Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Rabu, 23 Mei 2012/2 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:56 - Shubuh 4:33:20 - Terbit 5:55:23 - Dzuhur 11:49:41 - Ashar 15:11:42 - Maghrib 17:44:02 - Isya' 18:57:35 WIB

Penulis Topik: Diterimakah shalatku yang tidak khusyu' ? ....  (Dibaca 434 kali)


Offline mazande

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 17
  • Lokasi: SUMUT - RIAU
  • Hidup bagai lingkaran
    • Lihat Profil
« pada: 30 November 2007, 12:58:23 »
Shalatku gak pernah tinggal, malah sering kutambah dengan shalat sunat lainnya. Tapi masih saja aku merasa ada yang kurang, khusyu'...

Terkadang kucoba untuk memahami ayat demi ayat yang kubaca, tapi selalu saja ditengah2 bacaanku..konsentrasi tiba-tiba buyar. Aku selalu sedih bila selesai shalat. Ingin ku ulangi lagi shalat itu, tapi emang bisa....?

Shalatku jarang khusyu' , itulah salah satu problem dalam hidupku yang belum dapat kuselesaikan. Bila mengingat itu aku kembali sedih, walaupun sedih dalam hati.

Diterima Allah - kah shalat ku yang tidak khusyu itu  :'(
Hidup bagai lingkaran yang menyatukan tiap komponen dalam setiap kegiatan dunia

Offline ALAN ASYARI

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 197
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 30 November 2007, 13:12:33 »
Masalah Diterima atau gak itu hak prerogatif Allah, tugas kita sebagai makhluk adalah menyembahNya . dan tentu ditambah dengan ilmu.  Sebelum Shalat hendaknya berlindung kepada Allah, Mengikhlaskan Diri dalam melaksanakan shalat serta berzikir di dalam hati. Aqimi Shalatta Lizzikri.
" Aku Ridha Allah Tuhanku, Islam Agamaku, dan Muhammad Nabi dan Rasulku

Offline PahlawanBertopeng

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 950
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 30 November 2007, 13:35:51 »
Subhanallah kalau antum gak pernah tinggal sholat
kalau masalah khusu' ato tidak, itu sepertinya kembali ke diri masing-masing, seperti menciptakan kondisi sholat yang meliputi tempat, bacaan sholat,
saya sarankan antum melihat ayat terjemahan untuk melihat arti dari bacaan sholat, InsyaAllah dengan mengerti artinya sholat antum jadi lebih khusu'

dan saya pernah mendengar bahwa amalan sholat orang yang berilmu lebih baik daripada sholat yang tidak tahu ilmunya sama sekali,
don't judge a book by it's cover

Offline zero_to_hero

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 1.045
  • Jenis kelamin: Pria
  • Hidup adalah Petualangan
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 30 November 2007, 14:15:31 »
Masalah Diterima atau gak itu hak prerogatif Allah, tugas kita sebagai makhluk adalah menyembahNya . dan tentu ditambah dengan ilmu.  Sebelum Shalat hendaknya berlindung kepada Allah, Mengikhlaskan Diri dalam melaksanakan shalat serta berzikir di dalam hati.


ya betul sekali.

kita berbeda dengan sahabat yang hidup pada zaman nabi Muhammad SAW, yang ibadahnya luar biasa. tapi kita harus tetap berusaha untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah.
“SETIAP JUARA SELALU BERFIKIR DAN BERFIKIR DENGAN SEKUAT TENAGA BAGAIMANA CARANYA UNTUK BERHASIL”
“BAGAIMANA MUNGKIN SEORANG JUARA SANTAI-SANTAI

Offline dowi_ax

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 2.582
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 30 November 2007, 20:20:19 »
Khusyu' itu artinya tunduk, takut, dan takluk. Khusyu' dalam sholat itu karena tunduk, takut dan takluk di hadirat Allah. Agar bisa tunduk, takut dan takluk di hadirat Allah maka perlu ilmu Inna yakhsyallah min ibaadihil ulama (Sesungguhnya yang takut kepada ALlah diantara hamba-hambanya adalah ulama). Ilmunya adalah ma'rifatullah, ilmu mengenal Allah, yang diwarisi dari para Nabi.

Jadi silakan terus mengkaji dan mencoba. :)
« Edit Terakhir: 30 November 2007, 20:23:55 oleh dowi_ax »

Offline piter cahyo

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 154
  • Lokasi: semarang
  • Jenis kelamin: Pria
  • futur no way... istiqomah okey...!!!
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 01 Desember 2007, 08:33:09 »
gue rasa nggak loe aja yang ngerasa nggak khusyuk sholatnya. hampir setiap orang ngerasaain apa yang elo rasaain. yang kita bisa cuman berusaha. untuk masalah diterima ato nggak serahin aja semuanya ma alloh.

khan udah ada buku-buku ato bahkan pelatihan sholat khusyuk. bisa tuh dicoba. siapa tahu manjur..?? :)
"akan sulit mengusir ayam dari dalam kamar, seandainya terusirpun kamar akan menjadi kotor dan berantakan. Oleh karena itu, tutup pintu sebelum ayam masuk. Tutup peluang dosa sebelum berbuat"

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #6 pada: 01 Desember 2007, 09:51:24 »
Khusyu' itu artinya tunduk, takut, dan takluk. Khusyu' dalam sholat itu karena tunduk, takut dan takluk di hadirat Allah. Agar bisa tunduk, takut dan takluk di hadirat Allah maka perlu ilmu Inna yakhsyallah min ibaadihil ulama (Sesungguhnya yang takut kepada ALlah diantara hamba-hambanya adalah ulama). Ilmunya adalah ma'rifatullah, ilmu mengenal Allah, yang diwarisi dari para Nabi.

Jadi silakan terus mengkaji dan mencoba. :)
sepakat O0

bertambahnya keimanan seiring dg bertambahnya ilmu....
khusu' adalah tunduk dan taat...so....
jika diperintahkan...segeralah melaksanakan....
jika dipanggil segeralah datang (berjamaah)......

perubahan rasa sifat karakter tergantung sejauhmana hal/perbuatan itu menjadi KEBIASAAN :)
kata pepatah "Bisa karena TERBIASA"....jadi biasakanlah hal2 yg wajib dan baik :)

kebiasaan yg sudah menjadi sifat akan mengikat kita untuk tidak keluar dari sifat/kebiasaan tersebut....
jadi....BERHATI-HATILAH DG KEBIASAAN YANG BURUK!!!"

semakin kita tunduk dan takut...semakin kita menjauh dari hal2 lain yg mempengaruhi pikiran kita....
contoh....sangking takutnya kita ketemu macan....andai kita belum sempat berpakaian...mungkin kita sudah gak peduli lagi dg keadaan kita yg telanjang...yg penting SELAMAT!!!!....:D :D

:)



baru nemu: tips2 untuk solat khusyu
http://myquran.org/forum/index.php/topic,9804.msg194285.html#msg194285
« Edit Terakhir: 01 Desember 2007, 10:11:08 oleh ihsan »
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline buletz

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 94
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 01 Desember 2007, 13:31:27 »
assalamu'alaikum.....
gini manusia itu hanya punya waktu sekitar 7 detik utk konsentrasi penuh.... sedangkan lebihnya itu tergantung kitanya gimana memfokuskan diri....
menurut saya nilai kekhusuan shalat qta ntu tak dapat di nilai, krn itu merupakan kuantitatif.... tetapi kita dpt menilainya dr perbuatan kita.... karena tujuan dr salat sndiri mencegah perbuatan keji dan munkar....
wassalam.....  :p

Offline ^HeHeHe^

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 12.057
  • BOIKOT ADALAH JIHADKU!
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 01 Desember 2007, 13:35:12 »
Sabda Nabi SAW:

Ihsan adalah seakan-akan engkau merasa melihat Allah Subhanahu WaTaala, jika tidak pasti Allah Subhanahu Wa Taala Maha melihat engkau.
Insya Allah bisa diterapkan dalam shalat-shalat kita.

Semoga shalat kita semakin khusyu' dan diterima Allah subhanahu Wataala. insya Allah, amin. :)
Lucu... bagaimana kita MEMPERCAYAI APA KATA KORAN
Namun MEMPERTANYAKAN apa kata Al-QURAN

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #9 pada: 01 Desember 2007, 16:12:31 »
O0
Amin....

Kutip
Ihsan adalah seakan-akan engkau merasa melihat Allah Subhanahu WaTaala, jika tidak pasti Allah Subhanahu Wa Taala Maha melihat engkau.
Seiring melekatnya sifat ihsan....semakin khusu' sholat dan ibadah kita....

Kutip
Insya Allah bisa diterapkan dalam shalat-shalat kita.
sedikit tips dan tambahan.....perbanyaklah doa/permintaan (selain Al-Quran).....
disini maksud saya menimbulkan suasana komunikasi dan sifat merendah/menghamba..

Dari Ali bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Dalam ruku' agungkanlah Rabbmu, sedangkan dalam sujud maka bersungguh-sungguhlah untuk berdoa". Hadits Shahih

Mari perbaiki sholat kita....sholat lah yg pertama kali dihisab dan menjadi tolok ukur amal ibadah yg lain....

Kutip
"Tidak ada seorang muslim pun yang ketika shalat fardhu telah tiba kemudian dia berwudhu' dengan baik dan memperbagus kekhusyu'annya (dalam shalat) serta ru-ku'nya, terkecuali hal itu merupakan penghapus dosanya yang telah lalu selama dia tidak melakukan dosa besar, dan hal itu berlaku sepanjang tahun itu." (HR. Muslim)
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline irfan ali

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 1.523
  • Lokasi: bumi Allah
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • ingin pesan hosting klik
« Jawab #10 pada: 04 Desember 2007, 22:31:20 »
akhi

orang sholat itu harus dermawan tidak boleh kikir

orang sholat itu harus rendah hati , tidak boleh tinggi hati
orang sholat itu harus menjaga hubungan terbaik dengan dirinya sendiri melalui pengendalian diri, tidak boleh ngikuti hawa nafsu

orang sholat itu harus menjaga hubungan terbaik dengan orang lain melalui silaturahmi, tidak boleh musuhan atau membenci

orang sgolat itu harus menjaga hubungan terbaik dengan Allah swt melalui menjalankan segala perintahNya dan menjahui segala laranganNya dengan jalan tabah, sabar dan tawakkal

orang sholat itu, harus istiqomah , tidak boleh plin plan

orang sholat itu harus penuh cinta kasih/mahabbah, tidak boleh penuh dengan kebencian

orang sholat itu harus ikhlas, tidak boleh ragu.

 O0
wahai jamaha jin dan manusia, lintasilah penjuru langit dan bumi, sekali kali kamu tak sanggup melintasinya melainkan dengan sultan [kekuatan].

Offline str skt

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Feb 2007
  • Tulisan: 388
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • http://www.masterkaya.com/?id=satrisakti
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 04 Desember 2007, 23:38:47 »
Assalamu 'alaikum......

Ketika Nabi Shollallahu 'alaihi wa sallam melihat orang yang tidak sempurna shalatnya dan tidak thuma'ninah dalam melaksanakannya, beliau menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya, beliaupun bersabda.
Artinya : Jika engkau hendak mendirikan shalat, sempurnakanlah wudhu, lalu berdirilah menghadap kiblat kemudian bertakbirlah (takbiratul ihram), lalu bacalah ayat-ayat Al-Qur'an yang mudah bagimu, kemudian ruku'lah sampai engkau tenang dalam posisi ruku, lalu bangkitlah (berdiri dari ruku') sampai engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai engkau tenang dalam posisi sujud, lalu bangkitlah (dari sujud) sampai engkau tenang dalam posisi duduk. Kemudian, lakukan itu semua dalam semua shalatmu". [Al-Bukhari, kitab Al-Adzan 757, Muslim kitab Ash-Shalah 397]

Jadi, Jika anda sadar bahwa anda sedang shalat di hadapan Alloh Subhana wa Ta'ala dan bemunajat kepadaNya, maka hal itu akan mendorong anda untuk khusyu' dan konsentrasi ketika shalat, syetan pun akan menjauh dari anda sehingga selamatlah anda dari bisikkannya. O0 O0 O0
Apabila dalam shalat anda terasa banyak godaan, meniuplah tiga kali ke samping kiri dan memohonlah perlindungan Alloh tiga kali dari godaan syetan yang terkutuk, InsyaAlloh hal ini akan membebaskan anda. O0 O0

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyuruh salah seorang sahabatnya melakukan itu, ketika orang tersebut berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya syetan telah menyelinap diantara diriku dan shalatku serta bacaanku, ia mengacaukan shalatku". [Muslim, kitab As-Salam 2203 dari hadits Utsman bin Abu Al-Ash]



Wasallam

Offline Agustin

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 2.493
  • Jenis kelamin: Wanita
  • " Semaikan Benih Keimanan "
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 05 Desember 2007, 07:11:01 »
mudah2an akh  :)
Yang jelas manusia terutama kaum muslim hanya bisa menghadirkan dua rasa ketika melakukan segala bentuk ibadah..yakni rasa khawatir dan rasa berharap...
Khawatir jika ibadah qt tidak diterima oleh 4W1, yang akhirnya rasa ini berujung pada sebuah kehati-hatian dan kesungguhan qt dalam beribadah....
sedangkan rasa harap adalah berharap bahwa ibadah qt akan diterima oleh 4W1 SWT, dan akhirnya rasa ini pula yang berujung pada persangkaan dan keyakinan bahwa 4W1 sedang memperhatikan kita :)

Afwan jika tidak berkenan.. mudah2an nyambung  :)
tetp berusaha!.. O0
" Di akherat kelak akan dihadapkan ke jembatan Shirat,seberapa cepat diri kita menyambut setiap seruan NYa, secepat itulah kita akan menyeberanginya "

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #13 pada: 05 Desember 2007, 11:36:49 »
rasa khawatir dan rasa berharap...O0



Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.(QS. 1:5) 
 ::)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 5
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=1&No=5#5

Di dalam ayat-ayat yang telah disebutkan empat macam dari sifat-sifat Tuhan, yaitu:
Pendidik semesta alam
Maha Pemurah
Maha Penyayang
Dan Yang menguasai hari pembalasan.
Sifat-sifat yang disebutkan itu adalah sifat-sifat kesempurnaan yang hanya Allah sajalah yang mempunyainya. Sebab itu pada ayat ini Allah mengajarkan kepada hamba-Nya bahwa Allah sajalah yang patut disembah, dan kepada-Nya sajalah seharusnya manusia memohonkan pertolongan, dan bahwa hamba-Nya haruslah mengikrarkan yang demikian itu.
"Iyyaka" (hanya kepada Engkaulah).
Susunan ayat-ayat ini membawa pengertian "pengkhususan" yaitu pengkhususan "ibadah" kepada Allah.
Jadi arti ayat ini: "Kepada Engkau sajalah kami tunduk dan berhina diri, dan kepada Engkau sajalah kami memohonkan suatu pertolongan".
Pertolongan yang khusus dimohonkan kepada Allah ialah tentang sesuatu yang di luar kemampuan dan kekuasaan manusia.
"Iyyaka" dalam ayat ini diulang dua kali, gunanya untuk menegaskan bahwa ibadat dan isti`anah itu masing-masing khusus dihadapkan kepada Allah.

Selain dari itu untuk dapat mencapai kelezatan munajat (berbicara) dengan Allah. Karena bagi seorang hamba Allah yang menyembah dengan segenap jiwa dan raganya tak ada yang lebih nikmat dan lezat pada perasaannya daripada bermunajat dengan Allah.

Baik juga diketahui bahwa dengan memakai "Iyyaka" itu berarti menghadapkan pembicaraan kepada Allah, dengan maksud menghadirkan Allah swt. dalam ingatan, seakan-akan Dia berada di muka kita, dan kepada-Nya dihadapkan pembicaraan dengan khusyuk dan tawaduk.

Seakan-akan kita berkata:
"Ya Allah, Zat yang wajibul wujud. Yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan. Yang menjaga dan memelihara semesta alam. Yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya dengan berlipat ganda. Yang berkuasa di hari pembalasan. Engkau sajalah yang kami sembah, dan kepada Engkau sajalah kami meminta pertolongan. Karena hanya Engkau yang berhak disembah dan hanya Engkau yang dapat menolong kami".

Dengan cara yang seperti itu orang akan lebih khusyuk di dalam menyembah Allah dan lebih tergambar kepadanya kebesaran Yang disembahnya itu.
Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya:
أن تعبد الله كأنك تراه
Artinya:
Hendaklah engkau menyembah Allah itu seakan-akan engkau melihat-Nya. (H.R Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab)

Karena surah Al-Fatihah mengandung ayat munajat (berbicara) dengan Allah menurut cara yang diterangkan merupakan rahasia diwajibkan membacanya tiap-tiap rakaat dalam salat, karena itu jiwanya ialah munajat dengan menghadapkan diri dan memusatkan ingatan kepada Allah.

"Na'budu" pada ayat ini didahulukan menyebutkannya dari "nasta`iinu", karena menyembah Allah itu adalah suatu kewajiban manusia terhadap Tuhannya. Tetapi pertolongan dari Tuhan kepada seseorang hamba-Nya adalah hak hamba itu. Maka seakan-akan Tuhan mengajar hamba-Nya supaya menunaikan kewajibannya lebih dahulu, sebelum ia menuntut haknya.

Melihat kata-kata "na`budu" dan "nasta`iinu" (kami menyembah, kami minta tolong), bukan a`budu" dan "asta`iinu" (saya menyembah dan saya minta tolong) adalah untuk memperlihatkan kelemahan manusia itu, dan tidak selayaknya mengemukakan dirinya seorang saja dalam menyembah dan memohon pertolongan kepada Allah, seakan-akan penunaian kewajiban beribadat dan permohonan pertolongan kepada Allah itu belum lagi sempurna kecuali kalau dikerjakan dengan bersama-sama.

Kedudukan tauhid di dalam ibadat dan sebaliknya

Arti "ibadat" sebagai disebutkan di atas ialah tunduk dan berhina diri kepada Allah, yang disebabkan oleh kesadaran bahwa Allah yang menciptakan alam ini, Yang menumbuhkan, Yang mengembangkan, Yang menjaga dan memelihara serta Yang membawanya dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain hingga tercapai kesempurnaannya.
Tegasnya ibadat itu timbulnya dari perasaan tauhid, maka orang yang suka memikirkan keadaan alam ini, yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, bahkan yang mau memperhatikan dirinya sendiri, yakinlah dia bahwa di balik alam yang zahir ada Zat yang gaib yang mengendalikan alam ini, yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, yakni Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Mengetahui dan sebagainya. Maka tumbuhlah dalam sanubarinya perasaan bersyukur dan berutang budi kepada Zat Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Mengetahui itu.

Perasaan inilah yang menggerakkan bibirnya untuk menuturkan puji-pujian, dan yang mendorong jiwa dan raganya untuk menyembah dan berhina diri kepada Allah Yang Maha Kuasa itu sebagai pernyataan bersyukur dan membalas budi kepada-Nya.
Tetapi ada juga manusia yang tidak mau berpikir, dan selanjutnya tidak sadar akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan, sering melupakan-Nya, sebab itulah maka tiap-tiap agama disyariatkan bermacam-macam ibadat, gunanya untuk mengingatkan manusia kepada kebesaran dan kekuasaan Allah itu.
Dengan keterangan ini kelihatanlah bahwa tauhid dan ibadat itu pengaruh-mempengaruhi dengan arti tauhid menumbuhkan ibadat dan ibadat memupuk tauhid.

Pengaruh ibadat terhadap jiwa manusia

Tiap-tiap ibadat yang dikerjakan karena didorong oleh perasaan yang disebutkan itu, niscaya ada kesannya kepada tabiat dan budi pekerti orang yang beribadat itu. Umpamanya orang yang mendirikan salat karena sadar akan kebesaran dan kekuasaan Allah, dan didorong oleh perasaan bersyukur dan berutang budi kepada-Nya, akan terjauhlah dia dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, yang dilarang Allah. Dengan demikian salatnya itu akan mencegahnya dari mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu, sesuai dengan firman Allah swt.:
 
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ
Artinya:
Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (Q.S Al Ankabut: 45)
Begitu juga ibadat puasa. Ibadat ini akan menimbulkan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap orang-orang yang melarat dan miskin pada diri orang yang berpuasa itu. Dan seterusnya dengan ibadat-ibadat yang lain. Tetapi ibadat yang bukan ditimbulkan oleh keyakinan kepada kebesaran dan kekuasaan Allah, dan bukan pula didorong oleh perasaan bersyukur dan berutang budi kepada Allah itu, hanya karena turut-turutan, atau karena memelihara tradisi yang sudah turun-temurun, bukanlah ibadat yang sebenarnya, dan kendatipun dia mempunyai rupa dan bentuk ibadat, tetapi tidak ada mempunyai jiwa ibadat itu, tak ubahnya dengan gambar atau patung, bagaimana pun juga miripnya dengan manusia, tidaklah dinamai manusia. Selanjutnya ibadat yang semacam itu tidak ada kesan dan buahnya kepada tabiat dan akhlak orang yang beribadat itu.

Berusaha berdoa dan bertawakal

"Isti`anah" (memohon pertolongan) sebagai disebutkan di atas khusus dihadapkan kepada Allah, dengan arti bahwa tidak ada yang berhak dimohonkan pertolongannya kecuali Allah.
Dalam pada itu, pada ayat yang lain Allah menyuruh manusia bertolong-tolongan dalam mengerjakan kebaikan. Allah berfirman:
 
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
Artinya:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa. (Q.S Al Ma'idah: 2)
Adakah pertentangan antara dua ayat itu? Tidak
Tercapainya sesuatu maksud, atau terlaksananya suatu pekerjaan dengan baik adalah tergantung kepada cukupnya syarat-syarat yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan itu, dan tidak adanya rintangan-rintangan yang akan menghalanginya.
Manusia telah diberi Allah tenaga, baik yang berupa pikiran maupun yang berupa kekuatan tubuh, untuk dipakai guna mencukupkan syarat-syarat, atau menolak rintangan-rintangan dalam menuju suatu maksud, atau mengerjakan sesuatu pekerjaan. Tetapi ada di antara syarat-syarat itu yang tidak kuasa manusia mencukupkannya, sebagaimana di antara rintangan itu ada yang di luar kekuasaan manusia menolaknya. Begitu pula ada di antara syarat-syarat itu atau di antara halangan-halangan itu yang tidak dapat diketahui. Maka kendatipun menurut pikirannya dia telah mencukupkan semua syarat-syarat yang diperlukan, dan telah menjauhkan semua rintangan-rintangan yang menghalangi, tetapi hasil pekerjaannya itu belum lagi sebagai yang dicita-citakannya. Jadi ada hal-hal yang tidak masuk dalam batas kekuasaan dan kemampuan manusia. Itulah yang dimintakan pertolongan khusus kepada Allah. Sebaiknya tentang sesuatu yang termasuk dalam batas kekuasaan dan kemampuan manusia, dia disuruh bertolong-tolongan, supaya tenaga menjadi kuat, dan agar ada pada masing-masing manusia sifat cinta-mencintai, harga-menghargai, dan gotong-royong.
Dengan perkataan lain, manusia disuruh Allah berusaha dengan sekuat tenaga, dan disuruh tolong-menolong, bantu-membantu. Di samping menjalankan ikhtiar dan usahanya itu, dia harus pula berdoa, memohon taufik, hidayah dan ma`unah. Ini hendaknya dimohonkannya khusus kepada Allah, karena hanyalah Dia yang kuasa memberinya. Sesudah itu semua, barulah dia bertawakal kepada-Nya.
Ibadat itu sendiri pun sesuatu pekerjaan yang berat, sebab itu haruslah dimintakan ma`unah dari Allah supaya semua ibadat terlaksana sebagai yang dimaksud oleh agama. Maka seseorang menuturkan bahwa hanya kepada Allahlah kita beribadat, diikuti lagi dengan pernyataan bahwa kepada-Nya saja minta pertolongan, terutama pertolongan agar amal ibadat terlaksana sebagaimana mestinya. Ayat di atas, sebagai telah disebutkan, mengandung tauhid, karena beribadat semata-mata kepada Allah dan meminta ma`unah khusus kepada-Nya, adalah intisari agama, dan kesempurnaan tauhid.
 
 ::)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 5
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=1&No=5#5
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline fun

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2007
  • Tulisan: 1
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 06 Desember 2007, 08:21:00 »

kayaknya da byk yg ksh komentar mgkn aku cuma bisa nambahin mungkin hampir semua orang ngerasa kalo sholatnya pada ga khusuk,tp yang pasti kita udah berusaha buat khusuk, dan aku rasa kalo kita da brusaha yg terbaik smua hasilnya pasti jd baik. O0
aku pernah baca buku2 pelatihan itu yg penting kita harus nekanin disaat kita sholat itu adalah waktu kita untuk berkomunikasi dengan Allah SWT....
dan kita sdg berhadapan dengan-Nya...dan satu hal jangan jadikan sholat sebagai kewajiban....
moga2 bisa bantuin kamu walo cma dikit. :) aku jg perlu banyak blajar kok dan aku jg blum khusuk kalo sholat.
semakin kita berpikir kita sholat ga pernah khusuk maka kita ga akan pernah khusuk so tenangin aja diri dan ga usah terlalu kepikiran khusuk ato ga. Allah pasti punya penilaian sendiri..... ;)
wassalam..
« Edit Terakhir: 06 Desember 2007, 08:27:41 oleh fun »