Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Tak ada lagi nabi setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  (Dibaca 4851 kali)


Offline wisdom

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2007
  • Tulisan: 937
    • Lihat Profil
« pada: 22 Juni 2008, 17:39:48 »
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Nabi dan Rasul Terakhir

Mukadimah[/b]
   Gonjang-ganjing perkara Ahmadiyah telah menyita perhatian masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam. Ahmadiyah terpecah menjadi dua kelompok yakni Ahmadiyah Qadiyani dan Lahore. Ahmadiyah Qadiyani inilah yang mendaulat pendiri sekaligus Imam pertama mereka, Mirza Ghulam Ahmad al Kadzdzab, sebagai nabi setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan Ahmadiyah Lahore tidak menganggapnya sebagai nabi, hanya sebagai pembaharu dan imam mahdi. Namun, kitab suci mereka sama, yakni at Tadzkirah, yaitu campuran antara Al Quran dengan ucapan Mirza Ghulam Ahmad al Kadzdzab.
   
Sebenarnya, sejak awal keberadaannya (kurang lebih dua abad yang lalu), para ulama Islam telah membantah pemikiran mereka yang batil. Baik dari Ahlus Sunnah atau Syi’ah pun telah mengcounter aqidah mereka. Namun, karena dukungan penjajah Inggris saat itu, akhirnya keberadaan mereka bisa eksis sampai hari ini, termasuk di negeri nusantara.
   
Mirza Ghulam Ahmad al Kadzdzab bukanlah yang pertama, bukan pula yang terakhir. Ketika masa-masa akhir  kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah ada nabi palsu bernama Musailimah al Kadzdzab di Yamamah, yang baru sempat diperangi pada masa khalifah Abu Bakar ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu dalam perang besar di Yamamah. Masih pada akhir zaman Rasulullah juga, ada nabi palsu bernama Al Aswad Al ‘Ansi di Yaman lalu dibunuh oleh para sahabat sebelum wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu  pada masa kekhalifahan Abu Bakar ada Thulaihah bin Khuwalid dari bani Asad bin Khuzaimah, akhirnya tobat dan dia mati dalam keadaan Islam yang baik. Begitu pula Sijah at Tamimiyah dari Bani at Tamimi yang nikahi oleh Musailimah, dia pun mengaku nabi, namun bertobat setelah matinya Musailamah al Kadzdzab. Ada pula Al Mukhtar bin Abi Ubaid ats Tsaqafi, ia menampakkan cintanya kepada Ahlul Bait serta menuntut darah Husein, yang berhasil mendominasi Kufah pada awal pemerintahan Ibnu Zubeir. Kemudian dia diperdaya syetan dan mengaku menjadi nabi dan menyangka Jibril mendatanginya. Ya’qub bin Sufyan meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Asy Sya’bi bahwa Al Ahnaf bin Qais pernah melihat Al Mukhtar  dengan kitabnya yang menyebut dirinya sebagai nabi. Abu Daud meriwayatkan dalam As Sunan dari Ibrahim an Nakha’i, bahwa beliau bertanya kepada ‘Ubaidah bin Amru, “Apakah Al Mukhtar termasuk mereka (nabi-nabi palsu)?” ‘Ubaidah menjawab: “Dia termasuk pemimpinnya.” Al Mukhtar berhasil dibunuh sekitar tahun enam puluhan (hijriyah). Lalu ada pula Al Harits Al Kadzdzab, nabi palsu pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan, dan juga terbunuh saat itu.   Juga pada masa pemerintahan Al ‘Abbas juga ada para pembohong. (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Kitab Al Manaqib Bab ‘Alamat an Nubuwah fil Islam, Juz. 10, hal. 410, No hadits. 3340)   

   Demikianlah sekelumit nabi palsu masa-masa klasik, yang jumlahnya sangat banyak, ada pun yang tertulis namanya hanyalah yang terkenal, ada pun selebihnya sangat banyak bahkan tak terhitung. Di Indonesia pun telah ada Lia Aminuddin dan  Ahmad Moshadeq. Sampai saat ini belum menampakkan tobatnya, bahkan Lia Aminuddin (Lia Eden) semakin menjadi-jadi kesesatannya, dia mencampurkan berbagai agama dan keyakinan.

Rasulullah sebagai nabi dan rasul terakhir adalah pasti
   

Keyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah nabi dan rasul terakhir adalah berdasarkan Al Quran dan As Sunnah, serta ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin sejak dahulu sampai hari ini.

Dalil Al Quran
   Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
   “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab (33): 40)
   Ayat ini secara sharih (jelas) menegaskan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah penutup para nabi alias nabi terakhir.
   Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, setelah ia mengutarakan berbagai hadits tentang kedudukan Rasulullah sebagai penutup para nabi, beliau berkata:
 وقد أخبر تعالى في كتابه، ورسوله في السنة المتواترة عنه: أنه لا نبي بعده؛ ليعلموا أن كل مَنِ ادعى هذا المقام بعده فهو كذاب أفاك، دجال ضال مضل، ولو تخرق  وشعبذ، وأتى بأنواع السحر والطلاسم والنَيرجيَّات  ، فكلها محال وضلال عند أولي الألباب
   

“Allah Ta’ala telah mengabarkan melalui KitabNya, begitu pula RasulNya telah menyampaikan secara mutawatir (pasti benar) darinya: bahwa tidak ada nabi setelahnya. Agar manusia mengetahui bahwa setiap manusia yang mengaku memiliki kedudukan sebagai nabi setelah  beliau, maka orang itu adalah pendusta, dajjal yang sesat dan menyesatkan, walau dia memiliki kemampuan di luar kebiasaan dan mampu menipu penglihatan manusia, mendatangkan berbagai sihir dan kekuatan. Semuanya adalah tipuan dan kesesatan di mata Ulil Albab (orang-orang yang berpikir). “ (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz. 6, Hal. 431. Daru  Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’, Cet. 2. 1999M-1420H. Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah. Al Maktabah Asy Syamilah)

Para pengikut agama Ahmadiyah mengartikan Khaataman nabiyyin adalah cincinnya para nabi. Sementara para ulama Islam mengartikannya sebagai penutup para nabi (jika dibaca khaatiman nabiyyin) atau nabi yang terakhir (jika dibaca khaataman nabiyyin sebagai mana teks di atas). Jadi mau dibaca Khaatiman atau Khaataman, maknanya adalah sama yaitu tak ada nabi lagi setelahnya, karena dia sebagai penutup (khaatiman) dan nabi yang terakhir (khaataman).

Hal di atas dijelaskan oleh Imamul Mufassirin, Abu Ja’far bin Jarir ath Thabari, beliau berkata:
واختلفت القراء في قراءة قوله(وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ) فقرأ ذلك قراء الأمصار سوى الحسن وعاصم بكسر التاء من خاتم النبيين، بمعنى: أنه ختم النبيين. ذُكر أن ذلك في قراءة عبد الله(وَلَكِنَّ نَبِيًّا خَتَمَ النَّبيِّينَ) فذلك دليل على صحة قراءة من قرأه بكسر التاء، بمعنى: أنه الذي ختم الأنبياء صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم وعليهم، وقرأ ذلك فيما يذكر الحسن وعاصم(خَاتَمَ النَّبِيِّينَ) بفتح التاء، بمعنى: أنه آخر النبيين
Para Qurra (Ahli Pembaca Al Quran) berbeda pendapat tentang bacaan terhadap  ayat Khaataman nabiyyin. Para Qurra dari Al Amshar (kota besar) kecuali Al Hasan dan ‘Ashim, mereka mengkasrahkan huruf  ta’ menjadi (Khaatim an Nabiyyin) yang bermakna khataman nabiyyin penutup para nabi (huruf kha’ pendek). Disebutkan bahwa itulah cara baca Abdullah bin Mas’ud (walakin nabiyyan khataman nabiyyin – tidak memanjangkan kha’ menjadi  khaataman). Ini adalah dalil atas benarnya pihak yang membaca dengan mengkasrahkan huruf ta’, maknanya: “Bahwa dia adalah penutup para nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wa ‘Alaihim. Adapun yang membaca dengan memfathahkan (Khaatam an Nabiyyin) sebagaimana yang telah disebutkan yakni Al Hasan dan ‘Ashim, maknanya: “Bahwa dia adalah akhir dari nabi - nabi.” (Imam Abu Ja’far bi Jarir ath Thabari, Jami’ al Bayan fii Ta’wil Al Quran, Juz. 20, Hal. 279. Mu’asasah ar Risalah, Cet. 1. 2000M – 1420H. Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Al Qurthubi berkata:
وقرأ الجمهور بكسر التاء بمعنى أنه ختمهم، أي جاء آخرهم.

“Mayoritas membaca dengan mengkasrahkan huruf ta’, bermakna bahwa dia adalah penutup mereka (para nabi) yaitu yang akhir datangnya di antara mereka.” (Imam Al Qurthubi, Jami’ Li Ahkam Al Quran, Juz. 14, Hal. 196. Dar Ihya ats Turats al ‘Araby, Beirut – Libanon. 1985M-1405H. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Abu Muhammad Al Husein bin Mas’ud al Baghawi berkata dalam tafsirnya:
ختم الله به النبوة، وقرأ عاصم: "خاتم" بفتح التاء على الاسم، أي: آخرهم، وقرأ الآخرون بكسر التاء على الفاعل، لأنه ختم به النبيين فهو خاتمهم.

“Dengannya Allah telah menutup kenabian. ‘Ashim membacanya ‘Khaatam’ dengan fathah pada huruf ta’menjadi isim, yakni, “Akhirnya mereka (nabi-nabi).”  Sedangkan yang lain membaca dengan mengkasrahkan ta’ menjadi faa’il, karena dengannyalah menutup para nabi, dan dia penutup mereka.” (Imam al Baghawi, Ma’alimut Tanzil, Juz. 6 Hal. 358. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’, Cet. 4, 1997M-1417H. Al Maktabah Asy Syamilah)   
Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin ‘Umar asy Syihi biasa disebut Al Khazin berkata dalam tafsirnya:
ختم الله به النبوة فلا نبوة بعده أي ولا معه
   “Dengannya Allah telah menutup kenabian, maka tidak ada kenabian setelahnya, yaitu tidak pula bersamanya.” (Imam al Khazin, Lubab at Ta’wil fii Ma’ani at Tanzil, Juz. 5, Hal. 199. Al Maktabah Asy Syamilah)

Dalil-dalil As Sunnah
   

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu,bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
 وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ
   “Kiamat tidak akan datang sampai datangnya para dajjal pendusta jumlahnya hampir tiga puluh, semuanya mengklaim dirinya sebagai Rasulullah.” (HR. Bukhari, Kitab Al Manaqib Bab ‘Alamat An Nubuwah fil Islam, Juz. 11, Hal. 441, No hadits. 3340. Muslim, Kitab Al Fitan wal Asyratus Sa’ah Bab Laa taquumus Sa’ah hatta yamurru ar rajul biqabri ar rajul …, Juz. 14, hal. 142. No hadits. 5205)

   Jadi, adanya orang-orang yang mengaku nabi merupakan bagian dari tanda-tanda datangnya kiamat. Hal itu sudah sinyalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sejak empat belas abad silam. Namun selalu ada para ulama garda depan yang selalu siap mengcounter kebohongan mereka.

   Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:
وَقَدْ وُجِدَ مِنْ هَؤُلَاءِ خَلْق كَثِيرُونَ فِي الْأَعْصَار ، وَأَهْلَكَهُمْ اللَّه تَعَالَى ، وَقَلَعَ آثَارهمْ ، وَكَذَلِكَ يُفْعَل بِمَنْ بَقِيَ مِنْهُمْ .

   “Mereka selalu ada pada masing-masing zaman, tetapi Allah Ta’ala binasakan mereka, dan Allah hilangkan pengaruhnya, hal itu juga terjadi pada sisa pengikut mereka.” (Imam An Nawawi, Syarah ‘Alash Shahih Muslim, Kitab Al Fitan wal Asyratus Sa’ah Bab Laa taquumus Sa’ah hatta yamurru ar rajul biqabri ar rajul …Juz. 9, hal. 309, No. 5205)
   
Imam Ibnu Hajar al Asqalani Rahimahullah berkata:
وَلَيْسَ الْمُرَاد بِالْحَدِيثِ مَنْ اِدَّعَى النُّبُوَّة مُطْلَقًا فَإِنَّهُمْ لَا يُحْصَوْنَ كَثْرَة لِكَوْنِ غَالِبهمْ يَنْشَأ لَهُمْ ذَلِكَ عَنْ جُنُون أَوْ سَوْدَاء وَإِنَّمَا الْمُرَاد مَنْ قَامَتْ لَهُ شَوْكَة وَبَدَتْ لَهُ شُبْهَة كَمَنْ وَصَفْنَا ، وَقَدْ أَهْلَكَ اللَّه تَعَالَى مَنْ وَقَعَ لَهُ ذَلِكَ مِنْهُمْ وَبَقِيَ مِنْهُمْ مَنْ يُلْحِقهُ بِأَصْحَابِهِ وَآخِرهمْ الدَّجَّال الْأَكْبَر
   
“Maksud hadits itu tidaklah berarti secara mutlak jumlahnya (mereka adalah tiga puluh), sebenarnya para nabi palsu ini tak terhitung jumlahnya, namun yang dimaksudkan  dengan pembatasan jumlah itu adalah mereka itulah yang mengaku nabi, memiliki kekuatan dan ajaran menyimpang, dan punya pengikut yang banyak serta terkenal di antara manusia. Lalu Allah Ta’ala binasakan mereka temasuk pengikutnya, hingga akhirnya datangnya dajjal besar.” (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Kitab Al Manaqib Bab ‘Alamat an Nubuwah fil Islam, Juz. 10, hal. 410, No hadits. 3340)   
   Hadits lainnya, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
   
“Dahulu Bani Israel dipimpin oleh para nabi, ketika wafatnya seorang nabi maka datanglah nabi setelahnya, namun tidak ada nabi lagi setelahku.” (HR. Bukhari, Kitab Ahadits al Anbiya Bab Maa dziku ‘an Bani Israil, Juz. 11, Hal. 271, No hadits. 3196. Muslim, Kitab Al Imarah Bab Wujub al Wafa’ bibai’ati al Khulafa’ wal Awal fal Awal, Juz.9,  Hal. 378, No hadits. 3429 )
   Hadits lainnya, dari Tsauban Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
   “Sesungguhnya akan datang pada umatku tiga puluh pembohong, semuanya mengaku sebagai nabi, padahal akulah penutup para nabi (khaatam an nabiyyin), tak ada lagi nabi setelahku.” (HR. Abu Daud, Kitab Al Fitan wal Malahim Bab Dzikru Al Fitan wa Dalailuha, Juz. 11, Hal. 322, No hadits. 3710. At Tirmidzi, Kitab Al Fitan ‘an Rasulillah Bab Maa Ja’a Laa Taqumus Sa’ah hatta Yakruju Kadzdzabun, Juz. 8, Hal. 156, No hadits. 2145. Katanya: Hasan Shahih. Syaikh al Abany mengatakan: Shahih. Lihat Misykah al Mashabih, Juz. 3 hal. 173, No. 5406 )
   Hadits ini membantah pemikiran Ahmadiyah yang menafsirkan Khaatam an nabiyyin adalah cincinnya para nabi. Sebab, dalam hadits ini ada penegas setelah kalimat khaatam an nabiyyin, yaitu kalimat laa nabiyya ba’diy (tak ada lagi nabi setelahku). Sehingg tak ada aedahnya menafsirkannya sebagai cincin para nabi.
   Hadits lainnya:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعَلِيٍّ أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

   Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali: “Engkau bagiku, seperti posisi Harun terhadap Musa, hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku.” (HR. At Tirmidzi, Kitab Al Manaqib ‘an Rasulillah Bab Al Manaqib ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, Juz. 12, Hal. 192, No hadits. 3663. Katanya: hasan gharib. Tetapi pada hadits yang sama bunyinya no. 3664 dari jalur Sa’ad bin Abi Waqash, Imam At Tirmidzi  berkata: hasan shahih. Ibnu Majah, Kitab Al Muqaddimah Bab Fadhlu ‘Ali bin Abi Thalib, Juz. 1, Hal. 134, No hadits. 118, dari jalur Sa’ad bin Abi Waqash)
   Sedangkan dalam hadits shahih lain juga disebutkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

   “Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan diriku di antara para nabi sebelumku, seperti perumpamaan seorang yang sedang membangun rumah dia memperbaikinya dan memperindahnya kecuali satu bata sebelah sudut yang kosong. Maka manusia mengitari rumah itu, mereka heran dengannya, dan mereka berkata: “Kenapa yang ini tidak?” Akhirnya diletakkanlah batu bata di bagian tersebut.” Dia bersabda: “Akulah batu bata tersebut, dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Bukhari, Kitab Al Manaqib Bab Khatim an Nabiyyin, Juz. 11, Hal. 336, No hadits. 3271. Muslim, Kitab Al Fadhail Bab Dzikru Kaunuhu Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wa Khatim an Nabiyyin, Juz. 11, Hal. 404, No hadits. 4239)

   Imam Ibnu Hajar berkata:
وَفِي الْحَدِيث ضَرْب الْأَمْثَال لِلتَّقْرِيبِ لِلْأَفْهَامِ وَفَضْل النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى سَائِر النَّبِيِّينَ ، وَأَنَّ اللَّه خَتَمَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ ، وَأَكْمَلَ بِهِ شَرَائِع الدِّين .

   Hadits ini memberikan perumpamaan  dalam rangka memudahkan pemahaman dan menunjukkan keutamaan Rasulullah Shallalalhu ‘Alaihi wa Sallam di atas nabi – nabi lainnya dan Allah ta’ala menutup kerasulan dengannya serta menyempurnakan syariatNya degannya pula.” (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Kitab Al Manaqib Bab Khatim an Nabiyyin, Juz. 11, Hal. 336, No hadits. 3270)

   Semoga tulisan ini bisa memantapkan keimanan sekaligus menjelaskan tipu daya musuh-musuh Allah para nabi palsu yang selalu ada di setiap zaman. Wallahu A’lam

Wisdom


Offline ibnu sabiil

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 1.972
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 23 Juni 2008, 10:39:48 »
Dalam shahih Muslim diriwayatkan dari Jabir ra :

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة. حدثنا عفان. حدثنا سليم بن حيان. حدثنا سعيد بن ميناء، عن جابر، عن النبي صلى الله عليه وسلم
 قال "مثلي ومثل الأنبياء، كمثل رجل بنى دارا فأتمها وأكملها إلا موضع لبنة. فجعل الناس يدخلونها ويتعجبون منها، ويقولون: لولا موضع اللبنة !" قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "فأنا موضع اللبنة. جئت فختمت الأنبياء".


artinya : Perumpamaan ku dan perumpamaan para nabi adalah seperti perumpamaan seorang laki-laki yang membangun rumah kemudian diselesaikannya dan disempurnakannya kecuali tempat bagi sebuah batu. Kemudian mulailah orang-orang memasukinya dan kagum terhadapnya dan mereka berkata : "kenapa tidak diletakkan batu itu?". Rasulullah saw bersabda :

"فأنا موضع اللبنة. جئت فختمت الأنبياء"
(Maka akulah batu yang diletakkan itu. Aku Datang kemudian menutup para nabi)

[HR. Muslim, no.2287]

Dalam Sunan At-Tarmidzi no. 2272 dari riwayat Anas bin Malik ra, diceritakan :

حدثنا الحسن بن محمد الزعفراني حدثنا عفان بن مسلم حدثنا عبد الواحد يعني بن زياد حدثنا المختار بن فلفل حدثنا أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الرسالة والنبوة قد انقطعت فلا رسول بعدي ولا نبي فشق ذلك على الناس فقال لكن المبشرات قالوا يا رسول الله وما المبشرات قال رؤيا المسلم وهي جزء من أجزاء النبوة

artinya : "Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada seorang rasul setelah aku dan juga tidak ada seorang nabi kemudian terpisah seperti itu kepada manusia kemudian dikatakan melainkan adanya almubasysyirat". Mereka bertanya : "Ya Rasulullah ! Apakah al-Mubasyirat itu ?" dia berkata : "mimpi seorang muslim dan itu bagian dari sebagian kecil kenabian".

[Sunan At-Tarmidzi no.2272]

Banyak sekali riwayat dari rasulullah Muhammad saw yang menjelaskan arti خاتم النبيين (khootaman Nabiyyiina) yang tercantum dalam QS33:40 tsb bahwa arti yang dimaksud adalah جئت فختمت الأنبياء (aku datang kemudian menutup para nabi) atau لا نبي بعدي (tidak ada nabi setelah aku).

Sedangkan kedatangan Isa ibnu Maryam adalah istitsna (pengecualian) dari makna لا نبي بعدي
Mohon koreksi dan ingatkan saya, jika saya keliru ... syukron katsiir

Offline Ibnu Abizar

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 183
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 23 Juni 2008, 11:40:09 »
SERATUS untuk TS

SERIBU untuk ku
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Offline GothicMuslim

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2008
  • Tulisan: 345
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • Sedang mendalami islam, mohon bantuannya
    • Lihat Profil
    • Seputar info friendsterku
« Jawab #3 pada: 06 Juli 2008, 05:47:19 »
Ahmadiyah jelas salah,
Apa yg ditunggu untuk dibubarkan ?
Dont ever say, "ya Allah i have problems" but say "hey problems, i have Allah !!!"

Offline Viozaax

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 974
  • Lokasi: Bumi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu
    • Lihat Profil
    • Era Muslim
« Jawab #4 pada: 06 Juli 2008, 05:58:44 »
nunggu pemerintah membubarkan
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : "Bertutur kata yang baik adalah sedekah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Offline ikhtyarr

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 777
  • Lokasi: nangkene
  • Jenis kelamin: Pria
  • berikanlah kelebihanmu dalam kekuranganmu
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 06 Juli 2008, 20:22:02 »
Dalam ajajaran islam nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir penyempurna ajaran nabi2 sebelumnya.
Jika ada yg berkeyakinan ada nabi setelah nabi Muhammad saw, tentu tdk dapatlah dikatakan dia beragama islam,dan bila mengaku islam dg keyakinan tsb, wajar dan seharusnya umat islam menolaknya.
Kita menghormati keyakinan itu,tetapi janganlah mengaku islam,karena islam berpedoman LAA ILAHA ILLALLOH MUHAMMADURROSUULULLOH.
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد اذهد يتنا وهب لنا من لد نك رحمة انك انت الوهاب
"Ya الله janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kami,berilah kami rahmat,sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi"

Offline Kang Peyi

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 519
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 07 Juli 2008, 08:29:29 »
Karena tidak ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad Saw, terus kelanjutan kerja Nubuwwah siapa yang mengembannya sebagaimana Sahabat Nabi telah mengembannya sehingga Allah meriidhoinya?
Bukankah kita sekarang orang islam, orang nashrani, orang Yahudi, orang hindu, orang Budha, orang konghucu, atau komunis s/d hari kiamat adalah Ummat Nabi Muhammad Saw?

Offline budi ramanda

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 2.729
  • Lokasi: P. Siantar
  • Jenis kelamin: Pria
  • nikmatnya anggur ini
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 07 Juli 2008, 08:46:40 »
"AKU BERSAKSI BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN NABI MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH"

Aku yg mencintai Keluarga


Offline al_anwar14

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 385
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 07 Juli 2008, 09:51:47 »
Karena tidak ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad Saw, terus kelanjutan kerja Nubuwwah siapa yang mengembannya sebagaimana Sahabat Nabi telah mengembannya sehingga Allah meriidhoinya?

Kerja Nubuwwah telah berakhir pada Muhammad SAW, Islam telah sempurna dan lengkap, selanjutnya kita jalankan perintah Allah SWT untuk ta'at dan patuh kepada Ulil Amri/Imam/Waliy sebagaimana diisyaratkan QS 4:59 & 5:55.

Cuma masalahnya kita hrs analisis secara mendalam, siapakah yang berhak yg dijadikan Allah dan  Rasul-Nya sebagai Ulil Amri/Imam/Wali yang pertama setelah Rasul SAW wafat sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan-Nya?

Offline aaboed

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 1.063
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 08 Juli 2008, 18:30:45 »
Muhammadan Abduhu wa Rosuluhu, Laa Nabiya Ba'dah.

Kenabian dan Kerasulan telah terputus, Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul Allah terakhir.

Kelanjutan kerja Nubuwwah masih ada, namun predikat dan peringkatnya bukan Nabi dan Rasul lagi, melainkan sekedar 'al ulama warosatul anbiya' (ulama=orang berilmu, para ulama pewaris nabi).

Jadi, cukup disebut 'ulama saja, atau jika mau, sebut saja para Wali Alloh, ulama pewaris Nabi. namun meskipun setingkat Wali Alloh, mereka bukanlah dan tidak setingkat dengan Nabi Alloh.

Allohu Alam Bisshowab.
"Ketika Tuhan ingin memberi wujud bagi cahaya-Nya;
maka Ia menciptakan Muhammad sebagai hamba-Nya"

www.muslimheritage.com

www.harunyahya.com

www.aaboed.blogspot.com

Offline Kang Peyi

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 519
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 09 Juli 2008, 13:50:42 »
Kalau ada orang akan menceburkan diri kedalam kobaran api, apakah perlu dalil untuk menyelamatkan orang tersebut, bolehkah orang yang tidak berilmu (bukan ulama) memperingatkannya, mendatangi dan mencegah agar orang tersebut selamat dari api. Hari ini ribuan bahkan jutaan orang Islam berbondong2 menceburkan diri kedalam api dengan meninggalkan Shalat (orang meninggalkan shalat karena tidak yaqin/ sangat tipis keyaqinannya kepada Allah dan kepada perintahNya). Apakah hanya orang yang berilmu saja yang boleh menyelamatkan mereka? ataukah semua ummat Islam?.
Rasulullah selalu berusaha bagaimana ummatnya tidak tercebur kedalam Api sebagaimana laron2 yang selalu mendatangi api.

Dikota-kota dan didesa-desa banyak saudara kita yang telah 'diselamatkan' oleh orang lain, sehingga tergadai keyaqinannya.



Offline Bad Boy

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.384
  • Lokasi: Dalam kekuasaan Allah...
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 09 Juli 2008, 15:51:53 »
Yang bisa kita lakukan itu sekedar menasehati / kasih tau / mengingatkan. Tapi kalo udah main gebuq... Lha ini yang repot.
ياهو يامن لا هو الاّ هو
    يامن اجاب نوحا في قومه    يامن نصر ابراهيم عل اعدائه    يامن ردّ يوسف عل يعقوب    يامن كشف ضرّ ايوب    يامن قبل تسبيح يونس بن متا   
لا اله الاّ هو

Offline lovelymoslems

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.748
  • Lokasi: DKI Jaya
  • Jenis kelamin: Pria
  • change your avatar !!!
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 31 Agustus 2008, 00:43:03 »
Orang-orang Yusuf berkata, tidak ada nabi setelah Yusuf. Orang-orang Musa berkata, tidak ada nabi setalah Musa, Orang-orang Isa berkata tidak ada nabi setelah Isa, sekarang orang yang mengaku pengikut Muhammad berkata tidak ada nabi setelah Muhammad.

Weleh-weleh apa kalian mengerti apa itu sunatullah, bahwa Allah akan mengganti kekuasaan syetan (manusia tidak berhukum kepada hukum Allah) dengan kekuasaan orang yang dikehendakiNya. Heran kalian kok lebih hebat dari Allah yang punya takdir bahwa diutusnya nabi-nabi adalah menyelamatkan manusia dari kekuasaan atas manusia lainnya.

Yang aneh, Allah saja rileks dengan adanya orang-orang yang menentang nabi, kok kalian malah melebihi kekuasaan Allah dengan ingin menghakimi sesama manusia semata-mata karena merindukan datangnya Imam Mahdi atau Ratu Adil yang membebaskan manusia dari perbudakan manuia (faqqu roqobah).
« Edit Terakhir: 02 September 2008, 00:23:48 oleh lovelymoslems »
Hidup sesuai tuntunan Rasul adalah berjuang tegakkan syariat dan hapuskan kemusyrikan

Offline wenzt

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2008
  • Tulisan: 648
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 01 September 2008, 12:25:31 »
Orang-orang Yusuf berkata, tidak ada nabi setelah Yusuf. Orang-orang Musa berkata, tidak ada nabi setalah Musa, Orang-orang Isa berkata tidak ada nabi setelah Isa.
lo dapat informasi darimana ni bro??
maaf ya, kemarin saya tidak bisa ol, ada sedikit urusan :dada:

Offline d24k1

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.876
  • Lokasi: Jakarta Pusat Tanah Abang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hiasilah Cinta dan Kasih Sayang itu dengan Iman...
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 01 September 2008, 13:33:09 »
@ atas

jangan heran kalo id tsb menuliskan hal2 yg aneh2,.itu emang dah kerjaannya dari dulu :hihi:
"Insya ALLAH,.Dengan Ikhlas Kita Mudah"

"Tidak semua yg kamu katakan itu dibenarkan oleh orang lain,.meskipun perkataan itu benar"  " DUIT = Do'a,..Usaha,..Istiqomah,..Tawwakal.. "  " Senyum adalah Ibad