Menurut saya, pemahaman yang keliru terhadap Islam bisa terjadi pada siapapun mereka yang mengaku muslim. Jadi pemahaman yang keliru tersebut bisa terjadi pada ahmadii, sunii maupun syii. Pemahaman terhadap diinul islam memang sangat pribadi, apalagi di zaman yang global ini. Bisa jadi seorang muslim sunii pemahamannya mengandung unsur syiah, atau sebaliknya seorang syi-i pemahamannya mengandung unsur ASWJ, demikian juga ahmadi.
Benar, manusia yang mengaku muslim sendiri memiliki fantasi yang berbeda-beda tentang Tuhan mereka. Ada yang mengatakan meyakini Tuhan itu petugas KUA, sehingga banyak orang yang mengawinkan diri mereka didepan ka'bah, yang ujung-ujungnya cerai juga.
Ada juga orang yang meyakini Tuhan sebagai sinterklas, maka ketika orang memerlukan sesuatu pergi ke Tuhan. Sinterklas itu tidak akan mempersoalkan apakah yang diberi itu orang licik, koruptor, penjudi, klepto, sehingga mereka yang mengimani Tuhan sebagai sinterklas tiap hari kerjanya memuji-muji Tuhan, seolah dengan memuji Tuhan maka akan mendapatklan syafaat diakhirat kelak, padahal syafaat Allah itu hanya akan didapatkan bagi orang yang sudah berbai'ah. Orang yang sudah memiliki komitment mati untuk berjuang menegakkan aturabn Allah dimuka bumi, bukan kepada mereka yang cari muka kepada Tuhan tetapi tidak mau bekerja untuk kepentingan Tuhan.
Namun demikian AL-Quran sudah secara tegas memberikan koridor terhadap kebebasan seseorang untuk memilih diin-nya. Oleh karena itu, pelarangan dan/ atau pemaksaan terhadap Ahmadi paling tidak bertentangan dengan ayat-ayat berikut:
Tidak ada paksaan dalam ADDIN; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (2:256)
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang dzalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (18:29)
Ayat di atas menunjukkan bahwa seseorang boleh memilih jalan kekafiran. Apakah ahmadi kafir ?
Kafir saja boleh, apalagi sekedar ahmadi.
Allah saja rileks didalam menghadapi manusia yang memilih kesesatan, tetapi kenapa saat ini banyak manusia yang merasa dirinya lebih hebat dari Allah ? Menghujat orang, meneror orang, merusak properti orang, padahal Allah tetap aja memberi rijki pada yang memilih kesesatan.
Bukankah orang-orang seperti itu sangat irasional dan konyol, sayangnya secara berjamaah lagi !!!!
Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (5:54)
Benar kan Allah benar-benar santai didalam menghadapi kaum yang menentangNYa, nggak mau ikut Allah yah didatangkan kaum yang mau tunduk patuh kepadaNya.
Tetapi para peneror (secara tulisan di milis ini), malah kebakaran jenggot, seolah dia merasa lebih mengerti kebenaran daripada Allah. Padahal didalam kehidupannya sehari-hari mereka-mereka itu justru tidak pernah menghadirkan ruh Allah kedalam perkataan, tindakan dan perilakunya.
Kita justru terhenyak salut, kepada Ahmadiyah yanglebih berakhlak, sopan, berilmu dan ulet.
Ayat di atas menunjukkan tidak ada hukuman apapun bagi yang murtad (misal hukuman mati), apalagi hanya sekedar menjadi Ahmadi.
sayang sekali preman-preman berjubah itu tidak mampu menunjukkan akhlak Allah seperti itu, mereka bahkan mampu mengeluarkan kata-kata yang Muhammad sendiri tidak pernah mengatakan kepada orang kafir sekalipun seperti : halal darah Ahmadiyah, wah-wah wah agama model apa ini.
Orang Arab yang suka berperang dan suka menghujat adalah para penyembah dewa Baal dan Molok, rupanya pengikut Baal dan Molok subur menjamur di bumi yang memiliki akar kultur yang ramah tamah, sop[an santun dan tolong menolong, sayang dengan hadirnya pengikut Baal dan Molok ini kultur Indonesia yang seperti itu mereka bilas sehingga tidak tersisa.
Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali dengan orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (9:7)
Ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang musyrik saja punya hak pada keyakinannya, apalagi bagi Ahmadi yang mengakui ke-esaan Allah.
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (2:62)
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (5:69)
Orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin saja masih punya peluang untuk mendapatkan pahala, apalagi ahmadi.
Orang yang mengaku sebagai salafy dan Islam Arabisme lain yang mengatakan ingin menunjung tinggi ajaran Islam murni, sebenarnya adalah orang-orang yang menjalankan agamanya berdasarkan dogma-dogma yang salah. Mereka selalu mendengung-dengungkan bahwa Yahudi dan Nasrani adalah musuh Islam, padahal Nabi sendiri pamannya (dari Khadijah) orang Nasrani, dari pamannya yang banyak mengajari Kitab-Kitab Allah, salah satu isteri Nabi adalah Maria Kiptiyah orang Yahudi, Salahuddin Al Ayubi setelah penaklukaan Yerusalem mengundang Yahudi seluruh dunia untuk kembali, sebelumnya pasukan Yahudi dan Muslimin berjuang sampai titik darah penghabisan melawan pasukansalib Frankreis yang digambarkan sebagai Muslim dan Yahudi yang gugur mempertahankan Yerusalem darahnya mengalir kemana-mana sampai setinggi lutut.
Ayat al Quran jelas memberlakukan bangsa manusia memiliki hak yang sama disisi Allah asalkan mereka benar-benar shaleh, tetapi kaum salafy dan premanisme Arab mengobar-kobarkan kebencian sesama manusia hanya karena berbeda ras dan keyakinan.