Saya akan sampaikan banyak hal:
1. Etika menerima berita tentang kekeliruan saudara kita yang memiliki track record 'baik' adalah kita memberikan banyak 'udzur (alasan), kenapa dia melakukan itu? oh mungkin karena terpaksa, atau dipaksa, atau dia tidak tahu, atau sebenarnya bukan dia yang melakukan tetapi merupakan fitnah atas nama dia ... (termasuk spanduk, ingat dulu PKS 'kan pernah dibuat black campaign dengan selebaran gelapyang juga meggunakan logo PKS).
2. Kita-kita sebagai out sider, hanyalah mengingatkan bukan terus menerus menjadikan kesalahan itu sebagai bahan celaan tak berkesudahan. Dahulu, pernah DPP PK pernah ditegur oleh masyayikh Ikhwan di Madinah lantaran ketika acara milad, menampilkan Barongsai. Apa artinya? suasana saling menasihati atas kesalahan sesama PK(S) masih berjalan dengan baik.
3. Kadang ada orang yang sangat cinta dengan PKS, mereka ingin berjuang bersama PKS, tetapi MEREKA BUKAN KADER PKS. Biasanya ini terjadi di daerah minus kader. Nah, mereka ini tidak atau belum tahu apa dan bagaimana nilai normatif dalam PKS. Ada banyak ketua DPC atau DPRa, khususnya di pelosok, yang masih merokok, keluar rumah pakai celana pendek, dll, yang biasanya bukan perilaku standar aktifis PKS. tentunya jika mereka melakukan itu, tidak wajar dan amat keliru yang disalahkan adalah PKS dalam arti institusi. sebab itu perlaku individu. Begitu pula, dalam masalah yang pernah saya dengar, ada 'orang PKS' yang 'kasar' dalam kampanye, ternyata itu hanya simpatisan atau yang baru berinteraksi namaun langsung jatuh cinta, sehingga perilaku dasarnya dibawa ke PKS, lalu manusia menilai itulah PKS ..
Masalahnya adalah tidak sedikit orang yang baru sekedar masang spanduk dan bendera PKS, sekali kajian PKS, atau pernah berinteraksi aktif, lalu sudah MERASA bagian dari PKS dan merasa kader .. sehingga perilakunya dianggap mewakili .. ini adalah pandangan yang tidak teliti.
4. Wacana menjadi Partai Terbuka, sudah dibantah oleh oleh bayanat resmi dari DPP yang ditanda tangani oleh Presiden PKS, Ka Dewan Syariah, dan Ka Majelis Pertimbangan Pusat. Bahwa PKS tetap menjadi partai da'wah. Sedangkan jika yang dimaksud Partai Terbuka adalah PKS harus lebih all out menyentuh da'wahnya hingga ke non muslim, bukankah memang da'wah harus seperti itu? Bukankah harus menampakkan Islam kepada mereka? Faktanya, tak ada satu pun non islam yang menjadi pengurus PKS dan calegnya, di tempat mayoritas muslim. tetapi, ditempat minoritas seperti Papua, atau mungkin NTT (dan ini adalah daerah pengecualian), adalah wajar jika ada non muslim yang suka dengan PKS lalu mereka ingin membela PKS, masa PKS menolak keinginan mereka hanya karena mereka non muslim? Padahal ditempat seperti Papua, jangankan kader PKS, muslim saja sedikit ..
Artinya di tempat seperti itu PKS (bahkan kaum muslimin) belum kuat, maka wajar bila PKS mengintifa' non muslim untuk melawan musuh bersama, kezaliman universal, dll ... satu hal yang perlu diingat pembolehan mereka menjadi pengurus atau caleg pun harus melalui seleksi dan uji kelayakan yang tidak sembarang. Sesungguhnya, Rasulullah SAW, ketika masih lemah dan minoritas, ia pernah berkumpul bersama orang kafir di rumah Abdullah bin Jad'an dalam rangka membicarakan maslahat kemanusiaa secara umum. Peristiwa ini terkenal dengannama Hilful Fudhul. Ketika Beliau hijrah ke Madinah, yang menjadi menghapus jejak beliau adalah orang Yahudi. Rasulullah sendiri pernah bekerjasama dengan Bani khuzaah untuk melawan kaum musyrik lain yang lebih berbahaya. maka, apa yang dilakukan PKS, jika memang makna terbuka adalah seperti ini, maka maa fii musykil (tidak ada masalah)... tetapi jika yang dimaksud terbuka adalah PKS bebas menerima pengurusnya dari golongan mana saja padahal masih banyak kader dan umat Islam sendiri yang belum terbedayakan, mereka memiliki posisi kuat, maka itu buka terbuka, tetapi kebablasan ... nampaknya bukan ini yang dimaksud.
sayangnya pemuat Thread ini tidak menjelaskan secara rinci etika da'wah dan etika politik yang bagaimana yang dia tanyakan keislamiannya dari PKS? dia hanya memberikan contoh-contoh yang dia ketahui di lingkungannya saja (dikampusnya), atau dari bacaan koran, atau desas-desus, tanpa mengusut langsung dan nilai dengan timbangan yang sehat.
Memang, agak sulit bagi manusia untuk berbuat objektif khususnya orang atau kelompok yang menilai dahulu, sebelum mengkaji dan meneliti. menyalahkan sebelum membuktikan.