Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Rabu, 23 Mei 2012/2 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:56 - Shubuh 4:33:20 - Terbit 5:55:23 - Dzuhur 11:49:41 - Ashar 15:11:42 - Maghrib 17:44:02 - Isya' 18:57:35 WIB

Penulis Topik: Mengajarkan Tauhid Pada Anak Usia Dini  (Dibaca 1864 kali)


Offline Indra Hidayat Pohan

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 103
  • Lokasi: sumut
  • Jenis kelamin: Pria
  • transformasi
    • Lihat Profil
« pada: 13 September 2007, 16:36:56 »
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu,

Selamat menunaikan shaum,

Buat semua saudara yang telah berumah tangga maupun yang mau berumah tangga, tread ini ku awali karena terbenturnya aku kepada jawaban yang tepat untuk setiap pertanyaan yang di ajukan anakku sejak dia bisa berbicara sampai saat ini. Ada-ada saja pertanyaan yang terkadang aku belum siap dengan jawaban-jawab yang pantas dan masuk akal. Jadi disini aku mengundang rekan-rekan berbagi pengalaman menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan balita kepada kita.

Untuk fairnya ku awali dengan pertanyaan anakku :

Kok foto ma Ata ngak ada di foto undangan mama? ( anaku menanyakan dimana dia saat pesta pernikahan ayah dan ibunya)
untuk pertanyaan ini ibunya menjawab dengan jelas," Mas Rakha belum dilahirkan"
Dua hari kemudian dia bertanya lagi "papa tok pandil adek te mama, mama tan butan adek papa"
aku menjawabnya sedikit pengandaian, aku bilang karena papa lebih tua dari mama, kan mas Rakha lebih tua dari adik Attala jadi manggilnya adik Attala
Dan tadi pagi dia bertanya kepada ibunya. " Ma Allah itu dimana ? kalau dilangit kan nanti jatuh ya kan ? istriku belum menjawabnya dan dengan bijak dia menjawab nanti aja ya kita tanya ke papa kalau udah pulang.

Nah saudaraku.... jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan ini.....
trus silahkan berbagi cerita lainnya. :) :)


Molo giot sonang to iba, ingkon mangalehen sonang to halak na lain.

Offline maloo

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 192
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 13 September 2007, 19:56:24 »
Ternyata being a parent ngga mudah, yach .. harus punya "parenting skills". Untuk tahu seberapa mengerti si anak akan pertanyaan sendiri, dan jawaban apa yg terbaik utk pertanyaan tsb. Terkadang orang tua harus punya kemampuan khusus berkomunikasi dalam lingkup daya imajinasi dan pikiran si anak tadi.

Kalau boleh tahu .. anaknya usia berapa tahun, Pak Indra ..

Offline Anis_WN

  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.461
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 14 September 2007, 10:31:43 »
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu,

Selamat menunaikan shaum,
Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
Sama2... Semoga shaum kita tahun ini termasuk shaum yg sukses... Amien.

Dua hari kemudian dia bertanya lagi "papa tok pandil adek te mama, mama tan butan adek papa"
aku menjawabnya sedikit pengandaian, aku bilang karena papa lebih tua dari mama, kan mas Rakha lebih tua dari adik Attala jadi manggilnya adik Attala
Kalo saya yg njawab seperti itu, bisa berantakan logikanya. Kenapa? Karena saya lebih muda dari istri saya... ;)

Bilang aja panggilan 'adik' tidak selamanya menunjukkan hubungan 'tua-muda' ada kalanya juga untuk panggilan sayang.

Dan tadi pagi dia bertanya kepada ibunya. " Ma Allah itu dimana ? kalau dilangit kan nanti jatuh ya kan ? istriku belum menjawabnya dan dengan bijak dia menjawab nanti aja ya kita tanya ke papa kalau udah pulang.
Untuk anak kecil, jawaban 'di langit' itu sudah lumayan membantu. Makin gede si anak dan makin tahu dia akan model/struktur alam semesta yg tidak 'datar', maka sedikit demi sedikit konsep 'Allah ada di atas' atau 'Allah ada di langit' itu wajib diluruskan/dibenahi lagi.

Masalah jatuh atau tidak, anda bisa bilang bahwa memang Allah tidak akan jatuh ke bumi. Ingat, Allah bukan makhluk, tetapi Khalik. Yg makhluk saja, tidak semuanya lantas bisa jatuh ke bumi. Coba lihat awan atau balon gas. Mereka tidak jatuh ke bumi, kan? (minimal tidak langsung; tapi mungkin suatu saat). Tapi memang agak susah kalo tanya jawabnya tidak interaktif dgn anak. Karena pikiran anak dgn pikiran orang tua agak beda.

Wallahua'lam



Akan lebih baik kalo thread ini disatukan dgn http://myquran.org/forum/index.php/topic,13750.0.html. Gimana, mod? ;)
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline Indra Hidayat Pohan

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 103
  • Lokasi: sumut
  • Jenis kelamin: Pria
  • transformasi
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 14 September 2007, 11:54:09 »
@Maloo

Mas Rakha umurnya sekarang 3 tahun, tgl lahir 13 mei 2004
Molo giot sonang to iba, ingkon mangalehen sonang to halak na lain.

Offline Indra Hidayat Pohan

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 103
  • Lokasi: sumut
  • Jenis kelamin: Pria
  • transformasi
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 14 September 2007, 11:58:51 »
Ass,
@Anis_Wn

Thank's ya membuka dan mencerahkan jawaban ke anakku,
tapi kalau ada pengalaman dibagi dong disini.
Molo giot sonang to iba, ingkon mangalehen sonang to halak na lain.

Offline Anis_WN

  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.461
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 14 September 2007, 13:00:33 »
Kutip dari: Indra Hidayat Pohan
Thank's ya membuka dan mencerahkan jawaban ke anakku,
tapi kalau ada pengalaman dibagi dong disini.

Sama2... ;) Sebetulnya di sini saya juga pengen belajar, kok... Biar sama2 dapet ilmu, gitu...

Sebetulnya, tadi pagi waktu sahur malah saya test ke anak saya yg di TK.

Saya: Allah ada di mana?
Anak: Ada di langit.
Saya: Nanti bisa jatuh, donk?
Anak: (mikir2; terus njawab lagi) Kan Allah bisa terbang.
Saya: :wataw: (malah ngaco jawabannya...)


Kesimpulannya, jangan terlalu memaksa anak untuk main logika. Apalagi menyangkut dzat Allah. Biarkan saja mengalir sedikit demi sedikit. Walaupun anak saya tahu bahwa bumi itu bulat. Plus model tata suryanya. Dia masih berpikiran bahwa bumi yg dia tempati itu datar adanya. Dan "Allah ada di atas sana" adalah suatu yg logis bagi dia. Jawaban "bisa terbang" itu karena dia kita 'paksa'. Akhirnya dng terpaksa lagi saya musti koreksi bahwa "Allah tidak sama dgn makhlukNya". Dan Allah gak akan jatuh ke bumi.

Eh, gak bbrp lama dia ngomong lagi...

Anak: Pa, masak kata si X (nama temennya) Allah itu perempuan...

Silakan ditanggapi omongan anak itu... ;)
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline Indra Hidayat Pohan

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 103
  • Lokasi: sumut
  • Jenis kelamin: Pria
  • transformasi
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 14 September 2007, 13:41:26 »
Kutip dari: anis_wn
Anak: Pa, masak kata si X (nama temennya) Allah itu perempuan...

Silakan ditanggapi omongan anak itu... ;)

wah-wah ternyata gelombang didepanku makin besar, bersyukur ada forum ini jadi bisa berbagi.

untuk kasus anak Mas Anis, aku gak berani gegabah, mungkin yang lain bisa bantu.
« Edit Terakhir: 21 Maret 2009, 10:47:57 oleh anis_wn »
Molo giot sonang to iba, ingkon mangalehen sonang to halak na lain.

Offline Anis_WN

  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.461
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 25 September 2007, 16:58:52 »
wa'alaikum salam wr wb,

Mas indra, bagian mana yg bikin anak2 bingung? Bisa dijelaskan masalahnya?

Selama ini saya kalo cerita yg begitu2 ke anak2, mereka gak terlalu bingung, kok. Kalo dah masalah yg abstrak, bisa jadi anak2 bingung. Kalo hal yg nyata, biasanya gak bikin bingung. Kalo terjadi tanya jawab panjang, itu wajar. Namanya aja pengen tahu.

:)
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline Indra Hidayat Pohan

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 103
  • Lokasi: sumut
  • Jenis kelamin: Pria
  • transformasi
    • Lihat Profil
« Jawab #8 pada: 03 Oktober 2007, 09:43:44 »
Assalamualikum,

Yah agak susah juga menyebutkan bagian yang membuat anak bingung. karena buat mas Anis mungkin itu wajar untuk anak-anak, namun buat saya mungkin terlalu cepat. Namun bukan berarti saya merasa jadi hakim yang paling tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi anak saya. hanya sedang berusaha berperan sebagai ayah dengan alam demokrasi yang bertanggung jawab. namun begitupun saya yakin sharing dari mas Anis pada akhirnya berguna untuk saya nantinya.
maksud saya hanya membuka cakrawala kita untuk berbagi secara ilmiah buat orang tua dan secara bijak buat kepentingan perkembangan anak-anak kita.
Molo giot sonang to iba, ingkon mangalehen sonang to halak na lain.

Offline Indra Hidayat Pohan

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 103
  • Lokasi: sumut
  • Jenis kelamin: Pria
  • transformasi
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 10 Desember 2007, 15:55:09 »
Assalamualikum, wr, wb.

Akhirnya pertanyaan yang mirip cerita mas Anis terlontar juga dari bibir mungil anakku,
Kutip

Anak: Pa, masak kata si X (nama temennya) Allah itu perempuan...

Silakan ditanggapi omongan anak itu... ;)


"Mbah...Allah itu laki-laki atau perempuan ?!!!!!!!" tanya anakku kepada ibu mertuaku. Saat ini anaku tinggal dengan mertuaku di Medan, sedangkan aku dan istri sementara tinggal di P. Siantar. Syukur mbahnya pintar ngeles. " nanti ya kita tanya sama papa kalau udah pulang, mbah kok jadi lupa ya......aduuh dasar mbah-mbah udah tua."
Dan hari itu juga ibu mertuaku menelepon kami tanpa sepengetahuan anakku.

Aku bersyukur masih diberi kesempatan waktu untuk mencari jawaban yang bijak dalam seminggu ini. Namun terus terang aku butuh masukan dari saudara-saudaraku sekalian. maka tread ini kukunjungi lagi dengan harapan aku peroleh jawaban yang pantas untuk anak umur 3.5 tahun.

Wassalam.
Molo giot sonang to iba, ingkon mangalehen sonang to halak na lain.

Offline Anis_WN

  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.461
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 10 Desember 2007, 18:06:15 »
Bang Indra,

Jawab saja bahwa Allah lain dgn makhlukNya. Kalo makhluknya mengenal apa yg disebut 'pasangan', maka Allah tidak. Itu juga karena Allah itu Tunggal. Apa gunanya 'jenis kelamin' bagi Allah, sedangkan Dia sendiri tidak perlu yg lainnya?

Tinggal diramu jadi bahasa anak2, aja. Semoga Allah memberi kemudahan anak antum nerima penjelasan itu.

;)
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline hadiid

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 5.316
  • Lokasi: zone death -or- the fox city
  • Jenis kelamin: Pria
  • close your eyes, you might see something beautiful
    • Lihat Profil
    • Everythings with sabar.. ikhlas.. loves.. hopes..
« Jawab #11 pada: 10 Desember 2007, 18:21:04 »
thread yg bagus n menarik.. :)
ikut menyimak ah.. buat persiapan klo dah punya anak :D
we are watching.. 8-)
[hanya orang yang berani mendaki yang akan mencapai puncak -- 59d]


Offline Indra Hidayat Pohan

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 103
  • Lokasi: sumut
  • Jenis kelamin: Pria
  • transformasi
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 12 Desember 2007, 14:27:59 »
Assalamualaikum, wr, wb.

thx buat mas Anis yang selalu siap memberi pandangan dan berbagi pendapat.

omong-omong ada yang lain gak ya dari saudara-saudaraku sekalian ?

Molo giot sonang to iba, ingkon mangalehen sonang to halak na lain.

Offline biru-hati

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2008
  • Tulisan: 392
  • Lokasi: Taman Wisma Asri
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 26 Juni 2008, 20:50:34 »
Era gobalisasi memunculkan banyak dampak, baik positif maupun negative. Di satu sisi perkembangan iptek makin meningkat, tetapi di sisi lain membawa banyak krisis, terutama pada moral. Maka tidak heran, samkin hari tingkat kriminalitas, seks bebas, dsb kian meningkat.

Hal ini tentunya perlu mendapatkan perhatian dari setiap orangtua muslim yang ingin mendapatkan masa depan yang baik bagi putra putrinya. Sebagaimana disampaikan dalam QS. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah dengan membentengi anak dengan perisai tauhid sejak dini.

Mengenalkan tauhid kepada anak sejak dini merupakan satu-satunya pilihan yang trepat bagi orangtua muslim. Karena dengan demikian, anak dapat membentengi dirinya sendiri dengan merasakan adanya pengawasan Allah SWT dimanapun mereka berada. Dengan tauhid, anak juga  tidak akan merasa putus asa menghadapi kesulitan dalam hidup karena pertolongon Allah SWT selalu ada.

Lantas apa yang dapat dilakukan orangtua untuk mengajarkan tauhid kepada anak sejak dini? Banyak hal sederhana yang sebenarnya dapat dilakukan untuk menanamkan mereka nilai-nilai tauhid sejak dini, diantaranya :
1.   Mulailah dengan mengajak anak mengamati apa yang ada di sekitarnya, seperti matahari yang terbit dan terbenam, bintang dan bulan di langit, ajak mereka mengenal penciptanya yakni Allah SWT.

2.   Bila melarang anak, upayakan untuk tidak mengancamnya dengan dosa, neraka dan hal-hal menakutkan lainnya. Pola pikir anak yang konkret operasional cenderung sulit untuk memahami makna dosa, neraka, dsb. Cukup berikan mereka penjelasan konkret yang dapat diterima oleh pikirannya, misalnya untuk melarang anak mencuri, cukup berikan mereka penjelasan bahwa hal tersebut dapat menyakiti orang lain karena berarti mengambil hak yang bukan miliknya.

3.   Apabila anak melakukan kesalahan, bantu mereka untuk menemukan jalan untuk memperbaiki kesalahannya, tanpa harus mengancam dengan dosa, neraka dan sebagainya, karena hal tersebut akan membuat persepsi anak negatif terhadap Islam.

4.   Sertakan anak saat menjalankan ibadah sehari-hari, seperti sholat berjamaah, kegiatan pengajian, dsb. Jelaskan pula hikmah yang bisa mereka dapatkan dari ibadah yang di jalankan. Dengan demikian, mereka akan semakin akrab dengan aktivitas keagamaan.

5.   Dalam memilih hiburan, upayakan untuk memberikan anak tayangan-tayangan yang tidak merusak aqidah. Tanamkan kepada mereka bahwa rasa takut hanya kepada Allah SWT, bukan kepada setan atau mahluk Allah lainnya. Janganlah salah mendidiknya dengan mengatakan ”Nak, nih bunda pasangin ayat kursi biar setan takut dan gak ganggu kamu”. Bila kita berbuat demikian, maka anak pun akan berpikir bahwa yg melindunginya adalah tulisan ayat kursi bukan Allah, jadi ayat kursi ini berposisi seperti jimat hanya di pajang dan dibawa-bawa.

6.   Ajarkan anak untuk berdoa sebelum melakukan aktivitas, sampaikan kepada mereka bahwa berdoa berarti memohon pertolongan dan kelancaran kepada Allah SWT atas aktivitas yang hendak dijalankan. Jangan lupa sesudahnya mengucapkan kalimat hamdallah sebagai salah satu wujud kesyukuran.

7.   Bimbing anak untuk mensyukuri segala nikmat yang diberikan agar mereka tidak menuntut apa-apa yang tidak ada. Pahamkan juga kepada mereka bahwa untuk memperoleh sesuatu, seseorang harus mau berusaha dan berdoa karena Alloh SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak bersuaha mengubahnya.
Lewat beberapa kiat diatas, diharapkan generasi muda Islam masa depan dapat lahir dengan pilar keimanan yang kokoh sehingga mampu membentengi diri dari pengaruh negatif perkembangan globalisasi. Amin. Allahua’lam.
www.biruhati.multiply.com
www.praktisimaya.multiply.com

cv. PRAKTISI MAYA GRUP <Percetakan, Offset, Setting/Lay-out, Konveksi Aneka Tas, Digital Printing>

Offline ~ayu_nasheeta~

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.017
  • Lokasi: Selatan Jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #14 pada: 23 Januari 2009, 20:38:57 »
Makasi, Pak Anis!

Kalo ga dinaikin, aku ga akan tahu ada thread bagus ini. :topOK:
\"The deeds most loved by Allah swt (are those) done regularly, even if they are small\". (Bukhari, Muslim)

Offline Anis_WN

  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.461
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #15 pada: 24 Januari 2009, 00:01:15 »
Malam ini tadi, kami ngobrol masalah korupsi. Panjang lebar. Penyebabnya adalah karena ortu salah satu temen si anak males jadi pegawai negri. Si bapak gak mau ngasih makan anaknya dari jln yg haram. O0

Semoga Allah merestui niat si bapak utk bisa ngasih makan dari jln yg baik. Amien...
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline hakimrie

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 2.052
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • Freedom for Palestine
    • Lihat Profil
    • hakim
« Jawab #16 pada: 28 Januari 2009, 07:08:55 »
ada yang kurang di paragraf ke dua
Kutip
Hal ini tentunya perlu mendapatkan perhatian dari setiap orangtua muslim yang ingin mendapatkan masa depan yang baik bagi putra putrinya. Sebagaimana disampaikan dalam QS. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah dengan membentengi anak dengan perisai tauhid sejak dini.

QS? quran surat berapa, ayat berapa?
jazaakallah
~{Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari ini}~
Pernikahan Ochie & Hakim

Offline Anis_WN

  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.461
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #17 pada: 28 Januari 2009, 08:48:10 »
ada yang kurang di paragraf ke dua
QS? quran surat berapa, ayat berapa?
jazaakallah

Mungkin salah satunya bisa kita temukan di surat Luqman lengkap. Untuk nasihat Luqman pada anaknya, bisa dilihat mulai ayat 12. Terutama untuk nasihat tauhid dari Luqman pada anaknya ada di ayat 13. Bagaimana cara kita berhadapan dgn orang tua kalo dibandingkan dgn Allah, ada di ayat 14-15, dst...

Wallahua'lam...
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline hakimrie

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 2.052
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • Freedom for Palestine
    • Lihat Profil
    • hakim
« Jawab #18 pada: 28 Januari 2009, 08:53:28 »
jazaakallah khaiyran pak Anis.
~{Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari ini}~
Pernikahan Ochie & Hakim

Offline abie1102

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 8.361
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • isyhadu bi anna muslimun
    • Lihat Profil
« Jawab #19 pada: 08 April 2009, 16:08:23 »
Eh, budhenya Danu... Kalo si Danu ngeyel dibilangin 'gak ada' setan dan dia malah bilang Allah juga gak ada. Balikin aja ke dia, "Emang setannya mana?" Jadi, gak ada bedanya antara film horor itu dan film kartun, tho? Semuanya hanya cerita bohong bikin2an orang. Dan setan itu 'gak ada'. Oleh karena itu gak perlu ditakutkan.

;)

Untuk anak yang cerdas itu gak berlaku pak malah lebih buruk kalo dia menyimpulkan "Wah, kalo gitu Allah beneran gak ada ya ..."

Kalo untuk menolak pernyataan "Allah gak ada" jangan menganalogikan dengan setannya.

Danu    : Allahnya mana?? gak ada tuh ...
Ayyash : Lha, setannya mana?? Gak ada juga khan ...
Danu    : Berarti Allah emang gak ada ya ...
Ayyash : :marah:

 :hihi: :hihi: :hihi:

[abie belom ngalamin nih menghadapi anak yang begini ...  :hihi:]

Offline putih-melati

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 4.169
  • Lokasi: Tangerang
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #20 pada: 08 April 2009, 16:30:06 »
@ abie...

wah saya sering denger cerita ayyash mengenai danu... ceritanya lucu-lucu banget :hihi:

Offline ayyashiyahya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 12.068
  • Lokasi: Kemayoran poreper!
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Khoirukum Anfauhum Linnas
    • Lihat Profil
    • Ghandokkoe Ngepul
« Jawab #21 pada: 08 April 2009, 16:40:45 »
@abie
pernah dibalikin gituh,trus sayah jawab *sambil bingung* Allah itu ada. kan ada bumi, langit,dll.
dia balik nanyah : ada di langit ya ,budhe? *pertanyaan klasik anak kecil*
aku jawab : bukan...*sambil nyari2 kata yang pas*
danu : di mana, budhe?"
Sayah : ya pokoknya ada, danu nanti juga ngerti. *soale kalo aku jelaskeun dia bakal gak ngerti,sih* :P

pertanyaan ituh selalu di ulang-ulang dan kok yo apes banget pas dia nanyah, pas aku aku gak onlen. kalo pas onlen pan sayah bisa nanyah ke mbah gugel ;D *maksute nyari bahasa yang pas*

Offline abie1102

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 8.361
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • isyhadu bi anna muslimun
    • Lihat Profil
« Jawab #22 pada: 08 April 2009, 16:48:00 »
@abie
pernah dibalikin gituh,trus sayah jawab *sambil bingung* Allah itu ada. kan ada bumi, langit,dll.
dia balik nanyah : ada di langit ya ,budhe? *pertanyaan klasik anak kecil*
aku jawab : bukan...*sambil nyari2 kata yang pas*
danu : di mana, budhe?"
Sayah : ya pokoknya ada, danu nanti juga ngerti. *soale kalo aku jelaskeun dia bakal gak ngerti,sih* :P

pertanyaan ituh selalu di ulang-ulang dan kok yo apes banget pas dia nanyah, pas aku aku gak onlen. kalo pas onlen pan sayah bisa nanyah ke mbah gugel ;D *maksute nyari bahasa yang pas*

:hmmm: abie musti belajar dolo neh, kalo ntar althaf nanya nanya begituan ...

Offline putih-melati

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 4.169
  • Lokasi: Tangerang
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #23 pada: 08 April 2009, 17:06:38 »
@ abie

tanya embah gugel, trus catet.. dibikin buku deh.. kalo althaf nanya tinggal buka halaman sekian..:hihi:

Offline Anis_WN

  • myQ Hero
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 24.461
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Be yourself, but don't be selfish.
    • Lihat Profil
« Jawab #24 pada: 08 April 2009, 17:28:44 »
Sebetulnya sih bukan gitu amat... ;)

Anak2 saya dulu juga suka nanya gitu, tapi nge'drive'nya beda. Jadi pertanyaannya juga lain. Setan juga kita gak bilang bahwa itu gak ada. Tapi mereka dah kena brain-wash dulu bahwa setan itu gak kayak di pilem2 itu.

;)
Manusia tak luput dari kesalahan. Ane manusia. Kesimpulan: Ane tak luput dari kesalahan. Mohon maaf bila ada kata yg salah. Dan... TKJSS

Offline nienie

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 3.497
  • Lokasi: Bekasi - Bandung
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Lihatlah dari sisi yang berbeda .^_^.
    • Lihat Profil
« Jawab #25 pada: 16 April 2009, 16:52:33 »
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

ada sebuah artikel menarik..
InsyaALLAH bisa jadi pelajaran bagi orang tua dan calon orang tua
semoga bermanfaat

Rasulullah saw. pernah mengingatkan, untuk mengawali bayi-bayi kita dengan kalimat laa ilaaha illallah."
Kalimat suci inilah  yang kelak akan membekas pada otak dan hati mereka
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
 
Kalau anak-anak itu kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak itu tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan –meskipun barangkali ada yang demikian—tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak. Kerapkali, anak-anak lebih sering mendengar asma ALLAH dalam suasana menakutkan.

Mereka mengenal ALLAH dengan sifat-sifat jalaliyah-Nya, sementara sifat jamaliyah-Nya hampir-hampir tak mereka ketahui kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka barbie. Maka tak salah kalau kemudian mereka menyebut nama ALLAH hanya di saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian datang menghampiri orang-orang tersayang.
Astaghfirullahal 'adziim…

Anak-anak kita sering mendengar nama ALLAH ketika mereka sedang melakukan kesalahan, atau saat kita membelalakkan mata untuk mengeluarkan ancaman. Ketika mereka berbuat "keliru" –meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita—asma ALLAH terdengar keras di telinga mereka oleh teriakan kita, "Ayo…. Nggak boleh! Dosa!!! ALLAH nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa."

Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka, kita berteriak, "E… nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba…? Muba…? Mubazir!!! Mubazir itu temannya setan. Nanti ALLAH murka, lho."

Setiap saat nama ALLAH yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diperintahkan untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara "mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari". Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan.

Sama seperti penggunaan kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan di saat membutuhkan pertolongan. Mereka "menjauh" karena telanjur memiliki kesan negatif yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; ALLAH dan rasul-Nya. Na'udzubillahi min dzalik.

Rasanya, telah cukup pelajaran yang terbentang di hadapan mata kita. Anak-anak yang dulu paling keras mengumandangkan adzan, sekarang sudah ada yang menjadi penentang perintah Tuhan. Anak-anak yang dulu segera berlari menuju tempat wudhu begitu mendengar suara batuk bapaknya di saat maghrib, sekarang di antara mereka ada yang berlari meninggalkan agama. Mereka mengganti keyakinannya pada agama dengan kepercayaan yang kuat pada pemikiran manusia, karena mereka tak sanggup merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Sebab, semenjak kecil mereka tak biasa menangkap dan merasakan kasih-sayang Allah.

Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan ALLAH kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apa pun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmalah. Kita ajari mereka menyebut nama ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya? ). Sehingga bertentangan apa yang mereka rasakan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.

Bercermin pada perintah Nabi saw. dan urutan turunnya ayat-ayat suci yang awal, ada beberapa hal yang patut kita catat dengan cermat. Seraya memohon hidayah kepada ALLAH atas diri kita dan anak-anak kita, mari kita periksa catatan berikut ini:
 
Awali Bayimu dengan Laa Ilaaha Illallah
 
Rasulullah saw. pernah mengingatkan, "Awalilah bayi-bayimu dengan kalimat laa ilaaha illaLlah."

Kalimat suci inilah yang perlu kita kenalkan di awal kehidupan bayi-bayi kita, sehingga membekas pada otaknya dan menghidupkan cahaya hatinya. Apa yang didengar bayi di saat-saat awal kehidupannya akan berpengaruh pada perkembangan berikutnya, khususnya terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang mengesankan.

Suara ibu yang terdengar berbeda dari suara-suara lain, jelas pengucapannya, terasa seperti mengajarkan (teaching style) atau mengajak berbincang akrab (conversational quality), memberi pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan bayi. Selain menguatkan pesan pada diri anak, cara ibu berbicara seperti itu juga secara nyata meningkatkan IQ balita, khususnya usia 0-2 tahun. Begitu pelajaran yang bisa saya petik dari hasil penelitian Bradley & Caldwell berjudul 174 Children: A Study of the Relationship between Home Environment and Cognitive Development during the First 5 Years.

Apabila anak sudah mulai besar dan dapat menirukan apa yang kita ucapkan, Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu 'Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah saw. berpesan:

"Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu.Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering." (HR. At-Tirmidzi) .

Dalam riwayat lain disebutkan, "Jagalah hak-hak ALLAH, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah ALLAH ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya ALLAH pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan."

Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Tak ada penolong kecuali ALLAH Yang Maha Kuasa; ALLAH yang senantiasa membalas setiap kebaikan. Tak ada tempat meminta kecuali Allah. Tak ada tempat bergantung kecuali ALLAH dan itu semua menunjukkan kepada anak bahwa tidak ada tuhan kecuali ALLAH.

Wallahu a'lam bishawab.
 
Iqra' Bismirabbikal ladzii Khalaq
 
Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan oleh-Nya kepada kita adalah al-Khaliq dan al-Karim, sebagaimana firman-Nya, "Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. " (QS. Al-'Alaq: 1-5).

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara.
Pertama, memperkenalkan ALLAH kepada anak melalui sifat-Nya yang pertama kali dikenalkan, yakni al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap wajah kita, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan pada mereka, bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya.

Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Dari sini kita ajak mereka menyadari bahwa ALLAH Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, "Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, ALLAH ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?"

Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan mereka, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran –bukan hanya pengetahuan—bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk ALLAH.

Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat kedua yang pertama kali diperkenalkan oleh ALLAH kepada kita, yakni al-Karim. Di dalam sifat ini berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah ALLAH dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya dan memuliakan mereka yang mulia.

Wallahu a'lam bishawab.

Yuk sama-sama menjadi orang tua yang berusaha untuk menjadikan anak-anak dan generasi kita berikutnya mencintai dan mengenali ALLAH  :)
" Proses Menjadi Baik Itu Panjang..Tapi Keputusan Untuk Memulai Menjadi Baik Hanya Memerlukan Waktu Beberapa Saat"

Offline wafa_lathifah

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2006
  • Tulisan: 256
  • Lokasi: di dunia nyata
  • a little baby...
    • Lihat Profil
« Jawab #26 pada: 16 April 2009, 17:00:06 »
Artikel bagus :) buku bunda neno warisman juga pernah membahas soal mengenalkan Allah pada anak. Dengan mengajak anak melihat pemandangan alam, merupakan peluang bagus mengenalkan ciptaan Allah. Bisa juga mengajak anak sholat berjamaah ke masjid :). Bahkan dalam keseharian kita, pasti ada kesempatan untuk mengenalkan Allah dan Islam pada anak.

Offline ayyashiyahya

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 12.068
  • Lokasi: Kemayoran poreper!
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Khoirukum Anfauhum Linnas
    • Lihat Profil
    • Ghandokkoe Ngepul
« Jawab #27 pada: 17 April 2009, 23:34:47 »
'alaikumusalam
thx artikelnyah.
mo cerita, suatu kali danu mbaca buku karangan pendeta gemblung, muhammad nurdin (yang aku dapet dari seorang misionaris keliling) *dolo beritanyah pernah kutulis di warnaislam*
buku itu judulnya "rahasia jalan ke surga"
danu tanya : Surga kayak gimana,sih,Budhe? ada di mana
saya : waktu itu lupa jawab apa tapi seingetku aku pernah bilang gini : ya, kita mati dulu untuk bisa ke surga.

nha tadi, dia liat buku ituh lagih.

Danu : budhe, kita mati dulu ya kalo mau masuk surga. Emang jalan ke surga gimanah,sih budhe?
Saya : jalan ke surga tuh mesti jadi anak pinter, anak baek bla bla...
Danu : (sambil liat buku yang covernya memang ada gambar jalannyah) Ini jalan ke rumah Allah ya, budhe?
saya : bukan
Danu : kayaknya iya,nih jalan ke rumah Allah. Tapi kok ada sawahnyah,ya...
saya : :terbahak:

nih gambar buku sesat tersebut



Offline maren

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.344
  • Lokasi: Ibu Kota RI
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Karena damai itu indah
    • Lihat Profil
    • I Love being a Nurse ^_~
« Jawab #28 pada: 25 April 2009, 14:58:16 »
Assalamualaikum wr wb..

Ada artikel bagus nigh, agak panjang tapi isinya keren O0

semoga bermanfaat :)

Kutip
Penulis: Ummu Rumman
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar

“Ummi, Ahmad pingin ke kamar mandi. Anterin ya Mi…”

Ummu Ahmad (bukan nama sebenarnya) kaget ketika suatu malam Ahmad, anaknya yang sudah berumur 10 tahun tiba-tiba minta diantarkan ke kamar mandi.

“Ahmad anak shalih… kok tumben minta diantar ke kamar mandi? Biasanya berani sendiri.”

“Ahmad takut ketemu hantu Mi…” kata Ahmad dengan wajah ketakutan.

Kisah ini mungkin sangat sering kita jumpai. Tak hanya anak kecil, bahkan banyak orang dewasa yang mengaku takut terhadap hantu. Masih banyaknya budaya dan kepercayaan terhadap hal-hal mistis yang bertentangan dengan syariat, ditambah lagi maraknya cerita maupun film-film misteri di tengah masyarakat semakin memperparah kerusakan dan mengikis keimanan.

Rasa takut anak kepada hantu, bagaimanapun harus mendapat perhatian khusus dari orang tua. Karena bila ketakutan sang anak tetap terpelihara, tak hanya membentuk mental penakut pada diri anak tetapi juga dapat mengurangi kesempurnaan tauhid yang sangat kita harapkan terbentuk pada diri sang anak.

Sekilas tentang Rasa Rakut (Khauf)

Sangat penting bagi orang tua untuk bisa melatih anak mengatur rasa takutnya. Bukan hanya sekedar agar anak menjadi pemberani, tetapi lebih karena rasa takut adalah bagian dari ibadah. Rasa takut adalah bagian dari rukun yang harus ada dalam ibadah, di samping rasa cinta dan harap.

Macam-macam takut

Ulama telah membagi rasa takut menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Takut ibadah atau disebut juga takut sirri (takut terhadap sesuatu yang ghaib).
Takut ibadah dibagi menjadi dua macam:

a. Takut kepada Allah, yaitu takut yang diiringi dengan merendahkan diri, pengagungan, dan ketundukan diri kepada Allah. Takut semacam inilah yang akan mendatangkan ketaqwaan dan ketaatan sepenuhnya kepada Allah. Oleh karena itu, rasa takut seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah semata karena merupakan salah satu konsekuensi keimanan.

Allah berfirman, yang artinya, “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran 175)

b. Takut kepada selain Allah, yaitu takut kepada selain Allah dalam hal sesuatu yang ditakuti itu sebenarnya tidak dapat melakukannya dan hanya Allah-lah yang dapat melakukannya. Takut semacam ini banyak terjadi pada berhala, takut pada orang mati, takutnya para penyembah kubur kepada walinya, dll. Rasa takut ini merupakan syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari keIslaman.

2. Takut yang haram, yaitu takut kepada selain Allah, yang bukan ibadah tetapi menyebabkan ia melakukan keharaman atau meninggalkan kewajiban. Takut semacam ini dapat mengurangi ketauhidan seseorang.

3. Takut thobi’i (normal). Yaitu takut pada hal-hal yang bisa mencelakakan kita (dengan izin dan kekuatan dari Allah). Misalnya, takut pada binatang buas, api, dll. Takut semacam ini wajar ada pada diri manusia dan dibolehkan selama tidak melampaui batas.

4. Takut wahm (khayalan), yaitu takut pada sesuatu yang sebabnya tidak jelas. Misalnya, takut pada hantu. Takut semacam ini tercela.

Seorang anak yang masih dalam fase pertumbuhan dan sedang mengalami masa belajar, ia mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan kadang disertai pula daya imajinasi yang tinggi. Oleh karena itu, ketika ia mendengar cerita tentang berbagai macam hantu entah dari berbagai media massa, atau dari orang-orang di sekitarnya, hal tersebut bisa menimbulkan rasa takut yang berlebihan. Apalagi bila sang anak pernah mengalami trauma karena ditakut-takuti temannya atau karena pernah mengalami gangguan jin.

Rasa takut kepada hantu atau setan, bisa mengantarkan kepada syirik akbar. Jika sampai membawa pada peribadatan kepada selain Allah. Bentuknya bermacam-macam, ada yang memberi sesajian agar tidak diganggu, membaca berbagai mantera, datang kepada dukun untuk meminta jimat, dan sebagainya.

Pada anak, mungkin tak sampai separah itu. Namun tak jarang kita dapati, karena rasa takut kepada hantu atau semacamnya, anak menjadi takut keluar kamar untuk mengambil wudhu pada pagi hari. Sang anak menjadi menunda-nunda waktu shalat Subuhnya. Ini hanyalah salah satu contoh. Tetapi sekali lagi, hal ini dapat mengurangi kesempurnaan tauhid sang anak.

Ketakutan anak bisa diperparah jika orangtuanya pun tidak paham syariat sehingga demi mengatasi rasa takut anaknya sehingga membawa anak pada kesyirikan. Misalkan menggantungkan jimat pada anak sehingga sang anak terus bergantung pada jimat tersebut hingga ia dewasa.

Cara Mengatasi Rasa Takut Anak kepada Hantu

Bagi orang tua sangat penting mengetahui bagaimanakah cara mengatasi ketakutan anak dengan cara yang sesuai syariat. Antara lain:

1. Tanamkanlah pada anak tauhid dan aqidah yang benar.
Cobalah cari tahu apa yang sebenarnya ditakutkan oleh sang anak pada saat keadaannya tenang. Rangsanglah anak dengan beberapa pertanyaan. “Adik takut hantu ya? Memangnya hantu itu apa sih?”
Jika sang anak menjawab bahwa hantu adalah pocong, genderuwo, nyi loro kidul, kuntilanak, atau semacamnya, jelaskan bahwa hantu-hantu semacam itu tidak ada sama sekali sehingga tidak perlu ditakutkan. Jika yang ditakutkan anak adalah orang mati, maka jelaskanlah bahwa orang mati takkan bisa memberi manfaat maupun bahaya bagi orang yang masih hidup.

Adapun jika sang anak telah mengerti bahwa yang dimaksud orang-orang dengan hantu adalah penjelmaan dari setan atau jin yang hendak mengganggu manusia, maka orangtua haruslah menjelaskan kepada anak bahwa tidak ada kekuatan yang paling kuat kecuali kekuatan Allah. Seluruh makhluk, termasuk jin dan setan di bawah pengaturan Allah. Ajarkan pada anak meskipun seluruh jin dan manusia ingin mencelakakannya, akan tetapi Allah tidak menakdirkannya, maka ia takkan celaka. Begitu pula sebaliknya.

Sungguh indah contoh yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menasehati Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu masih kecil.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata,

“Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya akan kuajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan bahaya terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan bahaya itu terhadapmu kecuali sesuatu yang Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Jelaskan pada anak pada hal apakah ia harus takut (yaitu takut kepada Allah), pada hal-hal apakah ia boleh takut tetapi tidak berlebihan dan hal-hal apa yang ia tidak boleh takut sama sekali. Hendaklah orang tua mengenalkan kepada anak-anaknya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena dengan pengenalan kepada Allah, seorang anak akan mengetahui keagungan Allah, keMahaKayaanNya, kekuasaan-Nya. Yang harus orang tua ingat, mengajarkan rasa takut kepada Allah juga harus disertai pengajaran rasa cinta dan harap kepada Allah. Sehingga hal ini menjadikan anak ikhlas dan giat dalam beramal serta tidak mudah putus asa.

2. Ajarkan wirid dan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ada banyak wirid dan doa yang bisa diajarkan pada anak. Misalnya, wirid pagi dan sore, doa sehari-hari seperti doa masuk WC, doa singgah di suatu tempat, doa hendak tidur, dll. Pilihlah bacaan wirid dan doa sesuai kapasitas kemampuan anak.

Tak hanya sekedar menghafal, tapi juga pahamkan mereka arti dari doa tersebut sehingga mereka mengamalkan doa-doa tersebut dengan penuh keyakinan akan manfaat doa bagi dirinya. Ajarkan pada anak bahwa doa dan wirid adalah senjata dan perisai bagi kaum mukmin. Karena itu, bila rasa takut menyerang, yang terbaik dilakukan adalah meminta perlindungan dan pertolongan Allah, Rabb seluruh makhluk. Sesekali ingatkan atau tanyakan pada anak arti dari doa tersebut. Sekaligus untuk mengetahui apakah sang anak sudah mengamalkan doa-doa tersebut ataukah belum.

3. Jauhkanlah anak dari hal-hal yang mendatangkan rasa takut kepada hantu.
Misalnya cerita misteri, patung dan lukisan makhluk bernyawa, dll. Cerita misteri atau berbau mistis kadang lebih menarik bagi anak karena imajinasi mereka yang tinggi dan masih belum terkontrol baik. Oleh karena itu, kenalkanlah anak dengan kisah-kisah para Nabi, sahabat-sahabat Rasulullah, maupun kisah shahih lain yang dapat mengajarkan anak keimanan, keberanian dan akhlaq yang baik. Jangan hanya sekedar menyediakannya buku/majalah, meskipun ini juga hal yang penting. Sesekali ceritakanlah langsung dengan lisan anda agar hikmah dan nilai kisah lebih mengena di hati anak. Ini juga akan lebih mendekatkan orang tua dengan sang buah hati.

4. Ajarkan pula pada anak untuk tidak menakut-nakuti temannya meski hanya bermaksud untuk bercanda. Pahamkan pada anak untuk bercanda dengan baik.

5. Bila orang tua ternyata adalah seorang penakut, berusahalah untuk tidak menampakkan hal tersebut di depan sang anak. Sebagaimana kita tidak ingin anak menjadi penakut, maka latihlah diri sendiri untuk tetap tenang dan menghilangkan sifat penakut dari diri kita.

Jika suatu ketika sifat penakut kita diketahui oleh sang anak, tak ada salahnya melibatkan anak dalam usaha menghilangkan sifat penakut kita. “Astagfirullah, tadi Ummi kok menjerit ya pas lampu mati? Menurut adik, Ummi harusnya gimana? Iya adik benar, harusnya tetap tenang dan minta perlindungan sama Allah. Lain kali kalau Ummi menjerit lagi, adik ingatin Ummi ya….” Hal ini juga akan mengajarkan pada anak bagaimana seharusnya ia bersikap ketika ada orang lain atau temannya yang ketakutan. Jangan pula menakut-nakuti anak dengan ancaman yang tak berdasar atau bertentangan dengan syariat. Misalnya, “Jangan main dekat sungai ya! Nanti diculik genderuwo penunggu sungai lho” Hal ini sering tanpa sadar dilakukan oleh para orang tua. Maka wahai para pendidik, bekalilah diri dengan ilmu syar’i dalam mendidik anak-anak kita.

6. Berdoalah untuk kebaikan anak
Hal yang sering luput dari orang tua adalah berdoa untuk anak-anaknya. Padahal doa merupakan salah satu pokok yang harus dipegang teguh orang tua. Doa orang tua bagi kebaikan anaknya adalah salah satu jenis doa yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan dikabulkan oleh Allah (HR. Baihaqi). Termasuk di antaranya, hendaknya orang tua mendoakan agar anak dilindungi dari gangguan setan.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain dengan mengucapkan, “Aku memohon perlindungan untukmu berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa, dan juga dari setiap mata yang jahat.” Selanjutnya beliau bersabda “Adalah bapak kalian (yaitu Ibrahim) dahulu juga memohonkan perlindungan untuk kedua puteranya, Ismail dan Ishaq, dengan kalimat seperti ini.” (HR. Bukhari)

Inilah sebagian cara yang semoga bisa mengatasi rasa takut anak terhadap hantu. Orang tua hendaknya bersabar dalam membantu anak mengatasi rasa takutnya dengan tetap memprioritaskan pendidikan aqidah dan tauhid pada anak. Semoga kelak anak tumbuh menjadi sosok muslim-muslimah yang beraqidah lurus, beramal shalih dan mempunyai ketawakkalan tinggi kepada Allah. Wallahu Ta’ala a’lam. (Ummu Rumman)


Posting Digabung: 25 April 2009, 15:01:47


sumber:

http://muslimah.or.id/aqidah/agar-buah-hati-tak-lagi-takut-hantu.html
« Edit Terakhir: 25 April 2009, 15:01:47 oleh maren »
Jangan jadi orang yang penuh dendam, jadilah orang yang memiliki banyak kata maaf untuk orang2 yang telah menyakiti kita :) bekerjalah dengan ikhlas

Offline hakimrie

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 2.052
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • Freedom for Palestine
    • Lihat Profil
    • hakim
« Jawab #29 pada: 26 April 2009, 05:56:02 »
^
wa'alaikum salaamwarahmatullah,
jazaakillah khairan katsiir artikelnya :)
~{Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari ini}~
Pernikahan Ochie & Hakim

Offline kurnia tra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2009
  • Tulisan: 1.593
  • Lokasi: pada jiwa dalam Qalbu ^_^
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Anugrahkan ampunan dan rahmat dari sisi-Mu
    • Lihat Profil
« Jawab #30 pada: 23 Juni 2009, 18:54:02 »
Bagaimana mengajari anak2 usia emas( 2- 6 thn) tentang tauhid
Ada Yang Bersamaku

Muslim hidup diantara perintah yg harus dikerjakan
larangan yg harus dijauhi
takdir yg harus di terima
dan nikmat yg harus disyukuri

Karenanya harus sabar setiap saat

Offline kurnia tra

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2009
  • Tulisan: 1.593
  • Lokasi: pada jiwa dalam Qalbu ^_^
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Anugrahkan ampunan dan rahmat dari sisi-Mu
    • Lihat Profil
« Jawab #31 pada: 26 Juni 2009, 08:43:13 »
Subhanallah semua postingan di atas lumayan membuka fragmen berpikir sy untk mengajari anak2 tetangga  hihi)
Ada Yang Bersamaku

Muslim hidup diantara perintah yg harus dikerjakan
larangan yg harus dijauhi
takdir yg harus di terima
dan nikmat yg harus disyukuri

Karenanya harus sabar setiap saat