SUNGGUH TIDAK ADA ISTERI YANG IDEAL
Seorang teman ketika masih single mempunyai "cita-cita" kelak memiliki
seorang istri yang kutilangdasi: kuning, tinggi, langsing, dan (maaf) dada
berisi, juga berotak cemerlang dan bermoral baik. Bertahun-tahun ia mencari
calon istri yang ideal menurut pandangannya. Tetapi selalu kandas di tengah
jalan karena wanita yang ia temui tidak sesuai dengan idealismenya. Begitu
bertemu dengan seorang wanita, ada saja kekurangannya. Konon, jika
'distatistik', lebih banyak kekurangannya daripada kelebihannya.
Ketika usia teman saya sudah mencapai angka tiga puluh lima, sedikit demi
sedikit gambaran istri yang ideal mulai luntur. Ia merasakan betapa sulitnya
mencari istri yang ideal. Istri yang sesuai kriterianya. Akhirnya ia menikah
dengan seorang wanita yang jauh dari sosok yang ideal. Istrinya memang
kuning, tapi tidak tinggi, tidak langsing, bahkan bisa dikatakan bertolak
belakang karena ia gemuk. Otaknya juga tidak cemerlang, meski tidak begitu
bodoh. Tapi moralnya baik.
"Kalau saya terus memburu istri yang ideal menurut kacamata saya, mungkin
saya tidak akan menikha," kata teman saya suatu ketika tanpa ditanya.
Tampaknya gambaran istri yang ideal, adalah istri yang sempurna; fisik,
kepribadian, dan ketrampilan. Dan gambaran itu tidak hanya menjadi keinginan
teman saya. Hampir setiap lelaki yang normal (termasuk saya), pasti
mengharapkan istri yang ideal. Istri yang sempurna. Istri yang tidak
mengecewakan. Istilah populernya, istri yang tidak malu-maluin jika dibawa
kondangan, yang terampil di dapur dan berakhlak mulia.
Keinginan untuk memperoleh istri yang ideal bukan hanya semata-mata karena
kebutuhan pribadi akan istri yang "sempurna lahir bathin", tetapi juga ingin
"pamer", ingin dipuji oleh orang lain. Dengan banyak pujian, hati akan
merasa bangga. Dada dibusungkan. Yaa.. ada unsur sombong.
Terlebih-lebih jika membaca novel picisan atau menyaksikan sinetron yang
ditayangkan televisi-televisi swasta kita. Betapa hebatnya sosok istri:
kaya, cantik, cerdas, sepertinya tanpa cacat sedikitpun. Sehingga tidak
mengherankan, jika kaum lelaki juga terobsesi untuk mendapatkan istri yang
ideal, istri yang "sempurna lahir bathin".
Sayangnya, seperti teman saya, jarang sekali orang yang dapat menemukan
istri yang persis sama dengan yang diharapkan. Separuh atau seperempat saja
dari "kriteria" ideal yang dapat ditemukan pada sang istri, istu sudah
sangat bagus. Bahkan, bisa jadi, tidak satu pun "kriteria" ideal itu ada
pada sang istri. Dan, betul juga pendapat teman saya di atas, kalau terus
menerus memburu istri yang ideal, mungkin bisa menjadi lelaku yang tidak
laku-laku. Karena entah kapan dapat kita temukan. Sementara waktu terus
memburu kita yang berarti usia terus bertambah. Itu sama saja kita semakin
tua. Tentu saja kondisi kita semakin menurun. Kalaupun ada wanita yang
ideal, mungkin sudah menjadi milik orang lain. Jadi sama saja kita tak dapat
memiliki wanita itu untuk menjadi istri kita.
Sering kaum lelaki mengomentari pasangan yang dianggap tidak ideal. Misalnya
ketika ada pasangan yang wanitanya sangat cantik, sementara lelakinya
biasa-biasa saja, muncullah kelakar dan komentar, "Wah, bagi si lelaki, sih,
anugerah, tapi bagi wanitanya itu, musibah," atau komentar-komentar lain
yang hakikatnya ada rasa cemburu, rasa iri melihat kebahagiaan orang lain.
Bisa jadi karena pelampiasan sebab istri sendiri tidak ideal. Padahal, kita
belum tahu, apakah pasangan yang kita komentari itu bahagia atau tidak.
Jangan-jangan hanya bahagia secara lahiriah. Batiniahnya tidak bahagia. Atau
kedua-duanya, ya lahiriah, ya batiniah, tidak bahagia.
Walaupun istri yang kita dapat tidak sesuai dengan yang diidam-idamkan,
bukan berarti kita harus kecewa berkepanjangan. Bahkan sampai stress.
Apalagi sampai menyesali diri. Meratapi nasib yang kita anggap sial. Sebab,
bagaimanapun juga, jodoh, rezeki dan kematian sudah ada yang "mengatur".
Semua sudah menjadi suratan. Sudah menjadi takdir yang tidak bisa dibantah.
Pada akhirnya kita hanya pasrah. Ya, manusia berusaha, tapi Allah-lah yang
menentukan segalanya. Sebab, Dia-lah Yang Maha Kuasa. Dan kita harus yakin,
bahwa pilihan Allah adalah pilihan yang terbaik buat kita. Hanya saja kita
tidak mengetahuinya.
Kita memang harus legawa menerima istri kita yang memang sudah menjadi jodoh
kita. Dengan perasaan itu, maka semua yang kita kerjakan menjadi lebih
enjoy. Tidak ada yang mengganjal dalam pikiran kita. Kita harus menerima
istri kita apa adanya. Menerima seutuhnya. Ya kekurangannya, ya
kelebihannya. Manusia memang selalu diberikan kekurangan di samping
kelebihan. Hanya saja, kita terkadang hanya melihat kekurangannya saja.
Sementara kelebihan yang ada pada seseorang, termasuk istri kita, jarang
kita perhatikan. Atau tepatnya, tidak pernah kita perhitungkan. Kita sendiri
sebenarnya juga memiliki kekurangan, baik kita sadari maupun tidak. Manusia
memang tidak ada yang sempurna.
Ya, harus kita sadari dan camkan dalam hati bahwa di dunia ini memang tidak
ada istri yang ideal. Dengan kesadaran seperti itu, maka kita bisa menerima
istri kita dengan perasaan cinta dan kasih sayang. Tidak ada lagi
penyesalan.
Sumber: Penulis Drs. Widi Purwanto. Guru SLTPN 3 Purwonegoro - Diambil dari
Majalah UMMI edisi Juli