Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Rabu, 23 Mei 2012/2 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:56 - Shubuh 4:33:20 - Terbit 5:55:23 - Dzuhur 11:49:41 - Ashar 15:11:42 - Maghrib 17:44:02 - Isya' 18:57:35 WIB

Penulis Topik: Ringkasan buku Sutra Ungu (WARNING HANYA UNTUK 21+)  (Dibaca 15611 kali)


Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« pada: 09 November 2007, 13:50:22 »
Insya Allah kedepannya ana akan membuat ringkasan buku fenomenal karya Ustadz Abu Umar Ba'asyir hafizhahulloh. Yang berjudul SUTRA UNGU Panduan Berhubungan Intim dalam Prespektif Islam

Pembahasan:

1. Muqaddimah
2. Jangan Letakkan Pisau Sembarangan!
3. Sex, Begitu Pentingkah?
4. Fiqih Tentang Sex (Sex Education)
5. Kesalahpahaman tentang Sex
6. Seberapa perlukah mempelajari Sex
7. Pendidikan Sex di dalam Islam
8. Malu berbicara Sex
9. Manfaat bersetubuh
10. Tentang Organsme
11. Tentang Pemanasan
12. Posisi dan Variasi
13. Hubungan Sex yang menyimpang
14. Ejakulasi Dini
15. Manajemen Impotensi
16. Oral Sex
17. Video Penggugah Gairah
18. Dinginnya sebuah Frigiditas
19. Stamina Payah
20. Rahasia Makanan Penggugah Gairah
21. Tips Menjaga Kebugaran
22. Berapa kali seminggu?
23. Hukum 'Azl
24. Antusiasme itu perlu
25. Kapankah Wajib Mandi?
26. Sentuhan Malam Pertama
27. Catatan di Malam Pertama

Moga-moga aja Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk menuliskan semuanya secara ringkas. Dan semoga bermanfaat untuk antum semuanya.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #1 pada: 09 November 2007, 14:00:13 »
MUQADDIMAH

Banyak sekali buku-buku tentang berhubungan intim. Bahkan kebanyakan tidak dikemas dalam bentuk Islam padahal banyak sekali buku-buku itu dalam bahasa Indonesia. Banyak ulama yang sudah mengkaji persoalan ini secara khusus, sebut saja Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah, Ibnul Jauzi, dan Syaikh Bakar Abu Zaid. Bahasan tentang persoalan ini juga berserak dalam banyak kitab fiqih dan syarah hadits, dibicarakan dan dikaji oleh para ulama sejak zaman dulu.

Demikian banyak persoalan dan polemik rumah tangga muslim akibat ketidak mengertian tentang persoalan ini. Berbagai bukti telah ada. Banyak juga pakar-pakar muslim sekuler dan liberal yang menulis buku tentang berhubungan seks, organsme dan pernak-perniknya, dan sangat disayangkan hal ini malah dijadikan rujukan, padahal sudah diketahui bahwa hal ini sangatlah berbahaya. Apalagi adab-adab mereka sangat bertentangan dengan Islam. Bahkan bisa dilihat mereka menganjurkan, membolehkan dan menekankan budaya onani. Dan bagi mereka itu adalah pelampiasan yang sehat dan bermanfaat.

Disamping itu dengan berkembangnya budaya fantasi seksual, membaca buku, menonton media porno adalah salah satu hal yang layak. Semua itu harus didudukkan pada tempatnya dan diberikan penjelasan. Umat Islam harus tahu dan diberikan kesadaran tentang hal ini. Bahwa Islam itu sangat kompleks bahkan sampai hal berhubungan badan dijelaskan juga di dalam Islam. Setiap sisi persoalan manusia, selalu saja ada solusi, pemecahan dan penjabaran dalma ajaran Islam yang agung ini.

Minimnya penjelasan tentang sex dari sisi pandang Islam, terutama di negeri kita ini, bukan saja dalam pengjakjian Islam secara umum, bahkan dalam skala yang lebih khusus, di berbagai kajian intensif atau di pondok-pondok pesantren. Sebagai persoalan praktis yang harus dipelajari, pengetahuan hukum dan adab berhubungan intim dalam Islam begitu dipinggirkan, berada di sudut pengasingan yang sangat terpojokkan.

Dengan banyaknya pornografi, seharusnya sex  menurut Islam harus dikaji lebih mendalam lagi karena ke depannya situasi ini akan sangat genting kalau didiamkan. Saat banyaknya kaum muda yang tidak tahu terhadap masalah ini, maka mereka akan disuguhkan sekian banyak hiburan pemuja sex yang amat berbahaya, haram dan betul-betul memalukan mengepung mereka. Intinya banyak pemuda yang dapat pengetahuan sex tapi dari pengetahuan yang haram.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #2 pada: 09 November 2007, 14:07:30 »
JANGAN TARUH PISAU SEMBARANGAN!

Di pembahasan awal penulis memberikan peringatan untuk tidak menaruh buku Sutra Ungu sembarangan dengan bahasa yang indah. Ia mengibaratkan Buku Sutra Ungu ibarat Pisau, yang mana apabila ada orang yang tidak faham terhadap pisau itu misalnya anak-anak maka ia akan tergores oleh pisau tersebut.

Makanya saya meringkasnya dengan memberikan judul WARNING 21+, agar yang masih SMP ataupun yang belum cukup umur dan tidak bisa menjaga diri untuk tidak terlalu memperhatikan hal ini. Penulis juga mewasiatkan untuk kepada siapapun yang mempunyai buku ini untuk tidak meletakkannya sembarangan dimanapun. Ini adalah porsi orang dewasa, yang mana orang itu sudah siap untuk menikah.

Sebagaimana kita ketahui bahwa banyak orang-orang bahkan anak kecil yang sekarang ini saja sudah faham tentang sex. Itu dikarenakan hal-hal demikian. Orang yang tidak cukup umur lalu membaca hal-hal yang belum saatnya mereka membacanya. Yang terpenting saya sudah memberikan peringatan sebagaimana penulis juga memberikan peringatan. Oleh karena itu, kepada siapapun yang membaca hal ini, jangan pernah dan jangan sampai anda menyalah gunakan buku ini begitu saja.

Kalau anda sebagai tholibul 'ilmi gunakan ringkasan ini dengan bijaksana. Semoga anda semua mendapatkan manfaat darinya.

Wallahumusta'an.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #3 pada: 09 November 2007, 14:34:27 »
SEX, BEGITU PENTINGKAH?

Salah satu faktor yang membuat keluarga bahagia adalah berhubungan sex. Manusia adalah makhluk yang tidak akan pernah lepas dari faktor ini, karena ini adalah kebutuhan mereka. Dan ini adalah kodrat mereka. Untuk itu, menurut tuntunan yang benar, harus ada ilmu tentang hal ini, seluk-beluk, adab dan tatacaranya, sebelum ia membicarakan apalagi sampai melakukannya.

Apabila hal ini dianggap remeh, maka akan hilanglah bulir-bulir kasih sayang dari dalam jiwa yang berujung pada runtuhnya pilar-pilar agung perkawingan. Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"artinya: Wahai kawula muda. Barangsiapa diantara kalian yang sudah memiliki 'baa-ah' (kemampuan seksual-kemampuan menikah), hendaknya menikah. Sesungguhnya yang demikian itu lebih dapat memelihara pandangan mata dan kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu adalah obat baginya". [Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shohinya dalam kitab An Nikah]

Islam telah mengatur sex ini dalam bingkai yang suci mulia, yaitu pernikahan. Karena Allah tahu bahwa salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus terpenuhi adalah ini. Semakin besar gejolak sex yang dialami oleh seorang pemuda, maka semakin dianjurkan, bahkan kesimpulan hukumnya bisa jadi wajib untuk segera menikah.

Namun kebutuhan sex ini juga bisa pada akibat gagal dipenuhi. Dan kegagalan ini bisa berakibat kepada gagalnya sebuah pernikahan, dan ini adalah sisi yang paling penting. Seorang muslim tentu dalam pernikahan ingin mewujudkan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Salah satu hal yang mempengaruhi terwujudnya hal ini adalah kebutuhan sex. Kesimpulannya sebuah rumah tangga tidak akan terselenggara sakinah, mawaddah, wa rahmah apabila ada pihak yang tidak terpenuhi kebutuhan sexnya.

Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"artinya: Barangsiapa yang melihat kecantikan seorang wanita, hendaknya ia mendatangi istrinya. Karena istrinya itu memiliki apa yang dimiliki oleh wanita tersebut". (HR. Muslim no. 1158, ABu Dawud no 2151)

Ibnu Al Qayyim menjelaskan, "Wahai wanita yang memenuhi kriteria untuk dicintai oleh seseorang akan sedikit sekali kemungkinannya dapat memperlemah tubuh, karena berhubungan intim dengannya dapat menyebabkan banyak sekali keluarnya sperma yang harus dibuang dari dalam tubuh. Sebaliknya wanita yang tidak disukai atau yang menjijikkan dapat melemahkan tubuh, memperlemah stamina karena kurang mampu mengeluarkan sperma yang tidak dibutuhkan oleh tubuh". [Ath Thibbun Nabawi. hal .198]

Kesamaan yang dimiliki istri yang sah dengan wanita asing, tentu bukan pada sosok lahiriyahnya, yang bisa saja satu lebih cantik dari yang lainnya. Juga bukan soal kemampuan intelektualitas atau kualitas rohaninya, karena dahal hal itu wanita cukup beragam. Tapi lebih kepada bahwa setiap wanita bisa memberikan konstribusi dalma upaya pemuasan hubungan sex. Selama tidak ada fatasi lliar, atau faktor khusus, istri selalu bisa memenuhi kebutuhan seksual suaminya.

Perlu diketahui hubungan sex bukan saja sekedar mencapai klimaks atau organsme, melainkan lebih dari itu yaitu adanya sentuhan cinta kasih dan perasaan yang mendalam di antara pasangan suami istri. Jika hal tersebut terwujud diyaini akan memberikan nilai lebih sebuah aktivitas berhubungan sex. Perasaan dan cinta kasih selain meningkatkan kemampuan dan kualitas berhubungan sex, juga diyakini mampu memberikan kepuasan batin, bila dilakukan dengan cara yang halal dan disyari'atkan. Sementara orang yang hanya berpikir bagaimana mencapai organsme, ia hanya akan mewujudkan keinginannya semata. Itulah yang akhirnya menjadikan hubungan sex yang ia lakukan hampir tidak ada bedanya dengan binatang. Wajar hingga akhirnya sebagian kalangan menganggap hubungan sex sebagai sesuatu yang rendah dan menjijikkan.

Tentang hal ini rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam memberikan isyarat,

"artinya: Janganlah seseorang diantaramu memukuli istrinya seperti layaknya memukuli budak, namun ia menggaulinya di akhir malam". [Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam shahihnya, dalam kitab An Nikah, bab memukuli kaum wanita, hadits no. 5204]

"artinya: Janganlah seseorang diantaramu memukuli istrinya seperti layaknya memukuli budak, kemudian diakhir malam ia menggauli istrinya tersebut". [Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab At Tafsir, bab Tafsir Surat Asy Syams hadits no. 4942. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dalam kitab Al Jannah wa Shifatu Na'imiha wa Ahliha, bab: Neraka akan dimasuki oleh orang-orang sombong, sementara surga akan dimasuki oleh orang-orang lemah, hadits no. 2855.]

Hubungan sex seperti di dalam hadits di atas ibarat seseorang yang hanya sekedar menunaikan hajat, tanpa dilandasi dengan rasa kasih dan sayang. Dalam kondisi marah, bahkan dalam sebuah konflik fisik di antara suami dan istri sekalipun, hubungan sex tetap dapat dilakukan. Namun hal seperti itu tidaklah bijak. Karena dalam kondisi seperti itu, hubungan sex hanyalah dianggap sebagai pemunuhan bentuk fisik semata. Hubungan sex adalah aktivitas yang melibatkan sepasang insan yang memadu kasih, saling memberi dan menerima, salin gberusaha untuk memuaskan diri dan pasangannya secara optimal dan dengan cara yang diridhai oleh Allah.

Pandangan yang tidak benar terhadap hubungan sex sering membatasi kesan seseorang terhadap hubunga sex. Hubungan sex dianggap sekedar sebagai upaya pemuasan kebutuhan sex semata. Hingga akhirnya hal ini akan berakibat menjadi bentuk ketidakpedulian terhadap kualitas hubungan sex. Selanjutkan, cepat atau lambat, sadar atau tidak, akan berakibat kepada terjadinya ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Kebutuhan sex harus mendapatkan perhatian yang cukup, baik menyangkut kualitas, kuantitas, maupun optimalisasinya.

Kurangnya cinta kasih tidak jarang mengakibatkan kebosanan. Betapa buruk kualitas hubungan sex yang diselimuti kebosanan. Yang kurang iman tentu saja bisa tergirin untku segera mengakhiri hubungan suami istri yang selama ini sudah dirajut.

Padahal banyak hadits ditegaskan,

"Sebaik-baiknya kalian adalah yang terbaik sikapnya kepada istrinya. Dan aku adalah yang terbaik bagi istriku". [HR. At Tirmidzi (V:709), Ibnu Hibban (IX:484), Ad Darimi(II:212), Al Baihaqi dalam Sunannya (VII:468), dan Al Haitsami (IV:303), dari hadits Abu Kabsyah]

Berusaha menjadi yang terbaik bukan hanya sekedar dalam hal mencari rezeki, mengumbar senyum, dan membimbing istri, tetapi juga dalam memenuhi segala kebutuhannya, termasuk diantaranya adalah sex.

====berlanjut ke bab berikutnya==
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #4 pada: 10 November 2007, 09:07:23 »
FIQIH TENTANG SEX (SEX EDUCATION)

Secara bahasa, kita mengerti, arti fiqih adalah pemahaman. Fiqih itentang sex, bisa diartikan sebagai pemahaman tentang sex. Tapi yang penulis maksud di sini adalah makna terminologi, yaitu hukum-hukum fiqih yang berkaitan dengan sex. Lebih dikenal dengan istilah pendidikan sex atau sex education. Islam berbicara tentang sex? Segolongan orang mungkin kaget. Kenapa? Karena selama ini ada sebentuk kesalahpahaman tentang makna sex itu sendiri. Sebagian orang  beranggapan bahwa sex itu identik dengan porno. Apapun yang terkait dengan sex dianggap bagian dari pornografi yang jelas-jelas terlarang.

Bila itu dibenarkan, maka akan muncullah istilah-istilah yang kacau dan ruwet. Sebuah buku yang berbicara tentang sex, termasuk yang menjelaskan tentang hukum-hukum dan adab Islam tentang berhubungan sex, serta merta dicap sebagai buku porno. Kebutuhan sex pun disebut dengan kebutuhan porno. Kebutuhan sex artinya kebutuhan porno. Kesemuanya itu tentu saja sebuah kesalahpahaman yang sangat parah dan cukup memalukan. Untuk itu, beberapa catatan berikut, akan membantu menjelaskan tentang perbedaan antara sex dan porno, pembahasan tentang sex dan pornografi.

.:.Islam Agama Paripurna

Betapa agungnya ajaran Islam ini. Seperti diungkapkan sebagian shahabat rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam:

"artinya: Tidak bersisa satu hal pun yang dapat mendekatkan seseorang kepada surga dan menjauhkannya dari neraka, yang belum dijelaskan kepada kalian". [HR. Al Haitsami dalam Majma'uz Zawa-id]

Islam tidak pernah mengabaikan segala hal yang bisa menjadi kemaslahatan bagi umat Islam, tanpa menjelaskannya. Islam tidak pernah membiarkan hal yang berbahaya bagi umat islam tanpa menjlaskan letak bahayanya. Bahkan shahabat lain mengungkapkan bahwa rasululloh shallallahu'alaihi wasallam telah mengajarkan kepada mereka segala sesuatu, termasuk cara buang air.

Sex, termasuk kebutuhan manusia, jadi mustahil Islam tidak mengajarkan sex dengan segala adab-adabnya. Bila ada yang mengatakan bahwa sex itu jorok, tidak usah dibahas sisi praktisnya, bagaimana pendapat dia tentang buang air? Ah, buang air itu kan kebutuhan manusia sehari-hari. Bagaimana dengan sex? Buang air hanya kebutuhan pribadi, tidak memerlukan hubungan interaksi dengan pihak lain, sementara sex melibatkan sepasang manusia dengan hubungan interaksi palinlg dekat antara dua orang yang sama-sama hamba Allah. Mustahil pula, bila sisi praktisnya berikut adab-adabnya diabaikan oleh Islam.

http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #5 pada: 10 November 2007, 09:39:03 »
KESALAHPAHAMAN TENTANG SEX

Umat manusia ini ada 3 kelompok yang memahami sex ini, yaitu:

1. Kelompok orang yang mendengarkan sex. Mereka dikenal sebagai penganut faham free sex. Begitu kata sex terdengar, maka yang secara spontan difahami sebagai hubungan badan lawan jenis dengan segala dinamika dan seninya, dengan tujuan utama kepuasan. Mereka memandang sex sangat bebas. Mereka membicarakan dan menguliti segala persoalannya tanpa batasan etika ataupun keagamaan. Bagi mereka, hidup ini adalah sex itu sendiri.

2. Kelompok yang memandang sex sebagai suatu yang jorok. Sementara mereka sendiri tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari kebutuhan sex, tetapi menganngap sex lebih kotor dari buang air. Merkea memandang sex itu tidak perlu dipelajari secara mendetil. Bagi mereka, yang menjadi nyawa dalam sex hanyalah niat beribadah, tidak ada yang lain. Banyak juga kelompok lain yang tidak memiliki pandangan se-extrim ini terhadap sex, tetapi cukup terpengaruh pola berpikir mereka yang tidak 'nyambung' dengan realitas, selain juga sebenarnya sangat jauh dari tuntunan syari'at. Bahkan suatu saat mereka bisa dikecam sebagai telah melecehkan ajaran islam yang dianggap tidak pernah mengulas tentang sex dan seluk beluknya.

3. Kelompok yang memiliki kesadaran terhadap ajaran syari'at Islam secara lebih utuh. Mereka sadar bahwa Islam mengajarkan banyak hal tentang adab dan cara menjalani kehidupan, termasuk soal pemenuhan kebutuhan sexual. Bila untuk buang air saja Islam menganjurkan posisi tertentu, misalnya, demikian juga dengan sex. Tetapi mereka juga tidak mengabaikannya begitu saja. Mereka tidak memandang sex sebagai hal yang jorok, justru memandangnya sebagai kemuliaan. Bagi mereka, setiap ibadah yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan duniawi manusia, selalu saja memberi tempat bagi yang namnaya kepuasan. toh, orang makan tidak cuma membutuhkan keikhlasan dan niat ibadah. Niat ibadah, itu nomor satu. Memilih jenis makanan, porsi makanan, cara makan dan lain sebagainya, dikaji di dalam Islam secara mendetail.

Kemudian muncul pertanyaan apakah sex ini harus dibahas secara mendetail?

Ada kalangan yang bilang tidak perlu karena binatang pun tahu caranya melakukannya. Kalangan yang lain berpendapat boleh saja itu diajarkan dan itu sah dalam etika Islam, namun tidak perlu dijelaskan secara mendetil, karnea bisa menggugah nafsu, membuka pintu-pintu fitnah (godaan syahwat), dan menjerumuskan banyak orang ke dalam maksiat.

Pertama: Sex tidak perlu diajarkan

Ini adalah pendapat yang sangat naif, Islam telah mengatur segalanyaa dan pendapat ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang mulia ini. Seluruh hal dari mulai makan, minum, tidur segalanya diatur di dalam Islam. Allah berfirman:

"artinya: Dialah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci" (Ash Shaaf:9)

Petunjuk Allah yang diajarkan oleh Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam meliputi persoalan dunia dan akhirat, termasuk hal-hal seperti makan, minum bahkan sex, menjadikan agama Islam unggul daripada agama lainnya. Sedangkan kita dituntut untuk meniru rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam. Allah berfirman:

"artinya: Dalam diri Rasululloh terdapat suri teladan yang baik bagi kalian, yakni bagi aorang yang selalu mengharapkan rahmat Allah dan hari akhirat" (Al Ahzab:21)

Sebagai suri teladan yang final, tentu saja kita harus meniru dan mencontoh beliau secara totalitas. Itu artinya segala aktivitas beliau, dari ibadah-ibadah khusus seperti sholat, puasa, haji dan yang lainnya, hingga aktivitas harian seperti makan, minum dan berhubungan intim dengan istri-istri beliau, kesemuanya, menjadi teladan bagi kita.

Kedua: Sex Tidak perlu dijelaskan secara mendetail

Mengenai pendapat bahwa sex tidak perlu dijelaskan secara mendetail karena bisa menimbulkan gejolak syahwat dan membuka pintu-pintu fintah, penulis tegaskan sebagai berikut:

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata, "Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka (sesuai dengan apa yang dapat mereka mengerti). Sudikah engkau menyaksikan Allah dan Rasul-Nya didustakan?" (HR. Bukhrai I:59)

Kita harus memberi penjelasan tentang ketentuan syari'at dalam berbagai hal, dengan bahasa dan gaya penuturan yang dapat dengan mudah ditangkap dan dimengerti oleh masyarakat awam, termasuk dalam persoalan sex.

Penjelasan tentang sex tidak perlu dijelaskan secara detail berkaitan dengan organ-organ sexual tertentu. Ada 2 cara untuk menjelaskannya. Yaitu penjelasan sex tidak secara proporsional, dalam arti, tanpa ada nilai fiqih atau penjelasan hukum yang dibutuhkan. Hal tersebut jelas tidak diperbolehkan, bahkan haram, karena dapat mengundang fitnah. Seperti orang yang menjelaskan tentang budaya membuka aurat yang dilakukan oleh para wanita, lalu dijelaskan tentang detil bagian tubuh wanita yang terbuka auratnya dengan bahasa provokatif. Itu keliru besar, karena penggambaran itu tidak memeiliki muatan penjelasan. Tetapi kalau sekedar menjelaskan bahwa bagian ini dan itu tidak boleh (haram) dibuka, sebatas itu saja, sementara banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui hal itu, tetap proporsional.

Sementara bila yang dijelaskan adalah hal yang berkaitan dengan tata cara atau adab hubungan sex, lalu dijelaskan tata cara tertentu adalah haram, cara yang begini dan begitu tidak diperbolehkan semua itu adalah sebuah keharusan untuk menjelaskan tentang hukum, selama semua penjelasan itu bermuatan hukum. Bila penjelasan itu berkaitan dengan hal atau kondisi yang harus menyebutkan salah satu organ tubuh terntentu yang dianggap tabu sekalipun, tidaklah menjadi masalah. Selama itu adalah persoalan fiqih dan penjelasan hukum, bukan mengobral kata-kata yang tidak bermuatan hukum dan etika.

contohnya dalam hadits abu Hurairah disebutkan bahwa Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Bila seseorang sudah berada di antara empat cabang tubuh istrinya, lalu ia melakukan 'kerja yang melelahkan' terhadap istrinya itu, ia sudah wajib mandi". [HR. Al Bukhari I:110, Muslim I:271, Ibnu Majah I:200, Ahmad dalam Musnadnya II:234, Ibnu Hibban dalam Shohihnya III:450, dan Ibnu Khuzaimah juga dalam shohihnya I:114]

Memang benar, bila memungkinkan, dianjurkan menggunakan kiasan untuk menyebutkan organ sex pria maupun wanita. Dalam hadits di atas Nabi juga menggunakan cara tersebut.

Ibnu Hajar menjelaskan, "Dalam riwayat hadits di atas terdapat isyarat dianjurkannya menggunakan kiasan untuk menyebutkan aurat wanita". [Lihat Fathul Baari I:416]

Namun itu bukanlah keharusan, dan bahkan dalam kondisi tertentu harus dihindari, ketika yang mendengar penjelasan tidak memahami dan mengerti maksudnya secara pasti, misalnya. Atau setidaknya dianjurkan, bila dikhawatirkan orang yang mendengar akan salah memahaminya. Untuk tujuan itulah , para ulama memberikan detili penjelasannya.

Dalam sebuah hadits nabi pernah menjelaskan kepada seorang wanita dengan isyarat saat ditanya tentang apa yang dibasuh ketika mandi. Namun wanita tersebut kurang mengerti, akhirnya Aisyah radhiyallahu'anha menjelaskan secara detil kepada wanita tersebut.

====bersambung===
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #6 pada: 10 November 2007, 10:13:10 »
Pandangan-pandangan yang salah mengenai sex

1. Hubungan sex adalah jorok, sehingga dalam membicarakan dan melakukannya harus dibatasi.

Apabila yang dimaksudkan adalah membicarakan sex secara tidak proporsional atau tidak pada tempatnya maka ini adalah salah. Sebagai contoh rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam membatasi diri ketika menjawab soal pemakaian pembalut wanita, karena yang beliau hadapi adalah wanita. Jalan keluarnya adalah meminta bantuan Aisyah untuk memberikan penjelasan rinci. Namun membicarakan sex pada tataran tertentu justru diharuskan. TUjuannya agar pasangan suami istri mengerti benar hak dan kewajibannya dalam melakukan hubungan sex.

Pandangan pertama ini sangat extrim, karena sampai pada tingkat membatasi aktivitas berhubungan sex. Bisa jadi hal ini karena pengalaman sex yang gelap, kurang ilmu, menjadi korban pelecehan dan perkosaan, misalnya. Bisa juga karena kebiasaan melihat adegan sex secara vulgar dan gambar-gambar porno melalui berbagai media.

2. Hubungan sex memang baik, tetapi tabu dibicarakan.

Pandangan ini pada hakekatnya mencemooh ajaran Islam. Islam adalah agama yang telah mengatur segalanya. Dan pandangan ini angkuh. Menurut mereka Islam terlalu suci untuk membicarakan soal hubungan sex. Padahal hubungan sex adalah sebuah ibadah yang harus dilaksanakan oleh pasangan suami istri. Sebuah ibadah tidak akan benar tanpa aturan dan bimbingan yang benar.

3. Sex dapat dilakukan dengan benar tanpa petunjuk siapapun.

Pandangan ketiga ini merupakan bentuk ketidak pedulian seseorang mengenai hubungan sex. Baginya tidak ada masalah yang bermuara kepada problematika huungan sex. Seperti halnya hewan, seseorang akan mampu menunaikan hal tersebut tanpa ada kendala.

4. Sex itu bebas dan vulgar, tidak mengenal batas dan batasan

Padnangan keempat ini antagonis, dengan ketiga pandangan pertama. Pandangan pertama, kedua, dan ketiga termasuk taqshiir (keteledoran/peremehan) sedangkan pandangan keempat ini adalah bentuh ifraath(berelebihan) atasu sikap ghuluw.

Pandangan ini muncul akibat anggapan bahwa kepuasan sex sama artinya dengan kebebasan sex. Tak lebih dari hubungan bebas, vulgar, dan tanpa aturan seperti yang dilakukan di berbagai negara (free sex countries).

Menurut syari'at hubungan sex tidak boleh dilakukan secara bebas dan brutal, semakin diumbar, nafsu akan semakin menuntu kepuasan berlebih yang taiada berujung. Dan ini terbukti di berbagai negeri kafir.

5. Pemenuhan kebutuhan sex bagi muslim dan non muslim saja, karena sex adalah fitrah

Berkeyakinan bahwa muslim dan kafir tidak ada bedanya dalam memenuhi kebutuhan sexnya merupakan pandangan yang tidak memilki hikmah. Ajaran Islam membimbing agar seorang muslim lurus dalam fitrahnya. Islam adalah agama yang fitrah. Akal manusia tidak mampu dengan tetap menyelami kebutuhan fitrahnya secara mandiri. Karena itulah Islam sebagai jalan hidup merupakan satu-satunya penuntun kelemahan akal manusia.

"artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Ar Ruum: 30)

6. Sex termasuk urusan dunia yang tidak dikaji Islam

Pandangan ini beranggapan bahwa sex adalah soal dunia yang tidak dikaji di dalam Islam. Dianggapnya hal itu termasuk urusan dunia murni sebagaimana haidts rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam yang artinya, "Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian" [HR. Muslim IV:1836 dari Anas bin Malik]

Adab, tata cara dan muamalah dalam berbagai persoalan lain seperti nikah, cerai, bermasyarakant adlaah soal yang berbeda. Perlu diketahui, Islam pun memberikan aturan halal-haram serta bimbingan yang bersifat praktis dalam segala hal, termasuk masalah sex.

7. Kegagalan sex tidak akan mencemari harga diri, karena termasuk takdir

Mengenai pandangan ketujuh ini, harus dicatan bahwa tidak setiap kegagalan dalam membina hubungan sex menjatuhkan harga diri. Bila kegagalan karena faktor nonteknis yang tidak bisa diatasi dengan kiat-kiat tertentu atau pengobatan, tentu tidak membuat cela. Namun kalau karena keteledoran, malas, atau kurang inisiatif, sedikit banyak akan mempengaruhi harga dirinya di hadapan pasangannya maupun Allah.

"artinya:Allah tidka membebani seseorang melainkan sebatas kemampuannya" (Al Baqarah:286)

8. Sex hanya boleh dipelajari oleh orang yang sudah menikah

Pandangan yang terakhir ini jelas keliru. Para Ulama berpendapat sama, mempelajari hukum suatu masalah yang sedang dan akan dihadapi dalam waktu dekat hukumnya adalah fardhu'ain. Seseorang muslim wajib belajar salat sebelum melaksanakannya. Ia juga wajib mempelajari manasik haji bila ingin menunaikan ibadah rukun Islam kelima itu.

Orang yang memasuki mahligai rumah tangga tanpa mempelajari hak dan kewajibannya -termasuk yang berkaitan dengan pemenuhan hubungan sex- jelas merupakan tindakan nekat dan kurang perhitungan. Hal ini, pada titik tertentu, bisa menyebabkan kezhaliman terhadap dirinya sendiri dan pasangannya akibat kelalaiannya. Masalah ini harus dicamkan dengan sebaik-baiknya.

====bersambung ke bab berikutnya===
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #7 pada: 13 November 2007, 09:36:22 »
MEMPELAJARI SEX, SEBERAPA PERLUKAH?

Tanpa doktrin khusus, setiap orang yang telah menginjak dewasa memang akan mengetahui betapa pentingnya kepuasan sex. Secara fitrah, dalam kondisi sehat dan normal ,pasti terodrong memenuhi kebutuan sexya. Memang tidak disangkal bawa seseorang yang kurang menyadari arti penting sebuah kepuasaa nseksual bisa jadi karena dbelit sekian kesiubkan atau kesulitan hidup.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar seseorang memiliki perhatian terhadap pemuasan sex secara benar, antara lain:

1. Pemenuhan kebutuhan sex adalah ibadah.

Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Dan pada kemaluan salah seorang diantara kalian terdapat kesempatan bersedekah...." [HR. Muslim dalam shohihnya II:697, Ahmad dalam Musnadnya V:167, Ibnu Hibban dalam Shahihnya IX:475 dari hadits Abu Dzar]

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, "Hadits ini menunjukkan betapa karena semangat  melakukan amal sholih yang demikian hebat, mereka merasa sedih blia tidak sempat melakukan kebajikan, padahal orang lain mampu melakukannya". (Lihat Jami'ul 'Ulumi wal Hikam I:232)

Dalam hadits tersebut Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam memberikan kiat melakkuan berbagai amal sholih, termasuk dengan hal-hal yang seringkali diangap kurang bernilai oleh sebagian ornag, diantaranya adalah berhubungan intim dengan istri yang sah.

2. Hubungan sex yang halal adalah kenikmatan dan karunia dari Allah

Allah berfirman yang artinya:

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya ,dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yangdemikian itu ,benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir" (Ar Ruum:21)

3. Hubungan sex yang sah adalah perbuatan mulia

Karena seseorang yang menunaikan hubungan sex dengan cara yang halal-dalam rangka menjaga kesuciannya merupakan perbuatan yang mulia, bukan sebaliknya. Allah berfirman,

"artinya: Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya ,sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya" (An Nuur:33)

Allah menjelaskandalam ayat di atas betapa tinggi kedudukan orang yang mampu memelihara kesucian dengan melakukan hubungan sex yang halal. Allah juga berjanji menganugerahi para penghuni surga berupa kemampuan berhubungan sex seratus kali sehari. Salah satu hikmahnya adalah menunjukkan bahwa hubungan sex yang halal merupakan sesuatu yang mulia dan sangat dirindukan oleh fitrah manusia.

====Alhamdulillah bab ini selesai ,sekarang beranjak ke bab berikutnya====
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #8 pada: 14 November 2007, 16:26:38 »
PENDIDIKAN SEX DALAM ISLAM

Ketika kalangan sexolog menegaskan pentingnya pendidikan sex sejak dini sebenarnya Islam telah mendahuluinya, sejak 14 abad yang lalu. Hanya saja, adab dan etika yang diajarkan Islam membuat tampilan pendidikan terkadang sangat berbeda.

Umumnya seorang pakar akan memanfaatkan pertanyaan nakal anak-anak untuk menjelaskan tentang sex secara bertahap, sesuai perkembangan otak mereka. Sementara Islam memandangnya secara lebih luas. Salah satu media terpenting dalam memberikan pendidikan sex adalah pelajaran fiqih praktis.

Dari pelajaran dasar fiqih praktis, secara bertahap anak-anak sudah harus diajari tentang sex. Contohnya, saat menjelaskan tentang najis. Kita harus memberitahukan kepada mereka, apa itu air seni, apa itu madzi, mani dan yang lainnya. Dengan bahasa yang proporsional, semua istilah harus dijelaskan, sesuai dengan kemampuan nalar dan tingkat intelejensi mereka. Menyembunyikan makna kata-kata tersebut justru berakibat fatal. Karena mereka bisa saja menanyakannya kepada orang-orang yang belum mampu menjelaskannya secara santun, kakaknya misalnya, atau teman-temannya yang lebih besar.

Menginjak usia yang lebih tua pun pengetahuan harus ditambahkan. Mulai diajari apa itu khitan, tentang disyari'atkannya khitan, kemudian ketika beranjak lebih besar lagi diperkenalkan dengan kata jimaa' (berhubungan badan). Misalnya, saat kita menjelaskan pembatal-pembatal wudu, tentang hadats besar dan sejenisnya.

Kita juga harus memberikan pelajaran tentang bahayanya zina, sex bebas dan yang lainnya. Perlu pula diterangkan tentang hukum menikah, lalu hak-hak masing-masing pasutri dan seterusnya.

Inilah langkah-langkah untuk belajar sex dari usia dini sampai dewasa. Sehingga seorang anak mempunyai pemahaman yang baik soal ini, sebagaimana sabda rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam,

"artinya: Apabila Allah menghendaki kebaikan seseorang, maka pasti Allah akan jadikan ia orang yang memiliki pengetahuan di dalam agamanya" [HR. Al Bukhari I:27 dan Muslim II:718]

=========bersambung====
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #9 pada: 14 November 2007, 16:44:17 »
MALU BERBICARA SEX

Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Rasa malu adalah seluruh kebajikan" [HR. Muslim dalam shahihnya 37: 61 dalam kitab Al Iman. Bukhari dengan lafazh, "Rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan belaka" (X:537) dalam kitab Al Adab, bab Rasa Malu, keduanya dari Imran bin Husain radhiyallahu'anhu]

Dalam riwayat lain,

"Diantara pelajaran yang didapatkan umat manusia dari sabda kenabian terdahulu yaitu: kalau engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu". [HR. Al Bukhari dalam Shahihnya III:1284, Ibnu Majah II:1400, dan Ath Thabari dalam Al Mu'jam Al Ausath III:12 dari hadits Abu Mas'ud radhiyallahu'anhu]

Malu itu ada 2 malu yang baik dan malu yang jelek, malu yang baik adalah malu karena sumber kebajikan, sedangkan malu yang jelek adalah malu karena tidak mempelajari sesuatu yang penting, yang demikian disebut memalukan.

Dalam masalah sex apabila muncul rasa malu, selama rasa malu itu adalah tentang membicarakan faktor sexnya semata, apalagi untuk tujuan exploitasi, untuk memuaskan nafsu syahwat, peliharalah rasa malu tersebut. Karena itu adalah dorongan iman. Biasanya perasaan malu dalam problematika hubungan sex meliputi 2 hal:

1. Malu mengungkapkan perasaan dan merefleksikan perasaan kepada pasangan pada saat sedang atau ingin berhubungan sex.

2. Malu menanyakan hukum-hukum yang berkaitan dengan sex.

Bentuk malu pertama adalah malu seperti pengantin baru dan hal ini adalah wajar. Bahkan bisa jadi rasa malu yang pertama ini akan menjadikan sebuah bumbu dalam berhubungan sex. Namun apabila malu yang ini terus-terusan, maka ada 2 kemugkinan, yang pertama sifat bawaan yang urusannya pada kejiwaan seseorang, yang kedua bisa jadi karena tidak adanya keterbukaan, ditambah dengan keyakinan bahwa sikap malu semacam itu wajar bagi seorang mukmin. Rasa malu disini jadi keliru, karena bukan iman yang menjadi pendorongnya, tapi justru sifat curiga dan buruk sangka. Allah berfirman:

"artinya:Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. " (Al Hujurat :12)

Kemungkinan pertama tadi bisa saja menyangkut masalah kepribadian yang mengarah pada kelainan, munkgin masih bisa ditolerir, dengan catatan orang tersebut menyadari sifatnya tersebut.

Adapun kemungkinan yang kedua, sungguh tidak bisa ditolerir. Karena hal tersebut adalah kesalahfahaman dalam mengartikan malu. Malu yang dimaksud dalam hadits sebagai "kebaikan" secara keseluruhan, adalah malu untuk berbuat maksiat atau berbuat kesalahan. Bukan malu untuk bertanya dalam kebaikan, sebagaimana pepatah "malu bertanya sesat di jalan".

Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam memuji orang-orang Anshar yang selalu bertanya. Beliau bersabda:

"artinya: Semoga Allah merahmati para wanita Al Anshar, mereka tidak terhalangi oleh rasa malu untuk mendalami agama". [Lihat At Tahmid oleh Ibnu Abdil Barr VIII:338, juga syarah Az Zarqani I:156]

Diriwayatkan juga bahwa Abdullah bin Nafi bin Saabith pernah menemui bibinya Hafshah bin Abdurrahman bin Abu Bakar (cucu Abu Bakar Ash Shiddiq), untuk bertanya, "Sesungguhnya aku ingin menanyakan sesuatu, tetapi malu menanyakannya kepadamu." Hafshah berkata kepadaku, "Kemenakanku, engkau tidak perlu malu." Ia berkata, "Aku ingin bertanya tentang hukum menggauli wanita dari arah belakang"..dst..sampai hadits selesai [Lihat tafsir Al Qur'an Al Azhiem I:147. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Ya'la]

Ibnu Abdil Barr menjelaskan, "Hadits 'Aisyah itu menunjukkan bahwa seorang wanita semestinya tidak merasa malu bertanya tentang masalah haidh, mandi junub, dan tata cara berwudhu, misalnya, serta segala urusan yang diperlakukannya, seperti kaum laki-laki. Dan riwayat ini meunjukkan bahwa tidak setiap wanita mempunyai keberanian seperti itu" [Lihat At Tahmid VIII:338]

=====alhamdulillah bab ini selesai, kita sekarang ke permasalahan inti, bersambung====
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #10 pada: 14 November 2007, 16:57:03 »
pembahasan pertama: MANFAAT BERSETUBUH

Allah tidak pernah menetapkan syari'at tanpa menyelipkan sekian hikmah di baliknya. Hanya saja, tidak semua hikmah tersebut diungkapkan secara eksplisit. Bila demikian, akan sedikit pula orang yang mengetahuinya. Mengenal pelbagai hikmah dari sebuah ajaran syari'at, melalui bukti nyata, penelitian, pengalaman dan dengan menyaksikan berbagai peristiwa, tidak lain adalah anugerah yang tiada terhingga.

Hubungan sex adalah sebuah amalan ibadah yang disyari'atkan bagi setiap muslim dan muslimah yang telah menikah secara sah. Dan karena ini adalah syari'at dari Allah sudah tentu ada banyak hikmah yang terkandung dari bersetubuh ini.

Barra Zuhari Al 'Ubaidi menjelaskan, "Bila sudah kita maklumi bahwa Islam memiliki berbagai tujuan luhur dari syari'at pernikahan, maka tidak diragukan lagi bahwa hubungan sex menjadi bagian terpenting untuk mewujudkan semua tujuan tersebut. Kalau salah satu dari tujuan menikah adalah untuk membentengi diri dari perbuatan tak bermoral, maka segala kiat yang dapat memberi kemampuan dan menyokong upaya pembentengan tersebut menjadi wajib pula hukumnya. Oleh sebab itu, berkaitan dengan hubungan antar pasutri, Allah mengistilahkan, 'Kalian adalah pakaian bagi merkea, demikian juga, merka adalah pakaian bagi kalian...' Artinya, masing-masing pasutri menjaga kesucian diri dengan bantuan pasangannya, menutupi segala kekurangannya dengan bantuan pasangannya. Sehingga tidaklah diperbolehkan ia melepas pakaian di hadapan selain pasangannya tersebut. Dan semua itu tidak bisa terwujud, dan masing-masing pasutri tidak akan mungkin bisa melakukannya, tanpa mengenal dan mempelajari segala hal yang berkaitan dengan hubungan sex, agar kesucian masing-masing pihak dapat terjaga." [ Lihat Al 'Awathib ad Dafi'ah oleh Al Barra Zuhari Al Ubaidi, masuk pasal Usrah, dari Syajar At Tashnifat, dalam Al Mukhtar Al Islami asuhan Syaikh Shalih Al Munajid]

Ibnu Al Qayyim menjelaskan, "Adapun soal hubungan badan atau jimak, petunjuk nabi adalah yang paling sempurna dalam konteks untuk mejaga kesehatan, mendapatkan kenikmatan optimal dan kebahagiaan hati sehingga sasaran yang menjadi target hubungan intim dapat dicapai. Pda dasarnya hubungan badan itu diciptakan untuk 3 tujuan:
1. Untuk memelihara keturunan dan keberlangsungan manusia.
2. Mengeluarkan air (mani), yang bila atetap mendekam dalam tubuh akan berbahaya bagi tubuh sendiri.
3. Memenuhi hasrat, meraih kenikmatan, dan menikmati karunia Allah.

Kalangan medis terkemuka menandaskan: Sesungguhnya hubungan intim itu termasuk faktor paling utama dalam menjaga kesehatan.

Diantara manfaat bersetubuh adalah menjaga pandangan mata, mengekang hawa nafsu, mampu menjaga kesucian diri agar tidak berbuat haram. Itu juga berlaku bagi wanita. Bersetubuh berguna bagi pria dan wanita di dunia dan di akhirat" [ Ath Thibbun Nabawi oleh Ibnu Qayyim hal. 194]

Sebagian kalangan salaf menyebutkan, "Seseorang hendaknya menjaga tiga hal pada dirinya: Jangan sampai tidak berjalan. Kalau bila suatu hari ia perlu banyak berjalan, ia tidak akan kesulitan melakukannya. Kedua, jangan sampai tidak makan, karena usus bisa menyempit. Ketiga, jangan meninggalkan hubungan sex, karena air sumur saja bila tidak digunakan, airnya akan habis sendiri."

Muhammad bin Zakariya menandaskan, "Barangsiapa yang tidak bersetubuh dalam waktu yang lama, kekuatan organ-organ tubuhnya akan melemah, sarafnya akan menegang dan pembuluh darahnya akan tersumbat, selain itu penisnya juga akan mengkerut"

Beliau melanjutkan, "Saya melihat sendiri banyak kalanganyang sengaja tidak melakkuan hubungan sex dengna niat membujang, maka tubuh mereka menjadi dingin, gerak-gerik mereka menjadi kaku dan menjadi sering muram tanpa sebab.  Nafsu makan mereka menjadi berkurang, demikian juga pencernaan mereka menjadi rusak."

===bersambung ke pembahasan kedua====
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline abie1102

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 8.361
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • isyhadu bi anna muslimun
    • Lihat Profil
« Jawab #11 pada: 15 November 2007, 14:32:45 »
Warning 21+ itu dari mas exblopz yah ...

Saya sih kurang setuju, mangnya pendidikan sex islami cuma buat yang usia 21 ke atas, kecian dunks yang udah nikah dibawah 21 tahun.

Dengan kata lain, mas exblopz juga 'seakan-akan' menyatakan bahwa menikah itu ya usia 21 tahun. Padahal enggak gitu kan ...

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #12 pada: 15 November 2007, 17:34:07 »
saya sudah memberikan penjelasan kenapa saya pakai tulisan WARNING 21+ di atas. Pendidikan sex itu bertahap, dan tahapan-tahapan itulah yang kiranya membuat saya memberikan warning. Apakah yang dibawah 21 tahun itu boleh membacanya?
Kalau ia sudah waktunya maka diperbolehkan. Sebagaimana tulisan-tulisan di atas. Adapun saya berikan warning 21+ karena melihat keumuman yang ada sekarang ini bahwa kebanyakan orang-orang menikah adalah 21 tahun keatas.
Kalau saya tak memberikan batas-batas, maka sudah pasti tulisan ini menjadi santapan yang tidak enak buat orang-orang yang belum saatnya belajar mengenai hal ini. Sebagaimana nanti pembahasannya lebih vulgar maka saya berikan peringatan demikian.
Semoga bisa difahami.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #13 pada: 22 Januari 2008, 15:49:31 »
Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah
istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah
wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian
ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap,
Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari,
barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa
merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali
belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar
lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan
tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru
berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda
pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia? Masihkah Anda
memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada
anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang
sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun
dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani
tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya
bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang
perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu
saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak
anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda
melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah
menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula
manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk
tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat
itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita rnenjerit
karena cubitannva yanq bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh
bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi
istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga
butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara
gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau
mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya
berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui
keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu
sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya
tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi
yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena
Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api
kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi 'Aisyah yang
sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang
dipecahkan.

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita
menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan
hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan
yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam
menghadapi anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita
tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat
untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang
harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap
memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun
ia.

Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi
mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah
kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah
melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu.
lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar
Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata
yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa
banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah
bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat
yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.
Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir minuman
hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?"

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin
sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin
juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita
terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan anak, atau menyuapi si
mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly;
tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas
karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan
mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah.
Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas,
ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan
yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita
untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari
kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga
baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas
bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang
kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita
sebagaimana Bunda 'Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya,
Rasulullah Saw., "Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku."

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah
engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia
sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin
bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.
Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak
lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia,
sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat
kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. "Wahai
manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana
kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah," kata Rasulullah Saw.
melanjutkan, 'kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan
kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada
Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk
selalu berbuat baik. "
Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita
harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah
dari-Nya, apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat
rnenggerogoti wajahnya, jauh lebih awal dari usia yang sebenarnya?
Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri ? Saya
tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup
baik. Jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri.
Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya
sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.

Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya.
Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.

 

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #14 pada: 23 Februari 2008, 13:51:32 »
info terbaru ( numpang promosi )  :hihi:
donwlaod sekarang juga tafsir Qs At Takwir ( dari tread tafsir juz 'amma ) :


bentuk PDF :
http://www.4shared.com/file/38671214/2dadb2af/TAFSIR_AT_TAKWIR___PDF__.html?dirPwdVerified=7fc9e265

bentuk MMS word :
http://www.4shared.com/file/38671271/b9de1a6/TAFSIR_QS_AT_TAKWIR.html?dirPwdVerified=7fc9e265


treadnya di :   http://myquran.org/forum/index.php/topic,23817.135.html

file-file lainnya silahkan donwload di : http://abizecha.4shared.com/

Offline al-nizami

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2009
  • Tulisan: 364
  • Jenis kelamin: Pria
  • فإذا عزمت فتوكل على الله
    • Lihat Profil
« Jawab #15 pada: 11 Februari 2009, 08:47:36 »

tambahan, bagi yang ingin memiliki ebook fiqih mubasyarah (pengaruh aktivitas seksual terhadap ibadah) karya Dr. Abdul Aziz bin Mabruk Al Ahmadiy, dapat diunduh di http://www.scribd.com/doc/5331371/Fiqih-Mubasyarah-Abdul-Aziz-bin-Mabruk-Al-Ahmadiy (harus register dulu untuk mengunduhnya)
« Edit Terakhir: 18 September 2009, 19:11:15 oleh retnoarum »


“Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.” (Ibnu Rojab Al Hambali)

Offline Babam herry

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2009
  • Tulisan: 291
  • Jenis kelamin: Pria
  • gosah sibuk nyari kesalahan orang lain.
    • Lihat Profil
« Jawab #16 pada: 17 Juni 2009, 06:43:35 »
letih mata ini browsing gak dapet juga file PDF nya ya ane copy aj tulissannya
semoga bemanfaat bagi yang baca
klo ane yang punya "mencapai pernikahan barokah"
hampir mirip isinya n lebih lengkap mulai dari nyari pasangan yang ideal, ta'aruf nikah n malem pertama
waktu ditinggl suami banyak deh

Panduan Berhubungan Intim Dalam Perspektif Islam


Oleh : Abu Umar Baasyir

Sebagai bagian dari fitrah kemanusiaan, Islam tidak pernah memberangus hasrat seksual. Islam memberikan panduan lengkap agar seks bisa tetap dinikmati seorang muslim tanpa harus kehilangan ritme ibadahnya.

Bulan Syawal, bagi umat Islam Indonesia, bisa dibilang sebagai musim kawin. Anggapan ini tentu bukan tanpa alasan. Kalangan santri dan muhibbin biasanya memang memilih bulan tersebut sebagai waktu untuk melangsungkan aqad nikah.

Kebiasaan tersebut tidak lepas dari anjuran para ulama yang bersumber dari ungkapan Sayyidatina Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq yang dinikahi Baginda Nabi pada bulan Syawwal. Ia berkomentar,
“Sesungguhnya pernikahan di bulan Syawwal itu penuh keberkahan dan mengandung banyak kebaikan.”
Namun, untuk menggapai kebahagiaan sejati dalam rumah tangga tentu saja tidak cukup dengan menikah di bulan Syawwal. Ada banyak hal yang perlu dipelajari dan diamalkan secara seksama oleh pasangan suami istri agar meraih ketentraman (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah), baik lahir maupun batin. Salah satunya –dan yang paling penting– adalah persoalan hubungan intim atau dalam bahasa fiqih disebut jima’.

Sebagai salah tujuan dilaksanakannya nikah, hubungan intim –menurut Islam– termasuk salah satu ibadah yang sangat dianjurkan agama dan mengandung nilai pahala yang sangat besar. Karena jima’ dalam ikatan nikah adalah jalan halal yang disediakan Allah untuk melampiaskan hasrat biologis insani dan menyambung keturunan bani Adam.

Selain itu jima’ yang halal juga merupakan iabadah yang berpahala besar. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

Karena bertujuan mulia dan bernilai ibadah itu lah setiap hubungan seks dalam rumah tangga harus bertujuan dan dilakukan secara Islami, yakni sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan sunah Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Hubungan intim, menurut Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam Ath-Thibbun Nabawi (Pengobatan ala Nabi), sesuai dengan petunjuk Rasulullah memiliki tiga tujuan: memelihara keturunan dan keberlangsungan umat manusia, mengeluarkan cairan yang bila mendekam di dalam tubuh akan berbahaya, dan meraih kenikmatan yang dianugerahkan Allah.

Ulama salaf mengajarkan, “Seseorang hendaknya menjaga tiga hal pada dirinya: Jangan sampai tidak berjalan kaki, agar jika suatu saat harus melakukannya tidak akan mengalami kesulitan; Jangan sampai tidak makan, agar usus tidak menyempit; dan jangan sampai meninggalkan hubungan seks, karena air sumur saja bila tidak digunakan akan kering sendiri.

Wajahnya Muram

Muhammad bin Zakariya menambahkan, “Barangsiapa yang tidak bersetubuh dalam waktu lama, kekuatan organ tubuhnya akan melemah, syarafnya akan menegang dan pembuluh darahnya akan tersumbat. Saya juga melihat orang yang sengaja tidak melakukan jima’ dengan niat membujang, tubuhnya menjadi dingin dan wajahnya muram.”

Sedangkan di antara manfaat bersetubuh dalam pernikahan, menurut Ibnu Qayyim, adalah terjaganya pandangan mata dan kesucian diri serta hati dari perbuatan haram. Jima’ juga bermanfaat terhadap kesehatan psikis pelakunya, melalui kenikmatan tiada tara yang dihasilkannya.
Puncak kenikmatan bersetubuh tersebut dinamakan orgasme atau faragh. Meski tidak semua hubungan seks pasti berujung faragh, tetapi upaya optimal pencapaian faragh yang adil hukumnya wajib. Yang dimaksud faragj yang adil adalah orgasme yang bisa dirasakan oleh kedua belah pihak, yakni suami dan istri.

Mengapa wajib? Karena faragh bersama merupakan salah satu unsur penting dalam mencapai tujuan pernikahan yakni sakinah, mawaddah dan rahmah. Ketidakpuasan salah satu pihak dalam jima’, jika dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan akan mendatangkan madharat yang lebih besar, yakni perselingkuhan. Maka, sesuai dengan prinsip dasar islam, la dharara wa la dhirar (tidak berbahaya dan membahayakan), segala upaya mencegah hal-hal yang membahayakan pernikahan yang sah hukumnya juga wajib.

Namun, kepuasan yang wajib diupayakan dalam jima’ adalah kepuasan yang berada dalam batas kewajaran manusia, adat dan agama. Tidak dibenarkan menggunakan dalih meraih kepuasan untuk melakukan praktik-praktik seks menyimpang, seperti sodomi (liwath) yang secara medis telah terbukti berbahaya. Atau penggunaan kekerasaan dalam aktivitas seks (mashokisme), baik secara fisik maupun mental, yang belakangan kerap terjadi.

Maka, sesuai dengan kaidah ushul fiqih “ma la yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajibun” (sesuatu yang menjadi syarat kesempurnaan perkara wajib, hukumnya juga wajib), mengenal dan mempelajari unsur-unsur yang bisa mengantarkan jima’ kepada faragh juga hukumnya wajib.Bagi kaum laki-laki, tanda tercapainya faragh sangat jelas yakni ketika jima’ sudah mencapai fase ejakulasi atau keluar mani. Namun tidak demikian halnya dengan kaum hawa’ yang kebanyakan bertipe “terlambat panas”, atau –bahkan— tidak mudah panas. Untuk itulah diperlukan berbagai strategi mempercepatnya.
Dan, salah satu unsur terpenting dari strategi pencapaian faragh adalah pendahuluan atau pemanasan yang dalam bahasa asing disebut foreplay (isti’adah). Pemanasan yang cukup dan akurat, menurut para pakar seksologi, akan mempercepat wanita mencapai faragh.
Karena dianggap amat penting, pemanasan sebelum berjima’ juga diperintahkan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Beliau bersabda,
“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu.” (HR. At-Tirmidzi).
Ciuman dalam hadits diatas tentu saja dalam makna yang sebenarnya. Bahkan, Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, diceritakan dalam Sunan Abu Dawud, mencium bibir Aisyah dan mengulum lidahnya. Dua hadits tersebut sekaligus mendudukan ciuman antar suami istri sebagai sebuah kesunahan sebelum berjima’.

Ketika Jabir menikahi seorang janda, Rasulullah bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak menikahi seorang gadis sehingga kalian bisa saling bercanda ria? …yang dapat saling mengigit bibir denganmu.” HR. Bukhari (nomor 5079) dan Muslim (II:1087).

Bau Mulut

Karena itu, pasangan suami istri hendaknya sangat memperhatikan segala unsur yang menyempurnakan fase ciuman. Baik dengan menguasai tehnik dan trik berciuman yang baik, maupun kebersihan dan kesehatan organ tubuh yang akan dipakai berciuman. Karena bisa jadi, bukannya menaikkan suhu jima’, bau mulut yang tidak segar justru akan menurunkan semangat dan hasrat pasangan.

Sedangkan rayuan yang dimaksud di atas adalah semua ucapan yang dapat memikat pasangan, menambah kemesraan dan merangsang gairah berjima’. Dalam istilah fiqih kalimat-kalimat rayuan yang merangsang disebut rafats, yang tentu saja haram diucapkan kepada selain istrinya.
Selain ciuman dan rayuan, unsur penting lain dalam pemanasan adalah sentuhan mesra. Bagi pasangan suami istri, seluruh bagian tubuh adalah obyek yang halal untuk disentuh, termasuk kemaluan. Terlebih jika dimaksudkan sebagai penyemangat jima’. Demikian Ibnu Taymiyyah berpendapat.
Syaikh Nashirudin Al-Albani, mengutip perkataan Ibnu Urwah Al-Hanbali dalam kitabnya yang masih berbentuk manuskrip, Al-Kawakbu Ad-Durari,

“Diperbolehkan bagi suami istri untuk melihat dan meraba seluruh lekuk tubuh pasangannya, termasuk kemaluan. Karena kemaluan merupakan bagian tubuh yang boleh dinikmati dalam bercumbu, tentu boleh pula dilihat dan diraba. Diambil dari pandangan Imam Malik dan ulama lainnya.”
Berkat kebesaran Allah, setiap bagian tubuh manusia memiliki kepekaan dan rasa yang berbeda saat disentuh atau dipandangi. Maka, untuk menambah kualitas jima’, suami istri diperbolehkan pula menanggalkan seluruh pakaiannya. Dari Aisyah RA, ia menceritakan, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah dalm satu bejana…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seyogyanya suami istri mengetahui dengan baik titik-titik yang mudah membangkitkan gairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan sebuah komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami istri, untuk menemukan titik-titik tersebut, agar menghasilkan efek yang maksimal saat berjima’.

Diperbolehkan bagi pasangan suami istri yang tengah berjima’ untuk mendesah. Karena desahan adalah bagian dari meningkatkan gairah. Imam As-Suyuthi meriwayatkan, ada seorang qadhi yang menggauli istrinya. Tiba-tiba sang istri meliuk dan mendesah. Sang qadhi pun menegurnya. Namun tatkala keesokan harinya sang qadhi mendatangi istrinya ia justru berkata, “Lakukan seperti yang kemarin.”
Satu hal lagi yang menambah kenikmatan dalam hubungan intim suami istri, yaitu posisi bersetubuh. Kebetulan Islam sendiri memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada pemeluknya untuk mencoba berbagai variasi posisi dalam berhubungan seks. Satu-satunya ketentuan yang diatur syariat hanyalah, semua posisi seks itu tetap dilakukan pada satu jalan, yaitu farji. Bukan yang lainnya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Istri-istrimu adalah tempat bercocok tanammu, datangilah ia dari arah manapun yang kalian kehendaki.” QS. Al-Baqarah (2:223).

Posisi Ijba’

Menurut ahli tafsir, ayat ini turun sehubungan dengan kejadian di Madinah. Suatu ketika beberapa wanita Madinah yang menikah dengan kaum muhajirin mengadu kepada Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, karena suami-suami mereka ingin melakukan hubungan seks dalam posisi ijba’ atau tajbiyah. Ijba adalah posisi seks dimana lelaki mendatangi farji perempuan dari arah belakang. Yang menjadi persoalan, para wanita Madinah itu pernah mendengar perempuan-perempuan Yahudi mengatakan, barangsiapa yang berjima’ dengan cara ijba’ maka anaknya kelak akan bermata juling. Lalu turunlah ayat tersebut.

Terkait dengan ayat 233 Surah Al-Baqarah itu Imam Nawawi menjelaskan, “Ayat tersebut menunjukan diperbolehkannya menyetubuhi wanita dari depan atau belakang, dengan cara menindih atau bertelungkup. Adapun menyetubuhi melalui dubur tidak diperbolehkan, karena itu bukan lokasi bercocok tanam.” Bercocok tanam yang dimaksud adalah berketurunan.
Muhammad Syamsul Haqqil Azhim Abadi dalam ‘Aunul Ma’bud menambahkan, “Kata ladang (hartsun) yang disebut dalam Al-Quran menunjukkan, wanita boleh digauli dengan cara apapun : berbaring, berdiri atau duduk, dan menghadap atau membelakangi..”
Demikianlah, Islam, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, lagi-lagi terbukti memiliki ajaran yang sangat lengkap dan seksama dalam membimbing umatnya mengarungi samudera kehidupan. Semua sisi dan potensi kehidupan dikupas tuntas serta diberi tuntunan yang detail, agar umatnya bisa tetap bersyariat seraya menjalani fitrah kemanusiannya.

Sumber : Sutra Ungu, Panduan Berhubungan Intim Dalam Perspektif Islam, karya Abu Umar Baasyir
hadapi semua masalah yang ada pada hidup kita dengan senyuman dan menangislah hanya untuk Allah.Swt

Offline retnoarum

  • Moderator
  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2007
  • Tulisan: 4.113
  • Lokasi: Bekasi
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #17 pada: 12 September 2009, 23:04:54 »
Pembahasan Kedua : TENTANG ORGASME

Puncak dari ajaran Agama Islam adalah Jihad Fii sabilillah, karena disebut sebagai puncak ajaran agama maka kedudukan jihad menjadi demikian tinggi, dan perintah untuk melaksanakan juga demikian kuat. dengan demikian jihad menjadi bagian dari ibadah seseorang muslim dimana hukum, adab, etika, dan tata caranya harus di pelajari secara mendetail sebelum siapapun diantara kita melakukannya.

Hubungan seks juga memiliki puncak.Puncak dari hubungan seks ini disebut Orgasme. Maka, demikian besarlah kedudukan sebuah Orgasme bagi siapapun yang berhubungan seks. Saat Islam menetapkan syariat hubungan intim antara pasangan suami istri yang sah, saat itu pula Islam meletakkan pencapaian orgasme oleh masing-masing pasutri menjadi bagian terpenting.

Usamah bin Malik bin Abdurrazaq menjelaskan, "Sesungguhnya banyak sekali terjadi percekcokan antara suami istri karena persoalan terburu-buru melakukan hubungan seks. Contohnya, seorang suami menyetubuhi istrinya saat sudah mencapai ejakulasi, Ia meninggalkan istrinya tersebut padahal si istri sudah demikian inginnya. Itu adalah sikap yang culas. kalau kita memiliki keinginan menunaikan hajat dan menikmati istri. istri pun harus memiliki keinginan yang sama "

Artinya, masing-masing ingin mencapai kepuasan sebuah hubungan seks yang biasa di sebut orgasme. dalam bahasa Arab sering di sebut dengan istilah faraagh.

Tidak setiap hubungan seks mampu menghasilkan orgasme. Banyak hal yang mempengaruhi padahal orgasme menempati posisi yang demikian vital dalam sebuah kehidupan rumah tangga antara pasutri. Orgasme juga merupakan salah satu tujuan pasangan suami istri melakukan hubungan seks. Banyak orang yang tidak mengerti, tidak mau mengerti dan tidak memperhatikan hal ini. karena berbagai hal. Bisa karena tidak tahu, tidak mampu, atau sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap hal ini.

Ketidaktahuan bisa disebabkan kurangnya wawasan yang berkaitan dengan hubungan seks pasutri. yang di maksud dengan wawasan seks di sini yaitu pengetahuan tentang seluk beluk, adab-adab, dan hukum berhubungan seks menurut islam. Banyak kalangan menganggap bahwa soal kepuasan dan kebutuhan seks tidak perlu di kaji. Sehingga jadilah mereka sebagai sosok - sosok yang demikian sempit pandangannya tentang hubungan seks. Sikap itu, amatlah jauh dengan sikap para ulama islam.

Imam Ath-Thabari menjelaskan, "Imam Al-Laits menceritakan,'kami pernah berdialog dengan Mujahid tentang bagaimana seorang suami menggauli istrinya yang sedang haid. beliau (Mujahid) mejelaskan,"Tekankan saja "kemaluan" pada sela-sela paha, pantat, atau pusar, asalkan tidak dimasukkan ke dalam anus atau vagina yang sedang haid. Riwayat yang sama juga di nukilkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya.

Perhatikanlah bagaimana seorang mujahid menjelaskan detil yang dimaksud didalam hadits tersebut. dan ternyata, para Tabi'in juga perlu berdialog tentang maksud tersebut, padahal mereka adalah orang-orang berilmu. dan perhatikan juga bahwa imam Ath-Thabari mengutip dialog itu, membicarkan secara detail hubungan seks dalam tafsirnya. Hal itu sama sekali tidak tabu karena beliau dalam proses menjelaskan hukum, adab, dan etika. tidak lebih.

Soal ketidakmampuan biaasa di sebabkan oleh faktor kelemahan fisik atau ketidaknormalan fungsi dari organ-organ seks. Bisa juga karena faktor ketidakharmonisan hubungan keseharian (marital disharmoni) yang membias pada aktivitas hubungan seks. Bila itu terjadi, maka harus segera di carikan solusi.

Adapun ketidakpedulian, amat mungkin di sebabkan karena frigiditas, kurangnya sifat romantis atau kendala-kendala psikis yang menyebabkan ketidakpedulian terhadap masalah seks.Bisa juga, sekali lagi, karena anggapan bahwa seks itu memang tidak perlu di kaji secara rinci.

jika orgasme tatkala berhubungan seks tidak mampu diraih dalam sebuah hubungan seks suami istri hubungan seks bisa berubah menjadi sebuah kewajiban yang amat menyiksa. Suami istri yang tidak mampu meraih orgasme tatkala berhubungan seks biasanya akan mengalami tekanan jiwa yang cukup berat, apalagi jika tidak ada keterbukaan diantara keduanya. Bagaimana jadinya jika sebuah aktivitas yang seharusnya mampu memberikan sebuah kenikmatan tersendiri berubah menjadi sesuatu yang berat lagi menyiksa? Hal itu amatlah tidak dianjurkan dalam islam. dan jangan menganggap itu hanya persolana kecil. karena Nabi SAW sudah menegaskan,
  "Segala sesuatu yang berbahaya untuk diri sendiri atau membahayakan orang lain hukumnya dilarang"

Pada Pria, Orgasme biasanya di tandai dengan terjadinya ejakulasi. Ejakulasi atau pelepasan semen(mani) akan disertai dengan apa yang biasa disebut kenikmatan seks. Sedangkan pada kaum wanita, Orgasme diyakini mampu menimbulkan sebuah sensasi nikmat yang luar biasa sebagaimana bisa diibaratkan sebagai gempa kecil. Orgasme, bagi pria dan wanita, biasanya diakhiri dengan mengendurkan seluruh syaraf tubuh sehingga kerap kali menyebabkan kelelahan hebat, disamping kenikmatan yang dicapai.

Pada dasarnya orgasme akan tercapai bila terdapat rangsangan seks yang cukup. Apabila seseorang terangsang, dan rangsangan yang diterima secara berkesinambungan pasti akan melalui sebuah siklus yang disebut dengan siklus reaksi seks. siklus ini memiliki 4 fase (sama antara laki-laki dan wanita)


===Bersambung======