Bismillah
Assalamu’alaikum waramatullah wabarakatuh
First of all… daku bingung mo letakin di mana ni thread, emang bener ci inih
artikel, but harapan daku bagian yang di jadiin judul topic menjadi
obrolan, trus masuk ke dalam kelompok
memasak bisa juga… bingung degh

Sehubungan menjelang Ramadhan daku buka-buka majalah daku yang berhubungan dengan Ramadhan… hehe nemu yang menarik nih… masukkin forum ah. Dalam tulisan ini daku banyak mengutip dari majalah zadul yang daku kangenin… majalah “PermatA” Oktober 2005 ED38/X… kangen euy… namun sehubungan menyesuaikan dengan sikon dan tempat, maka tidak sedikit pula yang daku tambahkan atau kurangi, en bumbu-bumbu penyedap agar seneng bacanya… biar ga bosen karena cukup panjang, tentunya dengan tetap menjaga dan tanpa mengganggu maksud dan tujuan penulis, insyaAllah Walahu’alam
Kalo malez baca yang manfaat insyaAllah dari panjangnya tulisan ini, silahkan langsung menuju bagian ending… inti topik adalah keseluruhan, namun untuk p0st reply, cukup ko’ dengan endingnya…
***
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari demi hari terlewati, dan kini tibalah kembali waktu yang dinanti-nantikan itu.
Ramadhan is backDuar…! Bunyi petasan terdengar di mana-mana, sinetron-sinetron bertemakan Islam bermunculan, tidak sedikit iklan yang merubah narasinya dengan suasana sahur dan berbuka. Yup, itu semua jadi sinyal kalo Ramadhan udah deket sama kita. Rame-rame umat Islam di seluruh negeri menyambutnya dengan suka cita dan rasa gembira. Soalnya di bulan yang suci ini ada gudang pahala. Coba bayangin, pahala di hari biasa bakalan dilipatgandakan di bulan Ramadhan. Pintu surge terbuka lebar sedangkan pintu neraka ditutup rapat. Iblis, syetan, genderuwo, kuntilanak dan makhluk yang ngeyel lainnya, dibelenggu oleh Allah Swt. Pengampunan pada bulan ini benar-benar dibuka lebar.
***
Setiap habis Ramadhan. Hamba rindu lagi Ramadhan. Saat-saat padat beribadat. Tak terhingga mahalnya. Setiap habis Ramadhan hamba cemas kalau tak sampai. Umur hamba di tahun depan. Berilah hamba kesempatan. Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan. Sekeluarga, sekampung, senegara. Kaum muslimin dan muslimat sedunia. Seluruhya kukuh, dipersatukan, dalam memohon ridlo-Nya.(Penggalan lagu Ramadhan gubahan Bimbo)
Penggalan lagu di atas kelihatannya emang bener. Perasaan baru saja kita sahur bersama, buka puasa bersama, bahkan mudik bersama. Sekarang, Alhamdulillah, bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan ini sudah ada di hadapan kita. Wah, sayang sekali, bila lewat begitu saja kayak angin.
Di bulan Ramadhan ini, masih ada sebagian kita yang punya kebiasaan nongkrong dan menghabiskan waktu hanya untuk menunggu maghrib (Sunda: menjelang maghrib disebut ‘burit’). Orang Sunda bilangnya ‘ngabuburit’. Nongkrong di mall, jalan-jalan di swalayan, putar-putar naik angkot keliling kota, atau aktivitas mubadzir lainnya. Ada juga yang ngabuburit dengan tidur teruu..uusss sepanjang hari. “Tidurnya orang puasa ‘kan ibadah,” dalihnya. Oh, ya, memang bener Nabi menjelaskan bahwa Ramadhan itu amat besar pahalanya. Sampe-sampe tidurnya aja berpahala. Tapi, kalo tidur terus so pasti kita nggak bisa baca Al Quran, ngaji, dzikir, aubat, bantu ibu, dan aktivitas positif lainnya. Nah, ngabuburit yang bener tuh ya itu… aktivitas positif.
***
Trus, ada beberapa tuntunan Islam dalam beraktivitas di bulan penuh berkah. Di antaranya adalah:
(1). Shaum di siang hari dan shalat di malam hari.
Rasulullah Saw. Bersabda:
”Barangsiapa mendirikan (qoma) Ramadhan (puasa, tarawih) dengan iman dan semata mengharap ridlo Allah Swt niscaya seluruh dosanya yang telah lalu diampuni. (HR. Bukhari dan Muslim). Kalo kita baca-baca buku Salubus Salam, II, hal. 173, dijelaskan di sana bahwa maksud ‘mendirikan Ramadhan’ adalah menghidupkan seluruh malam bulan Ramadhan.
(2). Membaca Al Quran.
Ibnu ‘Abbas r.a. berkata:
”Rasulullah Saw adalah orang yang paling pemurah terlebih-lebih bulan Ramadhan, bulan di mana beliau selalu ditemui Jibril. Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan untuk bertadarrus Al Quran. Sungguh bila Rasululah Saw bertemu dengan Jibril beliau lebih pemurah lagi meebihi angin yang kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wow, gambling abis, bulan Ramadhan merupakan bulan membaca Al Quran (
syahru tilawatil Quran).
(3). Mengkaji hadits dan sirah Nabi Saw.
Aktivitas Ramadhan diupayakan untuk menjadi bulan memahami hadits dan sirah (
syahru tafhimi al hadits was sirah). Rasanya ga adil degh kalo kita lebih hafal novel dan sinetron Islami daripada hadits dan sirah Rasul.
(4). Banyak bersedekah dan mengeluarkan zakat.
Rasul adalah orang yang dermawan, terlebih-lebih di bulan Ramadhan. Moga-moga kita ngga kikir dan pelit cap jahe.
(5). Banyak bertaubat.
Usia masih muda. Tetapi yang namanya umur ‘kan tidak kenal tua atawa muda. Truz juga ga pake ngasih tahu dulu kalo bakalan habis jatah kita di dunia. Tuh, pesawat akhir-akhir ini banyak yang jatuh. Penumpangnya tewas, was, was, was! Serba tiba-tiba bukan.
(6). Menjaga lisan dan menyelesaikan sengketa sesame muslim.
Stop gossip!! Tutup mata tutup telinga dari kemaksiatan dan omongan yang nggak keruan, jangan justru ikutan.
***
Kembali ke dapur 
Nah, selain itu, untuk akhwat ada juga aktivitas santai yang pahalanya besar insyaAllah.
Apaan tuh? Memasak! Oh, ya?!!
Kita-kita yang tinggal sama ortu musti rajin bantu ibu memasak. Wah, orang bilang sasarannya
multipurpose atawa banyak yang didapat. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Bayangkan aja, dengan membantu memasak, kita jadi pandai memasak. Anggap saja sedang magang menjadi ibu rumah tangga bagi yang belum menikah. Eit kalo udah menikah, masa sih isteri shalihah tidak bisa masak, betu apa betul?!
Bukan Cuma itu, masakan yang kita buat, lalu kita sajikan pada ibu… hadir! ayah… hadir! adik… hadir! kakak... hadir! paman… hadir! bibi… hadir! … hadir! (kayak ngabsen mahasiswa aja) akan menambah pahala kita. Bila ada 7 orang yang makan masakan kita, berarti ukhti setara dan sebangun dengan 8 orang berpuasa.
Zaid bin Khalid al_Juhaini menceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
”Barangsiapa member buka orang yang berpuasa maka ia mendapat pahala seperti pahal orang yang berpuasa itu dengan tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Tirmidzi).
Bahkan, orang yang menyajikan makanan bagi orang yang berpuasa didoakan oleh malaikat. Nah, mudah-mudahan keinginan kita dikabul. Kalo selama ini ada do’a yang belum dikabulkan siapa tahu do’a dari malaikat dikabul. Nanti, habis lebaran, berhasil deh! (tahu ‘kan maksudnya, he .. he …)
menjadi ibu rumah tangga yang pandai memasak Why not? Belanjanya juga…
Rasulullah pernah dating ke rumah Sa’ad bin Ubadah r.a. Truz tuan rumah menyajikan roti dan mentega, setelah memakannya Rasul bersabda:
”Telah berbuka di tempatmu orang-orang yang berpuasa, dan memakan makananmu orang-orang yang baik, serta malaikat mendo’akanmu.” (HR. Abu Dawud)
Ukhti frensQers yang ngekos juga sebaiknya belajar memasak. Setidaknya untuk diri sendiri, atawa saaat buka puasa bersama. Jadi bagian konsumsi… kenapa tidak? Coz, kelihatanya ‘rendahan’, padahal tanggung jawab yang besar tuh dan juga pahalanya selangit. OK!
Wallahu’alam
Jangan bisanya cuman ngerebus telur, bikin telur ceplok, telur dadar, masak air, masak nasi <== tu juga pake raiskuker… halah kalo pake panci eee… hebat euy udah bisa bikin bubur… he .. he …
Eit, jangan nyerah… dakupernah baca kalo ngga khilaf di salah satu buku MQ dari A’a Gym, “nasi telah menjadi bubur. Jangan langsung nyerah, segera usahakan mendapatkan ayam, kaldu, seledri, daun sop, kecap, kerupuk, … jadikan bubur ayam special yang nikmat dan bisa dinikmati.”
***
Seperti halnya dirikuh… yang berharap “doi” bisa bikin brownies

maka daku pikir secara ngga’ berlebihan, setiap ikhwan juga memiliki selera makanan yang disukai dan berharap istri mereka bisa menghidangkannya.
Kikik… gimana nih? Kakak-kakak, adek-adek, bapak-bapak, ibu-ibu, paman-paman, bibi-bibi, … halah cappe degh… semuanyah…
Komennya mengenai
wanita soleha kudu bisa masak dan belanja?
SEMANGAAAT
