Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Jodoh : Antara Harapan Dan Kenyataan  (Dibaca 414 kali)


Offline ipin4u

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.969
  • Lokasi: Balikpapan
  • Jenis kelamin: Pria
  • We support Palestine!
    • Lihat Profil
    • my blogs at multiply
« pada: 25 Januari 2008, 15:56:23 »
 Saat Fulanah masih seorang gadis, yang ada di benaknya dan yang kemudian menjadi tekadnya adalah keinginan menjadi isteri shalihat yang taat dan selalu tersenyum manis. Pendeknya, ingin memberikan yang terbaik bagi suaminya kelak sebagai jalan pintas menuju surga.

 Tekad itu diperolehnya setelah mengikuti berbagai 'tabligh', ceramah, dan seminar keputerian serta membaca sendiri berbagai risalah. Bahkan banyak pula ayat Al-Qur'an dan Hadits yang berkaitan dengan hal itu telah dihafalnya, seperti "Ar Rijalu qowwamuna alan nisaa'...","Faso- lihatu qonitatu hafizhotu lilghoibi bima hafizhallah..." (QS. An-Nisa ayat 34). Juga Hadits :"Ad dunya mata', wa khoiru mata'iha al mar'atus sholihat." (dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri sholihat). Atau, hadits "Wanita sholihat adalah yang menyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh dan menjaga apa-apa yang diamanahkan padanya. Begitu pula hadits "Jika seorang isteri sholat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan dan menjaga kehormatan dirinya serta suaminya dalam keadaan ridha padanya saat ia mati, maka ia boleh masuk surga lewat pintu yang mana saja. (HR Ahmad dan Thabrani). Hadits yang berat dan seram pun dihafalnya, "Jika manusia boleh menyembah manusia lainnya, maka aku perintahkan isteri menyembah suaminya." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

 Figur isteri yang sholihat, taat, dan setia serta qona'ah seperti Khadijah r.a. benar-benar terpatri kuat di benak Fulanah dan jelas ingin ditirunya. Maka, tatkala Allah SWT telah menakdirkan ia mendapat jodoh seorang Muslim yang sholih, 'alim dan berkomitmen penuh pada Islam, Fulanah pun melangkah ke gerbang pernikahan dengan mantap. Begitu khidmat dan khusyu karena kesadaran penuh untuk beribadah dan menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan hidup berumah tangga.

EPISODE 2

 Tatkala Fulan masih menjadi seorang jejaka, ia sering membatin, berangan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan seorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata. Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan seorang "qowwam" yang "qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi" (tegak atas dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi 'imam yang adil' yang akan memimpin dan mengarahkan isteri dan anak-anaknya.

 Alangkah menenangkannya mempunyai seorang isteri yang akan dijaganya lahir dan batin, dilindungi dan disayanginya karena ia adalah amanah Allah SWT yang telah dihalalkan baginya dengan dua kalimat Allah SWT. Ia bertekad untuk mempergauli isterinya dengan ma'ruf (QS An-Nisa:19) dan memperhatikan hadits Rasulullah SAW tentang kewajiban-kewajiban seorang suami. "Hanya laki-laki mulialah yang memuliakan wanita." "Yang paling baik di antara kamu, wahai mu'min, adalah yang paling baik perlakuannya terhadap isterinya. Dan akulah (Muhammad SAW) yang paling baik perlakuannya terhadap isteri-isteriku." "Wanita seperti tulang rusuk manakala dibiarkan ia akan tetap bengkok, dan manakala diluruskan secara paksa ia akan patah." (HR. Bukhari dan Muslim)

 Fulan pun bertekad meneladani Rasulullah SAW yang begitu sayang dan lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah dengan ikut meringankan beban pekerjaan isteri seperti membantu menyapu, menisik baju dan sekali-sekali turun ke dapur seperti ucapan Rasulullah kepada Bilal : "Hai Bilal, mari bersenang-senang dengan menolong wanita di dapur." Karena Rasulullah suka bergurau dan bermain-main dengan isteri seperti berlomba lari dengan Aisyah r.a. (HR Ahmad), maka ia pun berkeinginan meniru hal itu serta menyapa isteri dengan panggilan lembut 'Dik' atau 'Yang'.

EPISODE-EPISODE SELANJUTNYA

 Fulan dan Fulanah pun ditakdirkan Allah SWT untuk menikah. Pasangan yang serasi karena sekufu dalam dien, akhlaq, dan komitmen dengan Islam.

 Waktu pun terus berjalan. Dan walaupun tekad dan cita-cita terus membara, kin banyak hal-hal realistis yang harus dihadapi. Sifat, karakter, pembawaan, selera, dan kegemaran serta perbedaan latar belakang keluarga yang semula mudah terjembatani oleh kesatuan iman, cita-cita, dan komitmen ternyata lambat laun menjadi bahan-bahan perselisihan. Pertengkaran memang bumbunya perkawinan, tetapi manakala bumbu yang dibubuhkan terlalu banyak, tentu rasanya menjadi tajam dan tak enak lagi.

 Ternyata, segala sesuatunya tak seindah bayangan semula. Antara harapan dan kenyataan ada terbentang satu jarak. Taman bunga yang dilalui ternyata pendek dan singkat saja. Cukup banyak onak dan duri siap menghadang. Sehabis meneguk madu, ternyata 'brotowali' yang pahitpun harus diteguk. Berbagai masalah kehidupan dalam perkawinan harus dihadapi secara realistis oleh pasangan mujahid dan mujahidah sekalipun.Allah tak akan begitu saja menurunkan malaikat-malaikat untuk menyelesaikan setiap konflik yang dihadapi. "Innallaha laa yughoyyiru ma biqoumi hatta yughoyyiru maa bi anfusihim" (QS Ar-Raad : 6).

Ada seorang isteri yang mengeluhkan cara bicara suaminya terutama jika marah atau menegur, terdengar begitu 'nyelekit'. Ada pula suami yang mengeluh karena dominasi ibu mertua terlalu besar. Perselisihan dapat timbul karena perbedaan gaya bicara, pola asuh, dan latar belakang keluarganya. Kejengkelan juga mulai timbul karena ternyata suami bersikap 'cuek', tidak mau tahu kerepotan rumah tangga, karena beranggapan "itu khan memang tugas isteri." Sebaliknya, ada suami yang kesal karena isterinya tidak gesit dan terampil dalam urusan rumah tangga, maklum sebelumnya sibuk kuliah dan jadi 'kutu buku' saja.

 Fulan pun mulai mengeluh. Ternyata isterinya tidak se-"qonaah" yang diduganya, bahkan cenderung menuntut, kurang bersahaja dan kurang bersyukur. Fulanah sebaliknya. Ia mengeluh, sang suami begitu irit bahkan cenderung kikir, padahal kebutuhan rumah tangga dan anak-anak terus meningkat.

 Seorang sahabat Fulan juga kesal karena isterinya sulit menerima keadaan keluarganya. Sebab musababnya sih karena perbedaan status sosial, ekonomi dan adat istiadat. Kekesalannya bertambah-tambah karena dilihatnya sang isteri malas meningkatkan kemampuan intelektual, manajemen rumah tangga, serta kiat-kiat mendidik anak. Sebaliknya, sang isteri menuduh suaminya sebagai "anak mama" yang kurang mandiri dan tidak memberi perhatian yang cukup pada isteri dan anak-anaknya. Belum lagi problem yang akan dihadapi pasangan-pasangan muda yang masih tinggal me umpang di rumah orang tua. Atau di dalam rumah mereka ikut tinggal kakak-kakak atau adik-adik ipar. Kesemua keadaan itu potensial mengundang konflik bila tidak bijak-bijak mengaturnya.

 Kadang-kadang semangat seorang Muslimah untuk da'wah keluar rumah terlalu berlebihan. Tidak "tawazun" atau seimbang. Hal ini dapat menyebabkan seorang suami mengeluh karena terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga yang seabreg-abreg dan mengurus anak-anak. Selanjutnya, ada pula Muslimah yang terlalu banyak menceritakan kekurangan suaminya, kekecewaan-kekecewaannya
pada suaminya. Padahal ia sendiri kurang instrospeksi bahwa ia sering lupa melihat kebaikan dan kelebihan suaminya.

 Ada suami yang begitu "kikir" dalam memuji, kurang "sense of humor" dan "sedikit" berkata lembut pada isteri. Kalau ada kebaikan isteri yang dilihatnya, disimpannya dalam hati, tetapi bila ia melihat kekurangan segera diutarakannya. Bahkan ada pula pasangan suami-isteri yang memiliki problem "hubungan intim suami-isteri". Mereka merasa tabu untuk membicarakannya secara terus terang di antara mereka berdua. Padahal akibatnya menghilangkan kesakinahan rumah tangga.

 Kalau mau dideretkan dan diuraikan lagi, pasti daftar konflik yang terjadi di antara pasangan suami-isteri muda Muslim dan Muslimah akan lebih panjang lagi. Memang, persoalan-persoalan tidak begitu saja hilang. Rumah tangga tidak pasti akan berjalan mulus tanpa konflik hanya dengan kesamaan fikrah dan cita-cita menegakkan Islam. Mereka yakni Fulan dan Fulanah cs
tetap manusia-manusia biasa yang bisa membuat kekhilafan dan tidak lepas dari kekurangan-kekurangan. Dan mereka pun pasti mengalami juga fluktuasi iman.

 Pasangan yang bijak dan kuat imannya akan mampu istiqomah dan lebih punya kemampuan menepis badai dengan menurunkan standar harapan. Tidak perlu berharap muluk-muluk seperti ketika masih gadis atau jejaka. Karena, ternyata kita pun belum bisa mewujudkan tekad kita itu. Sebagai Muslim dan Muslimah hendaknya kita sadar, tidak mungkin kita dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna seperti bidadari atau malaikat. Maka kita pun tentunya tidak perlu menuntut kesempurnaan dari suami atau isteri kita.

 "Just the way you are" lah. Kita terima pasangan hidup kita seadanya, lengkap dengan segala kekurangan (asal tidak melanggar syar'i) dan kelebihannya. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebiasaan, dan karakter yang berbeda, walau tentunya dien, fikrah, dan cita-cita kita sama. Pada saat ghirah tinggi, iman dalam kondisi puncak, "Prima", semua perbedaan seolah sirna. Namun pada saat "ghirah" turun, iman menurun, semua perbedaan itu menyembul ke permukaan, mengganjal, mengganggu, dan menyebalkan. Akibatnya tidak terwujud sakinah.

 Kiat utama mengatasi permasalahan dalam rumah tangga, tentunya setelah berdoa memohon pertolongan Allah SWT dan mau ber "muhasabah" (introspeksi), adalah mengusahakan adanya komunikasi yang baik dan terbuka antara suami-isteri. Masalah yang timbul sedapat mungkin diselesaikan secara intern dulu di antara suami-isteri dengan pembicaraan dari hati ke hati. "Uneg-uneg" yang ada secara fair dan bijak diungkapkan.

 Selanjutnya, yang memang bersalah diharapkan tidak segan-segan mengakui kesalahan dan meminta maaf. Yang dimintai maaf juga segera mau memaafkan dan tidak mendendam. Masing-masing pihak berusaha keras untuk tidak mengadu ke orang tua, atau orang lain. Jadi tidak membongkar atau membeberkan aib dan kekurangan suami atau isteri. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak membandingk-bandingkan suami atau isteri dengan orang lain, karena itu akan menyakitkan pasangan hidup kita. Setelah
itu, masing-masing juga perlu 'waspada' agar tidak terbiasa kikir pujian dan royal celaan.

 Jika terpaksa, kadnag-kadang memang diperlukan bantuan pihak ketiga (tetapi pastikan yang dapat dipercaya keimanan dan akhlaqnya) untuk membantu melihat permasalahan secara lebih jernih. Kadang-kadang "kacamata" yang kita pakai sudah begitu buram sehingga semua kebaikan pasangan hidup kita menjadi tidak terlihat, bahkan yang terlihat keburukannya saja. Orang lain yang terpercaya InsyaAllah akan bisa membantu menggosok 'kacamata' yang buram itu. Alhamdulillah ada yang tertolong dengan cara ini dan mengatakan setelah konflik terselesaikan mereka pun berbaikan lagi seperti baru menikah saja ! Layaknya !

 Dengan berikhtiar maksimal, bermujahadah, dan bersandar pada Allah SWT, InsyaAllah kita dapat mengembalikan kesakinahan dan kebahagiaan rumah tangga kita, serta kembali bertekad menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan kita berumah tangga. Amiin yaa Robbal'aalamiin.


Wassalamu'alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuhu

* tulisan dari Ummu Samy Romadhon di majalah Ummi No. 6/V, 1414 H/1993* via http://ktpdi.isnet.org/tarbiyah.php?id=0167

Karya : Ummu Samy Romadhon

Sumber: http://iytho.multiply.com/journal/item/117/Jodoh_Antara_Harapan_Dan_Kenyataan

Offline Anis_WN

  • Moderator
  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.462
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 25 Januari 2008, 22:33:53 »
Kalo pernikahan hanya dilandasi harapan bahwa kebahagiaan itu akan datang dgn sendirinya, maka itu adalah cikal bakal kecelakaan dlm rumah tangga. Kebahagiaan itu wajib diupayakan, bukan sekedar berpangku tangan menunggu keajaiban. Upaya untuk menggapai kebahagiaan itu memang bukanlah hal sepele seperti kita menghirup udara bebas. Tapi upaya menggapai kebahagiaan itu benar2 wajib didukung oleh segudang prasyarat yang pada umumnya bersifat kejiwaan. Jiwa orang yg telah dewasa, matang dlm berpikir dan bertindak. Bukan jiwa anak2 yg manja dan ingin menang sendiri.

'Berharap' tidaklah dilarang, tetapi karena yg diharapkan itu adalah kebaikan bagi diri sendiri, maka harapan itu harus disertai usaha. Tanpa itu harapan hanya tinggal harapan, tanpa pernah akan menjadi kenyataan. Gak beda dgn harapan seorang murid untuk bisa menguasai suatu ilmu. Harapan itu haruslah disertai kerja keras untuk belajar. Bukan hanya nyontek yg malah membodohkan dirinya sendiri.

Dan yg harus disadari oleh setiap pasangan yg menikah adalah bahwa pernikahan itu untuk selamanya. Bukan untuk sehari atau selama bulan madu saja. Oleh sebab itu, wajib dicarikan cara yg terbaik agar semangat tidak kendur. Setiap kali semangat mengendur dari salah satu atau kedua orang itu, saat itu pula harus cepet2 dicarikan jalan untuk menguatkannya lagi. Sebab apabila sudah terlanjur jatuh apalagi terluka, susah untuk diharapakan kembali seperti sedia kala. Oleh sebab itu, pasangan wajib peka terhadap adanya potensi gangguan yg ada sepanjang masa. Dan selanjutnya juga memperkuat diri agar tetap fit apabila suatu saat gangguan itu datang. Sehingga mudah untuk menyingkirkannya.

So, good luck... Siapa pun yg (kelak) menjadi 'jodoh' anda, sebaiknya dijadikan anggota team yg terbaik. Bukan hanya sekedar dijadikan pajangan.

Wassalam
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline chusni@.maniez_dudung.net

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 3.662
  • Lokasi: Di Ujung Timur Pulau Jawa
  • Jenis kelamin: Wanita
  • dalam genggaman jemarimu
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 26 Januari 2008, 13:49:16 »
kadang kenyataan tak seindah rama - rama..tak seindah impian
ya kalau kita meminta harus sesuai itu egois namanya
dulu harapan saya dapat jodoh yang tinggi, romantis, dan hanya ada saya di hatinya
mungkin dulu saya hampir mendapatkan yang seindah impian saya
tapi kembali kepada diri...apakah saya pantas? apakah nantinya saya mampu?
dan kenyataannya.....KENYATAAN YANG ADA baru saya sadari bahwa :

APA YANG TERBAIK MENURUT SAYA BELUM TENTU ITU YANG TERBAIK MENURUT ALLOH
saya benar2 bersyukur bahwa ternyata semuanya adalah terbaik menurut saya dan Dia
berharaplah sesuai dengan kapasitas kita
karena harapan terlalu tinggi ketika terjatuh sakitnya itu MANTAB banget
Aku menyayangimu, aku tak ingin melihatmu bersedih. Aku ingin memelukmu, seperti engkau sering memelukku kala aku marah atau kala aku berduka. Aku pun ingin memberimu ketenangan.

Offline Dayna

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.237
  • Lokasi: Kuwait
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 26 Januari 2008, 13:57:50 »
Kembali lagi pada thread saya "Sudahkah Aku Siap Mengendalikan Bahtera Pernikahan" %peace%. Keterbukaan masing-masing amat penting demi kelangsungan pelayaran di Samudera Kehidupan, ya ga om anis? Masalah sekecil apapun semestinya jangan dipendam, karena bisa membuat kewaspadaan berkurang dan ujungnya bahtera bisa bernasib seperti titanic :D.

Oh ya, pernikahan adalah menyatukan kedua belah keluarga besar. Karena itu sebaiknya berkenalanlah dengan kedua keluarga besar, sehingga sedikit banyak karakter ortu, kakak, adik dan saudara calon pasangan sedikit ada bayangan.

Dan jangan mengeluh kalau pasangan tidak sesuai yang diharapkan, bukankah sebelum menikah mau terima pasangan "apa adanya?" ^-^.

Offline Mas-To

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.236
  • Lokasi: Delft
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hmmmm.........
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 26 Januari 2008, 21:04:24 »
Yah begitulah

D butuhkan karakter yg kuat ntk menjadi orang besar
Jodoh adalah cerminan diri, lbh baik koreksi diri sbelum menuntut pasangan ntk mengkoreksi perilaku nya
Dan jng menuntut sesuatu sbelum kita siap memenuhi tuntutan pasangan

Tiada seorang muslim yg tdk d uji, butuh ush lebih ntk menjd klg muslim yg 'lebih'
Saya hanyalah manusia yang sok tahu dalam dunia Allah yang penuh pengetahuan, yang terungkap maupun yang tersembunyi.
maafkan ketidaktahuan saya... %p

Offline Anis_WN

  • Moderator
  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.462
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 27 Januari 2008, 08:41:02 »
Kembali lagi pada thread saya "Sudahkah Aku Siap Mengendalikan Bahtera Pernikahan" %peace%. Keterbukaan masing-masing amat penting demi kelangsungan pelayaran di Samudera Kehidupan, ya ga om anis? Masalah sekecil apapun semestinya jangan dipendam, karena bisa membuat kewaspadaan berkurang dan ujungnya bahtera bisa bernasib seperti titanic :D.

Keterbukaan emang salah satu elemen yg penting dlm kehidupan berumah tangga. Tapi elemen2 yg lain juga harus diperhatikan. Gak ada gunanya kalo kita terbuka, tapi tetep aja manja, kan? Misalnya, "Dik, aku laper nih!" (terbuka), disambung dgn "Ambilin makanan dan suapi aku, donk. Cepet" (manja)

Dan segudang contoh2 yg lain... ::)

Intinya sih emang pernikahan itu membutuhkan ketrampilan yg kompleks. Tidak hanya satu sisi saja, tapi itu bukanlah hal yg susah untuk dipelajari. Dan juga gak perlu semuanya dah 'sempurna' sebelum menjalani pernikahan. Yg penting siap untuk terus mengembangkan diri. Termasuk menghadapi kenyataan apabila ternyata yg di sampingnya adalah makhluk yg sangat berbeda dgn apa yg ada diharapkannya.

%peace%
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline AdnanRasulSayyaf

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 5.167
  • Lokasi: Cihanjuang, Cimahi
  • Jenis kelamin: Pria
  • ~ Argo Wilis ~
    • Lihat Profil
    • Just Try To Be A Bloggrammer
« Jawab #6 pada: 27 Januari 2008, 16:43:56 »
Keterbukaan emang salah satu elemen yg penting dlm kehidupan berumah tangga. Tapi elemen2 yg lain juga harus diperhatikan. Gak ada gunanya kalo kita terbuka, tapi tetep aja manja, kan? Misalnya, "Dik, aku laper nih!" (terbuka), disambung dgn "Ambilin makanan dan suapi aku, donk. Cepet" (manja)

Dan segudang contoh2 yg lain... ::)

Intinya sih emang pernikahan itu membutuhkan ketrampilan yg kompleks. Tidak hanya satu sisi saja, tapi itu bukanlah hal yg susah untuk dipelajari. Dan juga gak perlu semuanya dah 'sempurna' sebelum menjalani pernikahan. Yg penting siap untuk terus mengembangkan diri. Termasuk menghadapi kenyataan apabila ternyata yg di sampingnya adalah makhluk yg sangat berbeda dgn apa yg ada diharapkannya.

%peace%

yg itentunyanya ketrampilan itu tidak bisa dipelajar secara nyata kalo belum ada akad :D
Visit My Blog

Jika anda dapat mengkomunikasikan apa saja, kapan saja dan di mana saja, lalu mengapa anda harus punya kantor ?, kerja bukan tempat yg anda

Offline Mas-To

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.236
  • Lokasi: Delft
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hmmmm.........
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 27 Januari 2008, 17:44:52 »
Yup kadang beberapa teori dan rumus2 yg sudah d susun rapi sbelum akad bsa berantakan bgitu d praktekkan
Terkadang permasalahan yg tdk d duga sbelumnya malah cepet slesai
Btul gak pak, kadang rumus yg sama tdk berhasil ntk mslh yg sama d laen wkt
Setiap pribadi tu unik, bgitu jg stiap keluarga dan stiap masalah

Pokoknya seru

Intinya ikhlas menikah karna Allah
Bagaimanapun jodoh yg ddapat, terimalah, dan berusaha bersama ntk menuju kehidupan rmh tgg yg d impikan
Saya hanyalah manusia yang sok tahu dalam dunia Allah yang penuh pengetahuan, yang terungkap maupun yang tersembunyi.
maafkan ketidaktahuan saya... %p

Offline Scorpion14

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 11.244
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • Ya Allah... jadiknlah aku trmsuk orang2 yang sabar
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 28 Januari 2008, 00:05:37 »
intinya adalah.... pengalaman adalah pelajaran terbaik %peace%

seperti kata pepatah..... teori tanpa praktek adalah pincang..... praktek tanpa teori adalah buta..... gitu yaa klo ga salah bunyinya ^_^ ....... jangan sampe terus ngumpulin teori segudang... ampe berumur tua.... mereka mengira... kedewasaan dirinya didapatkan melalui teori2 dan bertambahnya umur..... padahal...


pernikahan ibarat berwirausaha.... ketika seseorang ingin menjalankan atau membangun bisnisnya.... semua visi misi dan planning2nya sudah dibuat begitu rinci... tetapi ketika dia menjalankan bisnisnya... tidak seperti apa yang diharapkan..... semua planning2nya berubah krn sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi dilapangan..... semua visi misinya menjadi kabur..... disitulah seorang wirausahawan diuji.... apakah dia mampu menghadapi segala permasalahan yg ada atau tidak..... disitu pula seorang wirausahan diuji mental, sikap, dan kreativitas.....

bagi wirausahawan yg sukses... adalah seorang yg mampu menghadapi segala situasi.... mampu mengembangkan segala potensi yang ada dalam dirinya setiap kali di uji dengan segala permasalahan... baginya kegagalan adalah proses pembelajaran diri.... bukan suatu hambatan yang menurunkan semangat dalam dirinya......


^_^ maaf sotoy.....
« Edit Terakhir: 28 Januari 2008, 00:14:54 oleh Scorpion14 »

Offline Mas-To

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.236
  • Lokasi: Delft
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hmmmm.........
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 28 Januari 2008, 07:18:14 »
@scorpie dah mantab bgt tuh :hihi: %peace%
Saya hanyalah manusia yang sok tahu dalam dunia Allah yang penuh pengetahuan, yang terungkap maupun yang tersembunyi.
maafkan ketidaktahuan saya... %p

Offline Anis_WN

  • Moderator
  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.462
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 28 Januari 2008, 08:43:49 »
gak apa2... nanti kalo dah menikah, akan makin mantab. penuh surprise...

:hihi:
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline aira^kudo

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 5.405
  • Lokasi: Bandung thea..
  • Jenis kelamin: Wanita
  • [tsuki no kokoro ni, kakaru kumo nashi...]
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 28 Januari 2008, 08:56:45 »
Kadang idealisme memang sering berbenturan dgn realita.. Persiapkan saja diri untuk hal itu..
Sotoy mode: on %peace%
.... a honorable death is prefer to be a life in shame....

Offline maswahyu

  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 16.180
  • Lokasi: Bandar Lampung - Sleman - Yogyakarta - Bandung - Jakarta - Bekasi
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 28 Januari 2008, 09:47:11 »
intinya adalah.... pengalaman adalah pelajaran terbaik %peace%

seperti kata pepatah..... teori tanpa praktek adalah pincang..... praktek tanpa teori adalah buta..... gitu yaa klo ga salah bunyinya ^_^ ....... jangan sampe terus ngumpulin teori segudang... ampe berumur tua.... mereka mengira... kedewasaan dirinya didapatkan melalui teori2 dan bertambahnya umur..... padahal...


pernikahan ibarat berwirausaha.... ketika seseorang ingin menjalankan atau membangun bisnisnya.... semua visi misi dan planning2nya sudah dibuat begitu rinci... tetapi ketika dia menjalankan bisnisnya... tidak seperti apa yang diharapkan..... semua planning2nya berubah krn sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi dilapangan..... semua visi misinya menjadi kabur..... disitulah seorang wirausahawan diuji.... apakah dia mampu menghadapi segala permasalahan yg ada atau tidak..... disitu pula seorang wirausahan diuji mental, sikap, dan kreativitas.....

bagi wirausahawan yg sukses... adalah seorang yg mampu menghadapi segala situasi.... mampu mengembangkan segala potensi yang ada dalam dirinya setiap kali di uji dengan segala permasalahan... baginya kegagalan adalah proses pembelajaran diri.... bukan suatu hambatan yang menurunkan semangat dalam dirinya......


^_^ maaf sotoy.....

Saran yang mantap banget nih... :topOK:

Ayo Rud, segera praktekkan... ;)

Offline tjab_rosh

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 74
  • Lokasi: front of lappy
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 28 Januari 2008, 09:54:41 »
yah... seperti acara 'katakan cinta' yg sempet ngetop bgt itu... cinta emang harus diperjuangkan... ga semata2 masalah harapan, keinginan, calon pasangan yg ideal itu gimana,.... kalo udah diperjuangkan, baru kita akan tahu dengan pasangan seperti apa kita ditakdirkan.

Offline chair

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 4.625
  • Jenis kelamin: Wanita
  • tetep smangad!
    • Lihat Profil
    • chair
« Jawab #14 pada: 28 Januari 2008, 10:25:18 »
sebenarnya harapan dan kenyataan itu tergantung dari cara kita memandang... dan cara memandang ini bergantung dari kedewasaan pasutri tersebut

bagi saya pribadi, kenyataan yang saya hadapi sekarang malah jauuuuuh lebih baik dari segala harapan saya...
semua tergantung gimana kita bisa bersyukur atas rahmat yang sudah Allah berikan.
Alhamdulillah...

Offline nuraini ratri

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 227
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Faidza azzamta fatawakkal alallah
    • Lihat Profil
« Jawab #15 pada: 28 Januari 2008, 11:41:12 »
yang saya tau, sebelom nikah perlu sekali kemantaban "Komitmen" bersama....mengakui kelemahan dan kelebihan pasangan. ketika awal pernikahan ada perbedaan yang prinsipil dan tidak bisa ditawar lagi, maka ga usah dipaksa...walaupun saling cinta. karena cinta bisa menjadi benci...karena Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia.

Offline AdnanRasulSayyaf

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 5.167
  • Lokasi: Cihanjuang, Cimahi
  • Jenis kelamin: Pria
  • ~ Argo Wilis ~
    • Lihat Profil
    • Just Try To Be A Bloggrammer
« Jawab #16 pada: 28 Januari 2008, 12:51:10 »
intinya adalah.... pengalaman adalah pelajaran terbaik %peace%

seperti kata pepatah..... teori tanpa praktek adalah pincang..... praktek tanpa teori adalah buta..... gitu yaa klo ga salah bunyinya ^_^ ....... jangan sampe terus ngumpulin teori segudang... ampe berumur tua.... mereka mengira... kedewasaan dirinya didapatkan melalui teori2 dan bertambahnya umur..... padahal...


pernikahan ibarat berwirausaha.... ketika seseorang ingin menjalankan atau membangun bisnisnya.... semua visi misi dan planning2nya sudah dibuat begitu rinci... tetapi ketika dia menjalankan bisnisnya... tidak seperti apa yang diharapkan..... semua planning2nya berubah krn sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi dilapangan..... semua visi misinya menjadi kabur..... disitulah seorang wirausahawan diuji.... apakah dia mampu menghadapi segala permasalahan yg ada atau tidak..... disitu pula seorang wirausahan diuji mental, sikap, dan kreativitas.....

bagi wirausahawan yg sukses... adalah seorang yg mampu menghadapi segala situasi.... mampu mengembangkan segala potensi yang ada dalam dirinya setiap kali di uji dengan segala permasalahan... baginya kegagalan adalah proses pembelajaran diri.... bukan suatu hambatan yang menurunkan semangat dalam dirinya......


^_^ maaf sotoy.....

menurut saya gak sotoy pak skorpie, menikah itu bisa diibaratkan mendirikan ISP ?, walaupun sudah banyak baca teori di forum RT/RW NET......., tetep aja pada waktu prakteknya mah tetep aja pasti ada suatu masalah yang unik yang tidak ada di teori, ya kan ?

namun kalo ada suatu masalah spt itu, apakah harus nyerah ?, ya ndak tentunya terus fight supaya Hotlink bisa jd semakin maju dan membesar (loh koq jd ngomongin Hotlink :p ) %peace%
Visit My Blog

Jika anda dapat mengkomunikasikan apa saja, kapan saja dan di mana saja, lalu mengapa anda harus punya kantor ?, kerja bukan tempat yg anda

Offline Dayna

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.237
  • Lokasi: Kuwait
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #17 pada: 28 Januari 2008, 13:59:15 »
Makanya, mencari tahu bagaimana memecahkan suatu masalah pada yang sudah menikah bisa menjadi ilmu baru. Ingat saja kalau pernikahan itu ibarat melayari samudera luas yang tidak terlihat pelabuhan tujuannya, meskipun sudah ditentukan akan berlabuh di suatu pelabuhan. Selama berlayar itu akan banyak masalah datang silih berganti, entah ombak yang tinggi yang membuat bahtera oleng, atau badai yang dahsyat. Dan lebih baik kita siapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk, sehingga bisa waspada pada setiap kejadian buruk ataupun baik.

Pengalaman satu dan lain tidak sama. Ada yang mengalami badai dan ada pula yang selama berlayar samudera tenang saja. Ambil pengalaman mereka sebagai pelajaran untuk kita.

Offline chair

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 4.625
  • Jenis kelamin: Wanita
  • tetep smangad!
    • Lihat Profil
    • chair
« Jawab #18 pada: 28 Januari 2008, 14:17:57 »
yang saya heran (kadang), dramatisasi kehidupan keluarga, entah itu oleh suami, istri, atau bahkan oleh keluarga besar...
padahal semua itu sebenarnya sesuatu kewajaran...
semua masalah itu adalah sebuah keniscayaan, tidak perlu dibesar2kan... wajar2 ajah...
ubah sudut pandang aja, jadikan sebuah masalah menjadi sebuah keuntungan, menjadi sebuah tantangan, menguatkan...