Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Tentang Pelarangan Ahmadiyah  (Dibaca 609 kali)


Offline ishaputra

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 247
    • Lihat Profil
    • Sapere aude!
« pada: 26 April 2008, 20:19:28 »
by me

Secara teologis, Ahmadiyah boleh sesat. Fatwa MUI tentang kesesatan Ahmadiyah patut kita hargai. Namun bagaimana pun, negara modern yang demokratis tidak berhak melarang apapun aktivitas keagamaan warganya sejauh itu dilakukan dengan damai dan tidak mengganggu hak orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Perkara nama “Islam” yang disandang pengikut Ahmadiyah, bukanlah alasan bagi negara (atau ormas mana pun dalam lingkup negara yang demokratis) untuk melarang aktivitas agama tersebut. “Islam” adalah nama milik publik, bukan sejenis merk dagang yang dapat dipatenkan. Semua orang boleh menggunakan nama “Islam” untuk menamai kepercayaannya. Masyarakat dengan kecerdasannya tentu akan menyeleksi mana yang berkenan di hati mereka. Pada akhirnya, yang paling berkenan di hati masyarakatlah yang akan mendapatkan pengikut, apapun namanya. Masyarakat yang cerdas tidak membeli nama, melainkan isi.

Di sini, tugas ulama Islam menjadi jelas, yaitu membungkam kesesatan Ahmadiyah secara elegan dengan meningkatkan kualitas dakwah, bukan dengan cara pengecut memberangus Ahmadiyah melalui SKB, apalagi kekerasan. Ahmadiyah memperoleh ribuan pengikut melalui dakwah, maka lebih fair dan elegan jika ulama Islam menggunakan cara yang sama untuk membungkam teologi Ahmadiyah.

Kita semua patut menyayangkan jika HAM dijadikan alasan untuk menodai agama. Namun, lebih disayangkan lagi kalau dalil agama dijadikan alasan untuk melanggar HAM. []

http://ishaputra.multiply.com/

Offline mydream

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2008
  • Tulisan: 354
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 26 April 2008, 21:16:34 »
Bpk sependapat bahwa setiap orang boleh memakai nama islam apalagi orang2 muslim yangbertauhid shalat,puasa, membayar zakat dll.

Hanya karena berbeda menafsirkan satu ayat saja, dicap keluar agama islam.
Tidak boleh memakai nama islam....
Sesungguhnya mereka mengikuti ulama2 radikal wahhabi di saudi Arabia
yangmelarang Syiha,sufi sebagai agama sesat

Alhamdulillah King abdulllah memintak rakyatnya untuk menghormati keyakinan syiah sufi ahmadiah dll. mari kiat saling berbuat kebaikan kepada masarakat..

Wassalam

Offline ph34r

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.251
  • Lokasi: HIT & RUN | HIT & RUN | HIT & RUN
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 27 April 2008, 06:53:27 »
wesss ternyata ada juga yang sependapat dengan pak mydream
tapi maaf gak sependapat

demokratis tuh
by me

Secara teologis, Ahmadiyah boleh sesat. Fatwa MUI tentang kesesatan Ahmadiyah patut kita hargai. Namun bagaimana pun, negara modern yang demokratis tidak berhak melarang apapun aktivitas keagamaan warganya sejauh itu dilakukan dengan damai dan tidak mengganggu hak orang lain untuk melakukan hal yang sama.


sesat ya sesat ngerti gak, kalo sesat butuh diluruskan biar gak tambah tersesat


Perkara nama “Islam” yang disandang pengikut Ahmadiyah, bukanlah alasan bagi negara (atau ormas mana pun dalam lingkup negara yang demokratis) untuk melarang aktivitas agama tersebut. “Islam” adalah nama milik publik, bukan sejenis merk dagang yang dapat dipatenkan. Semua orang boleh menggunakan nama “Islam” untuk menamai kepercayaannya. Masyarakat dengan kecerdasannya tentu akan menyeleksi mana yang berkenan di hati mereka. Pada akhirnya, yang paling berkenan di hati masyarakatlah yang akan mendapatkan pengikut, apapun namanya. Masyarakat yang cerdas tidak membeli nama, melainkan isi.

dapat ilham ngawur dari mana ?
kalo gitu bisa jadi ada orang kresten mau merusak Islam(banyak lagi), dengan cara buat aliran baru mirip Islam dan dinamakan Islami
trus kamu ikut2an didalamnya. pertanyaanya apakah kamu masih Islam? jawabnya ya nggak dong, wong itu buatan kristen yang cuma ngaku Islam. kalo ikut2 aliran ginian tuh orangnya gak cerdas(idiot/bodoh) :bercanda: apalgi kalo sak kampung/kota malah tambah parah (guoblok sontoloyo) :toktok:


Di sini, tugas ulama Islam menjadi jelas, yaitu membungkam kesesatan Ahmadiyah secara elegan dengan meningkatkan kualitas dakwah, bukan dengan cara pengecut memberangus Ahmadiyah melalui SKB, apalagi kekerasan. Ahmadiyah memperoleh ribuan pengikut melalui dakwah, maka lebih fair dan elegan jika ulama Islam menggunakan cara yang sama untuk membungkam teologi Ahmadiyah.

lha ini baru benar, saya juga setuju

Kita semua patut menyayangkan jika HAM dijadikan alasan untuk menodai agama. Namun, lebih disayangkan lagi kalau dalil agama dijadikan alasan untuk melanggar HAM. []

lebih penting mana HAM buatan orang kafir sama dalil dalam agama
tau gak kalo HAM itu kebanyakan udah dluar HAM(homo, lesbi, kawin sama ibunya sendiri boleh> kalo ada sih) kebebasan yang diagungkan tuh kebablasan, alias gak ada remnya, 'pokoknya' kalo mayoritas mau gini ya udah dibilang benar padahal sebenarnya tuh salah. Islam udah mengajarkan HAM-nya sendiri jauh sebelum HAM(dari kafir) dan lebih sempurna, ada batasan2 yang jelas

http://ishaputra.multiply.com/

waduh blognya kok kayaknya liberal plus yah?
bahaya bahaya bahaya, udah red alert
:awas:

Offline gerbang timur

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2006
  • Tulisan: 2.196
  • Lokasi: Bali
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 27 April 2008, 09:35:01 »
Masyarakat yang cerdas tidak membeli nama, melainkan isi.


Good point. Mudah-mudahan masyarakat Indonesia cukup cerdas untuk mengerti hal itu.

Offline ishaputra

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 247
    • Lihat Profil
    • Sapere aude!
« Jawab #4 pada: 27 April 2008, 17:28:57 »
Good point. Mudah-mudahan masyarakat Indonesia cukup cerdas untuk mengerti hal itu.

Semoga...

Offline adi isa

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2008
  • Tulisan: 1.595
  • Jenis kelamin: Pria
  • let me, I'm thinking
    • Lihat Profil
    • http://feradiisander.wordpress.com
« Jawab #5 pada: 27 April 2008, 18:36:45 »
Semoga...
sebenarnya simply aja,
kalau tidak mau berbenturan, ya, tolong hargai keyakinan muslim,
bawa-bawa Ham, boleh saja, asal pada tempat dan porsinya....
islam sangat menjunjung tinggi persamaan hak, bahkan memberikan keleluasaan bagi agama lain untuk beribadah, tapi untuk kasus ahmadiah,
mereka dengan sengaja mau merusak islam dari dalam.
so, lebih baik memproklamirkan diri sebagai agama yang lain, daripada harus menghadapi hujatan dari masayarakat banyak,
anda boleh komen apa saja, tapi masalah aqidah haruslah didahulukan,
maksud saya, bila mengaku muslim, ya, harus benar2 muslim...
jika bukan, ya, bukan....(sampai sini ngerti nggak bedanya muslim dan ahmadiah?)
ketahuan sekali kalau di forum ini banyak yang berislam, tapi nggak mau belajar islam...
hingga ilmunya melanglang buana sampai jauh ke amrik, its ok
untuk @TS, pendapat anda ada benarnya, tapi kayaknya belum pas saja.
silahkan anda tanya bapak anda deh....
itupun kalau anda benar2 muslim.

Offline Ghx-14

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2008
  • Tulisan: 33
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • [IMG]http://img125.imageshack.us/img125/9712/68492335gl3.jpg[/IMG]
« Jawab #6 pada: 27 April 2008, 21:01:40 »
@ishaputra

hehe
klo begitu agama yahudi bisa dong masuk Indo
tinggal diganti namanya aj jd Islam Israel

@adi isa

nice statment
Bedanya
Islam>Rasul>Muhammad saw
Ahmadiyah>rasul>Ahmad musadeq
maka dari itu klo menurut an sebaiknya Ahmadiyah keluar dari nama islam
bahkan di tempat asalnya yaitu pakistan sendiri
ahmadiyah sudah dianggap sebagi "kaum minoritas non muslim"

@gerbang timur
tapi kyknya sulit deh
liat aj sekarang
poligami dianggap memalukan oleh sebagian muslim indo
Media massa juga sering mengaitkan Jihad sebagai tindakan kegiatan teror dan parahnya lagi
hal itu mempengaruhi jala pemikiran sebagian besar masyarakat yg cenderung awam dengan masalah tersebut
« Edit Terakhir: 27 April 2008, 21:08:37 oleh Ghx-14 »

Offline Oni Asharri Rasyad

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.928
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • The Chosen One
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 28 April 2008, 01:47:02 »
Kutip
wesss ternyata ada juga yang sependapat dengan pak mydream
Atheist ketemu Sekuler... emang klop :d

Kutip
“Islam” adalah nama milik publik, bukan sejenis merk dagang yang dapat dipatenkan
loe baca UU atau Resolusi atau keputusan darimana tuh, yang menyatakan Islam adalah nama milik publik????
Ngawur dan ngarang-ngarang banget loe!!!

Offline gerbang timur

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2006
  • Tulisan: 2.196
  • Lokasi: Bali
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 28 April 2008, 02:21:29 »
untuk kasus ahmadiah,
mereka dengan sengaja mau merusak islam dari dalam.

Who knows? Ini adalah pandangan subyektif.
Dari sudut status quo (Islam mainstream), mungkin Ahmadiyah merusak.
Namun dari sudut perubahan (Ahmadiyah), mungkin justru Islam mainstream lah yang sudah rusak.
TS ngga membantah kesesatan Ahmadiyah, gw pun setuju Ahmadiyah sesat dari kacamata Islam.

Namun dalam sebuah negara demokrasi, perbedaan aqidah harus dihargai sebagai suatu bentuk kebebasan beragama dan berkeyakinan. Dalam negara demokrasi, MUI atau pihak lain berhak menyebut dirinya benar dan Ahmadiyah sesat. Begitu pula Ahmadiyah berhak menyebut dirinya benar dan Islam mainstream seperti Sunni misalnya sesat. Kristen berhak menyebut dirinya benar dan Saksi Yehovah dan Mormon sesat. Atau sebaliknya. Islam berhak menyebut Kristen sesat, begitu juga sebaliknya.
Itu semua berada dalam wilayah toleransi di negara demokrasi. Yang tidak ditoleransi adalah jika suatu pihak berupaya membungkam pihak lain dengan jalur diskriminasi seperti pelarangan dan pemberangusan.

Ingat-ingat lagi bagaimana umat Islam di masa awal berjuang menghadapi diskriminasi dan kekerasan dari penguasa Makkah yang menuduh Nabi telah menyebarkan ajaran sesat karena bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah mapan saat itu.
Kini Islam sudah besar, jangan ulangi kesalahan yang sama dengan orang-orang kafir Quraisy di masa lalu. Islam itu indah akhlaknya.

Offline ^HeHeHe^

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 12.061
  • BOIKOT ADALAH JIHADKU!
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 28 April 2008, 02:25:38 »
Dalam negara demokrasi, sebuah keyakinan tidak boleh merusak keyakinan lain dengan mencatut nama keyakinan bersangkutan.... ;)
Lucu... bagaimana kita MEMPERCAYAI APA KATA KORAN
Namun MEMPERTANYAKAN apa kata Al-QURAN

Offline adi isa

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2008
  • Tulisan: 1.595
  • Jenis kelamin: Pria
  • let me, I'm thinking
    • Lihat Profil
    • http://feradiisander.wordpress.com
« Jawab #10 pada: 28 April 2008, 08:46:50 »
@TS
sebaiknya jangan asal koment dan buat postingan, kalau tidak paham dengan ilmu alquran dan hadits, apalagi ini menyangkut perkara aqidah dalam islam,
mencari pembenaran semua orang bisa koq!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Offline Abu Hafizh

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 63
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 28 April 2008, 09:27:14 »
Ati...ati?Ada paham LIBERAL?

Rabitah Alam Islamy....sudah menyatakan AHmadiyah aliran Sesat...dan bukan islam?
dalam konferensi di Mekkah 14-18 Rabiul Awwal 1394 H.

salah satu butir pernyataan yg disepakati:

Ahmadiyah adalah anak emas imperialisme inggris dan ia tidak muncul kecuali dalam proteksi imperial itu. Ahmadiyah menghianati masalah umat islam dan ia membantu imperialisme dan zionisme, ia bekerja sama dengan kekuatan yg oposisi thd islam, yang berjuang untuk menghancurkan aqidah islam dan memutarbalikannya...........

Menyatakan bahwa ahmadiyah itu adalah KAFIR dan keluar dari Islam......



Offline Oni Asharri Rasyad

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.928
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • The Chosen One
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 28 April 2008, 09:55:59 »
@TS
sebaiknya jangan asal koment dan buat postingan, kalau tidak paham dengan ilmu alquran dan hadits, apalagi ini menyangkut perkara aqidah dalam islam,
mencari pembenaran semua orang bisa koq!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

TS itu atheist/Budhist...
menghormati hak preogatif agama (Islam) soal kandungan keimanan secara internal saja beliau tidak mau, apa lagi mengakuinya ...

Offline oomnya fahrel

  • Moderator
  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 12.300
  • Lokasi: Bumi Allah
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kage Mane no Jutsu
    • Lihat Profil
    • Open house
« Jawab #13 pada: 28 April 2008, 10:37:38 »
Pantas pikiran mirip-mirip Mydream, ada kemiripan di tulisan, tempat tinggal, apa yang dibaca


Secara teologis, Ahmadiyah boleh sesat. Fatwa MUI tentang kesesatan Ahmadiyah patut kita hargai. Namun bagaimana pun, negara modern yang demokratis tidak berhak melarang apapun aktivitas keagamaan warganya sejauh itu dilakukan dengan damai dan tidak mengganggu hak orang lain untuk melakukan hal yang sama.


Keanehan pertama kesesatan tidak lebih penting, asal damai dan tidak mengganggu hak orang lain  :wataw: , lagu lama  :hmmm: :hmmm: :hmmm:


Perkara nama “Islam” yang disandang pengikut Ahmadiyah, bukanlah alasan bagi negara (atau ormas mana pun dalam lingkup negara yang demokratis) untuk melarang aktivitas agama tersebut.

“Islam” adalah nama milik publik, bukan sejenis merk dagang yang dapat dipatenkan. Semua orang boleh menggunakan nama “Islam” untuk menamai kepercayaannya. Masyarakat dengan kecerdasannya tentu akan menyeleksi mana yang berkenan di hati mereka. Pada akhirnya, yang paling berkenan di hati masyarakatlah yang akan mendapatkan pengikut, apapun namanya. Masyarakat yang cerdas tidak membeli nama, melainkan isi.


Keanehan ke 2: Kewajiban negara untuk melindungi masyarakat beragamanya, diremehkan  :toe: :toe: :toe:

Keanehan ke 3: Islam nama publik?  :hmmm: :hmmm: :hmmm: :hmmm: pemikiran dari mana pula ini  :toktok: :toktok: :toktok: :toktok:


Keanehan ke 4 :Semua orang boleh menggunakan nama Islam -walau sesat? :hmmm: :hmmm:- ciri khas orang orang liberal  :p :p :p :p

Keanehan ke 5 : Membiarkan sebuah kesesatan merajalela dengan asumsi biar rakyat yang menyeleksi sendiri  :toe: :toe: :toe:, seperti halnya membiarkan seks bebas yang berimplikasi banyak hal dengan asumsi rakyat tau mana yang baik dan mana yang enggak  :wataw: :wataw:

 :woroworo: :woroworo: :woroworo: :woroworo: :woroworo:Waspadalah-waspadalah akan pemikiran  liberal:woroworo: :woroworo: :woroworo: :woroworo: :woroworo:

Offline tuingtuing

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 9.715
  • Grrr... gue jitak!!!!
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 28 April 2008, 10:48:09 »
islam nama publik?

Allah-lah yang memberikan nama "Islam" bagi agama-Nya ini. Sejak Adam AS hingga MUhammad SAW adalah Nabi-nabi Islam.

Maka Islam adalah nama Diin dalam domain publik.

Musa adalah muslim dan mengajarkan Islam. Kalo Yahudi ikut Musa AS saat itu, maka mereka juga muslim.

Isa adalah muslim dan mengajarkan Islam. Kalo Yahudi ikut Isa AS saat itu, maka mereka juga muslim. Namun kalo membangkan syariat Isa AS, yaa kafir.


Muhammad adalah muslim dan mengajarkan Islam. Kalo manusia ikut Muhammad SAW saat ini, maka mereka juga muslim.

Nah salah satu bagian dari syariat (yang dibawa) Muhammad SAW adalah KEBERAKHIRAN NABI DAN RASUL. Beliau sendiri yang telah menegaskan hal itu dalam sabda-sabdanya.

Jadi, mau mengaku muslim yaa saat ini ikuti syariat Muhammad SAW, jangan ikuti syariat Isa AS, karena sudah obsolete, jangan ikuti syariat Musa AS karena juga sudah obsolete. Ikuti Syariat terakhir dari Nabi Muhammad SAW, sudah lengkap. Tidak perlu ada Nabi baru, karena Muhammad SAW sendiri sudah menyatakan itu.

Tidak meyakini sabda Nabi? yaa jelas kafir.

Ngga susah khan?
Saya tidak menyembah tuhan yang bisa ketusuk, kelaperan, dan kagak bisa nyuruh pohon berbuah 

Inna-Llaha 'ala kulli syaiin qadiir... :)