Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Kamis, 24 Mei 2012/3 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:59 - Shubuh 4:33:25 - Terbit 5:55:33 - Dzuhur 11:49:46 - Ashar 15:11:48 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:40 WIB

Penulis Topik: Awas, Virus Liberal Masuk Pesantren!  (Dibaca 334 kali)


Offline oomnya fahrel

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 12.300
  • Lokasi: Bumi Allah
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kage Mane no Jutsu
    • Lihat Profil
    • Open house
« pada: 23 Januari 2008, 10:20:34 »

    Tiap tahun, ratusan santri di pesantren ”diboyong” ke luar negeri. Dengan dana besar dari Barat, penyebaran liberalisme ke pesantren terus gencar.

     Suatu hari, salah seorang utusan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) mendatangi KH Kholil Ridwan, ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren (BKSPPI) se-Indonesia. Utusan ini menyampaikan ajakan kepada Kholil untuk “bertamasya” ke Negeri Paman Bush tersebut. Semua fasilitas dijamin, termasuk uang saku yang tak sedikit. Sungguh tawaran yang menggiurkan!  ??? ???

     Tentu saja Kholil tak mau memenuhi undangan tersebut. Ia tahu ada niat tersembunyi di balik ajakan itu. Namun, belum sempat penolakan disampaikan, undangan tersebut buru-buru dicabut. ”Mereka tahu saya ini anti Amerika,” ujar Kholil kepada Suara Hidayatullah.

    Kholil tak sendiri menerima ajakan tersebut. Sejumlah kiai juga menerima ajakan serupa. Bedanya, mereka mau memenuhinya, Kholil tidak.

    Maka, setelah itu, silih berganti kiai-kiai mendapat jatah terbang gratis ke negara AS. Selama di sana, mereka dilayani bagai tamu istimewa. Mereka diajak melihat ”realitas” masyarakat AS:hmmm: :hmmm:

    Hasilnya sungguh fantastis. Mereka yang sejak awal bersuara lantang terhadap kekejaman AS di Irak, Afghanistan, dan negeri Islam lainnya, mulai bersuara parau, jika tak ingin dikatakan lembek. Kata mereka, rakyat AS itu tidak sejahat pemerintahnya.  :o :o

     Menurut Kholil, inilah tanda keberhasilan AS mengubah cara pandang negatif masyarakat Muslim terhadap negaranya. Ini pula awal penyusupan paham liberal ke pesantren.

     Meski begitu, tak berarti pesantren yang kiainya terkena bujuk rayu AS langsung dicap sebagai liberal. Mereka hanya perlu diwaspadai. Sebab, upaya AS tentu tak akan berhenti sampai di sini. Mereka akan terus berupaya menyusupkan pemikiran liberalnya ke dalam pesantren tersebut. Sekali kena jaring, boleh jadi selanjutnya kembali terperosok.

     Menurut pemerhati pemikiran-pemikiran Barat, Adian Husaini, program Barat sekarang ini ingin membuat ”Islam yang lain” menurut versi mereka. ”Tentu yang menjadi sasaran utama adalah pesantren dan perguruan tinggi Islam sebagai tempat strategis pembinaan umat,” tandasnya.

     Muncullah pertanyaan di benak kita, mengapa pesantren begitu mudah disusupi mereka? Apa yang salah? Bagaimana pula pemikiran liberal itu bisa menyusup ke ruang-ruang mengaji di pesantren?  :hmmm: :hmmm:

     Setidaknya, kupasan Suara Hidayatullah dalam Laporan Utama kali ini bisa menambah khazanah pengetahuan bagi jutaan orangtua yang ingin memasukan anaknya ke pesantren. Selamat membaca.

***
Santri Dirayu, Kiai Digoda

     Beberapa tahun lalu, Laskar Santri menggelar unjuk rasa menentang sikap Amerika Serikat (AS) yang represif terhadap umat Islam. Para santri Surakarta ini dengan lantang meneriakan yel-yel anti Yahudi dan AS.

     Salah seorang di antara mereka ada yang bernama David Adam Al-Rasyid. Dialah santri paling lantang berteriak di antara demonstran lainnya. Di hadapan massa dia berkata, ”Hancurkan Yahudi! Hancurkan Amerika!”

     Kenangan itu kini tinggal rekaman peristiwa masa lalu. Sejak David diundang mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika selama satu tahun, ada yang berbeda dari dirinya.

”Kalau dulu waktu jadi Laskar Santri saya mengatakan, ’Hancurkan Yahudi! Hancurkan Amerika!’ Tapi sekarang, siapa yang mau dihancurkan? Tidak semua orang Amerika jelek,”  :o :o ujar David saat ditemui Suara Hidayatullah di Pesantren As-Salam, Surakarta, beberapa waktu lalu.

    Saat David hendak berangkat ke AS, ia sempat meminta masukan kepada salah seorang kakak kelasnya di pesantren yang sama. Sang kakak kelas memberi wejangan, ”Ternyata Amerika tidak memusuhi Islam.”

    Lalu, berangkatlah David ke Negara Paman Sam. Selama di sana, David dititipkan pada keluarga Katolik di Corvallis, Oregon. Menurutnya, keluarga yang ia diami amat toleran. Buktinya, ia bisa melaksanakan shalat dan membaca al-Qur’an secara rutin.

     “Mereka juga bertanya-tanya tentang Islam, mengapa harus shalat? Mengapa harus puasa? Bahkan kadang-kadang mereka menegur saya jika terlambat shalat. Rupanya tidak semua orang Amerika jahat ” kenang David.

     Santri asal Yogyakarta ini juga menceritakan kehidupan bebas remaja di sana. Pernah suatu hari, David dikejutkan oleh tangan yang sekonyong-konyong melingkar di pinggangnya. Saat menoleh ke belakang, ternyata tangan itu milik seorang perempuan. Menurut David, di Amerika, hal seperti itu biasa-biasa saja.  :p :p

    David cuma satu dari sekian banyak pelajar Indonesia yang mengikuti program Youth Exchange Study (YES). Program ini diselenggarakan oleh AFS (American Field Service) bekerjasama dengan Yayasan Bina Antara Budaya.

    Program ini dirancang setelah peristiwa 11 September 2001, dirancang khusus untuk negara yang mayoritas berpenduduk Muslim. Setiap bulan para peserta dibekali uang saku sebesar 125 dollar AS, atau sekitar Rp 1,2 juta.

    Tahun 2007, dari 97 orang pelajar Indonesia yang diberangkatkan, 30 di antaranya dari pesantren seperti Darunnajah, Darul Falah, Insan Cendekia, dan IMMIM Makassar, Sulawesi Selatan.

    Suara Hidayatullah sempat menyambangi kantor Yayasan Bina Antara Budaya yang terletak di Jakarta Selatan. Menurut Ketty Darmadjaya, humas yayasan, program ini didesain untuk meningkatkan wawasan santri serta mengubah pandangan masyarakat terhadap pesantren yang selama ini dianggap terbelakang.

    Ketty tak menapik kemungkinan tertularnya para santri tersebut dengan paham liberal. “Makanya, sebelum berangkat, kita memberikan orientasi kepada mereka tentang AS. Sepulangnya dari AS, mereka juga kita orientasi kembali. Kita katakan kepada mereka bahwa pengalaman satu tahun di AS bukanlah segalanya. Kita tidak ingin mengubah pandangan mereka terhadap Islam menjadi liberal,” jelasnya.

Bahaya Mengancam :woroworo: :woroworo:

     Ternyata, tak hanya santri yang mendapat jatah ’terbang’ ke Amerika. Kiai pimpinan pondok pesantren juga menjadi sasaran untuk diperkenalkan dengan ’wajah manis’ Amerika.

     Melalui Institute for Training and Development (ITD), sebuah lembaga milik Amerika, mulai pertengahan September 2002, para kiai bergantian bertandang ke negeri itu. Di awal program, lembaga itu mengundang 13 utusan pesantren ’pilihan’ yang berasal dari Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

    Menurut KH Kholil Ridwan, Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI), program ini terbukti efektif mengubah pandangan para kiai terhadap Amerika. Banyak kiai yang setelah pulang ke tanah air mengatakan, “ Rakyat Amerika tidak sejahat pemerintahnya. Mereka sangat baik.”

     Kholil, yang juga Ketua MUI, menolak keras pernyataan para kiai itu. “Di mana sikap baiknya rakyat Amerika? Amerika menyerang Irak atas persetujuan kongres, lalu kongres itu kan wakil rakyat. Jadi, artinya, rakyat Amerika sama jahatnya dengan pemerintahnya,” ungkap pengasuh Ponpes al-Husnayain ini.

    Apabila sikap kiai-kiai itu melunak kepada Amerika, kata Kholil lagi, maka liberalisasi akan sangat mudah masuk ke pesantren. Kalau pesantren sudah terjangkit virus liberalisasi, maka akan berdampak pula terhadap pola pikir santrinya.

    Nah, santri-santrinya ini pada akhirnya akan menjadi guru madrasah. Kalau gurunya liberal, bisa dipastikan murid-muridnya juga liberal. Generasi muda kita menjadi liberal semua. Perjuangan umat Islam pun melemah. “Ini sangat berbahaya!”   :woroworo: :woroworo: Kholil memperingatkan.

    Hal yang sama juga diungkap Adian Husaini, salah seorang ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). ”Salah satu kelemahan pesantren adalah tidak bisa memberikan framework (bingkai) yang jelas kepada para santrinya,” jelas Adian.

    Santri hanya ditekankan pada satu aspek saja, misalnya, fiqih atau lughah (bahasa). Tapi, framework menghadapi tantangan berfikir kadang kurang.

    Salah satu pesantren yang telah membekali santrinya untuk menghadapi tantangan berfikir, kata Adian, adalah Gontor. ”Di Gontor, santri yang akan lulus diberi bekal agar bisa menyiapkan diri menghadapi pemikiran Barat. Kalau tidak, ya, dia akan menganggap itu sebagai hal yang benar,” jelasnya. .

    Proyek besar penyebaran liberal ke pesantren disinyalir didanai oleh LSM asing yang cabangnya berada di Indonesia, yaitu The Asia Foundation (TAF). Lembaga donor yang disponsori Barat ini telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1955. Beberapa ormas dan lembaga Islam menjadi mitra utama mereka.

    Dalam situs resminya www.asiafoundation.org lembaga yang menjadi perpanjangan tangan para saudagar Yahudi ini banyak membantu LSM Indonesia yang giat menyosialisasikan sekularisme, pluralisme dan liberalisme (baca; SePiLis). Sebut saja, misalnya, Jaringan Islam Liberal (JIL), P3M, International Center for Islam and Pluralism (ICIP), Wahid Insitute, Maarif Institue, MADIA, dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).   :koran: :koran:

     Laporan tahunan TAF 2006 menyebutkan, sejak tahun 2000 mereka telah membuat kurikulum kewarganegaraan yang mendukung nilai-nilai demokrasi, mendorong siswa berpikir kritis terhadap isu-isu demokrasi, HAM, dan pluralisme agama. Untuk mewujudkan ini mereka menggandeng CCE Indonesia (pusat pendidikan kewarganegaraan).

     Kurikulum itu kini telah menjadi materi wajib di seluruh UIN dan IAIN di seantero Indonesia. Bahkan, mereka tengah berupaya mengembangkan kurikulum serupa untuk diterapkan di universitas Islam swasta.

    Para mitra TAF telah memberikan pelatihan kurikulum baru ini kepada 90 dosen kewarganegaraan dari 66 universitas Islam swasta pada tahun 2006. Para dosen tadi sudah mulai mengajarkan kurikulum tersebut kepada sekitar 20.000 mahasiswa mereka.

Pasca 11/9

     Proyek liberalisasi pendidikan Islam semakin deras arusnya setelah peristiwa 11 September. Workshop-workshop bertema liberal banyak digelar atas dukungan TAF dan ICIP.

     Berapa dollar AS yang digelontorkan kedua organisasi ini untuk proyek liberalisasi Indonesia? Robin Bush, Deputy Country Representative TAF untuk Indonesia, saat ditanya Suara Hidayatullah tentang itu tidak bersedia menjawabnya. Begitu juga Elfiqa D Siregar, salah satu staf ICIP, saat ditemui di kantornya di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta, juga tidak menyebutkan jumlah pasti. Ia cuma menyebut salah satu nama lembaga pemasok dana, Ford Foundation.

    Namun, Robin menolak anggapan bahwa lembaganya disebut membawa misi liberalisasi. “Kami di TAF sama sekali tidak punya program liberalisasi,” ujarnya saat ditemui di kantor TAF, jl Adityawarman no 40, Jakarta Selatan.

     “Kami bekerja sama dengan pesantren karena tahu lembaga pendidikan ini erat kaitannya dengan masyarakat kelas bawah. Ini sesuai dengan apa yang menjadi benang merah dari semua misi TAF, yaitu good governence, serta meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia,” terangnya lagi.

     Menurut Bush, TAF tidak pernah menawarkan sesuatu kepada pesantren atau lembaga-lembaga Islam. ”Semua program yang dijalankan TAF adalah inisiatif mitra kami. Mereka datang ke kami dengan ide, bukan kami datang ke mereka dengan ide,” kata bule yang sudah lancar berbahasa Indonesia ini.

     Hal senada juga disampaikan Elfiqa. ”Saya pribadi melihat tuduhan itu nggak benar. Saya turun langsung ke lapangan, saya lihat tidak ada. Tidak ada doktrin-doktrin itu,” jelasnya.

     Apa pun perkataan mereka, faktanya, TAF dan ICIP telah banyak menggelontorkan program liberalisasi. Bahkan, kalau melihat visi dan misinya, jelas tujuan ICIP adalah mempromosikan pluralisme. Apalagi jika melihat daftar orang-orang yang duduk di jajaran dewan direktur. Di sana ada  :apalan: :apalan:Moeslim Abdurrahman, Musdah Mulia, dan Ulil Abshar Abdalla. Siapa mereka? Pembaca pasti sudah tahu.  ^-^ ^-^

     Diajak Dansa, Jilbab Dibuka

     Saat mengikuti program pertukaran pelajar di Amerika Serikat, David Adam Al Rasyid merasakan betapa bebas pergaulan di sana. Saking bebasnya, ada peserta dari negara lain yang tak tahan.

     ”Peserta dari Saudi dan Jerman pulang sebelum program selesai,” ujar santri Pondok Pesantren As-Salam, Surakarta, itu.

     Bagaimana dengan pelajar dari Indonesia? ”Banyak juga teman-teman yang ikutan dugem,”  :o :o jawab David. Dugem adalah singkatan dari dunia gemerlap, yaitu kehidupan malam di diskotik dan cafe. David sendiri mengaku tak pernah ikut-ikutan.

      Ironisnya, ada salah satu peserta Muslimah yang rela melepas jilbab  :toktok: :toktok: saat diajak berdansa. “Supaya tidak malu, ia lepas jilbabnya. Tapi, dia dari SMU luar (bukan pesantren),” kenangnya.
Nau'zubillah minzalik!  :awas: :awas:

[diambil dari Majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2008/www.hidayatullah.com]

 http://swaramuslim.net/more.php?id=5837_0_15_0_M

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #1 pada: 23 Januari 2008, 23:47:19 »
hati2 infiltrasi pesantren?

Oleh: Adian Husaini
Pada tanggal 27 Maret 2006, Harian Republika memuat sebuah surat pembaca yang dikirim oleh KH A. Khalil Ridwan, seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia. Surat ini sangat penting untuk diperhatikan, karena memberikan klarifikasi dan peringatan tentang upaya infiltrasi paham sekularisme-liberalisme ke pondok-pondok pesantren. Surat itu juga menyebutkan adanya sikap tegas dari pimpinan Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) yang memutus segala bentuk kerjasama dengan lembaga pengasong ide liberal ICIP (International Center for Islam and Pluralism) yang dipimpin Dr. M. Syafii Anwar. Tampaknya, selama ini, kerjasama itu hanya dilakukan oleh ‘oknum’ BKSPPI saja.

Sebagai salah satu anggota Majlis Pimpinan BKSPPI, Kyai Khalil mengaku tidak tahu menahu tentang kerjasama tersebut, dan menyebut kerjasama itu sebagai “sebuah kecelakaan dan bencana yang sedang menimpa organisasi BKSPPI.” Ia juga menyatakan, kerjasama tersebut, “sangat berbahaya bagi ketahanan aqidah umat.”

Alhamdulillah, kata Kyai Khalil, KH.Didin Hafiduddin sebagai ketua Presidium MP BKSPPI telah mengadakan rapat yang dihadiri oleh pengurus BKSPPI, pada Hari Rabu 22 Shafar 1427. Hasilnya: Memutuskan semua kerjasama antara BKSPPI dengan ICIP dan membatalkan kerjasama menerbitkan majalah AL-WASATHIYAH. Selanjutnya BKSPPI, tidak bertanggung jawab apabila majalah tersebut masih terbit.

Kyai Khalil Ridwan mengimbau agar umat umat Islam dengan serius merapatkan barisan dan jangan mudah terbius oleh zukhrufalqoul (ucapan yang menipu) dari kalangan munafiqin yang mengasong-asongkan dagangan berupa syirik modern dalam bentuk faham atau aliran yang sudah diharamkan oleh MUI pada MUNAS 2005. Juga, khususnya kepada kalangan pondok Pesantren dan organisasi pondok pesantren, Kyai Betawi itu juga mengingatkan, agar mereka mewaspadai kemungkinan adanya infiltran yang sengaja disusupkan di lingkungan masing-masing.

Demikian surat KH Khalil Ridwan di Harian Republika.

Peringatan KH Khalil, yang juga pimpinan pesantren Husnayain, sebenarnya menyiratkan satu beban kepedihan yang sangat mendalam. Betapa tidak, di tengah-tengah tekanan dan beban ekonomi yang sedang dililit oleh kalangan pondok pesantren, datanglah agen-agen LSM asing yang menawarkan program-program dan dana yang menggiurkan.

Tidak mudah untuk menolak hal semacam itu. Saat ini, “dagangan” yang laku dijual kepada Barat adalah menjual isu atau ide yang “mengobok-obok Islam”, seperti paham Pluralisme Agama, dekonstruksi konsep wahyu, kesetaraan gender, dekonstruksi syariah, dan sejenisnya. Isu-isu semisal “pemberantasan kemiskinan” dan “advokasi hukum” tidak begitu laku lagi dijual, sehingga LSM-LSM sejenis YLBHI pun tidak semakmur dulu, sebelum Perang Dingin berakhir. Simaklah sederetan nama LSM yang mendapat kucuran dana dari The Asia Foundation berikut ini:

- Yayasan Desantara (Pluralisme agama, penerbit Majalah Syir’ah)
- Lembaga Studi Agama dan Demokrasii (Elsad) – (Pluralisme Agama dan Demokrasi)
- Fahmina Institute - (Pluralisme Gender equality)
- Indonesia Center for Civic Education - Demokrasi
- International Center for Islam and Pluralism (ICIP) - (Pluralisme agama)
- Indonesia Conference on Religion and Peace – (ICRP) (Pluralisme agama)
- Institut Arus Informasi (ISAI) – (Pluralisme dan Jurnalisme)
- Jaringan Islam Liberal (JIL) – (Liberalisasi Pemikiran)
- Paramadina – (Pluralisme agama)
- Pusat Studi Wanita – UIN - (Gender equality)
- Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) - (Gender equality)
- Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) – (Penerbitan buku-buku pluralisme)
- Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdhatul Ulama (Pluralisme Agama, dekontsruksi syariah)
- Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah (Pluralisme Agama)

Daftar lembaga itu bisa diperpanjang lagi sampai tiga halaman.
Isu-isu yang ditebarkan oleh lembaga-lembaga tersebut juga tidak jauh-jauh seputar liberalisasi Islam. Seolah-olah, itulah isu utama yang sedang dihadapi umat Islam. Seolah-olah, umat Islam akan bangkit dan maju jika mengikuti agenda-agenda Barat tersebut.

Padahal, masalahnya sebenarnya tidak demikian. Memang tidak dapat dipungkiri terdapat banyak kelemahan internal di kalangan pondok pesantren sendiri. Tetapi, jika cara untuk memperbaikinya adalah dengan menyebarkan paham multikulturalisme dan pluralisme agama, adalah salah sama sekali.

Jika yang dipersoalkan adalah soal toleransi, maka kita dapat bertenya dengan sungguh-sungguh, sebenarnya, siapa yang selama ini tidak toleran? Apa yang salah dengan pandangan keagamaan pesantren terhadap kaum non-Muslim? Selama ratusan tahun, pondok pesantren dan umat Islam di Indonesia sudah bersikap sangat toleran dan menghargai umat dan agama lain, tanpa meninggalkan keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar.

Workshop-workshop, pelatihan, dan sejenisnya tentang pluralisme dan multikulturalisme ala ICIP itu harusnya justru diberikan kepada pihak Barat, seperti George W. Bush dan kawan-kawannya, yang hingga kini jelas-jelas bersikap sangat tidak toleran terhadap Islam dan umat manusia, dengan memaksakan paham sekular-liberalnya untuk dipeluk umat manusia.

Mereka jelas-jelas tidak menghargai perbedaan, tidak bersikap ‘multikultural’, sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan. Dengan pemaksaan ide “sekularisasi-liberalisasi” ala Barat kepada kaum Muslimin, Barat dan agen-agen liberalnya di Indonesia sebenarnya telah bersikap monolitik dan sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk meyakini dan menjalankan ajaran-ajaran agamanya sendiri.

Mereka memaksakan – dengan segala kekuatan dana, politik, informasi – paham mereka kepada umat Islam. Mereka juga tidak menghargai aspirasi keagamaan umat Islam. Hingga kini, AS dan Inggris tidak berani mengangkat seorang menteri Muslim-pun. Juga, mereka tidak mau memberi hari libur Idul Fithri dan Idul Adha kepada umat Islam. Padahal, Inggris mempunyai hari libur ‘Boxing Day’ dan libur Paskah dua hari.

Kita bisa membuktikan dalam sejarah, siapa yang sebenarnya lebih bersikap menghargai perbedaan dan keragaman: Islam atau Barat? Sayangnya, ada saja sebagian dari kalangan kaum Muslim yang lebih suka menjadi corong paham-paham destruktif – semisal Pluralisme Agama.

Adalah musibah besar bagi umat Islam, jika yang menyebarkan paham syirik itu adalah dari kalangan ulama dan cendekiawan.

Sayyidina Umar bin Khathab pernah menyatakan dalam satu khutbahnya; “Yang paling aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah perubahan zaman, tergelincirnya orang yang berilmu dari kebenaran, berargumentasinya orang-orang munafik dengan al-Quran, pemimpin yang sesat dan menyesatkan manusia dalam kondisi ketidaktahuan.” (Ibnul Jauzi, Sirah Umar, hal. 223)

Karena itu, para tokoh Islam, ulama, kyai, ustad, mubaligh, dan sebagainya, seyogyanya menyadari pentingnya memahami tantangan pemikiran dan aqidah Islam di zaman globalisasi ini. Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghazali menyatakan, wajib hukumnya bagi para ulama untuk memahami pemikiran-pemikiran yang bathil,agar dapat menjelaskan dan menjaga aqidah umat. Sebab, para ulama itulah yang diamanahi untuk menjaga Islam. Dan pondok pesantren merupakan benteng-benteng terakhir pertahanan umat Islam di bidang aqidah.

Di masa lalu, para ulama Islam sangat memahami pemikiran-pemikiran yang berkembang di zaman itu. Imam al-Ghazali memahami masalah filsafat dengan baik dan memberikan kritik yang sangat tajam melalui bukunya Tahafut al-Falasifah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan kritik yang sangat tajam terhadap kepercayaan agama Kristen melalui empat jilid bukunya, al-Jawab al-Shahih li-Man Baddala Din al-Masih. Dalam bidang Ilmu Kalam, begitu banyak ditemukan jawaban-jawaban yang sangat argumentatif terhadap pemikiran Mu’tazilah.

Para ulama, kyai, cendekiawan Muslim, khususnya yang saat ini memegang amanah memimpin pondok pesantren, seyogyanya meneladani jejak para ulama terdahulu. Disamping memiliki kualitas ketaqwaan yang tinggi, seyogyanya, pada kyai itu juga memahami benar hakekat dan jatidiri paham-paham yang destruktif terhadap para santrinya.

Di era globalisasi, hampir tidak mungkin membendung paham-paham itu tidak memasuki arena pondok pesantren, melalui media komunikasi yang ada, baik cetak maupun elektronik. Satu-satunya jalan untuk menangkalnya adalah memahami paham-paham destruktif itu dengan mendalam, sehingga para kyai atau ustad di pesantren dapat menjelaskan kepada para santri dan muridnya, apa dan bagaimana sebenarnya paham-paham yang bertentangan dengan aqidah Islam tersebut.

Peringatan KH Khalil Ridwan sangatlah penting
untuk direnungkan secara mendalam. Sebab, jika orang yang berstatus kyai atau ulama justru termakan paham-paham yang bertentangan dengan aqidah Islam, maka akibatnya sangatlah fatal. Orang yang diamanahi menjaga agama dan mewarisi risalah kenabian, justru menjadi penghancur risalah itu sendiri.

Rasulullah saw sudah pernah mengingatkan; “Yang merusak umatku adalah orang alim yang durhaka dan ahli ibadah yang bodoh. Seburuk-buruk manusia yang buruk adalah ulama yang buruk dan sebaik-baik manusia yang baik adalah ulama yang baik.” (HR Ad-Darimy).

Juga ada sabda beliau saw:
“Termasuk diantara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang Al-Quran.” (HR Thabrani dan Ibn Hibban).

Menyambut imbauan dan peringatan KH Khalil Ridwan, kita berdoa dan berharap, mudah-mudahan para kyai dan pimpinan pondok pesantren, khususnya sekitar 2000 pesantren yang ada di lingkungan BKSPPI, tidak sampai kebobolan dan terinfiltrasi paham-paham syirik modern yang kini dijajakan dengan kemasan yang sangat menarik. Allahumma Amin. (Jakarta, 30 Maret 2006/hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan
www.hidayatullah.com
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #2 pada: 23 Januari 2008, 23:53:29 »
PESANTREN : Hati-hati Infiltrasi

Assalaamualaikum Wr Wb

Alhamdulillah setelah saya menerima pertanyaan SMS dan telepon tentang "workshop" yang diadakan oleh BKsPPI di sebuah pesantren di Parung yang nara sumbernya kebanyakan dari group liberalis pluralis terutama dari ICIP dan menerima pertanyaan tentang majalah Al-Wasathiyyah yang diterbitkan oleh ICIP (International Center For Islam and Pluralism) bekerja sama dengan BKsPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia), dan setelah membaca makalah oleh Adian Husaini (Ketua Dewan Da'wah Indonesia) berjudul; "Paham Syirik Modern Serbu Pesantren di Jawa Barat, saya yang tidak tahu sama sekali tentang kegiatan tersebut langsung saya menduga bahwa ini sebuah kecelakaan. Ini bencana yang sedang menimpa organisasi BKsPPI dan sangat berbahaya bagi ketahanan aqidah umat.

Anehnya saya, ketua Presidium Majlis Pimpinan BKsPPI sampai sekarang tidak pernah diberikan nomor perdana majalah tersebut. Da ketika ditanyakan ke kantor BKsPPI, majalah yang sudah beredar itu selembarpun tidak ada disana.

Alhamdulillah KH Didin Hafiduddin sebagai ketua Presidium MP BKsPPI telah mengadakan rapat yang dihadiri oleh pengurus BKsPPI termasuk Ketua Bapel KH Moh Amin Nur dan KH Wahyuddin dari Solo dan KH Dadun Abdul Qohar dari Cibadak Sukabumi sebagai majelis pimpinan, pada hari Rabu 22 Shafar 1427 yang lalu di Jl Kasintu No 4 Bogor. Rapat menghasilkan keputusan penting yang maksudnya sebagai berikut; Menutuskan semua kerja sama antar BKSPPI dengan ICIP yang executive directornya M Syafi'i Anwar dan membatalkan kerja sama menerbitkan Majalah Al-Wasathiyah. Dan juga menghentikan kegiatan lomba pidato Bahasa Inggris antarpesantren yang dibiayai Asia Foundation. Untuk selanjutnya BKsPPI tidak bertanggung jawab apabila majalah tersebut masih terbit.

Kepada Umat Islam saya meminta dengan serius agar merapatkan barisan dan jangan mudah terbius oleh dzukhrufalqoul dari kalangan munafiqin yang mengasong-asongkan dagangan berupa syirik modern dalam bentuk faham atau aliran yang sudah diharamkan oleh MUI pada Munas 2005. Dan khususnya kalangan pondok Pesantren dan organisasi pondok pesantren agar mewaspadai jangan-jangan ada infiltran yang sengaja disusupkan di lingkungan masing-masing.

Adapun alasan yang berpijak pada pendapat Bapak Amidan Ketua MUI, saya sudah konfirmasi. Dan beliau menegaskan bahwa beliau tidak pernah mengatakan 'pluralisme Syafi'i Anwar bukan pluralisme yang diharamkan oleh MUI'. Kalau tidak, Pondok Pesantren akan terus dijadikan objek garapan untuk dimasukan dalam proyek proposal oleh LSM-LSM kaki tangan Barat yang anti-Islam atau yang sejenis agar dana dari bossnya di Amerika, Eropa atau Australia bisa turun dan cair.

Allahumma ihdinashshirotol mustaqim wainnaa nasaluka salaamatan fiddin. Terima kasih tidak terhingga untuk redaksi yang telah memuat surat saya ini.

Wassalaam,
KH A Cholil Ridwan
Ketua MUI Pusat

http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=241354&kat_id=20
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline lovelymoslems

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.748
  • Lokasi: DKI Jaya
  • Jenis kelamin: Pria
  • change your avatar !!!
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 24 Januari 2008, 00:06:31 »
Pesantren memang mengenaskan,

1. Kebanyakan memproduksi ustadz yang kerjanya cuma jual ayat, bukan usahawan, bukan ilmuwan, bukan profesional.
2. Menjadi ajang perebutan pengaruh partai, kekuasaan, birokrat, militer, negara asing.

Dasarnya adalah :

1. Pesantren memiliki pengikut yang fanatik, kalau kyainya bilang A (walaupun diluar masalah keagamaan) maka santrinya akan bilang A. Namanya juga kyai plesetan dari iki wae. Maka politisi, birokrat, polisi dan militer sangat faham untuk mewarnai kyainya degan macam-macam stimulus agar memberikan dukungan politik kepada mereka.
2. Alfin Tofler menyatakan musuh peradaban diabat ke 21 adalah Islam, sehingga negara asing (AS/sekutunya) memberikan perhatian yang penuh agar pesantren tidak menjadi ektrem. Kalau ada pesantren yang ekstrem maka akan dikirim habib agen CIA untuk mengajari jihad dengan bom dll agar lebih gampang membinasakan pesantren yang ekstrem. Kalau kyainya pinter maka dicuci otaknya degan dikirim ke Amerika untuk mengambil gelar terhormat (doktor), maka walaupun dia berasal dari kalangan NU nggak heran banyak yang berfikiran "liberal" dan mendukung serta pelopor JIL.
Hidup sesuai tuntunan Rasul adalah berjuang tegakkan syariat dan hapuskan kemusyrikan

Offline Geek

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 2.232
  • Jenis kelamin: Pria
  • Santay aja bro..
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 24 Januari 2008, 00:23:49 »
Menjadi "tidak radikal/extrimis" bukan berarti leberalis.

Hati - hati Infiltrasi Radikalisme kedalam Pesantren...


%peace% ah..



   ALWAYS WITH ME, ALWAYS WITH YOU

Offline Geek

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 2.232
  • Jenis kelamin: Pria
  • Santay aja bro..
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 24 Januari 2008, 00:55:35 »


Menyedihkan sekali paham extrimis berkembang pesat di indonesia..
Media masa radikal selalu 'menjual' amerika sebagai pembangkit semangat.. :wataw:

Saya dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia sedang dalam bahaya akan paham radikalisme extrimis..

Untung saja, semenjak kepemimpinan Raja Abdullah sekarang ini, kerajaan Arab Saudi menghalau berkembang paham radikal dinegaranya..

dan sekali lagi saya katakan, menolak radikal bukan berarti menjadi liberal.. !

%peace% ah

   ALWAYS WITH ME, ALWAYS WITH YOU

Offline tuingtuing

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 9.715
  • Grrr... gue jitak!!!!
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 24 Januari 2008, 07:25:15 »
@TS

Memang betul...TIDAK SEMUA orang Amerika jahat..ini kalau dipandanga secara individual...masih banyak koq yang "hanif"...masih banyak yang anti agresi...anti free sex..dan seterusnya...namun jumlahnya memang sangat minor.

Yang jahat adalah PEMERINTAH ASU alias USA.....yang mengelabui rakyat mereka..menipu mentah-mentah rakyat tentang keberadaan senjata pemusnah massal di Irak sehingga mendapat legitimasi rakyat (yang sudah kadong ketepu)....

Saya tidak menyembah tuhan yang bisa ketusuk, kelaperan, dan kagak bisa nyuruh pohon berbuah 

Inna-Llaha 'ala kulli syaiin qadiir... :)

Offline tuingtuing

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 9.715
  • Grrr... gue jitak!!!!
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 24 Januari 2008, 07:27:58 »

Saya dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia sedang dalam bahaya akan paham radikalisme extrimis..
dan sekali lagi saya katakan, menolak radikal bukan berarti menjadi liberal.. !


Radikalisme ==> paham kembali ke akar agama? ???

Fundamentalisme ==> paham kembali ke fundamen/dasar agama ???

Lalu apa yang salah..jika semua muslim kembali beragama dengan melihat akar dan fondasi agama?

apakah Anda mau beragama sekedar beragama dengan akal..tanpa merujuk pada akar dan fondasi agama (kitab suci) ???
Saya tidak menyembah tuhan yang bisa ketusuk, kelaperan, dan kagak bisa nyuruh pohon berbuah 

Inna-Llaha 'ala kulli syaiin qadiir... :)

Offline abu zemiel

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 81
  • Jenis kelamin: Pria
  • WONG TUBAN
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 24 Januari 2008, 08:23:46 »


Saya dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia sedang dalam bahaya akan paham radikalisme extrimis..




Apa antum menjadikan Islam hanya identitas KTP doang ya.... :jaim:
الخيـــر أبقـــى و ان طـــال الــزمـــان بــه    و الشــــر أخبـــــث مــا أوعيــــت مـــــن زاد
Al khoiru abqoo wa in thoolal zamanu bihi   was sarru akhbasstu maa au'aita min zaadi

Kebaikan lebih abadi walau zaman telah berlalu darinya
dan kejahatan adalah bekal terburuk yang engkau usahakan