengkoreksi, banyak pengasuh ma'had yang insya Allah akan mau berdialog, yang dari sini akan lebih meningkatkan bobot tulisan Anda. Tetapi kalau hanya pandangan sepihak yang belum tentu benar, data yang bias, mengutip dari TV dsb, tentu buku yang Anda tulis --selaris apapun-- kurang mempunyai bobot.
- Lho, apa Anda lupa bahwa Ja'far Thalib, Umar As Sewed, dkk. itu tadinya adalah orang-orang yang sangat banyak mengkoreksi kelompok Islam, organisasi Islam, lembaga Islam, media Islam, personal Muslim, dsb. ==> Mereka yang awalan membuat "asap", mengapa ketika ada yang balik mengkritisi mereka, ditanggapi dengan marah-marah dan memfitnah?
- Kalau Anda baca majalah Salafy, situs salafyu.or.id, apa mereka mau berdialog sebelum menyerang orang lain? Tolong jawab dong, jangan menghindar melulu!
- Quthbiyah Hiyal Fitnah, penulisnya sampai sekarang majhul. Kenapa Anda tidak kesal sama manusia "di balik cadar" itu (pinjam istilah kaum Khawarij).
Beda kalau:
-Dari buku ustadz x di halaman sekian-sekian yang menyatakan.... yang hal ini menunjukkan salafi ekstrim itu begini-begini... bertentangan dengan manhaj salaf sebagaimana dalam kitab ini ini dst
-Dari rekaman dialog dengan ustadz x tgl sekian dikatakan bahwa.., sehingga ditinjau dari manhaj salaf sebagaimana dalam kitab ini dst.
-Dari seminar yang diadakan di ... ustadz Y menyatakan "Ustadz X layak dibunuh..." misalnya..., maka pernyataan itu menunjukkan sikap ekstrim khawarij, sesuai dengan ciri-ciri khawarij dalam kitrab X dst
-Dll
Poin-poin diatas tentu dilakukan kalau mau terbuka dan mengenalkan diri. Jika masukan ini tidak bisa diterima ya nda apa-apa. Jika bisa diterima, saya akan berusaha membantu mencarikan ustadz yang mau berdialog dengan Anda.
Untuk tulisan-tulisan di MyQuran memang tidak dibuat detail, sebab tidak mungkin, tempatnya terbatas. Tapi DSDB I dan II, disana saya tunjukkan juga bukti-bukti dari tulisan mereka sendiri. Itu pun saya masih memiliki bahan tulisan lainnya.
Anda katakan:
"Kebuasan kelompok Salafi Anda itu..."
Sebetulnya 'buas' atau tidak, keras atau lembut, hikmah atau enggak tergantung atas keilmuan dan cara pandang. Anda tinggal membuktikan dengan ilmiah, jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan manhaj salaf tentu kita ingkari. Jika ada penyimpangan di buku "Mereka Adalah Teroris" misalnya, sampaikan saja kepada penulisnya, seandainya apa yang Anda sampaikan benar tentu sehrusnya diterima.
- Lho, ini kan ada buktinya. Bukti lho, bukan asal mimpi. Fakta blogsome itu menurut Anda tidak buas ya? Dulu salafy.or.id juga begitu, kalau sekarang saya kurang tahu.
- Dalam buku MAT, Ba'abduh menyebut umat Islam di Turki dan Mesir sebagai musyrikun. Dia sesatkan semua lembaga Islam di Indonesia yang tidak mencocoki hawa nafsunya. Dia sebut lembaga-lembaga itu bukan Ahlus Sunnah. Ini tidak buas?
Anda katakan:
"Lho, kalau kasus kriminal, itu mudah kan memahaminya"
Saya sampaikan analogi kasus kriminal memang mudah dipahami. Tapi juga perlu saya ingatkan bahwa tidak mesti seperti itu. Betapa banyak tokoh-tokoh jahat (dalam masalah kriminal) tapi oleh masyarakat dianggap teladan? Hal ini diantaranya karena pengaruh propaganda.
Mohon disebutkeun daripada bukti-bukti ilmihnya, disertai hujjah, dalil-dalil, atau semisal bukti rekaman pembicaraan dengan penjahat-penjahat daripada yang membahayakeun itu... (jadi ikut-ikutan meminta disebutkan dalil dan bukti-buktinya).
Just intermezzo!
Nah, dalam masalah agama tentu lebih rumit dan para ulama lah yang banyak mengetahui.
Mr X dengan propagandanya mampu menipu masyarakat sehingga kejahatannya tidak nampak dan dia dianggap tokoh teladan, dermawan dsb. Anggaplah misalnya keluarga Anda yang dirusak kehormatannya oleh MR X. Tentu Anda akan berupaya keras menjaga masyarakat dari kejahatan MR X, bisa jadi akan membuat buku "Lidah terjulur dari Babi Hutan MR X". Masyarakat umum tentu tidak bisa menerima buku Anda, kecuali yang mau mengkaji dengan ilmiah, karena dalam benak mereka MR X itu orang baik/tokoh.
- Maka itu Pak kita butuh bimbingan ulama. Sedang ulama itu tidak monopoli syaikh fulan atau syaiikh fulan saja. Ulama bisa di seluruh alam, sesuai spesifikasinya.
- Kalau ada kejahatan begitu, saya tak perlu njelimet nulis buku, tapi langsung saja lapor polisi, atau menuntut secara hukum. Kalau kami masih dizhalimi, kami akan berdoa memohon pertolongan Allah. Kesuwen pakai nulis buku untuk kasus seperti itu.
Nah, terapkan analogi diatas untuk kasus yang Anda anggap kurang beradab. Ketika ada ulama yang mengetahui besarnya penyimpangan Dr Polan, besarnya bahaya Dr Polan terhdap kehormatan agama, terhadap ancaman masuk neraka bagi yang menyimpang karena mengikuti pemahamannya, tentu kita bisa memahami kenapa begitu kerasnya ulama tersebut menulis buku yang memperingatkan penyimpangan Dr Polan, bisa jadi dengan menggelari gelar yang buruk (seperti Anda --dalam contoh diatas yang saya buat lho-- menggelari dengan Babi Hutan).
Ini saya balik, sebelum Anda menulis buku soal kejahatan "Babi Hutan", pernahkah Anda mau menyempatkan diri dialog dulu sama "Babi Hutan" itu.
Nah, hayo jujur saja, terapkan kaidah itu ke diri Anda sendiri. Sebab sejak awal Anda menuntut saya dalam soal itu.
Lagi pula, apa semua ulama, atau sebagian besar ulama di Dunia Islam ini, berpendapat sama terhadap Dr. Polan yang Anda katakan misalnya seperti "Babi Hutan" itu? Hayo jujur saja, jangan ngeles terus. Nanti nubruk tembok, lho.
Jika Anda sekarang tidak setuju dengan da'wah salaf yang banyak memperingatkan dari tokoh-tokoh yang menyimpang, misal Dr Polan, ya 'wajar' saja karena sebatas itu yang Anda ketahui tentang Dr Polan dan sebatas itu sikap baro' (berlepas diri) terhadap Dr Polan dan bisa jadi ada dalam hati Anda titik-titik kecintaan kepada Dr Polan karena syubhat yang ada.
Lho, memang di dunia ini yang tahu ilmu (maksudnya diberi ilmu oleh Allah), hanya syaikh Anda sendiri? Hanya ulama kelompok Anda? Hanya madrasah Anda ya?
Begitu kecilnya Anda mengartikan sumbangan ummat Islam lainnya.
Maka pernyataan Anda dibagian akhir: “Ya, caranya dengan menulis Iskatul Kalbi Awi Yusuf Al Qaradhawi (membungkam anjing menggonggong dari seorang Yusuf Qaradhawi).”
Yang menunjukkan ketidak relaan seorang tokoh disebut seperti itu, ‘mutatis mutandis’ (menganalogikan tetapi nggak sama persis) dengan sikap masyarakat yang terlanjur menokohkan Mr X, sementara “Anda” membikin buku "Lidah terjulur dari Babi Hutan MR X".
Kalau saya diberi buku "Iskatul Kalbi Awi" secara gratis, maka akan saya bakar buku itu.
Mengapa? Sebab ia telah "membunuh ilmu dan Ummat".
Dia menodai kehormatan orang alim yang diakui di Dunia Islam dan menimbulkan fitnah besar di hati ummat Islam, terutama orang awam.
Kalau Al Qaradhawi tidak bernilai, tentu Kerajaan Saudi tidak akan memberikan King Faishal Award terhadap beliau. Apakah penulis "Iskatul Kalbi Awi" mendapatkan hadiah penghargaan serupa itu?
Bahkan dia keluar dari Saudi dalam keadaan tangannya dibelenggu, karena ada kasus serius dengan Universitas Madinah.
Masyayikh mengkoreksi berbagai tokoh menyimpang adalah karena kasih sayangnya kepada ummat sekaligus menjauhkan tokoh tsb dari beban dosa yang lebih besar. Begitu juga Anda, kalau sayang terhadap masyarakat dan menjauhkan Mr X dari dosa yang lebih besar, tentu akan mengingatkan mereka terhadap kejahatan Mr X.
Contoh Syaikh Shalih Fauzan menulis kritik terhadap buku Halal Haram Al Qaradhawi. Tetapi apakah beliau sampai menghancurkan kehormatan Al Qaradhawi? Itu levelnya debat ilmiah secara wajar, tidak menghalalkan kehormatan seorang Muslim/ulama.
Segenap ikhwah yang menasehati Anda (tentu tidak semuanya mengungkapkan aib yang nggak perlu kan?), tentu dalam kerangkan seperti itu. Jika ada kaum muslimin yang membaca tulisan Anda, bisa jadi akan berpikir buruk tentang da’wah salaf dan menjauhkan mereka dari da’wah salaf yang barokah. Tetapi tatkala mereka membaca bantahannya, bahwa data yang disampaikan Anda bias, kesalahan Anda dalam istilah ‘salafi yamani’ dsb, tentu mereka akan berpikir lain dan –semoga- justru makin mengenal bahwa da’wah salaf berlandaskan hujjah yang kuat dalam memahami diin ini.
Masyarakat itu tidak bodoh Mas. Mereka bisa bedakan, mana debat ilmiah, dan mana personal attacking.
Kalau Anda jujur, sebenarnya lahirnya tulisan-tulisan saya,
sebagian besar adalah MERESPON perilaku sesat teman-teman Anda itu.Coba saja Anda jujur menilai lagi, runut dari awal. Trus nanti jawab pertanyaan ini, apakah nasehat = fitnah atau mengungkap data-data pribadi di forum terbuka?
Anda katakan:
"Kalau disuruh memilih, apakah saya memilih Dr. Polan atau Syaikh Bin Baz atau Syaikh Utsaimin, saya akan memilih dua yang terakhir. Kalau disuruh memilih Dr. Polan dan Syaikh Abdullah bin Quud atau Syaikh Abdurrahman Jibrin, saya akan memilih dua yang terakhir. Kalau disuruh memilih antara Dr. Polan dengan Dr. Bakr Abu Zayd atau Dr. Abdul Karim 'Aql, saya akan memilih dua yang terakhir. "
“Apakah syaikh yang saya pilih itu bukan seorang ulama? Bahkan mereka Kibarul ulama”
Oh ya, mohon maaf, mungkin saya salah. Syaikh Rabi' itu anggota Hai'ahj Kibaril Ulama ya? Atau anggota Lajnah Da'imah ya? Atau misal, anggota Maj'ma' Fiqih Islami? Atau misal juga anggota Lajnah Fatwa Al Azhar ya? Ini cuma nanya aja sih, mungkin saya salah.
Nah saudaraku AMW, Anda memilih diantaranya Syaikh bin Baz dan Syaikh Utsaimin. Ada pertanyaan nih:
-Apakah Anda mengikuti pemahaman mereka dalam menilai sesat Salman dan Safar?
-Apakah Anda mengikuti Syaikh Utsaimin dalam mencela Safar dan Salman dimana mereka dinilai oleh beliau menyimpang dlm aqidah dlm masalah takfir?:
-Antara Dr Qaradhawi dan Syaikh Rabi’ siapa yang Anda pilih?:
-Antara Sayyid Quthb dan Syaikh Muqbil siapa yang Anda pilih?:
- Saya ada kajian tentang fatwa yang Anda anggap menyesatkan Safar dan Salman itu. Intinya, Anda cuma ikut-ikutan Luqman Ba'abduh. Itu saja!
- Coba Anda tunjukkan bukti pemikiran takfir Safar dan Salman! Atau coba buat postingan tersendiri. Jangan disini. Biar nanti semua bisa baca.
- Saya pilih Dr. Al Qaradhawi, meskipun tidak otomatis akan mengambil seluruh pendapat beliau. Pada bagian-bagian yang beliau dikoreksi, ya saya ikut kebenaran. Insya Allah.
- Saya pilih Sayyid Quthb dan mendoakan kebaikannya sebagai seorang pejuang Islam. Meskipun tidak lantas menelan semua karya-karya Sayyid Quthb. Ya, pada bagian yang lurus diambil, yang tidak, ditinggalkan.
Atau:
-Aqidahnya Sayyid Quthub (yang sebagian pemikirannya sudah dipaparkan di forum ini) dan aqidahnya Luqman Ba’abduh, mana yang akan lebih Anda ikuti? (saya nggak nyuruh mengikuti semua, Cuma mana yang lebih banyak diikuti).
Lho, Luqman Ba'abduh kan mengkafirkan Daulah Islamiyyah Turki Utsmani. Masak saya mau ikut yang seperti itu. Dia juga menyesatkan organisasi2 Islam di Indonesia, secara tak bertanggung-jawab. Masak ikut yang begitu.
Tapi jangan disebut juga saya ikut kesalahan-kesalahan Sayyid Quthb. Dimanapun, yang namanya kesalahan ya bukan untuk diikuti. Betul gak Mas?
-Pemahaman Qaradhawi (yang mengajak mencintai Yahudi dan Nashara, pendekatan berbagai agama, mencampur adukkan sufi-salafi dan syi’i-sunni dll) dengan pemilik blog fakta yang tidak berpemahaman seperti itu tetapi berusaha meniti agama ini sesuai jejak salafusshalih dan berusaha tunduk dengan apa yang datangf dari Kitabullah dan Sunnah Rasul dengan pemahaman salaful ummah, dari kedua orang itu mana yang lebih Anda cintai?:
Ya Allah, jangan bandingkan Al Qaradhawi dengan blog Fakta. Itu perbandingan yang zhalim.
Siapa bilang blog Fakta mengikuti Salafus Shalih, kali ikut Salaf yang salah ya (maksudnya, Khawarij yang menghalalkan kehormatan Muslim dan mengadu domba umat Islam).
Pada poin-poin yang Anda sebut itu, kalau benar, shahih, dan ilmiah, seperti itu. Jelas saya tidak setuju pandangan Al Qaradhawi. Tapi tidak lantas saya akan membuang semua kebaikan ilmiah dari karya-karya beliau. Itu tidak adil namanya.
Ingat lho, Syaikh Bin Baz pernah juga menyetujui perdamaian dengan Yahudi. Bahkan terakhir kemarin di Saudi ada konferensi antar agama-agama, termasuk Nashrani, bahkan disana hadir juga wakil Syi'ah. Apa karena itu lantas kita singkirkan semua kebaikan Saudi? Tentu tidak kan?
Saya tunggu jawaban Anda dari hati nurani…
Maaf, kalau jawaban saya kurang "bernurani". He he he.
Anda katakan:
“Syaikh Bin Baz memberi kata pengantar buku Salman Al 'Audah tentang 'uzlah', dan Syaikh Utsaimin memuji buku Safar Hawali tentang paham 'Asy'ariyah.”
Ini seperti pembelaan Abduh ZA thd Salman dan Safar. Jawabnya ada di buku “Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij” hal 303. Semoga AMW bisa membaca sendiri. Punya bukunya kan?
Saya baca sebagian tulisan soal MDMTK. Nafasnya sama, Ba'abduh seperti tidak sembuh-sembuh dari sakitnya. Moga Allah menyembuhkan dia. Amin.
Anda katakan:
“Anda itu berada di sebuah kelompok ta'asub, tapi tidak menyadarinya.
Masak hanya dengan diskusi bersama ustadz, seolah sudah selesai masalah? Anda harus juga mendengar dari orang lain, tidak hanya dari satu arah saja. Bahkan sebenarnya, hujjah yang tertulis itu lebih baik daripada hujjah lisan saja. “
Saya tidak katakan menyelesaikan masalah, tapi untuk lebih membuka pandangan Anda tentang salaf dan da’wah salaf. Bukan sekedar persepsi sendiri yang belum tentu benar. Kalau Anda terus menjaga jarak dan memberikan koreksi dengan keilmuan –yang Anda akui—sedikit dan tulisan yang kurang ilmiah, apa gunanya Anda sia-siakan hidup Anda:? Selama ini Anda ngajinya kemana?: Ke ustadz sapa? Apa yang Anda pelajari? Ataukah disibukkan mencari cela salafiyyin?
Saya itu menghadapi kelompok Anda dengan semangat seperti menghadapi JIL. Kelompok Anda itu termasuk firqah dhalalah, maka harus ada yang terus mengingatkan ummat Islam. Kalau semua pihak lepas tangan, nah semua kaum Muslimin akan berdosa.
Ingat, menjelaskan kesesatan itu termasuk jihad lho.
Anda katakan:
“Ya "menyayangi" dengan cara mengungkap aib-aib, membeberkan data-data pribadi, membuat opini sekenanya, memfitnah, tidak mau dialog terbuka, menolak komentar, dst.”
Saya tidak setuju dengan pembeberan aib pribadi. Pembeberan data pribadi mungkin sekedar pengungkapan siapa sebenarnya At Thalibi itu, karena Anda tadinya menyembunyikan diri. Tentang dialog, secara umum sebetulnya asaatidz mau dialog dengan orang yang mencari kebenaran atau orang yang mengkoreksi dengan hujjah ilmiah.
Ya, sebenarnya dari dulu kalau mau jawab buku saya, Anda sekalian sangat boleh. Itu hak Anda semua. Tapi kalau caranya personal attacking saya tak terima. Silakan saja Anda bantah seperti kebiasaan membantah pihak-pihak lain itu. Itu kan lebih gentle.
Kembali kepada rasa benci Anda kepada ikhwah salafiyyin karena berbagai masalah yang ada, cobalah sekali lagi disikapi dengan hati yang lapang. Jika ada pengungkapan aib pribadi (mis ahlak), saya juga tidak setuju. Terimalah koreksi atau nasehat yang sifatnya ilmiah (berdasarkan dalil), berikan juga koreksi dengan baik thd salafiyin.
Lho yang menasehati kelompok Anda itu kan sudah seabreg ya, banyak, ombyokan Mas.
Malah banyak dari mereka lebih bagus dari buku2 saya. Tapi apa hasilnya? Ada perubahan.
Trus saja Anda minta bukti, dalil ilmiah, hujjah, dst. Sampe kapan pun terus aja minta bukti/dalil/alasan, dst. Padahal sejatinya NGEYEL, lain tidak.
Kepada semuanya mohon maaf jika ada kesalahan. Semoga Allah menunjukki kita kepada jalan kebenaran, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam.Wallahu a’lam bisshawab.
Sama-sama mohon maaf. Amin. Alhamdulillah wa shallallah 'ala Rasulillah Muhammad wa 'ala alihi wa ashabih ajma'in. Wallahu a'lam bisshawaab.
Nasehat terakhir: JANGAN BERPURA PURA BERSIKAP LEMBUT, TAPI SEBENARNYA NGEYEL. SEBAB SAYA JUGA BANYAK KEWAJIBAN HARUS DITUNAIKAN. SYUKRAN.