Kedelapan, kekeliruannya yang lain adalah dia menyalahkan kami lantaran memisahkan antara khawarij dan haruriyah, baginya khawarij adalah haruriyah itu sendiri. Kami jawab: apa yang kami tulis itu, sesuai dengan Kitab Syarh al Aqidah al Wasithiyah Lisyaikhil Islam Ibni Taimiyah, karya Syaikh Said bin ‘Ali Wahf al Qahthany, dengan muraja’ah Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin, hal. 53. Cet. 2, Rabiul Awal 1411H. Penerbit: Riasah Idarat al Buhuts wal I’lmiyah wad Da’wah wal Irsyad. Riyadh)
Di situ beliau Syaikh Said al Qahthany menulis: “Al Haruriyah, dia adalah kelompok dari khawarij di nisbatkan kepada daerah Harura’, yaitu daerah dekat Kufah (di Irak). Mereka berkumpul di sana ketika mereka keluar dari pemerintahan Ali Radhiallahu ‘Anhu. “
Kesembilan, Andi Abu Thalib, lagi-lagi mengulangi kesalahannya, ketika dia menyalahkan kami lantaran kami memisahlan pula antara, syiah dan rafidhah, baginya syiah ya rafidhah itu sendiri. Apa yang kami tulis itu, pemisahan antara syiah dan rafidhah, sesuai dengan apa yang ditulis dalam Syarh al Aqidah al Wasithiyah Lisyaikhil Islam Ibni Taimiyah, bahwa syiah itu lebih luas dari rafidhah, dengan kata lain, rafidhah adalah bagian dari Syiah. Berikut ini kata Syaikh Said bin Ali Wahf al Qahthani:
“Ar Rafidhah, yaitu segolongan dari syiah, mereka melampaui batas (ghuluw) dalam memuliakan Ali Radhiallahu ‘Anhu dan Ahli Bait. Mereka memproklamirkan permusuhan terhadap mayoritas sahabat nabi seperti yang tiga (Abu Bakar, Umar, dan Utsman, pen), mengkafirkan mereka, dan orang-orang yang mengikuti mereka, dan mengkafirkan orang-orang yang memerangi Ali (yakni Aisyah dan pengikutnya ketika perang Jamal, atau Mu’awiyah dan pengikutnya dalam perang Shiffin, pen).”
Kesepuluh, Galeri kekeliruan dan asal-asalan Andi Abu Thalib bertambah lagi, ketika dia menyalahkan kami ketika menyebut istilah Imamul A’zham untuk Imam Abu Hanifah Radhiallahu ‘Anhu, menurutnya istilah Imamul A’zham adalah istilah untuk khalifah, dan kapan Imam Abu Hanifah menjadi khalifah? Sungguh, apa yang kami sebut terhadap Imam Abu Hanifah dengan Imamul A’zham adalah benar adanya, gelar itu memang terkenal bagi Imam Abu Hanifah di mata para pengikutnya, sebagaimana yang dikatakan Syaikh ‘Aidh al Qarni. Bahkan ada buku berjudul Al Khairatul Hisan fi Manaqib Al Imam Al A’zham Abu Hanifah An Nu’man.
Kesebelas, Andi Abu Thalib mencela kami lantaran kami menulis nama para ulama secara langsung, seperti Ibnu tamiyah, Ibnul Qayyim, dan lainnya, tanpa embel-embel Al Imam, atau dibelakangnya tanpa rahimahullah atau hafizhahullah, misalnya. Dia menganggap kami tidak menghormati para ulama. Ada empat catatan untuk Andi Abu Thalib dalam hal ini.
1. Sebutan seperti Al Imam, Al ‘Allamah, dll, adalah hal yang tidak ada pada masa Rasulullah dan sahabat, maka sangat-sangat aneh jika Andi Abu Thalib menjadikan gelar-gelar itu sebagai standar kesopanan. Sebab para sahabat nabi, di antara mereka pun memanggil namanya, atau julukan yang sudah ma’ruf di antara mereka. Kadang di antara mereka memanggil, ‘Wahai Abu Bakar, Wahai Umar, …” tidak pernah kita dengar, “Wahai Imam Abu Bakar, Wahai al Allamah Umar … . ‘. Nah, apakah lantas di antara mereka menjadi tidak sopan karena tidak menggunakan gelar-gelar kehormatan yang baru ada beberapa abad setelah zaman mereka?
2. Di banyak halaman, pada kenyataannya, kami menulis gelar untuk para ulama tersebut, baik Al Imam, Syaikhul Islam, Al Allamah, Asy Syaikh, Samahatusy Syaikh … dan lain lagi. Apakah itu tidak cukup?
3. Jika Andi Abu Thalib memang rajin membaca kitab, pasti dia temukan bahwa para ulama jika menyebut nama ulama lainnya, baik masih hidup atau yang sudah wafat, mereka menyebut dengan namanya langsung, atau julukannya. Lihatlah tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir sering berkata ini pendapat Ahmad, Syafi’i, Malik, … kadang dia juga meyebut para Imam perawi hadits, dari Sufyan, … atau dari Nafi’ … atau dari Thawus … semunya tanpa embel-embel Al Imam, Al ‘Allamah, …. Gaya penulisan tersebut, bukan hanya gaya Imam Ibnu Katsir, tetapi juga lainnya …
4. Seandai pun ini salah, bukanlah kesalahan esensial dan merubah tema pembicaraan. Justru, menunjukkan Andi Abu Thalib memang ‘hebat’ dalam mencari-cari kesalahan, walau sepele. (Sayangnya apa yang disangkanya kesalahan, ternyata bukanlah kesalahan!)
Kedua Belas, Dia mencela kami lantaran menggunakan kata ‘Seandainya’ ketika membahas wafatnya Imam Hasan al Banna, di situ kami katakan bahwa Hasan al Banna bisa saja selamat seandainya dokter tidak menolak memberikan darah yang dibutuhkan. Namun, instruksi dan skenario dari elit sulit ditolak. (MSKIM, hal. 105)
Gara-gara tulisan ini, Andi Abu Thalib menyebut saya tidak faham qadar dari Allah Ta’ala.
Inilah ghuluw-nya Andi Abu Thalib. Saya ada beberapa catatan untuk dia:
1. Tulisan tersebut adalah wajar, ketika kita sedang membahas masalah sebab-akibat. Jika A maka B. Jika Anda ke dokter maka sembuh, atau jika darah yang Anda butuhkan tersedia, maka Anda dapat ditolong. Ini adalah ucapan sebab akibat yang memang benar adanya. Ada pun jika ternyata ‘akibat’nya tidak sesuai harapan, itulah takdir yang harus kita terima. Inilah kekeliruan fatal Andi Abu Thalib, yang sangat tekstual dalam hal ini, dan hal-hal lainnya, yang membuatnya sering tergelincir dan gagal dalam memahami tulisan.
2. Mengucapkan ‘seandai’nya tidaklah tercela secara mutlak, banyak ayat dan hadits yang juga menggunakannya. Ucapan ‘seandainya’ yang tercela adalah ucapan keputusasaan, atau tidak ridha terhadap kenyataan atau takdir. Sedangkan tulisan kami tak ada indikasi tentang keputusasaan atau tidak ridha terhadap takdir, melainkan hanya sebab-akibat.
Allah Ta’ala berfirman:
Dan Seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al A’raf: 96)
Atau hadits:
نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَكَانَ بَعْدُ لَا يَنَامُ مِنْ اللَّيْلِ إِلَّا قَلِيلً
ا
“Sabaik-baiknya orang adalah Abdullah (maksudnya Ibnu Umar) seandainya dia shalat malam.” Maka sejak itu, dia tidak pernah tidur malam kecuali sedikit.” (HR. Bukhari, Juz. 4, Hal.280, No.1054. Muslim, Juz. 12, Hal. 264, No. 4528. Al Maktabah Asy Syamilah)
Nah, apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang tidak paham qadar karena ucapannya ini? Ucapan ini tentu sebagai nasihat bagi Ibnu Umar radhiallahu ‘Anhu, ketika beliau belum rajin shalat lail. Artinya, ucapan ‘seandainya’ itu, merupakan sebab-akibat, bukan pengingkaran terhadap qadar, bahwa Ibnu Umar tidak rajin shalat lail.
Ada riwayat dari Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu: “Seorang laki-laki tertimpa batu di bagian kepalanya. Kemudian orang itu bermimpi (ihtilam-mimpi basah), dan bertanya kepada para sahabatnya , “Apakah ada bagi saya rukhshah untuk tayammum?”, mereka menjawab: “Tidak ada rukhshah bagimu karena kamu masih mampu menggunakan air.” Kemudian laki-laki itu mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kami pun menceritakan hal itu kepadanya, lalu dia bersabda: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya, kalau memang tidak tahu? Obat dari kebodohan adalah bertanya! Sebenarnya cukup bagi dia bertayammum dan mengeringkan lukanya, atau membalut lukanya, dan membasuh bagian atasnya, lalu membasuh tubuhnya yang lain.” (HR. Abu Daud, Juz.1, Hal. 411, no. 284. As Sunan Al kubra Lil baihaqi, Juz.1, Hal. 227-228. Al Maktabah Asy Syamilah, Dishahihkan oleh Ibnu Sikkin)
Lihatlah kemarahan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, karena kecerobahan jawaban dari sebagian sahabat, sehingga wafatlah salah seorang laki-laki. Apakah ini menunjukkan Rasulullah tidak faham qadar? Atau Rasulullah tidak ridha terhadap taqdir, sehingga dia begitu marah atas kematian laki-laki itu? Sekali lagi, Andi Abu Thalib telah melengkapi galeri kesalahannya yang sangat fatal.
3. Nah ini yang aneh, Andi Abu Thalib pun terjebak dalam sesuatu yang dicelanya. Dia berkata tentang Hasan al Banna dan Sayyid Quthb: “Bahkan saya menduga bahwa seandainya mereka masih hidup, mereka tidak akan menerima penyetaraan antara mereka dengan para Mujtahidin, sebagaimana yang dilakukan oleh para pengikut mereka di zaman ini.” (lihat MSKIM, hal. 53)
Lihat ini, Andi Abu Thalib menjadikan dirinya ‘peramal’ yang beraninya menduga-duga perilaku orang yang sudah wafat, jika seandainya mereka masih hidup nanti aakan begini-begini … darimanakah dia dapatkan dugaan itu? Wahyukah? Ilhamkah? Quburankah? Atau syaithan kebencian kah?
Menurut istilah Andi Abu Thalib sendiri, apa yang ditulisnya, merupakan bukti ketidakpahamannya terhadap qadar. Sayang sekali!!
Demikianlah contoh kecil saja kecerobohan dalam buku Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin (MSKIM). Ada papatah Arab:
Qabla ar rima Tumla’ul Kana’in
(Sebelum memanah, siapkan dulu busurnya)
Maksudnya sebelum mengkritik atau menyerang, hendaknya memiliki bekal yang cukup. Baik bekal ilmu maupun etika, dan tentunya niat yang baik Jangan asal kritik.
Penulis MSKIM mengingatkan kami kepada ucapan Imam Adz Dzahabi rahimahullah:
Ingin terbang tetapi tidak memiliki bulu burung. Ingin menanduk kambing hutan tapi tidak punya tanduk
.
Atau syair lainnya:
Wahai orang yang menanduk gunung tinggi untuk menundukkannya
Sayangilah kepala(mu), dan bukan gunung itu
Demikianlah contoh Jidal bila Adab wa Ihtijaj bighairi Ilmin dari penulis buku Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin. Bukan di sini kami menulis koreksi seluruh isi buku tersebut. Buku yang kami akui amat bermanfaat bagi yang terbiasa debat tanpa etika dan berhujjah tanpa ilmu. Tema utama tulisan kami ini, sebenarnya bukan dalam rangka membantah Andi Abu Thalib, melainkan menjadikannya sebagai contoh pas dari tema tulisan saya. Sebab, saya melihat adanya kesesuaian, dia berani mengkrtik dan menyalah-nyalahkan, tetapi dia sendiri tidak paham masalah, kurang informasi, dan masih bagus sekedar mengkritik, tetapi sayangnya ditambahi dengan memberikan gelar-gelar buruk yang sangat dipaksakan dan penodaan terhadap kehormatan terhadap sesama muslim. Jadi pas dan cocok, debatnya tanpa etika, berhujjah tanpa bukti dan data. Mirip saudaranya di faksi lain, Luqman Ba’abduh.