Sedangkan pengeboman di bioskop Rio di Iskandaria dan Metro di Kairo, ternyata dilakukan oleh seorang Yahudi bernama Victor Kuhin. Ia mengakui keterlibatan dirinya dan teman-temannya dalam peledakan ini. Mereka dihukum dan dipenjara. Akhirnya Ikhwan terbebas dari tuduhan dan fitnah keji. Nah, apakah para penuduh Hasan al Banna masih memaksakan kehendak bahwa ia yang menginstruksikan teror. kepada orang-orang tak berdosa. Mungkinkah terjadi kolaborasi yang indah –tanpa disadari- yang dilakukan para penuduh Ikhwan pada saat kejadian itu, dengan para penuduh Hasan al Banna masa kini? Mereka sama-sama menuduh Hasan al Banna sebagai pelaku kekerasan, yang membedakan hanyalah mereka (para penuduh) tidak hidup di zaman yang sama, yang dulu adalah agen pemerintah, yang sekarang mengaku pewaris Ahlus Sunnah. Wallahu musta’an!
Berikut ini aktifitas jihad Agen Rahasia (tanzhim khas) Ikhwan terhadap Yahudi, yang amat keterlaluan jika dituduh sebagai aksi teror oleh para penuduh. (Ibid, hlm. 61-62)
Usaha untuk meledakkan hotel Al malik Juraij di Ismailiyah pada tanggal 24 Desember 1946
Peledakkan beberapa rumah di perkampungan Yahudi sebagai balasan terhadap pembunuhan Dir Yasin.
Pembajakan kapal terbang Israel di kawasan Kairo pada saat buka puasa pada bulan Ramadhan dan bom-bomnya dilemparkan di kampung Al Baramuni di Abidin, yaitu kampung miskin yang berpenduduk padat, sehingga banyak menghancurkan rumah dan membinasakan banyak penduduk Mesir. Setelah itu Ikhwan meledakkan bom lagi jam 05. 00 pagi tanggal 20 Juli 1984 dan diikuti setelah itu dengan peledakan bom lainnya yang menyebabkan meninggalnya empat puluh Yahudi dan melukai 34 lainnya. Setelah itu juga terjadi peledakkan bom lainnya di perkampungan Yahudi jam 2. 30 sore hari 22 September 1948, dengan meletakkan ransel yang di dalamnya ada bahan peledak di jalan Qa’alu an nahdhah dan menghancurkan rumah-rumah Yahudi, membunuh 14 orang dan melukai 54 orang lainnya.
Peledakan di Mahzan Syikuril (nama perserikatan Yahudi) di Halmiyah az Zaitun pada jam sembilan sore (begitulah yang tertulis. Pen) tanggal 28 September 1948 dan tak seorang Mesir pun yang terluka.
Peledakkan Jaringan Inforrmasi Timur, jaringan milik Yahudi pada jam 06.15 pagi tanggal 22 Nopember 1948 dan tidak melukai seorang pun.
Peledakkan toko daud Adas al Yahud di jalan Imaduddin pada 28 Juli 1948, tidak menelan korban.
Peledakkan besar di toko bensin yahudi di jalan Qashru An Nil pada tahun yang sama dan tidak menelan korban.
Peledakkan toko jatiniyu milik Yahudi di jalan Muhammad Farid pada tahun yang sama, namun tidak menelan korban.
Berkata Dr. Mahmud Jami’: “Tindakan balas dendam ini terjadi atas rencana Agen Rahasia Ikhwanul Muslimin, karena itulah bahasa satu-satunya yang difahami oleh Yahudi dan satu-satunya cara untuk menakut-nakuti mereka, seperti halnya mereka menganggapnya sebagai balasan atas pembunuhan korban Dir Yasin dan perusakan kampung Al Baramuni di Abidin. Setelah itu, orang-orang yang menyelewengkan sejarah dan benci kepada da’wah Ikhwanul Muslimin menyebut mereka sebagai teroris. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan sesuatu kecuali dusta.’ (QS. Al Kahfi: 5)
Itulah jawaban praktis dan sanggahan langsung terhadap teror-teror Yahudi, penumpahan darah mereka dan perusakan mereka terhadap kehormatan dan tempat-tempat mulia.” (Ibid, hlm. 62) Sampai di sini.
Ya. Memang telah terjadi penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh musuh-musuh Ikhwan dari kalangan sekuler, juga dari saudara seperjuangannya sendiri yang tidak jujur, tidak sabar dan tidak teliti dalam membaca sejarah Ikhwan.
Demikianlah sebagian rangkaian jihad (bom) Ikhwan untuk Yahudi dan Inggris pada masa Hasan al Banna masih hidup. Tidak ada peledakkan atau teror untuk menghancurkan pemerintah Mesir. Adapun jika ada peledakan yang menyerang pemerintah setelah wafatnya Al Banna, maka Al Banna tidak memiliki tanggung jawab sejarah. Termasuk tanggung jawab doktrinal, ia berlepas diri. Sebab dari berbagai risalah yang ditulisnya tidak ada tulisan yang menginspirasikan pembacanya untuk menteror manusia dan mengajak pada tindak kekerasan.
B. Kenyataan Kepribadian Al-Banna
Sebaliknya tulisan-tulisan Hasan al Banna berisi kasih sayang yang kental, sebagaimana ayah kepada anaknya, seorang da’i kepada umatnya, dokter kepada pasiennya.
Dalam risalah Da’watuna Hasan al Banna menulis curahan hatinya yang menggetarkan perasaan siapa pun pembacanya, simaklah:
“Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui, bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.
Sungguh kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaat pun kami tidak akan pernah menjadi musuh kalian.”
Anda lihat sendiri, apakah mungkin orang yang menulis perasaan hati yang mengharukan seperti ini menjelma sebagai penganjur teror dan kekerasan?
Di sisi lain Al Banna amat toleran dengan siapa saja yang berbeda dengannya. Abdul Muta’al al Jabari pernah menulis ucapan Al Banna: “Bagaimana mungkin Anda dapat membayangkan tidak adanya orang yang berbeda pendapat dengan kita dan dengan dakwah yang kita sampaikan, sedangkan di kalangan manusia sendiri ada banyak perbedaan tentang eksistensi Allah ‘Azza wa Jalla. Ada sebagian manusia yang mengatakan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla itu adalah oknum ketiga dari Trinitas dan demikian seterusnya.” (Pembunuhan Hasan al Banna, hlm. 22)
Sikap beliau terhadap pihak yang memusuhi da’wahnya yaitu golongan yang selalu berprasangka buruk, menunjukkan akhlak da’i yang layak ditiru da’i lainnya.
Katanya: “Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu berprasangka buruk kepada kami dan hatinya diliputi keraguan atas kami. Mereka selalu melihat kami dengan kacamata hitam pekat, dan tidak berbicara tentang kami kecuali dengan pembicaraan yang sinis. Kecongkakan telah mendorong mereka terus pada keraguan, kesinisan, dan gambaran negatif tentang kami.
Bagi kelompok ini, kami bermohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar berkenan memperlihatkan kepada kami dan kepada mereka kebenaran sebagai kebenaran dan diberi kekuatan kepada kami untuk mengikutinya, serta memperlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan memberi kekuatan kepada kami untuk menjauhinya. Kami mohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar berkenan menunjuki kami dan mereka ke jalan yang lurus
Kami akan terus menda’wahi mereka jika mereka mau menerima, dan kami juga berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar berkenan menunjuki mereka. memang hanya Allah-lah yang bisa menunjuki mereka. kepada NabiNya Allah berfirman tentang segolongan manusia: “Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki.” (QS.Al Qashash : 56)” dst.
Lihatlah sikapnya terhadap pihak yang memusuhi da’wahnya ini; mendoakan dan tetap menda’wahi. Tidak ada tindak kekerasan sama sekali! Wallahu musta’an
Dalam da’wahnya Imam al Banna lebih mendahulukan kelembutan dan menolak kekerasan, sebagaimana yang disaksikan manusia zamannya. Berikut ini adalah penuturan Ahmad Husain yang pernah hidup dan berinteraksi dengannya. Pembaca akan mengetahui betapa jauh tuduhan teroris yang diarahkan padanya.
Ahmad Husain menulis: “Sungguh aku masih teringat masa mudaku, ketika itu sekelilingku terdapat para pemuda yang aktif dalam beragama. Pada waktu itu tempat penjualan minuman keras ada di mana-mana, bahkan di depan sekolah dan masjid. Maka tergugahlah kita untuk memberantas semua itu dengan kekuatan, dalam rangka menjalankan sabda Nabi, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan …”, lalu sebagian pemuda di sekitar kami bertekad menyerbu dua atau tiga tempat penjualan khamr. Kami memecahkan beberapa botol serta menumpahkan beberapa galon khamr. Akhirnya suasana menjadi kacau balau, insiden ini dianggap melanggar undang-undang negara. Kemudian setelah itu pemerintah sangat memusuhi kami dengan keras.
Hal itu tidak mengherankan, karena memang pemerintahan saat itu dikendalikan penjajah Inggris yang menguasai Mesir. Akan tetapi yang membuat saya terkejut dan pesimis adalah makalah (fatwa) yang ditulis Imam Syahid Hasan al Banna. Beliau ternyata menolak uslub da’wah yang telah kami praktekkan. Akhirnya saya baru tahu bahwa beliau berbicara tentang sesuatu yang benar-benar Islami. Baik secara ruh maupun nash, sebagaimana itu nampak jelas setelah saya pelajari.
Tetapi saat itu saya sangat marah, bahkan saya menganggap keberadaannya sebagai sebuah rekayasa politik. Saya pergi sendiri untuk menelaah kembali –ketika dipenjara- seluruh fatwa fuqaha tentang batas-batas amar ma’ruf nahi munkar, sejauh mana hak seorang muslim biasa (rakyat) untuk merubah dengan tangan. Ternyata saya dikejutkan dengan ijma’ para fuqaha empat madzhab bahwa merubah kemungkaran dengan tangan itu adalah hak Waliyyul Amri (pemerintah) saja bukan hak individu. Saya benar-benar dikejutkan dengan kesepakatan itu, dan secara perlahan tapi pasti saya mencoba keluar dari bencana yang saya rasakan. Saya berbicara dengan beberapa pihak tentang masalah ini, dan akhirnya pada kesimpulan bahwa saya puas dengan fatwa Hasan al Banna itu. Sampai-sampai saya merasa benci dengan kekerasan sikap saya dahulu, dan saya selalu memberi peringatan kepada rekan-rekan muda tentang masalah ini.” (Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqh Da’wah, hlm. 210-211) sampai di sini.
Sikap kelembutan dan anti kekerasan Hasan al Banna ini juga diteruskan oleh penerusnya, Hasan al Hudhaibi. Ketika fitnah kekerasan dan pengkafiran mencuat, lantaran jamaah Hijrah wa Takfir. Al hudhaibi membuat buku Du’aat la Qudhaat (Para da’I, bukan menghakimi).
Demikianlah jawaban secukupnya terhadap tuduhan radikalisme dan teroris bagi Hasan al Banna, yang ternyata hanya isapan jempol, jauh, dan fitnah semata. Semoga para generasi da’wah bisa mengambil manfaat dan jujur dalam menyikapi masalah ini. Jauh dari praduga pasti bersalah, tidak fair, dan aniaya sesama pejuang Islam. Bersambung …
Wallahu A’lam walillahil ‘Izzah
Catatan dari admin /AZI
1. Sudah banyak terbit buku, catatan, atau informasi di dunia maya yang mengungkap Tema “ Kesesatan Tokoh- Tokoh IM “, seperti Dialog dengan Ikhwani, Menyingkap Syubhat Ikhwanul Muslimin karya Andi Abu Thalib, yang terbaru bahkan sudah ada E-Book gabungan materi kesesatan IM, dan akan diterbitkan lebih dalam kesesatan tentang tokoh-tokoh IM, adalah buku MDMTK Jilid II oleh ustadz Luqman Baabduh (penulis Buku Mereka adalah teroris,MDMTK I). Sebagai suatu nasihat dan kritikan hal tersebut adalah biasa dan wajar, tetapi kami melihat sebagian disana masih tercampur dengan tuduhan, hujatan, yang bersifat dusta, tidak akurat bahkan fitnah ! dan relative terdapat pengulangan yang sama dari buku atau tulisan tulisan tersebut. Yang pasti contoh Ketidaktelitian, kedustaan dapat pembaca lihat dari satu judul kecil diatas yaitu mengenai ustadz Hasan Albanna terkait radikalisme.
2. Tentang Struktur Rahasia IM (tanzhim khas), sebuah struktur yang dibentuk untuk melawan Yahudi, didalam tulisan para penghujat IM, sudah tersebarkan bahwa struktur ini adalah gerombolan pembunuh manusia, meledakkan rumah penduduk dan jembatan, dan juga tuduhan keji lainnya.Masih ingat tuduhan menyatakan bahwa yang membunuh ulama & mujahid salafy syaikh Jamilurahmaan rahimahullah adalah pemuda IM, yang ternyata fakta itu tidak benar, silakan baca penjelasannya dalam buku : “ Siapa Teroris Siapa Khawarij “ karya Ustadz. Abdul Zulfidar halaman 61 s.d 73. Dan berita-berita yang menyebar ini, menjadikan kami tidaklah merasa aneh, ketika dalam sebuah forum milis islam di internet , seorang anak SMP yang baru mengikuti sebuah kajian ilmu dengan santainya mengatakan IM teroris..
;
2. Judul asli dari Penulis (Abu Hudzaifi) adalah “ Tha’nah ‘ala Da’watil Ikhwan wa Rudud ‘alaiha (Tikaman terhadap Da’wah Al Ikhwan dan Jawaban-Jawabannya, dan telah di edit dalam beberapa hal dengan tidak mengurangi maksud dan inti pembahasan
Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah berkata :
“ Berbuat adil adalah merupakan kewajiban baik terhadap musuh maupun terhadap teman , seperti firman Allah :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (an Nahl : 90)
Disini Allah menyuruh kita berbuat Adil kepada siapapun, adil terhadap musuh , kawan, orang mukmin atau orang kafir, tidak boleh menganiaya dan menzhalimi orang lain……. “
(kutipkan sebagian pendapat Syaikh Abdul Aziz Bin Baz ketika ditanya tentang bersikap adil baik terhadap musuh maupun teman, yang merupakan jawaban dari pertanyaan dari Majalah Al Ishlah yang terbit di Emirat Arab dan diterjemahkan dan dimuat di majalah Inthilaq no 15/16-31 oktober 1993)
http://perisaidakwah.com/content/view/44/38/