Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Dakwah Salaf Dakwah Bijak, Menilai Kasus dalam Menilai Dakwah Salaf  (Dibaca 3578 kali)


Offline AMW

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2008
  • Tulisan: 137
  • Lokasi: Bandung
  • Sifat Rahmah & Karakter Integritas
    • Lihat Profil
    • LANGIT BIRU Inspirations
« Jawab #165 pada: 25 Juli 2008, 16:54:01 »
Alhamdulillah, wassholatu wassalaamu 'ala Rasulillah, wa 'ala alihi wa ashabihi wa man tabi'ahum bil ihsan ila yaumil Qiyamah.


Sebelum dijawab, saya ingin menegaskan bahwa jawaban ini adalah untuk kebaikan, bukan untuk debat kusir tanpa manfaat. Sebab saya merasa, banyak alasan-alasan yang saya kemukakan di bagian sebelum, dibiarkan begitu saja. Jadi kesannya, debat kusir tanpa akhir. Moga Allah memaafkan saya dan Antum sekalian jika berlebih-lebihan, amin.




Anda katakan: "...Saya rasa Anda tidak adil. Anda hanya menyalahkan saya karena memakai nama kunyah dan nisbah "At Thalibi". "

Saya tidak menyalahkan secara mutlak.  Hanya saja karena awalnya barangkali 'identitas' Anda gelap, sementara Anda 'mengkoreksi' banyak orang, akibatnya ada beberapa yang saling bertanya-tanya dan mencari siapa sih sebenarnya At Thalibi itu dan akhirnya memunculkan aib-aib Anda yang sebetulnya tidak perlu dimunculkan.  Lagi pula jika hendak mengkoreksi, banyak pengasuh ma'had yang insya Allah akan mau berdialog, yang dari sini akan lebih meningkatkan bobot tulisan Anda.  Tetapi kalau hanya pandangan sepihak yang belum tentu benar, data yang bias, mengutip dari TV dsb, tentu buku yang Anda tulis --selaris apapun-- kurang mempunyai bobot.



- Lho, apa Anda lupa bahwa Ja'far Thalib, Umar As Sewed, dkk. itu tadinya adalah orang-orang yang sangat banyak mengkoreksi kelompok Islam, organisasi Islam, lembaga Islam, media Islam, personal Muslim, dsb. ==> Mereka yang awalan membuat "asap", mengapa ketika ada yang balik mengkritisi mereka, ditanggapi dengan marah-marah dan memfitnah?

- Kalau Anda baca majalah Salafy, situs salafyu.or.id, apa mereka mau berdialog sebelum menyerang orang lain? Tolong jawab dong, jangan menghindar melulu!

- Quthbiyah Hiyal Fitnah, penulisnya sampai sekarang majhul. Kenapa Anda tidak kesal sama manusia "di balik cadar" itu (pinjam istilah kaum Khawarij).



Kutip
   
Beda kalau:
-Dari buku ustadz x di halaman sekian-sekian yang menyatakan.... yang hal ini menunjukkan salafi ekstrim itu begini-begini... bertentangan dengan manhaj salaf sebagaimana dalam kitab ini ini dst
-Dari rekaman dialog dengan ustadz x tgl sekian dikatakan bahwa.., sehingga ditinjau dari manhaj salaf sebagaimana dalam kitab ini dst.
-Dari seminar yang diadakan di ... ustadz Y menyatakan "Ustadz X layak dibunuh..." misalnya...,  maka pernyataan itu menunjukkan sikap ekstrim khawarij, sesuai dengan ciri-ciri khawarij dalam kitrab X dst
-Dll
Poin-poin diatas tentu dilakukan kalau mau terbuka dan mengenalkan diri.  Jika masukan ini tidak bisa diterima ya nda apa-apa.  Jika bisa diterima, saya akan berusaha membantu mencarikan ustadz yang mau berdialog dengan Anda.



Untuk tulisan-tulisan di MyQuran memang tidak dibuat detail, sebab tidak mungkin, tempatnya terbatas. Tapi DSDB I dan II, disana saya tunjukkan juga bukti-bukti dari tulisan mereka sendiri. Itu pun saya masih memiliki bahan tulisan lainnya.



Kutip

Anda katakan:
"Kebuasan kelompok Salafi Anda itu..."

Sebetulnya 'buas' atau tidak, keras atau lembut, hikmah atau enggak tergantung atas keilmuan dan cara pandang.  Anda tinggal membuktikan dengan ilmiah, jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan manhaj salaf tentu kita ingkari.  Jika ada penyimpangan di buku "Mereka Adalah Teroris" misalnya, sampaikan saja kepada penulisnya, seandainya apa yang Anda sampaikan benar tentu sehrusnya diterima.



- Lho, ini kan ada buktinya. Bukti lho, bukan asal mimpi. Fakta blogsome itu menurut Anda tidak buas ya? Dulu salafy.or.id juga begitu, kalau sekarang saya kurang tahu.

- Dalam buku MAT, Ba'abduh menyebut umat Islam di Turki dan Mesir sebagai musyrikun. Dia sesatkan semua lembaga Islam di Indonesia yang tidak mencocoki hawa nafsunya. Dia sebut lembaga-lembaga itu bukan Ahlus Sunnah. Ini tidak buas?   
   


Kutip

Anda katakan:
"Lho, kalau kasus kriminal, itu mudah kan memahaminya"

Saya sampaikan analogi kasus kriminal memang mudah dipahami.  Tapi juga perlu saya ingatkan bahwa tidak mesti seperti itu.  Betapa banyak tokoh-tokoh jahat (dalam masalah kriminal) tapi oleh masyarakat dianggap teladan?  Hal ini diantaranya karena pengaruh propaganda.



Mohon disebutkeun daripada bukti-bukti ilmihnya, disertai hujjah, dalil-dalil, atau semisal bukti rekaman pembicaraan dengan penjahat-penjahat daripada yang membahayakeun itu... (jadi ikut-ikutan meminta disebutkan dalil dan bukti-buktinya).

Just intermezzo!


Kutip

Nah, dalam masalah agama tentu lebih rumit dan para ulama lah yang banyak mengetahui.
Mr X dengan propagandanya mampu menipu masyarakat sehingga kejahatannya tidak nampak dan dia dianggap tokoh teladan, dermawan dsb.  Anggaplah misalnya keluarga Anda yang dirusak kehormatannya oleh MR X.  Tentu Anda akan berupaya keras menjaga masyarakat dari kejahatan MR X, bisa jadi akan membuat buku "Lidah terjulur dari Babi Hutan MR X".  Masyarakat umum tentu tidak bisa menerima buku Anda, kecuali yang mau mengkaji dengan ilmiah, karena dalam benak mereka MR X itu orang baik/tokoh.



- Maka itu Pak kita butuh bimbingan ulama. Sedang ulama itu tidak monopoli syaikh fulan atau syaiikh fulan saja. Ulama bisa di seluruh alam, sesuai spesifikasinya.

- Kalau ada kejahatan begitu, saya tak perlu njelimet nulis buku, tapi langsung saja lapor polisi, atau menuntut secara hukum. Kalau kami masih dizhalimi, kami akan berdoa memohon pertolongan Allah. Kesuwen pakai nulis buku untuk kasus seperti itu.



Kutip
   
Nah, terapkan analogi diatas untuk kasus yang Anda anggap kurang beradab.  Ketika ada ulama yang mengetahui besarnya penyimpangan Dr Polan, besarnya bahaya Dr Polan terhdap kehormatan agama, terhadap ancaman masuk neraka bagi yang menyimpang karena mengikuti pemahamannya, tentu kita bisa memahami kenapa begitu kerasnya ulama tersebut menulis buku yang memperingatkan penyimpangan Dr Polan, bisa jadi dengan menggelari gelar yang buruk (seperti Anda --dalam contoh diatas yang saya buat lho-- menggelari dengan Babi Hutan).
   


Ini saya balik, sebelum Anda menulis buku soal kejahatan "Babi Hutan", pernahkah Anda mau menyempatkan diri dialog dulu sama "Babi Hutan" itu.

Nah, hayo jujur saja, terapkan kaidah itu ke diri Anda sendiri. Sebab sejak awal Anda menuntut saya dalam soal itu.

Lagi pula, apa semua ulama, atau sebagian besar ulama di Dunia Islam ini, berpendapat sama terhadap Dr. Polan yang Anda katakan misalnya seperti "Babi Hutan" itu? Hayo jujur saja, jangan ngeles terus. Nanti nubruk tembok, lho. 


Kutip

Jika Anda sekarang tidak setuju dengan da'wah salaf yang banyak memperingatkan dari tokoh-tokoh yang menyimpang, misal Dr Polan, ya 'wajar' saja karena sebatas itu yang Anda ketahui tentang Dr Polan dan sebatas itu sikap baro' (berlepas diri) terhadap Dr Polan dan bisa jadi ada dalam hati Anda titik-titik kecintaan kepada Dr Polan karena syubhat yang ada.



Lho, memang di dunia ini yang tahu ilmu (maksudnya diberi ilmu oleh Allah), hanya syaikh Anda sendiri? Hanya ulama kelompok Anda? Hanya madrasah Anda ya?

Begitu kecilnya Anda mengartikan sumbangan ummat Islam lainnya.



Kutip

Maka pernyataan Anda dibagian akhir: “Ya, caranya dengan menulis Iskatul Kalbi Awi Yusuf Al Qaradhawi (membungkam anjing menggonggong dari seorang Yusuf Qaradhawi).”
Yang menunjukkan ketidak relaan seorang tokoh disebut seperti itu, ‘mutatis mutandis’  (menganalogikan tetapi nggak sama persis) dengan  sikap masyarakat yang terlanjur menokohkan Mr X, sementara “Anda” membikin buku  "Lidah terjulur dari Babi Hutan MR X".


Kalau saya diberi buku "Iskatul Kalbi Awi" secara gratis, maka akan saya bakar buku itu.


Mengapa? Sebab ia telah "membunuh ilmu dan Ummat".

Dia menodai kehormatan orang alim yang diakui di Dunia Islam dan menimbulkan fitnah besar di hati ummat Islam, terutama orang awam.

Kalau Al Qaradhawi tidak bernilai, tentu Kerajaan Saudi tidak akan memberikan King Faishal Award terhadap beliau. Apakah penulis "Iskatul Kalbi Awi" mendapatkan hadiah penghargaan serupa itu? Bahkan dia keluar dari Saudi dalam keadaan tangannya dibelenggu, karena ada kasus serius dengan Universitas Madinah. 



Kutip

Masyayikh mengkoreksi berbagai tokoh menyimpang adalah karena kasih sayangnya kepada ummat sekaligus menjauhkan tokoh tsb dari beban dosa yang lebih besar.  Begitu juga Anda, kalau sayang terhadap masyarakat dan menjauhkan Mr X dari dosa yang lebih besar, tentu akan mengingatkan mereka terhadap kejahatan Mr X.



Contoh Syaikh Shalih Fauzan menulis kritik terhadap buku Halal Haram Al Qaradhawi. Tetapi apakah beliau sampai menghancurkan kehormatan Al Qaradhawi? Itu levelnya debat ilmiah secara wajar, tidak menghalalkan kehormatan seorang Muslim/ulama.



Kutip
   
Segenap ikhwah yang menasehati Anda (tentu tidak semuanya mengungkapkan aib yang nggak perlu kan?), tentu dalam kerangkan seperti itu.  Jika ada kaum muslimin yang membaca tulisan Anda, bisa jadi akan berpikir buruk tentang da’wah salaf dan menjauhkan mereka dari da’wah salaf yang barokah. Tetapi tatkala mereka membaca bantahannya, bahwa data yang disampaikan Anda bias, kesalahan Anda dalam istilah ‘salafi yamani’ dsb, tentu mereka akan berpikir lain dan –semoga- justru makin mengenal bahwa da’wah salaf berlandaskan hujjah yang kuat dalam memahami diin ini.



Masyarakat itu tidak bodoh Mas. Mereka bisa bedakan, mana debat ilmiah, dan mana personal attacking.

Kalau Anda jujur, sebenarnya lahirnya tulisan-tulisan saya, sebagian besar adalah MERESPON perilaku sesat teman-teman Anda itu.

Coba saja Anda jujur menilai lagi, runut dari awal. Trus nanti jawab pertanyaan ini, apakah nasehat = fitnah atau mengungkap data-data pribadi di forum terbuka? 

Kutip

Anda katakan:
"Kalau disuruh memilih, apakah saya memilih Dr. Polan atau Syaikh Bin Baz atau Syaikh Utsaimin, saya akan memilih dua yang terakhir. Kalau disuruh memilih Dr. Polan dan Syaikh Abdullah bin Quud atau Syaikh Abdurrahman Jibrin, saya akan memilih dua yang terakhir. Kalau disuruh memilih antara Dr. Polan dengan Dr. Bakr Abu Zayd atau Dr. Abdul Karim 'Aql, saya akan memilih dua yang terakhir. "

“Apakah syaikh yang saya pilih itu bukan seorang ulama? Bahkan mereka Kibarul ulama”



Oh ya, mohon maaf, mungkin saya salah. Syaikh Rabi' itu anggota Hai'ahj Kibaril Ulama ya? Atau anggota Lajnah Da'imah ya? Atau misal, anggota Maj'ma' Fiqih Islami? Atau misal juga anggota Lajnah Fatwa Al Azhar ya? Ini cuma nanya aja sih, mungkin saya salah.


Kutip

Nah saudaraku AMW, Anda memilih diantaranya Syaikh bin Baz dan Syaikh Utsaimin.  Ada pertanyaan nih:
-Apakah Anda mengikuti pemahaman mereka dalam menilai sesat Salman dan Safar?
-Apakah Anda mengikuti Syaikh Utsaimin dalam mencela Safar dan Salman dimana mereka dinilai oleh beliau menyimpang dlm aqidah dlm masalah takfir?:
-Antara Dr Qaradhawi dan Syaikh Rabi’ siapa yang Anda pilih?:
-Antara Sayyid Quthb dan Syaikh Muqbil siapa yang Anda pilih?:



- Saya ada kajian tentang fatwa yang Anda anggap menyesatkan Safar dan Salman itu. Intinya, Anda cuma ikut-ikutan Luqman Ba'abduh. Itu saja!

- Coba Anda tunjukkan bukti pemikiran takfir Safar dan Salman! Atau coba buat postingan tersendiri. Jangan disini. Biar nanti semua bisa baca.

- Saya pilih Dr. Al Qaradhawi, meskipun tidak otomatis akan mengambil seluruh pendapat beliau. Pada bagian-bagian yang beliau dikoreksi, ya saya ikut kebenaran. Insya Allah.

- Saya pilih Sayyid Quthb dan mendoakan kebaikannya sebagai seorang pejuang Islam. Meskipun tidak lantas menelan semua karya-karya Sayyid Quthb. Ya, pada bagian yang lurus diambil, yang tidak, ditinggalkan.



Kutip

Atau:
-Aqidahnya Sayyid Quthub (yang sebagian pemikirannya sudah dipaparkan di forum ini) dan aqidahnya Luqman Ba’abduh, mana yang akan lebih Anda ikuti? (saya nggak nyuruh mengikuti semua, Cuma mana yang lebih banyak diikuti).



Lho, Luqman Ba'abduh kan mengkafirkan Daulah Islamiyyah Turki Utsmani. Masak saya mau ikut yang seperti itu. Dia juga menyesatkan organisasi2 Islam di Indonesia, secara tak bertanggung-jawab. Masak ikut yang begitu.

Tapi jangan disebut juga saya ikut kesalahan-kesalahan Sayyid Quthb. Dimanapun, yang namanya kesalahan ya bukan untuk diikuti. Betul gak Mas?



Kutip

-Pemahaman Qaradhawi (yang mengajak mencintai Yahudi dan Nashara, pendekatan berbagai agama, mencampur adukkan sufi-salafi dan syi’i-sunni dll) dengan pemilik blog fakta yang tidak berpemahaman seperti itu tetapi berusaha meniti agama ini sesuai jejak salafusshalih dan berusaha tunduk dengan apa yang datangf dari Kitabullah dan Sunnah Rasul dengan pemahaman salaful ummah, dari kedua orang itu mana yang lebih Anda cintai?:



Ya Allah, jangan bandingkan Al Qaradhawi dengan blog Fakta. Itu perbandingan yang zhalim.

Siapa bilang blog Fakta mengikuti Salafus Shalih, kali ikut Salaf yang salah ya (maksudnya, Khawarij yang menghalalkan kehormatan Muslim dan mengadu domba umat Islam).

Pada poin-poin yang Anda sebut itu, kalau benar, shahih, dan ilmiah, seperti itu. Jelas saya tidak setuju pandangan Al Qaradhawi. Tapi tidak lantas saya akan membuang semua kebaikan ilmiah dari karya-karya beliau. Itu tidak adil namanya.

Ingat lho, Syaikh Bin Baz pernah juga menyetujui perdamaian dengan Yahudi. Bahkan terakhir kemarin di Saudi ada konferensi antar agama-agama, termasuk Nashrani, bahkan disana hadir juga wakil Syi'ah. Apa karena itu lantas kita singkirkan semua kebaikan Saudi? Tentu tidak kan?


Kutip
Saya tunggu jawaban Anda dari hati nurani…


Maaf, kalau jawaban saya kurang "bernurani". He he he.



Kutip

Anda katakan:
“Syaikh Bin Baz memberi kata pengantar buku Salman Al 'Audah tentang 'uzlah', dan Syaikh Utsaimin memuji buku Safar Hawali tentang paham 'Asy'ariyah.”

Ini seperti pembelaan Abduh ZA thd Salman dan Safar.  Jawabnya ada di buku “Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij” hal 303.  Semoga AMW bisa membaca sendiri.  Punya bukunya kan?



Saya baca sebagian tulisan soal MDMTK. Nafasnya sama, Ba'abduh seperti tidak sembuh-sembuh dari sakitnya. Moga Allah menyembuhkan dia. Amin.



Kutip

Anda katakan:
“Anda itu berada di sebuah kelompok ta'asub, tapi tidak menyadarinya.
Masak hanya dengan diskusi bersama ustadz, seolah sudah selesai masalah? Anda harus juga mendengar dari orang lain, tidak hanya dari satu arah saja. Bahkan sebenarnya, hujjah yang tertulis itu lebih baik daripada hujjah lisan saja. “

Saya tidak katakan menyelesaikan masalah, tapi untuk lebih membuka pandangan Anda tentang salaf dan da’wah salaf.  Bukan sekedar persepsi sendiri yang belum tentu benar.  Kalau Anda terus menjaga jarak dan memberikan koreksi dengan keilmuan –yang Anda akui—sedikit dan tulisan yang kurang ilmiah, apa gunanya Anda sia-siakan hidup Anda:?  Selama ini Anda ngajinya kemana?:  Ke ustadz sapa?  Apa yang Anda pelajari?  Ataukah disibukkan mencari cela salafiyyin?



Saya itu menghadapi kelompok Anda dengan semangat seperti menghadapi JIL. Kelompok Anda itu termasuk firqah dhalalah, maka harus ada yang terus mengingatkan ummat Islam. Kalau semua pihak lepas tangan, nah semua kaum Muslimin akan berdosa.

Ingat, menjelaskan kesesatan itu termasuk jihad lho.


Kutip

Anda katakan:
“Ya "menyayangi" dengan cara mengungkap aib-aib, membeberkan data-data pribadi, membuat opini sekenanya, memfitnah, tidak mau dialog terbuka, menolak komentar, dst.”

Saya tidak setuju dengan pembeberan aib pribadi.  Pembeberan data pribadi mungkin sekedar pengungkapan siapa sebenarnya At Thalibi itu, karena Anda tadinya menyembunyikan diri.  Tentang dialog, secara umum sebetulnya asaatidz mau dialog dengan orang yang mencari kebenaran atau orang yang mengkoreksi dengan hujjah ilmiah.



Ya, sebenarnya dari dulu kalau mau jawab buku saya, Anda sekalian sangat boleh. Itu hak Anda semua. Tapi kalau caranya personal attacking saya tak terima. Silakan saja Anda bantah seperti kebiasaan membantah pihak-pihak lain itu. Itu kan lebih gentle.   



Kutip

Kembali kepada rasa benci Anda kepada ikhwah salafiyyin karena berbagai masalah yang ada, cobalah sekali lagi disikapi dengan hati yang lapang.  Jika ada pengungkapan aib pribadi (mis ahlak), saya juga tidak setuju.   Terimalah koreksi atau nasehat yang sifatnya ilmiah (berdasarkan dalil), berikan juga koreksi dengan baik thd salafiyin.



Lho yang menasehati kelompok Anda itu kan sudah seabreg ya, banyak, ombyokan Mas.

Malah banyak dari mereka lebih bagus dari buku2 saya. Tapi apa hasilnya? Ada perubahan.

Trus saja Anda minta bukti, dalil ilmiah, hujjah, dst. Sampe kapan pun terus aja minta bukti/dalil/alasan, dst. Padahal sejatinya NGEYEL, lain tidak.



Kutip

Kepada semuanya mohon maaf jika ada kesalahan.  Semoga Allah menunjukki kita kepada jalan kebenaran, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam.Wallahu a’lam bisshawab.



Sama-sama mohon maaf. Amin. Alhamdulillah wa shallallah 'ala Rasulillah Muhammad wa 'ala alihi wa ashabih ajma'in. Wallahu a'lam bisshawaab.


Nasehat terakhir: JANGAN BERPURA PURA BERSIKAP LEMBUT, TAPI SEBENARNYA NGEYEL. SEBAB SAYA JUGA BANYAK KEWAJIBAN HARUS DITUNAIKAN. SYUKRAN.













 
LANGIT BIRU Inspirations ====> http://abisyakir.wordpress.com.

AT THARIQAH: Mengikuti pendapat yang paling benar (rajih) menurut Al Qur'an dan As Sunnah, tidak peduli dari arah manapun datangnya.

Offline e0d0i

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2008
  • Tulisan: 972
    • Lihat Profil
    • FAHAM
« Jawab #166 pada: 25 Juli 2008, 20:39:46 »
Saya sampaikan analogi kasus kriminal memang mudah dipahami.  Tapi juga perlu saya ingatkan bahwa tidak mesti seperti itu. 

Mas ... menyebarluaskan data pribadi orang ke Internet itu KRIMINAL.
Coba sekolah lagi yang bener ....   ^-^

Betapa banyak tokoh-tokoh jahat (dalam masalah kriminal) tapi oleh masyarakat dianggap teladan?

Maksudnya, pemilik blog fakta ?   :hihi:

Dapatkan e-book: "Islam, Pemilu dan Demokrasi  (Sebuah Antitesis Atas Pemikiran Kelompok Salafy)" di:
http://faham.wordpress.com/salafy-dan-politik/

Offline abie1102

  • Moderator
  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 8.361
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • isyhadu bi anna muslimun
    • Lihat Profil
« Jawab #167 pada: 28 Juli 2008, 10:54:01 »
abu haidar ...

Post antum itu terlihat manis, tapi dustanya juga ga ketulungan. Mulai dari fitnah 'tidak diajarkannya tauhid asma wa sifat di jamaah tarbiyah alasan memecah belah' sampai 'ajakan qardhawy mencampuradukkan syiah-sunni'. Antum itu baca artikel asal dari kelompok antum ditelen aja bulet bulet. Mo itu udah disanggah, mo udah diklarifikasi di digimanain kelompok antum emang maunya tutup mata-telinga.

Yang bener aja ngebanggain ust. Luqman??  :malu: tahun 2006 lalu, di jember, buletin produk ma'hadnya (buletin al ilmu) bikin geram warga NU. Eh, diajak dialog ma PCNU jember ogah, diajak dialog ilmiah ma tim bahtsul masail jember juga ogah. Baru setelah dilaporin ke FKUB (forum kerukunan umat beragama) baru deh minta maap. Eh, beberapa tahun kemudian bikin MDMTK, ditantangin dialog ilmiah kebanyakan alesan. Mintanya di'moderatori' syaikh Rabi'. Ampun dah ... ilmiah banget gitu loh!!!  :malu:

Offline SPIONASE

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 392
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hentikan pembodohan terhadap rakyat!
    • Lihat Profil
« Jawab #168 pada: 28 Juli 2008, 13:22:17 »
Kalo udah tahu kayak gitu ya mestinya nggak usah ditantangin dialog ilmiah. Laporin aja ke FKUB lagi biar minta maap lagi
Gitu seterusnya tiap ust Luqman bikin heboh lagi nggak perlu tantang debat ilmiah
Lebih praktis dan ekonomis laporin langsung ke FKUB
Setuju bro?
Bang-bang tut akar kolang-kaling Siapa yang kentut ditembak raja maling  Bang-bang tut akar trembesi Siapa bikin ribut boleh dieksekusi

Offline Abu Haidar Mohammad

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 299
    • Lihat Profil
« Jawab #169 pada: 28 Juli 2008, 21:17:52 »
Alhamdulillah, washolatu wassalaamu'ala Rasulillah, wa 'ala alihi wa ashabihi wa man tabi'ahum bil ikhsan.

Jazakumullah khoer atas segala perhatiannya, semoga diskusi ini lebih memahamkan kita atas da'wah salaf yang penuh dengan barokah dan semoga kita bisa mengambil banyak manfaat darinya.  Terkhusus buat AMW, semoga ditengah kesibukannya   tetap berkenan menanggapi apa yang saya sampaikan, mengingat ada titik-titik terang yang menunjukkan kesalahan Anda dalam beragama yang perlu diperbaiki.

Untuk Akh Edi, semoga Allah Ta'ala membimbing Anda, saya dan kita semua.
Tentang pernyataan saya bahwa Anda belum memahami da'wah salaf, ya memang seperti itu.  Jika Anda memahami da'wah yang dibawa oleh asaatidz salafi yang membawa da'wah salaf (da'wah yang sebagaimana disampaikan oleh para pendahulu yang shalih), tentu tidak akan berkesimpulan bahwa mereka mengajak kepada 'kelompok' sebagaimana makna 'kelompok' yang ada dalam hizb seperti IM atau HT.  Sebab da'wah salaf menyeru kepada kitabullah dan sunnah rasul dengan pemahaman salafusshalih. 

Buat Akh Gaza, semoga Allah Ta'ala melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda, saya dan kita semua.  Anda katakan:
"mas ini namanya penggiringan opini.. alias Maksain.... alurnya kayak gini niih...
DR. Yusuf Qaradhawi : jelek, rusak, HIZBY, Gak Nyunnah, campur aduk dlll (yang jelek-jelek daaahhh... )
pemilik Blog Fakta = Salafi sejati, nyunnah, tunduk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul dan banyak lagi predikat mulia untuk sang pemilik blog fakta.. (btw kayaknye ente kenal akrab nih sama pemilik blog fakta.. salam yee buat beliau  )

setelah itu @AMW di suruh milih mana..?? ampuuun deh tipikal sekali pembelaannya terhadap sesama kawan hizbnya sendiri...

trus ngasih contohnye sayyid quthb en yusuf qaradhawi dengan alasan dah dikenal.. pembandingnye  Lukman Ba'abduh ame pemilik Blog fakta 
... lah emang siapa sih lukman baabduh.. atau pemilik blog fakta yang szuper dupper majhul itu..??  "

Jawab:
Perhatikan 'penggiringan opini' yang saya lakukan:
-Dr Qaradhawi mempunyai banyak pemahaman yang menyimpang sebagaimana sudah saya sebutkan.
-Pemilik blog fakta, saya berhusnudzan bahwa dia tidak mempunyai pandangan seperti Dr Qaradhawi itu, tetapi ingat: Saya tidak menyatakan dia sebagai salafi sejati dan bahasa tambahan dari akh gaza yang ‘menggiring opini’ bahwa pemilik blog fakta adalah ‘sosok mulia pengikut sunnah’, saya hanya mengatakan bahwa pemilik blog fakta hanya sosok pribadi yang berusaha mengikuti jejak salafusshalih dengan keadaan pribadi yang mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Disini saya hanya mengajak untuk menilai dari pemahamannya akan hal pokok yang menyimpang.  Seseorang yang terkena syubhat Dr Qaradhawi, bisa jadi dia akan mencintai Yahudi dan Nasrani, menyatukan syi'ah dan sunni, mengagungkan penulis rasionalis dll dari penyimpangan agama yang sangat besar.  Tetapi kalau terkena 'syubhat' pemilik blog fakta akan jadi apa dan dalam hal apa?  Jadi orang yang ‘garang’ terhadap pemahaman menyimpang dan kuat memegang al haq?  Lebih besar mana penyimpangannya?  Anda juga bisa melihat jawaban dari AMW bahwa walaupun sudah saya 'giring', tetapi milihnya ya tetap Dr Qaradhawi...  Anda baca saja bahasan lanjutan ini.

Kepada Saudaraku AMW, semoga Allah Ta'ala memberikan petunjuknya kepada Anda, saya dan kita semua.  Di awal Anda katakan:
"Sebelum dijawab, saya ingin menegaskan bahwa jawaban ini adalah untuk kebaikan, bukan untuk debat kusir tanpa manfaat"  dst.

Jawab: Betul, dan saya juga tidak berharap menjadi debat yang tiada manfaat.  Tetapi sebagaiamana di awal saya katakan dalam rangka menunjukkan kekurangtepatan pemahaman agama Anda.  Jika ada yang perlu saya komentari/jawab tetapi belum saya jawab tinggal sampaikan saja.

Anda katakan:"- Lho, apa Anda lupa bahwa Ja'far Thalib, Umar As Sewed, dkk. itu tadinya adalah orang-orang yang sangat banyak mengkoreksi kelompok Islam, organisasi Islam, lembaga Islam, media Islam, personal Muslim, dsb. ==> Mereka yang awalan membuat "asap", mengapa ketika ada yang balik mengkritisi mereka, ditanggapi dengan marah-marah dan memfitnah? "

Jawab: Tidak salah kalau berusaha mengkritisi atau memberikan kritik konstruktif.  Tidak tepat kalau ada sikap marah-marah dan terus memfitnah (maksudnya berdusta?) ketika diberikan masukan kebaikan padanya.  Bisa jadi ada yang marah karena kritikan Anda nggak ilmiah, nggak valid dan bias.  Makanya saya memberikan masukan kalau Anda ingin mengkritisi ya sampaikan dengan poin-poin yang sudah saya sampaikan, bukan memakai data yang bias, apalagi sambil ndengerin TV.  Kalau Anda tidak mau ya sudah, kritik Anda menjadi sangat lemah, justru menunjukkan kekurangpahaman Anda terhadap salaf...  Lihat saja dalam masalah larangan menyebut diri menjadi salafi, istilah salafi yamani dan salafi haraki, itu bikinan Anda kan?:

Anda katakan:
"Kalau Anda baca majalah Salafy, situs salafyu.or.id, apa mereka mau berdialog sebelum menyerang orang lain? Tolong jawab dong, jangan menghindar melulu!"

Jawab: Sudah saya katakan bahwa sarana untuk ilmiahnya tulisan banyak, dialog salah satunya.   Bukan berarti harus dialog dulu sebelum menilai kelompok lain.  Silakan dinilai tulisan asaatidz salafi, ilmiah dengan hujjah enggak?  Syaikh Albany pernah berdialog dengan anggota HT, dan ini menunjukkan penyimpangan HT yang mengedepankan akal.  Ini contoh dialog yang pernah dilakukan.  Artinya jika Antum bisa seperti itu tentu bagus.  Saya sampaikan urgensi dialog bagi Anda, sekali lagi, bukan keharusan mutlak tetapi guna meningkatkan kualitas penilaian Anda.  Kalau dalam catatan pengalaman pribadi Anda bisa berdialog dengan mantan anggota Laskar Jihad, kenapa nggak dengan ustadznya saja?  Ini kalau mau lho.  Kalau enggak, saya takut buku Anda akan menjadi saksi sejarah betapa buruk pemahaman Anda akan Islam dan dakwah Islam yang akan terus dikenang oleh anak cucu Anda sepanjang zaman.  Apa nggak takut kalau anak atau cucu Anda ada yang mendapat hidayah dan mengikuti majelisnya “Kibarul Ulama” yang Anda dukung (katakanlah majelisnya murid Syaikh bin Baz, saya nggak nyebut salafi di Indonesia lho…), lalu membaca buku Anda, dan berkata,”Waduh, mbah Joko kok pemahamannya kayak gini ya…”.

Anda katakan:
“- Quthbiyah Hiyal Fitnah, penulisnya sampai sekarang majhul. Kenapa Anda tidak kesal sama manusia "di balik cadar" itu (pinjam istilah kaum Khawarij).”

Jawab: Terus terang saya nggak tahu tentang masalah diatas.  Apa memang kemajhulannya menjadi masalah?  Kalau memang data yang disampaikan oleh sang penulis ‘nyomot’ dari TV, berdialog dengan Quthbiyin awam, data-data yang bias dan nda’ jelas, mungkin bisa jadi masalah.  Tetapi kalau tulisannya dengan data yang valid, berbobot dan ilmiah tentunya nggak apa-apa, walaupun –menurut saya—tetap lebih baik menampilkan identitas dirinya.

Anda katakan:
“- Lho, ini kan ada buktinya. Bukti lho, bukan asal mimpi. Fakta blogsome itu menurut Anda tidak buas ya? Dulu salafy.or.id juga begitu, kalau sekarang saya kurang tahu.

- Dalam buku MAT, Ba'abduh menyebut umat Islam di Turki dan Mesir sebagai musyrikun. Dia sesatkan semua lembaga Islam di Indonesia yang tidak mencocoki hawa nafsunya. Dia sebut lembaga-lembaga itu bukan Ahlus Sunnah. Ini tidak buas? “

Jawab: Tentang blog fakta, jika memang banyak kesalahannya dalam menilai ya kita katakan itu kesalahan.  Kalau memang banyak kesalahannya dalam cara dia menyampaikan kebenaran, kita katakan itu kesalahan dalam cara (termasuk bahasa).  Kita sendiri sudah ‘menyalahi’ aturan pemilik blog fakta bagi pembaca tulisannya yaitu dilarang mendiskusikan tulisannya yang bahasanya apa adanya tidak diperhalus.  Blog fakta tidak mewakili salafi.  Nilailah apa adanya dengan obyektif. 
Tentang Ust Luqman, kalau memang benar dia nyatakan bahwa ummat Islam di Turki dan Mesir sebagai musyrikin, tentu ini sebuah pandangan yang keliru.  Di halaman berapa?  Atau barangkali Anda yang memahaminya seperti itu?  Seseorang hendaknya juga dinilai dari apa yang selama ini di da’wahkan.  Ust Luqman dari rekaman kajian-kajiannya dan tulisannya melarang mengikuti faham khawarij, larangan menggampangkan dalam mengkafirkan dsb yang amat bertentangan dengan pernyataan beliau bahwa ummat Islam di Turki dan Mesir sebagai musyrikin.  Tapi sekali lagi, jika memang benar seperti itu (keliru dalam menghukumi) ya kita sampaikan padanya ketergelincirannya ini.
Hal ini tentu berbeda dengan seorang da’I yang dalam banyak tulisannya mengkafirkan pemerintah dan masyarakat muslim, ketika dipenjara mengobarkan semangat itu kepada para pemuda dan banyak yang mengikutinya…. Ini tentunya berbeda dengan Ust Luqman. Murid-muridnya atau orang yang mengikuti kajiannya tidak akan gampangbegitu saja mensyirikan atau mengkafirkan, justru banyak kaidah-kaidah yang harus dipenuhi dalam penilaian itu… Semoga bisa dipahami.


Anda katakan (biar jelas sekaligus kutipannya):
“Kutip

Nah, dalam masalah agama tentu lebih rumit dan para ulama lah yang banyak mengetahui.
Mr X dengan propagandanya mampu menipu masyarakat sehingga kejahatannya tidak nampak dan dia dianggap tokoh teladan, dermawan dsb.  Anggaplah misalnya keluarga Anda yang dirusak kehormatannya oleh MR X.  Tentu Anda akan berupaya keras menjaga masyarakat dari kejahatan MR X, bisa jadi akan membuat buku "Lidah terjulur dari Babi Hutan MR X".  Masyarakat umum tentu tidak bisa menerima buku Anda, kecuali yang mau mengkaji dengan ilmiah, karena dalam benak mereka MR X itu orang baik/tokoh.



- Maka itu Pak kita butuh bimbingan ulama. Sedang ulama itu tidak monopoli syaikh fulan atau syaiikh fulan saja. Ulama bisa di seluruh alam, sesuai spesifikasinya. “

Jawab: Ulama tidak monopoli syaikh fulan saja, ini benar, tetapi bagaimana Anda akan bisa menilai kesesatan tokoh pujaan Anda kalau –misalnya saja—diberi buku gratis yang menyebutkan penyimpangan tokoh tersebut Anda membakarnya? 
Sekarang coba carikan buku-bukunya Dr Qaradhawi yang menjelaskan penyimpangan Hasan Al Banna, Sayyid Quthub, kesalahan model da’wah Ikhwanul Muslimin yang mengarahkan kepada hizbiyyah dll, ada nggak?  Maka pernyataan Anda “butuh bimbingan ulama” nampaknya akan Anda tolak sendiri.  Sebab, ketika datang seseorang menyodorkan buku yang menyebutkan penyimpangan sang tokoh Anda akan menilainya sebagai buas, tidak beradab, pembunuhan karakter dsb.

Anda katakan: “- Kalau ada kejahatan begitu, saya tak perlu njelimet nulis buku, tapi langsung saja lapor polisi, atau menuntut secara hukum. Kalau kami masih dizhalimi, kami akan berdoa memohon pertolongan Allah. Kesuwen pakai nulis buku untuk kasus seperti itu.”

Jawab: Lapor polisi gimana pak? Kan sudah saya sampaikan buku-buku yang membela Mr X banyak, opini sudah terbentuk bahwa Mr X orang baik, dermawan, dan santun.  Kalau Anda lapor polisi, nanti malah diketawain (mungkin maaf—dikentutin).  Sama seperti orang kayak saya misalnya, datang ke markas PKS terus bilang,”Dr Qaradhawi itu orang yang begini-begini pemahamannya…”, mungkin akan di ‘dupak’. 
Maka sebagai tanggung jawab ilmiah, Anda –mungkin dengan hati sedih—akan membuat buku ilmiah rinci penyimpangan2 Mr X.  Biar lebih tegas Anda memberi judul dengan embel-embel ‘babi hutan’.  Nah sekarang, jika ada ulama yang membuat buku yang menjelaskan penyimpangan Dr Polan misalnya, disebutkan dengan ilmiah bukti2 penyimpangannya, dijelaskan dengan ilmiah sisi penyimpangannya dari apa yang dipahami oleh generasi terbaik Islam (saya nggak nyebut salafi, nanti salafinya yang disalahkan),kenapa kita harus gerah dan menyebutnya buas? 

Offline Abu Haidar Mohammad

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 299
    • Lihat Profil
« Jawab #170 pada: 28 Juli 2008, 21:18:32 »

Anda katakan: “Ini saya balik, sebelum Anda menulis buku soal kejahatan "Babi Hutan", pernahkah Anda mau menyempatkan diri dialog dulu sama "Babi Hutan" itu.

Nah, hayo jujur saja, terapkan kaidah itu ke diri Anda sendiri. Sebab sejak awal Anda menuntut saya dalam soal itu.”

Jawab: Diatas sudah dijelaskan bahwa dialog adalah salah satu sarana untuk menguatkan hujjah kita.  Dalam konteks “Babi Hutan Mr X”, jika Anda menulisnya dengan cara:
-saya liat di TV Mr X lagi begini begini
-kata seseorang di sebuah tempat yang cukup terkenal bersama beberapa orang yang sudah tidak asing lagi saya melihat sosok Mr X berada di sebuah tempat tertentu membawa seabreg barang-barang yang diminati oleh orang banyak…
-Mr X anaknya 6 orang (padahal yang benar 12 orang misalnya)
-Mr X pergi ke bar tanggal 29 Februari, padahal yang benar 28 februari misalnya,
-Dari dialog dengan pembantunya dst (kenapa harus dengan pembantunya padahal Mr X sangat terbuka, tiap sore menggelar acara ‘minum kopi bareng’  misalnya…)

Dengan cara diatas, para pembaca akan melihat data yang bias, nggak valid, nggak jelas.  Tetapi kalau Anda menerangkan dengan ilmiah, data-data yang jelas, tentu orang akan menerimanya. 

Anda katakan: “Lagi pula, apa semua ulama, atau sebagian besar ulama di Dunia Islam ini, berpendapat sama terhadap Dr. Polan yang Anda katakan misalnya seperti "Babi Hutan" itu? Hayo jujur saja, jangan ngeles terus. Nanti nubruk tembok, lho”

Saya jawab:  Kita berislam dan menghukumi benar atau salah bukan berdasarkan seberapa banyak ulama yang menyatakannya, apalagi ulama atau lebih tepatnya tokoh-tokoh agama jaman sekarang.  Seandainya dikumpulkan seluruh ulama dan tokoh Islam, kemudian sembilan puluh persen menghukumi Sayyid Quthb sebagai ulama yang pantas diambil ilmunya dan diteladani sebagai pejuang Islam, diberi gelar as syahid, apakah akan kita hukumi seperti itu sekalipun ada ulama yang memberikan data, fakta, dan bukti-bukti ilmiah penyimpangannya, pengaruh buruknya terhadap para pemuda dan penyelisihannya terhadap pemahaman generasi terbaik Islam?   Weleh-weleh, jangan semata ikuti kebanyakan manusia lho.

Pernyataan Anda dan kutipannya:” Kutip

Jika Anda sekarang tidak setuju dengan da'wah salaf yang banyak memperingatkan dari tokoh-tokoh yang menyimpang, misal Dr Polan, ya 'wajar' saja karena sebatas itu yang Anda ketahui tentang Dr Polan dan sebatas itu sikap baro' (berlepas diri) terhadap Dr Polan dan bisa jadi ada dalam hati Anda titik-titik kecintaan kepada Dr Polan karena syubhat yang ada.

--------
Lho, memang di dunia ini yang tahu ilmu (maksudnya diberi ilmu oleh Allah), hanya syaikh Anda sendiri? Hanya ulama kelompok Anda? Hanya madrasah Anda ya?

Begitu kecilnya Anda mengartikan sumbangan ummat Islam lainnya.”

Jawab: Nampaknya nggak nyambung ya.  Kalau Anda punya argumen lain bahwa sesungguhnya Sayyid Quthb itu pemahamannya benar misalnya, tinggal sampaikan saja.

Anda katakan:
“Kalau saya diberi buku "Iskatul Kalbi Awi" secara gratis, maka akan saya bakar buku itu.


Mengapa? Sebab ia telah "membunuh ilmu dan Ummat".

Dia menodai kehormatan orang alim yang diakui di Dunia Islam dan menimbulkan fitnah besar di hati ummat Islam, terutama orang awam.

Kalau Al Qaradhawi tidak bernilai, tentu Kerajaan Saudi tidak akan memberikan King Faishal Award terhadap beliau. Apakah penulis "Iskatul Kalbi Awi" mendapatkan hadiah penghargaan serupa itu? Bahkan dia keluar dari Saudi dalam keadaan tangannya dibelenggu, karena ada kasus serius dengan Universitas Madinah. “

Jawab: Nah inilah contoh kejujuran Anda yang menunjukkan kecintaan berlebihan kepada Dr Qaradhawi dan menutup mata dari kritik terhadapnya.  Gimana Anda tahu penyimpangan Dr Qaradhawi kalau belum-belum udah dibakar?   Padahal buku itu ditulis oleh orang yang dipuji oleh “ulama pilihan Anda (Syaikh bin Baz dan Syaikh Utsaimin)” sebagai ulama dari Yaman.  Maka disini Anda bersikap mendua.  Dalam bahasan awal memilih Syaikh bin Baz dan Syaikh ‘Utsaimin, giliran anda nggak senang dengan ulama yang mencela tokoh Anda, Anda kesampingkan penilaian Syaikh bin Baz dan Syaikh Utsaimin terhadap ulama tersebut dan memilih menggunakan emosi dan hawa nafsu.

Anda katakan:
“Contoh Syaikh Shalih Fauzan menulis kritik terhadap buku Halal Haram Al Qaradhawi. Tetapi apakah beliau sampai menghancurkan kehormatan Al Qaradhawi? Itu levelnya debat ilmiah secara wajar, tidak menghalalkan kehormatan seorang Muslim/ulama.”

Jawab: Apa bedanya dengan buku yang ditulis oleh ulama Yaman “Kasyf Al Litsam” (edisi indonesia berjudul: Membongkar Kedok Yusuf Al Qaradhawi)?  Penulis sekedar mengungkapkan fakta penyimpangan Qaradhawi dari ceramah, wawancara, seminar, tulisan dsb.  Dalam buku Kritik Halal Haram juga disebutkan Al Qaradhawi memalsukan sebagian kalimat yang dia nukil. Anda –wahai Joko—keliru kalau menganggap pengungkapan penyimpangan seseorang dalam agama yang merupakan tahdzir terhadap ummat sebagai bentuk penghalalan kehormatan seorang muslim.

Anda katakan:
“Masyarakat itu tidak bodoh Mas. Mereka bisa bedakan, mana debat ilmiah, dan mana personal attacking.

Kalau Anda jujur, sebenarnya lahirnya tulisan-tulisan saya, sebagian besar adalah MERESPON perilaku sesat teman-teman Anda itu.

Coba saja Anda jujur menilai lagi, runut dari awal. Trus nanti jawab pertanyaan ini, apakah nasehat = fitnah atau mengungkap data-data pribadi di forum terbuka?”
Masyarakat tidak bodoh.  Mereka juga akan menilai kritik Anda lemah dan bias atau berdasar data yang akurat.
Jawab: Dalam masalah nasehat atau fitnah, kan sudah saya katakan, nih saya kutipkan:” Segenap ikhwah yang menasehati Anda (tentu tidak semuanya mengungkapkan aib yang nggak perlu kan?), tentu dalam kerangkan seperti itu…”
Jadi, ada juga yang memang berisikan semata nasehat dan koreksi buat Anda.  Mungkin ada yang mengungkap data dan penyimpangan ahlak, ini sebetulnya nggak boleh (kecuali Anda membanggakan penyimpangan itu atau menda’wahkannya).  Saya juga nggak mengungkap data pribadi Anda, apakah itu alamat, no hp, no tilpun di malang dsb   Saya cukup mengungkapkan sisi-sisi buruk dari pemahaman agama Anda yang perlu diperbaiki.
Anda katakan:” Oh ya, mohon maaf, mungkin saya salah. Syaikh Rabi' itu anggota Hai'ahj Kibaril Ulama ya? Atau anggota Lajnah Da'imah ya? Atau misal, anggota Maj'ma' Fiqih Islami? Atau misal juga anggota Lajnah Fatwa Al Azhar ya? Ini cuma nanya aja sih, mungkin saya salah.”
Jawab: Saya nggak tahu sekarang.  Yang saya tahu Syaikh bin Baz memuji beliau dan mentazkiyah sebagian kitab beliau (lihat dalam thread “Al-Jarhul-Mufassar Muqaddamun 'alat-Ta'dilil-'Aam”).  Tapi lagi-lagi, sekalipun Anda memilih Syaikh bin Baz dibanding Al Qaradhawi,  tetapi Anda TIDAK memilih Syaikh Rabi’ –padahal beliau dipuji oleh Syaikh bin Baz—dan lebih memilih Dr Qaradhawi (padahal Anda mengaku bukan fansnya, dan Dr Qaradhawi mempunyai berbagai penyimpangan agama yang bisa jadi Anda tidak mengetahui semuanya).  Disinilah sikap aneh dan saling bertentangan dari Anda. 
Anda katakan: “Saya ada kajian tentang fatwa yang Anda anggap menyesatkan Safar dan Salman itu. Intinya, Anda cuma ikut-ikutan Luqman Ba'abduh. Itu saja  Coba Anda tunjukkan bukti pemikiran takfir Safar dan Salman! Atau coba buat postingan tersendiri. Jangan disini. Biar nanti semua bisa baca”
Jawab:? Lho, apa Anda akan mengingkari FAKTA bahwa Syaikh Utsaimin tidak mendukung pemahaman Salman dan Safar, dan fakta bahwa kedua tokoh tersebut dicekal di Saudi?  Atau barangkali Anda mendapatkan fakta lain bahwa Safar dan Salman bebas menda’wahkan pemahamannya di Saudi dan didukung oleh para ulama disana?  Sampaikan aja disini!!.
Ketika saya tanya: Antara Dr Qaradhawi dan Syaikh Rabi’ siapa yang Anda pilih?
Anda jawab: “Saya pilih Dr. Al Qaradhawi, meskipun tidak otomatis akan mengambil seluruh pendapat beliau. Pada bagian-bagian yang beliau dikoreksi, ya saya ikut kebenaran. Insya Allah.”
Jawab: Bahasan ‘keanehan’ pemahaman Anda ini sudah saya sampaikan diatas.
Terus ketika saya tanya: Antara Sayyid Quthb dan Syaikh Muqbil siapa yang Anda pilih?:
Anda jawab: “Saya pilih Sayyid Quthb dan mendoakan kebaikannya sebagai seorang pejuang Islam. Meskipun tidak lantas menelan semua karya-karya Sayyid Quthb. Ya, pada bagian yang lurus diambil, yang tidak, ditinggalkan”
Jawab: Inilah keanehan yang kesekian kalinya.  Syaikh Muqbil adalah ulama yang dipuji oleh Syaikh bin Baz dan Syaikh Utsaimin (dua orang kibarul ulama pilihan Anda).  Tetapi giliran Anda disuruh memilih Sayyid Quthub atau Syaikh Muqbil, Anda mengikuti –maaf—hawa nafsu Anda.  Ini berarti kalau Anda disuruh memilih: Ini majelisnya Syaikh Muqbil, didalamnya Anda dididik dengan Sunnah, dan ini majelisnya Sayyid Quthb, didalamnya Anda akan dididik menjadi ‘pejuang Islam’.  Anda mesti akan memilih dididik dalam majelisnya Sayyid Quthb.  Apa hasilnya? Inilah kata tokoh IM Farid Abdul Khaliq yang dinukil dalam buku “Beda Salafi dengan Hizbi”  (catatan: dibuku ini ada yang menarik, bahwa sosok penulis yang dikoreksi mirip Anda, disatu sisi ingin menjadi salafi dan mengikuti da’wahnya Syaikh bin Baz, disisi yang lain gandrung dengan Sayyid Quthb, Dr Qaradhawi, Salma dan Safar dan nggak rela kalau mereka disalahkan.  Insya Allah lain kali saya sampaikan).
“Sesungguhnya tumbuhnya pemikiran takfir (mengkafirkan orang) mulai berkembang diantara sebagian pemuda Ikhwan dipenjara Al Qanathir di akhir-akhir tahun 50-an dan di awal tahun 60-an.  Mereka terpengaruh dengan pemikiran Sayyid Quthb dan tulisan-tulisannya .  Merekapun mengambil (pemahaman) darinya bahwa seluruh masyarakat berada dalam kejahiliyahan.  Sayyid Quthb telah mengkafirkan pemerintahnya dengan….dst”
Tokoh Anda Dr Qaradhawi juga menyatakan hal serupa tentang pemikiran Sayyid Quthb bahwa dia mengumumkan jihad serangan atas manusia seluruhnya. 
Mungkin Anda akan berkata,”Saya kan punya filter, saya akan ambil yang baik-baik dan tinggalkan yang buruk”.  Saya jawab: Apa iya?  Dari mana Anda tahu itu benar kalau tidak mempelajari al haq dari para ulama pembela al haq?  Dari mana Anda tahu itu bathil kalau buku yang menunjukkan kebathilan seseorang diberi gratis-pun Anda bakar?  Kemungkinan terbesarnya Anda sama dengan pemuda-pemuda yang disampaikan oleh Farid Abdul Khaliq yaitu terpengaruh dengan pemikiran takfir yang ada.   Apalagi pemahaman menyimpangnya nggak cuma itu.  Duhai…. Semoga Allah Ta’ala menjaga dan memperbaiki pemahaman Anda, saya dan kita semua dari penyimpangan seperti itu. 
Pernyataan Anda tentang Ustadz Luqman dan pemilik blog fakta, menjadi tidak perlu dibahas.  Ini mengingat ‘diuji’ dengan memilih Syaikh Muqbil atau Sayyid Quthb,  Anda memilih Sayyid Quthb, diuji dengan disuruh memilih Syaikh Rabi’ atau Dr Qaradhawi, Anda memilih Dr Qaradhawi,apalagi disuruh memilih yang levelnya jauuh dibawah Syaikh Muqbil maupun Syaikh Rabi’…. Sudah jelas jawabannya.
Ketika saya sampaikan: Ini seperti pembelaan Abduh ZA thd Salman dan Safar.  Jawabnya ada di buku “Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij” hal 303.  Semoga AMW bisa membaca sendiri.  Punya bukunya kan?
Anda jawab: “Saya baca sebagian tulisan soal MDMTK. Nafasnya sama, Ba'abduh seperti tidak sembuh-sembuh dari sakitnya. Moga Allah menyembuhkan dia. Amin.” 
Jawab: Cuma itu jawabnya?  Anda menerima bantahan dalam MDMTK, atau punya argumen lain, nggak jelas.  Kalau ada bantahan, bahwa sesungguhnya Syaikh bin Baz membela dan mendukung Safar dan Salman, ya sampaikan aja.
Anda katakan:” Saya itu menghadapi kelompok Anda dengan semangat seperti menghadapi JIL. Kelompok Anda itu termasuk firqah dhalalah, maka harus ada yang terus mengingatkan ummat Islam. Kalau semua pihak lepas tangan, nah semua kaum Muslimin akan berdosa.”
Juga Anda katakan:” Ingat, menjelaskan kesesatan itu termasuk jihad lho.”

Disini ada beberapa hal:
-Anda belum menjawab pertanyaan saya: Selama ini Anda ngajinya kemana?  Ke ustadz sapa?  Apa yang Anda pelajari?
-Anda menilai saya berada di sebuah kelompok yang kelompok itu dinilai sebagai sebuah firqah dhalalah dan Anda sedang ‘berjihad’  menjelaskan kesesatan kelompok tersebut.
Pernyataan pertama butuh jawaban Anda, untuk pernyataan kedua Anda nampak bersikap mendua.  Disatu sisi merasa gerah dengan ulama yang menjelaskan penyimpangan tokoh (terutama dua tokoh pilihan Anda: Sayyid Quthb dan Al Qaradhawi), disisi yang lain Anda menilai ‘kelompok’ saya sebagai firqah dhalalah yang upaya menjelaskan ‘kesesatannya’ sebagai sebuah jihad. 
Pernyataan selanjutnya nggak perlu saya tanggapi.  Di akhir tulisan Anda katakan:
“Nasehat terakhir: JANGAN BERPURA PURA BERSIKAP LEMBUT, TAPI SEBENARNYA NGEYEL. SEBAB SAYA JUGA BANYAK KEWAJIBAN HARUS DITUNAIKAN. SYUKRAN”
Saya katakan: Saya nggak berpura-pura lembut.  Saya berusaha menasehati Anda dengan sebaik-baiknya.  Saya yakin Anda bukan Fir’aun, bahkan seorang muslim, saudara saya fiddien.  Kepada Fir’aun saja Nabi Musa alaihissalam disuruh untuk mendakwahinya dengan lembut, apalagi kepada saudara sesama muslim.  Tapi… bukan berarti kata-kata yang keras dan tegas menyalahi itu menyalahi sunnah… Masing-masing ada tempatnya. 
Semoga Allah Ta’ala membimbing Anda, saya dan kita semua, menjadikan tulisan ini bermanfaat dan dicatat oleh-Nya sebagai suatu kebaikan.  Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam, keluarga, sahabat dan siapa saja yang mengikuti jalan mereka.

Abu Haidar Mohammad 



Offline Justice 4 All

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 5.506
    • Lihat Profil
    • My Multiply
« Jawab #171 pada: 29 Juli 2008, 01:02:15 »
Post antum itu terlihat manis, tapi dustanya juga ga ketulungan. Mulai dari fitnah 'tidak diajarkannya tauhid asma wa sifat di jamaah tarbiyah alasan memecah belah' sampai 'ajakan qardhawy mencampuradukkan syiah-sunni'. Antum itu baca artikel asal dari kelompok antum ditelen aja bulet bulet. Mo itu udah disanggah, mo udah diklarifikasi di digimanain kelompok antum emang maunya tutup mata-telinga.

Apakah memang dusta dan fitnah sudah menjadi manhajnya? Na'udzubillah.

Kutip
Yang bener aja ngebanggain ust. Luqman??  :malu: tahun 2006 lalu, di jember, buletin produk ma'hadnya (buletin al ilmu) bikin geram warga NU. Eh, diajak dialog ma PCNU jember ogah, diajak dialog ilmiah ma tim bahtsul masail jember juga ogah. Baru setelah dilaporin ke FKUB (forum kerukunan umat beragama) baru deh minta maap. Eh, beberapa tahun kemudian bikin MDMTK, ditantangin dialog ilmiah kebanyakan alesan. Mintanya di'moderatori' syaikh Rabi'. Ampun dah ... ilmiah banget gitu loh!!!  :malu:

Ust. Luqman berani dialog terbuka? Too good to be true. %peace%
Jawaban atas Syubhat yang Dituduhkan kepada Dakwah Tarbiyah

Updated! Latest article: Fatwa Syaikh Albany dan Syaikh Nashir As-Sa'di tentang Pemboikotan Musuh Islam


Offline e0d0i

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2008
  • Tulisan: 972
    • Lihat Profil
    • FAHAM
« Jawab #172 pada: 29 Juli 2008, 05:10:16 »
Sebab da'wah salaf menyeru kepada kitabullah dan sunnah rasul dengan pemahaman salafusshalih. 

Mas .. kalau kalimat di atas sih .... semua juga tahu ... 
Tapi masalahnya bukan di situ.

Saya kasih contohnya.
Tahu tidak .... yang namanya mencuri itu adalah perbuatan dosa.
Sekarang masalahnya, mana bukti bahwa si A adalah pencuri ?
Dan apa semua orang punya hak untuk menentukan bahwa si A adalah pencuri atau bukan ?

Nah, sudah dikasih contoh mudah begini, masih nggak ngerti juga ?  :hihi:
Dapatkan e-book: "Islam, Pemilu dan Demokrasi  (Sebuah Antitesis Atas Pemikiran Kelompok Salafy)" di:
http://faham.wordpress.com/salafy-dan-politik/

Offline AMW

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2008
  • Tulisan: 137
  • Lokasi: Bandung
  • Sifat Rahmah & Karakter Integritas
    • Lihat Profil
    • LANGIT BIRU Inspirations
« Jawab #173 pada: 29 Juli 2008, 09:24:30 »

Terkhusus buat AMW, semoga ditengah kesibukannya   tetap berkenan menanggapi apa yang saya sampaikan, mengingat ada titik-titik terang yang menunjukkan kesalahan Anda dalam beragama yang perlu diperbaiki.




Ya akan saya tanggapi, bi idznillah. Tapi karena Anda sudah kelihatan MEMILIH JALAN, ya sudah saya tidak usah terlalu serius. Ngadepin orang yang sudah milih jalan itu sulit, paling nanti ujungnya, "Lakum a'malukum wa lana a'lamana." Tapi tidak apa, sebagai bagian dari BAYAN, segala sesuatu harus dijelaskan, bila dibutuhkan.

Oh ya, saya terimakasih kalau Anda bisa menunjukkan kesalahan pemahaman, sehingga bi nahsrillah semoga bisa diperbaiki. Amin.

Tapi saya ingatkan kepada forum, sebelumnya saya sempat dialog dengan Abu Haidar melalaui SMS dan telepon, dan harap diketahui, dia tidak bisa menjelaskan alasan menyesatkan Sururi, selain alasan klasik yang sudah terlalu sering diulang-ulang.



Kutip

Disini saya hanya mengajak untuk menilai dari pemahamannya akan hal pokok yang menyimpang.  Seseorang yang terkena syubhat Dr Qaradhawi, bisa jadi dia akan mencintai Yahudi dan Nasrani, menyatukan syi'ah dan sunni, mengagungkan penulis rasionalis dll dari penyimpangan agama yang sangat besar.



Mohon Antum sadari, buku Halal Haram Al Qaradhawi sudah menyebar sejak lama. Fatwa-fatwanya sudah tersebar melalui Fatawa Qaradhawi. Beliau terlibat dalam Majma' Fiqih Alam Islami berpusat di Kuwait, beliau Mufti negeri Qatar.

Lalu apa karena itu lantas Ummat Islam lupa kekejaman Yahudi di Palestina? Apa karena itu Ummat Islam Indonesia mendukung Kristenisasi? Malah Al Qaradhawi dan lain-lain -tanpa bermaksud fanatik ke seseorang- kan mendukung fatwa boikot produk Yahudi-Amerika.

Coba dijawab tuh fakta tersebut dengan jujur! Jangan membuat asumsi seenaknya.

Oh ya, sikap saya kepada Al Qaradhawi itu independen lho. Saya tidak peduli kecintaan orang kepada beliau atau permusuhannya kepada beliau. Ini sikap netral saya terhadap seorang tokoh Muslim di Dunia Islam.   
 


Kutip

Tetapi kalau terkena 'syubhat' pemilik blog fakta akan jadi apa dan dalam hal apa?  Jadi orang yang ‘garang’ terhadap pemahaman menyimpang dan kuat memegang al haq?  Lebih besar mana penyimpangannya?  Anda juga bisa melihat jawaban dari AMW bahwa walaupun sudah saya 'giring', tetapi milihnya ya tetap Dr Qaradhawi...  Anda baca saja bahasan lanjutan ini.



Saya sudah jelaskan sekian banyak kebathilan blog Fakta, yang seperti itu masih disebut 'syubhat'. Itu bukan syubhat lagi, tapi permusuhan terhadap dakwah Islam.



Kutip

Bisa jadi ada yang marah karena kritikan Anda nggak ilmiah, nggak valid dan bias.  Makanya saya memberikan masukan kalau Anda ingin mengkritisi ya sampaikan dengan poin-poin yang sudah saya sampaikan, bukan memakai data yang bias, apalagi sambil ndengerin TV.  Kalau Anda tidak mau ya sudah, kritik Anda menjadi sangat lemah, justru menunjukkan kekurangpahaman Anda terhadap salaf...  Lihat saja dalam masalah larangan menyebut diri menjadi salafi, istilah salafi yamani dan salafi haraki, itu bikinan Anda kan?:



Mereka tidak pernah mengkritik saya secara ilmiah, kecuali memfitnah dan melakukan personal attacking. Saya baca tulisan Abu Abdillah Ibrahim soal BAUS 1-5, saya mau "muntah" membacanya. Itu bukan tulisan manusia. Mungkin itu yang Anda sebut sebagai "sumber ilmiah".


Oh ya soal "dengerin TV". Di buku MAT Luqman Baabduh menyebut peristiwa 11 September 2001 WTC dengan istilah attack. Darimana dia tahu istilah itu, padahal ia adalah istilah spesial yang diturunkan oleh CNN dengan judul, "America under attack." MetroTV juga pake istilah itu. Darimana Ba'abduh tahu kata "attack"?
Dari nonton TV kan, atau ambil berita yang sumbernya TV/CNN/MetroTV kan?

Kan sumber TV itu tidak semua salah. Buktinya guru Anda juga mengambil sumber TV. 


 
Kutip

Syaikh Albany pernah berdialog dengan anggota HT, dan ini menunjukkan penyimpangan HT yang mengedepankan akal.  Ini contoh dialog yang pernah dilakukan.  Artinya jika Antum bisa seperti itu tentu bagus.  Saya sampaikan urgensi dialog bagi Anda, sekali lagi, bukan keharusan mutlak tetapi guna meningkatkan kualitas penilaian Anda.  Kalau dalam catatan pengalaman pribadi Anda bisa berdialog dengan mantan anggota Laskar Jihad, kenapa nggak dengan ustadznya saja?  Ini kalau mau lho.
 


Ya alhamdulillah, Syaikh Albani berani berdialog. Lalu siapa setelah itu? Ada berapa syaikh Salafi di Timur Tengah? Dan Anda pernah mendengar dialog Syaikh Albani dengan Jamaah Islamiyyah di Mesir. Apakah Syaikh Albani -maaf- memenangkan dialog itu? Dialog itu hasilnya menggantung, Syaikh Albani tidak ingin meneruskan dialog.

Bagaimanapun Syaikh Albani lebih gentle, beliau mau dialog, sedangkan yang lainnya, rata-rata hanya melempar tuduhan dari kejauhan.



Kutip

Kalau enggak, saya takut buku Anda akan menjadi saksi sejarah betapa buruk pemahaman Anda akan Islam dan dakwah Islam yang akan terus dikenang oleh anak cucu Anda sepanjang zaman.  Apa nggak takut kalau anak atau cucu Anda ada yang mendapat hidayah dan mengikuti majelisnya “Kibarul Ulama” yang Anda dukung (katakanlah majelisnya murid Syaikh bin Baz, saya nggak nyebut salafi di Indonesia lho…), lalu membaca buku Anda, dan berkata,”Waduh, mbah Joko kok pemahamannya kayak gini ya…”.




Saya belindung kepada Allah, dan bagi keluarga dan anak keturunan kami juga, kami berlindung kepada-Nya dari kesesatan. Tertipu oleh simbol-simbol Salafi, padahal Salafus Shalih mengingkarinya. Na'udzubillah min dzalik tsumma na'udzubillah.

Saya itu yakin bahwa pemahaman para pengikut Syaikh Rabi' bin Hadi dan Syaikh Muqbil bin Hadi itu sesat dan menyesatkan, akbarul hizbiyyah, ahlul bid'ah, mufasidul ummah. Mereka tidak menolong Islam, tetapi memerangi Islam dari dalam. Na'udzubillah.



Kutip

Jawab: Terus terang saya nggak tahu tentang masalah diatas.  Apa memang kemajhulannya menjadi masalah?  Kalau memang data yang disampaikan oleh sang penulis ‘nyomot’ dari TV, berdialog dengan Quthbiyin awam, data-data yang bias dan nda’ jelas, mungkin bisa jadi masalah.  Tetapi kalau tulisannya dengan data yang valid, berbobot dan ilmiah tentunya nggak apa-apa, walaupun –menurut saya—tetap lebih baik menampilkan identitas dirinya.




Anda dan kawan-kawan sekian lama menyerang saya karena soal "majhul". Lalu sekarang bilang, apa "kemajhulan" itu bermasalah? Di depan mata Anda tidak masalah, tapi tanyakan kepada para dai di luar kelompok Anda, sampai sekarang mereka bertanya-tanya siapa penulis Al Quthbiyah itu. 




Kutip

Tentang Ust Luqman, kalau memang benar dia nyatakan bahwa ummat Islam di Turki dan Mesir sebagai musyrikin, tentu ini sebuah pandangan yang keliru.  Di halaman berapa?  Atau barangkali Anda yang memahaminya seperti itu?



Di DSDB II itu saya sebutkan sekian banyak bukti-bukti pemikiran takfir Ba'abduh, plus halaman-halamannya. Baca lagi DSDB II.   



Kutip

Tapi sekali lagi, jika memang benar seperti itu (keliru dalam menghukumi) ya kita sampaikan padanya ketergelincirannya ini.



Enak banget dia bilang "tergelincir". Coba dia bersikap samhah (toleran) seperti itu kepada Sayyid Quthb, Salman Audah, atau Safar Hawali.

Kebathilan kelompok sendiri disebut "tergelincir", sementara kesalahan orang lain -Sayyid Quthb- yang sudah diperbaiki oleh para pewaris dan penerbitnya, terus jadi sumber serangan dan permusuhan kepada kelompok Islam lain.



Kutip

Jawab: Ulama tidak monopoli syaikh fulan saja, ini benar, tetapi bagaimana Anda akan bisa menilai kesesatan tokoh pujaan Anda kalau –misalnya saja—diberi buku gratis yang menyebutkan penyimpangan tokoh tersebut Anda membakarnya?



Saya di rumah punya buku kritik untuk Al Qaradhawi. Judulnya "Al Qaradhawi Fil Mizan", terjemahan, diterbitkan oleh Penerbit Imam Syafi'i Bogor. Disana pemikiran2 beliau dikritik, tetapi secara santun dan ilmiah. Orang pun jadi respek, sebab tidak melecehkan kedudukan orang alim di Dunia Islam.



Kutip
   
Sekarang coba carikan buku-bukunya Dr Qaradhawi yang menjelaskan penyimpangan Hasan Al Banna, Sayyid Quthub, kesalahan model da’wah Ikhwanul Muslimin yang mengarahkan kepada hizbiyyah dll, ada nggak?



Al Qaradhawi dalam beberapa kesempatan juga mengkritik Sayyid Quthb. Bahkan adiknya sendiri, Muhammad Quthb tidak otomatis sependirian dengan kakaknya. Itu biasa di dunia ilmiah Mas.

Sementara yang Anda mau sodorkan judulnya saja "Membungkam Anjing Menggonggong". Tanpa harus membaca isinya, dari judulnya saja, ia sudah bathil, tidak usah dibaca lagi.

Saya balik tanya, apa Syaikh Rabi' pernah menulis kebathilan Syaikh Ubaid Al Jabiri, Yahya Najmi, Muqbil bin Hadi, dst.? Pernah tidak seperti itu?



Kutip

Maka sebagai tanggung jawab ilmiah, Anda –mungkin dengan hati sedih—akan membuat buku ilmiah rinci penyimpangan2 Mr X.


Alhamdulillah bi nikmatillah, saya bukan orang flamboyan, alhamdulillah. Saya tidak suka dengan cara-cara njlimet seperti itu.



Tambahan soal Al Qaradhawi dan Sayyid Quthb:


Saya benar-benar tidak suka dengan Syaikh Rabi' dan Syaikh Muqbil. Kedua orang ini bertanggung-jawab dengan menyebarnya paham kekerasan di kalangan para pemuda Islam. Amal-amal dia selama hidup sungguh tidak sepadan dengan fitnah besar yang merebak di dada pemuda-pemuda Islam sedunia.

Mereka mengajarkan fanatisme luar biasa terhadap dirinya dan orang-orang yang mereka ridhai. Sebaliknya, mereka tak mau melihat sumbangsih2 kebaikan yang dilakukan ummat Islam lain. Mereka ingin semua kaum muslimin bersimpuh mematuhi ajaran-ajarannya. Salah satu kritik besar para ulama terhadap pemikiran mereka adalah dalam masalah "tathbiq Syariat Islami". Sehingga ada yang menuduhnya sebagai kelompok Murji'ah.

Dari sisi jasa bagi Ummat Islam di dunia, Al Qaradhawi dan Quthb, alhamdulillah memiliki jasa besar yang tidak dipungkiri. Meskipun tentu ada kekurangan-kekurangannya. Al Qaradhawi disebut terlalu fanatik dengan Al Ikhwan-nya; sementara Quthb kadang terlalu bersemangat, sehingga kadang terjatuh dalam kekeliruan dari sisi ilmiah.


Wallahu a'lam bisshawaab.
 
 
« Edit Terakhir: 29 Juli 2008, 15:49:52 oleh AMW »
LANGIT BIRU Inspirations ====> http://abisyakir.wordpress.com.

AT THARIQAH: Mengikuti pendapat yang paling benar (rajih) menurut Al Qur'an dan As Sunnah, tidak peduli dari arah manapun datangnya.

Offline kriukkriuk

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 273
    • Lihat Profil
« Jawab #174 pada: 29 Juli 2008, 11:58:22 »
@ust AMW

istighfar pak...istighfar....
janganlah kita membalas hinaan orang lain dengan hinaan pula...
saya memahami kesedihan dan kekecewaan antum...
sebuah fitnah yang luar biasa dari musuh islam yaitu blog FAKTA...
insya allah ini adalah bagian ujian untuk perjalanan dakwah antum...
ingatlah bahwa Allah tidak diam dan bersembunyi melihat perkara ini...
DIA akan memberikan keimanan dan ketaqwaan pada antum jika antum lebih bersabar...
dan cepat atau lambat Allah akan memberikan ganjaran bagi blog FAKTA atas perbuatannya tersebut...

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Pengen punya Maktabah Syamilah (Arab): Tafsir, Ulumul Qur'an, Fiqh, Tasawuh, Mushtalah Hadits, Sejarah, Kamus, Ensiklopedi, dsb?
Anda dapat nikmati dalam paket DVD 1800 Kitab + Upgrade ke 2000 kitab
Hub. saya via Private Message.

Offline kriukkriuk

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 273
    • Lihat Profil
« Jawab #175 pada: 29 Juli 2008, 12:01:56 »
@pak AMW
hhh...saya juga tidak bisa seyakin apapun bila menghadapi fitnah dari blog FAKTA ini...
apalagi orang-orang yang mengaku muslim lainnya juga mendukung blog FAKTA tersebut...
hanya Allah saja tempat berserah diri...
Pengen punya Maktabah Syamilah (Arab): Tafsir, Ulumul Qur'an, Fiqh, Tasawuh, Mushtalah Hadits, Sejarah, Kamus, Ensiklopedi, dsb?
Anda dapat nikmati dalam paket DVD 1800 Kitab + Upgrade ke 2000 kitab
Hub. saya via Private Message.

Offline AMW

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2008
  • Tulisan: 137
  • Lokasi: Bandung
  • Sifat Rahmah & Karakter Integritas
    • Lihat Profil
    • LANGIT BIRU Inspirations
« Jawab #176 pada: 29 Juli 2008, 15:42:40 »
@ust AMW

istighfar pak...istighfar....
janganlah kita membalas hinaan orang lain dengan hinaan pula...
saya memahami kesedihan dan kekecewaan antum...
sebuah fitnah yang luar biasa dari musuh islam yaitu blog FAKTA...
insya allah ini adalah bagian ujian untuk perjalanan dakwah antum...
ingatlah bahwa Allah tidak diam dan bersembunyi melihat perkara ini...
DIA akan memberikan keimanan dan ketaqwaan pada antum jika antum lebih bersabar...
dan cepat atau lambat Allah akan memberikan ganjaran bagi blog FAKTA atas perbuatannya tersebut...

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ



Syukran Akhi atas nasehat Antum. Insya Allah ana akan coba menahan diri. Ana sangat kesal saya, begitu mudahnya seseorang memberi pertanyaan-pertanyaan atau menjawab, tanpa dirinya mengaca diri. Padahal saya sudah pernah bicara di telepon dengan dia, dan dia meminta bicara cukup sampai disana saja. Dalam telepon itu alasan-alasan dia juga sudah saya kemukakan. Yang saya kesal, saya harus berulang kali memberi penjelasan untuk masalah yang sama. Dan dia sendiri pernah mengkritik karena masalah kemajhulan, namun ketika ditanya balik, malah bilang: "Apa kemajhulan itu penting?"

Saya teringat sebuah ayat dalam Surat Yunus, "Dan Dia (Allah) akan menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak berakal." Dalam Al Baqarah juga dikatakan, "Dan di antara manusia ada yang menakjubkan kamu perkataannya tentang kehidupan dunia, padahal Allah menjadi saksi apa yang ada dalam hatinya, bahwa dia adalah penentang yang nyata."

Mudah-mudahan Abu Haidar tidak termasuk dalam ayat yang disebut di atas.

Selanjutnya, saya tak akan layani kemauan dia. Percuma melayani. Pura-pura hikmah, lemah-lembut, tapi ngeyelnya bukan main. Maaf, saya banyak amanah yang harus ditunaikan. Saya tidak ingin melayani Anda. Cukup disini sebagai bayan bahwa kita mau melayani, kalau niatnya baik dan ada kejujuran.

Adapun kata-kata keras terhadap Abu Haidar insya Allah segera saya perbaiki. Syukran jazakumullah Akh "kriukkriuk" atas nasehatnya. 

(Ihhh, nama Antum siapa ya? Kalau ingat nama "kriukkriuk" jadi pengen makan krupuk. Antum ini termasuk "majhul" ya, tolong kasih tahu dong siapa jati diri Antum, termasuk nama isteri, nama anak, sekolah dimana, telah nulis buku apa, apa saja nama pena Antum, dan seterusnya. Kalau perlu nama teman-teman Antum sekampung, teman-teman SD, termasuk nama nenek-kakek mereka, tolong disebut ya. Oh ya, jangan lupa ditulis di internet, biar nanti gampang "ketangkep ama Google". Disini ada kuncennya Google, atau itulah "Mbah Maridjan"-nya Google).


Wal 'afwu min kum min kulli syai'in.   
LANGIT BIRU Inspirations ====> http://abisyakir.wordpress.com.

AT THARIQAH: Mengikuti pendapat yang paling benar (rajih) menurut Al Qur'an dan As Sunnah, tidak peduli dari arah manapun datangnya.

Offline adabaday

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 11
    • Lihat Profil
« Jawab #177 pada: 29 Juli 2008, 16:39:39 »
coba liat sikap umar ketika liat penyimpangan dalam Islam, klo gak salah pelakunya dilempar pake batu sehingga kepalanya berdarah lihat i kitab Muzilul Ilbas klo memang mau ilmiah

Offline adabaday

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2008
  • Tulisan: 11
    • Lihat Profil
« Jawab #178 pada: 29 Juli 2008, 16:40:08 »
umar radhiallahu'anhu

Offline e0d0i

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2008
  • Tulisan: 972
    • Lihat Profil
    • FAHAM
« Jawab #179 pada: 29 Juli 2008, 20:12:01 »
Selanjutnya, saya tak akan layani kemauan dia. Percuma melayani. Pura-pura hikmah, lemah-lembut, tapi ngeyelnya bukan main.   

Betul ... betul ...
Setuju sekali .....  O0
Dapatkan e-book: "Islam, Pemilu dan Demokrasi  (Sebuah Antitesis Atas Pemikiran Kelompok Salafy)" di:
http://faham.wordpress.com/salafy-dan-politik/