Hajji adalah sejumlah simbol yang terbentuk dari pelbagai amalan. Simbol penyerahan manusia kepada Allah, jika telah sampai perintah Allah kepadanya melalui RasulNya. Karena itu, dalam melaksanakan perintahNya ia tidak melihat lagi hikmah dan ma'nanya. Thawaf, wuquf, sa'i, mencukur rambut dan amalan-amalan hajji lainnya, merupakan simbul penyerahan tanpa syarat manusia Muslim kepada perintah Allah.
Ia adalah simbol kesinambungan ummat ini dengan bapaknya, Ibrahim a.s., karena kita menghidupkan syi'ar-syi'arnya dan ber-thawaf di 'rumah' yang dibangunnya.
Hajji adalah simbol persatuan ummat Islam, tanpa memandang ras, warna kulit dan kebangsaan. Karena dasar persatuan kaum Muslimin adalah aqidah, agama dan syar'at Islam.
Hajji adalah manifestasi prinsip-prinsip Islam. Manifestasi ukhuwah Islamiyah, dimana manusia merasakan secara nyata bahwa ia adalah saudara bagi setiap Muslim di dunia. Manifestasi persamaan antar berbagai bangsa dan suku. Hajji adalah manifestasi firman Allah:
"Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal......" (QS: Al Hujurat:13)
Di dalam hajji terwujud "ta'aruf akbar" antar bangsa-bangsa di dunia.
Hajji merupakan manifestasi kesetiaan seluruh kaum Muslimin terhadap satu kekuasaan politik.
Hajji adalah "madarasah", tempat penggemblengan yang mengantarkan manusia Muslim ke peringkat yang lebih tinggi. Dengan Hajji ia dapat belajar, berusaha sambil bersabar. Sebab, jihad yang paling utama adalah "hajji mabrur". Dengan hajji, hidup selalu dalam suasana "ibadah". Bersikap ramah dan kasih sayang kepada sesama Mu'min. Mengendalikan emosi dan nafsunya. Memahami arti kebisingan dan kekerasan. Memahami hakekat "ubudiyah" kepada Allah. "Berinfaq fi sabilillah" tanpa imbalan. Mengagungkan sesuatu yang diagungkan Allah dan merendahkan sesuatu yang direndahkan Allah. Serta dapat mengerti cara memperlakukan musuh terhadap orang-orang yang memusuhi Allah dan mendukung orang yang mendapat dukungan Allah.
Hajji dapat membangkitkan berbagai perasaan dan sikap dalam jiwa manusia. Membangkitkan rasa kasih terhadap kaum Muslimin, membantu kepedihan mereka, merasakan sikap generasi Islam pertama yang pernah hidup di tempat ini dan penindasan terhadap mereka karena aqidah yang dipegangnya.
Di dalam setiap amalan hajji terkandung berbagai pelajaran dan ma'na. Jika manusia menyadari, hajji akan melahirkan gagasan-gagasan "Rabbani", peningkatan akhlaq Islami dan semangat ketauladanan yang lebih tinggi terhadap Rasulullah SAW.
"Arafah" adalah tempat berkumpulnya manusia sebelum melaksanakan "thawaf rukun". Semua orang yang berniat hajji berkumpul di padang Arafah. Secara serentak dan bersamaan, mereka memulai keberangkatan untuk mengagungkan Ka'bah. Kemudian menuju "Muzdalifah" dalam keadaan telah bertaubat dan berserah diri. Mereka menuju Ka'bah dengan jiwa bersih.
Dari "Muzdalifah" mereka berangkat menuju "Mina" untuk melempar "Jumrah" sebelum "thawaf", sebagai pernyataan bahwa musuh Allah adalah musuh mereka. Kemudian memotong Qurban sebagai tanda syukur kepada Allah atas kurnia Nya dalam menghalalkan binatang ternak kepada mereka. Lalu bercukur rambut sebagai persiapan "Thawaf" dengan jiwa bersih, pakaian suci dan penampilan bagus.
Setelah itu mereka menuju Makkah dan berthawaf di sekeliling Ka'bah sambil mengagungkannya karena Allah telah mengagungkannya. Allah berfirman:
"Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka itu timbul dari ketetapan hati." (QS: Al Hajj: 32)
Kemudian "Sa'i" antara Shafa dan Marwah sebagaimana pernah dilakukan ibu mereka, Hajar yang shalihah pada hari permulaan Baitullah dibangun.
Keluar dari perjalanan ini manusia menjadi seperti dilahirkan kembali. Seterusnya mereka kembali lagi ke Mina untuk melempar "Jamrah" sebagai pernyataan permusuhan total terhadap syetan untuk selama-lamanya.
Hajji membawa kembali kaum Muslimin kepada markas Islam pertama: Agama Ibrahim dan Muhammad. Perjalanan kembali ini akan memperkuat ikatan seorang Muslim kepada pusat Islam. Ia adalah negeri spiritualnya, qiblatnya, orientasi jasadnya, titik tolak semangat dan cita-citanya.
Sekembali dari tempat ini sebagaian besar bentuk kehidupan Muslim telah berubah dan berganti. Dulu keterikatannya dengan markas Islam hanya bersifat teoritis, namun kini telah menjadi kenyataan yang dapat dirasakan dan diamalkan. Nash-nash berikut terdapat berbagai isyarat bagi orang yang mau mengambil pelajaran:
1) Dari Abu al-Thufail, aku berkata kepada Ibnu Abbas, "Kaummmu menganggap bahwa Nabi SAW sa'i anatara Shafa dan Marwah sebagai Sunnah."
Ibn Abbas menjawab:
"Mereka benar. Sesungguhnya Ibrahim ketika diperintahkan melaksanakan manasik hajji, syetan menghalanginya, lalu syetan mengejarnya, tetapi Ibrahim mendahuluinya. Kemudian Jibril membawanya (Ibrahim) ke Jamratu al'Aqabah, lalu syetan menghalanginya. Maka Ibrahim melemparkannya dengan tujuh kerikil sehingga syetan itu pergi. Kemudian syetan itu menghalanginya di Jamratu al Wustha. Maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh (kerikil). Kemudian ia merobohkannya. Dan Isma'il memakai baju putih.
Dan ia berkata: 'Wahai ayahanda, aku tidak punya pakaian yang dapat engkau jadikan kafan untukku dengannya. Maka lepaskan pakaian itu agar engkau dapat mengkafani aku dengannya.'
Lalu Ibrahim pun melepasnya. Kemudian tiba-tiba ada orang yang memanggilnya dari belakang. 'Wahai Ibrahim sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu.'
Kemudian Ibrahim menoleh dan tiba-tiba menjadi seekor kibasy (domba) putih bertanduk dan besar bola matanya. Ibnu 'Abbas berkata:
"Sesungguhnya engkau telah melihat kami mengikuti dalam memotong kibasy itu."
Ibnu 'Abbas melanjutkan:
"Kemudian Jibril membawanya ke Jamratu al-Qashwa. Lalu syetan menghalanginya. Maka ia melemparnya dengan tujuh (kerikil). Kemudian Jibril membawanya ke Mina.
Jibril berkata:
'Ini adalah Mina, yakni tempat pemberhentian manusia.' Terus Jibril membawanya ke suatu kumpulan dan berkata: 'Ini adalah Masy'ari al-Haram.'
Kemudian Jibril membawanya ke Arafah, Apakah engkau tahu mengapa dinamakan Arafah? Aku menjawab: "Tidak."
Ibnu 'Abbas berkata:
"Sesungguhnya Jibril bertanya kepada Ibrahim: 'Apakah kamu telah mengetahui?' Ibrahim menjawab: 'Ya.' Dari sini lalu dinamakan Arafah (mengetahui). Apakah kamu mengetahui mengapa ada talbiyah (ucapan labbaika dst.)?
Aku menjawab: "Bagaimana dahulunya?"
Ibnu 'Abbas berkata:
"Sesungguhnya Ibrahim telah diperintahkan untuk mengizinkan manusia untuk berhajji, gunung-gunung menunduk kepada Ibrahim dan kampung-kampung menyambutnya, ia mengizinkannya untuk berhajji." (Hadits riwayat Ahmad dan Thabrani dalam al-Kabir)
2) Ibnu Amr bin 'Ash berkata:
Thawaflah kalian di rumah (Ka'bah) ini dan ciumlah batu ini. Karena keduanya dulu adalah dua batu yang turun dari surga; yang satu ditinggikan dan yang lain pun akan ditinggikan. Jika apa yang aku katakan tidak benar, maka siapa saja yang melewati kuburanku hendaklah berkata: 'Ini Abdullah bin Amr si pendusta'." (Hadits riwayat Thabarani dalam al-Kabir)
Dari Ibnu 'Umar, sesungguhnya Nabi SAW pernah didatangi seorang Anshar di Masjid Mina dan seorang Tsaqif. Keduanya bertanya:
Ya Rasulullah, kami datang untuk bertanya kepadamu.
Nabi berkata:
Jika kalian suka, akukhabarkan tentang sesuatu yang kalian tanyakan. Dan jika kalian suka aku tidak akan menjawab pertanyaan kalian.
Kemudian mereka berkata:
Khabarkanlah kepada kami ya Rasulullah SAW!
Lalu Rasulullah SAW berkata kepada orang Anshar itu:
Engkau datang kepadaku menanyakan tentang kepergianmu dari rumahmu menuju Ka'bah dan apa yang kamu lalukan padanya, tentang shalat dua rakaatmu sesudah thawaf dan apa yang kamu lakukan pada dua rakaat itu, tentang sa'imu antara Shafa dan Marwah dan apa yang kamu lakukan padanya, tentang mencukur rambutmu dan apa yang kamu lakukan padanya tentang thawafmu di Ka'bah sesudah itu dan apa yang kamu lakukan padanya?
Maka ia berkata:
Demi Allah Yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh aku datang untuk menayakan hal ini.
Nabi bersabda:
Kamu, jika keluar dari rumahmu menuju Bait al-Haram, tidaklah kamu letakkan untamu karena tidak tahu dan tidaklah kamu mengangkatnya pula kecuali Allah menulis bagimu suatu kebaikan dan Ia hapuskan kesalahan darimu. Adapun dua rakaatmu sesudah thawaf adalah seperti memerdekakan seorang budak dari Bani Isma'il. Adapun sa'imu antara Shafa dan Marwah seperti memerdekakan 70 budak. Adapun wuqufmu pada waktu sore di Arafah maka sesungguhnya Allah turun dari langit dunia lalu para malaikat berbangga dengan kamu. Ia berfirman:
Para hamba-Ku datang kepada-Ku berdatangan kepada-Ku dari seluruh penjuru, mereka mengharap surga-Ku, sekalian dosa-dosa kamu sebanyak pasir, atau tetesan hujan dan buih laut, niscaya Aku mengampuninya.
Wassalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh