Mengapa novel ini begitu menyengat para teolog Kristen??? Itu tidak lain, karena novel ini memaparkan fakta-fakta baru tentang Yesus yang membongkar dasar-dasar kepercayaan Kristen yang bertahan selama 2000 tahun. Dalam Kristen, dogma pokok dan paling inti adalah kepercayaan tentang kebangkitan Yesus (resurrection). Bahwa setelah mati di tiang salib, Yesus bangkit pada hari ketiga untuk menebus dosa umat manusia. Dalam Bible Perjanjian Baru disebutkan, bahwa saksi pertama kebangkitan Yesus – yang menyaksikan kubur Yesus kosong – adalah seorang wanita bernama Maria Magdalena.
Jika dasar kepercayaan ini dibongkar, maka runtuhlah agama Kristen. bahwa tanpa resurrection, maka tidak ada “kekristenan”. Ibarat potongan-potongan gambar (jigsaw), maka jika resurrection dibuang, jigsaw itu tidak akan membentuk apa yang disebut sebagai Christianity.
Nah, the Da Vinci Code adalah sebuah novel yang memporak-porandakan sebuah susunan gambar yang bernama Kristen itu. Betapa tidak, dalam novel ini, misalnya digambarkan bahwa sebelum disalib Yesus sebenarnya sempat mengawini Maria Magdalena dan mewariskan gerejanya kepada Maria Magdalena, bukan kepada Santo Petrus yang kemudian melanjutkan pendirian Gereja di Roma. Bahkan, bukan hanya kawin, Yesus pun punya keturunan dari Maria Magdalena, yang karena takut dikejar-kejar murid-murid Yesus maka melarikan diri ke Perancis. Keturunan Yesus itu masih tetap ada hingga kini, dan selama ratusan tahun memelihara tradisi Gereja garis Maria Magdalena. Rahasia ini masih tetap dipegang, dan disimpan dengan sangat ketat. Selama ratusan tahun itu pula, gereja Katolik berusaha memburu para penganut Gereja Maria Magdalena dan membantai anak keturunan Yesus yang dikhawatirkan mengancam kekuasaan Gereja Katolik dan Gereja-gereja yang menuhankan Yesus.
Jadi, kata Bible ini, Yesus mempunyai pasangan bernama Mary Magdalena dan terbiasa mencium Maria di bibirnya. Yesus mencintai Magdalena lebih dari pengikutnya yang lain, sehingga menyulut rasa iri hati. Itulah yang akhirnya memicu pelarian Mary Magdalena dari Yerusalem ke Perancis dengan bantuan orang-orang Yahudi. Dalam bahasa Aramaic, kata “companion” menurut Teabing, bisa diartikan sebagai “pasangan”. Sophie yang membaca bagian-bagian berikutnya dari Bible Philip itu menemukan fakta betapa romantisnya hubungan Yesus dengan Maria Magdalena. Ia lalu mengingat masa silamnya, ketika para pendeta Perancis mendesak pemerintahnya untuk melarang peredaran film The Last Temptationn of Christ; sebuah film garapan Martin Scorsese yang menggambarkan Yesus mengadakan hubungan seks dengan seorang wanita bernama Maria Magdalena.
Sejak ratusan tahun lalu, perdebatan tentang Yesus memang tidak pernah berhenti. Masalahnya, tidak mudah menjelaskan dengan logika yang masuk akal, bahwa Yesus adalah Tuhan sekaligus manusia. Sejak awal-awal kekristenan, sudah muncul kelompok Arius yang menolak pendapat bahwa Yesus adalah Tuhan. Arius dan pengikutnya dikutuk Gereja.
Perdebatan seputar Yesus bahkan pernah menyentuh aspek yang lebih jauh lagi, yakni mempertanyakan, apakah sosok Yesus itu benar-benar ada atau sekadar tokoh fiktif dan simbolik? Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan seorang pengikutnya William Benjamin Smith (1850-1934). Bahkan, perdebatan seputar Yesus itu kadangkala sampai menyentuh moralitas Yesus sendiri dalam aspek seksual. Soal ketidakkawinan Yesus misalnya: karena tidak mampu, karena tidak ada wanita, atau karena homoseks.
Jadi, wacana tentang Yesus dalam dunia akademis memang sudah bertebaran. Kelebihan Dan Brown (Pengarang Nover Da Vinci Code) adalah mampu mengangkat wacana itu ke dalam sebuah novel populer. “Ramuan yang tepat” antara fakta sejarah dan fiksi menjadikan novel ini memang berpotensi besar mengguncang kepercayaan iman Kristen. Apalagi, masyarakat Barat memang dikenal hobi dengan mitos dan legenda. Mereka tak henti-hentinya menciptakan berbagai fiksi dan mitos dalam kehidupan mereka : Superman, Batman, Spiderman, Rambo. Persis seperti nenek moyang mereka di Yunani Kuno. Kita tunggu saja, bagaimana kehebohan terjadi saat the Da Vinci Code muncul dalam bentuk film.