punya pengalaman nyata. Sebelumnya, ana sudah sering dengar, kalo orang masuk mesjid LDII, bakalan di pel lagi lantai masjid bekas orang itu sholat. Ane sih percaya ga percaya.
Nah pas lagi ngajar di daerah Bekasi, ana masuk waktu ashar, dan kebetulan mesjid terdekat di daerah situ mesjid LDII. Nah, ana masuk, di situ pas udah adzan. Ane masuk tuh, sholat tahiyyatul mesjid, trus ane nunggu, koq lama ya sholatnya. Ya udah ane tunggu aja.
Aje gile...waktu ashar saat itu 3.10 (atau 3.15) dan sampai jam 3.40 ternyata belum mulai sholat berjamaah juga. Karena waktu ngjara jam 4, terpaksa dah ana sholat sendirian ngga nunggu jamaah.
Eng ing eng, pas jam 3.45an gitu, selesai sholat, ternyata. si muadzin akhirnya komat setelah ana keluar dari masjid...
maksud loooooo?
sakit ati gue sama mesjid LDII!!!!! Moso' ngga nerima gue jadi jamaah sholat..ck ck ck.
dari gatra.com
Gatra mencoba menelusuri kantong-kantong LDII untuk membuktikan berbagai klaim itu. Saat azan magrib, Senin pekan lalu, reporter Gatra Rizal Harahap masuk masjid LDII di Jalan Pelajar Timur, Medan. Usai kumandang azan, ruang dalam masjid itu masih sepi.
Berbeda dengan masjid lain yang langsung disesaki jamaah.Sesaat kemudian, barulah jamaah datang satu per satu untuk menunaikan salat sunat. Setiap orang yang berpapasan dengan Gatra, laki-laki, perempuan, tua-muda, menyunggingkan senyum ganjil. Seolah tersirat makna: reporter Gatra kesasar atau dianggap agen intel. Belakangan ketahuan, kompleks itu kerap disusupi intel.
Salat berjamaah baru dimulai pukul 18.40. Hampir setengah jam dari awal waktu magrib di Medan: pukul 18.11. Jamaah tampaknya sudah biasa memperlambat awal salat. Itu pun masih banyak yang terlambat (makmum masbuk). Malah, salat berjamaah "trip kedua", masih banyak pesertanya.Ada yang unik: anak-anak, malah balita, dibiarkan masuk di tengah saf pertama. Meski di saf kedua banyak pria dewasa. Sebagian tudingan miring pada kelompok itu tidak terbukti. Minimal selama Gatra di sana. Bekas tempat salat Rizal Harahap langsung dipakai jamaah lain. Tidak dipel lebih dulu karena non-LDII dianggap najis, seperti cerita yang berkembang selama ini.
Pengalaman serupa ditemukan Gatra di masjid Kantor Pusat LDII, Jalan Tawakal IX/18, Tomang, Jakarta Barat.
Jarak azan dan awal salat magrib berjamaah juga cukup lama. "Orang asing" diterima leluasa bergabung melaksanakan salat magrib sekaligus isya. Tak ada aksi mengepel lantai. Beberapa anggota LDII juga enteng saja berjabat tangan dengan Gatra. Dulu banyak cerita, mereka enggan berjabatan tangan dengan orang lain.
Di Surabaya, reporter Gatra Ary Sulistyo, yang menunaikan salat jamaah di beberapa masjid LDII, tak diperlakukan sebagai "barang najis". Justru mendapat sambutan hangat. "Tuduhan mengepel bekas salat orang lain sama sekali tidak benar," ujar Kurniadi, Ketua Takmir Masjid LDII Sidosermo, Surabaya. "Lihat saja waktu salat Jumat, banyak warga non-LDII yang berjamaah. Cuma, kalau jadwalnya ngepel, ya, dipel."
Koresponden Gatra di Makassar, Anthony Djafar, juga tak menemukan aksi pembersihan lantai di masjid LDII. Di Sulawesi Selatan, lebih dari 100 masjid dibina LDII. Di Makassar ada 12 masjid. Satu yang terbesar adalah Masjid Nurul Hakim di Jalan Urip Sumoharjo, yang jadi kantor pengurus LDII Sulawesi Selatan. Semua perlakuan itu diperoleh awak Gatra sebelum memperkenalkan diri sebagai wartawan.
afwan.
-ER-