ini ada tanggapan dari rekan saya Herdi Jayakusumah, beliau adalah Ketua Kongres Mahasiswa UIN Jakarta, semoga bisa mengklarifikasi masalah ini.
----------------------------------------------------------------
Assalamu'alaikum..
UIN lagi.. UIN lagi.. UIN lagi..
Ini tanggapan saya:
“Mir, gimana kabar UIN?” beberapa teman sering menyapa dengan pertanyaan seperti itu. Saya hanya diam, bukan tidak mau menjawab, tapi karena tidak tahu harus menjawab apa. Tapi kadang saya paksakan diri dengan memberi jawaban singkat “hmm…gimana yah, ah gitu. deh”. Jawaban yang tidak jelas dan menggantung. Namun saya berharap semoga mereka memahami maksud di balik jawaban itu. Kadang mereka merasa kurang puas dan kembali bertanya ini dan itu…. saya bingung harus menjawab bagaimana. Kalau sudah buntu, ya saya jawab saja; “kacau disana mah…tau deh tu kampus gimana, parah banget.” Jawaban ini hanya merepresentasikan kondisi di kampus 2 (kampus pasca) karena saya kurang ma’rifah dengan kampus 1 (kampus mahasiswa S1).
Herdi: Kalau anda bilang "kacau disana mah, tau deh tu kampus gimana, parah banget" dan itu hanya merepresentasikan kondisi di kampus 2, kenapa anda tidak memberikan hujjah atau fakta sehingga anda bilang parah? menurut saya itu tidak adil..
Kalau masalah virus sipilis (sekularisme, pluralisme, liberalisme) yang menggerogoti kampus Islam tersebut, saya sudah mafhum. Atau fenomena pakaian ketat para mahasiswinya, serta model jilbab “berponi”. Itu sudah menjadi pemandangan biasa. Tapi ada hal lain yang membuat kampus ini memang layak diberi embel-embel seperti judul diatas. Ironis!
Herdi: Fenomena pakaian ketat? Anda membuat sebuah paradigma yang tidak adil, apa asumsi anda berkata seperti itu? Semua mahasiswi UIN Jakarta menutup aurat-nya, dan lebih banyak yang pakaiannya normal dibanding yang ketat, apa maksud anda model jilbab 'berponi'? anda sangat tendensius.! hati-hati, statement anda cenderung fitnah, ya, anda telah memfitnah mahasiswi yang sedang mencari ilmu agama, hati-hati ya bicaranya..
Hal pertama yang membuat miris adalah, kisah seorang teman yang mengatakan kost-kostan di belakang UIN, yang tentunya di huni oleh anak-anak UIN, mengadakan pesta sabu-sabu pada malam valentine serta terjadi perkosaan anak UIN oleh anak UIN sendiri. Kost-kostan tersebut memang terkenal sering terjadi kasus-kasus pidana.
Herdi: Kost di kampus manapun bukanlah tanggung jawab suatu kampus, kecuali asrama, artinya tidak bisa mengaitkan kehidupan kost-kost-an dengan UIN, perkosaan anak UIN oleh anak UIN? Terkenal kasus pidana? hal tersebut cenderung mem-fitnah.!
Kedua, novi menceritakan bahwa setiap malam yang esoknya adalah hari libur, baik hari libur sabtu maupun libur merah, pasti selalu ada konser band sampai larut malam. Hal ini tentunya membuat marah penduduk sekitar yang menjadi terganggu dengan ulah anak-anak UIN. Bukan main…di UI saja, tidak pernah ada konser band sesering itu, kecuali kalau memang ada acara tertentu. Tapi seingat saya, kalau konser band yang diadakan sampai larut malam, itu malah tidak ada. Hal ini membuat saya bertanya pada Novi , memangnya tidak ada larangan dari birokrat kampus untuk acara-acara seperti itu? Dia menjawab. “kak, di UIN itu, mau ngadain apa aja bebas, pokoknya bebas, gak ada yang ngelarang (lebih tepatnya tidak ada yang peduli). Ngadain bedah buku ‘ Ada pemurtadan di IAIN aja bisa’”.
Herdi: Statement yang mengatakan setiap malam yang besoknya libur ada konser band adalah salah dan keliru, sungguh hal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, apa maksud sampai larut malam, di UIN itu ada jam malam, tidak sebebas yang dilontarkan, UIN memang cenderung dapat memfasilitasi kegiatan apa saja, tapi bukan berarti tanpa batasan. Yang bicara tidak ada larangan berarti dia tidak tahu apa-apa tentang UIN, mungkin hanya mahasiswa yang tidak punya kepedulian atau tidak punya kehidupan sosial.
Ketiga, kampus Islam yang sangat tidak menghormati ajaran Islam. Betapa tidak, ketika adzan magrib berkumandang dan waktu shalat di mulai, mahasiswa yang sedang bermain futsal, voli dan olah raga lainnya, tidak ada tanda-tanda kegiatan tersebut dipending atau dibubarkan. Mereka terus saja bermain. Padahal, letak lapangan tersebut berada tepat di depan pintu masuk masjid kampus, bahkan sangat dekat karena berada dalam satu bangunan.
Herdi: Nampaknya yang mengeluarkan statement diatas tidak pernah shalat berjama'ah di Masjid UIN, saat adzan maghrib berkumandang, masjid UIN tidak pernah sepi, dimulai dari shalat sunnah, lalu shalat maghrib berjama'ah, lalu setelah itu ada yang tilawah (membaca Al-Qur'an), ada yang diskusi, dan lain-lain.. Hati-hati lagi ya..
Keempat, Kondisi dakwah kampus disana yng sangat dipersulit gerak-geriknya dan penuh intimidasi. baik oleh dosen-dosen maupun mahasiswa “kiri”. Hingga masalah rekruitmen pun menjadi sangat memperihatinkan. Beberapa tahun yang lalu, pernah terekruit MABA mencapai 800 orang, namun tahun kemarin 100 MABA saja tidak sampai. Seorang dosen nyeletuk di depan aktifis dakwah kampus UIN “emang masih jaman ada lembaga dakwah kampus di universitas Islam?” mendengar kalimat itu bikin kuping jadi panas, so what gitu loh?!
Herdi: Dakwah Kampus yang dimaksud adalah LDK? Kondisi dakwah kampus dipersulit oleh dosen? dosen tidak bisa meng-intimidasi aktivitas mahasiswa, apapun itu.! Kondisi dakwah kampus dipersulit oleh mahasiswa kiri? apa definisi mahasiswa kiri?
Terkait rekruitment MABA yang kurang itu bukan fenomena yang baru dan hanya terjadi di UIN, mungkin saja itu kesalahan para aktivis LDK-nya.! Ingat jatuhnya dakwah bisa juga di tangan para da'i lho..
Kelima, Kembali cerita dari Novi tentang kondisi mahasiswa disana. Yah seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, sangat beraneka ragam. Dari yang meyakini tidak wajibnya shalat bagi umat Islam, yang N11, sampai yang atheis, sangat banyak. Yang bikin lebih heboh lagi yaitu adanya demonstrasi menentang penggunaan jilbab di kampus UIN. Hebat! Banyak sekali “kemajuan” di UIN. Sangat jauh berbeda dengan kisah seorang teman di pasca bahwa dulu, awal 90-an saat dia kuliah di UIN, para mahasiswinya itu memakai pakaian (jilbab) yang panjang.
Herdi: Kondisi mahasiswa yang disebutkan di atas adalah hal yang ada di setiap kampus, jadi tidak bisa di bebankan ke kampus UIN saja, lalu maksudnya sangat banyak apa? Karena sampai saat ini tidak ada data yang jelas.
Keenam, Ketika momen pemlu yang diadakan setiap tahun untuk memilih presiden BEM, ada kejadian-kejadian yang tidak lazim terjadi terutama di kampus-kampus sekular seperti UI. Entahlah apakah hal ini memang biasa terjadi atau bawaan dari dunia pesantren yang tidak sesuai sunnah. Demi mendapat kemenangan yang diinginkah oleh sebuah parpolma tertentu, kader-kader mereka siap melakukan apa saja untuk mendapatkan kemenangan sekalipun perbuatan itu dilakukan dengan cara mistis. Ketika waktu pencoblosan, di bilik suara banyak berserakan paku payung, menurut pengakuan salah seorang kandidat presiden dari Partai Intelektual Muslim (PIM), saat berada di bilik suara dan hendak mencoblos kertas suara, dia menjadi lupa partai apa yang harus dia coblos. Selain itu dalam kotak-kotak suara juga terdapat jarum-jarum dan beras kuning, benda-benda yang jelas tidak ada hubungannya dengan prosesi pemilu. Nampaknya “dunia lain” juga turut ambil andil dalam dinamika kemahasiswaan di UIN.
Herdi: Saya adalah anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) UIN yang menjalankan PEMILU, wacana mistis memang masih ada, bahkan ada yag tertangkap tangan sedang menyebar beras merah dan putih di belakang kotak pemilihan suara, tapi hal tersebut tidak dapat diklaim bawaan dari pesantren. lagi pula di fakultas terjadinya hal tersebut kader partai yang melempar beras merah dan putih partainya tidak menang
Ketujuh, Setiap orang yang melihat UIN Jakarta pasti akan berdecak kagum dengan kemegahan gedung-gedung kampus yang menjulang tinggi nan apik. Persis meniru pola bangunan kampus Al-Azhar Mesir. Terus terang, salah satu alasan saya memilih UIN, karena jatuh hati dengan model bangunannya yang membawa pikiran pada kampus Azhar =D jadi meskipun jauh dimata insyaAllah tetap dekat di hati. Meskipun dana yang diperoleh untuk membiayai bangunan indah tersebut berasal dari Barat (baca: Amerika). Ternyata keindahan dan kemegahan fisik kampus UIN tak seindah kondisi di dalamnya. Novi mengatakan betapa UIN telah menjadi wilayah yang paling available untuk “berkhalwat”. Dilantai 7 gedung-gedung UIN, biasanya selepas magrib atau menjelang waktu malam, akan ditemukan banyak pasangan yang berduaan dalam gelap. Begitu pula di perpustakaan yang harusnya menjadi tempat yang nyaman untuk membaca dan belajar, malah merangkap menjadi tempat yang nyaman pula bagi banyak pasangan lawan jenis untuk mengekspresikan kasih sayang mereka. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.
Herdi: Dananya dari barat? tidak, dana-nya dari IDB, Bank dan pemerintahan di Indonesia. Kenapa bisa mengatakan lantai tujuh terjadi khalwat? hal itu tidak benar.! perpus tempat yang nyaman pula bagi banyak pasangan lawan jenis untuk mengekspresikan kasih sayang? Hal itu juga tidak benar.!
Bagaimana tidak saya katakan bahwa dari beberapa poin diatas telah menjadikan judul tulisan saa “Horor di UIN Jakarta ”. Rasanya tidak berlebihan, karena menurut saya, fenomena kerusakan tersebut lebih seram dari film horor. Dalam hati saya bertanya-tanya, bagaimana agar dapat merubah “markaz” pembentukan generasi muda Islam ini menjadi benar-benar berada pada jalan yang lurus. Karena dosen-dosen di UIN mayoritas adalah hasil produk barat yang tidak diragukan lagi kekacauannya. Menurut Novi, tidak akan lolos kader-kader dakwah yang hanif untuk memegang jabatan penting seperti Dekan, yang punya otoritas merubah sistem di fakultas. Apalagi Rektor!
Herdi: Hal atau hujjah yang anda katakan sangat tendensius dan tanpa data atau analisis yang valid, hati-hati akhi, bahkan cenderung fitnah.!
Akhirnya terpikirkan Depag. UIN berada di bawah Depag, sekiranya menteri agama adalah orag yang benar-benar peduli dengan kondisi masa depan umat Islam tanah air, harusnya dia punya inisiatif untuk lebih memperhatikan dan merekonstruksi kondisi UIN. Baik dari struktur birokrasi maupun kurikulum.
Herdi: Memang kenapa dengan birokrasi dan kurikulum-nya?
&bsp;
Herdi lagi: Maaf yang saya sampaikan adalah reaksioner dan tanpa data serta analisis yang jelas, karena hanya sekedar tanggapan dari sebuah tulisan. mohon maaf bila ada yang tidak berkenan, sungguh harusnya muslim itu bersaudara, muslim itu bersatu, muslim itu saling nasihat dan menasihati.
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan kecintaan hanya kepada-Mu,
bertemu untuk taat kepada-Mu,
bersatu dalam rangka menyeru di jalan-Mu,
dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu.
Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah,
abadikanlah kasih sayangnya,
tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup,
lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu,
hidupkanlah ia dengan ma'rifah-Mu,
dan matikanlah ia dalam keadaan syahid di jalan-Mu.
Amin."
Wassalam.
Herdi Jayakusumah
Ketua Kongres Mahasiswa UIN Jakarta
herdijayakusumah.wordpress.co m