Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Rabu, 23 Mei 2012/2 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:56 - Shubuh 4:33:20 - Terbit 5:55:23 - Dzuhur 11:49:41 - Ashar 15:11:42 - Maghrib 17:44:02 - Isya' 18:57:35 WIB

Penulis Topik: Kliping Tulisan Fikrah dan Manhaj Tarbiyah  (Dibaca 1618 kali)


Offline Justice 4 All

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 5.506
    • Lihat Profil
    • My Multiply
« Jawab #30 pada: 14 Desember 2007, 09:30:26 »

Drop materi juga dong ustadz, jangan cuma mampir dan komen, nggak boleh tuh nyimpen ilmu buat sendiri. ;)
Jawaban atas Syubhat yang Dituduhkan kepada Dakwah Tarbiyah

Updated! Latest article: Fatwa Syaikh Albany dan Syaikh Nashir As-Sa'di tentang Pemboikotan Musuh Islam


Offline gaza

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 1.498
  • Lokasi: tangerang-banda aceh
  • Jenis kelamin: Pria
  • Wa'idu
    • Lihat Profil
    • Personal
« Jawab #31 pada: 15 Desember 2007, 16:44:24 »
PANDUAN MEMILIH JAMA'AH        

Oleh Abu Farhan

Pasca reformasi, bangsa Indonesia larut dalam ekspresi kebebasan berpendapat  dan kreatifitas yang berlebihan. Bukan hanya partai politik yang menjamur namun juga jama'ah dakwah. Bukan hanya parpol yang jago kampanye tapi jama'ah dakwah juga ahli melakukan propaganda. Seperti tukang obat, mereka menyatakan obatnyalah yang paling manjur dan paling mujarab. Dengan doktrin-doktrin yang dikemas sedemikian rupa tidak sedikit orang terpelajar yang terbawa arus ini.



Ada yang berteriak, "Jama'ah saya adalah jama'ah yang terbaik, karena jama'ah saya adalah pengikutnya orang-orang terdahulu."  Jama'ah lainnya berkata, "Jama'ah sayalah yang paling hebat, karena jama'ah saya berjuang menegakkan syariat Islam dan khilafah Islamiyah." Kelompok lainnya berkata, "Jama'ah sayalah yang terhebat, karena selalu berjihad sepanjang waktu."

Klaim-klaim tersebut tentu saja sah-sah saja, asal tidak dibumbui dengan caci maki dan sikap mau menang sendiri dalam segala hal. Atau sikap merasa paling syar'i dan paling nyunnah. Bahkan mengaku sebagai satu-satunya kelompok yang selamat (Firqatun najiyah).

Untuk itu agar kita dapat membeli "jamu" yang benar-benar cespleng tentu dibutuhkan panduan. Supaya dapat membedakan mana "jamu" yang sudah kadaluarsa/usang dan mana yang belum. Mana "jamu" yang mengandung racun dan mana jamu beneran.

Jama'ah Adalah Wasilah

Pertama yang harus kita pahami bahwa jama'ah adalah wasilah (alat) bukan tujuan (ghayah). Kalau alat maka hukumnya tergantung kebutuhan. Yaitu berputar pada 'illatnya (alasannya). Bisa wajib dan bisa juga sunnah. Bahkan mungkin haram kalau jama'ah tersebut justru menyebabkan pertikaian dan konflik yang berkepanjangan diantara mereka atau sesama mereka. Atau justru mengajak kepada kesesatan. Semisal Ahmadiyah, LDII, JIL, Syiah dan Salamullah.

Namun demikian dalam era ini jama'ah dakwah tentu sangat dibutuhkan. Karena baik secara naqli dan aqli memiliki landasan hukum yang kuat. Masalahnya apakah perlu dibatasi? Lalu siapa yang berhak membatasi? Sebab jika terlalu banyak juga bikin bingung. Bahkan dari satu jama'ah saja bisa pecah menjadi berbagai jama'ah. Contohnya kelompok yang hobi menuntut ilmu membentuk jama'ah ilmiyah. Yang suka jihad membentuk jama'ah jihadiyah. Yang suka tahdzir (mengkritik secara keras dan kasar) membentuk jama'ah tahdziriyah. Yang suka hajr (memboikot) membentuk jama'ah hajriyah. Sampai-sampai seorang ustadz harus menulis buku, "Lerai Pertikaian Hentikan Permusuhan."
Secara Naqli dapat kita lihat dalam Alqur'an dan berbagai hadits nabi yang mengisyaratkan untuk hidup berjama'ah.

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."(Ali Imran 3:103)
"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat"(Ali Imran 3:105).

Rasulullah bersabda, "Tangan Allah bersama jama'ah." (HR Tirmidzi).     Rasulullah SAW bersabda, "Dan aku memerintahkan kepada kalian lima hal. Allah memerintahkan aku dengan kelima hal tersebut, yaitu : berjama'ah, mendengarkan, menta'ati, berhijrah dan berjihad di jalan Allah...."(HR Ahmad).

Dari Muadz bin Jabal, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya syetan adalah serigala bagi manusia, seperti serigala bagi kambing yang memakan kambing yang keluar dari kawanan dan menyendiri. Karena itu jauhilah perpecahan, dan hendak kamu bersama jama'ah dan orang banyak. " (HR Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Albani).

Umar pernah berkhutbah dihadapan manusia , "... barang siapa diantara kamu yang menginginkan kenikmatan syurga, maka hendaklah ia senantiasa berkomitmen dengan jama'ah." (HR Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir berkata sanadnya shahih.)

Adapun secara aqli sangat jelas bahwa tidak mungkin dakwah Islam yang demikian luas dan berat ini dikerjakan secara individual. Untuk urusan yang sederhana saja kita butuh tim. Apalagi dalam urusan yang besar ini.

Untuk menyapu jalanan saja kita harus menggunakan lidi yang disatukan dalam bentuk sapu. Untuk membangun rumah juga butuh tim antara tukang kayu, tukang batu, tukang listrik dan kernet. Untuk mengurus perusahaan dibutuhkan komisaris, direktur, kepala divisi, kepala bagian, kepala seksi hingga staf, satpam, pantray hingga office boy.

Kesimpulannya dakwah ini tidak mungkin dikerjakan sendiri-sendiri. Dakwah harus dikerjakan secara berjama'ah.

Berlandaskan Alqur'an dan Sunnah

Jama'ah dakwah yang kita pilih haruslah didasarkan kepada Alqur'an dan sunnah. Adapun tambahan harus mengikuti orang terdahulu yang shalih adalah masalah khilafiyah. Sebab yang diangkat sebagai nabi dan Rasul adalah Muhammad SAW. Dan syahadat kita juga hanya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, bukan kepada sahabat. Yang harus ditaati adalah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang ma'shum juga hanya Rasulullah. Sebab sahabat bisa salah dan bisa juga benar. Jadi kepada para sahabat sifatnya adalah ittiba' bukan taat. Ini mengindikasikan bahwa mengikuti salafush shalih adalah lebih utama. Karena itulah kita tidak akan pernah menemukan perintah untuk mentaati sahabat. Yang ada adalah taat kepada Allah, Rasul-Nya dan para pemimpin (ulil amri). Jadi ketaatan kepada sahabat adalah ketataan ketika mereka menjadi pemimpin. Misalnya sebagai khalifah atau panglima perang.

Lebih-lebih jika kita baca fitnatul kubra yang terjadi pada masa Ali RA dengan  Muawiyah RA. Maka kita akan kebingungan. Sebab sebagian sahabat berpihak kepada Ali. Sebagian kepada Muawiyah dan sebagian tawaquf (diam). Demikian halnya dalam mengikuti Rasulullah. Ada yang seperti Abdullah ibnu Umar yang mengikuti Rasulullah sampai detil. Hingga unta Rasulullah duduk dan berputar juga diikuti. Begitupun dalam masalah wudhu beliau mencuci hingga  ke dalam matanya, yang ini mengakibatkan beliau buta. Tapi ada juga yang mengambil masalah-masalah pokok dalam beragama.

Sahabat Rasulullah juga memiliki karekteristik yang unik dalam beragama. Ada yang seperti Khalid bin Walid yang sibuk di medan perang. Ada yang seperti Abu Hurairah yang sibuk mengumpulkan hadits. Ada yang menyendiri, sibuk beribadah dan taqarrub ilallah.

Karena itulah landasan jama'ah yang selamat yaitu mengikuti Alqur'an dan sunnah. Dalam Alqur'an selalu kita temukan kata-kata taat kepada Allah yang artinya mengikuti Alqur'an dan taat kepada Rasulullah artinya mengikuti sunnah.
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."(An Nisaa 4:59)

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."(Ani Nisaa 4:65).

Komprehensif

Selanjutnya jama'ah dakwah sebaiknya bersifat komprehensif/syumul. Yaitu jama'ah dakwah yang bergerak di semua lini kehidupan. Baik dalam masalah aqidah, ibadah, pendidikan, ekonomi, politik, seni, budaya hingga pertahanan keamanan.

Sebab betapa banyak diantara kita yang terjebak kepada hal-hal yang parsial. Ketika melihat betapa banyaknya fadhilah tauhid. Lalu kita hanya menggarap masalah tauhid. Yang lainnya melihat betapa indahnya fadhilah berilmu maka mereka memfokuskan hanya dalam kajian-kajian ilmiyah semata. Lalu kita melihat bahwa Islam sangat mendorong orang untuk wara', berhati bersih, berdzikir dan beribadah dengan khusyu' lalu kita hanya terfokus dalam masalah-masalah tazkiyatun nafs (tasawuf).Padahal Islam telah sempurna. Yang mencakup segala aspek kehidupan.

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu."( Al baqarah 2:208)

"....pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu ..."(Al Maaidah 5:3).

Bahkan Allah mengutuk orang yang bersifat parsial. Mengambil sebagian dan mencampakkan sebagian yang lainnya.

 ".... apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat"(Albaqarah 2:85)

Selain itu dalam kehidupan juga tidak dapat dipisah-pisahkan, antara satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Contohnya seni dapat mempengaruhi dan merusak aqidah. Semisal jatilan (kuda lumping). Seni juga dapat mempengaruhi ibadah dan akhlak. Contohnya sinetron dan bioskop. Betapa banyak generasi muda kita rusak karena terpengaruh oleh tontonan. Lalu bagaimana mungkin kita akan berlepas diri dari masalah ini serta tidak berusaha membenahinya?

Demikian halnya masalah politik juga akan berpengaruh dalam kehidupan beragama. Contohnya asas tunggal & P4. Telah membuat umat islam terpenjara dalam ideologi  buatan orde baru. KUHP telah menjadikan umat terpenjara dalam hukum Belanda.

Karena itu jama'ah dakwah hendaknya menggarap semua aspek kehidupan. Atau paling tidak jika bersifat parsial sesuai keahliannya. Dibutuhkan  kerjasama, koordinasi ataupun agenda bersama. Yaitu adanya pembagian tugas yang jelas diantara jama'ah dakwah tersebut.


Visi, Misi, Strategi dan Program Yang Jelas


Jama'ah dakwah yang baik adalah jama'ah dakwah yang memiliki visi, misi, agenda, strategi dan program yang jelas. Karena tidak mungkin kita dapat mengalahkan kekuatan kaum kuffar hanya bermodalkan semangat dan simbol-simbol lahiriyah semata.

Lawan yang kita hadapi dan lahan dakwah yang kita garap sangat luas. Mereka bekerja dengan cara yang efektif, efisien dengan agenda yang jelas, manajemen yang bagus dan teknologi yang tinggi.

Karena itu jama'ah dakwah harus memiliki visi yang jelas. Mau kemana jama'ah dakwah tersebut. Alangkah sayangnya kalau jama'ah didirikan hanya untuk mempertahankan tradisi-tradisi peninggalan nenek moyang kita. Atau hanya untuk mempertahankan ritual-ritual/tradisi yang bersifat lokal yang tidak pernah dicontohkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang bukan sunnah dan bukan pula wajib.

"Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."(Al Qashash 28:77)
"Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". Mereka Itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. "(Al baqarah 2:201-202)

Itulah visi dan misi yang diajarkan Allah SWT. Yaitu agar kita bahagia di dunia dan di akherat. Untuk mencapai hal ini maka tentu saja perlu dikelola (manage), ditata dan diprogram dengan baik.
Untuk mengelola perusahaan saja kita kerjakan dan kita program dengan sangat baik. Dengan visi, misi, RKAP dan prosedur yang jelas. Lalu kenapa untuk urusan yang sangat besar (dakwah) kita bikin seadanya. Cuma mengandalkan tabligh atau ta'lim.
Untuk mengetahui hal tersebut di atas maka kita harus lihat anggaran dasar atau anggaran rumah tangganya. Atau kita lihat arahan-arahan para syaikhnya atau pendirinya. Tapi paling tidak jama'ah yang baik memiliki beberapa kriteria sebagai berikut.
Yaitu dengan cara mengislamkan diri sendiri dahulu, keluarga, masyarakat, negara dan dunia. Untuk kemudian menjadi guru bagi peradaban dunia. Dalam lingkup pribadi harus mampu membentuk pribadi yang aqidahnya selamat, ibadahnya benar, akhlaknya mulia, fisiknya kuat, ilmunya luas, mandiri, bermanfaat bagi orang lain dan dapat membagi waktunya dengan baik.
Dalam lingkup keluarga, berupaya membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Serta memiliki semboyan Alllah tujuan kami, Rasul tauladan kami, Alqur'an hukum kami, jihad jalan kami dan mati syahid adalah cita-cita kami. Itulah contoh jama'ah dakwah yang memiliki visi, misi, metode, jalan dan program yang jelas dan terang seterang matahari.

 
sumber :   http://perisaidakwah.com/content/view/42/38/
...Wahai Tentara Allah bertahanlah... Jangan menangis walau jasadmu terluka.. sebelum engkau bergelar syuhada.. Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah

Offline kuringtea

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 2.834
  • Lokasi: Bandung-bogor-bekasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Inspirasi "mujahid" dilampu motorku
    • Lihat Profil
    • www.perisaidakwah.com
« Jawab #32 pada: 15 Desember 2007, 17:52:52 »
:-)..hi..hi, @gaza disemprot mod..langsung posting...boleh nech atsar dr mod, ..:-)
Sahabat ‘Umar Ibn al-Khaththab berkata,

“Bukanlah orang yang berakal itu adalah yang dapat mengetahui kebaikan dari keburukan, namun orang yang berakal adalah yang mampu mengetahui yang terbaik dari dua keburukan.”

[ Raudhatul Muhibbin,hal 8)
Mangga mampir di : makadir.wordpress.com

Offline GI-JOE

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 3.860
  • Lokasi: Indonesia banget!
  • Jenis kelamin: Pria
  • Generasi Islam - peJOEang
    • Lihat Profil
« Jawab #33 pada: 22 Desember 2007, 13:27:32 »
wah.... boljug nih materinya.... mantab...  O0

Offline kuringtea

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 2.834
  • Lokasi: Bandung-bogor-bekasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Inspirasi "mujahid" dilampu motorku
    • Lihat Profil
    • www.perisaidakwah.com
« Jawab #34 pada: 31 Januari 2008, 01:40:57 »
Segmentasi dalam Aspek-Aspek Dakwah (Tauzi’ Al-Adwar Ad-Da’awiyyah) - Bagian ke-1
Al-Ikhwan.net | 29 January 2008 | 20 Muharram 1429 H | Hits: 105
Abi AbduLLAAH
E-Mail This Post/Page Kirim ke teman | Print This Post/Page Print

توزيع الأدوار الدعوية

(Segmentasi dalam Aspek-Aspek Dakwah)

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا

“Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, maka RABB-mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nya”[1].

Muqoddimmah

Dalam berbagai kesempatan jaulah dan memberikan taujih, sering ana mendapatkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: “Mengapakah banyak kader dakwah sekarang ini cenderung kepada dunia? Apakah mereka lupa kepada asal mereka saat periode awal dulu mereka itu tidak punya apa-apa? Tidakkah mereka melihat ikhwahnya yang lain yang tidak semujur dirinya dalam rizqi, lalu dimanakah ukhuwwah?” Atau kadang ana juga mendapatkan pertanyaan yang sebaliknya: “Akhi, kenapa ikhwah kita nampaknya tidak siap melihat ikhwah yang lain diberi kemudahan oleh ALLAAH? Padahal ALLAAH menyediakan perhiasan dunia ini untuk dinikmati oleh orang yang beriman? Adapun ikhwah yang lain, maka bukankah ALLAAH menentukan rizqi berbeda-beda pada setiap orang, di zaman Nabi SAW pun sudah ada perbedaan tersebut dan tidak dihapuskan oleh Nabi SAW.”

Ada juga ikhwah yang menyampaikan masalah lain lagi: “Mengapa kader sekarang koq pada genit ya? Mereka mulai rame-rame pakai celana jeans segala, lalu dimana lagi al-wala’ wal bara’ mereka?” Ada pula yang bertanya kebalikannya: “Akhi, kita ini kan harus masuk ke segala lapisan masyarakat, lha kalau semuanya bertahan dengan baju koko (baca: baju taqwa) lalu siapa yang akan menggarap kelompok-kelompok yang alergi terhadap baju seperti itu? Padahal mereka yang demikian itu jauh lebih banyak jumlahnya, lagian baju taqwa itu juga kan asalnya juga bukan dari Islam tapi dari China?”

Demikianlah sekelumit kegalauan yang menimpa sebagian ikhwan dan akhwat dalam ber-ta’ammul (berinteraksi) dengan masyarakat di era mu’assasi ini, dan semua ini insya ALLAAH adalah merupakan kebaikan belaka, karena semuanya didasarkan kepada ghirah-islamiyyah (kecemburuan/semangat keislaman). Yang berbahaya adalah kalau dasarnya disebabkan karena ghill wal hasad, maka apapun yang dilakukan ikhwahnya yang lain akan nampak selalu salah dan cela dimatanya, sekalipun telah ditegakkan atasnya berbagai hujjah wal barahin[2]. Wal ‘iyadzu biLLAAH…

Tafsir Ayat Menurut Ulama Salafus-Shalih

Berkata Imam At-Thabari tentang makna syakilah: ALLAAH SWT berfirman kepada Nabi SAW: Katakan wahai Muhammad kepada manusia: Setiap kalian itu beramal sesuai dengan keadaannya masing-masing, keinginannya yang beragam, jalannya yang berbeda-beda, maka RABB-mu lah yang lebih mengetahui siapa yang lebih mendapat petunjuk yang lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan dengan yang lainnya[3]. Dalam bagian yang lain beliau – rahimahuLLAAH - menyitir pendapat lainnya yang menyatakan bahwa makna syakilah juga berarti niatnya[4].

Sementara Imam Ibnu Katsir menambahkan bahwa ALLAAH SWT lebih mengetahui antara kami maupun kalian, dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalnya, karena sesungguhnya bagi ALLAAH SWT tiada yang tersembunyi sedikitpun dari-NYA[5]. Imam Al-Baghawi menambahkan: Yaitu menurut jalan yang dipilih dan disukainya[6]. Imam Al-Biqa’iy menafsirkannya: Katakanlah (wahai para tokoh) setiap kalian (baik yang bersyukur maupun yang kufur)[7] berbuat menurut keadaannya masing-masing (yaitu apakah baik ataupun buruk)[8]. [9]

Berkata Ibnu Hayyan saat memberikan taujihnya mengulas ayat ini[10], ia - rahimahuLLAAH - menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut sudah terjadi di era terbaik, yaitu Abubakar RA berkata bahwa ayat yang paling beliau sukai adalah[11]: “Yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya..”[12]; sementara Utsman RA berkata tiada ayat yang lebih kusukai daripada ayat: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya AKU-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan sesungguhnya azabku adalah azab yang pedih..”[13]; berkata Ali RA tiada ayat yang lebih kusukai kecuali ayat: “Katakanlah: Hai hamba-hamba-KU yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat ALLAAH..”[14]; demikianlah perbedaan sudut-pandang di kalangan para sahabat RA tentang suatu masalah, semoga ALLAAH SWT meridhai mereka semuanya.

Maka hendaklah kita - wahai ikhwah wa akhwat fiLLAAH - mengarahkan diri kita semua kepada ridha ALLAAH SWT, apakah dengan wasilah (sarana) kemiskinan maupun kekayaan, karena itu bukanlah titik masalahnya karena baik miskin atau kaya bukan menjadi sebab haram atau halal, titik masalahnya adalah bagaimana dampak kedua hal tersebut kepada keimanan kita, kepada dakwah kita dan kepada jihad kita. Apabila dengan kemiskinan itu kita menjadi tidak sempat beribadah, terhambat dari dakwah dan jihad - padahal kita mampu untuk mengubahnya - maka wajib bagi kita untuk mengubahnya, dan mengingat berbagai dalil yang menjelaskan tentang keutamaan kekayaan.

Demikian pula bagi ikhwah wa akhwat yang diberikan kekayaan oleh ALLAAH SWT maka apakah asal kekayaan tersebut jelas halalnya dan juga dalam pengalokasiannya maslahat? Jika jawabannya tidak, maka hendaklah resapi berbagai dalil tentang keutamaan kemiskinan dibanding harta yang haram. Demikianlah dengan ini maka semua dalil yang ada akan bertemu pada titik inshaf (adil dan moderat) biduni ifrath wala tafrith (tidak berlebihan tidak pula berkurangan), dan janganlah sekali-kali kita mempertentangkan dalil, karena yang demikian itu adalah sifat orang-orang munafiq, na’udzu biLLAAHi min dzalik.. Ingatlah kata-kata Sayyid Quthb – ja’alahuLLAAHu syahidan - saat mengomentari ayat ini, beliau menyatakan bahwa ayat ini merupakan statement yang tersirat akan akibat dari setiap perbuatan dan tujuan seseorang, maka hendaklah setiap orang mengusahakan - dengan semua hal yang mampu ia usahakan - dan agar ia mengarahkan seluruh hati, fikiran dan amalnya untuk menempuh jalan petunjuk, yaitu jalan yang akan mempertemukannya dengan ALLAAH SWT[15]..

(Bersambung Insya ALLAAH…)

___

Catatan Kaki:

[1] QS Al-Isra’, 17/84

[2] Pembahasan bagi kelompok ahlul-ghill wal hawa’ dalam jama’ah ini telah berlalu, tafadhal dilihat lagi tulisan ana berjudul: Manhajut Tatsabbut wat-Tabayyun fil Harakah

[3] Tafsir At-Thabari, XVII/540

[4] Ibid, XVII/541

[5] Tafsir Ibnu Katsir, V/113

[6] Tafsir Al-Baghawy, V/124

[7] Ini juga pendapat Imam An-Nasafiy, lih. Juga dalam Tafsirnya, II/215

[8] Tafsir Al-Biqa’iy, V/98

[9] Imam Ibnul Jauzy meringkasnya menjadi 3 pendapat: Keinginan, niat dan agamanya; lih. Zadul Masir, IV/189

[10] Tafsir Al-Bahrul Muhith, V/392

[11] Maksudnya adalah ayat yang mendahulukan rahmat dari azab ALLAAH SWT

[12] QS Ghafir, 40/3

[13] QS Al-Hijr, 15/49-50

[14] QS Az-Zumar, 39/53

[15] Az-Zhilal, 5/42
Sahabat ‘Umar Ibn al-Khaththab berkata,

“Bukanlah orang yang berakal itu adalah yang dapat mengetahui kebaikan dari keburukan, namun orang yang berakal adalah yang mampu mengetahui yang terbaik dari dua keburukan.”

[ Raudhatul Muhibbin,hal 8)
Mangga mampir di : makadir.wordpress.com

Offline gaza

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 1.498
  • Lokasi: tangerang-banda aceh
  • Jenis kelamin: Pria
  • Wa'idu
    • Lihat Profil
    • Personal
« Jawab #35 pada: 12 Februari 2008, 19:22:11 »
Berinteraksi Da^awi dengan Masyarakat       
 
                                                                      DR. Surachman Hidayat

Muqadimah

Ketika berinteraksi di tengah masyarakat, janganlah pernah kita menunjukkan sikap yang mentamyiz /membeda-bedakan( diskriminatif ) terhadap ikhwah dan bukan ikhwah atau aktifis dakwah  dan bukan aktifis dakwah , misalnya ketika bersalaman dengan sesama kader kita melakukannya dengan hangat bahkan sambil berpelukan, tetapi di tempat dan acara yang sama bersalaman dengan yang belum kader, kita melakukannya dengan biasa saja, bahkan terkesan agak dingin. Apakah cara ini bisa meraih simpati? Mungkin yang terjadi malah sebaliknya. Padahal kita mengetahui dari taujih Nabawi bahwa “Idkhalus surur Shadaqah“ memberikan suatu perlakuan yang mubah tapi menyenangkan orang lain adalah shadaqah.

Di dalam tahun pemenangan (‘Am Intikhabi) ini, tepat jika kita mengaplikasikan “Itsar” dengan cara mendahulukan atau mengutamakan jumhur (masyarakat) daripada ikhwan atau akhwat, misalnya dalam membagi fasilitas yang Allah berikan kepada kita, tidak lagi diputarkan di lingkungan terbatas(baca: ikhwah) tetapi dengan memberikan bagian kita kepada tetangga yang disekitar  kita

Ikhwah fillah…

Sudah seharusnya kita memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya karena atas karunia-Nyalah kita menjadi orang-orang yang beriman di jalan-Nya. Allah telah menyelamatkan kita yang nyaris terperosok dan terdampar di jalan menuju neraka, di jurang-jurang bencana yang menganga di berbagai sudut kehidupan. Semangat syukur ini hendaknya mampu menjadikan perasaan kita semakin kuat dalam memiliki dakwah dan jamaah ini. Selain itu kita pun semakin memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama ikhwan dan anggota masyarakat. Hal itu tak dapat kita pungkiri karena setiap kader dakwah pertama kali lahir secara biologis dan sosiokultural dari rahim masyarakat, dan dilahirkan kembali secara tarbawi dalam rahim dakwah yang mubarakah, Insya Allah. Kini setelah menjadi kader dakwah, kita adalah pelaku dakwah yang harus menebarkan berbagai kebaikan kepada seluruh manusia sebagai rahmat untuk semesta alam. Dalam konteks ini, kita harus mendahulukan masyarakat yang ada di sekeliling kita, atau yang berada paling dekat dengan kita karena dengan merekalah kita berinteraksi sehari-hari. Seorang kader dakwah itu berasal dari masyarakat, tertempa oleh dakwah dan bermanfaat untuk masyarakatnya.

 Ikhwah fillah…

Al-Qur'an tidak pernah menyebutkan ungkapan yang menyiratkan makna bahwa ada jarak antara dai dengan masyarakatnya karena para dai adalah pewaris Nabi saw yang digambarkan dengan ungkapan, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul (dai) dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.“ ( At-Taubah: 128 )

Dari masyarakatlah kita berasal dan untuk mereka pula kita datang sehingga sudah seharusnya kita memiliki ikatan emosional yang dalam terhadap persoalan mereka serta mempunyai keinginan yang kuat untuk memperbaiki dan menyelamatkan mereka dengan bahasa kasih sayang.

 Ikhwah fillah...

Renungkanlah, betapa ketinggian akhlaq Rasulullah Muhammad saw dalam berinteraksi dengan masyarakatnya sebagaimana dituturkan oleh istri beliau, Khadijah ra, “ Engkau sungguh gemar bersilaturahim, senang membantu, memuliakan tamu, menyantuni orang yang kekurangan, dan tampil membela siapa saja di dalam kebenaran”.

Hal tersebut di atas menjadikan beliau sebagai sosok yang dipercaya oleh semua orang karena masyarakat merasa dekat dan memperoleh perhatian yang baik dari Rasulullah saw.

Ikhwah fillah…

Ada beberapa kunci yang harus kita perhatikan dalam membangun interaksi di tengah masyarakat. Kunci pertama, hendaknya kita dapat memposisikan setiap orang sesuai dengan kedudukannya dan dengan bahasa yang digunakan oleh mereka, sebagaimana sabda Rasul saw, “Ajaklah manusia dengan bahasa kaumnya dan ajaklah manusia sesuai dengan kemampuan berpikir mereka.”

Kunci kedua, hendaknya kita dapat meyakinkan masyarakat bahwa kita adalah orang yang tak pernah ragu untuk berkorban manakala diperlukan. Berbuatlah, agar masyarakat merasakan bahwa keberadaan kita amat bermanfaat bagi mereka, sebagaimana ungkapan Imam Asy-syahid, "Kegemaran kami adalah bertadhhiyah untuk masyarakat. Dan kita telah ditakdirkan untuk memenuhi kepentingan masyarakat.”

 Kunci ketiga, hendaknya kita senantiasa berlapang dada terhadap kejahilan mereka seperti berlapang dadanya orang tua terhadap kesalahan anaknya. Sikap lapang dada ini harus kita tunjukkan dengan cara tidak mempersoalkan hal-hal yang tidak menyenangkan pada diri mereka, mudah memaafkan, serta gemar mendoakan. “Tidakkah engkau ingin Allah mengampuni setiap kesalahanmu”. ( An-Nuur: 22 ).

 kunci keempat, hendaknya kita menunjukkan sikap atau perilaku santun dan lembut (“liin”) karena kelembutan dan kehalusan adalah hiasan yang berlaku di manapun dan untuk siapa saja. Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada kelembutan pada sesuatu kecuali menjadi penghias, dan tak dicabut dari sesuatu kecuali menjadikannya buruk“.

 Keempat kunci interaksi tersebut Insya Allah menjadi “mafaatih “ atau kunci-kunci hati karena kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan melalui pintu hati mereka, sebagaimana dalam kaidah dakwah dinyatakan “Rebutlah hati mereka dahulu sebelum mengharapkan dukungan mereka“.

 Ikhwah fillah...

Ketika berinteraksi di tengah masyarakat, janganlah pernah kita menunjukkan sikap yang mentamyiz /membeda-bedakan( diskriminatif ) terhadap ikhwah dan bukan ikhwah atau aktifis dakwah  dan bukan aktifis dakwah , misalnya ketika bersalaman dengan sesama kader kita melakukannya dengan hangat bahkan sambil berpelukan, tetapi di tempat dan acara yang sama bersalaman dengan yang belum kader, kita melakukannya dengan biasa saja, bahkan terkesan agak dingin. Apakah cara ini bisa meraih simpati? Mungkin yang terjadi malah sebaliknya. Padahal kita mengetahui dari taujih Nabawi bahwa “Idkhalus surur Shadaqah“ memberikan suatu perlakuan yang mubah tapi menyenangkan orang lain adalah shadaqah.

Di dalam tahun pemenangan (‘Am Intikhabi) ini, tepat jika kita mengaplikasikan “Itsar” dengan cara mendahulukan atau mengutamakan jumhur (masyarakat) daripada ikhwan atau akhwat, misalnya dalam membagi fasilitas yang Allah berikan kepada kita, tidak lagi diputarkan di lingkungan terbatas(baca: ikhwah) tetapi dengan memberikan bagian kita kepada tetangga yang sedang kita bina.

 Mereka sebenarnya mempunyai hak lebih daripada sesama kader dakwah untuk dipedulikan. Untuk mereka, kita harus memberikan hak ukhuwah dan hak dakwah, sedang untuk kader, cukuplah hak ukhuwah karena mereka sudah berada di dalam barisan dakwah dan menjadi pewaris Rasulullah Saw sebagai dai. Hal ini mengingatkan kita kepada para sahabat Anshar yang mulanya kurang puas dengan porsi ghanimah yang mereka terima karena mereka tahu orang-orang yang masih baru bergabung dengan Islam (baca: yunior) mendapat bagian lebih banyak. Kemudian Rasulullah mengumpulkan mereka dan bersabda, "Apakah kalian tidak puas kita berikan bagian yang cukup banyak itu untuk menta-lif ( menyenangkan ) hati mereka dalam Islam sedangkan kalian telah mendapatkan Rasulullah di tengah-tengah kalian?” Mereka pun lalu menangis sambil mengatakan, “Kami ridha dengan Rasulullah bersama kami.” Dan Rasulullah pun mendoakan, "Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar dan anak cucu kaum Anshar.” Doa nabawi ini semakin membuat mereka larut dalam isak tangis keharuan.

 Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd..

http://perisaidakwah.com/content/view/74/1/

 
...Wahai Tentara Allah bertahanlah... Jangan menangis walau jasadmu terluka.. sebelum engkau bergelar syuhada.. Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah

Offline Yassin El Cordova

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.012
  • Lokasi: INDONESIA
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pohon Pun Tumbuh Tidak Tergesa-gesa
    • Lihat Profil
« Jawab #36 pada: 21 April 2008, 13:43:49 »
PEMBINAAN SEBELUM JIHAD


 
INILAH yang menjadikan para pembaharu pada hari ini menyerukan wajibnya    mendahulukan   pendidikan   daripada   peperangan, mendahulukan pembentukan pribadi  daripada  menduduki  pos-pos yang penting.
 
Yang  kami maksudkan dengan pendidikan dan pembentukan di sini ialah  membina  manusia  mu'min,  yang  dapat  mengemban  misi da'wah;  bertanggung  jawab  menyebarkan  risalah Islam; tidak kikir terhadap harta benda; tidak sayang kepada jiwanya  dalam melakukan  perjuangan  di jalan Allah. Pada saat yang sama dia merupakan contoh hidup yang dapat menerapkan nilai-nilai agama dalam  dirinya,  sekaligus  menarik orang lain untuk melakukan hal  yang  sama.  Dalam  dirinya  orang  melihat  Islam   yang benar-benar hidup.
 
Pembinaan   dan   pendidikan  manusia  seperti  itu  merupakan tuntutan  manusia  sepanjang  zaman,  khususnya  apabila  kita hendak  membuat  landasan bagi agama yang baru, atau umat baru yang mempunyai misi yang baru. Ketika  ada  suatu  agama  yang sedang  melemah, kemudian umatnya dihinggapi dengan kerapuhan, maka agama ini memerlukan  suasana  baru,  dan  umatnya  perlu dihidupkan.  Maka  tidak  ada  jalan  bagi  agama  itu kecuali melakukan pembaruan,  menghidupkan  dan  memperbaiki  umatnya. Yaitu mendidik generasi baru untuk mencapai tujuan yang hendak dicapainya.
 
Pembinaan  dan  pembentukan  manusia  seperti  itu,  merupakan gambaran  yang  paling  tepat bagi generasi mu'min yang hendak mengemban panji perbaikan dan kebangkitan. Usaha  seperti  itu harus  mendahului  perjuangan  bersenjata untuk mengubah suatu masyarakat dan mendirikan negara.
 
Oleh karena itu, tugas penting yang dilakukan  oleh  Al-Qur'an pada  masa  Makkah  --selama tiga belas tahun-- adalah membina manusia, mendidik generasi baru  dengan  pendidikan  keimanan, akhlak,  dan  akal  pikirannya  secara  sempurna. Teladan yang paling sempurna bagi generasi baru ini adalah Rasulullah saw.
 
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." (al-Ahzab: 21)
 
Tugas utama al-Qur'an pada  periode  Makkah  ialah  menanamkan aqidah,  Sifat-sifat  yang baik, akhlak yang mulia; menanamkan pandangan hidup yang  sehat,  pemikiran  yang  benar;  menolak keyakinan-keyakinan  Jahiliyah, sifat-sifat buruk yang merusak pemikiran manusia dan  perilakunya;  serta  menjalin  hubungan yang  kuat  antara  manusia  dan  tuhannya dengan jalinan yang tidak dapat dipisahkan.
 
"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat." (al-Muzzzammil: 1-5)
 
Pembinaan  yang  mendalam  pada   'sekolah'   malam,   sekolah al-Qur'an  adalah  untuk  mempersiapkan  penerimaan 'perkataan yang berat' yang ditunggu tunggu olehnya.  Ungkapan  berat  di sini tidak lain adalah berat dari segi tanggung jawabnya.
 
Kemudian  ayat-ayat  al-Qur'an  turun dengan cara seperti itu, menanamkan aqidah dan  konsep-konsep;  menanamkan  nilai-nilai dan   sifat-sifat   mulia;   menyucikan  akal  dan  hati  dari kotoran-kotoran Jahiliyah;  mendidiknya  di  atas  makna-makna iman. Pekerjaan yang menuntut kesabaran, keteguhan, ketegaran, pengorbanan dalam membela  kebenaran  dan  melawan  kebatilan, dalam  membersihkan  akal  pikiran  dari  penipuan  yang  buta terhadap para nenek moyang, pemimpin dan pembesar yang  sesat. Pendidikan  seperti  ini mesti dilakukan sebelum turunnya satu ayat yang  memerintahkan  peperangan  bersenjata,  pertumpahan darah terhadap orang-orang musyrik dan para penyembah Taghut.
 
Bahkan   para   sahabat  datang  kepada  Nabi  saw  mengadukan kepadanya bahwa di antara mereka ada yang dipukul, dan dilukai oleh  orang-orang  musyrik.  Para sahabat menuntut kepada Nabi saw untuk  mengangkat  senjata  sebagai  usaha  membela  diri, memerangi  musuh  mereka  dan  musuh agama mereka. Akan tetapi Nabi saw berkata kepada mereka,  sebagaimana  dikisakkan  oleh al-Qur'an:
 
"... Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembabyang..." (an-Nisa': 77)
 
Jawaban itu bukan berarti  melecehkan  perjuangan  bersenjata, yang  merupakan  puncak  pengabdian  dalam  Islam. Akan tetapi jawaban itu ada kaitannya dengan pelbagai pemberian prioritas; khususnya   prioritas   terhadap  pendidikan  dan  pembentukan pribadi Muslim.
 
Di antara pendidikan yang baik yaitu menyiapkan jiwa-jiwa yang sanggup  berperang  ketika tiba masanya untuk itu, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Muzzammil:
 
"...Dia mengetahui balnva akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah..." (al-Muzzammil: 20)
 
Perjuangan yang terakhir ialah perjuangan bersenjata, berjuang dengan  pedang  dan tombak. Sedangkan perjuangan dengan da'wah dan  memberikan  penjelasan  kepada  manusia,  dan  perjuangan dengan  al-Qur'an adalah perjuangan yang harus dilakukan sejak hari pertama. Dalam surat  al-Furqan  --yang  tergolong  surat Makkiyah-- Allah SWT berfirman kepada Rasulullah saw:
 
"Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur'an dengan jihad yang besar" (al-Furqan: 52)
 
Begitu pula berjihad  dalam  kesabaran  dan  keteguhan,  serta mempertahankan  diri  ketika menerima siksaan dari orang-orang kafir  ketika  berda'wah  di  jalan  Allah.   Begitulah   yang disebutkan pada awal surat al-Ankabut:
 
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dan azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dan semesta alam." (al-Ankabut: 2-6)
 
Pendidikan yang sedang kita bincangkan adalah  termasuk  jenis pendidikan ini, yakni berjihad di jalan Allah.
 
Imam   Ibn  al-Qayyim  menyebutkan  dalam  al-Hady  al-Nabawi, terdapat tiga belas tingkatan  jihad.  Empat  tingkatan  jihad yang berkaitan dengan jihad terhadap hawa nafsu, dua tingkatan jihad terhadap  setan,  tiga  tingkatan  jihad  kepada  pelaku kezaliman,   bid'ah,  dan  kemungkaran,  dan  empat  tingkatan lainnyajihad terhadap  orang-orang  kafir,  dan  jihad  dengan hati,  lidah,  dan  harta  benda. Jihad yang mesti ditempatkan pada urutan yang terakhir ialah jihad dengan jiwa  dan  tangan kita."
 
Dia  melanjutkan,  "Karena  jihad yang paling utama itu adalah mengatakan sesuatu yang benar di hadapan suasana  yang  sangat keras;  seperti  mengucapkan  kebenaran  di hadapan orang yang ditakutkan siksaannya,  maka  dalam  hal  ini  Rasulullah  saw menduduki tempat jihad yang tertinggi dan paling sempurna."
 
Karena  jihad terhadap musuh-musuh Allah merupakan bagian dari jihad seorang hamba terhadap hawa nafsunya dalam meniti  jalan Allah; sebagaimana dikatakan oleh Nabi saw,
 
"Orang yang sebenanya berjihad ialah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya dalam meniti ketaatan terhadap Allah. Dan orang yang sebenanya berhijrah ialah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang oleh-Nya." 1
 
Maka sesungguhnya jihad terhadap hawa nafsu harus  didahulukan daripada jihad terhadap musuh Islam. Karena sesungguhnya orang yang belum berjihad  melawan  hawa  nafsunya  terlebih  dahulu untuk   mengerjakan  apa  yang  diperintahkan  kepadanya,  dan meninggalkan apa yang dilarang baginya, serta memeranginya  di jalan  Allah,  maka  dia  tidak boleh melakukan jihad terhadap musuh yang ada di luar dirinya. Bagaimana  mungkin  dia  dapat melawan  musuh dari luar, pada saat yang sama musuh dari dalam dirinya masih menguasainya dan  tidak  dia  perangi  di  jalan Allah  SWT? Sehingga tidak mungkin ia keluar melawan musuhnya, sebelum dia memerangi musuh yang berada di dalam dirinya.
 
Dengan  adanya  dua  musuh  ini,  seorang  hamba  diuji  untuk melawannya. Dan di antara kedua musuh ini masih ada musuh yang ketiga, yang tidak mungkin baginya untuk memerangi kedua musuh itu  kecuali  dengan  melakukan  perang terlebih dahulu kepada musuh yang ketiga ini. Musuh  ini  berdiri  menghalangi  hamba Allah untuk melakukan peperangan terhadap kedua musuh itu. Dia selalu menggoda hamba  Allah  dan  menggambarkan  bahwa  kedua musuh  itu begitu berat baginya, karena dengan memerangi kedua musuh itu manusia akan meninggalkan perkara-perkara yang lezat dan  enak.  Sesungguhnya  manusia  tidak  akan dapat memerangi kedua musuh itu  kecuali  dia  telah  mengalahkan  musuh  yang ketiga.  Perang terhadap musuh yang ketiga ini merupakan dasar bagi peperangan terhadap musuh yang pertama dan  kedua.  Musuh yang ketiga itu adalah setan. Allah SWT berfirman:
 
"Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuhmu ..." (Fathir: 6).
 
Perintah  untuk  menjadikan  setan  sebagai  musuh   merupakan peringatan bahwa kita harus mempergunakan segala kekuatan kita untuk memeranginya. Seakan-akan dia adalah  musuh  yang  tidak ada  hentinya,  dan  tidak  ada  seorang  hambapun  yang boleh melalaikan perang terhadapnya.
 
Itulah tiga musuh yang  harus  diperangi  oleh  manusia.  Kaum Muslimin  telah  diuji untuk memerangi ketiga musuh itu karena ketiga-tiganya telah menguasai diri mereka sebagai ujian  dari Allah  SWT...  sebagian  orang  di  antara  mereka  diciptakan sebagai ujian atas sebagian yang lain, untuk menguji  siapakah yang  betul-betul  membela  Rasulullah  saw  dan siapakah yang termasuk dalam kelompok yang membela setan.
 
Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang  beriman  agar betul-betul  berjuang,  sebagaimana  mereka diperintahkan agar betul-betul  bertaqwa  kepada-Nya.  Taqwa  yang  benar   ialah mentaati  Allah  SWT  dan  tidak  bermaksiat kepada-Nya, ingat kepada-Nya dan tidak melupakan, bersyukur kepada-Nya dan tidak mengingkari-Nya.  Dan jihad yang benar ialah berjihad terhadap hawa nafsunya, untuk  menyerahkan  hati,  lidah,  dan  seluruh anggota  tubuhnya  kepada  Allah.  Semua  untuk Allah dan demi Allah, bukan untuk dirinya dan  demi  dirinya  sendiri.  Orang mu'min  yang  benar  ialah  orang  yang  memerangi  setan  dan mendustakan    janji-janji     yang     diberikan     olehnya, mengingkarinya, dan menentang larangannya. Sesungguhnya, setan memberikan janji  dan  harapan  yang  palsu,  menipu  manusia, menyuruh kepada perbuatan keji, dan melarangnya untuk bertaqwa kepada Allah  SWT,  melarangnya  menjaga  kesucian  diri,  dan melarang untuk beriman kepada-Nya. Oleh karena itu, perangilah setan,   dustakan   segala   janjinya,   dan   jangan   turuti perintahnya.  Sehingga  dengan  demikian  akan tumbuh kekuatan untuk melakukan peperangan terhadap musuh-musuh Allah SWT yang berada  di luar dirinya, dengan hati, lidah, tangan, dan harta kekayaannya, untuk menegakkan kalimat Allah yang Maha Tinggi.
 
Ibn al-Qayyim berkata, "Jika perkara itu telah dipahami,  maka sesungguhnya   jihad   itu  memiliki  empat  tingkatan:  Jihad terhadap hawa nafsu,  jihad  terhadap  setan,  jihad  terhadap orang-orang kafir, dan jihad terhadap orang-orang munafiq."
 
Sementara jihad terhadap diri sendiri, musuh yang ada di dalam diri manusia itu juga memiliki empat tingkatan:
 
Pertama, berjihad  terhadap  diri  sendiri  untuk  mengajarkan petunjuk  kepadanya,  petunjuk agama yang benar yang tidak ada kemenangan, kebahagian hidup di dunia dan di  akhirat  kecuali dengannya.  Kalau  manusia tidak mengetahui petunjuk tersebut, maka dia akan mengalami kesengsaraan hidup  di  dunia  dan  di akhirat
 
Kedua,   berjihad   terhadapnya  untuk  melaksanakan  petunjuk tersebut setelah diketahuinya. Jika  tidak,  maka  pengetahuan yang  dimilikinya  hanya  akan berwujud ilmu pengetahuan tanpa amal. Kalaupun ilmu itu tidak  membahayakannya,  tetapi  pasti tidak bermanfaat baginya.
 
Ketiga,  berjuang  terhadap  diri sendiri untuk mengajak orang lain kepada petunjuk  tersebut,  mengajari  orang  yang  belum mengetahuinya.  Jika  tidak, maka dia akan termasuk orang yang menyembunyikan petunjuk dan penjelasan  yang  diturunkan  oleh All   ah   SWT.  Ilmunya  tidak  bermanfaat,  dan  tidak  akan menyelamatkannya dari azab Allah SWT.
 
Keempat, berjuang  dengan  penuh  kesabaran  dalam  menghadapi berbagai  kesulitan  dalam mengajak orang lain kepada petunjuk Allah SWT. Dia bertahan terhadap berbagai kesulitan itu karena Allah SWT.
 
Apabila  empat  tingkatan jihad ini telah dapat dilalui dengan sempurna, maka dia akan menjadi manusia  rabbani.  Para  ulama salaf  sepakat bahwasanya orang yang memiliki ilmu pengetahuan tidak berhak untuk disebut sebagai manusia rabbani sampai  dia mengetahui   kebenaran,   mengamalkannya,  dan  mengajarkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu, orang yang  mempunyai  ilmu pengetahuan,  mengamalkannya,  dan mengajarkannya kepada orang lain dapat  disebut  sebagai  orang  yang  mulia  di  kerajaan langit.
 
Adapun berjuang melawan setan itu ada dua tingkatan.
 
Pertama, berjihad untuk menolak berbagai  bentuk  syubhat  dan keraguan  yang  mengotori  iman agar tidak sampai kepada hamba Allah SWT.
 
Kedua, berjihad untuk menolak berbagai kehendak  yang  merusak dan  nafsu syahwat agar tidak sampai kepada mereka. Jihad yang pertama harus dilakukan dengan keyakinan, dan jihad yang kedua harus dilawan dengan kesabaran. Allah SWT berfirman:
 
"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (as-Sajdah: 24)
 
Sedangkan berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq  juga ada  empat  tingkatan: dengan hati, dengan lidah, dengan harta benda, dan dengan jiwa. Jihad melawan  orang-orang  kafir  itu khusus   dilakukan  dengan  tangan,  sedangkan  jihad  melawan orang-orang munafiq dilakukan dengan lidah.
 
Adapun  jihad   terhadap   pelaku   kezaliman,   bid'ah,   dan kemungkaran  ada  tiga  tingkatan: Dengan tangan apabila mampu melakukannya. Jika tidak, maka berjihad dengan lidah. Dan bila tingkatan  yang  kedua  ini juga tidak mampu dia lakukan, maka harus berjuang dengan hati. Itulah tiga belas tingkatan  dalam melakukan jihad.2 Dalam sebuah hadits disebutkan:
 
"Barangsiapa meninggal dunia tidak pernah berjihad, dan tidak pernah berniat untuk berjihad, maka dia akan meninggal dunia di atas kemunafiqan." 3
 
Tidak diragukan lagi bahwa enam  tingkat  yang  pertama  dalam jihad  di atas termasuk ke dalam kategori pendidikan yang kita maksudkan dalam pembahasan ini. Tingkatan yang  pertama  ialah berjihad melawan diri sendiri dan berjuang melawan setan.
 
Catatan kaki:
 
1 Diriwayatkan oleh Ahmad, 6: 21, dari Fudhalah bin 'Ubaid dengan lafal, "Orang yang berhijrah ialah orang yang berhijrah dari kesalahan dan dosa-dosa." yang di-shahih-kan oleh Ibn Hibban (al-Ihsan. 4862); al-Hakim, 1: 11; yang di-shahih-kan olehnya sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh Bukhari dan Muslim. yang juga disepakati oleh adz-Dzahabi. ^
2 Lihatlah Zad al-Ma'ad, 3:5-11, cet. Mu'assasah ar-Risalah, yang ditahqiq oleh Syu'aib al-Arnauth.  ^
3 Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Imarah (1910) dari Abu Hurairah r.a. 

dikutip dari bukunya Dr Yusuf Al Qaradhawi " Fiqh Prioritas "
 

dI dALAM rELUNG hATIMU aKAN TETAP tERJAGA Rahsia Cinta tatkala dikuakan segala Cinta

(Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah )

Offline viraisti

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 4.573
  • Jenis kelamin: Wanita
  • :: ternyata kini aku Pejuang :D ::
    • Lihat Profil
« Jawab #37 pada: 21 April 2008, 13:57:12 »
Wah, subhanallah..

Jika memang takdir..
cinta pasti bertemu meski kau dan aku ada diujung dunia ^^

Offline Yassin El Cordova

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.012
  • Lokasi: INDONESIA
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pohon Pun Tumbuh Tidak Tergesa-gesa
    • Lihat Profil
« Jawab #38 pada: 21 April 2008, 19:34:12 »
Akhir Dari Perjalanan Pergerakan

fARID Nu'man

Mukadimah


Setiap umat ada ajalnya. Al Quran yang mulia telah menceritakan umat-umat terdahulu yang dibinasakan Allah Azza wa Jalla , lantaran sikap mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, melakukan penyimpangan, menghalalkan segala cara, dan perlawanan terhadap da’wah para  Rasul yang mulia. Jika ada yang mengatakan, tidak sepantasnya kaum para pembangkang dianalogikan dengan kaum pergerakan Islam. Jawabannya adalah sunatullah kehidupan berlaku bagi siapa saja. Sunatullah tidak pernah memilih kepada siapa dirinya diberlakukan. Ia akan terjadi jika syarat-syaratnya terpenuhi. Ia akan terjadi dan akan lebih cepat terjadi, jika manusia itu sendiri yang mengoleksi dan mengumpulkan segala sebab-sebabnya. Tak ada jaminan dari siapa pun, bahwa sebuah pergerakan Islam akan abadi.

(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang ya paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: ("Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), da Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu. (QS.AsySyams:11-15)

Kesalahan, pembangkangan, penyimpangan, dan sikap mendustakan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla, bukan hanya monopoli kaum Tsamud, atau ’Ad, atau kaum yang telah  Allah binasakan lainnya. Selaku manusia, para aktifis Islam yang sejatinya erat dengan nilai Islam, pemikiran Islam, dan solusi Islami, justru di tangan merekalah da’wah itu roboh. Karena mereka melakukan penyimpangan yang pernah dilakukan oleh umat-umat yang dibinasakan, yang beda hanya penamaan dan pembahasa-an, adapun bentuk, dampak, dan tujuannya sama. ( Mukhtalifah al Asma wal lughah Muttahidah al Asykal wal Aghrad ) 

Beberapa Contoh  Dalam scoup individu, contoh pribadi-pribad yang telah berakhir di jalan da’wah telah banyak. Mulai dari tokoh besar, hingga kawan kita sendiri. Mulai zaman dulu sampai saat ini, bahkan akan datang. Washil bin ’Atha dan Amr bin ’Ubaid, dahulu mereka adalah Ahlus Sunnah, namun lenyap dari barisan Ahlus Sunnah lantaran penyimpangan  pemikirannya.

Abad ini, ada Jamal Abdul Nashir yang lenyap dari jalan da’wah, lantaran syahwat kekuasaannya. Bahkan ia berbalik memusuhi da’wah dengan serangan yang melebihi perbuatan orang kafir. Masih banyak contoh lainnnya. Mereka telah ”berakhir” sebelum ajal biologisnya tiba. 

Dalam scoup komunitas, kita memiliki contoh yang tidak jauh dari perjalanan sejarah bangsa ini, Masyumi. Berakhirnya kisah Masyumi, bukan hanya karena dibubarkan oleh Soekarno. Tetapi, ada sebab rasional lainnya yang menunjukkan bahw sunatullah tetap berlaku bagi siapa saja, walau ia gerakan da’wah. 

Masyumi telah melupakan nukbawiyah (pengkaderan) dengan arti sesungguhnya. Kader yang mampu melanjutkan perjuangan pendahulu dan ideolognya. Walau orang-orangnya ada, namun ia telah hampa. Bahkan ketika Masyumi dibubarkan, tokoh besarnya yakni Muhammad Natsir Allahu Yarham masih hidup hingga beberapa dekade pasca pembubaran Masyumi. Selain itu Masyumi juga gagal dalam meredam konflik internal, antara kaum tradisionalis dan modernis. Hingga akhirnya Nahdhatul Ulama memutuskan keluar dari  Masyumi, yang diakui cukup melemahkan langkah perjuangan mereka. 

Saat ini, kebesaran Masyumi mirip kegagahan Dinosaurus yang punah, yang kerap kita kisahkan ke anak-anak kita. Mereka penasaran dengan Dinosaurus, ingin melihat dekat, tetapi yang ada hanya fosilnya saja, itu pun tidak utuh, atau di museum. Ada pula kelompok umat Islam yang ingin mengembalikan romantisme kejayaan Masyumi, tapi mereka sudah gagal sebelum berjalan. Masing-masing kelompok mengaku pewaris sah Masyumi. Akhirnya, kita benar-benar melihat bahwa Masyumi telah menjadi fi’il madhi yang tidak mungkin menjadi fi’il mudhari.

Inilah Sebab-Sebab Itu Ada beberapa sebab dari sekian banyak sebab berakhirnya perjalanan da’wah sebuah pergerakan Islam. Sebab-sebab ini, jika memang ada pada komunitas da’wah, maka sudah  sepantasnya dicari solusi yang tepat, jitu, dan cepat, bahkan harus lebih cepat dari menjalarnya sebab-sebab tersebut.   

Kadang harus tegas, kalau memang itu diperlukan, ini jika memang kita lebih memilih kelanggengan jamaah dibanding berbasa-basi dengan masalah dan problem maker -nya. Kita tidak meragukan keshalihan dan kealimannya, tetapi jamaah punya fatsun (tata krama) aturan main yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun.

Dihadapan itu, semua anggota jamaah dan pimpinannya adalah sama, tak ada orang kuat, anak emas, atau putra mahkota. Sebab, Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam sendiri yang akan memotong tangan Fathimah, jika puterinya itu mencuri. 

Dahulu, Ustadz Hasan al Hudaibi Rahimahullah mengusulkan kepada Hai’ahTa’sisiyah untuk memecat lima anggotanya dan mengeluarkan keputusan tersebut. Lalu, Syaikh Hasan al Hudaibi berkata:  Sesungguhnya mereka dipecat bukan karena cacatnya pemahaman agama mereka. Bisa jadi mereka lebih baik dari kita. Tetapi jamaah punya aturan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan. Mereka menentang keputusan ini, tetapi barisan akhirnya kembali stabil. 

Syaikh Ahmad Hasan al Baquri menerima jabatan menteri dari Jamal Abdul Nashir tanpa izin Ustadz Al Hudaibi, lalu Ustadz Al Hudaibi bertanya :

Mursyid             : Apa tindakan Anda?

Al Baquri           : Saya mengundurkan diri dari Maktab al Irsyad.

Mursyid             : Lalu apa lagi?

Al Baquri           : Saya mengundurkan diri dari Hai’ah Ta’sisiyah .

Mursyid             : Lalu apa lagi?

Al Baquri           : Saya mengundurkan diri dari Ikhwanul Muslimin.

Mursyid             : itulah solusinya. 

Kemudian Ustadz Hasan al Hudaibi mengunjunginya dikementrian waqaf dan mengucapkan selamat kepadanya.   

Benarlah Abu Tamam ketika dia berkata: Pedang lebih pandai membawa berita daripada buku-buku Ketajamannya membedakan kesungguhan dan main-main

1.    Timbulnya Perselisihan dan Perpecahan Pada Jajaran Pimpinan 

Inilah sebab pertama dan paling membahayakan. Potensi berselisih dan bahaya laten berpecah pasti ada pada  setiap perkumpulan manusia. Sebab, mereka adalah kumpulan dari berbagai suku, latar belakang hidup, budaya, pemikiran, keinginan, bahkan motivasi, ditambah lagi emosi dan hawa nafsu. Tak ada satu pun yang selamat dari bahaya laten ini, dan sejarah umat ini telah berkali-kali melewatinya, begitu pula dalam perjalanan dan pasang surut gerakan Islam. Padahal mereka tahu, persaudaraan adalah saudara bagi keimanan, dan perpecahan adalah saudara bagi kekufuran.

Bahaya lebih besar, jika yang mengalami perpecahan adalah jajaran pimpinannya. Pasca wafatnya H.O.S Cokro Aminoto, SDI (Syarikat Dagang Islam) yang pada masa beliau dua kali ganti nama menjadi SI (Syarikat Islam) dan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia ) tak ada lagi tokoh bisa menyatukan PSII. Tak ada yang mampu meredam konflik,  tak ada yang se-berwibawa H.O.S Cokro Aminoto, karena tak ada kaderisasi. Akhirnya, terpecahlah menjadi SI putih dan SI merah, yang belakangan menjadi bibit lahirnya PKI (Partai Komunis Indonesia ).

Sungguh, tidak sama dahsyatnya goncangan perpecahan tingkat elit, dibanding perpecahan tingkat akar umput. Maka, hendaknya kita menghilangkan rasa dengki, dendam, iri, hasad, cari muka dan menjilat, dan sifat buruk lainnya yang biasa menjadi penyakit yang menyerang sebagian pimpinan organisasi apapun.

Imam Hasan al Banna Rahimahullah berkata: Ukhuwah adalah saudara keimanan, dan perpecahan adalah saudara kekufuran; kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan, tak ada persatuan tanpa rasa cinta, dan sekecil-kecilnya cinta adalah lapang dada, dan yang paling tinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudara).

Barangsiapa Yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya. (QS. Al Hasyr: 9)

Al Akh yang benar akan melihat saudara-saudaranya yang lain lebih utama dari dirinya sendiri, karena ia jika tidak bersama mereka, tidak akan dapat bersama yang lain. Sementara mereka jika tidak bersama dirinya, akan bisa bersama orang lain. Dan sesungguhnya Srigala hanya akan memangsa kambing yang sendirian. Seorang muslim dengan muslim lainnya laksana satu bangunan, saling menguatkan satu sama lain. Dan orang-orang beriman baik laki-laki dan perempuan, satu sama lain saling tolong menolong diantara mereka . Begitulah seharus kita.( Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah   ar Rasail , hal. 313. Al Maktabah At Taufiqiyah )

Bagaimana mungkin pemimpin mendapatkan rasa cinta dan ketaatan dari prajuritnya, jika sesama mereka sendiri tidak saling mencintai dan melanggar aturan jamaah. Ketiadaan rasa cinta dan taat dari jundiyah terhadap qiyadahnya, merupakan min asyratis sa’ah (di antara tanda-tanda kebinasaan) bagi gerakan tersebut  Seharusnya kita mengingat: Aku mencintaimu, jangan kau tanya mengapa Aku mencintaimu, itu adalah iman dan agama.   

« Edit Terakhir: 21 April 2008, 19:39:12 oleh Yassin El Cordova »
dI dALAM rELUNG hATIMU aKAN TETAP tERJAGA Rahsia Cinta tatkala dikuakan segala Cinta

(Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah )

Offline Yassin El Cordova

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.012
  • Lokasi: INDONESIA
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pohon Pun Tumbuh Tidak Tergesa-gesa
    • Lihat Profil
« Jawab #39 pada: 21 April 2008, 19:41:04 »
And The next ............................. ....

2.    Gerakan Pengacau Jamaah

Ini penyebab selanjutnya yang tidak  kalah bahayanya. Gerakan ini bisa saja terlahir dari permasalahan kecil, yakni tidak terakomodasinya sebuah ide, pendapat, atau pemikiran. Sayangnya Sang shahibul fikrah , tidak menerima kenyataan itu dan dia pun fanatik dengan pendapatnya. Dia merasa diremehkan dan tidak dihargai, lalu dia telan  sendiri perasaan itu, tanpa melakukan komunikasi dengan ikhwah lain. Di tambah lagi, adanya kran komunikasi yang mampet diatasnya, Sehingga ia tidak memiliki saluran, maka meledaklah menjadi sebuah kekesalan dan pembangkangan, baik terselubung atau terang-terangan. Kemungkinan paling buruk adalah ia keluar dari jamaah dan menciptakan komunitas sendiri yang menjadi rival. Contoh seperti ini tidak sedikit. 

Ketahuilah dan sadarilah, gerakan pengacau tidak selalu dalam bentuk oposan, bisa jadi justru wal ’iyadzubillah - mereka berada di dalam lingkaran jajaran para pimpinan dan pemegang ke bijakan. Ini lebih bahaya, sebab biasanya akan menjadi  untouchable man dan kuat pengaruhnya terhadap arah angin kebijakan. Ada di antara mereka yang menggunakan kepintarannya untuk memanfatkan keluguan kawan-kawannya dan atasannya sendiri. Ditambah lagi, mereka benar-benar menikmati doktrin ”tha’ah wa tsiqah bil qiyadah”  dari para kadernya, sementara al fahmu, al ikhlas, al amal, al jihad, al tadh-hiyah yang seharusnya didahulukan, tidak mendapatkan porsi yang adil. Sungguh tsiqah bil qiyadah  adalah wajib, namun dengan ilmu, sebab Allah Ta’ala berfirman: 

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra : 36)   

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah. (QS Muhammad: 19) 

Allah Ta’ala memerintahkan faham terlebih dahulu, fa’lam (maka ketahuilah), sebelum Dia memerintahkan keimanan kepadaNya, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah selain Allah.  Inilah yang menyebabkan Imamuna, Syahidul Islam Hasan al Banna Rahimahullah menjadikan al fahmu (pemahaman) sebagai rukun pertama dari arkanul bai’ah . Namun anehnya banyak di antara kita yang mendengarkan dengan setia, mengikuti mereka (pengacau jamaah), bahkan terkagum-kagum dengan permainan kata mereka. Lalu menganggap mereka di atas kita dalam hal al fahmu Sungguh, kita seperti seorang anak SD yang memandang mahasiswa setinggi langit, padahal seorang Profesor akan memandang mahasiswa sebagai anak SD.   

Kelompok ini mirip dengan apa yang Allah Ta’ala firmankan tentang gerakan pengacau dalam Perang Tabuk: ”Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS. At Taubah: 47) 

Mereka hakikatnya pengacau dan perusak barisan jamaah, tetapi di antara kita ada yang menjadi pendengar setia mereka, menjadi muqallidin dan muta’ashibin . Karena mereka ”pengacau” ini- adalah  saudara, kawan, dan guru kita sendiri  Allahul Musta’an   Allah Ta’ala memberikan peringatan: ”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.” (QS. An Nur: 11) 

Dan janganlah Engkau mematuhi orang Yang Kami ketahui hatinya lalai daripada mengingati dan mematuhi pengajaran Kami di Dalam Al-Quran, serta ia menurut hawa nafsunya, dan tingkah-lakunya pula adalah melampaui kebenaran.(QS. Al Kahfi: 28) 

Semoga Allah Ta’ala melindungi da’wah ini dari tiga golongan manusia, pertama, ifrath –nya kaum oposan internal (kader) yang mengkritik karena kebencian (skeptis) dan apriori, di dalam mengkritik, di luar membongkar aib jamaah. Persis pengamat sepak bola. Kedua, semoga Allah juga melindungi da’wah ini dari tipu daya para oportunis dan petualang politik yang tidak manhaji.. ketiga, semoga Allah Ta’ala juga menjaganya dari orang-orang yang diam dan apatis. 

Berkata Ali ad Daqaq, Sakit anil haq, syaithanul akhras (Diam saja tidak menyampaikan kebenaran, adalah setan bisu Sungguh jundiyah muthi’ah ( prajurit yang taat) hanya akan lahir di tangan qiy adah muhklishah (pemim pin yang ikhlas). 

3.    Ambisi Pribadi Atau Kelompok Terselubung dan Kuat

Komitmen da’wahnya bukan karena Allah Ta’ala tetapi ar ri’asah wa syuhrah (Kedudukan dan ketenaran). Ia semangat da’wah karena itu. Manusia bisa saja, dikelabuhinya, kita tertipu dari segala sepak terjangnya selama ini.Tetapi Allah Ta’ala tidak pernah tertipu, cepat atau lambat ambisinya ini akan terbongkar di hadapan manusia, seiring dengan perilakunya yang semakin menjadi-jadi.  ”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS. Al Kahfi: 110) 

Ada pula yang memiliki ambisi secara vulgar, ia lebih gentle , masih bisa di antisipasi dan di ’ilaj . Tetapi yang terselubung, mereka lebih sulit diraba sebab kita tidak tahu isi dada manusia. Da’wah ini tidak butuh manusia yang ambisinya dunia, baik terselubung atau terang-terangan. 

Dari Abu Musa al Asy’ari  Radhiallahu ’Anhu , dia berkata: Aku bersama anak pamanku mendatangi Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam . Salah seorang berkata: ”Wahai Rasulullah, angkatlah aku sebagai pemimpin atas sebagian tanggung jawab yang telah Allah berikan kepada Anda, dan yang lain juga minta demikian. Lalu Rasulullah bersabda: Demi Allah seseunguhnya kami tidak akan menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya.(HR. Bukhari dan Muslim)  I

mam Hasan al Banna berkata, Begitulah yang pernah terjadi ketika sekelompok orang enggan berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam , kecuali jika mereka nanti mendapatkan kekuasaan dari beliau jika kelak Islam menang. Pada waktu itu Rasulullah hanya menyatakan bahwa bumi ini adalah milik Allah yang diwariskan kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hambaNya. Sesungguhnya kemenangan akhir selalu menjadi milik orang-orang bertaqwa. ( Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah ar Rasail , hal. 13. Risalah Da’watuna. Al Maktabah at Taufiqiyah ) 

Ya,selalu ada manusia di setiap masa, yang bergabung dengan barisan da’wah dengan tujuan dunia, karena ghanimah, popularitas, dan lainnya, tetapi jika tidak ada tawaran dunia, mereka akan mengundurkan diri dengan berbagai alasan yang dibuat-buat bahkan sampai bersumpah-sumpah. Mirip dengan yang Allah Ta’ala gambarkan dalam Al Quran : ”Kalau apa yang engkau serukan kepada mereka (Wahai Muhammad) sesuatu yang berfaedah yang mudah didapati, dan satu perjalanan yang sederhana (tidak begitu jauh), niscaya mereka (yang munafik itu) akan mengikutmu; tetapi tempat yang hendak dituju itu jauh dan berat bagi mereka. dan mereka akan bersumpah Dengan nama Allah Dengan berkata: "Kalau Kami sanggup, tentulah Kami akan perg bersama kamu". (dengan sumpah dusta itu) mereka membinasakan diri mereka sendiri, sedang Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (tentang tidak sanggupnya mengikutmu).” (QS. At Taubah: 42) 

dI dALAM rELUNG hATIMU aKAN TETAP tERJAGA Rahsia Cinta tatkala dikuakan segala Cinta

(Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah )

Offline Yassin El Cordova

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2006
  • Tulisan: 3.012
  • Lokasi: INDONESIA
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pohon Pun Tumbuh Tidak Tergesa-gesa
    • Lihat Profil
« Jawab #40 pada: 21 April 2008, 19:44:06 »
4.    Hilangnya Budaya Munashahah (Saling Menasihati)

Orang yang matang kepribadiannya tidak bergembira karena pujian Dan tidak goncang karena nasihat-nasihat. Nasihat adalah obat, umumnya obat adalah pahit. Tak ada manusia yang menyukainya, namun ia berfungsi menyembuhkan penyakit, jika tepat sasaran dan takarannya. Pujian adalah manis bagaikan sirup. Manusia sangat menyukai yang manis-manis, tetapi beragam penyakit dikemudian hari tengah menanti: sariawan, kencing manis, dan lain-lain, jika berlebihan mengkonsumsinya. Maka, jadilah pertengahan. Pilihlah yang pertengahan, pilihlah yang pertengahan, kalian akan berhasil dalam menyampaikan.(HR. Bukhari no. 6316) 

Nasihat yang baik yang dilakukan dengan cara baik, akan mampu menyadarkan yang bingung, mengingatkan yang lupa, dan membangunkan yang tertidur. Tetapi, terlalu banyak nasihat, ia akan menyangka dirinya ”tertuduh”, sesak nafas, dan sempit hati. Walau ia menyadari bahwa nasihat ada karena perilakunya sendiri. (celakanya, jika ada yang tidak merasa bersalah). Akhirnya, ia melakukan pembelaan dan serangan balik, bahkan sangat sengit. Baginya nasihat adalah serangan, hinaan, dan pembunuhan karakter. Apalagi, ia manusia bertipe banyak bicara. Oleh karena itu, perlu kiranya nasihat diberikan sesuai kebutuhan, kadar, dan cara yang bijak dan hujjah yang mendalam. Selain juga memperhatikan posisinya dalam sebuah komunitas. Jika ini tidak diperhatikan, maka ia menjadi bukan apa-apa.   

Tidaklah engkau perhatikan pedang akan turun derajatnya Jika dikatakan ia berasal dari kayu  Pujian yang pas, yang layak kepada penerimanya, akan mampu memotivasi untuk beramal, memompa semangat untuk bekerja, dan itu merupakan balasan kebaikan yang Allah Ta’ala segerakan untuknya didunia. Tetapi kebanyakan pujian, akan membuatnya terlena, terpedaya, dan sombong, seakan tak ada cela dalam dirinya, sebab hanya pujian dan sanjungan yang selalu ia dapatkan. Selain itu, ia menjadi pribadi yang tidak siap dikritik (nasihat), dan tidak sensitif terhadap kesalahan yang dibuatnya.

Bukan karena ia tidak punya salah, melainkan tak ada manusia berani ”menyentuh” wilayah kesalahannya, di tambah lagi ia adalah tokoh dan punya banyak pendukung fanatiknya.  Rasulullah pernah mendengar seseorang memuji langsung di depan orang yang dipuji tersebut. Maka beliau bersabda, ”Celakalah engkau, karena engkau sama dengan menebas pundak sahabatmu. (HR. Bukhari no. 2610, 5922. Muslim no. 7450, 7451) 

Wal hasil, manusia membutuhkan nasihat dan pujian. Keduanya mampu mematangkan dan mendewasakan perilaku. Manusia tidak selamanya sehat, sehingga ia butuh obat. Manusia juga tidak selamanya sakit, sehingga ia layak menikmati yang enak-enak. Maka, jika datang  nasihat untuk kita, pandanglah itu sebagai obat, walaupun pahit, mungkin dia mengetahui penyakit dalam diri kita, yang kita tidak ketahui. Jangan tergesa-gesa kita menganggapnya musuh, atau anggapan dia sudah berubah, tidak lagi bersama jamaah, belum paham kejamaahan, tidak tsiqah dan taat dengan qiyadah, dan istilah lainnya yang menunjukkan ketidakmampuan kita sendiri dalam menunjukkan kebenaran. Memang, ini agak sulit untuk menerimanya, apalagi bagi kita yang terbiasa mendapat pujian. Jika datang pujian, maka katakanlah hadza min fadhlli rabbi (ini adalah karunia dari Tuhanku), lalu berdoalah, Allahummaj ’alni khairan mimma ya’lamun, wa ’afini mimma la ya’lamun. (Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa-apa yang mereka ketahui, dan maafkanlah aku dari apa-apa yang mereka tidak ketahui tentang diriku).   

Kau mengharapkan pendidik yang tidak memiliki cela sedikit pun Padahal tidak ada bakhur (bakaran) yang semerbak wanginya, melainkan ia juga berasap Kita tidak pungkiri, bahwa manusia umumnya tidak menyukai nasihat, namun menyukai sanjungan. Barang kali itu sudah dari ”sononya” Namun, yang pasti, bagi yang berpikir positif, nasihat dari siapapun kepada kita adalah baik. Jangan mengira ”musuh” bagi orang yang menasihati kita. Justru saudara yang baik adalah yang mau meluruskan kita, manakala salah.

Bisa jadi, musuh tersembunyi kita adalah orang yang menjerumuskan kita dengan segala macam pujiannya, sehingga membuat kita lupa. Sampai-sampai, kesalahan kita yang fatal pun, tetap dipujinya, minimal dia mendiamkannya.  Janganlah kita seperti pepatah Arab jahiliyah, ” Bela-lah saudaramu, yang benar atau yang salah.”  Lalu, oleh  Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam dirubah menjadi ”Tolonglah saudaramu, baik yang menzalimi atau yang dizalimi.  Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz Dzariyat (51): 55) 

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu  bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,(QS.AlGhasyiah(88):21-22)

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad Dary Radhiallahu ’Anhu , bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda: ’Agama adalah nasihat’, Kami berkata:Untuk Siapa ya Rasulullah? Beliau bersabda: ”Untuk Allah, untuk KitabNya, untuk RasulNya, untuk para imam kaum muslimin, dan orang-orang umum dari  mereka.” (HR. Muslim. Lihat Imam an Nawawi, Riyadhus Shalihin , Bab Fi An Nashihah , hal. 72, hadits no. 181. Maktabatul Iman, Manshurah,Tanpa tahun.   lihat Juga Arbain   an Nawawiyah , hadits no. 7, Lihat juga Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Bulughul Maram, Bab At targhib fi Makarimil Akhlaq , hal. 287, hadits. No. 1339. Darul Kutub al Islamiyah.1425H/2004M) 

Semoga Allah Ta’ala merahmati Sayyidina Umar Radhiallahu ‘Anhu ketika ia berkata, Semoga Allah merahmati orang yang mau menunjuki aibku kepadaku.Imam Abu Hanifah pernah menegur seorang anak kecil yang sedang bermain-main di jalan yang tergenang air, “Wahai ghulam, hati-hati terjatuh, nanti pakaianmu kotor, Anak kecil itu balas menegur Imam Abu Hanifah, Wahai Imam, Anda juga hati-hati, jangan sampai terjatuh. Sebab jatuhnya seorang ulama, maka jatuhlah langit dunia. Mendengar itu Imam Abu Hanifah jatuh pingsan. 

Budaya saling menasihati ( munashahah ) pada masa sahabat dan para Imam, begitu hidup. Satu sama lain bisa saling menjaga jika ada yang lalai, dan saling mengingatkan jika ada yang lupa. Sehingga kehidupan berjamaah mereka sangat dinamis dan hidup. Tak ada satu pun yang tidak butuh nasihat. Bagi mereka, munashahah  merupakan sarana kontrol yang efektif setelah muraqabatullah. Namun ketika budaya ini telah hilang, nasihat dianggap ancaman, tidak tsiqah, tidak taat, dan bentuk kecurigaan lainnya, maka hilanglah rahmat pada komunitas tersebut.

Budaya munashahah menjadi hilang lantaran dua jenis manusia, yakni manusia keras kepala yang selalu merasa benar, dan manusia apatis yang tidak peduli terhadap saudaranya (sikap elu-elu, gue-gue). Jenis manusia pertama ibarat cermin yang ditimpa air, tak ada bekas sama sekali nasihat yang ia peroleh. Bahkan, ia telah memiliki jawaban jika ada orang yang hendak menasihatinya. Baginya nasihat adalah ancaman dan celaan. Sedangkan jenis manusia kedua, ibarat patung yang sama sekali tidak  merasa terganggu dengan keadaan dan kerusakan sekitarnya, betapa pun besarbahaya yang mengancam dirinya. Ia tetap diam! Nah, ketika nasihat tidak hidup, maka kezaliman, penyelewengan, pelanggaran, maksiat, akan bebas bergerak dan terus melaju tanpa ada yang membendungnya. Halal haram tidak dipedulikan. Bahkan bisa menjadi budaya baru yang kelak dianggap benar, karena tak ada satu pun yang berani menyentuhnya, apalagi menegurnya. Ketika ini sudah terjadi dalam sebuah pergerakan Islam, gerakan apa pun, maka hakikatnya ia telah mati, ia telah mati sebelum ajal biologisnya tiba.

Sebab, akal sebagai sarana berfikir dan nurani sebagai sumber al furqan tidak lagi mereka miliki, atau minimal -tidak digunakan. Akhirnya, komunitas tersebut tetap ada nama dan anggotanya, tetapi tidak ada pengaruh baiknya, tidak ada dampak keshalihan bagi pengikutnya “apalagi masyarakatnya?. Sebab, ia memiliki masalah besar lantaran perilakunya sendiri, kekalutan internal yang tidak mampu diredam. Hingga, perlahan namun pasti, masyarakat mencibir dan melupakan eksistensi  mereka. Lalu menghapus mereka dari ingatan dan perjalanan sejarah kehidupan bangsa  mereka mungkin masih ada, tetapi dalam buku kisah kaum-kaum terdahulu yang telah Allah Ta’ala lenyapkan, semoga menjadi renungan bersama. 

Ya Allah Ya Rabb lindungilah kami sebagaimana Engkau telah lindungi para pejuang sebelum ini jadikanlah perkumpulan ini perkumpulan yang Kau rahmati dan Kau berkahi Tiada Daya dan Kekuatan melainkan dariMu, cukuplah Kau tempat kami bertawakkal dan meminta pertolongan dari segala ancaman yang nampak atau tersembunyi, Engkaulah sebaik-baiknya pemimpin dan penolong, dan tempat mengadu, ketika tidak tersisa lagi tempat mengadu ..Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah dan para sahabatnya, wa akhiru da’wana ’anil hamdulillahi rabbil ’alamin. 

http://perisaidakwah.com/content/view/81/1/

Ketika Gue Merindui Ruh Da'wah menyembuhkan Kerinduanku ............

dI dALAM rELUNG hATIMU aKAN TETAP tERJAGA Rahsia Cinta tatkala dikuakan segala Cinta

(Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah )