Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Rabu, 23 Mei 2012/2 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:56 - Shubuh 4:33:20 - Terbit 5:55:23 - Dzuhur 11:49:41 - Ashar 15:11:42 - Maghrib 17:44:02 - Isya' 18:57:35 WIB

Penulis Topik: KEUTAMAAN HAJI & UMRAH  (Dibaca 3574 kali)


Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« pada: 28 November 2007, 23:05:02 »
بسم االله الرحمن الرحيم


PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah, kepadan-Nya kita memuji, memohon pertolongan dan ampunan. KepadaNya kita memohon perlindungan agar dijaga dari keburukan jiwa dan perbuatan. Orang yang memperoleh hidayah Allah tidak akan tersesat dan orang yang disesatkan Allah tidak ada orang yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagiNya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu hamba Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman :

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون 

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali-Imran : 102).


]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[ (1) سورة النساء

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang (dengan namaNya) kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah senantiasa menjaga dan mengawasimu.” (An-Nisaa” : 1).


]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[ سورة الأحزاب

“Wahai  orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berkatalah yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki perbuatanmu serta mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa taat kepada Allah dan RasulNya maka ia beruntung dangan keuntungan yang agung.” (Ahzab : 70-71).

Selanjutnya, bahwa perkataan yang paling benar adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam seburuk-buruk masalah adalah masalah yang diada adakan. semua yang diada-adakan adalah bid’ah, semua yang bid’ah sesat dan semua yang sesat akan membawa ke neraka.

Pembukaan khutbah ini selalu diucapkan oleh Nabi Shallallahu'alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Dalam tread ini, sedikit ikut berpartisipasi mengetengahkan kehadapaan para pembaca tentang keutamaan ibadah haji & umrah secara ringkas serta kegiatan apa saja yang di kerjakan selam haji & umrah secara ringkas pula yang ana nukilkan dari kutaib bimbingan untuk pribadi & masyarakat muslim karya as syeikh muhammad zamil zainu ...........



KEUTAMAAN HAJI DAN UMRAH

 

1.      Allah ta'ala berfirman :

] ولله على الناس حج البيت من  استطاع إليه سبيلا ومن كفر فإن الله غني عن العلمين [

“Mengerjakan  haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu (bagi) orang yang sanggup melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan) dari semesta alam.” (Ali-Imran : 97)

2.      Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :

“Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak mempunyai pahala selain surga.” (Muttafaq alaih).

3.      Rasululloh bersabda :

“Baragsiapa melakukan haji tanpa berbuat keji dan tidak fasiq, maka ia kembali tidak berdosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya.” (Muttafaq alaih).

4.      Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :

“Ikutilah saya dalam ibadah haji kalian.” (Riwayat Muslim).

5.      Segeralah melaksanakan ibadah haji jika anda sudah cukup mempunyai bekal pulang pergi tanpa perlu memikirkan pembiayaan selain haji seperti membeli hadiah, permen dan lain sebagainya karena Allah tidak menerimanya. Segeralah pergi haji sebelum jatuh sakit, miskin atau mati dalam keadaan ingkar kepada Allah, karena haji merupakan salah satu rukun Islam.

6.      Harta yang dipakai untuk melaksanakan ibadah haji dan  umrah harus halal sehingga ibadah haji dan umrah tersebut dapat diterima oleh Allah.

7.      Haram  bagi wanita pergi haji tanpa disertai muhrimnya, karena Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :

“Dan janganlah wanita pergi kecuali daengan muhrimnya.” (Muttafaq alaih).


8.      Damailah dengan lawanmu, bayar hutangmu, nasehati keluargamu agar tidak berlebih-lebihan dalam berhias, kendaraan, makanan manisan, pemotongan kurban dan lain sebagainya, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an :

] كلوا واشربوا ولا تسرفوا[

“Makanlah, minumlah dan jangan kamu berlebih-lebihan.” (Ah-A’raf : 30).

9.      Haji merupakan konferensi besar bagi umat Islam untuk saling berkenalan, berkasih-kasihan dan saling membantu untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan mereka dan agar mereka menyaksikan manfaat bagi mereka dalam urusan agama dan dunia.

10.Yang penting sekali, agar kamu dapat menyelesaikan kesulitan kamu dengan minta pertolongan dan berdo’a hanya kepada Allah semata. Allah berfirman :

]قل إنما أدعو ربي ولا أشرك به أحدا[

“Katakanlah : sesunguhnya aku hanya berdo’a kepada Tuhanku dan aku tidak  mempersekutukan sesuatupun denganNya.” (Al-Jin : 20).

11.Umrah bisa dilaksanakan seetiap waaktu, tapi jika dilaksanakan pada bulan Ramadhan lebih utama, sebagaimana sabda Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam :

قال رسول الله  عمرة رمضان تعدل حجة. متفق عليه.

“Umrah pada bulan Ramadhan seimbang nilainya dengan haji.” (Muttafaq alaih).

12.Shalat di masjid Ka’bah lebih baik dari seratus ribu shalat di tempat lain, sebagaimana sabda Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam :

صلاة في مسجدي أفضل من ألف صلاة فيما سواه من المساجد إلا مسجد الكعبة. رواه مسلم.

“Shalat di masjidku lebih utama dari seribu shalat di  masjid lain kecuali masjid Ka’bah.” (Riwayat Muslim).

     Sabda beliau juga :

وصلاة في المسجد الحرام أفضل من صلاة في مسجدي هذا بمائة صلاة. صحيح رواه أحمد

“Shalat di masjid haram lebih utama seeratus kali daripada shalat di  masjidku.” (Riwayat Ahmad)

     jadi 1000 x 100 shalat = 100.000 shalat.

13.Hendaklah anda mengerjakan haji tamattu’, yaitu umrah, lalu tahallul, kemudian haji. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu'alaihi wasallam :

“Wahai pengikut Muhammad, barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan  haji maka supaya memulai dengan umrah dalam hajinya itu.” (riwayat ibnu Hibban dan dinyatakan shahih oleh Al-Albabani)
 

PEKERJAAN DALAM UMRAH

 
1.      Ihram : pakailah pakaian ihram di miqat([1]) sambil mengucapkan :

لبيك اللهم عمرة
     “Dan keraskan suaramu dengan membaca talbiyah”

لبيك اللهم لبيك

2.      Tawaf ; jika anda sudah sampai di Makkah, pergilah ke masjid Haram dan lakukan tawaf keliling Ka’bah tujuh kali dimulai dari Hajar Aswad sambil mengucapkan :

بسم الله والله أكبر

Ciumlah Hajar Aswad jika dapat, kalau tidak dapat maka tunjuklah dengan jari-jari kananmu.. usaplah rukun Yamani dengan tangan kananmu setiap  kali kalau dapat, tanpa mencium atau menunjuk dengan jari-jari tangan. Ucapkanlah antaran dua rukun  (Yamani dan Hajar Aswad) do’a berikut ini :

ربنا آتنا في الدنيا حسنة  وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

kemudian shalatlah dua rakaat di belakang maqam Ibrahim dengan membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan membaca surat Al-Ikhlas pada rakaat ke dua.

 

3.      Sa’i : naiklah ke shafa. Menghadaplah ke kiblat sambil mengangkat tangan ke langit dan mengucapkan :

إن الصفا والمروة من شعائر الله. أبدأ بما بدأ الله به.

“dan bertakbiralah tiga kali, tanpa menunjuk dengan jari-jari tangan, kemudian ucapkan tiga kali kalimat berikut :

لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير  لا إله إلا الله وحده أنجز وعده وصدق وعده وهزم الأحزاب وحده.

Ucapkan hal ini di shafa dan marwa berkali-kali dengan do’a. berjalan cepat antara shafa dan marwa antara dua garis hijau. Sa’i dilakukan tujuh kali, berangkat dihitung sekali dan pulang dihitung sekali.

4.      Cukurlah semua rambutmu atau potonglah pendek. Bagi wanita cukup dipotong sedikit saja. Hal ini disebut tahallul.

 

PEKERJAAN DALAM HAJI([2])


     Ihram, bermalam di Mina, Wukuf di Arafah, bermalam di muzdalifah, melempar  jumrah, menyembelih kurban, memotong rambut, Tawaf dan Sa’i.

1.      Berpakaianlah pakaian ihram di Makkah pada hari ke tujuh pada bulan Zul Hijjah sambil mengucapkan :

لبيك اللهم حجة.

     Pergi ke mina dan bermalam di sana, kemudian shalat lima waktu dengan di qashar sehingga shalat zuhur, Asar dan Isya’ kamu kerjakan masing-masing dua rakaat, pada waktunya.

2.      Pergi ke Arafah pada hari ke sembilan setelah terbit matahari, shalat dzuhur dan Asar di jama’ taqdim dengan sekali azan dua iqomat tanpa shalat sunnat. Perhatikan bahwa kamu benar-benar berada di Arafah, sedang dalam keadaan tidak berpuasa, mengucapkan talbiyah dan hanya memanggil Allah semata, karena wuquf di Arafah merupakan rukun yang paling pokok.

3.      Tinggalkan Arafah setelah tenggelam matahari dengan tenang menuju muzdalifah. Shalat maghrib dan isya’ dengan jama’ ta’khir. Bermalam di muzdalifah  untuk dapat shalat subuh dan dzikir kepada Allah di Masy’aril haram. Bagi kaum lemah diperbolehkan untuk tidak bermalam([3]).

4.      Tinggalkan Muzdalifah sebelum terbit matahari dengan berangkat menuju ke Mina pada hari raya dan lemparlah jumrah kubra dengan tujuh batu kerikil sambil bertakbir, waktunya setelah terbit matahari sampai malam.

5.      Potonglah kurban di Mina atau di Makkah pada hari raya dan tasyriq, makanlah daging kurban tersebut dan berikan kepada kaum fuqara. Jika tidak bisa membeli kurban, maka berpuasalah tiga hari pada waktu haji dan tujuh hari jika kamu telah  pulang ke keluargamu. Seorang perempuan mempunyai kewajiban menyembelih kurban atau berpuasa sama dengan kewajiban lelaki. Dan ini untuk tamattu’.

6.      Cukurlah rambutmu atau potong pendek dan mencukur semua rambut lebih utama. Kemudian berpakaianlah dengan pakaian biasa, dan dihalalkan bagimu segala sesuatu kacuali bergaul dengan perempuan.

7.      Kembalilah ke Makkah, melakukan tawaf tujuh kali, dan sa’i antara shafa dan Marwa tujuh kali (pergi dihitung sekali dan pulang dihitung sekali). Setelah itu kamu boleh lagi bergaul dengan isterimu. Boleh juga mengakhirkan thawaf sampai hari tasyriq yang terakhir.

8.      Kembalilah ke Mina pada hari raya dan wajib bermalam di sana. Kemudian lemparlah ketiga jumrah dimulai dari jumrah kecil setiap hari setelah zuhur sampai malam dengan tujuh kerikil pada setiap jumrah. Setiap melemparkan satu kerikil mengucapkan takbir dan tahu bahwa lemparannya  jatuh pada sasaran, jika tidak sampai agar diulangi. Disunatkan  untuk wuquf setelah melempar jumrah sughra dan wustha untuk berdo’a dengan mengangkat kedua belah tangan. Diperbolehkan bagi kaum wanita, orang-orang sakit, anak-anak kecil dan orang-orang yang lemah untuk mewakilkan kepada orang lain dalam melempar jumrah tersebut. Sebagaimana diperbolehkan mengakhirkan waktu melempar jumraah sampai  hari kedua atau ketiga dalam keadaan terpaksa.

9.      Tawaf wada’ adalah wajib, dan bepergian dilakukan langsung setelah tawaf wada’ (bagi yang meninggalkannya wajib membayar dam begitu juga bagi yang tidak melempar jumrah atau tidak bermalam. Pent.).

 

ADAB-ADAB DALAM  HAJI DAN UMRAH

 

1.      Ikhlaskan hajimu hanya untuk Allah semata sambil mengucapkan :

اللهم هذه حجة لا رياء فيها ولا سمعة

2.      Kawanilah para ahli kebaikan dan berbaktilah kepada mereka serta sabarlah terhadap gangguan tetanggamu.

3.      Waspadalah dalam mengisap dan membeli rokok. Hal itu adalah haram, membahayakan badan, tetangga, harta dan merupakan maksiat kepada Allah.

4.      Pergunakanlah siwak ketika shalat dan ambillah siwak, air zam-zam dan korma sebagai hadiah, karena banyak hadits-hadits shahih yang menyebutkan keutamaannya.

5.      Waspadalah dalam menyentuh kaum wanita dan melihat kepada mereka. Tutupilah isterimu dari kaum lalaki.

6.      Janganlah melangkahi kepala orang yang shalat sehingga menyakiti mereka, dan duduklah sedekat mungkin.

7.      Hati-hati lewat di depan orang yang sedang shalat meskipun di tanah Haram, karena itu merupakan parbuatan setan.

8.      Perlahan-lahanlah dalam shalatmu, dan shalatlah menghadap ke pembatas (seperti tembok, punggung orang atau tas) dan pembatas makmum cukup dengan imam mereka.

9.      Berlemah lembutlah dengan orang-orang di sekitarmu ketika tawaf, sa’i, melempar jumrah dan mencium hajar aswad, karena hal itu diperintahkan.

10.Janganlah berdo’a kepada selain Allah seperti kepada orang-orang yang sudah mati karena hal itu perbuatan syirik yang dapat membatalkan haji dan amal baik. Allah berfirman :

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) سورة الزمر.


“Jika kamu mempersekutkan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar : 65).

 

SOPAN SANTUN DI MASJID NABAWY

 

1.      Jika kamu memasuki masjid dahulukan kaki kanan dan ucapkanlah :


اللهم صل على محمد اللهم افتح لي أبواب رحمتك

“Ya Tuhanku, berilah shalawat kepada Nabi Muhammad. Ya Alloh bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmatMu.”

2.      Lakukanlah shalat tahiyatul masjid dau rakaat dan sampaikanlah salam kepada Rasul sambil mengucapkan :

السلام  عليك يا رسول الله السلام عليك يا أبا بكر السلام عليك يا عمر.

     Kemudian menghadaplah kiblat ketika berdo’a.

     Dan ingatlah sabda beliau :

“Jika kamu meminta sesuatu mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon petolongan mohonlah kepada Allah.” (hadits hasan shahih, riwayat Turmudzi)

3.      Menziarahi masjid Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam dan menyampaikan salam kepadanya adalah mustahab, tidak menentukan sahnya haji dan tidak mempunyai waktu tertentu.

4.      Janganlah menyentuh atau mencium jendela atau dinding atau yang lain karena hal itu diharamkan.

5.      Berjalan mundur ketika meninggalkan masjid Nabawi adalah bid’ah, tidak ada dalil yang mendasarinya.

6.      Perbanyaklah mengucapkan shalawat atas Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam karena sabdanya :

قال رسول الله  من صلى علي واحدة صلى الله عليه بها عشرا. رواه مسلم

7.      Dianjurkan ziarah ke kuburan bagi’ dan para syuhada uhud, bukan ke masjid sab’ah (tujuh Masjid).

8.      Bepergian ke Madinah hendaknya dengan niat ziarah masjid Nabawy dan mengucapkan salam kepada Nabi ketika masuk, karena shalat di masjid Nabi Shallallahu'alaihi wasallam lebih utama seribu shalat daaripada shalat di masjid yang lain, dan sabda Nabi r:

“Tidak boleh bepergian dengan persiapan safar kecuali ke tiga masjid, yaitu : Masjid Al-Haram, Masji Al-Aqsha, dan masjidku ini.” (hadits Muttafaq alaih).

 



--------------------------------------------------------------------------------

Miqat bagi orang Syam : Juhfah (Rabigh), bagi orang Nejed : Qarnul manazil, bagi orang yaman : Yalamlam, bagi orang Mmadinah : Dzul Hulaifah (Abyar Ali), bagi orang Iraq : Dzat ‘Irq. Dan miqat ini berlaku bagi siapa saja yang melewatinya.

[2] )Haji tamattu’ ialah yaitu berihram dengan niat umrah pada bulan haji, lalu tahallul. Kemudian pada tanggal 8 Dzulhijjah berihram untuk haji. Ini yang lebih mudah dan paling utama, dan inilah yang deperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam kepada para sahabat dengan sabdanya : “Barangsiapa di antara kalian yang tidak membawa binatang kurban maka supaya bertahallul dan menjadikannya sebagai umrah.” (riwayat Mulslim).

[3] )dengan meninggalkan Muzdalifah setelah pertengahan malam

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #1 pada: 29 November 2007, 00:23:17 »
ARTIKEL BERKAITAN :
DARI www.alsofwah.or.id 


Tata Cara Haji, Umrah dan Hukum Shalat di Masjid Nabawi
oleh : Yusuf bin Abdullah bin Ahmad Al-Ahmad
 
Segala sanjung puji kita haturkan ke hadirat Allah, Rabb yang kepadaNya kita senantiasa menyembah dan meminta pertolongan. Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada kekasih kita, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga dan segenap sahabatnya. Amin.

Menunaikan ibadah haji adalah sesuatu yang amat dirindukan oleh setiap umat Islam, bahkan oleh yang telah menunaikannya berkali-kali sekalipun.Karena itu, bagi yang dimudahkan Allah untuk bisa menunaikan ibadah haji tahun ini agar meng-gunakan kesempatan emas itu dengan sebaik-baiknya. Sebab, belum tentu kesempatan menunaikan ibadah haji itu datang kembali.

Agar bisa beribadah haji dengan sebaik-baiknya, sekhusyu'-khusyu'nya dan menjadi haji mabrur, di samping harus ikhlas kita harus memiliki ilmu yang cukup seputar bagaimana menjalankan ibadah haji sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Rubrik ini memberikan pedoman bagaimana menunaikan haji sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan kata lain, semuanya berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih, sesuai pemahaman Salaf (sahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in), pemahaman yang dengannya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan kita dalam memahami agama.

Tulisan ini pada awalnya adalah tulisan harian yang dibuat secara berseri sesuai dengan apa yang harus dilakukan oleh jamaah haji pada hari itu. Tulisan-tulisan tersebut kemudian dibagikan kepada jamaah haji di sana dan mendapat tanggapan yang sangat baik dari jamaah haji.
Di samping memberikan tuntunan manasik haji yang benar, rubrik ini juga memperingatkan kita untuk menghindari pekerjaan-pekerjaan yang bisa merusak ibadah haji, yang ironinya banyak dilakukan jamaah haji.

Sungguh, banyak orang yang menyesal setelah menunaikan ibadah haji. Menyesal karena menunaikan ibadah haji tanpa ilmu, atau menyesal karena kurang bersungguh-sungguh dalam beribadah di tempat yang amat mulia tersebut, menyesal karena kurang memperhatikan sunnah dsb. Maka, sebelum hal itu terjadi pada diri Anda, bacalah rubrik ini. Insya Allah , dengan demikian Anda akan memiliki bekal sebaik-baiknya dalam menunaikan ibadah haji.

Sebagai catatan, hingga saat ini, hampir setiap umat Islam memiliki gambaran bahwa haji adalah ibadah yang sulit dan rumit. Gambaran itu tak lepas dari cara penyajian dan sistimatika pembahasan buku-buku tentang haji yang beredar selama ini. Belum lagi kesulitan-kesulitan itu memang ada yang sengaja dibuat, misalnya masalah do'a-do'a khusus pada setiap amalan, padahal Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengajarkannya. Juga amalan-amalan tertentu yang tidak ada dasarnya, baik dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah yang shahih.

Insya Allah gambaran bahwa haji itu sulit akan hilang dari benak Anda setelah membaca rubrik ini. Rubrik ini tentu sangat membantu, karena menuntun Anda secara runut apa yang harus Anda lakukan pada hari-hari haji. Misalnya, ketika hari Tarwiyah, Arafah, hari Raya, apa saja yang harus Anda lakukan, Anda bisa baca dalam buku ini, dan demikian seterusnya.
Lebih dari itu, rubrik ini akan menuntun Anda menunaikan haji sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam . Maka tak berlebihan jika dikatakan, rubrik ini adalah rubrik pedoman haji yang sangat sistimatis, mudah, praktis dan lengkap.
Akhir kata, semoga haji kita diterima Allah Subhannahu wa Ta'ala. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan segenap sahabatnya. Amin.

MUQADDIMAH
 
Pertama: Haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Ia wajib dilakukan sekali seumur hidup, berdasarkan firman Allah:
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (Ali Imran: 97).

Dan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
 
"Islam itu dibangun di atas lima perkara; bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa (di bulan) Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah." (Muttafaq Alaih).

Haji diwajibkan dengan lima syarat:
1.   Islam.
2.   Berakal.
3.   Baligh.
4.   Merdeka.
5.   Mampu.
6.   Dan bagi perempuan ditambah dengan satu syarat yaitu adanya mahram yang pergi bersamanya. Sebab haram hukumnya jika ia pergi haji atau safar (bepergian) lainnya tanpa mahram, berdasarkan sabda Nabi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
 
"Tidak (dibenarkan seorang) wanita bepergian kecuali dengan mahramnya." (Muttafaq Alaih).
Jika seorang wanita pergi haji tanpa mahram maka ia berdosa tetapi hajinya tetap sah.
Syarat kelima yakni mampu, meliputi kemampuan materi dan fisik. Barangsiapa tidak mampu dengan hartanya untuk memenuhi biaya perjalanan, nafkah haji dan sejenisnya maka ia tidak berkewajiban haji. Adapun orang yang mampu secara materil, tetapi tidak mampu secara fisik dan jauh harapan sembuhnya, seperti orang yang sakit menahun, orang yang cacat atau tua renta maka ia harus mewakilkan hajinya kepada orang lain. Dan disyaratkan orang yang mewakilinya sudah haji untuk dirinya sendiri.

Kedua: Allah berfirman:
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimak-lumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan." (Al-Baqarah: 197).
Rafats adalah bersetubuh atau yang merangsang kepadanya, berbuat fasik artinya berbuat maksiat, sedang yang dimaksud berbantah-bantahan adalah berbantah-bantahan secara batil atau berbantah-bantahan yang tidak ada manfaatnya, atau yang bahayanya lebih besar dari manfaatnya.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
 
"Barangsiapa menunaikan haji sedang ia tidak melakukan rafats dan perbuatan fasik maka ia pulang (haji) sebagaimana hari ketika ia dilahirkan ibunya." (Muttafaq Alaih).
 
"Umrah ke umrah lainnya adalah kaffarah (peng-hapus dosa) antara keduanya, dan haji mabrur tiada lain balasannya selain Surga." (Muttafaq Alaih).
Karena itu wahai Saudara Haji, waspadalah dari terperosok ke dalam maksiat, baik yang besar maupun yang kecil. Seperti mengakhirkan shalat dari waktunya, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), mencaci dan menghina, mendengarkan nyanyian, men-cukur jenggot, isbal (menurunkan atau memanjangkan pakaian/kain hingga di bawah mata kaki), merokok, melihat kepada yang haram di jalan atau di telivisi. Kemudian bagi wanita, hendaknya menutupi semua tubuhnya dengan hijab syar'i (kain penutup yang di-syari'atkan) serta menjauhkan diri dari memperlihatkan aurat.
Dengan banyaknya manusia, desak-desakan dan lelah, terkadang seseorang diuji dengan berbantah-bantahan yang dilarang dalam haji. Misalnya dengan petugas lalu lintas atau sopir mobil umum; ketika berdesak-desakan saat thawaf atau ketika melempar jumrah. Waspadalah dari godaan dan tipu daya setan. Berusahalah untuk selalu bersikap lembut, sabar dan berpaling dari orang-orang bodoh. Usahakan untuk tidak keluar dari lisanmu kecuali ucapan-ucapan yang baik.

Ketiga: Ketika haji, sebagian wanita tidak mengenakan jubah wanita dan ia berjalan di antara laki-laki dengan pakaiannya. Terkadang pula ia memakai celana panjang. Ia mengira bahwa hijab itu hanyalah sebatas meletakkan kerudung di atas kepala. Ini adalah pemahaman yang keliru. Lebih parah lagi, sebagian wanita pada hari Raya berhias dan berjalan di depan laki-laki dengan mengenakan pakaian yang indah. Ia mengira bahwa itu adalah bagian dari kegembiraan hari Raya. Ia tidak memahami bahwa perbuatannya itu termasuk kefasikan yang besar dalam ibadah haji. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
 
"Aku tidak meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada (fitnah) wanita." (Muttafaq Alaih).
Sebagian wanita ada juga yang menganggap remeh masalah tidur di tempat-tempat umum yang membuat laki-laki bisa melihat mereka.
Adalah wajib bagi wanita muslimah untuk bertaq-wa kepada Allah dan membatasi diri dari laki-laki asing (bukan mahram) dengan mengenakan baju kurung lebar yang tidak ada perhiasannya, sehingga tak kelihatan sesuatu pun dari (anggota badan)nya, baik wajah, tangan atau kakinya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
 
"Wanita adalah aurat. Jika ia keluar maka setan mengawasi/mengincarnya." (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih).
 
Pada asalnya, istisyraf (mengincar) berarti meletakkan telapak tangan di atas alis mata serta mendongakkan kepala untuk melihat. Maknanya sesuai konteks hadits di atas- adalah jika wanita keluar rumah maka setan mengincarnya untuk menggodanya atau menggoda (laki-laki) dengan dirinya.

Keempat: Jika seorang muslim melakukan ihram haji atau umrah maka haram atasnya sebelas perkara sampai ia keluar dari ihramnya (tahallul):
1.   Mencabut rambut.
2.   Menggunting kuku.
3.   Memakai wangi-wangian.
4.   Membunuh binatang buruan (darat, adapun bina-tang laut maka dibolehkan).
5.   Mengenakan pakaian berjahit (bagi laki-laki dan tidak mengapa bagi wanita). Pakaian berjahit adalah pakaian yang membentuk badan, seperti baju, kaos, celana pendek, gamis, celana panjang, kaos tangan dan kaos kaki. Adapun sesuatu yang ada jahitannya tetapi tidak membentuk badan maka hal itu tidak membahayakan muhrim (orang yang sedang ihram), seperti sabuk, jam tangan, sepatu yang ada jahitan-nya dsb.
6.   Menutupi kepala atau wajah dengan sesuatu yang menempel (bagi laki-laki), seperti peci, penutup kepala, surban, topi dan yang sejenisnya. Tetapi dibolehkan berteduh di bawah payung, di dalam kemah dan mobil. Juga dibolehkan membawa barang di atas kepala jika tidak dimaksudkan untuk menutupinya.
7.   Memakai tutup muka dan kaos tangan (bagi wanita). Tetapi jika di depan laki-laki asing (bukan mahram) maka ia wajib menutupi wajah dan kedua tangannya, namun dengan selain tutup muka (cadar), misalnya dengan menurunkan kerudung ke wajah dan memasukkan tangan ke dalam baju kurung.
8.   Melangsungkan pernikahan.
9.   Bersetubuh.
10.   Bercumbu (bermesraan) dengan syahwat.
11.   Mengeluarkan mani dengan onani atau bercumbu.

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #2 pada: 29 November 2007, 00:29:50 »
Orang Yang Melakukan Hal-hal Yang Dilarang Memiliki Tiga Keadaan:
1.  Ia melakukannya tanpa udzur (alasan), maka ia berdosa dan wajib membayar fidyah (tebusan).

2.  Ia melakukannya untuk suatu keperluan, seperti memotong rambut karena sakit. Perbuatannya ter-sebut dibolehkan, tetapi ia wajib membayar fidyah.

3. Ia melakukannya dalam keadaan tidur, lupa, tidak tahu atau dipaksa. Dalam keadaan seperti itu ia tidak berdosa dan tidak wajib membayar fidyah.

Jika yang dilanggar itu berupa mencabut rambut, menggunting kuku, memakai wangi-wangian, bercumbu karena syahwat, laki-laki mengenakan kain yang berjahit atau menutupi kepalanya, atau wanita memakai tutup muka (cadar) atau kaos tangan maka fidyah-nya antara tiga hal. Orang yang melakukan pelanggaran itu boleh memilih salah satu daripadanya:
1.  Menyembelih kambing (untuk dibagikan kepada orang-orang fakir miskin dan ia tidak boleh memakan sesuatu pun daripadanya).
2.  Memberi makan enam orang miskin, masing-masing setengah sha' makanan. (setengah sha' lebih kurang sama dengan 1,25 kg.).
3.  Berpuasa selama tiga hari.
 
Dari larangan-larangan di atas, dikecualikan hal-hal berikut ini:
1.  Melangsungkan pernikahan, sebab ia hukumnya haram, maka tidak ada fidyah karenanya.
2.  Membunuh binatang buruan (darat), sebab ia hukumnya haram, dan terdapat denda jika ia membunuhnya secara sengaja.
3.  Bersetubuh (dan ia adalah larangan yang paling besar).

Jika ia melakukannya secara sengaja sebelum tahallul pertama, maka ada lima konsekuensi:
a.   Berdosa
b.   Hajinya batal.
c.   Ia wajib menyempurnakan hajinya.
d.   Ia wajib mengulangi (men-qadha') hajinya pada tahun depan.
e.   Ia wajib membayar fidyah berupa seekor unta yang disembelih ketika melakukan haji qadha'.

Kelima: Haji ada tiga jenis; tamattu', qiran dan ifrad.
 Yang paling utama adalah haji tamattu', karena perintah Nabi J terhadapnya.
Haji tamattu' yaitu ia melakukan ihram dengan niat umrah saja pada bulan haji, setelah selesai melakukannya ia lalu melakukan ihram dengan niat haji pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah, pen.).

Haji ifrad yaitu ia melakukan ihram dengan niat haji saja, ketika sampai di Makkah ia melakukan thawaf qudum, kemudian langsung melakukan sa'i haji setelah thawaf qudum .

Haji qiran yaitu ia melakukan ihram dengan niat umrah dan haji sekaligus. Pekerjaan orang yang menunaikan haji qiran sama dengan pekerjaan haji ifrad , kecuali dalam dua hal:
1. Niat. Orang yang melakukan haji ifrad hanya meniatkan haji saja, sedangkan orang yang menunaikan haji qiran meniatkan untuk umrah dan haji (secara bersamaan).
2. Hadyu (menyembelih kurban). Orang yang menunaikan haji qiran wajib menyembelih kurban, sedangkan orang yang menunaikan haji ifrad tidak wajib hadyu (menyembelih kurban

BERSAMBUNG ISNYA ALLAH ......................

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #3 pada: 29 November 2007, 00:43:28 »
TATA CARA UMRAH
 
Pertama: Ihram dari miqat.
Mandilah lalu usapkanlah minyak wangi ke bagian tubuhmu, misalnya ke rambut dan jenggot. Jangan mengusapkan minyak wangi ke pakaian ihram. Jika pakaian ihram terkena minyak wangi maka cucilah. Hindarilah pakaian yang berjahit. Kenakan selendang dan kain putih, juga sandal. (Payung, kaca mata, cincin dan sabuk boleh dikenakan oleh orang yang sedang ihram).

Adapun bagi wanita, maka ia mandi meskipun haid, lalu mengenakan pakaian yang ia kehendaki, tetapi harus memenuhi syarat hijab, sehingga tidak tampak sesuatu pun dari bagian tubuhnya. Juga tidak berhias dengan perhiasan dan tidak memakai minyak wangi serta tidak menyerupai laki-laki.
Jika Anda tidak mampu berhenti di miqat seperti yang melakukan perjalanan dengan pesawat terbang maka mandilah sejak di rumah, lalu jika telah mendekati miqat mulailah ihram dan ucapkanlah:
لبيك عمرة
"Labbaika 'Umratan" artinya :
"Aku penuhi panggilanMu untuk menunaikan ibadah umrah."
Jika Anda khawatir tidak bisa menyempurnakan ibadah haji karena sakit atau lainnya maka ucapkan:
 
"Fa in habasanii haabisun famahallii haitsu habastanii" artinya :
"Jika aku terhalang oleh suatu halangan maka tempat (tahallul)ku adalah di mana Engkau menahanku."

Lalu mulailah mengucapkan talbiyah hingga sampai ke Makkah. Talbiyah hukumnya sunnah mu'akkadah (ditekankan), baik untuk laki-laki maupun wanita. Bagi laki-laki disunnahkan untuk mengeraskan suara talbiyah, dan tidak bagi wanita. Talbiyah yang dimaksud adalah ucapan:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
 
"Labbaika Allahumma labbaika, Labbaika Laa Syariika laka labbaika, innal hamda wanni'mata laka wal mulka, laa syariika laka"
"Aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu. Aku penuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu, aku penuhi panggilanMu. Sesungguh-nya segala pujian dan nikmat serta kerajaan adalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu."

Disunnahkan mandi sebelum masuk Makkah, jika hal itu memungkinkan.

Peringatan:
1.  Sebagian orang mempercayai bahwa pakaian yang dikenakan wanita haruslah berwarna tertentu, misalnya hijau, hitam atau putih. Ini adalah tidak benar! Sungguh tidak ada ketentuan sedikit pun tentang warna pakaian yang harus dikenakan.

2.  Talbiyah yang dilakukan secara bersama-sama dengan satu suara -di mana hal ini dilakukan oleh sebagian jamaah haji adalah bid'ah. Perbuatan tersebut tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, juga tidak dari salah seorang sahabatnya. Yang benar adalah hendaknya setiap Haji mengucapkan talbiyah sendiri-sendiri.

3.  Tidak diharuskan seorang yang sedang ihram, baik laki-laki maupun wanita mengenakan terus pakaian yang ia kenakan ketika ihram sepanjang ibadahnya, tetapi dibolehkan ia menggantinya kapan dia suka.

4.  Hendaknya setiap Haji benar-benar memper-hatikan masalah menutup aurat, sebab sebagian laki-laki terkadang auratnya terbuka di depan orang lain, misalnya ketika duduk atau tidur, sedang dia tidak merasa.

5. Sebagian wanita mempercayai dibolehkannya membuka wajah di depan laki-laki selama masih dalam keadaan ihram. Ini adalah keliru! Ia wajib menutupi wajahnya. Di antara dalil masalah ini adalah ucapan Aisyah radhiallahu anha:
 
"Dahulu ada kafilah yang melewati kami, sedang kami dalam keadaan ihram bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika mereka telah dekat dengan kami, salah seorang dari kami mengulurkan jilbabnya ke wajahnya, dan ketika mereka telah lewat, kami membukanya kembali." (HR. Ahmad dan Abu Daud dengan sanad hasan).

Dan dari Asma' binti Abi Bakar radhiallahu anha, ia berkata:
 
"Kami menutupi wajah kami dari (penglihatan) laki-laki dan sebelumnya kami menyisir rambut ketika ihram." (Dikeluarkan Al-Hakim dan lainnya, atsar ini shahih).

Kedua: Jika Anda telah sampai di Masjidil Haram, dahulukanlah kaki kananmu dan ucapkan (do'a):

بسم الله و الصلاة و السلام على رسول الله اللهم افتح لي أبواب رحمتك " أعوذ بالله العظيم و بوجهه  الكريم و سلطانه القديم من الشيطان الرجيم 
 
'Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam dicurahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmatMu'. 'Aku berlindung kepada Allah Yang Mahaagung dan dengan WajahNya Yang Mahamulia serta KekuasaanNya Yang Mahaazali dari setan yang terkutuk'." Do'a ini juga diucapkan ketika memasuki masjid-masjid yang lain.

Ketiga: Lalu mulailah melakukan thawaf dari hajar aswad (dan atau dari tempat yang searah dengannya, pen.), kemudian menghadaplah kepadanya dan ucap-kan, 'Allahu Akbar' (Allah Mahabesar), lalu usaplah hajar aswad itu dengan tangan kananmu kemudian ciumlah. Jika Anda tidak mampu menciumnya maka usaplah hajar aswad itu dengan tanganmu atau dengan lainnya, lalu ciumlah sesuatu yang dengannya Anda mengusap hajar aswad. Jika Anda tidak mampu melaku-kannya, maka jangan mendesak orang-orang (untuk mencapainya), tetapi berilah isyarat kepada hajar aswad dengan tanganmu sekali isyarat (dan jangan Anda cium tanganmu). Lakukan hal itu dalam memulai setiap putaran thawaf.

Berthawaflah tujuh kali putaran dengan menjadi-kan Ka'bah di sebelah kirimu. Lakukan raml (jalan cepat dengan memendekkan langkah) pada tiga putaran pertama dan berjalanlah (biasa) pada putaran berikut-nya. Dalam semua putaran thawaf tersebut lakukanlah idhthiba' (meletakkan pertengahan kain selendang di bawah pundak kanan, dan kedua ujungnya di atas pundak kiri). Raml dan idhthiba' tersebut khusus bagi laki-laki dan hanya dilakukan pada thawaf yang pertama. Atau thawaf umrah bagi orang yang menger-jakan haji tamattu' dan thawaf qudum bagi orang yang melakukan haji qiran dan ifrad.
Jika Anda telah sampai ke Rukun Yamani maka usaplah dengan tanganmu jika hal itu memungkinkan-, tetapi jangan menciumnya. Jika tidak bisa mengusapnya maka jangan memberi isyarat kepadanya. Dan disunnahkan ketika Anda berada di antara Rukun Yamani dan hajar aswad membaca do'a:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
 
"Wahai Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka."

Dalam thawaf, tidak ada do'a-do'a khusus dari tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selain do'a di atas, tetapi memang disunnahkan memperbanyak dzikir dan do'a ketika thawaf (do'a apa saja yang dikehendaki, pen.). Jika Anda membaca ayat-ayat Al-Qur'an ketika thawaf, maka itu adalah baik.

Peringatan:
1.  Bersuci adalah syarat sahnya thawaf. Jika wudhu Anda batal di tengah-tengah melakukan thawaf, maka keluar dan berwudhulah, lalu ulangilah thawaf Anda dari awal.
 
2.  Jika di tengah-tengah Anda melakukan thawaf didirikan shalat, atau Anda mengikuti shalat jenazah, maka shalatlah bersama mereka lalu sempurnakanlah thawaf Anda dari tempat mana Anda berhenti. Jangan lupa menutupi kedua pundak Anda, sebab menutupi keduanya dalam shalat adalah wajib.

3.  Jika Anda perlu duduk sebentar, atau minum air atau berpindah dari lantai bawah ke lantai atas atau sebaliknya di tengah-tengah thawaf, maka hal itu tidak mengapa.

4.  Jika Anda ragu-ragu tentang bilangan putaran, maka pakailah bilangan yang Anda yakini; yaitu yang lebih sedikit. Jika Anda ragu-ragu apakah Anda telah melakukan thawaf tiga atau empat kali maka tetapkan-lah tiga kali, tetapi jika Anda lebih mengira bilangan tertentu maka tetapkanlah bilangan tersebut.

Sebagian Haji melakukan idhthiba' sejak awal me-makai pakaian ihram dan tetap seperti itu dalam seluruh manasik haji. Ini adalah keliru. Yang disyari'atkan adalah hendaknya ia menutupi kedua pundaknya, dan tidak melakukan idhthiba' kecuali ketika thawaf yang pertama, sebagaimana telah disinggung di muka.

Keempat: Jika Anda selesai dari putaran ketujuh, saat mendekati hajar aswad, tutuplah pundakmu yang kanan, kemudian pergilah menuju maqam Ibrahim, jika hal itu memungkinkan, lalu ucapkanlah firman Allah:

و اتخذ من مقام ابراهم مصلى

"Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat." (Al-Baqarah: 125).

Jadikanlah posisi maqam itu antara dirimu dengan Ka'bah, jika memungkinkan, lalu shalatlah dua rakaat. Pada raka'at pertama Anda membaca, setelah Al-Fatihah- surat Al-Kafirun dan pada raka'at kedua surat Al-Ikhlash .
 
Peringatan:

Shalat dua raka'at thawaf hukumnya sunnah dikerjakan di belakang maqam Ibrahim, tetapi melaku-kannya di tempat mana saja dari Masjidil Haram juga dibolehkan.
Termasuk kesalahan yang dilakukan oleh sebagian jamaah haji adalah shalat di belakang maqam Ibrahim pada saat orang penuh sesak, sehingga dengan demikian menyakiti orang lain yang sedang thawaf. Yang benar, hendaknya ia mundur ke belakang sehingga jauh dari orang-orang yang thawaf, dan hendaknya ia menjadikan posisi maqam Ibrahim antara dirinya dengan Ka'bah, atau bahkan boleh melakukan shalat di mana saja di Masjidil Haram.

Kelima: Selanjutnya pergilah ke zam-zam dan minumlah airnya. Lalu berdo'alah kepada Allah dan tuangkan air zam-zam di atas kepalamu. Jika memung-kinkan, pergilah ke hajar aswad dan usaplah.

Keenam: Lalu pergilah menuju Shafa, dan ketika telah dekat bacalah firman Allah Ta'ala:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ. أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah." (Al-Baqarah: 158).Kemudian ucapkanlah:
نبدأ بما بدا الله به
"Kami memulai dengan apa yang dengannya Allah memulai."

Kemudian naiklah ke (bukit) Shafa dan menghadaplah ke Ka'bah lalu bertakbirlah tiga kali dan ucapkan:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ))
"Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya, hanya bagiNya segala kerajaan dan hanya bagiNya segala puji dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang haq melainkan Dia, tiada sekutu bagiNya, yang menepati janjiNya, yang memenangkan hambaNya dan yang menghancurkan golongan-golongan (kafir) dengan tanpa dibantu siapa pun."

Ulangilah dzikir tersebut sebanyak tiga kali dan berdo'alah pada tiap-tiap selesai membacanya dengan do'a-do'a yang Anda kehendaki.

Ketujuh: Kemudian turunlah untuk melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah. Bila Anda berada di antara dua tanda hijau, lakukanlah sa'i dengan berlari kecil (khusus untuk laki-laki dan tidak bagi wanita). Jika Anda telah sampai di Marwah, naiklah ke atasnya dan menghadaplah ke Ka'bah, kemudian ucapkan sebagaimana yang Anda ucapkan di Shafa. Demikian hendaknya yang Anda lakukan pada putaran berikut-nya. Pergi (dari Shafa ke Marwah) dihitung satu kali putaran dan kembali (dari Marwah ke Shafa) juga dihitung satu kali putaran hingga sempurna menjadi tujuh kali putaran. Karena itu, putaran sa'i yang ke tujuh berakhir di Marwah. Tidak ada dzikir (do'a) khusus untuk sa'i, karena itu perbanyaklah dzikir dan do'a serta membaca Al-Qur'an.

Peringatan:

Ada dua bid'ah saat thawaf dan sa'i yang tersebar di sebagian orang:
1.  Terpaku dengan do'a-do'a tertentu pada setiap putaran, sebagaimana ditemukan dalam buku-buku kecil.

2.  Jama'ah haji berdo'a bersama-sama dengan di-komando oleh seorang pemimpin (rombongan) dengan koor (satu suara) dan keras.

Para Haji hendaknya mewaspadai kedua bid'ah di atas, sebab tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, juga tidak dari salah seorang sahabatnya .
 
Kedelapan: Jika selesai mengerjakan sa'i cukurlah rambut Anda (sampai bersih) atau pendekkanlah. Bagi orang yang menunaikan umrah, mencukur (gundul) rambut adalah lebih utama, kecuali jika waktu haji sudah dekat, maka memendekkan rambut lebih utama, sehing-ga mencukur (gundul) rambut dilakukan pada waktu haji. Dan tidak cukup memendekkan rambut hanya beberapa helai pada bagian depan kepala dan bela-kangnya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian jama'ah Haji, tetapi hendaknya memendekkan tersebut dilakukan pada seluruh rambut atau pada sebagian besarnya. Adapun bagi wanita, maka hendaknya ia mengumpulkan rambutnya dan mengambil daripadanya kira-kira seujung jari. Jika rambutnya keriting (tidak sama panjang ujungnya) maka harus diambil dari tiap-tiap kepangan (genggaman).
Jika hal di atas telah Anda lakukan, berarti Anda telah menyelesaikan umrah. Dan segala puji adalah milik Allah semata.

Peringatan:
Termasuk kesalahan yang dilakukan oleh sebagian jama'ah Haji adalah mengulang-ulang umrah ketika sampai di Makkah. Yang demikian itu bukanlah tun-tunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, juga bukan tuntunan para sahabatnya . Seandainya pun di dalamnya ada keutamaan, tentu mereka telah melakukannya mendahului kita.
« Edit Terakhir: 03 Desember 2007, 15:27:51 oleh abizechaabizecha »

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #4 pada: 29 November 2007, 20:47:56 »
HARI TARWIYAH

Hari tarwiyah adalah hari kedelapan dari bulan Dzul Hijjah. Disebut demikian karena pada hari itu orang-orang mengenyangkan diri dengan minum air untuk (persiapan ibadah) selanjutnya.

Pekerjaan-pekerjaan pada hari tarwiyah:
Disunnahkan bagi orang yang menunaikan haji tamattu' untuk melakukan ihram haji pada hari tersebut, yakni dari tempat di mana ia singgah. Maka, hendaknya ia mandi dan mengusapkan wewangian di tubuhnya, tidak mengenakan kain yang berjahit, dan ia ihram dengan selendang, kain dan sandal.
Adapun bagi wanita, maka hendaknya ia mandi dan menggunakan pakaian apa saja yang dikehendakinya dengan syarat tidak menampakkan perhiasannya, tidak memakai penutup muka, juga tidak memakai kaos tangan.
Selanjutnya Anda mengucapkan: لبيك حجا   (Aku penuhi panggilanMu untuk menunaikan ibadah haji). Jika ditakutkan ada halangan maka Anda disunnahkan memberi syarat dengan mengucapkan:
فان حسبني حابس فمحلي حيث حبستني

"Jika aku terhalang oleh suatu halangan maka tempat (tahallul)ku adalah di mana Engkau menahanku."
Selanjutnya ucapkanlah talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
 
"Aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu, aku penuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu, aku penuhi panggilanMu. Sesungguh-nya segala puji, kenikmatan dan kerajaan adalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu."

Demikian Anda terus mengumandangkan talbiyah dengan mengeraskan suara, sampai Anda melempar jumrah aqabah pada hari Nahar (kurban).
Pada malam ini Anda disunnahkan bermalam di Mina.
Dan di Mina, Anda disunnahkan menunaikan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya' dan Shubuh pada hari Arafah, semuanya dilakukan dengan qashar, tanpa jama'.
Setiap Haji hendaknya memanfaatkan waktu-waktu luangnya untuk sesuatu yang bermanfaat. Seperti mendengarkan ceramah agama, membaca Al-Qur'an, membaca buku tentang manasik haji dsb.


HARI ARAFAH

Jika matahari terbit pada hari Arafah (hari kesembilan dari bulan Dzul Hijjah), maka setiap Haji berangkat dari Mina ke Arafah, seraya mengumandang-kan talbiyah atau takbir. Hal itu sebagaimana telah dilakukan oleh para sahabat , sedang mereka bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ; ada yang mengumandangkan talbiyah dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengingkarinya, ada yang bertakbir dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga tidak mengingkarinya.
Jika matahari telah tergelincir, maka ia shalat Zhuhur dan Ashar secara jama' qashar dengan satu adzan dan dua iqamat. Sebelum shalat, imam menyam-paikan khutbah yang materinya sesuai dengan keadaan (ibadah haji, pen.).
Setelah shalat, setiap Haji menyibukkan diri dengan dzikir, do'a dan merendahkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. Sebaiknya berdo'a dengan mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat hingga terbenamnya matahari. Demikian seperti yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Karena itu, setiap Haji hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang agung ini. Hendaknya ia mengulang-ulang serta memperbanyak do'a, juga hendaknya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sejujur-jujurnya.
Para Haji, di bawah ini beberapa nash yang menunjukkan keutamaan hari Arafah:
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الجح عرفة
"Haji adalah Arafah." (HR. Ahmad dan para penulis kitab Sunan, shahih).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak ada hari yang ketika itu Allah lebih banyak membebaskan hamba dari (siksa) Neraka selain hari Arafah. Dan sungguh ia telah dekat, kemudian Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikat, seraya berfirman, 'Apa yang mereka kehendaki?'" (HR. Muslim).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أفضل ما قلت أنا و النبيون عشية عرفة : لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.
"Yang paling utama aku ucapkan, juga yang diucapkan oleh para nabi pada sore hari Arafah adalah, 'Tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan dan segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (HR. Malik dan lainnya, shahih).

Peringatan:
1.  Hendaknya setiap Haji yakin bahwa dirinya benar-benar berada di wilayah Arafah. Batasan-batasan Arafah itu dapat diketahui dengan spanduk-spanduk besar yang ada di sekeliling Arafah.
 
2.  Masjid Namirah tidak semuanya berada di wilayah Arafah, tetapi sebagiannya berada di wilayah Arafah (bagian belakang masjid), dan sebagian lain berada di luar Arafah (bagian depan masjid).

3.  Sebagian orang mengira jika jabal (bukit) Arafah (biasa disebut jabal Rahmah, pen.) memiliki keutamaan. Ini adalah tidak benar.
 
4.  Sebagian Haji tergesa-gesa, sehingga keluar dari Arafah menuju Muzdalifah sebelum tenggelamnya matahari. Ini adalah salah. Yang wajib adalah tinggal di Arafah hingga tenggelamnya matahari.
« Edit Terakhir: 03 Desember 2007, 15:13:09 oleh abizechaabizecha »

Offline aisya

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 6.378
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
  • I Love Allah
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 30 November 2007, 03:38:35 »
Assalamualaikum abizecha

jazakumullah atas artikelnya :), kalo bisa di informasikan juga dunk keseharian disana seperti apa dan baiknya seperti apa juga .

o iya bagaimana yah mengenai hukum wanita yg pergi umrah tanpa muhrim namun dijakarta nanti dibikinin surat muhrim, hukum ibadah kita gimana?
I LOVE ALLAH

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #6 pada: 02 Desember 2007, 00:21:22 »
sebentar-sebentar ukthii ............
selesaikan dulu yaa ............
tapi ana masih sibuk yaa................

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #7 pada: 02 Desember 2007, 00:29:44 »
info :

disaudi arabia mulai musim dingin , bagi yang mo naik haji ( baik dari keluarga/tetanga/ siap saja ) tolong di infokan untuk membawa jaket & obat-obatan ( obat sakit kepala, pilek. batuk , saklit perut dsb ) .

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #8 pada: 02 Desember 2007, 12:49:47 »
BERMALAM DI MUZDALIFAH
Jika matahari telah tenggelam pada hari Arafah maka para Haji berduyun-duyun (meninggalkan) Arafah menuju Muzdalifah dengan tenang, diam dan tidak berdesak-desakan. Jika telah sampai Muzdalifah ia shalat Maghrib dan Isya' secara jama' qashar dengan satu adzan dan dua iqamat.
Diharamkan mengakhirkan shalat Isya' hingga lewat pertengahan malam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Waktu Isya' adalah sampai pertengahan malam." (HR. Muslim).
Jika ia takut akan lewatnya waktu, hendaknya ia shalat Maghrib dan Isya' di tempat mana saja, meskipun di Arafah.
Lalu ia bermalam di Muzdalifah hingga terbit fajar. Kemudian ia shalat Shubuh di awal waktunya, lalu menuju Masy'aril Haram, yaitu bukit yang berada di Muzdalifah, jika hal itu memungkinkan baginya. Jika tidak, maka seluruh Muzdalifah adalah mauqif (tempat berhenti yang disyari'atkan). Di sana hendaknya ia menghadap kiblat dan memanjatkan pujian kepada Allah, bertakbir, mengesakan dan berdo'a kepadaNya. Jika pagi telah tampak sangat menguning, sebelum terbit matahari, para Haji berangkat menuju Mina dengan mengumandangkan talbiyah , demikian ia terus ber-talbiyah hingga sampai melempar jumrah aqabah.
Adapun bagi orang-orang yang lemah dan para wanita maka mereka dibolehkan langsung menuju Mina pada akhir malam. Hal itu berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata:

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutusku ketika akhir waktu malam dari rombongan orang-orang (di Muzdalifah) dengan membawa perbekalan Nabiullah shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Muslim).
Dan adalah Asma' binti Abi Bakar radhiyallahu anhuma berangkat dari Muzdalifah setelah tenggelamnya bulan. Sedangkan tenggelamnya bulan adalah terjadi kira-kira setelah berlalunya dua pertiga malam.

Peringatan:
1.   Sebagian orang mempercayai bahwa batu-batu kerikil untuk melempar jumrah diambil dari sejak kedatangan mereka di Muzdalifah. Ini adalah kepercayaan yang salah dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Batu-batu kerikil itu boleh diambil dari tempat mana saja.
2.   Sebagian orang mengira bahwa pertengahan malam adalah pukul dua belas malam. Ini adalah keliru. Yang benar, pertengahan malam adalah separuh dari seluruh jam yang ada pada malam hari. Kalau dihitung secara matematika adalah sebagai berikut: (Keseluruhan jam yang ada pada malam hari : 2 + waktu tenggelamnya matahari = pertengahan malam ). Jika matahari tenggelam pada pukul enam sore misalnya, sedangkan terbitnya fajar pada pukul lima pagi maka pertengahan malamnya adalah pukul sebelas lebih tiga puluh menit. (Keseluruhan jam yang ada pada malam hari, yakni 11 jam : 2 + waktu tenggelamnya matahari, yakni pukul 6 = 11, 30 menit).
3.   Di antara penyimpangan yang menyedihkan pada malam tersebut adalah bahwa sebagian Hujjaj mendirikan shalat Shubuh sebelum tiba waktunya, padahal shalat itu tidak sah jika dilakukan sebelum masuk waktunya.
4.   Hendaknya setiap Haji meyakini benar bahwa ia berada di wilayah Muzdalifah. Hal itu bisa diketahui melalui spanduk-spanduk besar yang ada di sekeliling Muzdalifah.

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #9 pada: 02 Desember 2007, 15:15:56 »
sebagian hanafiah membolehkan bepergiannya wanita musliman satu rombongan dengan orang-orang yang shaleh untuyk menunaikan ibadah haji, terutama bagi yang tidak memiliki mahram karena tidak semua kaum wanita memiliki mahram.

sumber : http://ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=5519&highlight=%C7%E1%CD%CC

بعض الحنفية يرى جواز سفرالمرأة مع رجال صالحين
 (( الفتاوى الهندية )) (5/366)
لقول المذكور ليس فقط قول بعض الحنفية ، بل هو قول طوائف من السلف والخلف
قال ابن حزم في المحلى :
وقالت طائفة : تحج في رفقة مأمونة وإن لم يكن لها زوج ولا كان معها ذو محرم - : كما روينا من طريق ابن أبي شيبة نا وكيع عن يونس هو ابن يزيد - عن الزهري قال : ذكر عند عائشة أم المؤمنين المرأة لا تسافر إلا مع ذي محرم ؟ قالت عائشة : ليس كل النساء تجد محرما . ومن طريق سعيد بن منصور نا ابن وهب عن عمرو بن الحارث عن بكير بن الأشج عن نافع مولى ابن عمر قال : كان يسافر مع عبد الله بن عمر موليات ( له ) ليس معهن محرم ، وهو قول ابن سيرين وعطاء ، وهو ظاهر قول الزهري ، وقتادة ، والحكم بن عتيبة - وهو قول الأوزاعي ، ومالك ، والشافعي ، وأبي سليمان ، وجميع أصحابهم .
وقال أبو جعفر الطحاوي :
وقد قال قوم ( لا بأس بأن تسافر المرأة بغير محرم ) واحتجوا في ذلك بما حدثنا يونس قال : ثنا ابن وهب قال : أخبرني يونس عن ابن شهاب عن عمرة عن عائشة رضي الله عنها أنها سمعتها تقول في المرأة تحج وليس معها ذو محرم فقالت : ما لكلهن ذو محرم حدثنا ربيع المؤذن قال : ثنا ابن وهب عن الليث أن ابن شهاب حدثه عن عمرة أن عائشة رضي الله عنها أخبرت أن أبا سعيد الخدري يفتي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال { لا يصلح للمرأة أن تسافر إلا ومعها محرم } " فقالت ( ما لكلهن ذو محرم ) فإن الحجة عليهم في ذلك ما قد تواترت به الآثار التي قد ذكرناها عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فهي حجة على كل من خالفها فإن قال قائل : إن الحج لم يدخل في السفر الذي نهى عنه في تلك الآثار فالحجة على ذلك القائل حديث ابن عباس الذي بدأنا بذكره في هذا الباب إذ يقول : خطب رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال { لا تسافر امرأة إلا مع محرم . فقال له رجل : إني أردت أن أحج بامرأتي وقد اكتتبت في غزوة كذا وكذا قال احجج بامرأتك } فدل ذلك على أنها لا ينبغي لها أن تحج إلا به ولولا ذلك لقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم " وما حاجتها إليك لأنها تخرج مع المسلمين وأنت فامض لوجهك فيما اكتتبت " ففي ترك النبي صلى الله عليه وسلم أن يأمره بذلك وأمره أن يحج معها دليل على أنها لا يصلح لها الحج إلا به فإن قال قائل : قد رويتم عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال { لا تسافر امرأة مسيرة ثلاثة أيام إلا مع ذي محرم } وقد روي عنه من قوله بعد النبي صلى الله عليه وسلم خلاف ذلك فذكر ما حدثنا علي بن عبد الرحمن قال : ثنا عبد الله بن صالح قال : ثنا بكر بن مضر عن عمرو بن الحارث عن بكير أن نافعا حدثه أنه كان يسافر مع ابن عمر رضي الله عنهما المواليات له ليس معهن ذو محرم قيل له : ما هذا بخلاف لما روينا عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم لأنا لم نرو عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم نهيا أن تسافر المرأة سفرا أي سفر كان إلا بمحرم ولكنا روينا عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه نهى أن تسافر المرأة سفرا ثلاثة أيام إلا مع ذي محرم فكان ذلك ناهيا لها عن السفر الذي مقدار مسافته الثلاث إلا بمحرم ومبيحا لما هو أقل منه مسافة بغير محرم فقد يجوز أن يكون السفر الذي كان يسافره معه هؤلاء المواليات بغير محرم هو السفر الذي لم يدخل فيما نهى عنه ما روينا عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم واحتج آخرون في إباحة السفر للمرأة بغير محرم بما روي عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت تسافر بغير محرم فحدثني بعض أصحابنا عن محمد بن مقاتل الرازي لا أعلمه إلا عن حكام الرازي قال : سألت أبا حنيفة رحمه الله ( هل تسافر المرأة بغير محرم ؟ ) فقال : لا نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن تسافر امرأة مسيرة ثلاثة أيام فصاعدا إلا ومعها زوجها أو أبوها أو ذو رحم منها قال حكام : فسألت العرزمي فقال : لا بأس بذلك . حدثني عطاء أن عائشة رضي الله عنها كانت تسافر بلا محرم قال : فأتيت أبا حنيفة رحمه الله فأخبرته  بذلك فقال أبو حنيفة رحمه الله لم يدر العرزمي ما روى كان الناس لعائشة محرما فمع أيهم سافرت فقد سافرت مع محرم وليس الناس لغيرها من النساء كذلك
« Edit Terakhir: 02 Desember 2007, 22:09:49 oleh abizechaabizecha »

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #10 pada: 03 Desember 2007, 15:05:17 »
HARI RAYA KURBAN ( 10 DZUL HIJJAH 

Beberapa amalan pada hari Raya Kurban adalah:
1. Melempar jumrah aqabah.
2. Menyembelih hadyu (bagi orang yang melakukan haji tamattu' dan qiran).
3. Mencukur (gundul) rambut kepala atau memendekkannya, tetapi mencukur (gundul) adalah lebih utama.
4. Thawaf ifadhah dan sa'i untuk haji.

Peringatan Penting:
a. Tertib di atas adalah sunnah, dan kalau tidak dikerjakan secara tertib juga tidak mengapa. Seperti orang yang mendahulukan thawaf daripada mencukur rambut, atau mendahulukan mencukur rambut dari-pada melempar jumrah, atau mendahulukan sa'i daripada thawaf, atau lainnya.

b.Melempar jumrah aqabah adalah dengan tujuh batu kerikil dengan secara berurutan. Ia mengangkat tangannya dan mengucapkan takbir setiap kali melempar batu kerikil. Disunnahkan ia menghadap ke jumrah dan menjadikan Makkah berada di sebelah kirinya dan Mina berada di sebelah kanannya.

c.Waktu melempar jumrah aqabah bagi mereka yang kuat (fisiknya) adalah dimulai dari setelah terbitnya matahari. Hal itu berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhu ia berkata:

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendahulukan kami anak-anak Bani Abdul Muththalib pada malam Muzdalifah dengan mengendarai keledai, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menepuk paha-paha kami seraya bersabda: "Wahai anak-anakku, jangan kalian melempar jumrah sehingga matahari terbit." (HR. Abu Daud , Shahih Sunan Abi Daud).
Adapun para wanita dan mereka yang lemah maka dibolehkan melempar sejak kedatangan mereka di Mina pada akhir malam. Hal itu berdasarkan hadits Asma' radhiyallahu anha, dari Abdullah pelayan Asma' dari Asma':

"Bahwasanya ia singgah pada malam perkumpulan di Muzdalifah, lalu ia berdiri menegakkan shalat, ia shalat sejenak kemudian bertanya, 'Wahai anakku, apakah bulan telah tenggelam?' 'Belum', jawabku. Ia lalu shalat sejenak kemudian bertanya, 'Apakah bulan telah tenggelam?' 'Sudah', jawabku. Ia berkata, 'Kalau begitu berangkatlah.' Maka kami berangkat dan pergi hingga ia melempar jumrah. Kemudian ia pulang dan shalat Shubuh di rumahnya. Maka kutanyakan padanya, 'Sungguh, kami tidak mengira kecuali bahwa kita telah melempar (jumrah) pada malam hari'. Ia menjawab, 'Wahai anakku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengizin-kannya untuk kaum wanita'." (Muttafaq Alaih).

d.Waktu melempar jumrah aqabah berlanjut hingga zawal(waktu tergelincirnya matahari dari pertengahan langit,dan itulah waktu permulaan shalat zhuhur). Dan dibolehkan melempar setelahzawalmeskipun meskipun di malam hari, jika menemui kesulitan untuk melemparnya sebelum zawal.

e.Jumrah aqabah, penampungan (batu kerikil)nya adalah separuh penampungan. Karena itu ia harus yakin bahwa batu-batu kerikilnya masuk ke dalam penampungan tsb., tetapi jika setelah itu tergelincir (keluar) maka tidak mengapa.

f.Disunnahkan untuk segera menyembelih hadyu, mencukur rambut, thawaf dan sa'i, tetapi jika diakhirkan hingga setelah hari Raya Kurban maka tidak mengapa.

g.Menyembelih hadyu adalah wajib bagi yang melakukan haji tamattu' dan qiran. Adapun yang melakukan haji ifrad maka tidak wajib menyembelih hadyu . Orang yang tidak bisa menyembelih hadyu diwajibkan puasa tiga hari pada waktu haji dan tujuh hari ketika mereka pulang kepada keluarganya.

Penyembelihan itu tidak harus dilakukan di Mina, tetapi boleh dilakukan di Makkah atau tanah suci lainnya (Madinah, pen.). Dibolehkan pula bagi tujuh orang untuk berserikat dalam satu ekor unta atau sapi. Disunnahkan untuk menyembelih sendiri dengan tangannya, tetapi jika diwakilkan kepada yang lain maka hal itu dibolehkan.
Disunnahkan pula untuk menelentangkan hadyu (sapi atau kambing) pada sisi kirinya dan menghadap-kannya ke kiblat, sedang telapak kaki (orang yang menyembelih) diletakkan di atas leher hewan tersebut. Adapun unta, maka disunnahkan ketika menyembelihnya dalam keadaan berdiri, tangan kirinya diikat serta dihadapkan ke kiblat.
Ketika menyembelih, disyaratkan menyebut nama Allah, dan disunnahkan untuk menambahkannya dengan bacaan:

بسم الله  الله أكبر اللهم هذه منك و لك , اللهم تقبل مني
 
"Dengan nama Allah, Allah Mahabesar, ya Allah, sesungguhnya ini adalah dariMu dan milikMu, ya Allah kabulkanlah (kurban) dari kami (ini)."

Waktu penyembelihan masih terus berlangsung hingga tenggelamnya matahari dari akhir hari tasyriq, yaitu tanggal 13 Dzul Hijjah.
Thawaf di Ka'bah adalah tujuh kali, sebagaimana thawaf ketika umrah, tetapi tidak dengan raml (jalan cepat) dan idhthiba' (menyelempangkan selen-dang). Lalu disunnahkan untuk melakukan shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, jika hal itu memungkinkan. Jika tidak, maka boleh melakukan shalat di tempat mana saja dari Masjidil Haram.

h.Sa'i antara Shafa dan Marwah adalah tujuh putaran, tata caranya sebagaimana yang ada pada sa'i untuk umrah. Adapun orang yang melakukan haji qiran dan ifrad maka cukup baginya sa'i yang pertama, jika mereka telah melakukan sa'i pada thawaf qudum.

i.Mencukur harus mengenai semua rambut ( bagi kaum pria ) . Adapun bagi wanita, maka ia cukup menghimpun semua rambutnya lalu memotong ujungnya kira-kira seujung jari. Jika ujung rambutnya tidak sama pan-jangnya maka bisa dipotong dari setiap kepangan (genggaman) rambut.

j.Jika seorang Haji telah melempar jumrah aqabah dan mencukur atau menggunting rambut maka ia telah tahallul awal. Artinya, boleh baginya melakukan segala sesuatu dari yang dilarang ketika ihram kecuali masalah wanita. Dan disunnahkan baginya untuk membersihkan diri dan memakai wangi-wangian sebelum thawaf.
Kemudian, jika ia telah melempar, mencukur atau menggunting rambut, thawaf dan sa'i berarti ia telah tahallul tsani , yang dengan demikian dihalalkan baginya segala sesuatu hingga masalah wanita (hubungan suami isteri).

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #11 pada: 04 Desember 2007, 00:06:12 »
HARI-HARI TASYRIQ

1.Wajib bermalam di Mina pada malam-malam hari tasyriq, yakni malam ke-11 dan ke-12 (bagi yang terburu-buru) serta malam ke-13 (bagi yang meng-akhirkan/tetap tinggal).

2.Wajib melempar jumrah pada hari-hari tasyriq, caranya adalah sebagai berikut:
Setiap Haji melempar ketiga jumrah (ula, wustha, aqabah)
pada setiap hari dari hari-hari tasyriq setelah tergelincirnya matahari. Yakni dengan tujuh batu kerikil secara berurutan untuk masing-masing jumrah, dan hendaknya ia bertakbir setiap kali melempar. Dengan demikian jumlah batu kerikil yang wajib ia lemparkan setiap harinya adalah 21 batu kerikil. (Ukuran batu kerikil tersebut lebih besar sedikit dari biji kacang).

Jama'ah haji memulai dengan melempar jumrah ula, yakni jumrah yang letaknya dekat masjid Al-Khaif, kemudian hendaknya ia maju ke sebelah kanan seraya berdiri dengan menghadap kiblat. Di sana hendaknya ia berdiri lama untuk berdo'a dengan mengangkat tangan.
Lalu ia melempar jumrah wustha , kemudian mencari posisi di sebelah kiri dan berdiri menghadap kiblat. Di sana hendaknya ia berdiri lama untuk berdo'a seraya mengangkat tangan.
Selanjutnya ia melempar jumrah aqabah dengan menghadap kepadanya serta menjadikan kota Makkah berada di sebelah kirinya dan Mina di sebelah kanannya. Di sana ia tidak berhenti (untuk berdo'a). Demikianlah, hal yang sama hendaknya ia lakukan pada tanggal 12 dan 13 Dzul Hijjah.

Peringatan:
1.Adalah salah, membasuh batu-batu kerikil (sebelum melemparkannya), sebab yang demikian itu tidak ada keterangannya dari Nabi J, juga tidak dari para sahabatnya.

2.Yang menjadi ukuran (benarnya lemparan) adalah jatuhnya batu kerikil ke dalam penampungan, dan bukan melempar tiang yang ada di tengah-tengah penampungan (batu kerikil).

3.Waktu melempar jumrah adalah dimulai dari sejak tergelincirnya matahari hingga terbenamnya, tetapi tidak mengapa melemparnya hingga malam hari, jika hal itu memang diperlukan. Hal itu berdasar-kan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam :

"Penggembala melempar (jumrah) pada malam hari dan menggembala (ternaknya) di siang hari." (Hadits hasan, As-Silsilah Ash-Shahihah, 2477).

4.Tidak boleh mewakilkan dalam melempar jumrah kecuali ketika dalam keadaan lemah (tak mampu) atau takut akan bahaya karena telah lanjut usia, sakit, masih kecil atau sejenisnya. Dan ketika mewakili, hendaknya ia melempar jumrah ula sebanyak tujuh kali untuk dirinya sendiri terlebih dahulu, lalu melemparkan untuk orang yang diwakilinya. Demikian pula hendaknya yang ia lakukan dalam jumrah wustha dan aqabah (jika mewakili orang lain).
Adapun sebagian orang pada saat ini yang dengan mudahnya mewakilkan melempar jumrah adalah hal keliru. Orang yang takut berdesak-desakan dengan laki-laki dan perempuan maka hendaknya ia pergi melempar pada saat-saat yang sepi, misalnya ketika malam hari.

5.Hendaknya melempar ketiga jumrah tersebut secara tertib, yakni shughra kemudian wustha lalu aqabah.

6.Sungguh keliru orang yang mencaci dan men-cerca ketika melempar jumrah, atau melempar dengan sepatu, payung dan batu besar, serta kepercayaan sebagian orang bahwa setan diikat pada tiang yang ada di tengah penampungan batu kerikil.

7.Bermalam yang wajib dilakukan di Mina adalah dengan tinggal di sana pada sebagian besar waktu malam. Misalnya, jika seluruh waktu malam adalah sebelas jam maka ia wajib tinggal di Mina lebih dari lima jam 30 menit.

8.Diperbolehkan bagi orang yang tergesa-gesa untuk meninggalkan Mina pada tanggal 12 Dzul Hijjah, yakni setelah melempar jumrah dan hendaknya ia keluar dari Mina sebelum tenggelamnya matahari. Jika matahari telah tenggelam dan ia masih berada di Mina maka ia wajib bermalam dan melempar lagi keesokan harinya, kecuali jika ia telah bersiap-siap meninggalkan Mina lalu matahari tenggelam karena jalan macet atau sejenisnya maka ia dibolehkan tetap pergi dan hal itu tidak mengapa baginya.

NB : UNTUK TEMPAT JUMRAH SAAT INI SUDAH DI PERLUAS & MENAJDI 3 TINGKAT , SERTA TUGU ( PENAMPUNGAN TEMPAT LEMPAR JUMRAH ) SEKARANG SUDAH DI PERPANJANG ( MEMBUJUR PANJANG + 5 METER ) jadi insya Allah tidak berdesak-desakan seperti dulu ............
serta ada pengawasan dari tim keamanan ( mengarahkan jemaa'ah haji )  serta tim medis .........
jadi ngak perlu takut akan desak-desakan ..............

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #12 pada: 04 Desember 2007, 00:26:42 »
bagi yang ingin melihat tempat jumrah bisa buka di my vidio ( durasi 16 detik )

http://abizecha.multiply.com/video/item/5/JUMROH_1427_H.mp4


Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #13 pada: 04 Desember 2007, 13:27:46 »
TANGGAL 12 DZUL HIJJAH

1.Jika Anda telah selesai melempar jumrah pada tanggal 12 Dzul Hijjah, lalu Anda ingin bersegera maka Anda dibolehkan keluar dari Mina sebelum matahari tenggelam, tetapi jika Anda ingin tetap tinggal maka hal itu lebih utama. Bermalamlah (sehari lagi) di Mina pada tanggal 13 Dzul Hijjah, dan lemparlah ketiga jumrah (ula, wustha, aqabah ) setelah tergelincir-nya matahari dan sebelum matahari tenggelam, sebab hari-hari tasyriq berakhir dengan tenggelamnya matahari.

2.Jika matahari telah tenggelam pada tanggal 12 Dzul Hijjah (hari kedua dari hari-hari tasyriq) dan Anda masih berada di Mina maka Anda wajib bermalam kembali di Mina pada malam itu kemudian melempar jumrah keesokan harinya, kecuali jika Anda telah bersiap-siap berangkat, tetapi jalan macet misalnya sehingga matahari tenggelam maka Anda dibolehkan keluar dari Mina dan hal itu tidak mengapa bagi Anda.

3.Ketika Anda hendak meninggalkan Makkah, Anda wajib melakukan thawaf wada' sebanyak tujuh kali putaran, setelahnya Anda disunnahkan shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim.

4.Perempuan yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan melakukan thawaf wada'.

Dengan demikian selesailah pekerjaan-pekerjaan haji.


RINGKASAN RUKUN, WAJIB UMRAH DAN HAJI

Rukun umrah:
1.Ihram (niat masuk atau memulai untuk beribadah).
2.Thawaf.
3.Sa'i.

Wajib umrah:
1.Ihram dari miqat.
2.Mencukur (gundul) rambut atau memendekkannya.

Rukun haji:
1.Ihram.
2.Wukuf di Arafah.
3.Thawaf ifadhah.
4.Sa'i.

Wajib haji:
1.Ihram dari miqat.
2.Wukuf di Arafah hingga tenggelamnya matahari bagi yang wukuf di siang hari.
3.Bermalam di Muzdalifah.
4.Bermalam pada malam-malam tasyriq di Mina.
5.Melempar jumrah (jumrah aqabah pada waktu hari Raya Kurban, dan jumrah ula, wustha serta aqabah pada hari-hari tasyriq secara tertib).
6.Mencukur (gundul) rambut atau memendekkannya.
7.Menyembelih hadyu (bagi yang melakukan haji tamattu' dan qiran, tidak bagi yang melakukan haji ifrad).
8.Thawaf wada'.


Peringatan:
Di muka telah disebutkan bahwa di antara wajib umrah dan haji adalah ihram dari miqat . Ketentuan ini adalah bagi mereka yang datang dari wilayah yang berada di belakang miqat. Adapun bagi yang datang dari sebelumnya maka ia berihram dari tempatnya, bahkan hingga penduduk Makkah, mereka berihram dari Makkah, kecuali dalam umrah. Orang yang berada di Makkah dan hendak melakukan umrah maka ia keluar dari Makkah (tanah haram) kemudian berihram dari tempat tersebut.

PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING
YANG BANYAK DITANYAKAN ORANG


1.Apa hukum orang yang memakai wangi-wangian atau menutup kepalanya atau mengenakan pakaian berjahit atau mencabut rambutnya karena lupa atau tidak mengerti (hukumnya) sedang dia dalam keadaan ihram?

Barangsiapa melakukan suatu larangan dari larangan-larangan ihram karena lupa atau tidak mengerti (hukumnya) maka ia tidak diwajibkan apa-apa karenanya. Hal itu berdasarkan firman Allah:
"Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah", Ibnu Abbas berkata, 'Ketika ayat ini turun, Allah berfirman, 'Aku telah melakukannya'." (HR. Muslim, no. 126).

 
2.Apakah cukup dalam memendekkan (rambut), baik dalam haji maupun umrah dengan memendekkan bagian depan atau belakang kepala?

Yang demikian itu tidak cukup. Ia wajib mencukur atau memendekkan rambut kepala secara menyeluruh. Hal itu berdasarkan firman Allah:

"Dengan mencukur rambut kepala dan menggun-ting (memendekkannya)." (Al-Fath: 27).
 
3.Bagaimana tata cara shalat jenazah?

Tata cara shalat jenazah secara ringkas adalah bertakbir empat kali sedang ia dalam keadaan berdiri kemudian salam.
Pada takbir pertama ia mengangkat kedua tangan-nya kemudian membaca Al-Fatihah, kemudian pada takbir kedua ia membaca shalawat atas Nabi n, dan pada takbir ketiga ia mendo'akan jenazah agar diampuni dan diberi rahmat, jika ia berdo'a dengan apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka hal itu lebih baik, lalu ia bertakbir untuk keempat kalinya dan mengucapkan salam ke sebelah kanannya.
 
4.Bolehkah berlalu di hadapan orang yang sedang shalat di Masjidil Haram?

Tidak diperbolehkan berlalu di hadapan orang yang sedang shalat, jika ia menjadi imam atau shalat sendirian. Adapun jika sebagai makmum, maka dibo-lehkan berlalu di hadapan mereka atau di antara shaf-shaf.

Hendaknya orang yang akan shalat menghindari tempat-tempat berlalunya orang-orang di Masjidil Haram. Seyogyanya pula ia meletakkan pembatas di depan tempat shalatnya yang dekat dengannya, misalnya dinding, tiang, rak mushaf dan sejenisnya. Dengan demikian tidak berbahaya (berdosa) orang yang berlalu di belakang pembatasnya.

Tidak ada bedanya antara Masjidil Haram dengan masjid-masjid lainnya dalam hal tersebut. Adapun hadits tentang "Berlalunya Para Sahabat Di Hadapan Nabi Saw Padahal Tidak Ada Pembatas Antara Beliau Dengan Ka'bah" maka sanad hadits ini adalah dha'if .(Lihat Fathul Bari, 1/687).


Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #14 pada: 04 Desember 2007, 21:17:59 »
Kumpulan Doa-Doa Haji

115- BACAAN TALBIYAH

233- لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ.

233. Aku memenuhi panggilanMu, ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujaan dan nikmat adalah milikMu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagiMu. [254]

----------------------
[254] HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 3/408, Muslim 2/841.
 
--------------------------------------------------------------------------------

116- BERTAKBIR PADA SETIAP DATANG KE RUKUN ASWAD

234- طَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَيْتِ عَلَى بَعِيْرٍ كُلَّمَا أَتَى الرُّكْنَ أَشَارَ إِلَيْهِ بِشَيْءٍ عِنْدَهُ وَكَبَّرَ.

234. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melakukan tawaf di Baitullah, di atas unta, setiap datang ke rukun aswad (tiang Ka’bah yang terdapat hajar aswad), beliau memberi isyarat dengan sesuatu yang dipegangnya dan bertakbir. [255]


---------------------------------

[255] HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 3/476, maksud “sesuatu” adalah tongkat. Lihat Al-Bukhari dengan Fathul Bari 3/472.

--------------------------------------------------------------------------------

117- DOA ANTARA RUKUN YAMANI DAN HAJAR ASWAD

235- رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


235. “Wahai Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jauhkan kami dari siksaan api Neraka.” [256]

---------------------------------
[256] HR. Abu Dawud 2/179, Ahmad 3/411 dan Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah 7/128. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan dalam Shahih Abi Dawud 1/354.

--------------------------------------------------------------------------------


118- BACAAN KETIKA DI ATAS BUKIT SHAFA DAN MARWAH

236. Ketika Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dekat dengan bukit Shafa, beliau membaca:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ. أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ.

(Sesungguhnya Shafa dan Marwah ada-lah termasuk sy’iar agama Allah. Aku memulai sa’i dengan apa yang didahulukan oleh Allah.)

Kemudian beliau mulai dengan naik ke bukit Shafa, hingga beliau melihat Baitullah. Lalu menghadap kiblat, membaca kalimat tauhid dan takbir, serta membaca:

((لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ))

(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, Tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, yang melaksanakan janjiNya, mem-bela hambaNya (Muhammad) dan mengalahkan golongan musuh sendirian.)


Kemudian beliau berdoa di antara Shafa dan Marwah. Baliau membacanya tiga kali. Di dalam hadits tersebut dikatakan, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam juga membaca di Marwah sebagaimana beliau membaca di Shafa.” [257]

---------------------------------
[257] HR. Muslim 2/888.

--------------------------------------------------------------------------------

119- DOA PADA HARI ARAFAH

237. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Doa yang terbaik (yang mustajab) adalah di hari Arafah, dan sebaik-baiknya apa yang aku dan para nabi baca, adalah:


لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, Tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.) [258]

---------------------------------
[258] HR. At-Tirmidzi dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/ 184. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut adalah hasan. Lihat pula Al-Ahaditsush Shahihah lil-Albani 4/6.



--------------------------------------------------------------------------------

120- KETIKA DI MASY’ARIL HARAM

238- رَكِبَ الْقَصْوَاءَ حَتَّى أَتَى الْمَشْعَرَ الْحَرَامَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ (فَدَعَاهُ وَكَبَّرَهُ وَهَلَّلَهُ وَوَحَّدَهُ) فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى أَسْفَرَ جِدًّا فَدَفَعَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ.

238. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam naik unta bernama Al-Qaswa’ hingga di Masy’aril Haram, lalu beliau menghadap kiblat, berdoa, membaca takbir dan tahlil serta kalimat tauhid. Beliau terus berdoa hingga fajar menyingsing. Kemudian beliau berangkat (ke Mina) sebelum matahari terbit.” [259]

---------------------------------
[259] HR. Muslim 2/891.



--------------------------------------------------------------------------------

121- BERTAKBIR PADA SETIAP MELEMPAR JUMRAH

239- يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ عِنْدَ الْجِمَارِ الثَّلاَثِ ثُمَّ يَتَقَدَّمُ، وَيَقِفُ يَدْعُو مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، رَافِعًا يَدَيْهِ بَعْدَ الْجَمْرَةِ اْلأُوْلَى وَالثَّانِيَةِ. أَمَّا جَمْرَةُ الْعَقَبَةِ فَيَرْمِيْهَا وَيُكَبِّرُ عِنْدَ كُلِّ حَصَاةٍ وَيَنْصَرِفُ وَلاَ يَقِفُ عِنْدَهَا.

239. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bertakbir pada setiap melempar tiga Jumrah dengan batu kecil, kemudian beliau maju dan berdiri untuk berdoa dengan menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya setelah melempar Jumrah yang pertama dan kedua. Adapun untuk Jumrah Aqabah, beliau melempar dan bertakbir, dan beliau tidak berdiri di situ, tapi langsung pergi.” [260]

---------------------------------
[260] HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 3/583, 3/584 dan 3/581. Muslim juga meriwayatkannya.


sumber : HISNUL MUSLIM

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #15 pada: 04 Desember 2007, 23:06:33 »
Rasulullah Saw menyambut orang yang pergi haji:

قبل الله حجك و غفر ذنبك و أخلف نفقتك

"Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu dan mengganti ongkosmu (biaya-biayamu)." (HR. Ad-Dainuri)

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #16 pada: 06 Desember 2007, 00:23:23 »
kita ketengahkan hadist - hadist dari kitab shahih bukhari

كتاب الحج
 ( من مختصار صحيح البخاري )
لفضيلة الشيخ ناصر الدين الألباني

Kitab Haji
( Dari Kitab Ringkasan Shahih Bukhari )
karya As Syeikh Nasiruddin Al-Albany


1 - باب: وجوب الحج وفضله.
{ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ومن كفر فإن الله غني عن العالمين} /آل عمران: 97/.

 
Bab 1: Wajib Haji dan Keutamaannya,
 dan Firman Allah, "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."(Ali Imran: 97)


1442 - حدثنا عبد الله بن يوسف: أخبرنا مالك، عن ابن شهاب، عن سليمان بن يسار، عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال:كان الفضل رديف رسول الله صلى الله عليه وسلم، فجاءت امرأة من خثعم، فجعل الفضل ينظر إليها وتنظر إليه، وجعل النبي صلى الله عليه وسلم يصرف وجه الفضل إلى الشق الآخر، فقالت: يا رسول الله، إن فريضة الله على عباده في الحج أدركت أبي شيخا كبيرا، لا يثبت على الراحلة، أفأحج عنه. قال: (نعم). وذلك في حجة الوداع.[1755، 1756، 4138، 5874]
. Abdullah bin Abbas r.a. berkata, "Al-Fadhl bin Abbas mengiringi Rasulullah, lalu datang seorang wanita dari Khats'am. Kemudian al-Fadhl melihat kepadanya dan wanita itu melihat Fadhl. Lalu, Nabi mengalihkan wajah al-Fadhl ke arah lain. Wanita itu berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-Nya untuk haji. Ayahku terkena kewajiban itu, namun ia sudah tua bangka, tidak kuat duduk di atas kendaraan. Apakah saya menghajikannya?' Beliau menjawab, 'Ya.'  Hal itu ( terjadi pent. )  pada Haji Wada'."


2 - باب: قول الله تعالى: {يأتوك رجالا وعلى كل ضامر يأتين من كل فج عميق. ليشهدوا منافع لهم} /الحج: 27، 28.

Bab 2: Firman Allah, "Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka." (al-Hajj: 27-28)

1443 - حدثنا أحمد بن عيسى: حدثنا ابن وهب، عن يونس، عن ابن شهاب: أن سالم بن عبد الله أخبره: أن ابن عمر رضي الله عنهما قال:رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يركب راحلته بذي الحليفة، ثم يهل حين تستوي به قائمة.[1477 - 1479، 2710، وانظر: 164، 470، 1498]

Ibnu Umar r.a. berkata, "Saya melihat Rasulullah mengendarai kendaraannya di Dzul Hulaifah. Kemudian beliau membaca talbiyah dengan suara keras sehingga kendaraan itu berdiri tegak."

1444 - حدثنا إبراهيم: أخبرنا الوليد: حدثنا الأوزاعي: سمع عطاء: يحدث عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما:
أن إهلال رسول الله صلى الله عليه وسلم من ذي الحليفة، حين استوت به راحلته.
رواه أنس وابن عباس رضي الله عنهم.[ر:1470، 1471]


Jabir bin-Abdullah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah memulai ihram dari Dzul Hulaifah. Yaitu, ketika beliau telah siap berada di atas kendaraan beliau. Diriwayatkan oleh Anas dan Ibnu Abbas.[1]


3 - باب: الحج على الرحل
Bab 3: Melakukan Haji dengan Naik Kendaraan

وقال أبان: حدثنا مالك بن دينار، عن القاسم بن محمد، عن عائشة رضي الله عنها:
أن النبي صلى الله عليه وسلم بعث معها أخاها عبد الرحمن، فأعمرها من التنعيم، وحملها على قتب.
وقال عمر رضي الله عنه: شدوا الرحال في الحج، فإنه أحد الجهادين.

 dari Aisyah RA sesungguhnya Nabi SAW mengutus bersamanya ( aisyah ) saudara laki-lakinya abdur rahman, maka dia memulai umrahnya ( ihramn ) dari tan'im dan dia dibawa diatas keranda ( onta ) Umar r.a. berkata, "Pergilah dengan berkendaraan untuk mengerjakan ibadah haji. Sebab, sesungguhnya haji itu adalah salah satu dari dua macam jihad."[2]

1445 - حدثنا محمد بن أبي بكر: حدثنا يزيد بن زريع: حدثنا عزرة بن ثابت، عن ثمامة بن عبد الله بن أنس قال:
حج أنس على رحل، ولم يكن شحيحا، وحدث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حج على رحل، وكانت زاملته.


Abu Tsumamah bin Abdullah bin Anas berkata, "Anas menunaikan haji di atas kendaraan, dan ia itu bukan orang yang pelit. Ia menceritakan bahwa Rasulullah menunaikan haji dengan naik kendaraan. Kendaraan itulah yang mengangkut beliau dan barang-barang beliau."

(Saya berkata ( as syeikh al albani pent.) , "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan secara bersanad juga secara mu'allaq bagian dari hadits Aisyah yang tertera pada nomor 178 di muka.")
 

4 - باب: فضل الحج المبرور.
Bab 4: Keutamaan Haji Mabrur

1447 - حدثنا عبد العزيز بن عبد الله: حدثنا إبراهيم بن سعد، عن الزهري، عن سعيد ابن المسيب، عن أبي هريرة رضي الله عنه قال:سئل النبي صلى الله عليه وسلم: أي الأعمال أفضل؟ قال: (إيمان بالله ورسوله). قيل: ثم ماذا؟ قال (جهاد في سبيل الله). قيل: ثم ماذا؟ قال: (حج مبرور).[ر:26]

Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi ditanya, 'Amal apakah yang lebih utama?' Beliau bersabda, 'Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Berjuang di jalan Allah.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Haji yang mabrur.'"

1448 - حدثنا عبد الرحمن بن المبارك: حدثنا خالد: أخبرنا حبيب بن أبي عمرة، عن عائشة بنت طلحة، عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها أنها قالت:يا رسول الله، نرى الجهاد أفضل العمل، أفلا نجاهد؟ قال: (لا، لكن أفضل الجهاد حج مبرور).[1762، 2632، 2720، 2721]
Aisyah Ummul Mukminin r.a. berkata, "Wahai Rasulullah, kami melihat bahwa jihad (berperang) itu seutama-utama amal, apakah kami tidak perlu berjihad?" Nabi saw. bersabda, 'Tidak, bagi kalian jihad yang paling utama adalah haji mabrur." (Dalam satu riwayat: Rasulullah ditanya oleh istri-istri beliau tentang haji, lalu beliau bersabda, "Sebaik-baik jihad adalah haji." 3/221)

1449 - حدثنا آدم: حدثنا شعبة: حدثنا سيار أبو الحكم قال: سمعت أبا حازم قال: سمعت أبا هريرة رضي الله عنه قال:سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: (من حج لله، فلم يرفث ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمه).
[1723، 1724]


 Abu Hurairah r.a. berkata, "Saya mendengar Nabi bersabda, 'Barangsiapa yang haji (ke Baitullah 2/209) karena Allah, ia tidak berkata porno / jorok  dan tidak fasik (melanggar batas-batas syara'), maka ia pulang seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.'"
 
5 - باب: فرض مواقيت الحج والعمرة.
Bab 5: Ketentuan Miqat-Miqat Ibadah Haji dan Umrah

 (Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya bagian dari hadits Ibnu Umar yang tercantum pada nomor 88 di muka.teks hadistnya ")

1450 - حدثنا مالك بن إسماعيل: حدثنا زهير قال: حدثني زيد بن جبير:أنه أتى عبد الله بن عمر رضي الله عنهما في منزله، وله فسطاط وسرادق، فسألته: من أين يجوز أن أعتمر؟ قال: فرضها رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل نجد قرنا، ولأهل المدينة ذا الحليفة، ولأهل الشأم الجحفة.[ر:133]

88. Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa seorang laki-laki berdiri di masjid lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, dari manakah engkau menyuruh kami untuk mengeraskan suara talbiah ketika ihram?" Rasulullah saw bersabda, " dan penduduk Najd mengeraskan suara talbiah dari Qarn."Penduduk Madinah mengeraskan suara talbiah dari Dzull Hulaifah, penduduk Syam mengeraskan suara talbiah dari [Mahya'ah, yaitu 2/142] Juhfah,

tambahan pent .
 (Dan dari jalan Zaid bin Jubair, bahwa ia datang kepada Abdullah bin Umar, sedang Abdullah mempunyai kemah dan tenda. Lalu aku bertanya kepadanya, "Dari manakah saya boleh memulai umrah?" Dia menjawab, "Rasulullah saw. menentukannya bagi penduduk Najd di Qarn." Dan dia menyebutkan hadits yang serupa itu 2/141). Ibnu Umar berkata, "Manusia menduga bahwa Rasulullah saw. bersabda, 'Penduduk Yaman mengeraskan suara talbiah dari Yalamlam."' Ibnu Umar berkata, "Dan saya tidak tahu (dan pada satu riwayat saya tidak mendengar 2/143) ini dari Rasulullah saw." [Dan disebutkan tentang Irak, lalu dia menjawab, "Pada waktu itu Irak belum menjadi miqat." 8/155]
 
6 - باب: قول الله تعالى: {وتزودوا فإن خير الزاد التقوى} البقرة: 197
Bab 6: Firman Allah, "Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa." (al-Baqarah: 197)

1451 - حدثنا يحيى بن بشر: حدثنا شبابة، عن ورقاء، عن عمرو بن دينار، عن عكرمة، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال:كان أهل اليمن يحجون ولا يتزودون، ويقولون: نحن المتوكلون، فإذا قدموا مكة سألوا الناس، فأنزل الله تعالى: {وتزودوا فإن خير الزاد التقوى}.757. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Penduduk Yaman pergi haji dan mereka tidak menyiapkan bekal apa pun untuk perjalanan mereka. Bahkan, mereka berkata, 'Kita semua bertawakal kepada Allah.' Apabila mereka telah tiba di Mekah, mereka meminta-minta kepada orang banyak. Kemudian Allah menurunkan ayat yang berbunyi, 'Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.'"


_____________________________ ___________
Catatan Kaki:
 
[1] Hadits Anas akan disebutkan secara maushul di sini (27-BAB), dan hadits Ibnu Abbas disebutkan pada (33-BAB).
 
[2] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Said bin Manshur dengan isnad yang sahih.

« Edit Terakhir: 06 Desember 2007, 00:28:11 oleh abizechaabizecha »

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #17 pada: 08 Desember 2007, 22:44:43 »
 
7 - باب: مهل أهل مكة للحج والعمرة.
Bab 7: Tempat Ihram Penduduk Mekah Untuk Haji dan Umrah

 
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan sesudah bab berikut ini.")

 
8 - باب: ميقات أهل المدينة، ولا يهلون قبل ذي الحليفة.
Bab 8: Miqat Penduduk Madinah dan Mereka Tidak Boleh Memulai Ihram Sebelum Berada Di Dzul Hulaifah[3]

 
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Umar yang disebutkan pada dua bab sebelum ini.")

9 - باب: مهل أهل الشأم.
Bab 9: Permulaan Tempat Ihram Penduduk Syam

 
1454 - حدثنا مسدد: حدثنا حماد، عن عمرو بن دينار، عن طاوس، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال:
وقت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحليفة، ولأهل الشأم الجحفة، ولأهل نجد قرن المنازل، ولأهل اليمن يلملم، فهن لهن، ولمن أتى عليهن من غير أهلهن، لمن كان يريد الحج والعمرة، فمن كان دونهن فمهله من أهله، وكذلك حتى أهل مكة يهلون منها.[ر:1452]

758. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Rasulullah telah menetapkan miqat (tempat mulai berihram haji atau umrah), yaitu bagi orang Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dari al-Juhfah, orang Najed dari Qarnul Manazil, orang Yaman dari Yalamlam, itu semua bagi mereka dan bagi orang-orang yang dari tempat-tempat itu walaupun bukan penduduk tempat itu, yang akan ihram haji atau umrah. Adapun orang-orang yang tempatnya lebih dekat ke Mekah dari tempat-tempat itu, maka ihramnya dari tempat tinggalnya (dalam satu riwayat: dari mana saja ia datang). Begitulah, sehingga penduduk Mekah berihram dan talbiyah dari Mekah."
 
10 - باب: مهل أهل نجد.
Bab 10: Permulaan Tempat Ihram Ahli Najed

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang diisyaratkan di muka.")
 
11 - باب: مهل من كان دون المواقيت.
Bab 11: Permulaan Tempat Ihram Orang yang Tidak Berada Pada Miqat-Miqat yang Tertentu
 
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang diisyaratkan di muka.")
 
12 - باب: مهل أهل اليمن.
Bab 12: Permulaan Tempat Ihram Penduduk Yaman

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits Ibnu Abbas yang diisyaratkan di atas.")

 
13 - باب: ذات عرق لأهل العراق.
Bab 13: Zatu Irqin Untuk Penduduk Irak

1458 - حدثني علي بن مسلم: حدثنا عبد الله بن نمير: حدثنا عبيد الله، عن نافع، عن ابن عمر رضي الله عنهما قال:لما فتح هذان المصران، أتوا عمر، فقالوا: يا أمير المؤمنين، إن رسول الله صلى الله عليه وسلم حد لأهل نجد قرنا، وهو جور عن طريقنا، وإنا إن أردنا قرنا شق علينا. قال: فانظروا حذوها من طريقكم، فحد لهم ذات عرق.

759. Ibnu Umar r.a.. berkata, "Setelah ke dua negeri ini (Kufah dan Bashrah) dikalahkan (menyerah), mereka datang kepada Umar dan berkata, 'Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Rasulullah telah menentukan Qarn untuk tempat ihram orang-orang dari Najed. Tetapi, Qarn itu menyimpang dari jalan kami. Sedangkan, kalau kami pergi ke Qarn lebih dahulu, tentu akan menyulitkan bagi kami.' Umar berkata, 'Telitilah tempat yang sejajar dengan Qarn itu di jalan yang kamu lalui.' Maka, ditetapkannya Zatu Irqin untuk mereka."
 
14 - باب: خروج النبي صلى الله عليه وسلم على طريق الشجرة.
Bab 14: Keluarnya Nabi Melalui Jalan Syajarah

1460 - حدثنا إبراهيم بن المنذر: حدثنا أنس بن عياض، عن عبيد الله، عن نافع، عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما:أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يخرج من طريق الشجرة، ويدخل من طريق المعرس، وأن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا خرج إلى مكة يصلي في مسجد الشجرة، وإذا رجع صلى بذي الحليفة، ببطن الوادي، وبات حتى يصبح.[1705، وانظر: 1459]
760. Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Rasulullah keluar dari jalan Syajarah dan masuk dari jalan Mu'arras. Sesungguhnya Rasulullah apabila berangkat ke Mekah, beliau shalat di masjid Syajarah. Apabila beliau pulang, maka beliau shalat di Dzul Hulaifah di Bathnul Wadi, dan bermalam sehingga pagi.
 
15 - باب: قول النبي صلى الله عليه وسلم: (العقيق واد مبارك).
Bab 15: Sabda Nabi , "Al-'aqiq Adalah Lembah yang Diberkahi."

1461 - حدثنا الحميدي: حدثنا الوليد، وبشر بن بكر التنيسي قالا: حدثنا الأوزاعي قال: حدثني يحيى قال: حدثني عكرمة: أنه سمع ابن عباس رضي الله عنهما يقول:إنه سمع عمر رضي الله عنه يقول: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم بوادي العقيق يقول: (أتاني الليلة آت من ربي فقال: صل في هذا الوادي المبارك، وقل: عمرة في حجة).[2212، 6911]
761. Umar r.a. berkata, "Saya mendengar Rasulullah di Wadil 'Aqiq bersabda, 'Tadi malam datang kepadaku utusan dari Tuhanku, ia berkata, 'Shalat lah di lembah yang diberkahi ini, dan ucapkanlah, 'Umrah dalam (dan dalam satu riwayat: dan 8/155) haji (Ihram umrah dan haji bersama-sama).'"

1462 - حدثنا محمد بن أبي بكر: حدثنا فضيل بن سليمان: حدثنا موسى بن عقبة قال: حدثني سالم بن عبد الله، عن أبيه رضي الله عنه،عن النبي صلى الله عليه وسلم: أنه رؤي وهو في معرس بذي الحليفة، ببطن الوادي، قيل له: إنك ببطحاء مباركة. وقد أناخ بنا سالم، يتوخى بالمناخ الذي كان عبد الله ينيخ، يتحرى معرس رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو أسفل من المسجد الذي ببطن الوادي، بينهم وبين الطريق، وسط من ذلك.[2211، 6913]
762. Musa bin Uqbah dari Salim bin Abdullah (Ibnu Umar) dari ayahnya dari Nabi, bahwa ia berkata, "Nabi pernah menerima wahyu ketika beliau sedang istirahat dalam suatu perjalanan di perut lembah di Dzul Hulaifah. Diwahyukan kepada beliau, 'Sesungguhnya engkau sedang berada di Bath-ha' yang diberkahi.' Salim menghentikan kami di tempat pemberhentian yang Abdullah pernah berhenti di situ, mencari tempat berhentinya Rasulullah. Letaknya ialah di bagian bawah dari masjid yang ada di pertengahan lembah yang ada antara mereka dengan jalan. Yakni, pertengahan antara tempat yang disebutkan itu.
 
16 - باب: غسل الخلوق ثلاث مرات من الثياب.
Bab 16: Membersihkan Wangi-Wangian dari Pakaian Sebanyak Tiga Kali

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ya'la yang akan disebutkan pada "26-AL-UMRAH / 10'.")
 
17 - باب: الطيب عند الإحرام، وما يلبس إذا أراد أن يحرم، ويترجل ويدهن
Bab 17: Wangi-Wangian Ketika Ihram dan Pakaian yang Dipakai Ketika Akan Berihram, Perihal Menyisir Rambut dan Menggunakan Minyak

وقال ابن عباس رضي الله عنهما: يشم المحرم الريحان، وينظر في المرآة، ويتداوى بما يأكل: الزيت والسمن. وقال عطاء: يتختم ويلبس الهميان. وطاف ابن عمر رضي الله عنهما وهو محرم، وقد حزم على بطنه بثوب. ولم تر عائشة رضي الله عنها بالتبان بأسا، للذين يرحلون هودجها.Ibnu Abbas r.a. berkata, "Orang yang sedang ihram boleh mencium wewangian, bercermin, dan berobat dengan apa yang biasa ia makan seperti minyak dan samin."[4]
Atha' berkata, "Boleh memakai cincin dan mengenakan kain yang berkantong."[5]
 Umar r.a. melakukan thawaf ketika sedang ihram, sedangkan ia mengikat perutnya dengan kain.[6]
 Aisyah r.a. tidak menganggap bersalah terhadap orang-orang yang hanya mengenakan simpak (cawat) ketika menjalankan sekedupnya.[7]

1464 - حدثنا محمد بن يوسف: حدثنا سفيان، عن منصور، عن سعيد بن جبير قال:كان ابن عمر رضي الله عنهما يدهن بالزيت. فذكرته لإبراهيم، قال: ما تصنع بقوله: حدثني الأسود، عن عائشة رضي الله عنها قالت: كأني أنظر إلي وبيص الطيب في مفارق رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو محرم.[ر:268]
763. Manshur dari Sa'id bin Jubair, berkata, "Ibnu Umar memakai minyak,[8] lalu hal itu kuberitahukan kepada Ibrahim.[9] Lalu, Ibrahim berkata, 'Jika engkau tidak menyetujui itu, maka bagaimanakah pendapat engkau perihal ucapan Ibnu Umar yang menyatakan, 'Aku diberi tahu oleh Aswad dari Aisyah, ia berkata, 'Seakan-akan aku dapat melihat (dan dalam satu riwayat: Aku mengenakan wewangian pada Rasulullah ketika beliau hendak ihram 7/61) (dengan parfum yang paling wangi yang beliau miliki, hingga aku dapati 7/60) mengkilatnya minyak wangi pada dahi Nabi (dan jenggotnya) ketika beliau berihram.'"


1465 - حدثنا عبد الله بن يوسف: أخبرنا مالك، عن عبد الرحمن بن القاسم، عن أبيه، عن عائشة رضي الله عنها، زوج النبي صلى الله عليه وسلم، قالت:كنت أطيب رسول الله صلى الله عليه وسلم لإحرامه حين يحرم، ولحله قبل أن يطوف بالبيت.[1667، 5578، 5584، 5586]
764. Abdur Rahman ibnul-Qasim (orang yang paling utama pada zamannya 2/195) dari ayahnya (orang yang paling utama pada zamannya) Aisyah istri Nabi, ia berkata, "Saya mengenakan minyak wangi kepada Rasulullah (dan dia membentangkan kedua tangannya), (dengan kedua tanganku ini) (dengan suatu jenis harum-haruman pada waktu haji wada' 7/61) untuk ihram ketika beliau berihram, dan pada waktu halal setelah beliau tahalul (di Mina 7/60) sebelum beliau thawaf di Baitullah (dan dalam satu riwayat: sebelum thawaf ifadhah)."

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #18 pada: 08 Desember 2007, 23:14:49 »
Assalamualaikum abizecha

jazakumullah atas artikelnya :), kalo bisa di informasikan juga dunk keseharian disana seperti apa dan baiknya seperti apa juga .

o iya bagaimana yah mengenai hukum wanita yg pergi umrah tanpa muhrim namun dijakarta nanti dibikinin surat muhrim, hukum ibadah kita gimana?

keseharian di makkah , sudah ada dari halaman paling atas sampai sebelum  pertanyaan ukthi dan sesudahnya  ...................

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #19 pada: 08 Desember 2007, 23:34:46 »
adapun mengenai bepergiannya seorang wanita untuk haji tanpa mahram maka ana ketengahkan artikel yang berkaitan sebagai jawabanya ( sekaligus tambahan  bagaimana hukumnya jika pergi kepasar ) :

Safar Dalam Rangka Menunaikan Ibadah Haji

Jika Anda bertanya : “Apakah dibolehkan bagi wanita melakukan safar dalam rangka menunaikan ibadah haji tanpa disertai mahram?”

Imam At Tirmidzi rahimahullah tekah meringkas sebuah jawaban untuk pertanyaan di atas. Beliau mengatakan bahwa Ahlul ‘Ilmi (ulama) masih memperbincangkan permasalahan ini, sebagian dari mereka berkata : [ Tidak wajib baginya menunaikan ibadah haji karena mahram merupakan persyaratan perjalanan, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“… bagi orang yang sanggup melakukan perjalanan kepadanya … .”

Mereka mengatakan bila wanita tersebut tidak memiliki mahram berarti ia belum sanggup melakukan perjalanan kepadanya. Ini adalah ucapan Sufyan Ats Tsauri dan penduduk Kufah. Sedangkan sebagian Ahlul Ilmi yang lainnya mengatakan : “Bila perjalanan menuju haji dijamin aman, maka ia boleh keluar menunaikan ibadah haji bersama manusia yang lain.” Ini adalah pendapat Malik bin Anas dan Imam Syafi’i. ]

Syaikh Mushthafa Al ‘Adawi setelah membawakan secara panjang lebar dalil-dalil dari kedua pihak (yang membolehkan dan yang tidak membolehkan) mengatakan : “Setelah melihat dalil-dalil yang ada, tampak padaku bahwa dalil dari mereka yang menyatakan tidak bolehnya adalah lebih kuat karena larangan bagi wanita melakukan safar tanpa mahram adalah bersifat umum tadi, dengan demikian ia termasuk dalam larangan yang umum ini, sedangkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah bersabda : ‘Apa saja yang aku larang bagi kalian, maka tinggalkanlah.’ Wallahu A’lam.”

Fatwa-Fatwa Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin memberikan fatwa berkaitan dengan hajinya seorang wanita tanpa mahram. Berikut ini jawaban beliau dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan :

1. Sebagian wanita pergi melaksanakan umrah tanpa mahram dan kadang-kadang bersama mereka seorang pembantu laki-laki dan pembantu wanita serta sopir. Kami mengharapkan kejelasan perkara tentang safar guna pelaksanaan umrah dan i’tikaf bagi seorang wanita yang tidak disertai mahram. Apakah boleh untuk menjadikan sebagian mereka sebagai mahram pada sebagiannya?

Beliau menjawab : [ Tidak boleh bagi wanita untuk safar tanpa mahram, baik untuk umrah maupun yang lainnya. Karena telah tsabit dalam Shahih Bukhari dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhu, ia berkata :

Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tidak boleh seorang laki-laki ber-khalwat dengan wanita lain dan tidak boleh bagi wanita untuk safar kecuali bersama mahramnya.”

Seorang wanita haram pergi sendirian dengan pengemudinya, walaupun masih dalam batasan negerinya. Karena pengemudi itu telah ber-khalwat dengannya dan tidak ada perbedaan antara keadaannya wanita tersebut ketika berkumpul atau tidak berkumpul. Dan sungguh telah datang hadits bahwa seseorang berkata : “Wahai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam! Sungguh istriku ingin keluar untuk haji dan saya telah ditulis untuk ikut perang ini dan itu.” Maka beliau bersabda : “Kembalilah, maka berhajilah bersama istrimu.” (Dikeluarkan oleh Bukhari, bab Jihad, Fathul Bari 6/142-143) ]

2. Apakah boleh bagi wanita untuk safar dengan naik kapal terbang dengan keadaan aman tapi tanpa mahram?

Beliau menjawab : [ Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Tidak boleh safar bagi wanita kecuali bersama mahram.”

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengucapkan hadits tersebut ketika memberikan khutbah di atas mimbar dalam pelaksanaan ibadah haji. Maka berdirilah seseorang dan berkata : “Wahai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam! Sungguh istriku keluar untuk haji dan saya telah ditulis untuk ikut perang ini dan itu.” Maka jawab Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Kembalilah, maka berhajilah bersama istrimu.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan padanya untuk meningalkan perang dan melaksanakan haji bersama istrinya dan tidaklah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berkata :

“Apakah istrimu dalam keadaan aman?”

Atau : “Apakah bersamanya ada wanita lain?”

Atau : “Bersama tetangganya?”

Maka ini menunjukkan keumuman larangan safar bagi wanita tanpa disertai mahram. ]

Wanita Keluar Menuju Pasar

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hafidhahullah pernah ditanya : “Bolehkah seorang wanita keluar menuju pasar tanpa disertai mahramnya dan kapankah yang demikian itu dibolehkan serta kapankah diharamkannya?”

Beliau menjawab : [ Pada dasarnya, keluarnya wanita menuju pasar adalah boleh dan tidak disyaratkan bahwa ia harus disertai mahram kecuali jika dikhawatirkan terjadi fitnah. Dalam keadaan demikian ia tidak diperkenankan keluar kecuali jika disertai mahram yang menjaga dan melindunginya. Hukum bolehnya ia keluar menuju pasar adalah diiringi dengan sebuah syarat yang harus ia penuhi yaitu tidak berhias dan tidak memakai minyak wangi (parfum) karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah melarangnya. ]

Kebolehan wanita keluar ke pasar tak luput diikat dengan syarat-syarat yang ketat, di antaranya hendaklah wanita itu keluar karena kebutuhan yang mendesak, hendaklah menggunakan hijab yang sempurna menurut syariat dan tidak ber-tabarruj, tanpa berhias dan tanpa berminyak wangi.

Wanita Berduaan Bersama Sopir Jika Bepergian, Bolehkah ?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz ketika ditanya tentang hukum wanita berkendaraan seorang diri hanya ditemani sopir yang membawanya ke tengah kota (belum keluar dalam batas safar). Beliau menjawab : [ Tidak boleh seorang wanita berkendaraan hanya dengan seorang sopir tanpa disertai orang lain yang bersamanya karena yang demikian ini termasuk dalam hukum ber-khalwat (berduaan), padahal Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah bersabda :

“Janganlah berduaan seorang laki-laki dengan seorang wanita kecuali wanita tersebut disertai mahramnya.”

“Janganlah berduaan seorang pria dengan seorang wanita karena syaithan menjadi pihak ketiga dari keduanya.”

Adapun jika ada orang lain beserta keduanya baik seorang ataupun lebih, baik pria ataupun wanita, maka ini tidak mengapa baginya, bila di sana tidak ada sesuatu yang meragukan, karena keadaan khalwat (berduaan) akan hilang dengan sendirinya dengan hadirnya orang yang ketiga atau lebih. Ini dibolehkan selama belum masuk dalam batas safar. Adapun di dalam safar maka tidak boleh seorang wanita melakukan safar kecuali bila disertai mahramnya sebagaimana telah warid dalam sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. ]

Penutup

Saudariku Muslimah …….. .

Wanita keluar rumah tanpa mahram dan tanpa ada kebutuhan yang syar’i merupakan dosa baginya. Lebih baik dan lebih suci bagi wanita untuk tetap tinggal di rumahnya agar kaum laki-laki tidak melihatnya dan wanita itupun tidak melihat padanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman :

“Dan tetaplah kalian (kaum wanita) di rumah-rumah kalian.”

Tidaklah ada perkara yang lebih mendekatkan diri wanita dengan Rabb-nya melebihi bila ia tetap tinggal di rumah dan berusaha menjadi wanita yang diridhai-Nya dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya dan taat kepada suaminya.

Ali radhiallahu 'anhu pernah berkata :

“Apakah kamu tidak malu … dan apakah kamu tidak tertipu … , kamu membiarkan wanita keluar di antara kaum laki-laki untuk melihat padanya dan mereka pun (kaum laki-laki) melihat pada kaum wanita tersebut.” (Lihat Al Kabair, Adz Dzahabi halaman 171-172)

Al Iffah (harga diri), rasa malu, dan kelembutan adalah sesuatu yang bernilai tinggi, nilainya tidak dapat ditakar dengan harga dunia beserta seluruh isinya dan ini merupakan kekhususan bagi wanita Muslimah yang tak dimiliki oleh wanita lain. Oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya melalui syariat yang agung menetapkan aturan-aturahn yang dapat mempertahankan eksistensi dari kekhususan ini dan semuanya itu diletakkan dengan hikmah yang tinggi.

Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memperlihatkan kepada kita al haq dan membimbing kita untuk mengikutinya dan memperlihatkan kepada kita al bathil dan membimbing kita untuk menjauhinya. Ya Allah, tuntunlah kami ke jalan-Mu yang lurus. Amin !!!

_____________________________ ______________
Maraji’ :

1. Al Manhiyatul ‘Asyr lin Nisa’ oleh Abi Maryam Majd Fathis Said.

2. Al Haribatu ilal Aswaq oleh Asy Syaikh ‘Abdul Malik Al Qasim.

3. As’ilah Muhimmah oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin.

4. Jami’ Ahkamun Nisa’ oleh Asy Syaikh Mushthafa Al ‘Adawi.

5. Massuliyyah Al Mar’ah Al Muslimah oleh Asy Syaikh ‘Abdullah bin Jarullah.

6. Majmu’ah Durus Fatawa (Harami Makki) oleh Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz.

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #20 pada: 08 Desember 2007, 23:51:30 »
sekaligus kita ketengahkan artikel yang berkaitan .................


Larangan Wanita Pergi Tanpa Mahram

Saudariku Muslimah … . Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

“Apa yang dikatakan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr : 7)

Yakni apa yang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam perintahkan kepadamu maka kerjakanlah dan apa yang dilarangnya, jauhilah. Sesungguhnya beliau hanya memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kejelekan.

Ibnu Juraij berkata : “Apa yang datang kepadamu untuk taat kepadaku (Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam) maka kerjakanlah dan apa yang datang kepadamu untuk bermaksiat kepadaku maka jauhilah.”

Pengertian ayat di atas bersifat umum yakni mencakup semua perintah dan larangan, karena beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidaklah memerintahkan kecuali membawa kebaikan dan tidaklah melarangnya kecuali mengandung kerusakan (kebinasaan).
(Lihat Al Manhiyat Al ‘Asyr Li An Nisa’ oleh Abi Maryam Majd Fathis Said halaman 7)

Maka dalam rangka mengerjakan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Nabi-Nya, kami akan berusaha menukil beberapa hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan keterangan ulama yang berkaitan dengan judul di atas.

Bisa kita saksikan kenyataan di sekitar kita, semakin banyak kaum Muslimah mengadakan safar tanpa didampingi oleh mahramnya. Amalan semacam ini tak lain hanya akan membawa kebinasaan bagi wanita tersebut baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu agama Islam yang hanif memberikan benteng kepada mereka (kaum Muslimah) dalam rangka menjaga dirinya, kehormatannya, dan agamanya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Janganlah wanita melakukan safar selama 3 hari kecuali bersama mahramnya.” (Hadits shahih, dikeluarkan oleh Bukhari 2/54, Muslim 9/106, Ahmad 3/7, dan Abu Dawud 1727)

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar (bepergian) selama satu hari satu malam yang tidak disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Janganlah seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahramnya dan janganlah seorang laki-laki masuk menjumpainya kecuali disertai mahramnya.” Kemudian seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah ! Sungguh aku ingin keluar bersama pasukan ini dan itu sedangkan istriku ingin menunaikan haji.” Maka bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Keluarlah bersama istrimu (menunaikan haji).” (Dikeluarkan hadits ini oleh Muslim dan Ahmad)

Komentar Ulama Dalam Masalah Safar Bagi Wanita

Asy Syaikh Abi Maryam menyebutkan dalam bukunya Al Manhiyat Al ‘Asyr li An Nisa’ bahwa hadits-hadits yang menyebutkan tentang batasan safar bagi wanita tanpa mahram berbeda-beda. Ada yang menyebutkan “selama sehari semalam”, ada pula yang menyatakan “tiga hari”, dalam riwayat lain dikatakan “selama tiga malam”, sedangkan dalam riwayat Abu Dawud disebutkan “selama satu barid” yakni perjalanan setengah hari.” Dalam hal ini ulama mengatakan bahwa perbedaan tersebut terjadi karena berbedanya orang yang bertanya dan berbedanya negeri tempat tinggal. Namun demikian tidak berarti bahwa larangan yang gamblang hanya selama 3 hari sedangkan yang kurang dari itu dibolehkan.

Al ‘Allamah Al Baihaqi juga mengomentari hal ini dengan ucapan beliau : “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam seolah-olah ditanya tentang wanita yang melakukan safar selama tiga hari tanpa mahram, lalu beliau menjawab tidak boleh dan beliau ditanya tentang perjalanannya (safar) selama dua hari tanpa mahram kemudian beliau menjawab tidak boleh, demikian pula halnya tentang perjalanannya sehari atau setengah hari beliau tetap menjawab tidak boleh. Kemudian setiap dari mereka mengamalkan apa yang didengarnya. Oleh karena itu hadits-hadits yang dibawakan dari satu riwayat dengan lafadh yang berbeda berarti hadits tersebut didengar di beberapa negeri, maka perawinya kadang-kadang meriwayatkan yang ini dan kadang-kadang meriwayatkan yang itu dan semuanya adalah shahih.” (Syarhul Muslim li An Nawawi 9/103)

Imam Ahmad rahimahullah berkata bahwasanya bila wanita tidak mendapati suami atau mahram yang menemaninya, maka tidak wajib baginya menunaikan haji. Ini sesuai dengan perkataan ulama Ahlul Hadits yang sebelumnya, demikian pula perkataan Al Hasan Al Bashri, Ibrahim An Nakha’i, Ishaq bin Rahuyah dan Ats Tsauri.

Imam Al Baghawi mengatakan : “Ulama sepakat bahwa dalam perkara yang bukan wajib tidak dibolehkan bagi wanita melakukan safar kecuali disertai oleh suami atau mahram yang lain, terkecuali wanita kafir yang telah masuk Islam di negeri musuh atau tawanan wanita yang telah berhasil meloloskan diri dari tangan-tangan orang kafir, mau tidak mau ia harus keluar dari lingkup mereka dengan tanpa mahram, walaupun ia seorang diri bila tidak merasa takut.” (Syarhus Sunnah 7/20)

Yang lainnya menambahkan : “Atau wanita yang tertinggal dari rombongannya/tersesat, lalu ditemukan oleh seorang laki-laki yang bukan mahram yang dapat dipercaya, maka boleh bagi laki-laki tadi menemaninya hingga ia mendapatkan rombongannya kembali.” (Syarhus Sunnah 7/21)

Mahram Bagi Wanita

Abu Maryam dalam bukunya Al Manhiyat mengatakan : “Mahram bagi wanita adalah siapa saja yang diharamkan menikah dengannya secara mutlak (selamanya) seperti ayah, saudara laki-laki, keponakan laki-laki, dan yang dihukumi sama dengan mereka melalui susuan, demikian pula suami dari putri-putrinya (menantu) yang telah bercampur dengan mereka (yakni menantu tersebut telah melakukan jima’ dengan putrinya sebagaimana layaknya suami istri). Termasuk dalam hitungan mahram bagi wanita adalah suaminya.” (halaman 68)

Adapun laki-laki yang sewaktu-waktu menjadi halal menikah dengannya seperti budak atau saudara iparnya maka mereka ini tidak termasuk mahram karena tidak dianggap aman terhadapnya dan tidak haram baginya untuk selama-lamanya, maka mereka ini dihukumi seperti orang lain.

Imam Ahmad pernah ditanya : “Apakah anak-anak (laki-laki) bisa dijadikan mahram?” Beliau menjawab : “Tidak, hingga ia mencapai usia baligh karena ia belum dapat mengurus dirinya sendiri maka bagaimana ia dipercaya keluar mengantar seorang wanita. Hal itu karena mahram berfungsi sebagai penjaga bagi wanita tersebut dan ini tidak didapatkan kecuali dari orang yang baligh dan berakal.”

Syaikh Mushthafa Al ‘Adawi mengomentari pernyataan di atas dengan mengatakan bahwa ucapan yang mengatakan disyaratkannya lelaki yang baligh dan berakal sebagai mahram bagi wanita di dalam safar, alangkah baiknya jika disempurnakan dengan menambahkan syarat berikutnya yaitu memiliki bashirah (ilmu dien), sehingga jadilah syarat itu : Baligh, berakal, dan memiliki bashirah. (Untuk pembahasan lebih lanjut tentang mahram, lihat Salafy Muslimah edisi XIV dalam Rubrik Kajian Kali Ini).

Kenapa Disyaratkan Dengan Mahram

Islam yang hanif ingin menjaga wanita Muslimah dari setiap bahaya yang akan menimpanya dan ingin menjaga kehormatannya dengan berbagai cara dan bermacam-macam wasilah guna memberikan manfaat baginya baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itulah disyaratkan mahram dalam safar bagi wanita Muslimah tersebut. Dan ini adalah perhatian syariat Islam yang lurus kepada kaum wanita dan perkara ini tidaklah membawa mereka kepada jurang kebinasaan atau kesempitan.

Keluarnya wanita sendirian akan memberikan dampak yang negatif bagi kaum laki-laki maupun bagi dirinya sendiri, lebih-lebih bila ia keluar dengan ber-tabarruj, menampakkan perhiasan bukan pada mahramnya. Maka syariat melarang mereka untuk banyak keluar rumah tanpa ‘uzur yang syar’i, memerintahkan kepada mereka untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan agar mereka menjaga dirinya, agamanya, dan kehormatannya dari kehinaan dan kerendahan yang akan menimpanya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka apabila keluar, syaithan akan menghiasinya.” (Dikeluarkan oleh Al Bazzar dan At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Irwaul Ghalil jilid I)

Hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam di atas merupakan peringatan kepada kaum wanita agar tidak banyak keluar rumah tanpa disertai mahram. Islam melarang mereka agar tidak terjerumus pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya yaitu sebab-sebab yang akan mengantarkan pada perbuatan zina.


Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=160

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #21 pada: 09 Desember 2007, 12:55:32 »
artikel tentang hukum-hukum haji bagi kaum wanita


IHRAM HAJI DALAM KEADAAN HAIDH LALU PERGI KE JEDDAH

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz


Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Seorang wanita ihram haji dari Assyal dan dia sedang haidh. Lalu ketika sampai di Mekkah di pergi ke Jeddah karena ada keperluan dan dia suci ketika di Jeddah. Maka dia mandi dan menyisir rambutnya kemudian menyempurnakan hajinya. Apakah hajinya sah, dan apakah dia wajib membayar kifarat ?

Jawaban
Tidak mengapa wanita yang sedang ihram dan haidh pergi ke Jeddah. Demikian itu tidak terpengaruh kepada hajinya dan dia tidak wajib membayar kifarat. Demikian pula dia menyisir rambut jika tidak disertai dengan parfum atau memotong rambut, atau ketika dia melakukan kedua hal tersebut karena lupa atau tidak tahu hukumnya. Tapi jika sengaja dan mengetahui hukum syar'i tentang kedua hal tersebut, maka dia wajib membayar kifarat, yaitu memberi makan enam orang miskin dari makanan pokok dengan setengah sha' untuk masing-masing orang miskin, atau menyembelih kambing, atau puasa tiga hari, untuk masing-masing dari memotong rambut dan memakai parfum.


HAIDH KETIKA THAWAF IFADHAH DAN MENYELESAIKAN HAJI KARENA MALU

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Seorang wanita pergi haji dan dia haidh sejak lima hari dari bepergiannya, dan setelah di miqat dia mandi dan ihram padahal dia belum suci. Ketika di Mekkah dia selalu di luar Masjidil Haram dengan tidak melakukan manasik haji atau umrah. Kemudian ketika dia mabit di Mina dua hari, dia suci, maka dia mandi dan melaksanakan semua manasik umrah dalam keadaan suci. Lalu dia haidh lagi ketika sedang thawaf ifadhah, karena malu dia menyelesaikan manasik haji, dan tidak memberitahukan kepada walinya kecuali setelah sampai di negerinya. Apa hukum terhadap hal tersebut ?

Jawaban
Jika kejadiannya seperti disebutkan penanya, maka :

Pertama, dia wajib pergi ke Mekkah dan thawaf tujuh kali putaran dengan niat thawaf haji sebagai ganti thawaf ifadhah ketika dia haidh, lalu shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim atau di tempat mana saja di Masjidil Haram. Dengan itu, maka sempurnalah hajinya.

Kedua, Bila dia bersuami maka dia wajib membayar dam dengan menyembelih kambing di Mekkah dan dibagikan kepada orang-orang miskin di Mekkah yaitu jika dia telah melakukan hubungan badan dengan suaminya setelah dia pulang haji, karena dia masih dalam dihram dan suaminya tidak halal menggaulinya melainkan setelah dia thawaf ifadhah dan melontar jumrah pada hari 'Idul Adha serta memotong rmabutnya.

Ketiga, Dia wajibn sa'i di anatara Shafa dan Marwah jika dia belum sa'i ketika mengambil haji tamattu, yakni dia umrah dulu sebelum haji. Tapi jika dia mengambil haji qiran atau haji ifrad maka dia tidak wajib sa'i lagi karena dia telah sa'i bersama thawaf qudum

Keempat, Dia wajib bertaubat kepada Allah karena thawaf dalam keadaan haidh, kaluar dari Mekkah sebelum thawaf ifadhah dan mengakhirkan thawaf dalam tempo yang lama. Semoag Allah menerima taubatnya.


WANITA NIFAS PADA HARI TARWIYAH DAN BARU SUCI SETELAH SEPULUH HARI

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz


Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Seorang wanita nifas pada hari tarwiyah dan dia melaksanakan rukun-rukun haji selain thawaf dan sa'i, hanya saja dia mencermati bahwa dia baru akan suci setelah sepuluh hari. Apakah dia harus bersuci dan mandi lalu melaksanakan rukun haji yang selebihnya, yaitu thawaf haji..?

Jawaban
Jika seorang wanita nifas pada hari kedelapan Dzulhijjah, maka dia haji dan wukuf bersama manusia di Arafah dan Mudzdalifah, dan dia boleh melakukan apa yang dikerjakan orang-orang yang haji, seperti melontar jumrah, menyembeliah kurban dan lain-lain. Kemudian tersisa atas dia kewajiban thawaf dan sa'i yang harus ditunda hingga dia suci. Jika dia telah suci setelah sepuluh hari atau lebih atau lebih sedikit, dia mandi, dan karena itu dia boleh shalat, berpuasa, thawaf dan sa'i. Sebab tiada batas minimal waktu nifas, sedangkan dia telah suci setelah sepuluh hari atau kurang atau lebih banyak dari itu, tapi nifas paling lama adalah empat puluh hari. Maka jika telah sempurna empat puluh hari dan darah belum tuntas, dia menilai dirinya dalam hukum wanita yang suci sebab darah yang masih ada padanya menurut pendapat yang shahih adalah darah penyakit, maka dia shalat, berpuasa dan boleh bersenggama dengan suami. Tapi hendaknya dia berupaya keras menjaga darah dengan kapas dan yang sepertinya, dan dia berwudhu setiap waktu shalat, dan tidak mengapa dia melakukan shalat jama' dzhuhur dan ashar maghrib dan isya sebagaimana diwasiatkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Himnah binti Jahsyi.


[Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i, hal 135 - 140, Penerjemah H.Asmuni Solihan Zamakhsyari Lc]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=1283&bagian=0


Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #22 pada: 09 Desember 2007, 23:28:58 »
HAID SEBELUM THAWAF IFADHAH

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Seorang wanita haidh atau nifas sebelum thawaf ifadhah. Apakah dia harus tetap di Mekkah hingga dia suci lalu thawaf, ataukah dia boleh pergi ke Jeddah atau tempat lain kemudian kembali lagi ke Mekkah untuk thawaf ketika dia telah suci ?

Jawaban
Jika dia mampu tetap di Mekkah maka dia wajib tetap di Mekkah hingga suci dan menyempurnakan hajinya. Tapi jika tidak dapat tetap di Mekkah, maka tiada larangan jika dia pergi bersama mahramnya ke Jeddah, ke Thaif, atau yang lain, kemudian dia kembali ke Mekkah bersama mahramnya setelah suci dan menyempurnakan manasiknya.


MENGAKHIRKAN THAWAF IFADHAH BAGI WANITA YANG HAIDH ATAU NIFAS


Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Seorang wanita haidh sebelum thawaf ifadhah, tapi dia telah melakukan semua manasik haji dan haidhnya berlangsung hingga setelah hari-hari tasyriq. Bagaimana hukumnya ..?

Jawaban
Jika seorang wanita haidh atau nifas sebelum thawaf ifadhah maka dia tetap wajib thawaf ketika dia suci. Maka ketika dia suci, dia mandi dan thawaf untuk hajinya, walaupun setelah haji beberapa hari, bahkan walaupun dalam bulan Muharram atau bulan Shafar, sesuai kemudahan yang didapatkan, dan baginya tiada batasan waktu. Tapi sebagian ulama berpendapat tidak boleh mengakhirkan thawaf ifadhah melebihi bulan Dzulhijjah. Tapi pendapat ini tiada dalilnya. Bahkan yang benar adalah boleh mengakhirkannya. Tapi melakukan segera jika telah mampu adalah yang lebih utama. Namun jika diakhirkan sampai melebihi bulan Dzulhijjah maka sudah cukup baginya dan tidak wajib membayar dam. Sebab wanita yang haidh dan wanita yang nifas berhalangan untuk melakukan thawaf, maka tiada dosa atas keduanya. Haidh dan nifas bukan atas kehendak sendiri dan bukan sengaja untuk menunda thawaf ifadhah. Oleh karenanya hika keduanya telah suci, keduanya thawaf ifadhah, baik pada bulan Dzulhijjah atau bulan Muharram.

WANITA HAIDH PULANG KEPADA KELUARGA SEBELUM THAWAF IFADHAH

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin



Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Jika seorang wanita yang sedang haji haidh sebelum thawaf ifadhah, apakah dia boleh pulang kepada keluarganya kemudian kembali lagi untuk thawaf ifadhah, ataukah wajib menunggu hingga dia suci kemudian thawaf ?

Jawaban
Jika wanita haidh sebelum thawaf ifadhah maka mahramnya menunggu dia hingga suci. Tapi jika demikian itu tidak memungkinkan, maka dia boleh pergi. Lalu jika dia telah suci, maka dia harus merampungkan hajinya, dan ketika sebelum dia thawaf ifadhah maka suaminya tidak boleh menggaulinya. Tapi jika tidak memungkinkan dia kembali ke Masjidil Haram untuk thawaf setelah suci karena betempat tinggal di daerah jauh, maka dia boleh menyumbat darah haidhnya dan thawaf karena darurat.

HAL-HAL YANG DILAKUKAN WANITA YANG HAIDH SETELAH IHRAM UMRAH

Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Seorang wanita ingin melakukan haji tamattu', tapi setelah ihram dia haidh sebelum sampai di Masjidil Haram. Apa yang harus dia lakukan ? Dan apakah dia boleh haji sebelum umrah ?

Jawaban
Ia tetap dalam ihramnya untuk umrah. Jika dia suci sebelum hari Arafah dan memungkinkan melakukan umrah maka dia melaksanakan umrah, lalu dia ihram untuk haji dan pergi ke Arafah untuk melaksanakan manasik haji. Tapi jika dia belum suci sebelum hari Arafah maka dia memasukkan haji pada umrah dengan niat : "Ya Allah aku ihram haji bersama umrah". Artinya, dia mengambil haji qiran. Lalu dia wukuf bersama manusia dan melakukan manasik haji yang lain. Oleh karenanya cukup dengan ihramnya itu thawaf pada hari 'Id atau setelahnya dan sa'i untuk haji dan umrah. Tapi dia wajib menyembelih kambing sebagaimana diwajibkan bagi orang yang tamattu'.


[Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i, hal 130 - 134, Penerjemah H.Asmuni Solihan Zamakhsyari Lc]



Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=1279&bagian=0

Offline dea fadhly

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2007
  • Tulisan: 1
    • Lihat Profil
« Jawab #23 pada: 11 Desember 2007, 12:57:14 »
Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Terima kasih atas diterimanya saya menjadi anggota My Qur'an, semoga menambah wawasan tentang islam
Mengenai artikel seputar Haji dan Umroh, secara pribadi saya terbantu dengan artikel tersebut mengingat artikel tersebut memberikan gambaran tentang kaifiat haji dan umroh

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #24 pada: 11 Desember 2007, 13:06:22 »
Waalaikum salam @ ahlan wa sahlan, sukrön atas dukungannya smoga brmanfaat bg ana pribadi dan antum semuanya dan smga menjadi salah satu amal sholeh yg dicatat oleh malaikat . Ameiin ya robbal alamien

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #25 pada: 12 Desember 2007, 13:42:23 »
lanjutan dari : Kitab Haji( Dari Kitab Ringkasan Shahih Bukhari )


18 - باب: من أهل ملبدا.
Bab 18: Orang yang Memulai Ihram dengan Mengikat Rambut

1466 - حدثنا أصبغ: أخبرنا ابن وهب، عن يونس، عن ابن شهاب، عن سالم، عن أبيه رضي الله عنه قال:
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يهل ملبدا.[1474، 5570، 5571] و في روية : لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

765. Dari Salim dari ayahnya (Ibnu Umar) r.a., ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah membaca talbiyah dengan suara keras dengan mengikatkan kain di kepalanya sambil mengucapkan (dan dalam satu riwayat: Bahwa bacaan talbiyah Rasulullah 2/147):
'Labbaika Allahumma labbaik, laa syariika laka labbaik, innal-hamda wan-ni'mata laka wal-mulka, laa syariika laka'
'Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah kepunyaan-Mu, demikian pula kekuasaan, tiada sekutu bagi-Mu (dengan tidak menambah kalimat lain dari ini. 7/59)'."
 
19 - باب: الإهلال عند مسجد ذي الحليفة.
Bab 19: Memulai Ihram di Masjid Dzul Hulaifah

1467 - حدثنا علي بن عبد الله: حدثنا موسى بن عقبة: سمعت سالم بن عبد الله قال: سمعت ابن عمر رضي الله عنهما. حدثنا عبد الله بن مسلمة، عن مالك، عن موسى بن عقبة، عن سالم بن عبد الله: أنه سمع أباه يقول:
ما أهل رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا من عند المسجد، يعني: مسجد ذي الحليفة

766. Salim bin Abdullah mendengar ayahnya berkata, "Rasulullah tidak membaca talbiyah dengan suara keras melainkan dari sisi masjid, yakni masjid Dzul Hulaifah."
 
20 - باب: ما لا يلبس المحرم من الثياب
Bab 20: Pakaian yang Tidak Boleh Dikenakan Oleh Orang yang Berihram
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Umar yang tersebut pada nomor 89 di muka teksnya : .")

1468 - حدثنا عبد الله بن يوسف: أخبرنا مالك، عن نافع، عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن رجلا قال:
يا رسول الله، ما يلبس المحرم من الثياب؟ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (لا يلبس القمص، ولا العمائم، ولا السراويلات، ولا البرانس، ولا الخفاف، إلا أحد لا يجد نعلين، فليلبس خفين، وليقطعهما أسفل من الكعبين، ولا تلبسوا من الثياب شيئا مسه الزعفران، أو ورس).[ر:134]


89. Ibnu Umar dari Nabi saw. mengatakan bahwa seseorang bertanya kepada beliau, "Apakah [pakaian 7/36] yang dipakai oleh orang ihram?" Beliau bersabda, "Ia tidak boleh mengenakan (dan dalam satu riwayat: Janganlah kamu memakai 2/214) baju kurung, serban, jubah berpeci, dan kain yang dicelup wenter atau zafaran.
tambahan :
 [Dan jangan memakai khuf 'sepatu tinggi penutup kakinya'], [kecuali jika ia tidak mendapatkan sandal 2/145]. Jika ia tidak mendapatkan sandal, maka hendaklah menggunakan khuf dan agar dipotong sampai di bawah mata kaki. [Dan janganlah wanita yang sedang ihram memakai penutup wajah dan jangan pula memakai kaos tangan]."
 
21 - باب: الركوب الارتداف في الحج.
Bab 21: Naik Kendaraan dan Membonceng di Belakang Ketika Mengerjakan Haji

1469 - حدثنا عبد الله بن محمد: حدثنا وهب بن جرير: حدثنا أبي، عن يونس الأيلي، عن الزهري، عن عبيد الله بن عبد الله، عن ابن عباس رضي الله عنهما:أن أسامة رضي الله عنه كان ردف النبي صلى الله عليه وسلم، من عرفة إلى المزدلفة، ثم أردف الفضل، من المزدلفة إلى منى، قال: فكلاهما قال: لم يزل النبي صلى الله عليه وسلم يلبي حتى رمى جمرة العقبة.[1601، 1602]
767. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Usamah membonceng Nabi dari Arafah sampai Mudzalifah. Kemudian beliau memboncengkan al-Fadhl dari Mudzalifah sampai ke Mina. Ia, berkata, "Nabi selalu membaca talbiyah dengan suara keras sehingga beliau melempar jumrah Aqabah."
 
22 - باب: ما يلبس المحرم من الثياب والأردية والأزر.
Bab 22: Pakaian yang Boleh di Pakai Oleh Orang Berihram, Selendang dan Kain Panjang
 
ولبست عائشة رضي الله عنها الثياب المعصفرة وهي محرمة، وقالت: لا تلثم، ولا تتبرقع، ولا تلبس ثوبا بورس، ولا زعفران.
وقال جابر: لا أرى المعصفر طيبا. ولم تر عائشة بأسا بالحلي، والثوب الأسود، والمورد، والخف للمرأة.
 وقال إبراهيم: لا بأس أن يبدل ثيابه.

Aisyah r.a. mengenakan pakaian yang dicelup warna kuning ketika dia sedang ihram.[10]
Aisyah berkata, "Janganlah menutup hidung/muka dengan kain, janganlah memakai cadar, janganlah mengenakan pakaian yang dicelup dengan waras,[11] dan jangan mengenakan pakaian yang dicelup dengan za'faran."[12]
Jabir berkata, "Saya tidak melihat kain yang dicelup kuning itu sebagai wewangian."[13]
Aisyah memandang tidak terlarang mengenakan perhiasan, kain hitam, merah mawar, dan mengenakan khuf (kaos kaki) bagi wanita.[14]
Ibrahim berkata, 'Tidak mengapa orang yang berihram mengganti pakaiannya."[15]

1470 - حدثنا محمد بن أبي بكر المقدمي: حدثنا فضيل بن سليمان قال: حدثني موسى بن عقبة قال: أخبرني كريب، عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال:انطلق النبي صلى الله عليه وسلم من المدينة، بعد ما ترجل وادهن، ولبس إزاره ورداءه، هو وأصحابه، فلم ينه عن شيء من الأردية والأزر تلبس، إلا المزعفرة التي تردع على الجلد، فأصبح بذي الحليفة، ركب راحلته، حتى استوى على البيداء أهل هو وأصحابه، وقلد بدنته، وذلك لخمس بقين من ذي القعدة، فقدم مكة لأربع ليال خلون من ذي الحجة، فطاف بالبيت وسعى بين الصفا والمروة، ولم يحل من أجل بدنه، لأنه قلدها، ثم نزل بأعلى مكة عند الحجون وهو مهل بالحج، ولم يقرب الكعبة بعد طوافه بها حتى رجع من عرفة، وأمر أصحابه أن يطوفوا بالبيت وبين الصفا والمروة، ثم يقصروا من رؤوسهم، ثم يحلوا، وذلك لمن لم يكن معه بدنة قلدها، ومن كانت معه امرأته فهي له حلال، والطيب والثياب.[1545، 1644 - وانظر: 1444]
768. Abdullah Ibnu Abbas r.a berkata, "Nabi berangkat dari Madinah setelah bersisir dan meminyaki rambut, dan mengenakan kain dan selendang. Beliau tidak melarang sedikit pun dari selendang dan kain kecuali yang dicelup dengan za'faran yang za'faran itu melekat di kulit. Beliau memasuki waktu pagi di Dzul Hulaifah, dan beliau mengendarai kendaraan beliau. Sehingga, beliau tinggal di Baida'. Beliau dan para sahabat membaca talbiyah (untuk haji 2/35), dan beliau mengalungi unta beliau. Demikian itu lima hari (dalam satu riwayat: pagi hari keempat) terakhir Dzulqai'dah, lalu beliau tiba di Mekah pada empat malam (dalam satu riwayat: pagi hari keempat) dari bulan Dzulhijjah, lalu beliau melakukan thawaf di Baitullah. Beliau melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah. Beliau tidak bertahalul karena unta beliau, karena beliau telah mengalunginya. Kemudian beliau singgah di daerah atas Mekah di Hajun di mana beliau membaca talbiyah untuk haji. Beliau tidak mendekati Ka'bah setelah thawaf di sana sehingga beliau pulang dan Arafah, dan menyuruh para sahabat untuk thawaf di Baitullah dan (sa'i) antara Shafa dan Marwah. Kemudian mereka mencukur sebagian kepala mereka, dan bertahalul. (Dalam riwayat lain: Lalu beliau memerintahkan mereka menjadikannya sebagai umrah), dan yang demikian itu bagi yang tidak membawa unta yang dikalungi. Bagi orang yang bersama istrinya, maka istrinya itu halal baginya. Halal juga harum-haruman serta pakaian."
 
23 - باب: من بات بذي الحليفة حتى أصبح.
قاله ابن عمر رضي الله عنهما، عن النبي صلى الله عليه وسلم

Bab 23: Orang yang Bermalam di Dzul Hulaifah Sampai Pagi Hari
Demikian dikatakan oleh Ibnu Umar dari Nabi'saw.[16]


(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Anas yang akan disebutkan sesudah tiga bab lagi.")

24 - باب: رفع الصوت بالإهلال.
Bab 24: Mengeraskan Suara pada Waktu Memulai Ihram

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Anas yang diisyaratkan di muka." lihat bab 18 )
 

___________________

CATATAN KAKI :

[10] Di-maushul-kan oleh Sa'id bin Manshur dengan sanad yang sahih dari Aisyah.

[11] Tumbuhan berwarna kuning yang sangat harum baunya yang biasa digunakan untuk mencelup pakaian menjadi warna kuning kemerah-merahan, baunya sangat terkenal di Yaman.

[12] Di-maushul-kan oleh Baihaqi 5/52 tanpa menggunakan kata-kata "memakai cadar", dan sanadnya sahih.

[13] Di-maushul-kan oleh Imam Syafi'i (969) dengan isnad yang lemah.

[14] Di-maushul-kan oleh Baihaqi (5/52) dengan sanad yang di dalamnya terdapat orang yang tidak menyebutkan darinya dengan tidak menyebut khuf dan merah mawar. Adapun tentang khuf, maka diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Umar. Muwarrad adalah sesuatu yang dicelup warna mawar, dan hal ini akan diriwayatkan secara maushul dalam bab Thawaf Kaum Wanita pada akhir hadits Atha' dari Aisyah.
 
[15] Di-maushul-kan oleh Sa'id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah.

[16] Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari pada nomor 760 di muka.



Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #26 pada: 13 Desember 2007, 14:07:21 »
lanjutan ( secuil )  hukum-hukum wanita haid yang berhubungan dengan ibadah haji :

Thawaf

Diharamkan bagi wanita haid melakukan thawaf di Ka'bah, baik yang wajib maupun yang sunat, dan tidak sah thawafnya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Aisyah.

Artinya : Lakukanlah apa yang dilakukan jemaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di Ka'bah sebelum kamu suci".

Adapun kewajiban lainnya, seperti sa'i antara Shafa dan Marwah, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah dan amalan haji serta umrah selain itu, tidak diharamkan. Atas dasar ini, jika seorang wanita melakukan thawaf dalam keadaan suci, kemudian keluar haid langsung setelah thawaf, atau di tengah-tengah melakukan sa'i, maka tidak apa-apa hukumnya.

Thawaf Wada'

Jika seorang wanita telah mengerjakan seluruh manasik haji dan umrah, lalu datang haid sebelum keluar untuk kembali ke negerinya dan haid ini terus berlangsung sampai ia keluar, maka ia boleh berangkat tanpa thawaf wada'. Dasarnya, hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma.

"Artinya : Diperintahkan kepada jemaah haji agar saat-saat terakhir bagi mereka berada di Baitullah (melakukan thawaf wada'), hanya saja hal itu tidak dibebankan kepada wanita haid". [Hadits Muttafaq 'Alaih].

Dan tidak disunatkan bagi wanita haid ketika hendak bertolak, mendatangi pintu Masjidil Haram dan berdo'a. Karena hal ini tidak ada dasar ajarannya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan seluruh ibadah harus berdasarkan pada ajaran (sunnah) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan, menurut ajaran (sunnah) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebaliknya. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Shafiyah, Radhiyallahu 'Anha, ketika dalam keadaan haid setelah thawaf ifadhah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya :"Kalau, demikian, hendaklah ia berangkat" (Hadits Muttafaq 'Alaih). Dalam hadits ini, Nabi tidak menyuruhnya mendatangi pintu Masjidil Haram. Andaikata hal itu disyariatkan, tentu Nabi sudah menjelaskannya.

Adapun thawaf untuk haji dan umrah tetap wajib bagi wanita haid, dan dilakukan setelah suci

[Disalin dari buku Risalah Fid Dimaa' Ath-thabii'iyah Lin Nisaa' oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh Al 'Utsaimin, dengan edisi Indonesia Darah Kebiasaan Wanita hal. 32-38 diterbitkan Darul Haq, Penerjemah Muhammad Yusuf Harun, MA]

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #27 pada: 15 Desember 2007, 21:24:48 »
lanjutan kitan haji dari ringkasan shahih bukhari :

 
25 - باب: التلبية.
Bab 25: Talbiyah

- حدثنا محمد بن يوسف: حدثنا سفيان، عن الأعمش، عن عمارة، عن أبي عطية، عن عائشة رضي الله عنها قالت:إني لأعلم كيف كان النبي صلى الله عليه وسلم يلبي: (لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد والنعمة لك).769. Aisyah r.a. berkata, "Sungguh aku mengetahui bahwa Nabi mengucapkan talbiyah, yaitu:
 'Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laasyariika laka labbaika, innal hamda wanni'mata laka'
'Kami penuhi pangilan-Mu, ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu. Kami penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kami penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan kenikmatan adalah bagi-Mu'."

26 - باب: التحميد والتسبيح والتكبير، قبل الإهلال، عند الركوب على الدابة.
Bab 26: Bertahmid, Bertasbih, dan Bertakbir Sebelum Mengerjakan Ihram Ketika Menaiki Kendaraan

- حدثنا موسى بن إسماعيل: حدثنا وهيب: حدثنا أيوب، عن أبي قلابة، عن أنس رضي الله عنه قال:
صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، ونحن معه، بالمدينة الظهر أربعا، والعصر بذي الحليفة ركعتين، ثم بات بها حتى أصبح، ثم ركب حتى استوت به على البيداء، حمد الله وسبح وكبر، ثم أهل بحج وعمرة، وأهل الناس بهما، فلما قدمنا، أمر الناس فحلوا، حتى كان يوم التروية أهلوا بالحج. قال: ونحر النبي صلى الله عليه وسلم بدنات بيده قياما، وذبح رسول الله صلى الله عليه وسلم بالمدينة كبشين أملحين.
قال أبو عبد الله: قال بعضهم: هذا عن أيوب، عن رجل، عن أنس.[ر:1039]

770. Anas r.a. berkata, "Rasulullah dan kami shalat zhuhur empat rakaat di Madinah dan shalat ashar dua rakaat di Dzul Hulaifah. Kemudian beliau bermalam di sana sampai pagi. Kemudian beliau berkendaraan sehingga ketika kendaraan itu sampai di Baida', beliau memuji Allah, beliau membaca tasbih dan bertakbir. Kemudian beliau membaca talbiyah untuk haji dan umrah, dan seluruh manusia membaca talbiyah (dan saya mendengar mereka mengeraskannya) untuk haji dan umrah. (Dan dalam satu riwayat: Saya membonceng Abu Thalhah, dan mereka mengeraskan talbiyah untuk haji dan umrah 4/14). Ketika kami datang, beliau menyuruh manusia bertahalul, maka mereka bertahalul. Sehingga, pada hari tarwiyah mereka membaca talbiyah untuk haji, dan Nabi menyembelih beberapa ekor unta dengan tangan beliau sambil berdiri. Di Madinah Rasulullah menyembelih dua ekor kibas yang gemuk."
 
27 - باب: من أهل حين استوت به راحلته.
Bab 27: Orang yang Memulai Berihram di Waktu Kendaraannya Siap Untuk Membawanya Berangkat

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Umar yang disebutkan pada nomor 751 di muka.")
 
28 - باب: الإهلال مستقبل القبلة.
Bab 28: Memulai Ihram dengan Menghadap Kiblat

- وقال أبو معمر: حدثنا عبد الوارث: حدثنا أيوب، عن نافع قال: كان ابن عمر رضي الله عنهما:
إذا صلى بالغداة بذي الحليفة، أمر براحلته فرحلت، ثم ركب، فإذا استوت به استقبل القبلة قائما، ثم يلبي حتى يبلغ الحرم، ثم يمسك، حتى إذا جاء ذا طوى بات به حتى يصبح، فإذا صلى الغداة اغتسل، وزعم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم فعل ذلك..[1680، وانظر: 1443]

Nafi' berkata, "Ibnu Umar apabila telah selesai mengerjakan shalat subuh di Dzul Hulaifah, ia menyuruh menyediakan kendaraannya. Kemudian ia menaikinya. Ketika kendaraannya telah siap membawanya berangkat, ia menghadap kiblat sambil berdiri. Kemudian ia membaca talbiyah sehingga sampai di tanah Haram. Kemudian ia berhenti bertalbiyah. Sehingga, apabila ia sampai di Dzi Thuwa (suatu lembah terkenal di dekat Mekah), ia bermalam di sana. Ketika ia selesai mengerjakan shalat subuh, ia mandi. Ia menduga bahwa Rasulullah melakukan hal itu."[17]

- حدثنا سليمان بن داود أبو الربيع: حدثنا فليح، عن نافع قال: كان ابن عمر رضي الله عنهما:
إذا أراد الخروج إلى مكة ادهن بدهن ليس له رائحة طيبة، ثم يأتي مسجد ذي الحليفة فيصلي، ثم يركب، وإذا استوت به راحلته قائمة أحرم، ثم قال: هكذا رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يفعل.[ر:1443]

771. Nafi' berkata, "Apabila Ibnu Umar hendak pergi ke Mekah, lebih dahulu ia memakai minyak yang tidak harum. Kemudian ia pergi ke Masjid al-Hulaifah, lalu shalat. Sesudah itu ia naik kendaraan. Ketika kendaraannya telah siap membawanya dengan berdiri, ia pun mulai berihram. Kemudian ia bekata, 'Beginilah yang saya lihat yang dilakukan oleh Nabi.'"
 
29 - باب: التلبية إذا انحدر في الوادي.
Bab 29: Mengucapkan Talbiyah Apabila Orang yang Berihram Itu Turun di Lembah
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan bagian dari hadits Ibnu Abbas yang tercantum pada '60-AL ANBIYA / 8'- BAB'.")
 
30 - باب: كيف تهل الحائض والنفساء.
Bab 30: Bagaimana Orang yang Haid dan Nifas Berihram?

أهل تكلم به، واستهللنا وأهللنا الهلال، كله من الظهور، واستهل المطر خرج من السحاب.{وما أهل لغير الله به} /المائدة: 3/. وهو من استهلال الصبي.

Kata "ahalla" bisa berarti membicarakan. Kata "istahlalnaa" dan "ahlalnaa alhilaala" berarti kita melihat bulan sabit tampak seluruhnya. Kata "istahalla almatharu" berarti hujan keluar dari awan. Kata "wa maa uhilla li ghairillahi bihi" berarti apa yang diseru (ketika disembelih) untuk selain Allah. Dan, kata "istahalla ash-shabiyyu" artinya telah bersuara anak bayi.

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Aisyah yang telah disebutkan pada nomor 178 di muka.")
 
31 - باب: من أهل في زمن النبي صلى الله عليه وسلم كإهلال النبي صلى الله عليه وسلم.
Bab 31: Orang yang Berihram di Zaman Nabi Seperti Ihram Nabi

قاله ابن عمر رضي الله عنهما، عن النبي صلى الله عليه وسلم.[ر:4096]
Demikian dikatakan oleh Ibnu Umar dari Nabi saw.[18]

- حدثنا الحسن بن علي الخلال الهذلي: حدثنا عبد الصمد: حدثنا سليم بن حيان قال: سمعت مروان الأصفر، عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال:قدم علي رضي الله عنه، على النبي صلى الله عليه وسلم من اليمن، فقال: (بما أهللت). قال: بما أهل به النبي صلى الله عليه وسلم، فقال: (لولا أن معي الهدي لأحللت).).[4096]

772. Anas bin Malik r.a. berkata, "Ali datang kepada Nabi setibanya dari Yaman. Beliau bertanya, 'Dengan cara bagaimanakah kamu berihram?' Ia menjawab, 'Dengan cara ihram yang dikerjakan oleh Nabi.' Kemudian ia berkata, 'Seandainya saya tidak membawa kurban, tentulah saya melakukan tahalul.'"

- حدثنا محمد بن يوسف: حدثنا سفيان، عن قيس بن مسلم، عن طارق بن شهاب، عن أبي موسى رضي الله عنه قال: بعثني النبي صلى الله عليه وسلم إلى قوم باليمن، فجئت وهو بالبطحاء، فقال: (بما أهللت). قلت: أهللت كإهلال النبي صلى الله عليه وسلم، قال: (هل معك من هدي). قلت: لا، فأمرني فطفت بالبيت وبالصفا والمروة، ثم أمرني فأحللت، فأتيت امرأة من قومي، فمشطتني، أو غسلت رأسي.فقدم عمر رضي الله عنه، فقال: إن نأخذ بكتاب الله فإنه يأمرنا بالتمام، قال الله: {وأتموا الحج والعمرة لله}. وإن نأخذ بسنة النبي صلى الله عليه وسلم فإنه لم يحل حتى نحر الهدي.[1490، 1637، 1701، 4089، 4136]
773. Abu Musa r.a. berkata, "Nabi mengutus saya ke (negeri 5/109) kaum (saya) di Yaman. Saya datang, dan beliau (tinggal 2/204) di Bathha', beliau bersabda, 'Apakah sudah melakukan haji wahai Abdullah bin Qais?' Saya jawab, 'Sudah.' Beliau bertanya (2/188), 'Dengan cara bagaimanakah engkau bertalbiyah?' Saya jawab, 'Saya membaca talbiyah seperti talbiyah Nabi.' Beliau bersabda, 'Bagus, apakah engkau menggiring binatang kurban?' Saya menjawab, 'Tidak'. Lalu, beliau menyuruh saya. Kemudian saya thawaf (dalam satu riwayat: Beliau bersabda, 'Pergilah thawaf') di Baitullah, dan (sa'i) di Shafa dan Marwah. Kemudian beliau menyuruh saya, lalu saya bertahallul. Setelah itu saya mendatangi seorang wanita dari kaum saya, (dalam satu riwayat dari wanita Bani Qais), lalu ia menyisir saya, atau mencuci kepala saya. (Dalam satu riwayat: lalu ia melepaskan kepala saya, kemudian saya bertalbiyah untuk haji. Kemudian saya memberi fatwa kepada manusia hingga datang masa pemerintahan Umar r.a.) Maka, datanglah Umar r.a. Kemudian saya ceritakan hal itu kepadanya, lalu ia berkata, 'Jika kita mengambil kitab Allah, sesungguhnya Dia memerintahkan kita agar melakukannya dengan sempurna. Allah berfirman, 'Sempurnakanlah haji dan umrah itu karena Allah.' Dan, jika kita mengambil sunnah Nabi, maka sesungguhnya beliau tidak bertahalul sehingga beliau menyembelih binatang kurban.'"[19]

_____________________________ ___________

CATATAN KAKI :

[17] Diriwayatkan secara mu'allaq oleh penyusun (Imam Bukhari), tetapi di-maushul-kan oleh Abu Nu'aim dalam al Mustakhraj.
 
[18] Di-maushul-kan oleh penyusun pada "64 - AL-MAGHAZI / 63-BAB".

 
[19] Saya berkata, "Umar tidak mengetahui apa sebab Rasulullah tidak melakukan tahalul. Yaitu, sabda beliau, 'Seandainya saya tidak membawa binatang kurban, niscaya saya bertahalul.' Sebagaimana sahabat-sahabat yang tidak membawa kurban tidak mengetahui perintah Rasulullah untuk memfasakh haji kepada umrah, sebagaimana yang akan disebutkan pada hadits Ibnu Abbas nomor 774 dan sesudahnya.'

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #28 pada: 18 Desember 2007, 00:14:33 »
 
32 - باب: قول الله تعالى: {الحج أشهر معلومات فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال في الحج} /البقرة: 197/. {يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج}. /البقرة: 189/.
Bab 32: Firman Allah, "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats 'bersetubuh' , berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji." (al-Baqarah: 197) Dan, Firman-Nya, "Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji." (al-Baqarah: 189)

وقال ابن عمر رضي الله عنهما: أشهر الحج شوال وذو القعدة وعشر من ذي الحجة.
وقال ابن عباس رضي الله عنهما: من السنة أن لا يحرم بالحج إلا في أشهر الحج.
 وكره عثمان رضي الله عنه: أن يحرم من خراسان أو كرمان.

Ibnu Umar r.a. berkata, "Bulan-bulan haji itu adalah Syawal, Dzulqai'dah, dan sepuluh hari dari Dzulhijjah."[20]
Ibnu Abbas r.a. berkata, "Di antara aturan sunnah ialah bahwa tidak boleh orang berihram haji kecuali pada bulan-bulan haji."[21]
Utsman r.a. tidak menyukai orang melakukan ihram dari Khurasan atau Kirman."[22]

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Aisyah yang telah disebutkan pada nomor 178 di muka.")
 
33 - باب: التمتع والإقران والإفراد بالحج، وفسخ الحج لمن لم يكن معه هدي.
Bab 33: Haji Tamattu', Iqran, dan Ifrad serta Menukarkan Haji dengan Umrah Jika Tidak Mempunyai Hadyu (Binatang Kurban)

حدثنا موسى بن إسماعيل: حدثنا وهيب: حدثنا ابن طاوس، عن أبيه، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال:كانوا يرون أن العمرة في أشهر الحج من أفجر الفجور في الأرض، ويجعلون المحرم صفرا، ويقولون إذا برا الدبر، وعفا الأثر، وانسلخ صفر، حلت العمرة لمن اعتمر. قدم النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه صبيحة رابعة مهلين بالحج، فأمرهم أن يجعلوها عمرة، فتعاظم ذلك عندهم، فقالوا: يا رسول الله، أي الحل؟ قال: (حل كله).
[3620]

774. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Mereka berpendapat bahwa umrah dalam bulan-bulan haji termasuk seburuk-buruk keburukan di bumi. Mereka menjadikan bulan Muharram sebagai bulan Shafar, dan mereka mengatakan, 'Jika luka sudah sembuh, dan bekas (haji) telah tiada, dan bulan Shafar telah lewat, maka halallah umrah itu bagi orang yang berumrah.' Lalu (4/334) Nabi dan para sahabat pada pagi tanggal empat datang dengan membaca talbiyah untuk berhaji. Kemudian beliau menyuruh mereka untuk menjadikannya sebagai umrah. Maka, hal itu dirasa sebagai urusan yang besar di kalangan mereka, lalu mereka bertanya, 'Wahai Rasulullah, manakah yang halal?' Beliau bersabda, 'Halal seluruhnya.[23]'"

حدثنا إسماعيل قال: حدثني مالك. وحدثنا عبد الله بن يوسف: أخبرنا مالك، عن نافع، عن ابن عمر، عن حفصة رضي الله عنهم، زوج النبي صلى الله عليه وسلم، أنها قالت:يا رسول الله، ما شأن الناس حلوا بعمرة، ولم تحلل أنت من عمرتك؟ قال: (إني لبدت رأسي، وقلدت هديي، فلا أحل حتى أنحر).[1610، 1638، 4137، 5572
775. Hafshah istri Nabi saw berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah keadaan manusia yang bertahalul dari umrah, sedang engkau tidak bertahalul dari umrah?" (Dan dalam satu riwayat: Nabi menyuruh istri-istri beliau bertahalul pada tahun haji wada', lalu Hafshah bertanya, "Apakah yang menghalangimu untuk bertahalul?" 5/124). Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku menempelkan (mengikatkan) kain di kepalaku, aku mengalungi binatang kurbanku, dan aku tidak bertahalul sehingga aku menyembelih binatang kurban. (Dan dalam satu riwayat: Sehingga aku bertahalul dari haji.)."

- حدثنا آدم: حدثنا شعبة: أخبرنا أبو جمرة، نصر بن عمران الضبعي، قال: تمتعت، فنهاني ناس، فسألت ابن عباس رضي الله عنهما، فأمرني، فرأيت في المنام: كأن رجلا يقول لي: حج مبرور، وعمرة متقبلة، فأخبرت ابن عباس، فقال: سنة النبي صلى الله عليه وسلم، فقال لي: أقم عندي فأجعل لك سهما من مالي، قال شعبة: فقلت: لم؟ فقال للرؤيا التي رأيت.[1603]
776. Abu Jamrah, yaitu Nashr bin Imran adh-Dhuba'i, ia berkata, "Suatu ketika saya mengerjakan haji tamattu', lalu orang-orang melarang saya. Kemudian saya bertanya kepada Ibnu Abbas (tentang hal itu), lalu ia menyuruhku (melakukannya. Saya bertanya kepada nya tentang hadyu 'binatang kurban', lalu ia menjawab, 'Kurban itu bisa berupa unta, sapi, atau kambing, atau bersekutu dalam membayar dam. Tetapi, orang-orang tidak menyukainya. Lalu, saya tidur 2/180), kemudian saya bermimpi. Seolah-olah ada orang yang berkata kepadaku, 'Haji yang mabrur dan umrah (dalam satu riwayat: tamattu) yang diterima.' Lalu, saya beritahukan kepada Ibnu Abbas, dan ia berkata, 'Allah Maha Besar, sunnah Nabi (dan dalam satu riwayat: sunnah Abul Qasim saw.).' Kemudian ia berkata kepadaku, 'Silakan engkau bermukim di tempatku ini. Sebab, saya hendak memberikan sebagian dari hartaku kepadamu.'" Syubah berkata, "Saya bertanya, 'Mengapa?' Ia berkata, 'Karena mimpiku itu.'"

- حدثنا أبو نعيم: حدثنا أبو شهاب: قال:قدمت متمتعا مكة بعمرة، فدخلنا قبل التروية بثلاثة أيام، فقال لي أناس من أهل مكة: تصير الآن حجتك مكية، فدخلت على عطاء أستفتيه، فقال: حدثني جابر بن عبد الله رضي الله عنهما: أنه حج مع النبي صلى الله عليه وسلم يوم ساق البدن معه، وقد أهلوا بالحج مفردا، فقال لهم: (أحلوا من إحرامكم، بطواف البيت وبين الصفا والمروة، وقصروا، ثم أقيموا حلالا، حتى إذا كان يوم التروية فأهلوا بالحج، واجعلوا التي قدمتم بها متعة). فقالوا: كيف نجعلها متعة، وقد سمينا الحج؟ فقال: (افعلوا ما أمرتكم، فلولا أني سقت الهدي لفعلت مثل الذي أمرتكم، ولكن لا يحل مني حرام حتى يبلغ الهدي محله). ففعلوا.
[ر:1482]

777. Abu Syihab berkata, "Saya datang di Mekah melakukan umrah tamattu'. Maka, kami memasuki Mekah tiga hari sebelum hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Kemudian beberapa orang dari penduduk Mekah berkata, 'Sekarang jadilah hajimu itu haji warga Mekah.' Lalu, saya menemui Atha' untuk menanyakan hal itu. Kemudian dia berkata, "Aku telah diberi tahu oleh Jabir bin Abdullah bahwa ia berhaji bersama Nabi pada hari beliau menggiring unta bersamanya. Mereka telah membaca talbiyah untuk haji ifrad (dalam satu riwayat: Dan kami mengucapkan, 'Labbaika Allahumma labbaik, 2/153), lalu beliau bersabda kepada mereka, 'Bertahalullah dari ihrammu dengan thawaf di Baitullah dan (sa'i) antara Shafa dan Marwah, potonglah rambutmu. Kemudian berdiamlah dengan halal (tidak ihram). Sehingga, apabila telah tiba hari Tarwiyah, maka bacalah talbiyah untuk haji, dan jadikanlah apa yang telah terdahulu sebagai tamattu'!' Mereka bertanya, 'Bagaimanakah kami menjadikannya tamattu', padahal kami telah menyebutnya haji? Beliau bersabda, 'Lakukanlah apa yang aku perintahkan kepadamu. Seandainya aku tidak menggiring binatang kurban, niscaya aku kerjakan seperti apa yang aku perintahkan kepadamu. Tetapi, ihram itu tidak menghalalkan bagiku sehingga kurban itu sampai di tempatnya.' Lalu, mereka mengerjakannya."


 - حدثنا قتيبة بن سعيد: حدثنا حجاج بن محمد الأعور، عن شعبة، عن عمرو بن مرة، عن سعيد بن المسيب قال:اختلف علي وعثمان رضي الله عنهما، وهما بعسفان، في المتعة، فقال علي: ما تريد أن تنهى عن أمر فعله النبي صلى الله عليه وسلم، فلما رأى ذلك علي أهل بهما جميعا.[ر:1488]

778. Sa'id ibnul Musayyab berkata, "Ali dan Utsman berbeda pendapat mengenai tamattu' ketika keduanya berada di Usfan. (Utsman melarang melakukan tamattu' dan mengumpulkan haji dan umrah, 2/151). Maka, Ali berkata kepada Utsman, 'Apakah yang engkau kehendaki dengan melarang suatu urusan yang dilakukan oleh Nabi?'" Sa'id ibnul Musayyab berkata, "Pada waktu Ali mengetahui hal itu (yakni apa yang dilarang oleh Utsman perihal tamattu'), maka Ali mulai mengerjakan Ihram untuk haji dan umrah secara bersamaan waktunya. (Dia berkata, 'Aku tidak akan meninggalkan sunnah Nabi karena mengikuti perkataan seseorang.')"
 
34 - باب: من لبى بالحج وسماه
Bab 34: Orang yang Bertalbiyah Haji dan Menyebutkan Namanya (Yakni Haji atau Umrah)
 
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Jabir di muka.")

 
35 - باب: التمتع.
Bab 35: Mengerjakan Tamattu'

 
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Imran bin Hushain yang tercantum pada '65 - TAFSIR AL BAQARAH / 28 - BAB'.")
 
36 - باب: قول الله تعالى: {ذلك لمن لم يكن أهله حاضري المسجد الحرام}.
Bab 36: Firman Allah, "Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada di sekitar Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk Mekah)." (al-Baqarah: 196)

- وقال أبو كامل فضيل بن حسين البصري: حدثنا أبو معشر: حدثنا عثمان بن غياث، عن عكرمة، عن ابن عباس رضي الله عنهما:أنه سئل عن متعة الحج؟ فقال: أهل المهاجرون والأنصار وأزواج النبي صلى الله عليه وسلم في حجة الوداع وأهللنا، فلما قدمنا مكة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (اجعلوا إهلالكم بالحج عمرة، إلا من قلد الهدي). طفنا بالبيت وبالصفا والمروة، وأتينا النساء، ولبسنا الثياب، وقال: (من قلد الهدي فإنه لا يحل له حتى يبلغ الهدي محله). ثم أمرنا عشية التروية أن نهل بالحج، فإذا فرغنا من المناسك، جئنا فطفنا بالبيت وبالصفا والمرة، فقد تم حجنا وعلينا الهدي، كما قال الله تعالى: {فما استيسر من الهدي فمن لم يجد فصيام ثلاثة أيام في الحج وسبعة إذا رجعتم}: إلى أمصاركم، الشاة تجزي، فجمعوا نسكين في عام، بين الحج والعمرة، فإن الله تعالى أنزله في كتابه، وسنة نبيه صلى الله عليه وسلم، وأباحه للناس غير أهل مكة، قال الله: {ذلك لمن لم يكن أهله حاضري المسجد الحرام}.وأشهر الحج التي ذكر الله تعالى: شوال وذو القعدة وذو الحجة، فمن تمتع في هذه الأشهر، فعليه دم أو صوم، والرفث الجماع، والفسوق المعاصي، والجدال المراء.
Ibnu Abbas[24] mengatakan bahwa ia ditanya tentang mengerjakan haji tamattu'. Lalu, ia berkata, "Kaum Muhajirin, kaum Anshar, dan istri-istri Nabi berihram pada waktu beliau mengerjakan haji wada' dan kami telah berihram. Setelah kami datang di Mekah, Rasulullah bersabda, 'Jadikanlah ihrammu itu untuk mengerjakan haji itu sebagai umrah, melainkan orang yang membawa hadyu 'kurban'.' Setelah tiba di Mekah, kami mengerjakan thawaf mengelilingi Kabah, juga bersa'i antara Shafa dan Marwah. Kami menyetubuhi istri-istri kami, dan mengenakan pakaian yang berjahit. Nabi bersabda, 'Barangsiapa yang membawa hadyu, maka tidak halal (tidak dibolehkan) mengerjakan semua yang dilarang selama ihram itu sehingga hadyu itu datang di tempatnya (yakni di Mina lalu disembelih). Kemudian pada sore hari Tarwiyah, beliau memerintahkan kepada kami melakukan ihram haji. Setelah kami selesai melaksanakan semua manasik ibadah haji, kami datang di Mekah. Kemudian berthawaf mengelilingi Baitullah, juga bersa'i antara Shafa dan Marwah. Dengan demikian, sempurnalah haji kami, dan kami diwajibkan menyembelih hadyu, sebagaimana firman Allah, 'Wajiblah ia menyembelih kurban yang mudah didapat. Tetapi, jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali ke negerimu.' Hadyu itu cukup seekor kibas. Maka, orang-orang mengumpulkan dua macam ibadah dalam satu tahun yaitu haji dan umrah. Sebab, sesungguhnya Allah telah memfirmankannya di dalam kitab-Nya dan diperkokoh oleh sunnah Nabi-Nya. Hal yang demikian ini diperkenankan untuk semua orang selain penduduk Mekah. Dalam hal ini, Allah telah berfirman, 'Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada di sekitar Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk Mekah). Adapun bulan-bulan haji yang disebutkan oleh Allah ialah Syawal, Dzulqai'dah, dan Dzulhijjah. Barangsiapa yang mengerjakan tamattu' dalam bulan-bulan di atas, maka wajiblah membayar dam atau berpuasa.'" Kata "rafats" berarti bersenggama. "Fusuq" berarti maksiat-maksiat, dan "Jidaal" berarti berbantahan.


_____________________________ __________

CATATAN KAKI :

[20] Di-maushul-kan oleh ath-Thabari dan ad-Daruquthni dengan sanad yang sahih darinya.

 
[21] Di-maushul-kan oleh Ibnu Khuzaimah dan ad-Daruquthni serta al-Hakim dengan sanad yang sahih darinya (Ibnu Abbas), dan disebutkan secara ringkas dalam akhir haditsnya yang tercantum pada nomor 259.

 
[22] Di-maushul-kan oleh Said bin Manshur, Abdur Razzaq, dan lain-lainnya dari beberapa jalan dari Utsman yang saling menguatkan antara sebagian terhadap sebagian lainnya sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh. Semua riwayat yang marfu' tentang keutamaan ihram sebelum miqat, tidak ada yang sahih
.
 
[23] Yakni, apakah ini kehalalan umum bagi segala sesuatu yang tadinya diharamkan ketika ihram, termasuk bersetubuh, ataukah ini kehalalan untuk sesuatu tertentu?

 
[24] Diriwayatkan secara mu'allaq oleh Imam Bukhari, tetapi di-maushul-kan oleh Ismaili. Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari sendiri dari jalan lain dari Ibnu Abbas yang semakna dengannya, dan sudah disebutkan pada hadits nomor 768.



Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #29 pada: 18 Desember 2007, 22:18:37 »
karena besok lebaran 10 Dzul hijjah 1428 H ana ucapkan :
" SELAMAT HARI RAYA QURBAN 1428 H "
sambil menikmati lezatnya hewan qurban mohon maaf lahir dan batin

أخي و أختي
ليس العيد لمن لبس الجديد 
                 انما العيد لمن طاعته يزيد
ليس العيد لمن تجمل باللباس و الركوب
                 انما العيد لمن غفرت له الذنوب


akhi wa ukthi …….
laisal 'eid liman labisal jadid
innamal 'ied liman thoo'athu yazid
laisal 'ied liman tajmalu bil libasi war rukub
innamal 'ied liman ghufiro lahud dhunub


akhii dan ukthii……
bukanlah ied (hari raya ) itu bagi  orang yang memakai pakain baru
namun ied ( hari raya ) adalah bagi orang yang keta'atannya selalu bertambah
bukanlah ied ( hari raya ) bagi orang yang berhias dengan pakaian & kendaraan yang bagus
namun ied ( hari raya ) adalah bagi orang yang diampuni  dosa-dosanya   

Offline Salman Cianjur

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2007
  • Tulisan: 2
    • Lihat Profil
« Jawab #30 pada: 22 Desember 2007, 20:47:42 »
Bagus, terima kasih.

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #31 pada: 24 Desember 2007, 13:26:17 »
sama-sama akhi..................

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #32 pada: 24 Desember 2007, 13:55:14 »
 
37 - باب: الاغتسال عند دخول مكة.
Bab 37: Mandi Ketika Memasuki Mekah

حدثني يعقوب بن إبراهيم: حدثنا ابن علية: أخبرنا أيوب، عن نافع قال:
كان ابن عمر رضي الله عنهما، إذا دخل أدنى الحرم أمسك عن التلبية، ثم يبيت بذي طوى، ثم يصلي به الصبح ويغتسل، ويحدث أن نبي الله صلى الله عليه وسلم كان يفعل ذلك.[1499، 1680، وانظر: 1443]

779. Nafi' berkata, "Ibnu Umar apabila sudah dekat memasuki tanah suci, ia menghentikan bacaan talbiyah. Kemudian bermalam di Dzi Thuwa, lalu mengerjakan shalat subuh dan mandi. Ia memberitahukan bahwa Nabi mengerjakan yang demikian itu."
 
38 - باب: دخول مكة نهارا أو ليلا.
Bab 38: Memasuki Mekah Pada Siang atau Malam Hari


بات النبي صلى الله عليه وسلم بذي طوى حتى أصبح، ثم دخل مكة، وكان ابن عمر رضي الله عنهما يفعله.
Nabi bermalam di Dzi Tuwa sehingga pagi, lalu masuk ke Mekah. Demikian pula yang dilakukan Ibnu Umar.

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar di muka.")
 
39 - باب: من أين يدخل مكة
Bab 39: Dari Mana Memasuki Kota Mekah Itu?

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits Ibnu Umar berikut ini.")
 
40 - باب: من أين يخرج من مكة.
Bab 40: Dari Mana Keluar dari Mekah?

- حدثنا مسدد بن مسرهد البصري: حدثنا يحيى، عن عبيد الله، عن نافع، عن ابن عمر رضي الله عنهما:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل مكة من كداء، من الثنية العليا التي بالبطحاء، ويخرج من الثنية السفلى.

780. Ibnu Umar r.a mengatakan bahwa Nabi saw masuk ke Mekah dari Kada' dari Tsaniyatil Ulya di Bath-ha', dan beliau keluar dari Tsaniyatis Sufla.

قال أبو عبد الله: كان يقال: هو مسدد كاسمه، قال أبو عبد الله: سمعت يحيى بن معين يقول: سمعت يحيى بن سعيد يقول: لو أن مسددا أتيته في بيته فحدثته لاستحق ذلك، وما أبالي، كتبي كانت عندي أو عند مسدد.
[ر:1500]

Abu Abdillah berkata, "Saya mendengar Yahya bin Win berkata, 'Saya mendengar Yahya bin Sa'id mengatakan bahwa Musaddad saya datangi di rumahnya. Lalu, saya katakan kepadanya bahwa dia berhak terhadap hal itu. Saya tidak menghiraukan apakah kitab-kitab saya ada pada saya atau pada Musaddad.'"[25]

 
- حدثنا محمود بن غيلان المروزي: حدثنا أبو أسامة: حدثنا هشام بن عروة، عن أبيه، عن عائشة رضي الله عنها:أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل عام الفتح من كداء - وخرج من كدا - من أعلى مكة.
. قال هشام: وكان عروة يدخل من كلتيهما من كداء وكدا، وأكثر ما يدخل من كدا، وكانت أقربهما إلى منزله.
قال أبو عبد الله: كداء وكدا موضعان.

781. Aisyah r.a. mengatakan bahwa pada waktu Fathu Makkah (pembebasan Mekah) Nabi saw masuk dari Kada' (yang berada di) kawasan atas Mekah, (dan keluar dari kawasan bawahnya) (dan dalam satu riwayat: dari Kuda kawasan atas kota Mekah).
Hisyam berkata, "Urwah biasa masuk dari keduanya, yaitu dari Kada' dan Kuda, tetapi ia lebih sering masuk dari Kada' yang lebih dekat ke rumahnya."
Abu Abdillah berkata, "Kada' dan Kuda adalah dua tempat."

41 - باب: فضل مكة وبنيانها.
وقوله تعالى: {وإذ جعلنا البيت مثابة للناس وأمنا واتخذوا من مقام إبراهيم مصلى وعهدنا إلى إبراهيم وإسماعيل أن طهرا بيتي للطائفين والعاكفين والركع السجود. وإذ قال إبراهيم رب اجعل هذا بلدا آمنا وارزق أهله من الثمرات من آمن منهم بالله واليوم الآخر قال ومن كفر فأمتعه قليلا ثم أضطره إلى عذاب النار وبئس المصير. وإذ يرفع إبراهيم القواعد من البيت وإسماعيل ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم. ربنا واجعلما مسلمين لك ومن ذريتنا أمة مسلمة لك وأرنا مناسكنا وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم}. /البقرة: 126 - 128/.

Bab 41: Keutamaan Kota Mekah Dan Membangunnya.
 Firman Allah, "Dan (Ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Jadikanlah sebagian dari maqam Ibrahim tempat shalat. Telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, 'Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang ruku, dan sujud.' Dan (Ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman dan sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduk yang beriman di antara mereka kepada Allah di hari kemudian.' Allah berfirman, 'Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa mereka menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.' Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. " (al-Baqarah: 125-128)


حدثنا عبد الله بن محمد: حدثنا أبو عاصم قال: أخبرني ابن جريج قال: أخبرني عمرو بن دينار قال: سمعت جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال:لما بنيت الكعبة، ذهب النبي صلى الله عليه وسلم وعباس ينقلان الحجارة، فقال العباس للنبي صلى الله عليه وسلم: اجعل إزارك على رقبتك، فخر إلى الأرض، وطمحت عيناه إلى السماء، فقال: (أرني إزاري). فشده عليه.[ر:357]
782. Jabir bin Abdullah r.a. berkata, "Ketika Ka'bah sedang diperbaiki, Nabi turut mengangkut batu bersama Abbas. Abbas berkata kepada Nabi, 'Ikatkanlah sarungmu di kudukmu (untuk melindungimu dari batu 4/234).' Lalu, Nabi terjatuh dan matanya terbelalak ke langit, (kemudian sadar). Lalu beliau bersabda, 'Bawalah sarungku kemari!' (Dalam satu riwayat: 'Sarungku! Sarungku!). Lalu, beliau mengikatkannya kembali.'"*1*)

- حدثنا مسدد: حدثنا أبو الأحوص: حدثنا أشعث، عن الأسود بن يزيد، عن عائشة رضي الله عنها قالت:سألت النبي صلى الله عليه وسلم عن الجدر، أمن البيت هو؟ قال: (نعم). قلت: فما لهم لم يدخلوه في البيت؟ قال: (إن قومك قصرت بهم النفقة). قلت: فما شأن بابه مرتفعا؟ قال: (فعل ذلك قومك، ليدخلوا من شاؤوا ويمنعوا من شاؤوا، فقلت: يا رسول الله، ألا تردها على قواعد إبراهيم، قال: (لولا حدثان قومك بالكفر لفعلت). ولولا أن قومك حديث عهدهم بالجاهلية، فأخاف أن تنكر قلوبهم، أن أدخل الجدر في البيت، وأن ألصق بابه بالأرض). فقال عبد الله رضي الله عنه: لئن كانت عائشة رضي الله عنها سمعت هذا من رسول الله صلى الله عليه وسلم، ما أرى رسول الله صلى الله عليه وسلم ترك استلام الركنين اللذين يليان الحجر، إلا أن البيت لم يتمم على قواعد إبراهيم.
783. Dari al-Aswad bin Yazid dan lain-lainnya dari Aisyah r.a., bahwa ia berkata, "(dan dalam satu riwayat darinya: Ibnuz Zubair berkata kepadaku, 'Aisyah sering berbisik kepadamu, maka apakah yang diceritakannya kepadamu tentang Ka'bah?' Saya menjawab, 'Dia pernah berkata kepadaku 1/40), 'Aku pernah bertanya kepada Nabi tentang dinding, apakah ia termasuk Baitullah?' Beliau menjawab, 'Ya.' Aku bertanya, 'Mengapakah mereka tidak memasukkannya ke dalam Baitullah?' Beliau menjawab, 'Tidakkah engkau tahu bahwa kaummu (pada waktu membangun Ka'bah) keterbatasan dana?' Aku bertanya, 'Mengapa pintunya tinggi?' Rasulullah menjawab, 'Hal itu dilakukan kaummu supaya mereka dapat memasukkan orang yang mereka kehendaki dan mencegah orang yang mereka kehendaki.' Maka, aku (Aisyah) bertanya, 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak mengembalikannya di atas fondasi yang dibangun Ibrahim?' Beliau bersabda, 'Kalau bukan karena kaummu baru saja lepas dari zaman jahiliah (Ibnuz Zubair berkata, 'Dari kekufuran'), dan aku khawatir hati mereka mengingkari kalau aku memasukkan dinding itu ke dalam Baitullah, dan kalau aku lekatkan pintunya ke tanah, niscaya aku lakukan. (Menurut jalan periwayatan lain: Niscaya aku perintahkan supaya Baitullah itu dirobohkan, (kemudian kubangun lagi di atas fondasi yang dibangun Ibrahim 'alaihissalam). Kemudian aku masukkan ke dalamnya apa yang telah dikeluarkan darinya dan aku lekatkan ke tanah. Aku buat untuknya dua buah pintu, satu pintu di timur dan satu pintu (dalam satu riwayat: di belakang (yakni pintu) barat. Lalu, aku sambung dengan fondasi Ibrahim.' Maka, itulah yang memotivasi Ibnuz Zubair untuk merobohkannya. (Kemudian Abdullah (Ibnu Umar 5/150) r.a. berkata, 'Sungguh seandainya Aisyah mendengar hal ini dari Nabi, niscaya saya tidak akan melihat Rasulullah meninggalkan menjamah dua rukun yang mengiringi Hijr, melainkan karena Baitullah tidak disempurnakan bangunannya di atas fondasi-fondasi Ibrahim.'" Yazid (bin Ruman) berkata, "Saya menyaksikan Ibnuz Zubair ketika merobohkan dan membangun kembali Baitullah, dan memasukkan Hijr ke dalamnya. Saya melihat fondasi Ibrahim berupa batu seperti kelasa unta." Jarir berkata, "Lalu saya bertanya kepadanya, 'Di mana tempatnya?' Dia menjawab, 'Di sini.' Maka, saya memperkirakan jaraknya dari Hijr enam hasta, atau sekitar itu."
 
42 - باب: فضل الحرم.وقوله تعالى: {إنما أمرت أن أعبد رب هذه البلدة الذي حرمها وله كل شيء وأمرت أن أكون من المسلمين}/النمل: 91/. وقوله جل ذكره: {أو لم نمكن لهم حرما آمنا يجبى إليه ثمرات كل شيء رزقا من لدنا ولكن أكثرهم لا يعلمون} /القصص: 57/.
Bab 42: Keutamaan Tanah Haram (Tanah Suci).
Firman Allah, "Aku hanya diperintah untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaanNyalah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (an-Naml: 91) "Apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram yang aman, dan didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk rezeki (bagi mu) dari sisi Kami? Tetapi, kebanyakan mereka tidak mengetahui." (al-Qashash: 57)
 
43 - باب: توريث دور مكة وبيعها وشرائها، وأن الناس في مسجد الحرام سواء خاصة.لقوله تعالى: {إن الذين كفروا ويصدون عن سبيل الله والمسجد الحرام الذي جعلناه للناس سواء العاكف فيه والباد ومن يرد فيه بإلحاد بظلم نذقه من عذاب أليم} /الحج: 25/: البادي الطاري. {معكوفا} /الفتح: 25/: محبوسا.
Bab 43: Mewariskan Rumah-rumah di Mekah, Menjual dan Membelinya dan Bahwa Seluruh Manusia di Masjidil Haram Itu Sama Keistimewaannya, Mengingat Firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia di jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih." (al-Hajj : 25)

784 - حدثنا أصبغ قال: أخبرني ابن وهب، عن يونس، عن ابن شهاب، عن علي ابن حسين، عن عمرو بن عثمان، عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما أنه قال:يا رسول الله، أين تنزل في دارك بمكة؟ فقال: (وهل ترك عقيل من رباع، أو دور). وكان عقيل ورث أبا طالب، هو وطالب، ولم يرثه جعفر ولا علي رضي الله عنهما شيئا، لأنهما كانا مسلمين، وكان عقيل وطالب كافرين، فكانعمر بن الخطاب رضي الله عنه يقول: لا يرث المؤمن الكافر.
قال ابن شهاب: وكانوا يتأولون قول الله تعالى: {إن الذين آمنوا وهاجروا وجاهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل الله والذين آووا ونصروا أولئك بعضهم أولياء بعض}. الآية.[2893، 4032]

784. Usamah bin Zaid r.a. berkata (pada waktu Fathu Makkah 5/92,[26] (dalam satu riwayat: pada waktu hajinya), "Wahai Rasulullah, di manakah engkau akan tinggal (besok 4/33) di kampung engkau Mekah?" Beliau bersabda, "Apakah Aqil meninggalkan (untuk kita) tempat tinggal atau rumah? (Dalam satu riwayat: Apakah Aqil meninggalkan rumah untuk kita?" Kemudian beliau bersabda, "Kita akan tinggal di dataran Bani Kinanah yang berkerikil, karena kaum Quraisy berjanji setia atas kekafiran. Hal itu karena Bani Kinanah telah mengadakan janji setia dengan kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim untuk tidak berjual beli dengan mereka dan tidak memberi tempat berlindung kepada mereka." Aqil dan Thalib mewarisi Abu Thalib, sedang Ja'far dan Ali tidak mewarisinya sedikitpun. Karena, keduanya beragama Islam, sedang Aqil dan Thalib adalah kafir. Umar ibnul-Khaththab berkata, "Orang mukmin tidak menerima warisan dari orang kafir."
Ibnu Syihab berkata, "Orang-orang mentakwilkan firman Allah, 'Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka behijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dan mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.'" (al-Anfaal: 72)

_____________________________ ______________

CATATAN KAKI :

[25] Yaitu ibnu Musarhad al-Bashri, guru penyusun (Imam Bukhari) dalam hadits ini.
 
*1*) Hadits Jabir yang tercantum pada nomor 205 kemudian diulang pada nomor 782, maka yang pertama itu dikesampingkan, dan yang dilengkapi ini adalah yang kedua (nomor 782) sebagai berikut: "Pada waktu Ka'bah dibangun, Nabi dan Abbas mengangkut batu (untuk membangun Ka'bah sambil beliau mengenakan sarung 1/96). Lalu (pamannya), Abbas, berkata kepada Nabi, 'Wahai anak saudaraku! Ikatkanlah sarungmu ke lehermu. (Dan dalam satu riwayat: Alangkah baiknya kalau engkau lepaskan sarungmu dan engkau letakkan di atas pundakmu untuk melindungimu dari batu.') Jabir berkata, "Lalu, beliau melepaskannya dan meletakkannya di atas pundak beliau. Kemudian beliau jatuh pingsan ke tanah, dan kedua mata beliau memandang ke langit. (Kemudian beliau siuman), lalu bersabda, 'Bawa kemari sarungku!' Lalu, beliau mengikatkannya pada tubuh beliau. (Maka, sesudah itu beliau tidak pernah terlihat tanpa pakaian)."

 
[26] Al-Hafizh tidak membawakan tambahan ini di dalam mensyarah hadits ini di sini. Tetapi, ia menyebutkan tambahan dari riwayat Zam'ah bin Shalih dari az-Zuhri yang menjadi sumber haditsnya dengan lafal, "Yaumal Fathi 'pada hari Fathu Makkah'." Sedangkan, Zam'ah itu dhaif. Kemudian al-Hafizh mengkompromikan antara riwayat itu dengan riwayat sesudahnya dengan mengemukakan kemungkinan terjadinya beberapa kisah, dan riwayat pertama didukung oleh hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan.


Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #33 pada: 26 Desember 2007, 13:04:41 »
44 - باب: نزول النبي صلى الله عليه وسلم مكة.
Bab 44: Turunnya (Singgahnya) Nabi di Mekah

785 - حدثنا الحميدي: حدثنا الوليد: حدثنا الأوزاعي قال: حدثني الزهري، عن أبي سلمة، عن أبي هريرة رضي الله عنه قال:قال النبي صلى الله عليه وسلم، من الغد يوم النحر، وهو بمنى: (نحن نازلون غدا بخيف بني كنانة، حيث تقاسموا على الكفر). يعني ذلك المحصب، وذلك أن قريشا وكنانة، تحالفت على بني هاشم وبني عبد المطلب، أو بني المطلب: أن لا يناكحوهم ولا يبايعوهم، حتى يسلموا إليهم النبي صلى الله عليه وسلم. وقال سلامة، عن عقيل ويحيى بن الضحاك، عن الأوزاعي: أخبرني ابن شهاب: وقالا: بني هاشم وبني المطلب. قال أبو عبد الله: بني المطلب أشبه.[3669، 4033، 4034، 7041]
785. Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi bersabda sejak keesokan hari Nahar (Hari Raya Kurban) dan pada saat itu beliau berada di Mina (ketika hendak datang ke Mekah) (dan dalam satu riwayat: hendak ke Hunain 3/247), 'Kita besok akan singgah insya Allah (bila Allah membukakan 5/92) di lembah Bani Kinanah di mana mereka bersumpah atas kekafiran, yakni di tanah yang berkerikil itu. Demikian itu karena suku Quraisy dan Kinanah bersumpah terhadap bani Hasyim dan banil Muthalib (dan dalam satu riwayat yang mu'allaq: dan Banil Muthalib-tanpa ragu-ragu) untuk tidak kawin dan berjual beli dengan mereka sampai menyerahkan Nabi kepada mereka.'"

45 - باب: قول الله تعالى:{وإذ قال إبراهيم رب اجعل هذا البلد آمنا واجنبني وبني أن نعبد الأصنام. رب إنهن أضللن كثيرا من الناس فمن تبعني فإنه مني ومن عصاني فإنك غفور رحيم. ربنا إني أسكنت من ذريتي بواد غير ذي زرع عند بيتك المحرم ربنا ليقيموا الصلاة فاجعل أفئدة من الناس تهوي إليهم}. الآية /إبراهيم: 35 - 37/.
Bab 45: Firman Allah, "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia. Barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhhya orang itu termasuk golonganku. Barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka." (Ibrahirn: 35-37)

 
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari tidak membawakan satu hadits pun.")
 
46 - باب: قول الله تعالى:{جعل الله الكعبة البيت الحرام قياما للناس والشهر الحرام والهدي والقلائد ذلك لتعلموا أن الله يعلم ما في السموات وما في الأرض وأن الله بكل شيء عليم} /المائدة: 97/.
Bab 46: Firman Allah, "Allah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan haram, hadya, dan qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (al-Maa'idah: 97)

786 - حدثنا علي بن عبد الله: حدثنا سفيان: حدثنا زياد بن سعد، عن الزهري، عن سعيد بن المسيب، عن أبي هريرة رضي الله عنه،عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (يخرب الكعبة ذو السويقتين من الحبشة).
786. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Orang yang mempunyai dua pasukan kecil dari Habasyah hendak menghancurkan Ka'bah."

787 - حدثنا أحمد: حدثنا أبي: حدثنا إبراهيم، عن الحجاج بن حجاج، عن قتادة، عن عبد الله بن أبي عتبة، عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه،عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (ليحجن البيت وليعتمرن بعد خروج يأجوج ومأجوج).
787. Abu Sa'id al-Khudri r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, "Sungguh Baitullah akan dipakai untuk berhaji dan umrah setelah keluarnya Ya'juj dan Ma'juj. (Dan dalam riwayat yang mu'allaq, beliau bersabda, "Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga ibadah haji tidak dilaksanakan lagi.")[27]

 
47 - باب: كسوة الكعبة.
Bab 47: Selubung Penutup Ka'bah

788 - حدثنا عبد الله بن عبد الوهاب: حدثنا خالد بن الحارث: حدثنا واصل الأحدب، عن أبي وائل قال: جئت إلى شيبة. وحدثنا قبيصة: حدثنا سفيان، عن واصل، عن أبي وائل قال:جلست مع شيبة على كرسي في الكعبة، فقال: لقد جلس هذا المجلس عمر رضي الله عنه، فقال: لقد هممت أن لا أدع فيها صفراء ولا بيضاء إلا قسمته. قلت: إن صاحبيك لم يفعلا، قال: هما المرآن أقتدي بهما.[6847]
788. Abu Wail berkata, "Saya pernah duduk bersama Syaibah di atas kursi di dalam Kabah, lalu ia berkata, 'Kursi ini pernah diduduki oleh Umar. Kemudian ia berkata, 'Benar-benar aku mempunyai maksud tidak akan membiarkan di Ka'bah ini suatu benda berwarna kuning dan tidak juga berwarna putih,[28] melainkan kedua benda itu tentu akan kubagi-bagikan.' (Saya berkata, 'Engkau tidak akan melakukannya.' Dia bertanya, 'Mengapa?' 8/139) Saya berkata, "Sesungguhnya kedua sahabatmu (yakni Nabi dan Abu Bakar) tidak pernah bermaksud melakukan itu.' Umar berkata, 'Kedua orang itu adalah orang-orang yang menjadi ikutan (teladan).'"

48 - باب: هدم الكعبة
Bab 48: Robohnya Ka'bah

قالت عائشة رضي الله عنها: قال النبي صلى الله عليه وسلم: (يغزو جيش الكعبة، فيخسف بهم).
[ر:2012]

Aisyah r.a. berkata, "Nabi bersabda, 'Ka'bah itu akan diperangi oleh tentara. Tetapi, kemudian mereka itu akan ditenggelamkan dalam bumi (yakni di Baida', suatu tempat antara Mekah dan Madinah).'"[29]

789 - حدثنا عمرو بن علي: حدثنا يحيى بن سعيد: حدثنا عبيد الله بن الأخنس: حدثني ابن أبي مليكة، عن ابن عباس رضي الله عنهما،عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (كأني به أسود أفحج، يقلعها حجرا حجرا).
789. Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Seolah-olah saya di Bait itu berjalan dengan menjauhkan tumit (dari tanah), menghindari batu demi batu."

 
49 - باب: ما ذكر في الحجر الأسود.
Bab 49: Keterangan Mengenai Hajar Aswad

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Umar ibnul-Khaththab yang akan disebutkan pada nomor 795.")

 
50 - باب: إغلاق البيت، ويصلي في أي نواحي البيت شاء.
Bab 50: Menutup Ka'bah dan Bolehnya Shalat ke Arah Mana Saja yang Dikehendaki dalam Ka'bah

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abdullah bin Umar yang akan disebutkan pada '56-AL-JIHAD / 127 BAB'.")

51 - باب: الصلاة في الكعبة.
Bab 51: Shalat di Dalam Ka'bah

790 - حدثنا أحمد بن محمد: أخبرنا عبد الله: أخبرنا موسى بن عقبة، عن نافع، عن ابن عمر رضي الله عنهما:
أنه كان إذا دخل الكعبة، مشى قبل الوجه حين يدخل، ويجعل الباب قبل الظهر، يمشي حتى يكون بينه وبين الجدار الذي قبل وجهه قريبا من ثلاثة أذرع، فيصلي، يتوخى المكان الذي أخبره بلال: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى فيه، وليس على أحد بأس أن يصلي في أي نواحي البيت شاء.[ر:388]

790. Ibnu Umar r.a mengatakan bahwa apabila ia memasuki Ka'bah, maka ia berjalan ke arah jurusan muka pada waktu memasuki Kabah dan menjadikan pintu Ka'bah di jurusan punggung pada waktu berjalan. Sehingga, antara dirinya dan dinding yang ada di hadapannya dekat sekali kira-kira tiga hasta. Kemudian shalat menghadap tempat yang ditunjukkan oleh Bilal bahwa Rasulullah shalat di situ. Namun, siapa pun tidak apa-apa kalau dia shalat di dalam Ka'bah dengan menghadap ke jurusan mana pun dari Baitullah yang ia kehendaki.

 
52 - باب: من لم يدخل الكعبة.
Bab 52: Orang Yang Tidak Masuk Ka'bah

وكان ابن عمر رضي الله عنهما يحج كثيرا ولا يدخل.
Ibnu Umar sering naik haji dan tidak memasuki Ka'bah.[30]

791 - حدثنا مسدد: حدثنا خالد بن عبد الله: حدثنا إسماعيل بن أبي خالد، عن عبد الله بن أبي أوفى قال:
اعتمر رسول الله صلى الله عليه وسلم، فطاف بالبيت، وصلى خلف المقام ركعتين، ومعه من يستره من الناس، فقال له رجل: أدخل رسول الله صلى الله عليه وسلم الكعبة؟ قال: لا.[1699، 3608، 3952، 4008]

791. Abdullah bin Abu Aufa berkata, "Rasulullah melakukan umrah. Lalu, beliau thawaf di Baitullah, dan melakukan shalat dua rakaat di belakang maqam. Beliau bersama-sama dengan orang-orang yang menutupinya. Seorang laki-laki berkata kepadanya, 'Apakah Rasulullah memasuki Ka'bah?' Ia menjawab, 'Tidak.'"



_____________________________ ________

CATATAN KAKI :
[27] Di-maushul-kan oleh Ahmad dengan sanad yang sahih. Tetapi, penyusun (Imam Bukhari) mengisyaratkan bahwa riwayat ini ganjil, dengan menguatkan riwayat yang pertama atas riwayat ini. Namun, kedua riwayat ini dapat dkompromikan sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh, bahwa hajinya manusia sesudah keluarnya Ya'juj dan Ma'juj itu tidak menutup kemungkinan masih dilaksanakannya haji pada waktu telah dekat munculnya tanda-tanda hari kiamat.

 
[28] Yakni, emas dan perak dari perbendaharaan yang ada padanya, yang diberikan orang kepadanya. Mereka biasa melemparkannya ke dalam Baitullah. Lalu, Sayyidina Umar bermaksud membagi-bagikannya kepada kaum muslimin.
 
[29] Ini adalah bagian dari hadits yang di-maushul-kan oleh penyusun pada bagian-bagian awal "34 -AL-BUYU".

 
[30] Di-maushul-kan oleh Sufyan ats-Tsauri di dalam Jami-nya, dan oleh al-Fakihi di dalam Kitabu Makkah dengan sanad yang sahih.


Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #34 pada: 30 Desember 2007, 23:13:14 »
 
53 - باب: من كبر في نواحي الكعبة.
Bab 53: Orang yang Bertakbir di Beberapa Penjuru Ka'bah

792 - حدثنا أبو معمر: حدثنا عبد الوارث: حدثنا أيوب: حدثنا عكرمة، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال:
إن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما قدم، أبى أن يدخل البيت وفيه الآلهة، فأمر بها فأخرجت، فأخرجوا صورة إبراهيم وإسماعيل في أيديهما الآزلام، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (قاتلهم الله، أما والله قد علموا أنهما لم يستقسما بها قط). فدخل البيت، فكبر في نواحيه، ولم يصل فيه.[3173، 3174، 4037]

792. Ibnu Abbas r.a berkata, "Sesungguhnya ketika Rasulullah tiba (di Mekah), beliau enggan masuk ke Baitullah karena di dalamnya ada berhala-berhala. Lalu, beliau memerintahkan supaya berhala-berhala itu dikeluarkan (dalam satu riwayat dimusnahkan 4/111). Lalu, mereka keluarkan patung Ibrahim dan Ismail yang sedang memegang panah untuk berundi. Rasulullah bersabda, 'Semoga Allah mengutuk mereka. Demi Allah, mereka mengetahui bahwa keduanya (Ibrahim dan Ismail) tidak pernah mengadakan undian semacam itu.' (Dan dalam riwayat lain: Beliau menjumpai patung Ibrahim dan patung Maryam. Kemudian beliau bersabda, 'Ketahuilah, sesungguhnya mereka sudah mendengar bahwa malaikat tidak mau masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat patung. Dan, ini Ibrahim dipatungkan, bahkan didesain melakukan undian pula!) Lalu beliau masuk ke Baitullah. Kemudian beliau bertakbir di seluruh penjurunya, (dan keluar). Namun, tidak melakukan shalat di dalamnya."

54 - باب: كيف كان بدء الرمل.
Bab 54: Bagaimana Permulaan Disyariatkannya Berlari Kecil

793 - حدثنا سليمان بن حرب: حدثنا حماد، هو ابن زيد، عن أيوب، عن سعيد ابن جبير، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال:قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه، فقال المشركون: إنه يقدم عليكم وقد وهنهم حمى يثرب، فأمرهم النبي صلى الله عليه وسلم أن يرملوا الأشواط الثلاثة، وأن يمشوا ما بين الركنين، ولم يمنعه أن يأمرهم أن يرملوا الأشواط كلها إلا الإبقاء عليهم.[4009، وانظر: 1566]
793. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Rasulullah dan para sahabat datang (pada tahun meminta keamanan 5/86), lalu orang-orang musyrik berkata, 'Ia berani menghadapmu karena mereka telah dilemahkan oleh demam Yatsrib. Lalu, Nabi menyuruh mereka untuk berlari-lari kecil pada tiga tempat yang mulia, (dalam satu riwayat: Beliau bersabda, "Berlari-lari kecillah kamu untuk menunjukkan kekuatan mereka kepada kaum musyrikin. Sedangkan, kaum musyrikin dari arah Qaiqa'an.), dan untuk berjalan di antara dua rukun. Tidak ada yang menghalangi beliau untuk menyuruh mereka berlari-lari kecil seluruhnya melainkan untuk mengekalkan atas mereka."
 
55 - باب: استلام الحجر الأسود حين يقدم مكة أول ما يطوف، ويرمل ثلاثا.
Bab 55: Menjamah Hajar Aswad Ketika Datang di Mekah pada Pertama Kalinya Berthawaf dan Berlari Kecil Tiga Kali

794 - حدثنا أصبغ بن الفرج: أخبرني ابن وهب، عن يونس، عن ابن شهاب، عن سالم، عن أبيه رضي الله عنه قال:رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم حين يقدم مكة، إذا استلم الركن الأسود، أول ما يطوف: يخب ثلاثة أطواف من السبع.[1527، 1537، 1538، 1562]
794. Abdullah bin Umar r.a. berkata, "Saya melihat Rasulullah ketika datang ke Mekah (pada waktu haji 2/163) dan umrah menyentuh Rukun al Aswad pada pertama kalinya beliau thawaf. Beliau menyempatkan tiga thawaf dari tujuh thawaf, dan berjalan empat kali. (Kemudian sujud dua kali, dan beliau berjalan di perut saluran apabila thawaf antara Shafa dan Marwah 2/163)." (Aku bertanya kepada Nafi', "Apakah Abdullah berjalan kaki apabila telah sampai di Rukun Yamani?" Ia menjawab, 'Tidak, kecuali menempel Rukun, karena dia tidak meninggalkannya sebelum menjamahnya." 2/170).

 
56 - باب: الرمل في الحج والعمرة.
Bab 56: Berlari Kecil Dalam Haji dan Umrah

795 - حدثنا سعيد بن أبي مريم: أخبرنا محمد بن جعفر قال: أخبرني زيد بن أسلم، عن أبيه:
أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال للركن: أما والله، إني لأعلم أنك حجر، لا تضر ولا تنفع، ولولا أني رأيت النبي صلى الله عليه وسلم استلمك ما استلمتك، فاستلمه، ثم قال: فما لنا وللرمل، إنما كنا راءينا به المشركين، وقد أهلكهم الله، ثم قال: شيء صنعه النبي صلى الله عليه وسلم، فلا نحب أن نتركه.[ر:1520]

 
795. Aslam mengatakan bahwa Umar ibnul-Khaththab r.a berkata kepada rukun (yakni Hajar Aswad), (dalam riwayat lain: bahwa ia datang ke Hajar Aswad, lalu menciumnya seraya berkata 2/160), "Sebenarnya, demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah sebuah batu yang tidak dapat memberi bahaya dan tidak dapat pula memberikan kemanfaatan. Andaikata aku tidak melihat Nabi menjamahmu, tentu aku tidak akan menjamahmu." (Dalam riwayat lain: menciummu, niscaya aku tidak menciummu). Lalu Umar menjamahnya, kemudian ia berkata, "Bagaimanakah dengan kami berjalan cepat dalam thawaf? Sebenarnya kami hanya ingin memperlihatkan (keperkasaan kami) kepada orang-orang musyrik, padahal mereka telah dihancurkan oleh Allah?" Kemudian Umar berkata, "Sesuatu yang diperbuat oleh Nabi, maka kami tidak senang untuk meninggalkannya."

796 - حدثنا مسدد: حدثنا يحيى، عن عبيد الله، عن نافع، عن ابن عمر رضي الله عنهما قال:
ما تركت استلام هذين الركنين، في شدة ولا رخاء، منذ رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يستلمهما.
قلت لنافع: أكان ابن عمر يمشي بين الركنين؟ قال: إنما كان يمشي ليكون أيسر لاستلامه.[1531، 1533، وانظر: 164]

796. Ibnu Umar r.a. berkata, "Saya tidak pernah meninggalkan menyentuh dua rukun ini dalam waktu sulit maupun mudah sejak saya melihat Nabi menyentuhnya." Ubaidullah berkata kepada Nafi', "Apakah Ibnu Umar berjalan antara kedua rukun itu?" Ia menjawab, "Ibnu Umar hanyalah berjalan biasa (yakni tidak berlari kecil) agar lebih mudah baginya untuk menyentuh itu."
 
57 - باب: استلام الركن بالمحجن.
Bab 57: Menjamah Rukun (Hajar Aswad) Dengan Tongkat

797 - حدثنا أحمد بن صالح ويحيى بن سليمان قالا: حدثنا ابن وهب قال: أخبرني يونس، عن ابن شهاب، عن عبيد الله بن عبد الله، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال:طاف النبي صلى الله عليه وسلم في حجة الوداع على بعير، يستلم الركن بمحجن. تابعه الدراوردي، عن ابن أخي الزهري، عن عمه.[1534، 1535، 1551، 4987]
797. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Nabi thawaf (di Baitullah 2/166) pada waktu haji wada' di atas unta (beliau. Setiap kali tiba di Rukun 6/175), beliau menyentuh rukun (dalam satu riwayat: berisyarat kepadanya) dengan tongkat yang melengkung pangkalnya (yang ada pada beliau, dan beliau bertakbir 2/163)."

 
58 - باب: من لم يستلم إلا الركنين اليمانيين.
Bab 58: Orang yang Tidak Menyentuh Selain Dua Buah Rukun Yamani

وقال محمد بن بكر: أخبرنا ابن جريج: أخبرني عمرو بن دينار، عن أبي الشعثاء أنه قال:
ومن يتقي شيئا من البيت؟. وكان معاوية يستلم الأركان، فقال له ابن عباس رضي الله عنهما: إنه لا يستلم هذان الركنان، فقال: ليس شيء من البيت مهجور. وكان ابن الزبير رضي الله عنهما يستلمهن كلهن.

Abusy Sya'sya'[31] berkata, "Siapakah[32] yang menjaga sesuatu dari Baitullah? Muawiyah pernah menjamah semua rukun. Lalu, Ibnu Abbas berkata kepadanya, 'Sesungguhnya kedua rukun ini tidak boleh disentuh.' Muawiyah menjawab, 'Tidak ada sesuatu pun dari Baitullah yang terlarang untuk disentuh.' Ibnuz Zubair biasa menyentuh (menjamah) semua rukun."

798 - حدثنا أبو الوليد: حدثنا ليث، عن ابن شهاب، عن سالم بن عبد الله، عن أبيه رضي الله عنهما قال:
لم أر النبي صلى الله عليه وسلم يستلم من البيت إلا الركنين اليمانيين.[ر:1529]

798. Salim bin Abdullah dari ayahnya berkata, "Saya tidak pernah melihat Nabi menyentuh Ka'bah selain dua rukun Yamani."

 
59 - باب: تقبيل الحجر
Bab 59: Mencium Hajar Aswad

799 - حدثنا مسدد: حدثنا حماد، عن الزبير بن عربي قال:سأل رجل ابن عمر رضي الله عنهما عن استلام الحجر، فقال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يستلمه ويقبله. قال: قلت: أرأيت إن زحمت، أرأيت إن غلبت؟ قال: اجعل أرأيت باليمن، رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يستلمه ويقبله.[ر:1529]
799. Zubair bin Arabi berkata, "Ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang menyentuh Hajar (Aswad), lalu ia menjawab, 'Saya melihat Rasulullah menyentuh dan menciumnya.' Aku bertanya, 'Bagaimanakah pendapatmu jika saya terdesak? Bagaimana pendapatmu jika saya kalah?' Ia berkata, "Jadikanlah, bagaimanakah pendapatmu tentang sunnah? Karena saya melihat Rasulullah menyentuh dan menciumnya.'"
 
60 - باب: من أشار إلى الركن إذا أتى عليه.
Bab 60: Orang yang Memberi Isyarat Kepada Rukun (Hajar Aswad) Jika Datang di Tempatnya
 
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan bagian dari hadits Ibnu Abbas yang tercantum pada nomor 797 di muka.")

_____________________________ _________

CATATAN TANGAN :

[31] Hadits ini diriwayatkan secara mu'allaq oleh Imam Bukhari, tetapi di-maushul-kan oleh al-Jauzaqi. Ia memiliki beberapa jalan lain dalam al-Musnad (1/217, 246, 332, 372, 4/94, 98). Pada sebagian riwayat disebutkan bahwa Muawiyah berkata kepada Ibnu Abbas, "Anda benar", akan tetapi sanadnya lemah.
 
[32] Maksudnya, tidak seyogianya bagi seseorang menjaga (menghalangi).

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #35 pada: 31 Desember 2007, 14:36:55 »
bagi yang mo donwlaod 'RINGKASAN SHAHIH BUKHARI "  yang ana bikin treadnya di :   http://myquran.org/forum/index.php/topic,31658.0.html

bisa donwlaod berupa CHM @ ( baru 3 kitab / pembahasan )  di :

iseng2 di-chm-in. masih sederhana, sambil nunggu selesai. silakan diunduh

-- link utama (.chm) --
http://www.box.net/shared/9bueotosoo

-- link alternatif (.rar) --
http://www.esnips.com/doc/9a7e7a3a-99d5-403f-a6de-c4508928ca28
« Edit Terakhir: 31 Desember 2007, 14:40:39 oleh abizechaabizecha »

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #36 pada: 31 Desember 2007, 15:19:49 »
أعــلان هـــــــام


bagi yang ingin ILMU USUL FIHQ ( karya as syeikh sholeh al usaimien ) yang ana postinkan di : http://myquran.org/forum/index.php/topic,23277.105.html


bisa donwload sekarang juga di :
http://www.4shared.com/file/33463902/926ddf0/ILMU_USUL_FIQH.html?dirPwdVerified=7fc9e265

( masih berupa MMS WORD bagi ikhwan / akhwat yang mo beramal sholah membuatkan dalam bentuk CHM @ ana persilahkan )

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #37 pada: 03 Januari 2008, 13:20:46 »
bagi yang mo file tread di :

http://myquran.org/forum/index.php/topic,31544.0.html

bisa donwload sekarang juga di : Download aqwal ulama untuk mengikuti sunnah.doc

http://www.4shared.com/file/33542163/2f48fcf8/aqwal_ulama_untuk_mengikuti_sunnah.html?dirPwdVerified=7fc9e265

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #38 pada: 04 Januari 2008, 00:47:27 »
 
61 - باب: التكبير عند الركن.
Bab 61: Bertakbir di Sisi Rukun
 
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Abbas yang diisyaratkan di muka.")

 
62 - باب: من طاف بالبيت إذا قدم مكة، قبل أن يرجع إلى بيته، ثم صلى ركعتين، ثم خرج إلى الصفا.
Bab 62: Orang yang Thawaf di Baitullah Jika Datang di Mekah Sebelum Kembali ke Rumahnya, Kemudian Shalat Dua Rakaat, Lalu Pergi ke Shafa
 1537/1538 - حدثنا إبراهيم بن المنذر: حدثنا أبو ضمرة أنس: حدثنا موسى بن عقبة، عن نافع، عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما:أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا طاف، في الحج أو العمرة، أول ما يقدم سعى ثلاثة أطواف، ومشىأربعة، ثم سجد سجدتين، ثم يطوف بين الصفا والمروة.
800. Dari nafi' dan dari Abdullah bin umar RA : sesungguhnya rasaulullah SAW jika beliau thowaf dalam hajinya ataupun umrahnya , pertama kali yang dilakukannya adalah berthowaf dengan berjalan cepat 3 putaran dan berjalan 4 putaran, kemudian beliau sujud dua kali ( sholat dua raka'at ) kemudian beliau thowaf ( sa'I ) antara sofa dan marwa. 

63 - باب: طواف النساء مع الرجال.
Bab 63: Thawafnya Kaum Wanita Bersama Kaum Laki-laki

1539 - وقال عمرو بن علي: حدثنا أبو عاصم قال: ابن جريج أخبرنا قال: أخبرني عطاء:
إذ منع ابن هشام النساء الطواف مع الرجال، قال: كيف يمنعهن، وقد طاف نساء النبي صلى الله عليه وسلم مع الرجال؟ قلت: أبعد الحجاب أو قبل؟ قال: إي لعمري، لقد أدركته بعد الحجاب. قلت: كيف يخالطن الرجال؟ قال: لم يكن يخالطن، كانت عائشة رضي الله عنها تطوف حجرة من الرجال، لا تخالطهم، فقالت امرأة: انطلقي نستلم يا أم المؤمنين، قالت: عنك، وأبت، وكن يخرجن متنكرات بالليل، فيطفن مع الرجال، ولكنهن كن إذا دخلن البيت، قمن حتى يدخلن، وأخرج الرجال.وكنت آتي عائشة أنا وعبيد بن عمير، وهي مجاورة في جوف ثبير، قلت: وما حجابها؟ قال: هي في قبة تركية، لها غشاء، وما بيننا وبينها غير ذلك، ورأيت عليها درعا موردا.

801. Ibnu Juraij mengatakan bahwa mereka diberi tahu oleh Atha' ketika Ibnu Hisyam melarang kaum wanita mengerjakan thawaf bersama-sama dengan kaum lelaki. Atha' berkata, "Bagaimana Anda melarang orang-orang wanita, padahal istri-istri Nabi juga rnengerjakan thawaf bersama para lelaki?" Ibnu Juraij bertanya kepada Atha', "Apakah larangan Abu Hisyam itu sesudah adanya perintah atau sebelum turunnya ayat hijab itu?" Atha' berkata, "Ya, demi umurku, saya mengetahui sesudah turunnya ayat hijab." Ibnu Juraij bertanya kepada Atha', "Bagaimanakah kaum wanita itu bercampur dengan kaum lelaki?" Ia berkata, "Bukannya kaum wanita itu bercampur (bergaul bebas). Aisyah melakukan thawaf di tempat terpisah dari kaum lelaki sehingga tidak bercampur-baur dengan mereka. Kemudian ada seorang wanita berkata, 'Marilah kita berangkat untuk menyentuh Hajar Aswad, wahai Ummul Mukminin.' Aisyah berkata, "Kamu sendiri sajalah melakukannya.' Aisyah tidak mengikuti ajakannya. Para wanita keluar dengan tidak dapat dikenal siapa dirinya di waktu malam. Kemudian mereka melakukan thawaf dengan kaum lelaki. Tetapi, bila mereka memasuki Baitullah, mereka tetap berdiri sehingga betul-betul masuk dan kaum lelaki disuruh keluar. Aku mendatangi Aisyah bersama Ubaid bin Umair dan ia berdiam di suatu tempat bernama Jauf Tsabir. Aku bertanya, "Apakah yang dijadikan sebagai tabirnya?' Ia berkata, "Dia berada di dalam kemah kecil buatan Turki. Kemah itu mempunyai tutup, dan antara kami dengannya tidak ada sesuatu selain itu. Aku sendiri melihat ia mengenakan baju kurung yang berwarna bunga mawar.'"


(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ummu Salamah yang tercantum pada nomor 257 di muka.")
 
64 - باب: الكلام في الطواف.
Bab 64: Bercakap-cakap Pada Waktu Mengerjakan Thawaf

1541 - حدثنا إبراهيم بن موسى: حدثنا هشام: أن ابن جريج أخبرهم قال: أخبرني سليمان الأحول: أن طاوسا أخبره، عن ابن عباس رضي الله عنهما:أن النبي صلى الله عليه وسلم مر وهو يطوف بالكعبة بإنسان، ربط يده إلى إنسان، بسير أو بخيط أو بشيء غير ذلك، فقطعه النبي صلى الله عليه وسلم بيده، ثم قال: (قده بيده).[1542، 6324، 6325]
802. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi saw. ketika thawaf di Ka'bah, beliau melewati orang yang mengikatkan tangannya kepada orang lain dengan tali kulit atau benang atau barang selain itu, (dalam satu riwayat: melewati seseorang yang menuntun orang lain dengan tali kekang di hidungnya 7/234). Lalu, Nabi memutuskannya dengan tangan beliau. Kemudian beliau bersabda, 'Tuntunlah tangannya.'"

 
65 - باب: إذا رأى سيرا أو شيئا يكره في الطواف قطعه.
Bab 65: Apabila Melihat Tali Kulit atau Benda Lain yang Tidak disenangi, Maka Benda Itu Supaya Dipotong

(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas di atas.")

 
66 - باب: لا يطوف بالبيت عريان، ولا يحج مشرك.
Bab 66: Tidak Boleh Orang Telanjang Berthawaf dan Tidak Boleh Orang Musyrik Mengerjakan Ibadah Haji

 
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan bagian dari hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan pada '65-AT-TAFSIR /9 / 2 - BAB'.")

 
67 - باب: إذا وقف في الطواف.
Bab 67: Apabila Berhenti Pada Waktu Thawaf

وقال عطاء، فيمن يطوف فتقام الصلاة، أو يدفع عن مكانه: إذا سلم يرجع إلى حيث قطع عليه. ويذكر نحوه عن ابن عمر وعبد الرحمن بن أبي بكر رضي الله عنهم.
Atha'[33] berkata mengenai orang yang melakukan thawaf, lalu diiqamati shalat. Atau, ia ditolak dari tempatnya, apabila telah salam, "Hendaklah ia kembali ke tempat di mana thawafnya tadi diputuskan, lalu ia bangun (lanjutkan) lagi.[34] Hal serupa juga diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Abdur Rahman bin Abu Bakar r.a.[35]


_____________________________ ______________

CATATAN TANGAN :

[33] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang sahih darinya.

 
[34] Tambahan ini gugur (tidak ada) dalam naskah kami, tetapi terdapat dalam sebagian naskah, di antaranya naskah Al-Fath.

 
[35] Di-maushul-kan oleh Said bin Manshur dari Jamil bin Zaid dari Ibnu Umar yang serupa dengan itu. Akan tetapi, Jamil ini lemah. Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang sahih dari Abdur Rahman bin Abu Bakar.

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #39 pada: 09 Januari 2008, 14:48:13 »
 
68 - باب: صلى النبي صلى الله عليه وسلم لسبوعه ركعتين.
Bab 68: Shalat Nabi Sebanyak Dua Rakaat Untuk Tujuh Kali Putaran Thawaf

وقال نافع: كان ابن عمر رضي الله عنهما يصلي لكل سبوع ركعتين.
Nafi' berkata, "Ibnu Umar biasa melakukan shalat dua rakaat untuk tiap-tiap tujuh putaran thawaf."[36]

وقال إسماعيل بن أمية: قلت للزهري: إن عطاء يقول: تجزئه المكتوبة من ركعتي الطواف؟ فقال: السنة أفضل، لم يطف النبي صلى الله عليه وسلم سبوعا قط إلا صلى ركعتين.
Ismaili bin Umayyah berkata, "Saya berkata kepada az-Zuhri, 'Sesungguhnya Atha' berkata, 'Cukuplah baginya melakukan shalat wajib untuk mewakili shalat dua rakaat thawaf.' Az-Zuhri menjawab, 'Sunnah Nabi itu lebih utama. Nabi tidak pernah melakukan tujuh putaran thawaf melainkan beliau lakukan shalat dua rakaat.'"[37]
- حدثنا قتيبة بن سعيد: حدثنا سفيان، عن عمرو:وسألنا ابن عمر رضي الله عنهما: أيقع الرجل على امرأته في العمرة، قبل أن يطوف بين الصفا والمروة؟ قال: قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فطاف بالبيت سبعا، ثم صلى خلف المقام ركعتين، وطاف بين الصفا والمروة، وقال: {لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة}.
 
803. Amr (bin Dinar 2/170) berkata, "Kami bertanya kepada Ibnu Umar, 'Bolehkah seseorang mencampuri istrinya pada waktu umrah sebelum ia melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah?' Ibnu Umar menjawab, "Ketika Nabi sampai (di Mekah 2/171), beliau melakukan thawaf di Ka'bah tujuh kali. Kemudian shalat dua rakaat di maqam Ibrahim, (kemudian beliau keluar ke Shafa 2/166), lalu melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah (tujuh kali 2/203), padahal Allah Ta'ala telah berfirman, 'Sungguh telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu teladan yang baik.'"

قال: وسألت جابر بن عبد الله رضي الله عنهما، فقال: لا يقرب الرجل امرأته حتى يطوف بين الصفا والمروة. [ر:387]
804. Amr bertanya kepada Jabir bin Abdullah r.a., lalu ia menjawab, "Janganlah seorang laki-laki itu mendekati istrinya, sehingga ia mengerjakan thawaf (yakni sa'i) antara Shafa dan Marwah."
 
69 - باب: من لم يقرب الكعبة، ولم يطف حتى يخرج إلى عرفة، ويرجع بعد الطواف الأول.
Bab 69: Orang yang Tidak Mendekati Ka'bah dan Tidak Berthawaf Sehingga Keluar ke Arafah dan Kembali Sesudah Thawaf Pertama (Yakni Thawaf Rudum)

- حدثنا محمد بن أبي بكر: حدثنا فضيل: حدثنا موسى بن عقبة: أخبرني كريب، عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال:قدم النبي صلى الله عليه وسلم مكة، فطاف وسعى بين الصفا والمروة، ولم يقرب الكعبة بعد طوافه بها حتى رجع من عرفة.[ر:1470]
Dari Abdullah ibnu abbas RA dia berkata: tatkala rasulullah memasuki mekkah , maka beliau thowaf kemudian sya'i abtara bukit sofa dan marwa , dan tidak mendekati ( kembali ke  ) ka'bah setelah beliau thowaf dengannya sampai beliau kembali dari arafah.
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Abbas yang tertera pada nomor 768 di muka.')
 
70 - باب: من صلى ركعتي الطواف خارجا من المسجد.
Bab 70: Orang yang Shalat Dua Rakaat Thawaf di Luar Masjidil Haram

وصلى عمر رضي الله عنه خارجا من الحرم.
Umar r.a. shalat di luar tanah Haram.[38]

 
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ummu Salamah yang tercantum pada nomor 257.")

71 - باب: من صلى ركعتي الطواف خلف المقام.
Bab 71: Orang yang Shalat Dua Rakaat Thawaf di Belakang Maqam

- حدثنا آدم: حدثنا شعبة: حدثنا عمرو بن دينار قال: سمعت ابن عمر رضي الله عنهما يقول:
قدم النبي صلى الله عليه وسلم فطاف بالبيت سبعا، وصلى خلف المقام ركعتين، ثم خرج إلى الصفا، وقد قال الله تعالى: {لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة}.

Ibnu Umar berkata: , "Ketika Nabi sampai (di Mekah 2/171), beliau melakukan thawaf di Ka'bah tujuh kali. Kemudian shalat dua rakaat di maqam Ibrahim, (kemudian beliau keluar ke Shafa 2/166), lalu melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah (tujuh kali 2/203), padahal Allah Ta'ala telah berfirman, 'Sungguh telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu teladan yang baik.'"

 (Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Umar yang tersebut pada dua bab sebelumnya.")

72 - باب: الطواف بعد الصبح والعصر.
Bab 72: Mengerjakan Shalat Sunnah Sehabis Thawaf Sesudah Mengerjakan Shalat Subuh dan Ashar

وكان ابن عمر رضي الله عنهما يصلي ركعتي الطواف مالم تطلع الشمس. وطاف عمر بعد الصبح، فركب حتى صلى الركعتين بذي طوى.
Ibnu Umar r.a. biasa melakukan shalat dua rakaat thawaf selama matahari belum terbit.[39]
 Umar melakukan thawaf sesudah shalat subuh. Lalu, naik kendaraan hingga melakukan shalat dua rakaat di Dzi Thuwa.[40]

- حدثنا الحسن بن عمر البصري: حدثنا يزيد بن زريع، عن حبيب، عن عطاء، عن عروة، عن عائشة رضي الله عنها:أن ناسا طافوا بالبيت بعد صلاة الصبح، ثم قعدوا إلى المذكر، حتى إذا طلعت الشمس قاموا يصلون، فقالت عائشة رضي الله عنها: قعدوا، حتى إذا كانت الساعة التي تكره فيها الصلاة، قاموا يصلون.
805. Aisyah r.a. mengatakan bahwa orang-orang melakukan thawaf mengelilingi Baitullah sesudah mengerjakan shalat subuh. Kemudian mereka duduk mendengarkan keterangan juru nasihat. Sehingga, apabila matahari terbit, mereka lakukan shalat sunnah thawaf. Aisyah berkata, "Orang-orang itu duduk. Sehingga, apabila telah datang waktu yang pada saat itu tidak disukai melakukan shalat, mereka baru mengerjakan shalat."

- حدثني الحسن بن محمد، هو الزعفراني: حدثنا عبيدة بن حميد: حدثني عبد العزيز بن رفيع قال:
رأيت عبد الله بن الزبير رضي الله عنهما يطوف بعد الفجر، ويصلي ركعتين. قال عبد العزيز: ورأيت عبد الله بن الزبير يصلي ركعتين بعد العصر، ويخبر أن عائشة رضي الله عنها حدثته: أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يدخل بيتها إلا صلاهما.[ر:565]

806. Abdul Aziz bin Rufai' berkata, "Aku melihat Abdullah bin Zubair mengerjakan thawaf sesudah mengerjakan shalat subuh, dan dia melakukan shalat dua rakaat thawaf." Abdul Aziz berkata pula, "Aku melihat Abdullah bin Zubair mengerjakan shalat dua rakaat sesudah shalat ashar. Ia menceritakan bahwa Aisyah memberitahukan kepadanya bahwa Nabi tidak pernah masuk dalam rumahnya (rumah Aisyah) melainkan sesudah mengerjakan dua rakaat (shalat dua rakaat thawaf itu sehabis mengerjakan shalat Ashar)." (Dan dari jalan Urwah, dia berkata, "Aisyah berkata, 'Hai anak saudaraku, Nabi sama sekali tidak pernah meninggalkan shalat dua rakaat sesudah shalat ashar di sisiku.'")[41]

 
73 - باب: المريض يطوف راكبا.
Bab 73: Orang Sakit Melakukan Thawaf dengan Berkendaraan

- حدثني إسحق الواسطي: حدثنا خالد، عن خالد الحذاء، عن عكرمة، عن ابن عباس رضي الله عنهما:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم طاف بالبيت، وهو على بعير، كلما أتى على الركن أشار إليه بشيء في يده، وكبر.[ر:1530]

Dari ibnu abbas RA : bahwasanya rasulullah SAW thowaf di baitullah sedang beliau berada diatas ontanya ( kendaraannya ) , tatkala beliau sampai di rukun ( hajar aswad ) beliau memberikan isyarat kepadanya dengan sesuatu yang beliau pegang dan beliau bertakbir

  74 - باب: سقاية الحاج.
Bab 74: Memberi Minum kepada Orang yang Sedang Menunaikan Ibadah Haji

- حدثنا عبد الله بن أبي الأسود: حدثنا أبو ضمرة: حدثنا عبيد الله، عن نافع، عن ابن عمر رضي الله عنهما قال:استأذن العباس بن عبد المطلب رضي الله عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم: أن يبيت بمكة، ليالي منى، من أجل سقايته، فأذن له.[1656، 1658]
806. Ibnu Umar r.a. berkata, "Abbas bin Abdul Muthalib meminta izin kepada Rasulullah untuk bermalam di Mekah, pada malam-malam Mina, karena ia bertugas memberi minum. Maka, Rasulullah mengizinkannya."

- حدثنا إسحق: حدثنا خالد، عن خالد الحذاء، عن عكرمة، عن ابن عباس رضي الله عنهما:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم جاء إلى السقاية فاستسقى، فقال العباس: يا فضل، اذهب إلى أمك، فأت رسول الله صلى الله عليه وسلم بشراب من عندها. فقال: (اسقني). قال: يا رسول الله، إنهم يجعلون أيديهم فيه. قال: (اسقني). فشرب منه، ثم أتى زمزم، وهم يسقون ويعملون فيها، فقال: (اعملوا، فإنكم على عمل صالح). ثم قال: (لولا أن تغلبوا لنزلت، حتى أضع الحبل على هذه). يعني: عاتقه، وأشار إلى عاتقه.

807. Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah datang ke Siqayah (urusan minum jamaah haji), dan beliau minta minum. Maka, Abbas berkata, "Hai Fadhl, pergilah kepada ibumu, bawalah minuman dari sisinya untuk Rasulullah!" Nabi bersabda, "Berilah saya minum!" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka memasukkan tangan padanya." Beliau bersabda, "Berilah saya minum!" Maka, beliau minum daripadanya. Kemudian beliau datang ke zamzam di mana mereka sedang memberi minum dan bekerja di sana. Beliau bersabda, "Kerjakanlah, karena sesungguhnya kamu sekalian sedang melakukan amal saleh. Seandainya tidak karena kamu akan terkalahkan, niscaya aku turun sehingga aku letakkan tali di atas ini." Yakni belikat beliau, dan beliau menunjuk ke belikat itu.

_____________________________ ____

catatan tangan :
[36] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang sahih darinya.
[37] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ismail secara ringkas, dan di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dari Ma'mar dari az-Zuhri secara lengkap, dan sanadnya sahih.
[38] Diriwayatkan dengan redaksi yang hampir sama maknanya pada nomor 322.
[39] Di-maushul-kan oleh Sa'id bin Manshur dengan dua isnad yang sahih darinya.
[40] Di-maushul-kan oleh Imam Malik dengan sanad sahih darinya.
[41] Telah disebutkan di muka pada "9-AL-MAWAQIT / 33 - BAB" dari jalan lain selain Aisyah dengan redaksi yang lebih lengkap daripada yang di sini.

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #40 pada: 10 Januari 2008, 15:14:52 »
اخبار جديد
bagi yang mo donwload ringkasan shahih bukhari bagian ke-3 " KITAB ILMU " bisa donwload sekarang juga di :
http://www.4shared.com/file/34410515/e271cd06/SB-3__KITAB_ILMU.html?dirPwdVerified=7fc9e265



Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #41 pada: 13 Januari 2008, 22:46:44 »
75 - باب: ما جاء في زمزم.
Bab 75: Keterangan Mengenai air Zam-Zam

1556 - حدثنا محمد، هو ابن سلام: أخبرنا الفزاري، عن عاصم، عن الشعبي: أن ابن عباس رضي الله عنه حدثه قال:سقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم من زمزم، فشرب وهو قائم. قال عاصم: فحلف عكرمة: ما كان يومئذ إلا على بعير.[5294]
808. Ashim dari-asy-Sya'bi mengatakan bahwa Ibnu Abbas r.a. bercerita kepadanya. Kata Ibnu Abbas, "Saya memberi minum kepada Rasulullah dari air zam-zam lalu beliau minum sambil berdiri."Ashim berkata, "Ikrimah bersumpah bahwa pada hari itu beliau di atas unta."[42]
 
76 - باب: طواف القارن.
Bab 76: Thawaf Orang yang Melakukan Haji Qiran
- حدثنا عبد الله بن يوسف: أخبرنا مالك، عن ابن شهاب، عن عروة، عن عائشة رضي الله عنها:
خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في حجة الوداع، فأهللنا بعمرة، ثم قال: (من كان معه هدي فليهل بالحج والعمرة، ثم لا يحل حتى يحل منهما). فقدمت مكة وأنا حائض، فلما قضينا حجنا، أرسلني مع عبد الرحمن إلى التنعيم فاعتمرت، فقال صلى الله عليه وسلم: (هذه مكان عمرتك). فطاف الذين أهلوا بالعمرة، ثم حلوا، ثم طافوا طوافا آخر، بعد أن رجعوا من منى. وأما الذين جمعوا بين الحج والعمرة، طافوا طوافا واحدا.
[ر:290]


77 - باب: الطواف على وضوء.
Bab 77: Mengerjakan Thawaf Setelah Wudhu

- حدثنا أحمد بن عيسى: حدثنا ابن وهب قال: أخبرني عمرو بن الحارث، عن محمد بن عبد الرحمن بن نوفل القرشي: أنه سأل عروة بن الزبير فقال:قد حج النبي صلى الله عليه وسلم، فأخبرتني عائشة رضي الله عنها: أنه أول شيء بدأ به حين قدم أنه توضأ، ثم طاف بالبيت، ثم لم تكن عمرة. ثم حج أبو بكر رضي الله عنه، فكان أول شيء بدأ به الطواف بالبيت، ثم لم تكن عمرة، ثم عمر رضي الله عنه مثل ذلك، ثم حج عثمان رضي الله عنه، فرأيته: أول شيء بدأ به الطواف بالبيت، ثم لم تكن عمرة، ثم معاوية وعبد الله بن عمر، ثم حججت مع أبي - الزبير بن العوام - فكان أول شيء بدأ به الطواف بالبيت، ثم لم تكن عمرة، ثم رأيت المهاجرين والأنصار يفعلون ذلك، ثم لم تكن عمرة، ثم آخر من رأيت فعل ذلك ابن عمر، ثم لم ينقضها عمرة، وهذا ابن عمر عندهم فلا يسألونه، ولا أحد ممن مضى، ما كانوا يبدؤون بشيء، حتى يضعوا أقدامهم من الطواف بالبيت، ثم لا يحلون، وقد رأيت أمي وخالتي، حين تقدمان، لا تبتدئان بشيء أول من البيت، تطوفان به، ثم لا تحلان. وقد أخبرتني أمي: أنها أهلت هي وأختها والزبير، وفلان وفلان، بعمرة، فلما مسحوا الركن حلوا.[ر:1536]
809. Muhammad bin Abdurrahman bin Naufal al-Qurasyi bertanya kepada Urwah ibnuz Zubair. Lalu, Urwah berkata, "Nabi telah berhaji, maka Aisyah memberitahu kepadaku[43] bahwa yang pertama kali dilakukan oleh Nabi ketika sampai di Mekah ialah berwudhu, lalu thawaf di Ka'bah dan tidak ada umrah (yakni tidak tahalul hingga selesai hajinya). Abu Bakar juga berhaji dan yang pertama kali ia lakukan adalah thawaf di Ka'bah dan tidak ada umrah. Kemudian Umar juga berbuat seperti itu. Lalu, Usman berhaji dan yang pertama kali ia lakukan adalah thawaf di Ka'bah dan tidak ada umrah. Kemudian Muawiyah dan Abdullah bin Umar. Lalu, aku mengerjakan haji bersama Ibnuz Zubair. Maka, yang pertama kali ia kerjakan adalah thawaf di Ka'bah dan tidak ada umrah. Kemudian aku melihat sahabat muhajirin dan Anshar berbuat seperti itu, dan tidak ada yang menjadikannya umrah. Orang terakhir yang aku lihat ialah Ibnu Umar. Ia juga tidak mengubahnya menjadi umrah. Ini dia Ibnu Umar yang masih ada di sisi mereka, tetapi mereka tidak bertanya kepadanya. Tiada seorang pun yang bertanya kepadanya tentang apa yang pertama dilakukan ketika meletakkan kaki di Mekah, yaitu thawaf di Ka'bah, kemudian tidak melakukan tahalul. Juga aku melihat ibu dan bibiku ketika sampai di Mekah. Pertama yang dilakukan adalah thawaf di Ka'bah, lalu tidak bertahalul. Kemudian ibuku memberitahu kepadaku bahwa ia dan saudara wanitanya, az-Zubair, Fulan dan Fulan, mereka berihram untuk umrah. Ketika telah selesai menyentuh rukun (selesai thawaf) langsung melakukan tahalul."
 
78 - باب: وجوب الصفا والمروة، وجعل من شعائر الله.
Bab 78: Wajib Sa'i Antara Shafa dan Marwah dan Dijadikannya Salah Satu Syi'ar (Tanda Kebesaran) Allah

- حدثنا أبو اليمان: أخبرنا شعيب، عن الزهري: قال عروة:سألت عائشة رضي الله عنها، فقلت لها: أرأيت قول الله تعالى: {إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما}. فوالله ما على أحد جناح أن لا يطوف بالصفا والمروة، قالت: بئس ما قلت يا ابن أختي، إن هذه لو كانت كما أولتها عليه، كانت: لا جناح عليه أن لا يتطوف بهما، ولكنها أنزلت في الأنصار، كانوا قبل أن يسلموا، يهلون لمناة الطاغية، التي كانوا يعبدونها عند المشلل، فكان من أهل يتحرج أن يطوف بالصفا والمروة، فلما أسلموا، سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك، قالوا: يا رسول الله، إنا كنا نتحرج أن نطوف بين الصفا والمروة، فأنزل الله تعالى: {إن الصفا والمروة من شعائر الله}. الآية.
قالت عائشة رضي الله عنها: وقد سن رسول الله صلى الله عليه وسلم الطواف بينهما، فليس لأحد أن يترك الطواف بينهما.ثم أخبرت أبا بكر بن عبد الرحمن فقال: إن هذا لعلم ما كنت سمعته، ولقد سمعت رجالا من أهل العلم يذكرون: أن الناس، إلا من ذكرت عائشة ممن كان يهل بمناة، كانوا يطوفون كلهم بالصفا والمروة، فلما ذكر الله تعالى الطواف بالبيت، ولم يذكر الصفا والمروة في القرآن، قالوا: يا رسول الله، كنا نطوف بالصفا والمروة، وإن الله أنزل الطواف بالبيت فلم يذكر الصفا، فهل علينا من حرج أن نطوف بالصفا والمروة، فأنزل الله تعالى: {إن الصفا والمروة من شعائر الله}. الآية.قال أبو بكر: فأسمع هذه الآية نزلت في الفريقين كليهما، في الذين كانوا يتحرجون أن يطوفوا بالجاهلية بالصفا والمروة، والذين يطوفون ثم تحرجوا أن يطوفوا بهما في الإسلام، من أجل أن الله تعالى أمر بالطواف بالبيت، ولم يذكر الصفا، حتى ذكر ذلك، بعدما ذكر الطواف بالبيت.[1698، 4225، 4580]

810. Urwah berkata, "Saya pernah bertanya kepada Aisyah (ketika usia saya masih muda 2/203), 'Bagaimanakah pendapat Anda tentang firman Allah Ta'ala, 'Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk syiar-syiar Allah, maka barangsiapa yang berhaji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa atasnya untuk bersa'i di antara keduanya.' Saya berkata, 'Demi Allah, tidak ada dosa atas seseorang dengan tidak melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah.' Aisyah berkata, "Buruk sekali apa yang kamu katakan, hai anak saudara wanitaku. (Dalam satu riwayat: Tidak demikian!). Seandainya ayat ini seperti apa yang kamu takwilkan, maka tidak ada dosa atas seseorang untuk tidak melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah. Tetapi, ayat itu diturunkan pada orang-orang Anshar, mereka (dan orang-orang Ghassan) sebelum masuk Islam, mereka membaca talbiyah untuk Manat si berhala yang mereka sembah di Musyallal Gurus dengan arah Qadid). Maka, orang yang membaca talbiyah, ia rasa berdosa untuk sa'i di Shafa dan Marwah. Ketika mereka telah masuk Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah tentang hal itu, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami merasa berdosa untuk (dalam satu riwayat: untuk tidak) melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah (karena menghormati Manat).' Maka, Allah menurunkan ayat ini, 'Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syiar-syiar Allah.' Aisyah berkata, 'Rasulullah telah menjalankan sa'i antara Shafa dan Marwah, maka tidak ada seorang pun untuk meninggalkan sa'i (dalam satu riwayat: Mudah-mudahan Allah tidak menyempurnakan haji dan umrah seseorang yang tidak melakukan sa'i) antara kedua nya.' Masalah di atas (yakni perbedaan pendapat antara aku dan Aisyah) kuberitahukan kepada Abu Bakar bin Abdurrahman. Kemudian Abu Bakar berkata, 'Sesungguhnya masalah ini adalah benar-benar suatu ilmu yang belum pernah aku dengar. Aku memang pernah mendengar orang-orang dari golongan ahli ilmu agama menyebutkan bahwa seluruh manusia mengerjakan thawaf (yakni sa'i) antara Shafa dan Marwah, kecuali orang yang disebutkan oleh Aisyah, yaitu memulai ihramnya di Manat. Sewaktu Allah mewajibkan berthawaf mengelilingi Baitullah, Allah tidak menyertakan penyebutan masalah sa'i antara Shafa dan Marwah di dalam AlQur 'an. Selanjutnya mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, kita semua dahulunya mengerjakan thawaf yakni sa'i antara Shafa dan Marwah. Sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu yang menyebutkan adanya kewajiban berthawaf mengelilingi Baitullah, tetapi mengenai masalah Shafa tidak disebutkan oleh-Nya. Oleh karena itu, apakah kita semua akan mendapatkan dosa jika melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah?' Lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat yang berbunyi, 'Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk syiar-syiar Allah, maka barangsiapa yang berhaji ke Baitullah atau ber-umrah, tidak dosa atasnya untuk bersa'i atas keduanya.' Kemudian Abu Bakar bin Abdurrahman berkata, 'Aku mendengar bahwa ayat ini diturunkan kepada dua pihak sekaligus. Yaitu, pada orang-orang yang merasa keberatan untuk melakukan thawaf atau sa'i yang biasa mereka lakukan di zaman jahiliah antara Shafa dan Marwah. Juga diturunkan kepada orang-orang yang melakukan thawaf, lalu merasa keberatan melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah itu, sekalipun sudah memeluk agama Islam. Mereka merasa keberatan karena Allah memerintahkan melakukan thawaf mengelilingi Baitullah, tetapi Allah tidak menyebutkan Shafa. Sehingga, menyebutkan hal itu sesudah menyebutkan kewajiban thawaf mengelilingi Baitullah.'"
 
79 - باب: ما جاء في السعي بين الصفا والمروة.
Bab 79: Keterangan Mengenai Sa'i antara Shafa dan Marwah

وقال ابن عمر رضي الله عنهما: السعي من دار بني عباد إلى زقاق بني أبي حسين.
Ibnu Umar berkata, "Sa'i itu dari kampung bani Abbad ke lorong bani Abi Husein."[44]
- حدثنا أحمد بن محمد: أخبرنا عبد الله: أخبرنا عاصم قال:قلت لأنس بن مالك رضي الله عنه: أكنتم تكرهون السعي بين الصفا والمروة؟ قال: نعم، لأنها كانت من شعائر الجاهلية، حتى أنزل الله:{إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما}.[4226]
811. Ashim berkata, "Saya bertanya kepada Anas bin Malik, 'Apakah kamu enggan bersa'i antara Shafa dan Marwah?' Ia menjawab, 'Ya, sebab keduanya dahulu termasuk syiar (lambang) jahiliah (dalam satu riwayat: Kami memandang keduanya merupakan urusan jahiliah, maka ketika Islam datang, kami menahan diri dari keduanya 5/153), sehingga Allah menurunkan ayat, 'Sesunggguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk syiar-syiar Allah, maka barangsiapa yang berhaji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa atasnya untuk bersa'i pada keduanya.'"

- حدثنا علي بن عبد الله: حدثنا سفيان، عن عمرو، عن عطاء، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال:
إنما سعى رسول الله صلى الله عليه وسلم بالبيت، وبين الصفا والمروة، ليرى المشركين قوته.زاد الحميدي: حدثنا سفيان: حدثنا عمرو، سمعت عطاء، عن ابن عباس: مثله.[4010، وانظر: 1525]

812. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Rasulullah berthawaf mengelilingi Baitullah dan bersa'i antara Shafa dan Marwah, hanyalah dengan tujuan untuk memperlihatkan kekuatannya kepada kaum musyrikin."
 
80 - باب: تقضي الحائض المناسك كلها إلا الطواف بالبيت، وإذا سعى على غير وضوء بين الصفا والمروة.
Bab 80: Wanita yang Sedang Haid Boleh Menyelesaikan Semua Ama1an Haji Kecuali Thawaf, dan Orang yang Bersa'i Antara Shafa dan Marwah Tanpa Berwudhu

 1567 - حدثنا عبد الله بن يوسف: أخبرنا مالك، عن عبد الرحمن بن القاسم، عن أبيه، عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت:قدمت مكة وأنا حائض، ولم أطف بالبيت، ولا بين الصفا والمروة، قالت: فشكوت ذلك إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (افعلي كما يفعل الحاج، غير أن لا تطوفي بالبيت حتى تطهري).[ر:290]

81 - باب: الإهلال من البطحاء وغيرها، للمكي والحاج إذا خرج إلى منى.
Bab 81: Berihram dari Bath-ha' dan Lain-Lainnya untuk Orang yang Bertempat Tinggal di Mekah dan untuk Orang yang Berhaji Apabila Telah Keluar ke Mina
وسئل عطاء عن المجاور يلبي الحج؟ قال: وكان ابن عمر رضي الله عنهما يلبي يوم التروية، إذا صلى الظهر واستوى على راحلته..
Atha' pernah ditanya tentang orang yang dekat tempat tinggalnya yang melakukan talbiyah untuk haji. Lalu, ia berkata, "Ibnu Umar bertalbiyah pada hari Tarwiyah, apabila telah shalat dan naik di atas kendaraannya."[45]

وقال عبد الملك، عن عطاء، عن جابر رضي الله عنه: قدمنا مع النبي صلى الله عليه وسلم فأحللنا، حتى يوم التروية، وجعلنا مكة بظهر، لبينا بالحج. وقال أبو الزبير عن جابر: أهللنا من البطحاء
 Abdul Malik berkata dari Atha' dari Jabir r.a., "Kami datang bersama Nabi. Lalu, kami tahalul hingga hari Tarwiyah, dan kami jadikan Mekah sebagai permulaan kami bertalbiyah untuk haji."[46]Abu Zubair berkata dari Jabir, "Kami berihram dari Bath-ha'.'"[47]

وقال عبيد بن جريج لابن عمر رضي الله عنهما: رأيتك إذا كنت بمكة أهل الناس إذا رأوا الهلال، ولم تهل أنت حتى يوم التروية، فقال: لم أر النبي صلى الله عليه وسلم يهل حتى تنبعث به راحلته.[ر:164]
Ubaid bin Juraij berkata kepada Ibnu Umar r.a., "Aku melihat Anda apabila sudah berada di Mekah, orang-orang berihram ketika telah melihat bulan sabit. Tetapi, Anda belum berihram hingga hari Tarwiyah." Ibnu Umar menjawab, "Saya tidak melihat Rasulullah berihram sehingga kendaraan beliau bersemangat dulu untuk membawa beliau."[48]
 
82 - باب: أين يصلي الظهر يوم التروية.
Bab 82: Di Manakah Shalat Zhuhur pada Hari Tarwiyah

- حدثني عبد الله بن محمد: حدثنا إسحق الأزرق: حدثنا سفيان، عن عبد العزيز بن رفيع قال:
سألت أنس بن مالك رضي الله عنه قلت: أخبرني بشيء عقلته عن النبي صلى الله عليه وسلم: أين صلى الظهر والعصر يوم التروية؟ قال: بمنى، قلت: فأين صلى العصر يوم النفر؟ قال: بالأبطح، ثم قال: افعل كما يفعل أمراؤك

 
813. Abdul Aziz bin Rufai' berkata, ("Saya keluar ke Mina pada hari Tarwiyah, lalu saya berjumpa Anas yang sedang naik himar, lalu) saya berkata kepadanya, 'Beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang kamu dapat dari Nabi. Di manakah beliau shalat zhuhur dan ashar pada hari Tarwiyah?' Ia menjawab, 'Di Mina.' Saya bertanya, 'Di manakah beliau shalat ashar pada hari Nafar?' Ia menjawab, 'Di al-Abthah.' Kemudian Anas berkata, 'Lakukanlah seperti yang dilakukan oleh para amirmu (pemimpinmu).'" (Dan dalam satu riwayat: "Perhatikanlah, di mana para amirmu shalat, maka hendaklah engkau shalat di situ.")
 
83 - باب: الصلاة بمنى.
Bab 83: Shalat di Mina

1572 - حدثنا إبراهيم بن المنذر: حدثنا ابن وهب: أخبرني يونس، عن ابن شهاب قال: أخبرني عبيد الله بن عبد الله بن عمر، عن أبيه قال:صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بمنى ركعتين، وأبو بكر وعمر، وعثمان صدرا من خلافته.[ر:1032]
Dari syihab beliau berkata : menceritakan kepadaku ubaidullah dari Abdullah bin umar dari bapaknya, beliau  berkata :  rasulullah Saw mengerjakan sholat di mina dua rakaat begitu pula abu bakar, umar dan usman dimasa kekhilafahannya.

84 - باب: صوم يوم عرفة.
Bab 84: Berpuasa Pada Hari Arafah (9 Dzulhijjah)

حدثنا علي بن عبد الله: حدثنا سفيان، عن الزهري: حدثنا سالم قال: سمعت عميرا، مولى أم الفضل، عن أم الفضل:شك الناس يوم عرفة في صوم النبي صلى الله عليه وسلم، فبعثت إلى النبي صلى الله عليه وسلم بشراب فشربه.[1578، 1887، 5282، 5295، 5313]
814. Ummul Fadhl berkata, "Orang-orang ragu (dalam satu riwayat: berdebat 2/248) (dan dalam riwayat lain: bersilang pendapat di sebelahnya 2/174) pada hari (dalam satu riwayat: sore hari 6/248) Arafah terhadap puasa Nabi. (Sebagian mereka berkata, 'Beliau berpuasa pada hari itu,' dan sebagian lagi berkata, 'Beliau tidak berpuasa.') Lalu, saya mengutus seseorang kepada Nabi membawa minuman (dan dalam satu riwayat: dengan membawa semangkok susu ketika beliau sedang berada di atas kendaraannya). Maka, beliau mengambil dengan tangan beliau sendiri, lantas meminumnya.'"

_____________________________ _

catatan tangan:
[42] Al-Hafizh berkata, "Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari jalan Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi melakukan thawaf di atas unta beliau. Kemudian beliau menderumkan unta itu sesudah selesai thawaf, lalu mengerjakan shalat dua rakaat" Kemungkinan pada waktu itu beliau minum air zam-zam sebelum kembali kepada unta beliau dan pergi ke Shafa. Bahkan, inilah yang sudah jelas. Karena, yang menjadi alasan Ikrimah untuk menolak keberadaan beliau minum sambil berdiri itu ialah riwayat yang ada padanya bahwa Rasulullah thawaf di atas unta, dan pergi ke Shafa di atas unta itu dan melakukan sa'i di atas unta itu juga. Akan tetapi, aktivitas itu diselingi dengan melakukan shalat dua rakaat thawaf, dan terdapat riwayat yang sah bahwa beliau melakukan shalat ini di atas tanah. Maka, apakah gerangan yang menghalangi kemungkinan beliau pada waktu itu minum air zam-zam sambil berdiri sebagaimana yang diriwayatkan asy-Syabi dari Ibnu Abbas?
[43] Al-Hafizh berkata, "Imam Bukhari tidak menyebutkan redaksi pertanyaan dan jawabannya, dan ia mencukupkan yang marfu saja. Imam Muslim meriwayatkannya dari jalan ini dengan lafal bahwa seorang laki-laki dari Irak bertanya kepadanya, 'Tanyakanlah untukku kepada Urwah ibnuz Zubair tentang hukum seseorang yang melakukan ihram haji, apakah telah selesai thawaf, apakah ia boleh tahalul atau tidak? Jika ia berkata kepadamu, 'Tidak boleh,' maka katakan kepadanya bahwa ada seseorang yang berkata begitu. Lalu saya bertanya kepadanya, kemudian Urwah menjawab, 'Tidak boleh tahalul orang yang berihram untuk haji kecuali untuk haji.' Laki-laki itu mendesakku, lalu saya ceritakan kepadanya. Kemudian ia bekata, 'Katakanlah kepadanya, karena ada seseorang yang memberitahukan bahwa Rasulullah pernah berbuat begitu, dan bagaimana dengan Asma dan Zubair yang telah melakukan hal itu? Ia berkata, "Lalu aku datang kepada Urwah, lantas saya beritahukan hal itu kepadanya. Kemudian ia bertanya, 'Siapakah ini?' Saya jawab, 'Tidak dikenal, yakni saya tidak mengetahui namanya.' 'Mengapa dia tidak datang sendiri untuk menanyakannya kepadaku? Saya kira dia orang Irak, sedangkan orang-orang Irak itu keras kepala di dalam menghadapi persoalan-persoalan.' Urwah berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah telah menunaikan haji.'" Lalu Imam Muslim menyebutkan hadits itu.
[44] Di-maushul-kan oleh al-Fakihi dari dua jalan dari Ibnu Umar, dan pada salah satunya terdapat tambahan: Sufyan berkata, "Ia adalah di antara dua tanda ini."
[45] Di-maushul-kan oleh Sa'id bin Manshur darinya dengan lafal, "Saya melihat Ibnu Umar di masjid, lalu dikatakan kepadanya bahwa bulan sabit telah tampak, kemudian disebutkan kisah ini. Lalu dia diam saja, sehingga ketlka hari Tarwiyah (8 Dzul Hijjah), dia datang ke Bath-ha'. Setelah kendaraannya siap, dia lantas melakukan ihram."
[46] Di-maushul-kan oleh Muslim (4/37) darinya, dan dia adalah Ibnu Abi Sulaiman.
[47] Di-maushul-kan oleh Muslim juga (4/36)
[48] Di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) dalam Ath-Thaharah (109).



Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #42 pada: 29 Januari 2008, 23:11:24 »
اعـــــلان جديــــــــد

sekarang anda dengan mudah bisa mendonwlaod kumpulan file-file karya pribadi yang sudah ana postingakn di MYQ ini, file dalam 2 bentuk :MMS WORD & PFD ( NEW ) silahkan clik link berikut ini :

http://www.4shared.com/account/dir/3608625/78c91153/sharing.html

bagi ysng mo kumpulan file CHM karya akhina ath thilmizd laa adhri bisa buka di :
http://sunniy.wordpress.com/download-sunniy/

selamat mencoba semoga bermanfaat buat kita semua