Baca pengakuan ex. muslimah yg jadi intel Katholic[justify]Pasukan jin dan Salibis bekerja sama memurtadkan umat Islam. Setiap keluarga Muslim dituntut waspada dengan menanamkan akidah Islam secara benar dan mendalam kepada putra-putrinya.
Kisah tragis ini dimulai saat Nena berteman dengan salah seorang aktivis Kerohanian Kristen (Rokris) yang kebetulan satu sekolah dengannya di salah satu SMU Negeri di Kawasan Ciledug, Jakarta. Kedekatan mereka pun terus berlanjut. Hingga suatu waktu, Muslimah yang taat menjalankan ibadah ini diajak aktivis Rokris itu ke rumah kakak pembinanya, seorang Ketua PA (Pendalaman al-Kitab). Lantaran tidak menaruh rasa curiga, Nena yang juga keponakan salah seorang artis ternama ibukota itu tidak berontak saat dua orang temannya yang juga aktivis Rokris memegang lengannya.
Sementara Ketua PA menyentuh keningnya. Tiba-tiba, menurut pengakuan Nena, suhu tubuhnya mendadak panas. Ia merasakan ada getaran masuk ke dalam punggungnya. Seketika itu pula, Muslimah yang selalu patuh kepada orang tuanya ini, tak sadarkan diri.
Sejak kejadian itu, Nena kelihatan berperilaku aneh. Ia sering melamun dan tak mau berkomunikasi, mesti dengan keluarganya sekalipun. Padahal, dulunya, ia dikenal sebagai anak periang. Anehnya lagi, gadis yang akrab dengan teman-temannya ini, jadi suka memuja-muja Yesus dan �ketagihan� pergi ke gereja.
Peristiwa ini terus berlangsung selama satu tahun, hingga Nena dibaptis seorang pendeta. Untuk menutupi apa yang terjadi pada dirinya tersebut, gadis belia ini diperintahkan teman-teman Kristennya untuk tetap melakukan shalat. Namun, shalat yang dilakukannya dengan mengagungkan nama Yesus, walau gerakannya sama dengan shalat pada umumnya.
Tak cukup sampai di situ, para misionaris meminta Nena membenci kedua orang tuanya karena dianggap berada pada jalan lain alias kafir. Bahkan, oleh Ketua PA, Nena ditugaskan merekrut teman-temannya yang lain untuk masuk Kristen.
Nena terbilang �kader� sukses. Ia berhasil memurtadkan beberapa orang rekannya dengan cara sama seperti saat Ketua PA melakukan pemurtadan terhadap dirinya. Malah, sewaktu dalam �binaan� Ketua PA, Nena mampu menghafal ayat-ayat al-Kitab, sehingga dimasukkan sebagai salah satu penginjil dalam misi pemurtadan.
Meski segala upaya dijalankan pasukan Palangis untuk memurtadkan Nena, namun kalau Allah SWT berkehendak lain, maka segala �konspirasi� itu tak ada manfaatnya sama sekali. Akhirnya, berkat bantuan sejumlah pihak, Nena diselamatkan kembali ke pangkuan Islam. Kini, ia menjalankan perintah Allah SWT dan Rasulullah saw seperti sedia kala.
Inilah model teranyar pemurtadan memanfaatkan bantuan mahluk halus. Pemurtadan memakai medium jin ini, kini lagi ngetrend. Tidak sedikit sekte-sekte Kristen memanfaatkannya untuk mendangkalkan akidah umat. �Tidak perlu heran jika kelompok Salibis memakai bantuan jin untuk memurtadkan umat Islam,� kata pakar Jinologi asal Bandung Ustadz Eman Sulaeman.
Menurut Ustadz Eman, disuruh atau tidak yang namanya jin, apalagi iblis akan senang menggelincirkan umat Islam dari jalan Allah SWT. Jin dan sejenisnya, kata Ustadz Eman, akan melakukan dua serangan. Pertama, serangan langsung ke kalbu umat. Kedua, serangan tidak langsung seperti ke tempat-tempat keramat, kuburan dan lainnya.
Pendapat senada dikemukakan Direktur Lembaga Pendidikan dan Pengkajian al-Qur�an Bandung, KH. Aminuddin Shaleh. Menurutnya, pemurtadan meminta bantuan mahluk halus merupakan bagian strategi kelompok Kristen guna menghancurkan akidah umat. �Kaum Salibis memang selalu membuat jengkel umat Islam,� katanya kesal.
Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Meski umat Islam dongkol, pemurtadan tetap saja berjalan. Apalagi, sejumlah sekte Kristen menganggap kerjasama dengan roh jahat cukup efektif dan efisien. Selain prosedurnya tidak terlampau berbelit, biaya yang dikeluarkan pun relatif tidak terlalu mahal. Namun, hasilnya cukup baik.
Kerjasama dengan jin dapat menghemat tenaga dan uang. Mereka tidak perlu susah-payah membagi-bagi makanan atau segepok uang gratis kepada para korban, tapi hanya menaruh tangan ke kening korban, �tentu saja dengan bantuan jin�umat Islam jadi hilang ingatan, linglung, patuh dan akhirnya rela mengikuti apa saja yang diperintahkan mereka. Akidah umat Islam jadi goyang, ragu keislamannya dan akhirnya murtad.
Selain secara terang-terangan, metode pemurtadan dengan black magic ini juga dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Salah satunya melalui pemurtadan berkedok pengobatan alternatif yang tidak rasional.
Kelompok Gereja Tiberias adalah sekte Kristen yang paling terdepan memakai cara-cara seperti ini. Dari berbagai brosur dan selebaran yang disebarkan ke masyarakat, mereka mengklaim mampu menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk penyakit yang telah divonis mati dokter dan tim medis seperti otak hancur, syaraf putus dan jantung bocor.
Hanya dengan menempelkan tangannya ke kepala korban ditambah �air suci� dan doa-doa tertentu, seorang pendeta mampu menyembuhkan semua penyakit. Setelah sembuh dari penyakitnya, orang itu datang ke pendeta dan minta dibaptis menjadi Kristen.
Pemurtadan ala Tiberias ini dilakukan ke hampir semua mal-mal dan pusat perbelanjaan yang ada di sekitar Jabotabek. Sasaran utama kristenisasi dengan cara ini adalah para ABG yang merupakan pengunjung mal terbanyak. Para remaja tanggung itu didatangi dan diimingi pengobatan secara gratis. Namun, di belakang �sikap manis� itu ada bahaya mengancam akidah mereka.
�Dakwah� kelompok Kristen yang berkantor di Jl. Kelapa Gading Boulevar Utara Blok PD 1/22 ini juga sangat rapi dan terpola. Melalui jadwal rutin dan materi secara terencana, pendangkalan akidah dijalankan di sejumlah gedung perkantoran besar seperti Menteng Prada Lt 4, Wisma Dharmala Sakti Lt 14, Graha Kencana Lt 5, Hotel Ciputra Lt 1.
Mereka pun sering mengisi materi di Graha Atrium, Grand Mall Bekasi, Gedung Cawang Kencana, Plaza Metro Sunter. Bahkan, setiap hari Sabtu jam 10.00 WIB, mereka rutin nongol di TVRI secara nasional pada gelombang 39 UHF. Dalam acara yang bertajuk �Firman Allah dan Kesaksian Mukjizat� itu tampil sebagai pembicara antara lain Pimpinan Gereja Tiberias Pendeta Yesaya Pariadji dan Pendeta Gilbert Lumoindang STh.
�Kiprah Tiberias telah merambah secara nasional,� kata Kristolog Abu Deedat Shihabudin. Menurut Ustadz Abu Deedat, berdasarkan data dan pengakuan para korban pemurtadan, kasus-kasus pendangkalan akidah belakangan ini digarap dari kelompok Tiberias ini. �Kalau dulu, kebanyakan berasal dari kelompok Nehemia,� tambahnya.
Di Jabotabek, masih kata Ustadz Abu, kelompok ini berpusat di Lippo Cikarang. Oleh karena itu, katanya, aktivitas kelompok Tiberias tidak bisa dipisahkan dengan sejumlah konglomerat seperti James Riyadi, selaku pemilik Grup Lippo dan Ciputra. �Konon, merekalah penyandang dananya,� tutur Ustadz Abu.
Benarkah Tiberias melakukan pemurtadan dengan bantuan jin? Humas Tiberias Center, Elvis membantah tudingan miring tersebut. �Tidak, tidak benar. Kami melakukan yang sewajarnya mesti dilakukan. Kita tak melakukan di luar itu,� tegasnya.
Lepas dari itu, kalau para konglomerat terus menyuplai dana, maka masuk akal jika pemurtadan kepada umat Islam terus berjalan. Bahkan, perampasan akidah umat itu telah masuk ke daerah-daerah. Di Lampung misalnya. Banyak Muslimah menjadi korban pemurtadan aktivis gereja. Salah satunya menimpa mahasiswi teknik elektro Universitas Lampung, Yoppi.
Mahasiswi yang cukup cerdas dan taat beribadah ini adalah korban pemurtadan dengan bantuan makhluk halus berkedok perkumpulan bimbingan belajar (Bimbel). Anak pasangan Dwi Suryo dan Rilya Hayana ini terlebih dahulu dihipnotis dan jiwanya dimasuki unsur lain. Dalam keadaan tidak sadar, para pengasuhnya di lembaga Bimbel mendoktrin ajaran Yesus ke Yoppi. Ia pun ragu dengan Islam dan akhirnya Yoppi berhasil dibaptis.
Pemurtadan juga marak di daerah Jawa Barat. Kali ini seorang akhwat asal Cianjur menjadi korbannya. Menurut penuturan sumber SABILI, akhwat yang juga mahasiswi Universitas Padjajaran Bandung itu ragu terhadap Islam setelah berteman dengan seorang laki-laki Kristen. Setelah diberi �air aneh�, Muslimah itu pusing dan menjerit-jerit. Singkat cerita, Muslimah ia pun patuh terhadap perintah laki-laki Kristen itu.
Sebagai hamba Allah, umat Islam semestinya mampu menangkal segala trik jahat kelompok kafir tersebut. Namun, kenyataanya tidaklah demikian. Banyak umat Islam terpengaruh, bahkan mengikuti bujuk rayu mereka. Mengapa umat tidak mampu menangkis segala macam tipu muslihat kaum Salibis, malah sebaliknya mengikuti agama mereka?
Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Karena persoalannya saling berhubungan satu dengan lainnya. Namun, rapuhnya akidah umat Islam adalah faktor utama persoalan ini. Akidah umat masih bermasalah. Sebagian besar umat masih bersekutu dengan selain Allah SWT, bahkan tak jarang yang mempercayai khurafat dan tahayul.
Ustadz Eman menyatakan, �Kepercayaan kepada khurafat dan tahayul merupakan lahan empuk merusak akidah umat,� Menurutnya, ada tiga kelompok manusia yang rentan pemurtadan melalui bantuan jin ini. Pertama, orang yang menjadikan mahluk halus sebagai pemimpinnya. Kedua, orang-orang yang musyrik, yakni percaya pada paranormal dan dukun. Ketiga, orang-orang yang mengalami depresi. �Mereka sangat mudah terkena gangguan jin,� tegasnya
Kuatnya memegang tradisi leluhur adalah faktor kelemahan umat berikutnya. Tradisi yang bertentangan dengan Islam ini pula yang kemudian dimanfaatkan kelompok Nasrani untuk memurtadkan umat. Acara-acara leluhur seperti seren taun pada masyarakat Cigugur, Kuningan atau upacara tumbal buat Nyi Roro Kidul di Yogyakarta sesungguhnya kerap dimanfaatkan para misionaris memasukkan ajaran Kristus.
Seiring beratnya tantangan yang akan dihadapi ke depan, umat mesti memiliki pertahanan yang prima. Pondasi umat harus kuat agar tidak mudah digoyang musuh. Setiap keluarga Muslim harus mampu menangkis berbagai serangan yang ditembakkan musuh kepadanya.
Lantas, apa yang mesti dilakukan umat agar mampu bertahan sekaligus balik menyerang musuh-musuh Islam itu? Mempelajari dan mengkaji Islam secara benar dan kaffah agar tidak mudah dihancurkan musuh adalah faktor utama yang mesti dilakukan keluarga Muslim.
Setiap keluarga Muslim harus menanamkan akidah Islam kepada putra-putrinya sejak dini agar mereka mampu menangkis segala rekayasa pemurtadan musuh. �Keluarga mempunyai peran besar dalam menanamkan nilai-nilai agama dan tauhid kepada putra-putrinya,� kata Ustadz Husni.
Ustadz asal Bandung ini menyatakan, Kristenisasi sangat berbahaya bagi generasi Islam saat ini dan ke depan. Oleh karena itu, umat Islam harus menghadapinya secara serius. Jangan sampai yang minoritas justru mengobok-obok kelompok mayoritas. �Selain tindakan reaktif, tindakan preventif mesti juga dilakukan,� tuturnya.
Selain itu, umat Islam mesti menghindari diri dari perbuatan-perbuatan syirik, khurafat dan bid�ah, termasuk juga membatasi diri menonton tayangan televisi yang dapat mendangkalkan akidah umat seperti acara-acara mistik, tahayul dan khurafat, termasuk tayangan-tayangan seronok yang akan membangkitkan selera rendah. �Bisa jadi orang yang berada di belakang tayangan-tayangan bermasalah tersebut adalah anti Islam sebab semua tayangan miring itu, bermasalah,� Kata KH. Aminudin.
Di atas semua itu, umat Islam wajib menjalin ukhuwah yang solid agar tidak mudah dihancurkan musuh sekaligus bangkit memukul balik mereka. Ketahuilah bahwa pasukan kecil tapi solid dan kompak akan mampu menaklukkan masukan besar tapi rapuh dan bercerai-berai. Ya, Allah lindungilah umat Islam dan hancurkan musuh-musuh kami.[/justify]
Rivai Hutapea / Majalah Sabili
Sumber : http://islamic.xtgem.com/update_juli2008/fakta/fakta50.htm
Posting Digabung: 20 Oktober 2009, 10:28:32
GHAZWUL FIKRI(By. ABU KHOLILAH)“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk ALLAH itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka ALLAH tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)MUSUH ABADAyat di atas seharusnya menjadikan kita sadar bahwa orang-orang beriman dan istiqomah di atas agama yang lurus ini, yaitu Islam akan selalu dibenci dan dimusuhi oleh orang-orang di luar Islam. Bahkan betapa mereka ingin menjadikan kita mengikuti milah mereka, menjadi kafir setelah beriman. Dan permusuhan mereka ini akan terus berlangsung hingga akhir zaman, mereka tak akan pernah berhenti untuk menghancurkan Islam dan umatnya yang berpegang teguh pada agamanya.
Sejak Perang Salib berlangsung mulai tahun 1095 M ada sebagian tokoh Kristen yang menilai Perang Salib merupakan cara yang tidak tepat untuk menaklukan kaum Muslim. Salah satu tokoh terkenalnya adalah Peter The Venerable atau Petrus Venerabilis (1094-1156 M). Peter adalah tokoh Misionaris pertama di dunia Islam, yang merancang bagaimana menaklukan Islam dengan pemikiran, bukan dengan senjata. Menghancurkan Islam melalui pemikiran inilah yang disebut dengan Ghazwul Fikri.
Menurut Peter Venerabilis-pada waktu itu ia adalah seorang kepala Biara Cluny, Perancis-sebuah biara yang sangat berpengaruh di Eropa abad pertengahan-kajian Islam perlu dilakukan oleh kaum Kristen, agar mereka dapat ”Membaptis Pemikiran Kaum Muslimin”. Jadi, kaum Muslimin bukan saja perlu dikalahkan dengan ekspedisi militer, melainkan juga harus dikalahkan dalam pemikiran mereka.
STRATEGI SALIBISDi tengah berkecamuknya Perang Salib, Peter membuat resep untuk menaklukan orang Islam:
”Muslims should not be approached as people often do, by arms, but by words, not by force, but by reason, not by hatred, but by love.” (kaum Muslim jangan didekati dengan senjata, tetapi dengan kata-kata, bukan dengan kekuatan tetapi dengan logika, bukan dengan kebencian tetapi dengan kasih).Tetapi, dalam bukunya yang berjudul: Muhammad: a Biography of the Prophet, Karen Armstrong mencatat, bahwa ketika King Louis VII memimpin Pasukan Salib tahun 1147 M,
Peter menulis surat kepadanya dan meminta membunuh sebanyak mungkin kaum Muslim.Petrus Venerabilis mengajak orang Islam ke ’Jalan Keselamatan’ Kristen dengan cara mengalahkan pemikiran Islam. Ia berangkat dari kepercayaan Kristen bahwa di luar gereja tidak ada keselamatan
(extra ecclesiam nulla sallus). Islam, menurutnya adalah sekte kafir terkutuk sekaligus berbahaya
(execrable and noxious heresy), doktrin berbahaya
(pestelintial doctrine), ingkar
(impious) dan sekte terlaknat
(a damnable sect), Muhammad SAW adalah orang jahat
(an evilman).
Selain menugaskan para sarjana Kristen menerjemahkan naskah-naskah bahasa Arab ke dalam bahasa Latin, Peter juga menulis buku yang menyerang pemikiran Islam. Tentang Al-Qur’an, Peter menyatakan bahwa Al-Qur’an tidak terlepas dari para setan. Setan telah mempersiapkan Muhammad SAW, orang yang paling nista, menjadi anti-Kristus. Setan telah mengirim informan kepada Muhammad SAW, yang memiliki kitab setan
(Diabolical scripture).
Strategi Peter Venerabilis ini menjadi rujukan kaum misionaris Kristen terhadap kaum Muslim, seperti Henry martin dan Raymond Lull, misalnya, menyatakan:
”Saya banyak melihat ksatria pergi ke Tanah Suci, dan berpikir mereka dapat menguasainya dengan kekuatan senjata, tetapi pada akhirnya semua hancur sebelum mereka mencapai apa yang mereka peroleh.” Lull mengeluarkan resep: ”Islam tidak dapat dikalahkan dengan darah dan air mata, tetapi dengan cinta kasih dan doa.”Ungkapan Lull itu ditulis oleh Samuel M Zwemmer, misionaris Kristen terkenal di Timur Tengah, dalam buku Islam: A Challenge to Faith (edisi pertama tahun 1907).
Buku yang berisi resep untuk ”menaklukan” dunia Islam itu disebut Zwemmer sebagai ”Beberapa kajian tentang kebutuhan dan kesempatan di dunia para pengikut Muhammad dari sudut pandang missi Kristen.”Strategi penaklukan Islam melalui pemikiran ini kemudian dikembangkan oleh orientalis Barat. Sebagian dari mereka memang membawa semangat lama kaum misonaris, sebagian lagi melakukannya untuk kepentingan penjajahan (kolonialisme) dan sebagian lagi bermotifkan semata-mata untuk kajian ilmiah.
Program merusak pemikiran Islam itu kini masih diteruskan negara-negara Barat. Simaklah program keislaman Kedubes AS di Jakarta dalam menyebarkan paham syirik ”Pluralisme Agama” yang telah diharamkan MUI:
”Kedutaan mengirimkan sejumlah pemimpin dari 80 pesantren ke Amerika Serikat untuk mengikuti suatu program tiga minggu tentang pluralisme agama, pendidikan kewarganegaraan dan pembangunan pendidikan.” (sumber: www. usembassyjakarta.org)Kini, setelah beratus-ratus tahun, kaum Orientalis Barat telah berhasil meraih sukses besar dalam bidang studi Islam. Bukan saja mereka berhasil mendirikan pusat- pusat studi Islam di Barat dan menerbitkan buku tentang Islam, tetapi mereka juga berhasil menghimpun literatur-literatur Islam dalam jumlah yang sangat besar.
Lebih dari itu, kini mereka telah berhasil mengkader para sarjana dari kalangan kaum Muslim untuk menyebarkan cara berpikir mereka. Dimulai dengan Program Bea Siswa bagi dosen dan mahasiswa perguruan tinggi Islam untuk pendidikan S2 dan S3 ke universitas-universitas di Barat. Orang-orang seperti ini, tentu saja sudah dicuci otaknya dan dicekoki dengan pemikiran Barat, sehingga mereka menjadi perpanjangan tangan bagi para Orentalis untuk merusak Islam.
Murid-murid atau cucu murid-murid para Orientalis inilah yang kini banyak bertengger di kampus-kampus yang berlabel Islam, yang begitu leluasa merusak Islam.
KEBERHASILAN MEREKA ADALAH KEKAKALAHAN KITALihatlah, keberhasilan mereka merusak Islam, pemikiran dan keilmuan Islam.
Misalnya, JURNAL JUSTISIA dari fakultas IAIN Semarang, edisi 30/2006, yang mengusulkan agar ayat-ayat Al-Qur’an ’yang bermasalah’ dihapus saja. Menurut si penulis, di dalam Al-Qur’an ada ’ayat-ayat yang kotor’ dan ada ayat-’ayat yang bersih’. Karena itu, dia mengusulkan, agar umat Islam berani menghapus dalam artian ’mengamandemen’ ayat-ayat Al-Qur’an yang ’bermasalah’ tadi.
Adalagi, masih pada jurnal yang sama dalam edisi 25/2004, terdapat tulisan yang mendukung sepenuhnya dan mempromosikan untuk melegalisasi perzinaan sejenis, alias homoseks.
Tentu tidak habis pikir kita, bagaimana bisa pikiran sekotor itu bisa disebarkan oleh sebuah penerbitan di kampus yang berlabel Islam? Sementara, pemimpin kampus tersebut tenang-tenang saja membiarkan kampusnya dijadikan ajang merusak aqidah Islam.
Selain itu, saat ini dengan dimotori oleh
JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Universitas Paramadina berkembang pemikiran yang disebut dengan liberalisme Islam, yang menyuarakan dan memperjuangkan Pluralisme Agama (menganggap semua agama sama), sinkretisme agama (menyatukan seluruh ajaran agama), persamaan gender, perkawinan beda agama dan masih banyak paham-paham lain yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Orientalis.
Irene Handono menyatakan keberhasilan misonaris dalam memurtadkan Umat Islam tidak harus dengan cara mengeluarkan mereka dari Islam dan masuk Kristen. Menurutnya, biarkan mereka tetap dalam agama Islam, tetapi cara hidup mereka, budaya, cara berpikir dan lain sebagainya mengikuti milah orang Kristen.
ALLAH menyatakan bahwa,
”Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) ALLAH dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan ALLAH tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-NYA, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 32)Oleh karena itu, hendaknya kaum Muslimin janganlah lengah dan jangan berpecah belah, mari rapatkan barisan dan kokohkan ukhuwah untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang tak pernah berhenti ingin memadamkan cahaya ALLAH.
”Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu dan lisan-lisanmu.” (HR. Ahmad)Wallahua'lam bish shawab
sumber : Media al-Haq