Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Siapa yang Menaungi Manhaj 'Killer' ?  (Dibaca 967 kali)


Offline [Fulan]

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 68
    • Lihat Profil
« pada: 29 April 2008, 09:49:40 »
Jawabannya adalah Al-Ikhwanul Al-Muslimun

Al-Ikhwan melakukan Perencanaan Pembunuhan

Lihatlah kitab An-Nuqath Fauqal Huruf, Al-Ikhwanul Muslimun wan Nizhamul Khas yang ditulis oleh Ahmad Adil Kamal, salah seorang anggota Al-Ikhwan. Perhatikan halaman 277 dari kitab ini tentang 'Nuqrasyi' (Menteri Dalam Negeri dan Keuangan). Nuqrasyi mengeluarkan surat perintah pada tanggal 8-12-1948 M untuk membubarkan Al-Ikhwan. Tidak sampai berlalu tiga Jumat setelah itu, Nuqrasyipun terjatuh di halaman Kementerian Dalam Negeri sebab tembakan Al-Ikhwan. :mewe:

Berdasarkan pemaparan Abdul Majid Ahmad Hasan yang membunuhnya, ada tiga alasan dia melakukannya: Sikapnya yang meremehkan usaha menyatukan Mesir dan Sudan, pengkhianatannya dalam perkara Palestina dan kelalimannya terhadap Islam karena membubarkan Al-Ikhwanul Muslimin sebuah pergerakan Islam yang terbesar di masanya. Lihatlah halaman 218 dari kitab itu juga pada tema 'Bagaimana Al-Khazandar dibunuh'.
"Saya tidak menempatkan diriku untuk menjadi musuh Al Ikhwan tentang perbuatan mereka tidak pula membela musuh Islam, hanya saja sesungguhnya saya ingin memahamkan mereka bahwa perbuatan semacam ini tidaklah dibenarkan oleh Islam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat." (QS. Yusuf: 52)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Akan ditegakkan sebuah bendera bagi setiap pengkhianat pada Hari Kiamat, dikatakan "Ini pengkhianatan Fulan bin Fulan".

Allah ‘Azza wa Jalla tidak ridha sifat khianat ada pada diri seorang hamba yang mukmin sekalipun terhadap hak seseorang yang jelas-jelas kafir, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
"Dan jika kamu benar-benar mengkhawatirkan pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah kepada mereka (perjanjian itu) dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang, berkhianat." (QS. Al-Anfal: 58)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini: "Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
"Dan jika kamu benar-benar mengkhawatirkan pengkhianatan dari suatu golongan". Artinya: Pembatalan kesepakatan dan perjanjian yang telah terikat antara engkau dan mereka:

"Maka kembalikanlah kepada mereka": perjanjian mereka.

"Dengan cara yang jujur". Artinya: Beritahukan mereka bahwa engkau telah membatalkan perjanjian (yang diikat dengan) mereka, sehingga engkau dan mereka mengetahui bahwa: engkau memerangi mereka dan mereka memerangi engkau dan bahwa sudah tidak ada perjanjian antara engkau dan mereka.

"Dengan cara yang jujur": Sama antara engkau dan mereka dalam hal itu.

Lalu Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebuah hadits dalam Musnad Imam Ahmad dari Salim bin Amr yang berkata: Dahulu Mu'awiyah radhiyallahu ‘anhu berjalan menuju negeri Rhum dimana antara dia dengan mereka terjadi genjatan senjata. Mu'awiyah hendak mendekati mereka agar kalau telah habis masa gencatan senjata maka dengan segera memerangi mereka. Tiba-tiba ada seorang tua di atas kendaraannya yang berkata: "Allahu Akbar, penuhi janji dan jangan berkhianat! Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: "Siapa yang mempunyai perjanjian dengan suatu kaum, hendaklah jangan melepaskan satu ikatanpun dan jangan pula menekannya sehingga habis masanya atau membalasi mereka dengan semisalnya."

Berita itu sampai kepada Mu'awiyah radhiyallahu ‘anhu, maka diapun kembali. Ternyata orang tua itu adalah Amr bin Abasah radhiyallahu ‘anhu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi dari Syu'bah serta dikeluarkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Imam At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan: Hadits hasan shahih. 160)

Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq telah mengingkari perbuatan Al-Ikhwan melakukan tindakan-tindakan pembunuhan dalam kitabnya Fushul minas Siyasah Asy-Syar'iyyah fid Da'wah ilallah 161), ia katakan:
"Pada hari ini kita diuji dengan orang yang melakukan dakwah menuju Allah ‘Azza wa Jalla yang menempuh siasat pembunuhan, kekacauan dan menjadikan kebathilan sebagai jalan untuk menghapus kebathilan. Apabila engkau datang untuk memberikan nasehat kepada mereka lalu engkau katakan "Ini adalah sebuah kesalahan", maka mereka akan menuduhmu kafir, zindiq, penjilat serta menyelisihi jalan kaum mukmin dan mujahidin.
Kalau engkau katakan kepada mereka "Akuilah kesalahan-kesalahanmu agar kalian diampuni", maka mereka akan menyangka bahwa diri dan pemimpin mereka adalah ma'shum atau mereka akan mengingkari realita dan mendebatnya dengan kebathilan. Andaikan bukan karena keagungan Dien yang mereka berlindung kepadanya -dimana Dien ini telah disebarkan pula oleh selain mereka-, maka mereka tidak akan mendapatkan jalan masuk ke dalam hati dan akal manusia."


Saya katakan: Sesungguhnya ketika mereka melakukan kesalahan-kesalahan parah ini sedangkan mereka menyangka dirinya seorang da'i menuju Dien Allah ‘Azza wa Jalla, maka sebenarnya mereka telah membebankan kepada Dien akibat buruk: kesalahan-kesalahan mereka, kesalahan semua orang yang menyandarkan (amalan) masyarakat umum sebagai Dien, keributan mereka dan orang yang hendak menjatuhkan nama seorang ahli agama agar manusia lari darinya. Ini merupakan saham untuk membuat manusia lari dari Dien, merusak wibawa Dien dan ahlinya, serta memberikan bantuan bagi setiap musuh yang telah mengintai kesempatan membuat gerakan perlawanan terhadap Dien yang lurus.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang-orang munafik atas kemunafikan akidahnya padahal Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui siapa saja mereka -sebab khawatir akan dikatakan "Muhammad telah membunuh para shahabatnya". Jika Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya, maka musuh Dien akan memanfaatkan event tersebut sebagai jalan membuat orang lari dari Dienul Islam. Padahal kaum munafik berkehendak untuk membinasakan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam Aqabah andai saja bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla memelihara Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu nama-nama mereka dan memerintahkan untuk merahasiakannya.

Sebelum itu, Abdullah bin Ubay telah mengatakan apa yang dia katakan, Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan ucapannya di surat Al-Muna-fiqun. Allah ‘Azza wa Jalla mempermalukannya dan menampakkan apa yang dia sembunyikan dari sikap permusuhan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Dien yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai anaknya sendiri (Abdullah bin Abdullah) menawarkan diri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuhnya dan membawakan kepalanya kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab khawatir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan orang lain membunuh ayahnya sehingga menyebabkan bangkitnya ta'ashub kekeluargaannya sehingga dia akan dendam dan membunuh seorang mukmin yang membunuh ayahnya yang kafir itu dan pada akhirnya akan membuatnya menjadi penghuni neraka. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam enggan melakukan hal tersebut dan bersabda: "Bahkan kita akan berbuat lembut kepadanya dan bergaul baik dengannya selama dia bersama kita". 162)

Tidak ada yang menghalangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh semua orang munafik sewaktu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui siapa mereka melainkan sebab khawatir akan tersebar di Arab bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh sahabatnya sendiri, hal ini akan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk membuat orang lari dari Islam.

Sesungguhnya kewajiban para penegak dakwah Islam yang menganggap dirinya benar-benar menyeru kepada Islam adalah membatasi diri dengan semua perintah, larangan dan adab Islam, serta janganlah hawa nafsu mendorong mereka kepada tindakan yang menyebabkan tersebarnya berita yang memburukkan Islam sedikit ataupun banyak.
Sesungguhnya Islam adalah agama yang bersih dan memenuhi janji, tidak ada tempat bagi sifat khianat dan melanggar janji di dalamnya. Telah kita ketahui bahwa Islam membolehkan seseorang yang dizhalimi untuk dibantu, namun dengan cara yang disyariatkan bukan dengan cara yang anarkhis dan harus sesuai kadar kezhalimannya -tidak lebih. Misalnya; Kalau ada orang mencelamu satu kali, maka engkau tidak boleh mencelanya dua kali, sedangkan kalau engkau memaafkan maka itu lebih baik.
_______________________
160) Lihat Musnad Ath-Thayalisi halaman 157/1155, Sunan Abu Dawud III/190 kitab Jihad, bab Imam yang mengikat perjanjian dengan musuh....nomor 2759, At-Tirmidzi dalam As-Sair, bab Khianat nomor 158, An-Nasai dalam Al-Kubra nomor 8732, Imam Ahmad IV/111,113, dan 386, Ibnu Hibban nomor hadits 4871, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra IX/231, dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah XI/166. (Syaikh Muhammad bin Hadi).

161) Halaman 87

162) Al-Bidayah wan Nihayah fit Tarikh, oleh Ibnu Katsir IV/140

[Referensi: Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal; Penulis: Syaikh Al-Allamah Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi hafizhahullah; Resensi dan Pujian: Shahibul Fadhilah Asy-Syaikh Al-'Allamah Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah - Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali hafizhahullah]

"Tiada seorang pun dai penyeru kepada kesesatan dari kalangan ulama jahat melainkan ada panah Ahlus Sunnah yang membidiknya sampai dia tersungkur dan tersingkap kebobrokannya..."

Offline Pak Imam

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 2.005
  • Jenis kelamin: Pria
  • القوات الجوية الملكية السعودية
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 29 April 2008, 10:28:09 »
Bosen pak...
Sejarah: Al-Qur'an vs Bible

Sejarah Teks Al-Qur`an Dari Wahyu Sampai Kompilasi, Kajian Perbandingan Dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Download:
www.pakdenono.com/download/sejarahteksalquran.zip
www.kitaupload.com/download.php?file=188sejarahteksalquran.rar

Offline Miph

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 875
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • [ Muslimin harus berkualitas! ]
    • Lihat Profil
    • miphz
« Jawab #2 pada: 29 April 2008, 10:47:23 »
Ada-ada saja.

Ada bukti dan saksi? Atau hanya cerita saja? Sejarah? Siapa penulisnya? Asalnya dari mana? Aktifitas penulisnya apa saja? Yakin beliau menulis tanpa motif tertentu?


“Kita menilai diri kita dari apa yang bisa kita lakukan, padahal orang lain menilai diri kita dari apa yang sudah kita kerjakan”

Offline kojiro

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 58
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • the show must go on...
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 29 April 2008, 13:47:38 »
sama dg pak imam... :siul:

Offline ana_muslim

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 48
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 29 April 2008, 14:09:53 »
Bosen pak...

sama dg pak imam... :siul:

Bilang aja ngga punya hujjah... ::)

atau memang 'mereka' sudah terkena dogma dan pencucian otak..!! (pinjam istilah akh. kipli)

Offline kipli

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 322
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 29 April 2008, 14:34:55 »
Bilang aja ngga punya hujjah... ::)

atau memang 'mereka' sudah terkena dogma dan pencucian otak..!! (pinjam istilah akh. kipli)

woooowwwww...ada yg nyatut nama ane....!
mas...yg namanya pencucian otak ato brain wash sdh di klaim langsung oleh seorang ustadz ahlussunnah thd kajian salafi di salah satu kota di jawa tengah.
mau tau?
tanya google deehh...

so...ndak usah ngasih gelar estafet dooongg...
emang piala bergilir..??

btw, barusan aja ane nanya sama salafi yg biasanya sholat slalu pake celana panjang yg di balut sarung.
kata dia, harus begini, soalnya biar cetakan celana dalem gak keliatan.
halah...knp gak sekalian di copot aja celana panjangnya?
lha wong pipis aja masih gak jaminan suci tuh clana?

jelaaaaaaaassss...terang benderaaaaangg.....
otak di sumpal dogmaaaa...!!!  :siul: :siul: :siul: :siul: :siul: :siul:

Offline ana_muslim

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 48
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 29 April 2008, 14:40:03 »
Jawabannya adalah Al-Ikhwanul Al-Muslimun

Al-Ikhwan melakukan Perencanaan Pembunuhan

Lihatlah kitab An-Nuqath Fauqal Huruf, Al-Ikhwanul Muslimun wan Nizhamul Khas yang ditulis oleh Ahmad Adil Kamal, salah seorang anggota Al-Ikhwan. Perhatikan halaman 277 dari kitab ini tentang 'Nuqrasyi' (Menteri Dalam Negeri dan Keuangan). Nuqrasyi mengeluarkan surat perintah pada tanggal 8-12-1948 M untuk membubarkan Al-Ikhwan. Tidak sampai berlalu tiga Jumat setelah itu, Nuqrasyipun terjatuh di halaman Kementerian Dalam Negeri sebab tembakan Al-Ikhwan. :mewe:

Semoga Allah memberi kesyahidan thd Nuqrasyi yang telah berupaya utk membubarkan kelompok sempalan sejati...

Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq telah mengingkari perbuatan Al-Ikhwan melakukan tindakan-tindakan pembunuhan dalam kitabnya Fushul minas Siyasah Asy-Syar'iyyah fid Da'wah ilallah 161), ia katakan:
"Pada hari ini kita diuji dengan orang yang melakukan dakwah menuju Allah ‘Azza wa Jalla yang menempuh siasat pembunuhan, kekacauan dan menjadikan kebathilan sebagai jalan untuk menghapus kebathilan. Apabila engkau datang untuk memberikan nasehat kepada mereka lalu engkau katakan "Ini adalah sebuah kesalahan", maka mereka akan menuduhmu kafir, zindiq, penjilat serta menyelisihi jalan kaum mukmin dan mujahidin.
Kalau engkau katakan kepada mereka "Akuilah kesalahan-kesalahanmu agar kalian diampuni", maka mereka akan menyangka bahwa diri dan pemimpin mereka adalah ma'shum atau mereka akan mengingkari realita dan mendebatnya dengan kebathilan. Andaikan bukan karena keagungan Dien yang mereka berlindung kepadanya -dimana Dien ini telah disebarkan pula oleh selain mereka-, maka mereka tidak akan mendapatkan jalan masuk ke dalam hati dan akal manusia."
[cetak tebal dari ana]
Kata-kata "kafir, zindiq, penjilat serta menyelisihi jalan kaum mukmin dan mujahidin" inilah yang biasa ditujukan kpd para salafiyyun...

Offline ana_muslim

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 48
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 29 April 2008, 15:00:41 »
.....btw, barusan aja ane nanya sama salafi yg biasanya sholat slalu pake celana panjang yg di balut sarung.
kata dia, harus begini, soalnya biar cetakan celana dalem gak keliatan.
halah...knp gak sekalian di copot aja celana panjangnya?
lha wong pipis aja masih gak jaminan suci tuh clana?...
[cetak tebal dari ana]

Hal tsb tentu lebih afdhol, berikut Fatwa dari Syaikh bin Baz rahimahullah:
.."Adapun bila celana pantalon tersebut luas, maka sah sholat dengannya. Namun akan lebih utama bila di atasnya ada gamis yang menutup antara pusar hingga lutut atau lebih rendah hingga pertengahan betis atau mata kaki. Yang demikian lebih sempurna dalam menutup aurat. (Al Fatawa 1/69 oleh Syaikh bin Baz).

Lagi,
Dengan ini pula Lajnah Ad Daimah menjawab pertanyaan seputar hukum sholat dengan celana pantalon pada Idaratul Buhuts no 2003 sebagai berikut, "Bila pakaian (celana pantalon) tersebut longgar hingga tidak menggambarkan aurat dan tebal hingga tidak transparan, maka boleh sholat dengannya. Adapun bila transparan, tampak semua yang ada di baliknya, maka batal sholat dengannya. Sedang bila pakaian tersebut hanya sekedar membentuk aurat maka makruh sholat dengannya kecuali bila tidak ada yang lain..." Wabillahit taufiq.

Untuk lebih lengkapnya silahkan merujuk kitab Al Qaulul Mubin -Koreksi atas Kekeliruan Praktek Ibadah Shalat-, karya Syaikh Abu 'Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman...

Offline abu zaid

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 131
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 29 April 2008, 15:09:39 »
Bismillaahir Rahmaanir Rahiimi

Kepada Akh Kipli semoga Allah senantiasa membimbingku dan membimbingmu kepada kebenaran,

sebagaimana yang engkau katakan:
"btw, barusan aja ane nanya sama salafi yg biasanya sholat slalu pake celana panjang yg di balut sarung.
kata dia, harus begini, soalnya biar cetakan celana dalem gak keliatan.
halah...knp gak sekalian di copot aja celana panjangnya?
lha wong pipis aja masih gak jaminan suci tuh clana?"

Ada beberapa penjelasan ringkas berkaitan dengan sebagian ikhwah salafiyyin yang memakai sarung, padahal dia sudah memakai celana (pantalon), ketika dia mau melaksanakan shalat.

1. Salah satu syarat sah-nya shalat adalah dengan menutup aurat.

2. Di dalam shalat, lebih ditekankan lagi untuk berhias, yakni dalam hal berpakaian.

Kemudian yang menjadi masalah, mungkin berkaitan dengan kesempurnaan di dalam menutup aurat. Sebagian 'ulama mengatakan bahwa pakaian ketat yang menjadikan terlihatnya bentuk aurat, maka hukumnya sama saja dengan tidak menutupnya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, Wallaahu A'lam, bahwa terkadang orang yang shalatnya memakai celana panjang (pantalon) ketika dia sujud, maka orang yang berada di belakangnya akan -maaf- melihat bentuk tubuh yang paling "harus dijaga".

Maka sebagai solusi dari permasalahan tersebut, setiap muslim (laki-laki) yang hendak shalat, dia bisa memakai pakaian yang panjang (bisa memakai gamis, jubah, dan di Indonesia khususnya yang menjadi pakaian syar'i yang bisa digunakan adalah sarung).

Semuanya adalah dalam rangka mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang artinya:
" "Hai anak Adam! Pakailah perhiasanmu di tiap-tiap masjid; dan makanlah dan minumlah tetapi jangan boros, sebab Allah tidak suka kepada orang-orang yang boros." (al-A'raf: 31)

Maka tentunya setiap muslim, jika melihat saudaranya telah mengenakan pakaian yang indah, menutup auratnya dengan sempurna ketika akan shalat....semestinya dia berkeinginan untuk menirunya. Dan ini termasuk dalam berlomba-lomba di dalam kebaikan Insya Allah....Baarakallaahufiikum

Dan untuk penjelasan yang lebih mendetail terkait dengan pakaian ketika shalat, Akh Kipli bisa merujuk pada Kitab Al Qoulul Mubiin fii Akhthail Mushalliin karya Asy Syaikh Masyhur HAsan Salman hafidzhahullaahu Ta'ala yang sudah banyak diterjemahkan, Insya Allah antum akan mendapatkan tambahan faidah....

Baarakallaahufiikum

Offline wisdom

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2007
  • Tulisan: 937
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 29 April 2008, 16:12:20 »
Jawabannya adalah Al-Ikhwanul Al-Muslimun

Al-Ikhwan melakukan Perencanaan Pembunuhan

Lihatlah kitab An-Nuqath Fauqal Huruf, Al-Ikhwanul Muslimun wan Nizhamul Khas yang ditulis oleh Ahmad Adil Kamal, salah seorang anggota Al-Ikhwan. Perhatikan halaman 277 dari kitab ini tentang 'Nuqrasyi' (Menteri Dalam Negeri dan Keuangan). Nuqrasyi mengeluarkan surat perintah pada tanggal 8-12-1948 M untuk membubarkan Al-Ikhwan. Tidak sampai berlalu tiga Jumat setelah itu, Nuqrasyipun terjatuh di halaman Kementerian Dalam Negeri sebab tembakan Al-Ikhwan. :mewe:

Berdasarkan pemaparan Abdul Majid Ahmad Hasan yang membunuhnya, ada tiga alasan dia melakukannya: Sikapnya yang meremehkan usaha menyatukan Mesir dan Sudan, pengkhianatannya dalam perkara Palestina dan kelalimannya terhadap Islam karena membubarkan Al-Ikhwanul Muslimin sebuah pergerakan Islam yang terbesar di masanya. Lihatlah halaman 218 dari kitab itu juga pada tema 'Bagaimana Al-Khazandar dibunuh'.
"Saya tidak menempatkan diriku untuk menjadi musuh Al Ikhwan tentang perbuatan mereka tidak pula membela musuh Islam, hanya saja sesungguhnya saya ingin memahamkan mereka bahwa perbuatan semacam ini tidaklah dibenarkan oleh Islam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat." (QS. Yusuf: 52)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Akan ditegakkan sebuah bendera bagi setiap pengkhianat pada Hari Kiamat, dikatakan "Ini pengkhianatan Fulan bin Fulan".

 



Yah ... bohong lagi ... kan sudah pernah dibantah ...

Setelah pembunuhan An Nuqrasyi, Imam Hasan al Banna membuat risalah Bayan Lin Nas, bahkan dia membenarkan sikap pemerintah, dan menolak bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh Ikhwanul Muslim.

Dia menulis: “Mereka  bukan Ikhwanul muslimin dan bukan muslim,” tulisan tersebut juga disertai fatwa Komete Tertinggi Fatwa Ulama Al Azhar yang menetang pem bunuhan tersebut, dan disebarkan luas.  (Masyrakat Al Ikhwan Al Muslimun, Hal. 93,94, 416)

   Yang  jelas walaupun itu dilakukan oleh ‘anggota’ IM, itu merupakan idenya sendiri, sebagaimana kasus BOM Cimanggis- Depok, yang dilakukan oleh Mahasiswa UNAS,  yang aktif di ta’lim SALAFI. Tidak sepantasnya hal itu digeneralisir ke komunitasnya. Nampaknya bersikap objektif, nampaknya sulit bagi fulan al majhuli ini. …



Offline kuringtea

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 2.834
  • Lokasi: Bandung-bogor-bekasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Inspirasi "mujahid" dilampu motorku
    • Lihat Profil
    • www.perisaidakwah.com
« Jawab #10 pada: 29 April 2008, 16:20:27 »
Benar akh,komunitas salafy tentu tidak terima,jika dikatakan Salafy menganut manhaj "killer",bom cimanggis!! ,cape dech:-),
Sahabat ‘Umar Ibn al-Khaththab berkata,

“Bukanlah orang yang berakal itu adalah yang dapat mengetahui kebaikan dari keburukan, namun orang yang berakal adalah yang mampu mengetahui yang terbaik dari dua keburukan.”

[ Raudhatul Muhibbin,hal 8)
Mangga mampir di : makadir.wordpress.com

Offline orang islam

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 84
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 29 April 2008, 16:24:57 »

Yah ... bohong lagi ... kan sudah pernah dibantah ...

Setelah pembunuhan An Nuqrasyi, Imam Hasan al Banna membuat risalah Bayan Lin Nas, bahkan dia membenarkan sikap pemerintah, dan menolak bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh Ikhwanul Muslim.

Dia menulis: “Mereka  bukan Ikhwanul muslimin dan bukan muslim,” tulisan tersebut juga disertai fatwa Komete Tertinggi Fatwa Ulama Al Azhar yang menetang pem bunuhan tersebut, dan disebarkan luas.  (Masyrakat Al Ikhwan Al Muslimun, Hal. 93,94, 416)

   Yang  jelas walaupun itu dilakukan oleh ‘anggota’ IM, itu merupakan idenya sendiri, sebagaimana kasus BOM Cimanggis- Depok, yang dilakukan oleh Mahasiswa UNAS,  yang aktif di ta’lim SALAFI. Tidak sepantasnya hal itu digeneralisir ke komunitasnya. Nampaknya bersikap objektif, nampaknya sulit bagi fulan al majhuli ini. …


namanya juga tukang ngibul. mereka kan memang kumpulan orang suka bohong dan hobi berdusta serta ngarang-ngarang cerita fiktif sekedar untuk menuduh orang atau kelompok lain. yg penting bisa menuduh dan ada sedikit alasan (nggak peduli alasannya ngawur dan nggak masuk akal sehat), mereka udah puasss.
sangat wajar dan sangat bisa dimaklumi jika mereka ini nggak berani berhadapan langsung. soalnya semua kedok2 dan kedustaan2nya akan terbongkar habis bis...
sudah banyak bukti: guru dan murid serta para syekhnya sama saja: sama2 tukang ngibul.  :hmmm:   :siul:

Offline refleksi

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 1.523
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 29 April 2008, 16:25:23 »
woooowwwww...ada yg nyatut nama ane....!
mas...yg namanya pencucian otak ato brain wash sdh di klaim langsung oleh seorang ustadz ahlussunnah thd kajian salafi di salah satu kota di jawa tengah.
mau tau?
tanya google deehh...

so...ndak usah ngasih gelar estafet dooongg...
emang piala bergilir..??

btw, barusan aja ane nanya sama salafi yg biasanya sholat slalu pake celana panjang yg di balut sarung.
kata dia, harus begini, soalnya biar cetakan celana dalem gak keliatan.
halah...knp gak sekalian di copot aja celana panjangnya?
lha wong pipis aja masih gak jaminan suci tuh clana?

jelaaaaaaaassss...terang benderaaaaangg.....
otak di sumpal dogmaaaa...!!!  :siul: :siul: :siul: :siul: :siul: :siul:

cuci otak...haha otak kamu kotor kali kipli jadi perlu di cuci...
Orang kafir aja Bangga dan PD pake Bikini & Rok Mini
(udah kaya Binatang)....
Masa Muslim malu kalau pake Busana Muslim + Sunnah Jenggot dan Tidak Isbal

Kite Musti Bangga Ama Ciri Khas KITA...dan Ga Niru Ciri Khas ORANG KAFIR

Offline Justice 4 All

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 5.506
    • Lihat Profil
    • My Multiply
« Jawab #13 pada: 29 April 2008, 16:27:27 »
Maklum, manhaj hizb salafy ekstrem ini adalah dusta dan fitnah. Padahal perasaan masalah ini dah pernah dibahas.

Nggak ada bahan dusta lain, terpaksa deh ngulang-ulang kedustaan. ;)
Jawaban atas Syubhat yang Dituduhkan kepada Dakwah Tarbiyah

Updated! Latest article: Fatwa Syaikh Albany dan Syaikh Nashir As-Sa'di tentang Pemboikotan Musuh Islam


Offline wisdom

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2007
  • Tulisan: 937
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 29 April 2008, 16:28:35 »
Tentang Pembunuhan Hakim Ahmad KHazandar ... inilah peristiwa tersebut ... akan yterlihat bahwa fulan al majhuli ini copas tanpa analisa (mana mungkin analisa, jika niatnya untuk karakter asasination?)

Berikut ini kutipan dari buku Hasan al Banna Seorang Teroris? Hlm.27-29, beserta komentar kami (dengan tanda pen) simaklah dengan baik dan perlahan:  “Pernah terjadi kasus seorang hakim yang bernama  Khazin (nama sebenarnya adalah Ahmad Khazandar, pen). Ia menjatuhkan vonis penjara bagi sebagian anggota Ikhwanul Muslimin. As Sindi tidak terima (As Sindi adalah pimpinan agen rahasia Ikhwan, dan Ayyid Asy Syamari keliru sebab para pemuda itu bukanlah anggota Ikhwan melainkan anggota Hizbul Wathan sebagaimana yang dikisahkan Dr. Mahmud Jami’ nanti-pen). Akhirnya ia mengkafirkan hakim tadi. Lalu ia menyuruh anggota pasukan khusus Ikhwanul Muslimin untuk membunuh sang hakim. Namun dalam operasinya, dua orang anggota Ikhwanul Muslimin  tertangkap dan dipenjara.

                Mendengar anggotanya di penjara, Hasan al Banna marah besar kepada As Sindi, mengapa ia marah besar? Karena As Sindi berbuat menurut kemauan sendiri tanpa ada komando darinya. (Nah jawaban ini adalah analisa dari Ayyid Asy Syamari sendiri, ia menafsiri kalau ingin membunuh hakim tunggulah komando dari Al Banna. Padahal maksud Al Banna amat jelas, Ia marah besar sebab pembunuhan itu tidak dibenarkan syariat Islam sebagaimana yang dikatakan Al Banna sendiri nanti, kenapa penuduh ini tidak berfikir seperti ini? Uraian berikutnya niscaya pembaca akan mengetahui tipuan ini.pen)

                Setelah itu Ayyid menceritakan bahwa As Sindi diadili oleh Al Banna dan tokoh Ikhwan lainnya, dan menyebutnya sebagai “Negara kecil Ikhwanul Muslimin.” Seharusnya pembunuhnya yang diadili oleh mahkamah.  (Pembaca, nampak di sini seakan Ayyid menyalahkan pembunuhnya saja minus As Sindi, sedangkan Al Banna dan penasihatnya justru memanggil As Sindi. Karena dari dialah keputusan itu. Adapun dalam fiqh, pelaku pembunuhan dan yang memerintahkannya keduanya harus dihukum demikian menurut pendapat yang kuat. pen)

                Ayyid Asy Syamari melanjutkan, Mahmud ash Shabagh berkata, “Aku pernah sekali duduk bersama Imam Hasan al Banna ketika dia sedang marah kepada hakim Khazin, karena dia menghukum Ikhwanul Muslimin dengan hukum seperti itu, sehingga aku menyangka Imam ini (Al Banna, pen) menyururhku membunuhnya.” Orang-orang bertanya, “Mengapa kamu hendak membunuh hakim itu, karena kamu menyangka Hasan al Banna ingin membunuhnya?”

                Dengan demikian itu adalah kesalahan. Kenapa salah?  Karena Hasan al Banna belum memerintahkannya! (inilah analisa emosional dan tidak cerdas dari Ayyid Asy Syamari. Menurutnya tindakan pembunuhan itu salah karena mendahului perintah Hasan al Banna, jadi kalau mau membunuh tunggu perintah Al Banna dulu. Analisa yang benar adalah, tindakan pembunuhan itu salah karena itu bertentangan dengan Islam. Pen)

                 Lalu Ayyid meneruskan, “Jadilah Hasan al Banna sebagai satu-satunya ahli fatwa di tubuh Ikhwanul Muslimin. Jika Ia mengatakan “Bunuhlah!” maka anggotanya dengan taat akan membunuh. (Inilah ending yang dipaksakan oleh Ayyid, entah dari alam mana ia bisa menyimpulkan seperti ini. pen) inilah contoh generalisasi yang kadang-kadang sering muncul bila pendapat sudah didahului oleh lebencian atau kedengkian dahulu

                Sekarang kita ikuti peristiwa yang sama yang dituturkan oleh orang yang hidup pada masa itu dan menyaksikan kejadiannya, yaitu Dr. Mahmud Jami’ dalam Ikhwanul Muslimin yang Saya Kenal  hlm. 49-51 beserta komentar kami, niscaya pembaca akan mengetahui bahwa Ayyid Asy Syamari tidak jujur dalam kisahnya.

                “Mustasyar Ahmad Khazandar mengetahui rahasia pengeboman yang dilakukan pada hari Natal, yang dilemparkan tentara Inggris yang sedang mabuk-mabukkan. Memang, seperti itulah realitas pemandangan tentara Inggris di Mesir sejak tahun 1936.

                Anda bisa bayangkan, bagaimana perasaan para pemuda mujahid muslim kepada Al Khazandar dan kesaksiannya, serta bahaya yang menunggu mereka karena melakukan tugas pengeboman itu atau sebaliknya. Begitu juga hukuman berat yang akan dijatuhkan kepada pemuda-pemuda negeri yang berani menentang Inggris itu. (Pembaca, lihatlah! Para pemuda Hizbul Wathan itu –bukan anggota Ikhwan sebagaimana yang dikatakan Ayyid Asy Syamari- berjihad memerangi tentara Inggris yang sedang mabuk-mabukkan, lalu justru mereka yang dihukum oleh Al Khazandar, yang nota bene  muslim dan sesama Mesir. Maka wajar jika memancing kemarahan para pemuda lainnya, walau mereka tergelincir dalam tindakan kekerasan yang sebenarnya tidak harus terjadi. Inilah letak ketidak jujuran Ayyid Asy Syamari dalam bukunya Hasan al Banna Seorang Teroris?, ia tidak menceritakan latar belakang terjadinya kemarahan para pelaku pembunuhan, sehingga terkesan para pemuda itu adalah pelaku kriminal murni. Sedangkan menurut Dr. Jami’ mereka adalah pejuang. Demikianlah amat jelas beda analisa antara  komentator subjektif yang hanya bisa duduk-duduk saja, dengan pemain yang merasakan langsung peristiwanya. pen)

                Dr. Jami’ melanjutkan, “Karena itulah, muncul pemikiran individu dari pemimpin Agen Khusus, Abdurrahman as Sindi, yang kemudian dibebankan kepada dua pemuda anggota Agen Khusus, yaitu Hasan Abdul Hafidz dan Mahmud Said Zainahum, untuk membunuh Al Khazandar pada tanggal 22 Maret 1948 dan mereka menyiapkan strategi dan melacak  alamatnya. ….. (Dr. Jami’ menceritakan proses pembunuhan oleh para pemuda tersebut. pen).

                Dr. Jami’ menuturkan, “Seorang insinyur, Hilmi Abdul Majid, semoga Allah memanjangkan usianya berkata kepadaku, “Dia bersaksi kepada Allah bahwa Hasan al Banna tidak mengetahui keputusan itu   dan tidak pernah menyuruh untuk melakukan serta tidak setuju dengan tindakan itu. Tetapi beliau melepaskan tanggung jawab darinya dan dia marah besar kepada Abdurrahman as Sindi.

                Akibat peristiwa itu, Syaikh Hasan al Banna mengundang anggota penasehat: Dr. Abdul Aziz Kamil, Dr. Husain kamaludin dan Hilmi Abdul Majid seraya berkata kepada mereka, “Berilah keputusan antara saya dengan Abdurrahman as Sindi dalam masalah ini.” (Pembaca Tatsqif, inilah yang terjadi. Al Banna dan para penasihatnya  sedang menentukan sikap terhadap perilaku As Sindi, bukan mengadilinya apalagi ‘Negara Kecil’ sebagaimana dikatakan Ayyid Asy Syamari. Ini adalah hal biasa dalam organisasi jika pimpinan diskusi dengan penasihatnya untuk menyikapi pelanggaran anggotanya.pen)

                Dr. Jami’ melanjutkan, “Kemudian dia (Al Banna) mengajukan pertanyaan kepada Abdurrahman as Sindi seraya berkata, “Siapa yang menyuruh untuk membunuh al Musytasyar Ahmad Al Khazandar?” As Sindi menjawab, “Anda …” Maka Hasan al Banna kaget seraya berkata, “Saya?  Bagaimana itu terjadi?” As Sindi berkata, “Ketika al Mustasyar Ahmad al Khazandar menghukum pemuda-pemuda Hizbul Wathan dengan hukuman yang berat karena mereka menyerang tentara Inggris dengan granat … dan karena dia (Al Khazandar) berkata dalam ketetapan hukumnya bahwa Inggris adalah teman Mesir … dan dalam majlis yang sama dia membebaskan seorang tuan yang menyiksa pembantunya yang perempuan dengan siksaan yang keji. Lalu saya bertanya kepada Anda, “Apakah Al Musytasyar ini pantas dibunuh? Tetapi Anda tidak menjawabnya, sehingga saya mengira bahwa diamnya Anda menunjukkan setuju untuk dibunuh dan saya pun menyuruh untuk merealisasikannya.”

                Lalu Hasan al Banna berteriak seraya berkata, “Siapa yang mengajarimu seperti ini wahai Abdurrahman?” Maka Abdurrahman menjawab, “Ini adalah prinsip-prinsip dalam organisasi rahasia dan cukup perintah dengan isyarat.”

                Mursyid berkata, “Setan mana yang mengajarimu sesuatu yang kamu sebut prinsip itu? Bukankah itu tidak ada dalam syariat, agama, aliran, dan tidak pula kami dengar dalam undang-undang mana pun?” (lihatlah! Kemarahan Hasan al Banna kepada As Sindi disebabkan apa yang dilakukan As Sindi tidak dibenarkan syariat dan  agama sebagaimana yang kami katakan sebelumnya. Inilah jawaban langsung dari Hasan al Banna. Sementara Ayyid Asy Syamari mengatakan kemarahan Al Banna karena ia belum mengkomandoi atau memerintahkan pembunuhan tersebut, seharusnya tunggu komando.  Para pembaca, kalau bukan kebohongan apa yang layak disebut atas tulisan Ayyid ini? Sangat mungkin orang awam yang membacanya akan ikut-ikut menuduh bahwa Hasan al Banna licik, barangkali itu yang hendak diskenariokan penulis Hasan al Banna Seorang Teroris? Wallahu A’lam. pen) 

                Dr. jami’ melanjutkan, “Kemudian Hasan al Banna mengarahkan perkataan kepada kami, “Saksikanlah apa yang saya katakan … kejahatan ini sepenuhnya dipikul oleh As Sindi dan dialah yang akan ditanya tentangnya di hadapan Allah. Adapun jika saya ingin tugas seperti ini dilaksanakan, tentu saya harus meminta kesepakatan kepada para pemimpin Agen Rahasia (Tanzhim Khas pen) secara bersama-sama, kemudian saya tulis perintah dengan tulisan saya sendiri dan tanda tangan saya untuk dipertanggungjawabkan supaya bertanggung jawab di dunia atas apa yang saya perintahkan dan mengambil ganjaran saya. Allah tidak akan menanya saya di akhirat tentang perbuatan seperti ini. (sekali lagi terjadi kebohongan dilakukan Ayyid Asy Syamari, ia mengatakan bahwa Al Banna sebagai satu-satunya yang memberi fatwa di Ikhwan, jika ia bilang “Bunuh”! maka anggotanya akan mentaatinya. Pembaca lihat sendiri ucapan Al Banna, ‘Adapun jika saya ingin tugas seperti ini dilaksanakan, tentu saya harus meminta kesepakatan para pemimpin Agen Rahasia..’. lalu apa dasarnya Ayyid menyebut Al Banna satu-satunya yang memberikan fatwa tanpa rembuk dengan lainnya. Mungkin  kebohongan semisal inilah yang banyak mengelabui sebagian kecil ikhwah yang akhirnya terpengaruh sehingga ‘pindah jama’ah’ lalu ikut-ikutan menyebarkan kebohongan ini. pen)  Demikianlah dua versi kutipan dan komentar kami. Anda bisa menilainya sendiri, bagaimana kejadian sebenarnya.


Tentang tuduhan teror terhadap rakyat Mesir itu adalah fitnah, dan tuduhan  jahat terhadap IM .... sayang, Fulan al Majhuli ini tidak mungkin mau tahu ..

                Adapun tuduhan bahwa  Al Banna memfatwakan pembunuhan dan teror adalah fitnah yang tidak ada harganya  (adakah fitnah yang berharga?). Kami tidak mengingkari ada instruksi teror dan jihad, namun itu ditujukan kepada Yahudi dan Inggris, untuk itulah Tanzhim Khas dibentuk, bukan untuk menyerang pemerintah Mesir. Hendaknya kaum penuduh mengetahui hal ini, jangan menutup-nutupi. Jika serangan  kepada penjajah Inggris dan Yahudi juga disebut teror oleh  penuduh, kami tidak mengerti bila ada pejuang Islam  yang justru sakit hati jika penjajah Yahudi dan Inggris diserang. Sehingga tidak ada bedanya antara penjajah dengan  orang yang mengaku ‘aktifis Islam’ (tanda kutip). Wallahu Musta’an!

                Adapun kematian Nuqrasyi, Perdana Menteri Mesir saat itu yang tewas dibunuh, maka Hasan al Banna menulis di satu media massa bahwa para pembunuh bukanlah Ikhwan bahkan bukan muslim.

Tanzhim khas adalah untuk menyerang Yahudi dan Inggris ... bukan untuk Mesir !

                Adapun tentang pelemparan bom ke toko-toko Syikuril, Daud, Adas, Misyla, Urbuku, dan Jaringan Informasi Timur serta perkampungan Yahudi, semua dilakukan oleh pemuda-pemuda agen rahasia  (tanzhim khas) Ikhwan. Semua adalah toko milik Yahudi. Pengeboman dilakukan ketika sepi sehingga tidak ada yang terluka. Ini merupakan balasan Ikhwan terhadap Yahudi lantaran kapal perang Israel menjatuhkan bom perkampungan al Baramuni di Abidin pada saat buka puasa di bulan ramadhan, sehingga melukai dan menewaskan banyak penduduk Mesir.  Nah, hanya pendukung Yahudi yang menyebut para pengebom itu adalah teroris.

                Sedangkan pengeboman di bioskop Rio di Iskandaria dan Metro di Kairo, ternyata dilakukan oleh seorang Yahudi bernama Victor Kuhin. Ia mengakui keterlibatan dirinya dan teman-temannya dalam peledakan ini. Mereka dihukum dan dipenjara. Akhirnya Ikhwan terbebas dari tuduhan dan fitnah keji. Nah, apakah para penuduh Hasan al Banna masih memaksakan kehendak bahwa ia yang menginstruksikan teror. kepada orang-orang tak berdosa.  Mungkinkah  terjadi kolaborasi yang indah –tanpa disadari- yang dilakukan para penuduh Ikhwan pada saat kejadian itu, dengan para penuduh Hasan al Banna masa kini? Mereka sama-sama menuduh Hasan al Banna sebagai pelaku kekerasan, yang membedakan hanyalah mereka (para penuduh) tidak hidup di zaman yang sama, yang dulu adalah agen pemerintah, yang sekarang mengaku pewaris Ahlus Sunnah. Wallahu musta’an!


Adakah Fulan al majhuli ini mau bersabar membaca ini ...? nampaknya tidak karena kebencian yang sudah mendarah daging dan ke ubun-ubun ..