Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Nikah beda agama, kenapa tidak?  (Dibaca 1267 kali)


Offline ishaputra

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 247
    • Lihat Profil
    • Sapere aude!
« pada: 03 Mei 2008, 08:52:48 »
Nikah beda agama, kenapa tidak?
By me

Dilihat dari perspektif humanisme, sebenarnya sama sekali tidak ada yang buruk dengan persoalan “nikah beda agama”. Jika kita semua percaya bahwa tiap agama bertujuan positif bagi kehidupan manusia, maka “perbedaan merk” tentulah bukan penghalang untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis dan kemudian menikah. Justru sebaliknya, perbedaan agama dapat dipandang positif sebagai sebuah wadah untuk mengenal agama lain dan mencari kesamaannya. Jika mau jujur dan rendah hati, sebenarnya banyak hikmah yang bisa diperoleh dari bersikap inklusif dengan mencoba mengenal agama lain dengan baik, yang dalam hal ini melalui sebuah wadah pernikahan.

Namun pada kenyataannya, perbedaan agama masih menjadi salah satu penghambat populer hubungan lawan jenis. Masih banyak masyarakat yang enggan “naksir” seseorang yang telah diketahui berbeda agama. Kalau pun telanjur kepincut, biasanya perbedaan agama tetap akan menjadi problem tersendiri menjelang pernikahan. Banyak pasangan yang kemudian putus oleh perbedaan agama. Yang tetap bersikukuh, dihadapkan pada dua pilihan: nikah beda agama, atau salah satu mengalah  ke agama pasangannya.

Seharusnya ini menjadi pertanyaan kita semua: Mengapa perbedaan agama dapat menjadi penghambat hubungan lawan jenis? Apa relevansinya antara iman pribadi dengan keharmonisan hubungan suami-isteri/keluarga? Bukankah tiap agama –setidaknya yang kita kenal—memiliki tujuan positif bagi tiap manusia?

Tulisan ini tidak bermaksud mengharuskan pernikahan berbeda agama. Melainkan memaparkan suatu pandangan bahwa perbedaan agama tidak seharusnya menjadi penghalang bagi hubungan lawan jenis.

****

Ada beberapa faktor mengapa paradigma menikah seagama menjadi suatu norma di masyarakat. Faktor pertama di luar agama, seperti pragmatisme. Yaitu soal “kemudahan” melakukan praktik keagamaan bersama, kesamaan adat/budaya yang terkait agama, dan perayaan hari besar dalam keluarganya nanti. Juga kemudahan dalam memberi pendidikan agama pada anak. Termasuk faktor “tekanan keluarga”, di mana seringkali orang tua tidak memberi restu jika anaknya menjalin hubungan dengan orang yang tidak seiman. Ini alasan yang picik dan tidak perlu diperhitungkan. Seperti memilih jodoh yang sehobi atau sekampung. Sikap pragmatis seperti ini juga ada pada mereka yang cenderung memilih pasangan se-suku atau se-ras.

Faktor kedua lebih ideologis, yaitu faktor ajaran agama. Pada faktanya beberapa agama memang mengharamkan pernikahan beda agama, walau ada juga yang memperbolehkannya dengan syarat tertentu. Gereja Katolik misalnya, cenderung sulit menikahkan jemaatnya dengan seseorang yang berada di luar Gereja Katolik. Sedangkan dalam Islam, ada dalil yang mengatakan lelaki Muslim boleh menikah dengan wanita non-Muslim, namun haram bagi wanita Muslim untuk menikah dengan pria non-Muslim.

Dua faktor di atas adalah penghambat populer pernikahan berbeda agama, selain faktor UU No. 1 Th. 1974 tentang Perkawinan di Indonesia yang melarang pernikahan berbeda agama (pasal 2).

****

Dalam hal ini, ajaran agama memiliki peran amat penting dan merupakan faktor fundamental mengapa masyarakat cenderung enggan untuk menikah beda agama. Pragmatisme masyarakat dan UU tersebut sedikit banyak didasari/dipengaruhi oleh larangan ajaran agama. 

Menanggapi faktor ajaran agama, rasanya tidak perlu repot melirik ayat-ayat suci mana saja yang dapat dijadikan sebagai justifikasi. Tidak ada gunanya. Itu sama saja dengan menggunakan dalil-dalil normatif agama jahiliyah tentang keharusan -–misalnya-- mengurbankan bayi sebagai persembahan untuk dewa-dewi mereka. Walau sejuta dalil normatif digunakan sebagai justifikasi mengurbankan bayi untuk dewa-dewi, bukan lantas tindakan itu dapat dipandang benar, logis, bermanfaat, dan progresif. Secara mendasar, dogma bukanlah alasan mengapa kita harus melakukan (atau tidak melakukan) sesuatu.

Ajaran agama yang melarang umatnya untuk menikah beda agama tidak perlu dilirik, apalagi disegani dan dituruti. Dalam hal ini, kita harus memiliki kekritisan yang radikal terhadap ajaran agama. Ini bukan upaya mendiskreditkan agama, namun sebaliknya, menjadikan agama itu “lebih hidup” dan tetap relevan di era modern. Meminjam istilah Ulil Abshar-Abdalla, agama harus dipandang sebagai suatu organisme hidup yang terus berubah dan berkembang (progresif), bukan sebagai patung monumen yang agung namun statis.

Progresifitas keberagamaan tidak akan berjalan sempurna dengan adanya dogma-dogma baku yang tidak bisa dirubah. Era modern membutuhkan sebuah paradigma agama yang antroposentris, bukan teosentris. Ini logis, jika kita percaya bahwa agama hadir untuk manusia dan bukan sebaliknya.

Secara jujur, tak satu pun larangan menikah beda agama memiliki alasan yang logis dan cerdas. Pada hakikatnya tidak ada relevansinya antara perbedaan iman dengan keharmonisan hubungan keluarga/suami-isteri. Dasarnya, iman adalah urusan pribadi dan merupakan tanggungjawab individual. Tiap agama lazimnya memiliki tujuan yang mulia yang tentunya (harus) kompatibel dengan kemanusiaan. Jadi, alangkah tidakmanusiawinya jika pernikahan berbeda agama ditabukan dengan alasan apapun, terlebih alasan “dilarang agama”. Konsep agama yang sejati justru seharusnya mempersatukan manusia yang berbeda-beda dalam keharmonisan, bukan malah memberi sekat-sekat.

Akhir kata, betapa konyol jika perbedaan agama (apalagi suku/ras) masih diperhitungkan dalam hubungan lawan jenis di zaman sekarang.  Rasa “risih” untuk akrab/intim dengan individu yang berbeda (baik agama, suku, ras, dsb) adalah paradigma “ndeso” yang disebabkan oleh kebiasaan hidup di lingkungan yang cenderung homogen. Ini tentu tidak sesuai dengan paradigma peradaban modern yang kosmopolis, di mana pluralitas manusia adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi dan diakrabi. []

http://ishaputra.multiply.com/journal/item/35/Nikah_beda_agama_kenapa_tidak

Offline aisya moura

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 3.776
  • Lokasi: banua city
  • Jenis kelamin: Wanita
  • maju atau menang
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 03 Mei 2008, 09:01:13 »
silakan aja bagi manusia yang menjunjung kebebasan, tp kalo muslimin dan muslimah yang lakukan jangan yah, udah jelas kan keharamannya, melanggar berarti dosa besar, dosa berarti ke neraka :toe:
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dg sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kpd oran

Offline Dayna

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.237
  • Lokasi: Kuwait
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 03 Mei 2008, 09:05:09 »
Lock aja deh mod, double post jadinya. Post yang sama sudah dilempar ke Isagla...Eh post disini lagi...Kami memang welcome pada non muslim, tapi ya mbok tahu diri gitu...Ini bukan isu umat Islam, tapi isu sekulerisme dan liberalisme.

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #3 pada: 03 Mei 2008, 09:18:18 »
Sebelum saya pindah, saya mau komentar sedikit. Harusnya judulnya diganti, "NIKAH AMA MONYET KENAPA TIDAK?".
sekian.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline ishaputra

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 247
    • Lihat Profil
    • Sapere aude!
« Jawab #4 pada: 03 Mei 2008, 17:27:21 »
Semua yang anda lontarkan bukanlah alasan logis untuk menentang opini saya di atas. Udah, kasih aja opini filosofis anda kenapa nikah beda agama tidak boleh! (Jangan pakai dogma agama, yang logis alasannya...)

Offline kinghunter

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 866
  • Kriuk... Kriuk...
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 03 Mei 2008, 17:47:38 »
Nikah beda agama tentu saja dibolehkan, jika aturan agama yg dia anut membolehkan penganutnya untuk menikah dengan orang yang menganut agama lain. Misal orang Budha yg menikah dengan orang tao.

Offline pencari

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2008
  • Tulisan: 68
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 03 Mei 2008, 18:27:36 »
ya kalo kita berada di wilayah dogmatis maka masing2 sesuai aturan dogma masing2. Ulasan TS dari segi runutan asumsi tidak runut. Agama memang wilayah yang esensialis. Jika kita bermaksud melakukan reformasi di wilayah yg dogmatis ini dari segi azaz akan bertabrakan (paradox). Semangat humanisme dan pluralisme jangan sampai merusak tatanan yg sudah ada lah.....jangan terlalu heroik. Semangat kebebasan seperti itu justru akan memicu konflik yang keras. Nah loh Tuhan sendiri bilang begitu (berdasarkan keyakinan masing2) jadi jangan diseret pada liberalisasi dong.....karena jika skema seperti itu dipakai maka tidak ada lagi yg perlu diyakini.

Offline Akhina Ifa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 808
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • I Love Allah...
    • Lihat Profil
    • Lembaran-lembaran Hati
« Jawab #7 pada: 04 Mei 2008, 03:14:59 »
Kutip
Semua yang anda lontarkan bukanlah alasan logis untuk menentang opini saya di atas. Udah, kasih aja opini filosofis anda kenapa nikah beda agama tidak boleh! (Jangan pakai dogma agama, yang logis alasannya...)


Jawab:
Ya ampun mas.. mas... klo lihat islam tuh yang WHOLE kenapa...
jangan ngeliat pakai sebelah mata aje... Kenapa Seorang Muslim dilarang Menikah dengan Seorang Non Islam karena ditakutkan dalam rumah tangga mereka akan ada sesuatu yang tersekat. Seperti ada yang salah satunya terpaksa ikut Islam atau sebaliknya... jika demikian berarti masuk islam itu pemaksaan dunx... ataupun sebaliknya... Jika demikian bisa dibilang "gak seru!!!"
Atau jika diantara mereka selama hidupnya saling bersih tegang bagaimana, masalah iman lagi...(salah satu dasar dari jalan fikiran manusia)??
Dari pada nanti terjadi berantem meningan ditidakkan, bukan... padahal nikaah bukan buat berantem khan mas??  :topOK:
Baik ngak Tuh Allah SWT  ;)

This Group on Facebook | Ikutan Gabung yha... ^^

.::Yaa Allah... Aku Melaksanakan ini KarenaMu, Karena Aku MencintaiMu::.

Offline DodyKurniawan 07

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 4.226
  • Lokasi: Magelang City
  • Jenis kelamin: Pria
  • fayaa ilaahiththufbinaa...
    • Lihat Profil
    • IstanaIslamku
« Jawab #8 pada: 04 Mei 2008, 07:36:47 »
he...he...
salam kenal isaputra...

Dilihat dari perspektif humanisme, sebenarnya sama sekali tidak ada yang buruk dengan persoalan “nikah beda agama”. Jika kita semua percaya bahwa tiap agama bertujuan positif bagi kehidupan manusia, maka “perbedaan merk” tentulah bukan penghalang untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis dan kemudian menikah. Justru sebaliknya, perbedaan agama dapat dipandang positif sebagai sebuah wadah untuk mengenal agama lain dan mencari kesamaannya. Jika mau jujur dan rendah hati, sebenarnya banyak hikmah yang bisa diperoleh dari bersikap inklusif dengan mencoba mengenal agama lain dengan baik, yang dalam hal ini melalui sebuah wadah pernikahan.

komentar :
benar sekali kita perlu mengenal agama lain untuk menambah wawasan, bagus sekali saya setuju...di satu sisi mengenal agama lain akan menumbuhkan wawasan kita bahwa setiap agama diakui tidak diakui mempunyai jurang perbedaan yang sangat besar....
agama satu dan agama lain anda akui tidak anda akui adalah saling mengkafirkan...

he..he...
indahnya kebahagiaan rumah tangga dalam kedamaian andai suami isteri sudah saling mengkafirkan... 8-)
setiap agama bertujuan positif untuk mengenal nilai2 kebaikan dan wujud tuhan itu sendiri...tapi perbedaan merek dan jalan tsb seringkali dan semestinya membenturkan kepada keadaan bahwa jalan yang ditempuh bukan bersifat alternatif pada sisi relativisme, tetapi lebih merupakan nilaii absolutisme kebenaran itu dalam persepsi masing2....
akankah perbedaan merek itu bisa dipandang sepele sebagai wadah untuk mencari 'kesamaannya' manakala masing2 dari suami atau isteri tersayat hatinya membayangkan pasangannya masing2 akan masuk ke neraka jahannam sesuai ideologi yang terpancang dalam tempurung tengkorak mereka?....

he,,he,,,sebuah kebahagiaan dalam benturan perbedaan2 bisa dipertemukan manakala masih ada sisi variabel yang mendukung ke arah kebahagiaan tanpa trauma psikologis dan bayangan mimpi buruk di masa depan terhadap masing2 nasib pasangan kita...
padahal sebagai manusia yang dikarunia sifat belas kasih, apakah akan tertanam sifat toleransi dan saling menghargai manakalah bayangan nigthtmare selalu menghantui waktu2 kita 24 jam siang dan malam..... ::)

Namun pada kenyataannya, perbedaan agama masih menjadi salah satu penghambat populer hubungan lawan jenis. Masih banyak masyarakat yang enggan “naksir” seseorang yang telah diketahui berbeda agama. Kalau pun telanjur kepincut, biasanya perbedaan agama tetap akan menjadi problem tersendiri menjelang pernikahan. Banyak pasangan yang kemudian putus oleh perbedaan agama. Yang tetap bersikukuh, dihadapkan pada dua pilihan: nikah beda agama, atau salah satu mengalah  ke agama pasangannya.

komentar :

he,,he,,,
itulah begitu lebarnya jurang perbedaan cara pandang masing2 dari pria dan wanita yang terpancang dalam tengkorak kepala mereka akan menjadi batu penghambat dalam menghimpun arti sebuah kebahagiaan, akankah kebahagiaan surga duniawi bisa berdiri di atas bayangan mimpi buruk akan nasib pasangan tersayang di kemudian hari..... :)

he,,,he,,,

Seharusnya ini menjadi pertanyaan kita semua: Mengapa perbedaan agama dapat menjadi penghambat hubungan lawan jenis? Apa relevansinya antara iman pribadi dengan keharmonisan hubungan suami-isteri/keluarga? Bukankah tiap agama –setidaknya yang kita kenal—memiliki tujuan positif bagi tiap manusia?

Tulisan ini tidak bermaksud mengharuskan pernikahan berbeda agama. Melainkan memaparkan suatu pandangan bahwa perbedaan agama tidak seharusnya menjadi penghalang bagi hubungan lawan jenis.


komentar :
he..he....
'perbedaan' agama seharusnya tidak menjadi penghalang, benar sekali,,,tapi 'perbedaan' agama dalam wujud satu keyakinan sebagai hasil akhir sebuah akuisisi keyakinan....dalam sisi cara pandang kita masing2 yang mempunyai konsep nilai2 agama yang berseberangan, janganlah dianggap sebagai sesuatu yang ringan seperti ringannya kapas yang tertiup angin, tetapi cobalah kita melihat dari sisi psikologis hati kita yang dilingkupi rasa kasih sayang, akankah kita mampu menepis bayangan mimpi buruk akan nasib pasangan kita di hari keabadian kelak....

****
he,,,he,,,
setuju sekali saya setuju perbedaan bukan menjadi hubungan lawan jenis, tetapi hendaknya kita bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya masing2..itulah arti sebuah keadilan manakala kita bersikap jernih dan ridho kepada aturan yang dibebankan sang Illahi Rabbi tanpa berusaha mendefinisikan arti sebuah keadilan dalam hubungan antar lawan jenis pada tempat yang tidak sesuai.....
janganlah mengharap nilai sebuah kebaikan semu tapi tanpa disadari diri kita telah berbuat dzalim akan hak2 Allah yang harus ditunaikan...


Ada beberapa faktor mengapa paradigma menikah seagama menjadi suatu norma di masyarakat. Faktor pertama di luar agama, seperti pragmatisme. Yaitu soal “kemudahan” melakukan praktik keagamaan bersama, kesamaan adat/budaya yang terkait agama, dan perayaan hari besar dalam keluarganya nanti. Juga kemudahan dalam memberi pendidikan agama pada anak. Termasuk faktor “tekanan keluarga”, di mana seringkali orang tua tidak memberi restu jika anaknya menjalin hubungan dengan orang yang tidak seiman. Ini alasan yang picik dan tidak perlu diperhitungkan. Seperti memilih jodoh yang sehobi atau sekampung. Sikap pragmatis seperti ini juga ada pada mereka yang cenderung memilih pasangan se-suku atau se-ras.

komentar :

he...he,...
permasalah faktor dan sebab musabab bukanlah satu yang patut direnungkan, karena terkadang analisa sesuatu pada kaidah ushul fiqh yang baru diciptakan yaitu bahwa kejadian yang bersifat khusus bisa membatalkan keumuman nash....itulah cara pandang bisikan yang patut kita kritisi...karena bisa menipu kita, kita tidak pernah tahu bisikan, ilham yang masuk ke kepala kita murni berasal dari sang Illah Rabbi atau dari jin perempuan yang suka usil atau dari iblis bermuka dua..... ::)

sesungguhnya persoalan pragmatis bukanlah sebab utama tapi justru dorongan fitroh insaniyah dalam diri kita untuk mencari pasangan yang mirip dengan wajah kita....karena kesamaan hati, wajah, pakaian yang kita sandang adalah daya pikat utama yang kadang tidak bisa kita tolak, ya karena memang itu wujud fitroh insaniyah  yang ditanamkan ke dalam setiap hati anak Adam....
seorang lelaki yang suka makan pete dan jengkol maka akan sangat berbahagialah dia manakala calon isterinya juga kebetulan punya  hobby berat ama pete dan jengkol....

he..he...

Faktor kedua lebih ideologis, yaitu faktor ajaran agama. Pada faktanya beberapa agama memang mengharamkan pernikahan beda agama, walau ada juga yang memperbolehkannya dengan syarat tertentu. Gereja Katolik misalnya, cenderung sulit menikahkan jemaatnya dengan seseorang yang berada di luar Gereja Katolik. Sedangkan dalam Islam, ada dalil yang mengatakan lelaki Muslim boleh menikah dengan wanita non-Muslim, namun haram bagi wanita Muslim untuk menikah dengan pria non-Muslim.

Dua faktor di atas adalah penghambat populer pernikahan berbeda agama, selain faktor UU No. 1 Th. 1974 tentang Perkawinan di Indonesia yang melarang pernikahan berbeda agama (pasal 2).


komentar :
anda sendiri telah menyadari bahwa kendala legal formal mau tidak mau akan menjadi batu besar penghalang cita2 untuk mewujudkan pluralisme agama....ya wajarlah saudaraku.....sudah taqdir Allah untuk menciptakan perbedaan-perbedaan itu, kalau DIA menghendaki pastilah sangat mudah untuk menjadikan manusia menjadi umat yang satu....
akankah kita bermimpi untuk mewujudkan pluralisme agama, sesuatu yang Allah sendiri tidak 'berkehendak' untuk menyatukan...
akahkah kita bermimpi untuk mewujudkan kesatuan agama manakala kita sendiri sudah menyadari betapa jauh jurang perbedaan yang terbentang di antara norma dan nilai masing2 agama....

he...he...

****

Dalam hal ini, ajaran agama memiliki peran amat penting dan merupakan faktor fundamental mengapa masyarakat cenderung enggan untuk menikah beda agama. Pragmatisme masyarakat dan UU tersebut sedikit banyak didasari/dipengaruhi oleh larangan ajaran agama. 

Menanggapi faktor ajaran agama, rasanya tidak perlu repot melirik ayat-ayat suci mana saja yang dapat dijadikan sebagai justifikasi. Tidak ada gunanya. Itu sama saja dengan menggunakan dalil-dalil normatif agama jahiliyah tentang keharusan -–misalnya-- mengurbankan bayi sebagai persembahan untuk dewa-dewi mereka. Walau sejuta dalil normatif digunakan sebagai justifikasi mengurbankan bayi untuk dewa-dewi, bukan lantas tindakan itu dapat dipandang benar, logis, bermanfaat, dan progresif. Secara mendasar, dogma bukanlah alasan mengapa kita harus melakukan (atau tidak melakukan) sesuatu.


komentar :

he,,,he,,,kita menyadari bahwa ajaran agama adalah jantung denyut nadi kehidupan setiap insan....denyut nadi keagamaan tersebut secara alamiah telah membuat suatu norma sendiri dalam masyarakat, karena hakekat norma sendiri adalah kumpulan item2 yang terwujud perintah dan larangan yang ada pada setiap manusia...item2 yang sama akan berkumpul dalam wadah yang sama dan item2 yang berbeda tidak akan melebur menjadi satu bagai minyak dan air...

suatu pernyataan untuk mengesampingkan pelaksananaan ajaran agama masing2 pada hakekatnya adalah merendahkan nilai2 kebenaran agama masing2....sesungguhnya yang perlu kita kritisi adalah bisikan untuk menjauhi dogma agama masing2, padahal kebenaran agama masing2 adalah tersusun dari dogma2....masing2 dari kita dalam memilih agama adalah salah satunya karena daya tarik ajaran dan dogma yang tertuang di dalamnya....apakah bukan suatu pengkhianatan dan perselingkuhan manakala kita telah setuju dan berjanji untuk memeluk dan menjalankan agama masing2, seandainya kita disuruh untuk melepas baju masing2 hanya demi alasan indah meninggalkan dogma untuk mewujudkan kebahagiaan baru dalam wujud pluralisme agama....kebahagiaan atau perselingkuhan....

he...he....
 
Ajaran agama yang melarang umatnya untuk menikah beda agama tidak perlu dilirik, apalagi disegani dan dituruti. Dalam hal ini, kita harus memiliki kekritisan yang radikal terhadap ajaran agama. Ini bukan upaya mendiskreditkan agama, namun sebaliknya, menjadikan agama itu “lebih hidup” dan tetap relevan di era modern. Meminjam istilah Ulil Abshar-Abdalla, agama harus dipandang sebagai suatu organisme hidup yang terus berubah dan berkembang (progresif), bukan sebagai patung monumen yang agung namun statis.

Progresifitas keberagamaan tidak akan berjalan sempurna dengan adanya dogma-dogma baku yang tidak bisa dirubah. Era modern membutuhkan sebuah paradigma agama yang antroposentris, bukan teosentris. Ini logis, jika kita percaya bahwa agama hadir untuk manusia dan bukan sebaliknya.


komentar :
he,....he,,,
ajaran untuk mencampakkan nilai agama yang telah kita yakini dan kita akui kebenarannya adalah suatu wujud perselingkuhan baru...sesuatu kosakata yang telah dibenci oleh masing2 dari kita yang mempunyai nurani yang sehat....bukanlah sesuatu yang lebih hidup akan terwujud, memang benar sesuatu yang hidup yang baru, tapi dalam wujud perselingkuhan agama, yang notabene wujud perselingkuhan itu adalah hakekatnya adalah sebuah agama baru yang terpisah berdiri sendiri....
ketika anda berusaha melepaskan diri dengan beribu alasan indah untuk hanya menciptakan wujud dunia baru, hakekatnya adalah anda sendiri telah terjerumus tanpa anda sadari dalam wujud AGAMA BARU yang anda ciptakan...

he....he....katakan pada ulil abshar abdallla...salam kenal dari saya...sampaikan kepadanya saya ingin mengetahui sejauh mana hasil kreasi yang dia ciptakan.....silahkan konfrontasikan dengan keimanan dia sebagai seorang muslim kepada surat Al Baqarah 23-24.....



Secara jujur, tak satu pun larangan menikah beda agama memiliki alasan yang logis dan cerdas. Pada hakikatnya tidak ada relevansinya antara perbedaan iman dengan keharmonisan hubungan keluarga/suami-isteri. Dasarnya, iman adalah urusan pribadi dan merupakan tanggungjawab individual. Tiap agama lazimnya memiliki tujuan yang mulia yang tentunya (harus) kompatibel dengan kemanusiaan. Jadi, alangkah tidakmanusiawinya jika pernikahan berbeda agama ditabukan dengan alasan apapun, terlebih alasan “dilarang agama”. Konsep agama yang sejati justru seharusnya mempersatukan manusia yang berbeda-beda dalam keharmonisan, bukan malah memberi sekat-sekat.

Akhir kata, betapa konyol jika perbedaan agama (apalagi suku/ras) masih diperhitungkan dalam hubungan lawan jenis di zaman sekarang.  Rasa “risih” untuk akrab/intim dengan individu yang berbeda (baik agama, suku, ras, dsb) adalah paradigma “ndeso” yang disebabkan oleh kebiasaan hidup di lingkungan yang cenderung homogen. Ini tentu tidak sesuai dengan paradigma peradaban modern yang kosmopolis, di mana pluralitas manusia adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi dan diakrabi.
[]


komentar :

sesuatu kebatilan akan tetap bernama kebatilan walaupun berlindung di balik seribu alasan indah dalam permainan kata-kata....
saudaraku setiap agama mempunyai tujuan mulia...akankah tujuan mulia tersebut disia-siakan oleh niat spekulatif kita untuk menciptakan wujud dunia baru yang masih sifatnya coba2.....justru tidak disadari kemuliaan agama akan terlumur oleh noda dan kotoran manakala tanpa disadari sikap kita justru mencemari baju yang kita pakai masing2....

he...he...
seruan untuk melepas baju agar kita telanjang hanya untuk berganti baju baru yang belum terbukti kualitasnya....apakah ini yang dinamakan menghormati kebenaran ajaran masing2 agama?

akhir kata bukankah tolok ukur kebenaran itu sesuatu yang ndeso apa bukan, sesuatu kebenaran tidaklah terukur dalam wujud 'peradaban' baru yang tertuang dalam kata kosmopolitan, pluralisme agama sesuatu yang hakekatnya menelanjangi agama masing2 yang dianut....kebenaran itu adalah bagaimana wujud perintah dan larangan dari Allah itu sendiri.....

kembalilah kepada kebenaran yang telah dinashkan secara tegas oleh Allah swt...bahwa laki2 yang baik adalah untuk perempuan yang baik....dan Allah telah mengharamkan nikah beda agama, apalagi kalau seorang muslimah menikah dgn laki2 kafir,,,naudzubillahi....beranikah anda hidup wahai saudara-saudaraku kaum muslimah dalam tali pernikahan yang tidak sah di mata Allah...beranikah anda mati menghadap Allah manakala seumur hidup berkubang dalam perzinahan......ذ
 
  الحق من ربك فلا تكو نن من الممترين

"Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (Al Baqarah : 147)

ولا تلبس الحق بالباطل وتكتموا لحق وانتم تعلمون

"Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedang kamu mengetahui". (Al Baqarah : 42)



« Edit Terakhir: 04 Mei 2008, 07:49:18 oleh DodyKurniawan 07 »

Offline adi isa

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2008
  • Tulisan: 1.595
  • Jenis kelamin: Pria
  • let me, I'm thinking
    • Lihat Profil
    • http://feradiisander.wordpress.com
« Jawab #9 pada: 04 Mei 2008, 10:47:25 »
kalau masih ada yang muslimah, kenapa juga harus cari wanita kafir?
nggak lah,...

Offline aira^kudo

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 5.405
  • Lokasi: Bandung thea..
  • Jenis kelamin: Wanita
  • [tsuki no kokoro ni, kakaru kumo nashi...]
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 04 Mei 2008, 11:06:58 »
Kalo jwbnnya mau yg logis dan tdk brdasarkan agama gini aja..

Apakah sebuah pernikahan yg suami istrinya memiliki landasan dan pandangan yg berbeda akan mendapatkan kebahagiaan?
Tdk hanya utk sehari dua hari, tp untuk seumur hidup..

just that..
.... a honorable death is prefer to be a life in shame....

Offline Akhina Ifa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 808
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • I Love Allah...
    • Lihat Profil
    • Lembaran-lembaran Hati
« Jawab #11 pada: 04 Mei 2008, 11:40:11 »
kalau masih ada yang muslimah, kenapa juga harus cari wanita kafir?
nggak lah,...

Jawab:
Takut.. klo lagi Bulan madu pada nggak baca doa ya mas??
Heeee

This Group on Facebook | Ikutan Gabung yha... ^^

.::Yaa Allah... Aku Melaksanakan ini KarenaMu, Karena Aku MencintaiMu::.

Offline Akhina Ifa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 808
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • I Love Allah...
    • Lihat Profil
    • Lembaran-lembaran Hati
« Jawab #12 pada: 04 Mei 2008, 11:42:46 »
Kalo jwbnnya mau yg logis dan tdk brdasarkan agama gini aja..

Apakah sebuah pernikahan yg suami istrinya memiliki landasan dan pandangan yg berbeda akan mendapatkan kebahagiaan?
Tdk hanya utk sehari dua hari, tp untuk seumur hidup..

just that..

Jawab:

Nambahin..... Ck...ck....ck.... Memang kita harus akui bahwa didlm pernikahan pasti ada gangguan masalah walaupun tidak dalam beda agama...

Tetapi.... klo beda agama masalahnya berbeda khan... bisa2x alam bawah sadarnya berontak dibawah lingkup hawa nafsu menikahi "jodoh"nya itu... dan frekuensi sangat serinf sehingga,... bisa gila tuh orang... karena tiap hari punya "gejolak" hati dengan seseorang yang dia cintai... duuh


Ya Allah... Jadikanlah kami orang2x yang dapat mensyukuri NikmatMu dengan Indahnya Wanita Shalelah atau Sumami Yang Shalehah kepada Kami.. Amien

This Group on Facebook | Ikutan Gabung yha... ^^

.::Yaa Allah... Aku Melaksanakan ini KarenaMu, Karena Aku MencintaiMu::.

Offline ikhwan_althaf

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2008
  • Tulisan: 1.758
  • Jenis kelamin: Pria
  • CMIIW
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 04 Mei 2008, 14:08:41 »
kalau masih ada yang muslimah, kenapa juga harus cari wanita kafir?
nggak lah,...
masih banyak muslimah yang cantik berkualitas dan muslim yang ganteng bermartabat
tul gak................ O0 O0 O0

so, say no to "nikah beda agama"
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
*copas dari orang :D*

Offline Akhina Ifa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 808
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • I Love Allah...
    • Lihat Profil
    • Lembaran-lembaran Hati
« Jawab #14 pada: 04 Mei 2008, 14:13:58 »
masih banyak muslimah yang cantik berkualitas dan muslim yang ganteng bermartabat
tul gak................ O0 O0 O0

so, say no to "nikah beda agama"


Jawab:
Betuuul
Salam kenal Akh..... ;)

This Group on Facebook | Ikutan Gabung yha... ^^

.::Yaa Allah... Aku Melaksanakan ini KarenaMu, Karena Aku MencintaiMu::.