Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Rabu, 23 Mei 2012/2 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:56 - Shubuh 4:33:20 - Terbit 5:55:23 - Dzuhur 11:49:41 - Ashar 15:11:42 - Maghrib 17:44:02 - Isya' 18:57:35 WIB

Penulis Topik: Risalah Lengkap Tentang Puasa dan 'Iedul-Fithri  (Dibaca 9103 kali)


Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #15 pada: 03 September 2007, 14:30:39 »
Orang-Orang yang Tidak Diwajibkan Berpuasa


1.   Musafir

Musafir adalah orang yang melakukan perjalanan jauh sejauh jarak (yang dianggap) safar.  Jarak safar menurut madzhab yang paling kuat (rajih) adalah jarak yang dianggap oleh adat atau masyarakat setempat sebagai safar (Majmu’ Fataawaa, 34/40-50, 19/243).  Orang yang melakukan safar boleh untuk tidak berpuasa sebagaimana firman Allah ta’ala :

فَمَن كَانَ مِنكُم مّرِيضاً أَوْ عَلَىَ سَفَرٍ فَعِدّةٌ مّنْ أَيّامٍ أُخَرَ

“Barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (ia wajib mengganti) sejumlah hari yang ia tinggalkan pada hari-hari lain” (QS. Al-Baqarah : 184).

Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami yang dia adalah orang yang banyak melakukan puasa, bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apakah saya berpuasa di waktu safar?”.  Beliau menjawab :

إن شئت فصم وإن شئت فأفطر

“Puasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau” (HR. Bukhari no. 1841 dan Muslim no. 1121).

Hadits di atas (dan beberapa lagi hadits lain) menunjukkan diperbolehkannya tidak berpuasa bagi orang yang melakukan safar.  Dan bagi yang berkehendak berpuasa, maka puasa tersebut dilakukan bila ia memang mampu dan diperkirakan tidak membawa mudlarat terhadap dirinya.  Pertimbangan inilah yang terdapat dalam hadits berikut :

ليس من البر الصوم في السفر

“Berpuasa di dalam perjalanan bukanlah sebuah kebaikan” (HR. Bukhari no. 1844 dan Muslim no. 1115)

فكانوا يرون أنه من وجد قوة فصام فحسن ومن وجد ضعفا فافطر فحسن

“Dan mereka (para shahabat) berpendapat bahwa barangsiapa mempunyai kemampuan, maka berpuasa lebih baik baginya.  Dan barangsiapa yang merasa lemah, maka berbuka lebih baik baginya” (HR. Tirmidzi no. 713 dan Al-Baghawi no. 1763. At-Tirmidzi berkata : Hadits hasan shahih).

Namun secara umum, safar membolehkan berbuka walau orang yang melakukannya tidak merasakan berat, karena hal tersebut merupakan rukhshah (keringanan) yang diberikan oleh Allah kepada kaum muslimin.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إن الله يحب أن تؤتى رخصه كما يكره أن تؤتى معصيته

“Sungguh Allah menyukai dilaksanakan rukhshah (keringanan)-Nya, sebagaimana Dia membenci dilaksanakan maksiat kepada-Nya” (HR. Ahmad no. 5866 dan Ibnu Hibban no. 2742. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil 3/9 no. 564).  Dan keringanan bagi seorang musafir (salah satunya) adalah berbuka (tidak berpuasa).

2.   Orang yang Sakit

Sakit yang menjadikan dibolehkannya seseorang berbuka adalah sakit yang jika ia berpuasa dalam keadaan tersebut akan membahayakan dirinya, menambah sakitnya, atau dikhawatirkan menyebabkan lambatnya kesembuhan. (Lihat Fathul-Baari 8/179, Syarhul-Umdah Kitab Shiyaam karya Ibnu Taimiyyah 1/208-209, Shifat Shaumin- Nabi hal. 59).  Lihat dalilnya dalam firman Allah ta’ala dalam QS. Al-Baqarah ayat 185.

3.   Wanita yang Haidl atau Nifas

Para ulama’ sepakat bahwa wanita yang sedang haidl atau nifas tidak boleh berpuasa, dan keduanya harus berbuka dan mengqadla’ (mengganti)nya di hari yang lain.  Dan bila keduanya berpuasa, maka puasanya tersebut tidak sah.  Lihat pada penjelasan sebelumnya.

4.   Orang yang Lanjut Usia dan Wanita yang Lemah

Allah ta’ala berfirman :

فَمَن كَانَ مِنكُم مّرِيضاً أَوْ عَلَىَ سَفَرٍ فَعِدّةٌ مّنْ أَيّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

"Barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (ia wajib mengganti) sejumlah hari yang ia tinggalkan pada hari-hari lain.  Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak puasa) membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin” (QS. Al-Baqarah : 184).

Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma mengatakan,”Dia adalah orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa.  Maka ia berbuka dan memberi makan kepada orang miskin setiap hari sebanyak setengah sha’ gandum” (HR. Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya 2/207 dan dishahihkan olehnya).

Jadi, orang yang tidak mampu berpuasa karena usia tua berkewajiban membayar fidyah untuk orang miskin sebagai ganti hari yang ia tinggalkan.  Adapun tentang fidyah, insyaAllah akan dijelaskan kemudian.

5.   Wanita yang Mengandung dan Menyusui

Di antara keagungan rahmat Allah ta’ala kepada hamba-Nya yang lemah adalah pemberian rukhshah (keringanan) untuk berbuka puasa kepada wanita hamil dan menyusui.  Dari Anas bin Malik : Seorang laki-laki dari Bani Abdillah bin Ka’b radliyallaahu ‘anhu berkata :

أغارت علينا خيل رسول الله صلى الله عليه وسلم فأتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فوجدته يتغدى فقال ادن فكل فقلت إني صائم فقال ادن أحدثك عن الصوم أو الصيام إن الله تعالى وضع عن المسافر الصوم وشطر الصلاة وعن الحامل أو المرضع الصوم أو الصيام والله لقد قالهما النبي صلى الله عليه وسلم كلتيهما أو إحداهما فيا لهف نفسي أن لا أكون طعمت من طعام النبي صلى الله عليه وسلم

Datang kuda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada kami.  Lalu aku mendatangi beliau, dan ternyata aku mendapatkan beliau sedang makan.  Kemudian beliau bersabda,”Mendekatlah dan makanlah”.  Aku menjawab,”Aku sedang puasa”.  Beliau bersabda,”Mendekatlah, akan aku ceritakan kepadamu tentang puasa.  Sesungguhnya Allah ta’ala memberikan keringanan dari setengah shalat bagi seorang musafir, dan memberikan keringanan dari beban puasa bagi wanita hamil dan menyusui”.  Demi Allah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam benar-benar telah mengucapkan keduanya atau salah satunya, dan aku benar-benar berselera untuk makan makanan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” (HR. Tirmidzi no. 715, An-Nasa’i 4/180, Abu Dawud no. 2408, dan Ibnu Majah no. 1667. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah 2/64-65 no. 1361 dan Misykatul-Mashaabih 1/344).

Bagi wanita hamil dan/atau menyusui, menurut pendapat yang paling kuat (rajih), bagi mereka hanyalah dibebani membayar fidyah saja tanpa ada kewajiban mengqadla.  Hal ini diperkuat oleh atsar para shahabat, diantaranya adalah perkataan Ibnu ‘Abbas kepada seorang budak wanita yang hamil atau menyusui :

أنت بمنزلة الذي لا يطيق ، عليك أن تطعمي مكان كل يوم مسكينا ولا قضاء عليك

“Engkau, kedudukanmu seperti yang tidak mampu.  Kewajibanmu memberi makan satu orang miskin untuk setiap harinya dan tidak ada kewajiban qadla atasmu” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dengan sanad yang dikatakan Syaikh Al-Albani shahih sesuai dengan syarat Muslim – Irwaaul-Ghalil 4/19.  Juga diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf 4/219 no. 7567 – tapi tanpa kata-kata : tidak ada kewajiban qadla atasmu).

Juga perkataan Sa’id bin Jubair bahwa Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhum mengatakan kepada budaknya yang hamil atau menyusui :

أنت من الذين لا يطيقون الصيام عليك الجزاء وليس عليك القضاء

“Engkau termasuk tidak mampu, kewajibanmu memberi makan, bukan qadla” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya 2/206 no. 8 dan ia berkata : sanadnya shahih).

Juga perkataan Ibnu ‘Umar atas pertanyaan seorang wanita hamil :

أفطري وأطعمي عن كل يوم مسكينا ولا تقضي

“Berbukalah dan berilah makan satu orang miskin sebagai ganti setiap harinya dan jangan kamu mengqadla” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya 2/207 no. 14 dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 6/263.  Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanadnya bagus – Irwaaul-Ghalil 4/20).


Abu Al-Jauzaa'

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #16 pada: 03 September 2007, 14:40:51 »
Berbuka Puasa



1.   Waktu Berbuka

Allah telah menjelaskan kepada kita tentang waktu diperbolehkannya berbuka puasa yaitu dengan tenggelamnya matahari, sebagaimana firman-Nya :

ثُمّ أَتِمّواْ الصّيَامَ إِلَى الّليْلِ

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam” (QS. Al-Baqarah : 187).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menafsirkan ayat tersebut dengan datangnya malam, berlalunya siang, dan tenggelamnya matahari.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda sambil mengisyaratkan tangannya:

إذا أقبل الليل من ها هنا وأدبر النهار من ها هنا وغربت الشمس فقد أفطر الصائم

“Apabila malam telah tiba dari arah sini dan siang telah berlalu dari arah sini serta matahari pun terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka” (HR. Bukhari no. 1853 dan Muslim no. 1100).

Dan sabdanya yang lain :

إذا رأيتم الليل أقبل من ها هنا فقد أفطر الصائم

“Apabila engkau melihat malam telah tiba dari arah sini, maka sungguh orang yang berpuasa telah berbuka” (HR. Bukhari no. 1839).

Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Makna (sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam di atas) adalah puasanya telah selesai sempurna, dan (pada waktu matahari sudah tenggelam dengan sempurna) dia bukan orang yang berpuasa.  Maka dengan terbenamnya matahari, habislah waktu siang dan malam pun tiba; dan malam hari bukanlah waktu untuk berpuasa” (Syarah Shahih Muslim 7/210).

Timbul pertanyaan : Bagaimana jika matahari telah tenggelam, namun adzan belum berkumandang (muadzin telat mengumandangkan adzan) ???

Maka dijawab : Yang menjadi patokan untuk berbuka puasa adalah tenggelamnya matahari.  Hal ini sesuai dengan dalil di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta amalan para shahabat sebagaimana telah disebutkan.  Maka selayaknya bagi kaum muslimin menyegerakan berbuka puasa setelah melihat matahari benar-benar telah tenggelam. Dan bagi muadzin, hendaknya selalu menjaga amanah untuk mengumandangkan adzan pada awal waktunya.

2.   Menyegerakan Berbuka Puasa

a.   Menyegerakan berbuka dapat mendatangkan kebaikan

Dari Sahl bin Sa’ad radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

“Manusia senantiasa berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari no. 1856 dan Muslim no. 1098).

b.   Menyegerakan berbuka adalah sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam

Dari Sahl bin Sa’ad ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا تزال أمتى على سنتى ما لم تنتظر بفطرها النجوم

“Umatku senantiasa berada di atas sunnahku, selagi mereka tidak menunggu munculnya bintang ketika berbuka puasa” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 2061 dan Ibnu Hibban no. 3510 dengan sanad shahih. Lihat Ta’liq ‘alaa Shahih Ibni Khuzaimah).

c.   Menyegerakan berbuka puasa agar tidak termasuk golongan orang-orang yang sesat

Apabila manusia menjalani manhaj dan memelihara sunnah Rasul mereka, maka Islam akan tetap jaya dan berdiri kokoh serta tidak akan disusahkan oleh umat-umat yang menentang mereka.  Ummat Islam tidak mau mengekor kaum kafir dari golongan Yahudi dan Nasharani, yang mereka ini dicap oleh Allah dan Rasulnya sebagai kaum yang sesat.  Dengan menyegerakan berbuka, berarti kita telah turut mengokohkan agama Islam dan menyelisihi sebagian dari adat dan kebiasaan mereka yang tercela, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا يزال الدين ظاهرا ما عجل الناس الفطر لأن اليهود والنصارى يؤخرون

“Agama senantiasa kokoh selama manusia menyegerakan berbuka; karena Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya (menundanya)” (HR. Abu Dawud no. 2353; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Misykatul-Mashaabih 1/339).

d.   Berbuka sebelum shalat maghrib

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berbuka puasa sebelum melaksanakan shalat maghrib sebagaimana dikhabarkan dalam hadits berikut:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berbuka dengan ruthab sebelum melaksanakan shalat (Maghrib), maka jika tidak ada ruthab (beliau berbuka) dengan tamr. Jika tidak ada (tamr) maka beliau berbuka dengan meneguk air” (HR. Abu Dawud no. 2356 dan lainnya dengan sanad hasan; lihat Shahih Sunan Abi Dawud 2/59 no. 2356 dan Irwaaul-Ghalil 4/45 no. 922).

Maka tidak ragu lagi, bahwa menyegerakan berbuka mempunyai keutamaan yang sangat besar.  Dari Abu Darda’  radliyallahu ‘anhu : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ثلاث من أخلاق النبوة : تعجيل الإفطار و تأخير السحور و وضع اليمين على الشمال في الصلاة

“Tiga (perkara) termasuk akhlaq kenabian (yaitu) : menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat” (HR. Thabrani, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihu Jami’ish-Shaghiir 1/583 no. 3038).

3.   Apa yang Dimakan Saat Berbuka ?

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk mengawali berbuka puasa dengan ruthab.  Ruthab adalah kurma yang masih setengah matang, agak sedikit lebih keras (dibandingkan tamr), dan berwarna hijau kecoklatan.  Apabila tidak ada ruthab, maka dianjurkan memakan tamr (= kurma yang biasa dijual di pasaran).  Bila tidak ada, maka beliau menganjurkan berbuka dengan air.  Hal ini merupakan bentuk kasih sayang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada ummatnya (lihat QS. At-Taubah : 128).  Untuk haditsnya, lihat kembali pembahasan di atas.

Makan makanan manis di saat perut kosong itu lebih bermanfaat bagi tubuh, terutama tubuh yang sehat, sehingga kekuatannya dapat pulih kembali.  Adapun berbuka dengan meminum air, dapat membasahi tubuh seperti halnya fungsi makanan, karena tubuh mengalami kekeringan cairan saat berpuasa sehingga apabila dibasahi dengan air akan sangat bermanfaat. 

Dan ketahuilah wahai saudaraku muslimin, bahwa kurma memiliki berkah dan keistimewaan.  Begitu juga dengan air sebagai zat vital dalam metabolisme tubuh.  Wallaahu a’lam.

4.   Apa yang Dibaca Ketika Berbuka ?

Adapun doa khusus yang terkait dengan berbuka puasa, menurut penelitian para ahli hadits, hanya satu yang shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yaitu hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka beliau mengatakan :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

[Dzahabazh-zhoma-u wab-talatil-‘uruuqu wa tsabatal-ajru insya Allooh]

“Rasa haus telah pergi dan urat-urat telah terbasahi serta telah ditetapkan pahala insya Allah” (HR. Abu Dawud no. 2357, Baihaqi dalam Ash-Shughra no. 1424, Al-Hakim no. 1536, Ibnu Sunni no. 128, Nasa’i dalam Amalul-Yaum di Bab Maa Yaquulu ‘inda Afthara, dan Ad-Daruquthni Bab Al-Qiblatu lish-Shaaim no. 25; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil 4/39 no. 920).

Doa ini dibaca setelah selesai menyantap makanan berbuka (- perhatikan arti doa tersebut -).  Adapun doa yang sering dibaca oleh sebagian kaum muslimin seperti : Allaahumma laka shumtu….dst. dan yang lain-lain; maka doa tersebut berasal dari hadits-hadits berstatus dl’aif.  Maka selayaknya kita hanya memilih doa yang tsabit (tetap) berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

5.   Makan Secara Berjama’ah

Disunnahkan berbuka secara berjama’ah dengan keluarga, rekan, atau kaum muslimin lainnya. Allah menurunkan keberkahan dengan banyaknya tangan di atas makanan.

عن وحشي بن حرب عن أبيه عن جده رضي الله عنه أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا يا رسول الله إنا نأكل ولا نشبع قال فلعلكم تفترقون قالوا نعم قال فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله يبارك لكم فيه

Dari Wakhsyi bin Harb, dari ayahnya, dari kakeknya radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Sesungguhnya para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallm : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tapi tidak merasa kenyang”. Beliau menjawab : “Barangkali kalian makan secara berpencar (sendiri-sendiri)”. Mereka menjawab : “Benar”. Maka beliau bersabda : “Berkumpullah kalian atas makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu diberkahi untuk kalian” (HR. Abu Dawud no. 3764; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 664. Lihat pula Riyadlush-Shaalihiin no. 747).

6.   Memberi Makanan Orang yang Berbuka Puasa

Allah ta’ala telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang telah menyisihkan sebagian rizkinya secara ikhlash untuk memberi makan kepada orang yang berbuka puasa.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

من فطر صائما كتب له مثل أجر الصائم لا ينقص من أجر الصائم شيء

“Barangsiapa yang memberi makanan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga” (HR. Ahmad no. 17074 dan 17085; At-Tirmidzi 807; Ibnu Majah no. 1746; dan Ibnu Hibban no. 3429; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah 2/85 no. 1428).

Dan apabila ada seorang muslim yang berpuasa dan ia mendapat undangan dari saudaranya, maka hendaklah ia memenuhi undangan tersebut.  Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

إذا دعا أحدكم أخاه فليجب عرسا كان أو نحوه

“Bila salah seorang dari kalian mengundang saudaranya, maka hendaklah ia memenuhi undangan tersebut, apakah (undangan tersebut adalah) undangan nikah atau semisalnyai” (HR. Muslim no. 1429 dan selainnya).

Dan hal ini tentunya dikecualikan apabila dalam undangan tersebut mengandung unsur kemaksiatan atau terdapat unsur kemaksiatan (seperti nyanyi-nyanyian/musik, ikhtilath, dan lain-lain).

Bagi yang diundang dan/atau yang diberikan makanan berbuka dari saudaranya, maka hendaklah ia mendoakan saudaranya tersebut dengan kebaikan.  Beberapa doa yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam diantaranya:

اللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِي

[Alloohumma ath’im man ath’amanii wa asqi man saaqoonii]

“Ya Allah, berikanlah makanan kepada orang yang memberiku makan, dan berikanlah minuman kepada orang yang memberiku minuman” (HR. Muslim no. 2055 dari Al-Miqdad).

اللّهُـمَّ بارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْـتَهُمْ، وَاغْفِـرْ لَهُـمْ وَارْحَمْهُمْ

[Alloohumma baariklahum fiiimaa rozaqtahum wagh-firlahum war-hamhum]

“Ya Allah, berikanlah barakah apa yang Engkau rizkikan kepada mereka, ampunilah dan belas-kasihanilah mereka” (HR. Muslim 2042 dari Abdullah bin Busr).



Abu Al-Jauzaa'

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #17 pada: 03 September 2007, 14:43:22 »
Hukum Seputar Fidyah

Fidyah merupakan shadaqah yang dibayarkan oleh seorang yang sudah tidak mampu lagi berpuasa dan juga bagi wanita hamil dan menyusui (menurut pendapat yang paling kuat dari para ulama’), yang dibayarkan kepada orang miskin (lihat QS. Al-Baqarah : 184).  Lihat pembahasan sebelumnya tentang Orang-Orang yang Tidak Diwajibkan Puasa.

Lalu berapa takaran jumlah fidyah yang harus dibayarkan ???  Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini.  Beberapa hal yang terkait dengan pertanyaan tersebut dapat dijelaskan pada beberapa poin berikut :

1.   Sebagian ulama mengatakan jumlah takaran fidyah yang dibayarkan adalah sesuai dengan makanannya ketika ia tidak berpuasa (lihat Tafsir Ath-Thabari 2/143).

Dan yang difatwakan oleh Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma (sebagaimana telah disebutkan sebelumnya), takaran jumlah fidyah tersebut adalah setengah sha’ atau kurang lebih 1,5 kg (satu setengah kilogram) per jiwa (diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni 2/207 no. 12 dengan sanad shahih).  Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Asy-Syaikh Abdulaziz bin Baaz dan Lajnah Fatwa Saudi Arabia (Fataawaa Ramadlan 2/554-555 dan 604).  Sehingga apabila seseorang tidak sanggup berpuasa selama 30 hari, maka yang dibayarkan adalah 1,5 kg x 30 = 45 kg.

2.   Diperbolehkan memberi makanan yang siap santap (makanan matang) dengan ukuran yang dapat mengenyangkan si miskin (Fataawaa Ramadlan 2/652).  Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu ketika beliau lemah untuk berpuasa karena tua (selama satu bulan : 30 hari); beliau membuat satu mangkok besar tsarid (bubur dari roti yang diremas dan dicampur kuah), lalu beliau mengundang 30 orang miskin sehingga mengenyangkan mereka. (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya 2/207 no. 6 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul-Ghaliil 4/21).

3.   Tidak diperbolehkan membayar fidyah dengan uang, tetapi harus dengan makanan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah (Hadits Shahih).

4.   Diperbolehkan membayar fidyah sekaligus atau terpisah-pisah waktunya (Lajnah Fatwa Saudi Arabia, Fataawaa Ramadlan 2/652).

5.   Bolehkan memberi fidyah kepada orang yang miskin yang kafir??? Maka pertanyaan ini dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah (seorang fuqahaa, ahli tafsir, dan ahli ushul) : “Jika di daerahnya ada orang Islam yang berhak, maka diberikan kepadanya.  Tapi jika tidak ada, maka disalurkan ke negeri-negeri Islam yang membutuhkannya” (Fataawaa Ramadlan 2/655).



Abu Al-Jauzaa'

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #18 pada: 03 September 2007, 14:47:44 »
Qadla Puasa Ramadlan


1.   Bagi orang-orang yang diberikan rukhshah untuk tidak berpuasa di bulan Ramadlan (karena safar, sakit, haidl, dan nifas), maka ia diwajibkan mengganti puasanya (qadla) tersebut di hari lain sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan (lihat kembali pembahasan Orang-Orang yang Tidak Diwajibkan Berpuasa).

Qadla’ puasa Ramadlan tidak harus dilakukan seketika.  Kewajiban mengqadla’ ini bersifat fleksibel dan penuh keluasan.  Aisyah radliyallaahu ‘anhaa menceritakan tentang qadla’ puasanya :

كان يكون علي الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضيه إلا في شعبان الشغل من رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Aku mempunyai hutang puasa Ramadlan, lalu aku tidak bisa mengqadla’-nya kecuali di bulan Sya’ban karena ada kesibukan dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” (HR. Muslim no. 1146).

Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Atsqalani berkata dalam Fathul-Baari (4/212) : [وفي الحديث دلالة على جواز تأخير قضاء رمضان مطلقا سواء كان لعذر أو لغير عذر] “Hadits ini merupakan petunjuk dibolehkannya menunda qadla’ Ramadlan secara mutlak, baik karena alasan atau karena tidak ada alasan”.

Namun, menyegerakan qadla’ puasa adalah lebih utama daripada menundanya, karena hal ini tercakup dalam keumuman dalil yang menunjukkan anjuran untuk segera mengerjakan amal kebaikan dan tidak menunda-nunda, seperti firman Allah ta’ala :

وَسَارِعُوَاْ إِلَىَ مَغْفِرَةٍ مّن رّبّكُمْ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu” (QS. Ali Imran : 133).

2.   Tidak wajib mengqadla’ puasa secara berurutan.

Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma telah menjelaskan :

لا بأس أن يفرق

“Tidak apa-apa (mengqadla’ puasa) secara terpisah” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dan disambungkan sanadnya oleh Abdurrazzaq, Ad-Daruquthni, dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Mukhtashar Shahih Bukhari 1/569). 

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi (4/259) dan Ad-Daruquthni (2/191-192) yang artinya : “Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Ramadlan, hendaklah ia mengerjakannya secara berurutan dan tidak putus-putus”; adalah hadits dla’if.  Lihat perincian kedla’ifannya dalam kitab Irwaa’ul-Ghaliil (no. 943) karya Syaikh Al-Albani rahimahullah.

3.   Para ulama’ sepakat bahwa orang yang meninggal dunia, sedangkan dia memiliki tanggungan kewajiban puasa, maka walinya atau yang lainnya tidak wajib mengqadla’-nya.  Demikian juga orang yang tidak mampu berpuasa, tidak boleh ada seseorang yang menggantikan puasanya semasa hidupnya.  Akan tetapi ia memberi makan satu orang miskin setiap hari sebagaimana yang dilakukan oleh Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu. 

Dari Umrah bahwa ibunya meninggal dunia dan ia punya tanggungan puasa Ramadlan.  Ia berkata kepada ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa : “Apakah aku harus membayar puasanya?”.  Aisyah menjawab,”Tidak, tetapi keluarkanlah sedekah sebagai ganti dari puasanya itu, yaitu setiap satu hari diganti dengan memberikan setengah sha’ kepada orang miskin” (Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam kitab Musykiilul-Aatsaar 3/142 dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 7/4 dengan sanad shahih).

Akan tetapi bagi orang yang meninggal dunia, sedangkan ia mempunyai puasa nadzar yang belum ia tunaikan, maka walinya boleh berpuasa untuknya.  Hal ini sesuai dengan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :

من مات وعليه صيام صام عنه وليه

“Barangsiapa yang meninggal dunia, sedangkan dia mempunyai tanggungan puasa (nadzar), maka hendaklah walinya berpuasa untuknya” (HR. Bukhari no. 18451 dan Muslim no. 1147).

أن سعد بن عبادة الأنصاري استفتى النبي صلى الله عليه وسلم في نذر كان على أمه فتوفيت قبل أن تقضيه فأفتاه أن يقضيه عنها

“Bahwasannya Sa’id bin ‘Ubadah radliyallaahu ‘anhu meminta fatwa kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenai nadzar ibunya yang telah meninggal sebelum melaksanakan nadzarnya tersebut.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberi fatwa agar Sa’id melaksanakan nadzar tersebut atas nama ibunya” (HR. Bukhari no. 6320).

4.   Barangsiapa yang meninggal dunia, sedangkan ia mempunyai hutang puasa nadzar, maka jika ada beberapa orang yang berpuasa untuknya sesuai dengan jumlah hari yang ia nadzarkan, maka hukumnya boleh.  Al-Hasan berkata:

إن صام عنه ثلاثون رجلا يوما واحدا جاز

”Jika ada tiga puluh orang berpuasa untuknya, setiap orang satu hari, maka hukumnya adalah boleh” (HR. Bukhari secara mu’allaq dan disambungkan sanadnya oleh Ad-Daruquthni dalam kitab Adz-Dzabhi dengan sanad shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Mukhtashar Shahih Bukhari 1/570).


Abu Al-Jauzaa'

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #19 pada: 03 September 2007, 14:58:14 »
Lailatul-Qadar


Keutamaan Lailatul-Qadar sangat besar, karena pada malam itulah diturunkannya Al-Qur’an Al-Kariim yang membimbing manusia yang berpegang kepadanya kepada jalan kemuliaan dan kehormatan, mengangkatnya ke puncak ketinggian dan keabadian.

1.   Keutamaan Malam Lailatul-Qadar

Tanda kebesaran dan keagungan Lailatul-Qadar adalah bahwa malam itu merupakan malam yang penuh berkah yang lebih baik daripada seribu bulan.  Allah ta’ala telah berfirman :

إِنّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مّبَارَكَةٍ إِنّا كُنّا مُنذِرِينَ

“Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan” (QS. Ad-Dukhaan : 3).

وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ *  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Dan tahukah kamu apakah malam lailatul-qadar itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS. Al-Qadr : 2-3).

Maksud dari ayat tersebut adalah bahwa amalan di malam Lailatul-Qadar (yang penuh barakah) itu menyamai pahala amal seribu bulan yang tidak ada Lailatul-Qadarnya.  Seribu bulan setara dengan 83 tahun lebih.  Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk berusaha mencari malam tersebut dengan sabdanya :

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang mendirikan ibadah (pada malam) Lailatul-Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari no. 1802 dan Muslim no. 759).

Allah mensifati malam itu dengan malam keselamatan/kesejahteraan, sebagaimana firman-Nya :

سَلاَمٌ هِيَ حَتّىَ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadr : 5).

Ini menunjukkan kemuliaan, kebaikan, dan keberkahannya.  Orang yang terhalangi dari kebaikan malam itu berarti terhalangi dari kebaikan yang sangat banyak.  Inilah keutamaan-keutamaan yang besar pada malam yang penuh barakah ini.

Pada malam ini kita diperintahkan untuk banyak-banyak berdoa dengan doa :

اللّهُـمَّ إِنَّكَ عَفُوّ ٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ

[Alloohumma innaka ‘afuwun tuhibbul-‘afwa fa’fu’annii]

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, menyukai maaf, maka berilah maaf kepadaku” (HR. Tirmidzi no. 3513; Ibnu Majah no. 3850; Ahmad no. 25423,25534,25536,25544,25782; Al-Hakim no. 1942, An-Nasa’i dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah no. 878. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah 3/259 no. 3119 dan Misykatul-Mashaabih 1/353) 1 .

2.   Waktu Terjadinya Malam Lailatul-Qadar

Lailatul-Qadar terjadi pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan.  Ada beberapa hadits shahih yang menyebutkan tentang hal ini, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadlan 2.  Imam Asy-Syafi’i berkata,”Ini menurut saya, wallaahu a’lam, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai dengan pertanyaannya.  Dan pendapat yang paling kuat bahwa itu terjadi pada malam-malam yang ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dari Aisyah radliyallaahu ‘anhaa bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan dan beliau mengatakan :

تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

“Carilah Lailatul-Qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan” (HR. Bukhari no. 1913 dan Muslim 1169) 3.  Silakan membuka Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan beberapa hadits dimaksud.

3.   Tanda-Tanda Lailatul-Qadar

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan kepada kita tentang beberapa tanda yang mengisyaratkan terjadinya Lailatul-Qadar.  Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ubay radliyallaahu ‘anhu ketika ia menjawab tanda-tanda Lailatul-Qadr yang diberitakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاع لها

“Matahari terbit di pagi harinya tampak putih tanpa cahaya yang menyinari (redup, tidak panas)” (HR. Muslim no. 762).

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ليلة القدر ليلة سمحة ، طلقة ، لا حارة ، ولا باردة ، تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء

“Lailatul-Qadar merupakan malam penuh kelembutan, cerah, tidak panas, dan tidak dingin.  Matahari di pagi harinya menjadi nampak lemah lagi nampak kemerah-merahan” (HR. Ath-Thayalisi no. 349, Ibnu Khuzaimah no. 3/231,dan  Al-Bazzar 1/486; dengan sanad hasan. Lihat Shahihul-Jaami’sh-Shaghiir no. 5475 oleh Syaikh Al-Albani).

4.   Beribadah di Malam Lailatul-Qadar

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila telah memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan, beliau semakin giat dan khusyuk dalam beribadah.  Beliau kencangkan ikat pinggangnya dan beri’tikaf di dalam masjid.  Tidaklah beliau keluar dari masjid kecuali untuk menunaikan hajatnya saja.

Mari kita simak beberapa hadits berikut :

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata :

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

“Apabila memasuki sepuluh (malam terakhir di bulan Ramadlan), Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengencangkan ikatan kainnya,4 menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya (istri-istrinya)” (HR. Bukhari no. 1920 dan Muslim no. 1174).

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في العشر الأواخر مالا يجتهد في غيره

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir (pada bulan Ramadlan) yang tidak beliau lakukan di saat-saat lain” (HR. Muslim no. 1175).

Maka selayaknyalah kita sebagai ummat beliau untuk meneladani beliau dalam menghidupkan bulan Ramadlan, khususnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan dengan ibadah-ibadah, seperti : I’tikaf, membaca Al-Qur’an dan berusaha menghafalnya, mempelajari hadits dan kandungan-kandungannya, dan lain-lain.  Tidak selayaknya kita habiskan waktu malam dan siang kita hanya dengan tidur dan makan.


Catatan kaki :

1.  Adapun tambahan Kariim sesudah kalimat Alloohumma innaka ‘afuwun adalah tambahan yang tidak ada asalnya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

2.  Berbagai macam pendapat tentang hal ini saling berbeda dan cukup beragam.  Imam Al-‘Iraqi mengarang sebuah risalah tersendiri yang berjudul Syarhush-Shadr bi Dzikri Lailatil-Qadr.  Ia mengumpulkan di dalamnya pendapat para ulama dalam masalah ini.

3.  Seperti yang dinukil oleh Al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah.

4.  Maksudnya meninggalkan hubungan badan dengan istrinya untuk beribadah serta berusaha keras mencari Lailatul-Qadar.




Abu Al-Jauzaa'

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #20 pada: 03 September 2007, 15:14:25 »
I’tikaf



1.   Pengertian I’tikaf

Secara syari’at makna i’tikaf adalah bertempat tinggal di masjid1 dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah ta’ala sup]2[/sup] yang dilakukan dengan sifat-sifat tertentu 3.

2.   Disyari’atkannya I’tikaf

Disunnahkan i’tikaf di bulan Ramadlan dan bulan lainnya sepanjang tahun.  I’tikaf yang paling utama adalah pada bulan Ramadlan, berdasarkan hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam biasanya beri’tikaf selama sepuluh hari setiap bulan Ramadlan.  Maka ketika di tahun wafatnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari” (HR. Bukhari no. 1939).

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله


“Bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan hingga Allah mewafatkan beliau” (HR. Bukhari no. 1922 dan Muslim no. 1173 dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa).

3.   Waktu Pelaksanaan I’tikaf

Disunnahkan memulai i’tikaf setelah shalat fajar (shubuh), sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa tentang i’tikaf Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

إذا أراد أن يعتكف صلى الفجر ثم دخل معتكفه

“Bila beliau hendak i’tikaf, maka beliau shalat fajar kemudian masuk ke tempat i’tikaf-nya” (HR. Muslim no. 1173).

4.   Syarat-Syarat I’tikaf

a.   Islam.

b.   Berakal/Tamyiz.

c.   Niat.

d.   Tidak disyari’atkan melakukan i’tikaf selain di masjid, berdasarkan firman Allah ta’ala :

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Janganlah kamu campuri istri-istri kalian, sedangkan kamu dalam keadaan i’tikaf di dalam masjid” (QS. Al-Baqarah : 187).

e.   Disunnahkan bagi yang ber-i’tikaf hendaknya berpuasa, sebagaimana yang dijelaskan dalam atsar dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa :

ولا اعتكاف إلا بصوم

“Termasuk sunnah bagi yang beri’tikaf adalah berpuasa” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2473 dan Baihaqi dalam Ash-Shughra no. 1477; hasan shahih. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud 2/87).

Puasa adalah syarat i’tikaf merupakan madzhab jumhur ulama salaf (lihat Nashbur-Rayah 2/488 dan Ad-Durrul-Mantsur 1/485).

5.   Larangan I’tikaf

a.   Berjima’/Bersetubuh dengan Istri

Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala :

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Dan janganlah kalian bercampur (berjima’) dengan istri-istri kalian sedangkan kalian dalam keadaan i’tikaf di dalam masjid” (QS. Al-Baqarah : 187).

Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab As-Sailul-Jarar 2/136 berkata,”Dan hal itu adalah merupakan ijma’ (kesepakatan) ummat (para ulama’)”. (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Maraatibul-Ijma’ hal. 48).

b.   Keluar dari Masjid

Di antara petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah bila beliau melakukan i’tikaf, maka beliau menyendiri di tempat i’tikafnya dan tidak masuk ke rumahnya (keluar dari masjid) kecuali karena hajat manusia yang sifatnya mendesak, seperti mandi apabila junub karena mimpi, buang hajat, dan lainnya.

عن عائشة قالت كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا اعتكف يدني إلي رأسه فأرجله وكان لا يدخل البيت إلا لحاجة الإنسان

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila beliau beri’tikaf, beliau mencondongkan kepalanya dan aku menyisir rambutnya.4  Tidaklah beliau masuk rumah kecuali karena hajat manusia” (HR. Muslim no. 297).

Ibnu Hazm berkata : [واتفقوا على أن من خرج من معتكفه في المسجد لغير حاجة ولا ضرورة ولا بر أمر به أو ندب اليه فان اعتكافه قد بطل] “Mereka bersepakat bahwa sesungguhnya seseorang yang keluar dari tempat i’tikafnya di masjid tanpa ada satu keperluan, tanpa dlarurat, atau tidak karena kebaikan yang diperintahkan atau disunnahkan; maka i’tikafnya batal” (Maratibul-Ijma’ halaman 40).

6.   Hal-Hal yang Diperbolehkan dalam I’tikaf

a.   Keluar dari tempat I’tikaf untuk satu keperluan yang mendesak.

b.   Memperindah rambut dan menyisirnya.

c.   Berwudlu dan semisalnya di masjid. Telah diriwayatkan dari seorang shahabat, bahwa dia berkata :

حفظت لك ان رسول الله صلى الله عليه وسلم توضأ في المسجد

“Aku menghafal buatmu, bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berwudlu di masjid” (HR. Ahmad no. dengan sanad shahih).

d.   Membuat tenda kecil atau yang serupa dengannya di belakang masjid untuk i’tikaf. ‘Aisyah telah membuat khuba’ 5  buat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam i'tikaf 6 dan hal itu dengan perintah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam 7. Dan sungguh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah satu kali beri’tikaf di dalam Qubbah Tarkiyyah 8g di atas suddah 9-nya ada tikaf 10.


Catatan kaki :

1.  Lihat Tharhut Tatsrib (4/166) oleh Ibnul-‘Iraqi

2.  Lihat Al-Mufradat (343) oleh Ar-Raghib

3.  Lihat Syarhu Muslim (8/66) oleh Imam Nawawi

4.  Beliau mencondongkan kepalanya dengan posisi badannya masih berada di masjid, untuk disisir ‘Aisyah yang berada di rumahnya. Sebagaimana diketahui bahwasannya rumah beliau dekat dengan masjid. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak keluar dari masjid kecuali ada kebutuhan yang sangat mendesak.

5.  Yaitu rumah kecil dari bulu domba (wol) yang ditegakkan di atas dua atau tiga tiang, sebagaimana yang dkatakan Ibnul-Atsir dalam An-Nihaayah (2/9).

6.  Dikeluarkan oleh Bukhari 4/226.

7.  Diriwayatkan oleh Muslim no. 1183.

8.  Yaitu sejenis qubah kecil.

9.  Naungan yang diletakkan di atas pintu untuk menjaga diri dari hujan dan sungguh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah meletakkannya agar hati orang yang i'tikaf tidak terganggu oleh orang yang lewat di depannya dan dapat memperoleh maksud (tujuan) i'tikaf. Lihat Risaalah Qiyaami Ramadlaan halaman 26.

10.  Dikeluarkan oleh Muslim no. 1167.




Abu Al-Jauzaa'

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #21 pada: 04 September 2007, 08:35:21 »
Shalat Tarawih


Banyak diantara kaum muslimin yang masih belum paham tentang peristilahan : Shalat Lail, Shalat Tahajjud, dan Shalat Tarawih.  Shalat Lail adalah shalat sunnah yang dilakukan pada waktu malam hari setelah shalat ‘isya’ sampai dengan sebelum fajar shadiq muncul.  Adapun Shalat Tahajjud adalah Shalat Lail yang didahului dengan tidur malam.  Dan shalat Tarawih adalah Shalat Lail yang dilakukan pada bulan Ramadlan.

1.   Disyari’atkannya Shalat Tarawih dengan Berjama’ah

Shalat tarawih disyari’atkan dengan berjama’ah berdasarkan hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج من جوف الليل فصلى في المسجد فصلى رجال بصلاته فأصبح الناس يتحدثون بذلك فاجتمع أكثر منهم فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في الليلة الثانية فصلوا بصلاته فأصبح الناس يذكرون ذلك فكثر أهل المسجد من الليلة الثالثة فخرج فصلوا بصلاته فلما كانت الليلة الرابعة عجز المسجد عن أهله فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فطفق رجال منهم يقولون الصلاة فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى خرج لصلاة الفجر فلما قضى الفجر أقبل على الناس ثم تشهد فقال أما بعد فإنه لم يخف علي شأنكم الليلة ولكني خشيت أن تفرض عليكم صلاة الليل فتعجزوا عنها

“Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar pada waktu tengah malam, lalu beliau shalat di masjid.  Lalu shalatlah beberapa orang bersama beliau.  Di pagi hari, orang-orang memperbincangkannya.  Maka berkumpullah kebanyakan dari mereka.  Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat di malam kedua, mereka pun shalat bersama beliau.  Di pagi hari berikutnya, orang-orang memperbincangkannya kembali.  Di malam ketiga, jumlah jama’ah yang ada di masjid bertambah banyak.  Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar dan melaksanakan shalatnya.  Pada malam keempat, masjid tidak mampu lagi menampung jama’ahnya, dan beliau tidak keluar melaksanakan shalat malam sebagaimana sebelumnya kecuali beliau hanya melaksanakan shalat shubuh.  Ketika telah selesai melaksanakan shalat Shubuh, beliau menghadap kepada jama’ah kaum muslimin, kemudian membaca syahadat, dan bersabda : Amma ba’du, sesungguhnya keadaan kalian tidaklah samar bagiku di malam tersebut (= yaitu iman dan semangat kalian dalam beribadah), akan tetapi aku merasa khawatir (ibadah ini) akan diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak sanggup melakukannya”. (HR. Bukhari no. 882 dan Muslim no. 761).

Setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam wafat dan syari’at telah mantap, maka hilanglah kekhawatiran.  Disyar’atkannya shalat tarawih berjama’ah tetap ada meski telah hilang illat (sebab)-nya.  Kemudian Khalifah Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu menghidupkan shalat tarawih secara berjama’ah kembali, sebagaimana hadits Abdurrahman bin Al-Qari (HR. Bukhari 4/218, Malik 1/114, dan Abdurrazzaq no. 7723).

Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda ketika menekankan untuk berjama’ah ketika shalat tarawih:

إنه من قام مع الامام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة

“Sesungguhnya barangsiapa shalat tarawih bersama imam (berjama’ah) sampai selesai, maka ditulis baginya sama dengan shalat semalam suntuk” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 2/286 no. 228, Abu Dawud no. 1375, Tirmidzi no. 806, Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 1287 serta dalam Al-Mujtabaa no. 1364, dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud  1/379-380).

2.   Jumlah Raka’at Shalat Tarawih

a.   Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah raka’at tarawih.  Namun selama pendapat-pendapat tersebut dilandasi dengan dalil yang shahih, maka tetap dapat dipakai dan diterima.  Dan bahkan itu menunjukkan keluasan syari’at Islam.  

b.   Jumlah raka’at yang disebutkan melalui hadits-hadits shahih adalah 13 raka’at, 11 raka’at dan 9 raka’at.  Diriwayatkan secara shahih dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa bahwasannya beliau tidak pernah melakukan shalat lail/tahajjud/tarawih melebihi 11 raka’at, yaitu dengan perkataannya :

ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة......

“Tidaklah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melebihkan (jumlah raka’at) pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada selain bulan Ramadlan dari 11 raka’at” (HR. Bukhari no. 1096 dan Muslim no. 736).

Adapun riwayat yang menyebutkan 13 raka’at (Muslim no. 737; Ahmad no. 2987; Abu Dawud no. 1338; dan Tirmidzi no. 442) tidak bertentangan dengan hadits ‘Aisyah di atas.  Sebab, 13 raka’at tersebut dihitung termasuk 2 raka’at ringan dari shalat rawatib ba’diyyah ‘isya’.  Untuk pembahasan selengkapnya, silakan merujuk pada kitab Qiyaamu Ramadlan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah.

c.   Adapun pendapat yang menyebutkan jumlah raka’at shalat tarawih adalah 23 raka’at adalah pendapat yang lemah (dla’if) berdasarkan penelitian dari para pakar ahli hadits.  Diantara hadits yang dijadikan hujjah diantaranya adalah :

-   Dari Yazid bin Ruman beliau berkata :

كان الناس يقومون في زمان عمر بن الخطاب في رمضان بثلاث وعشرين ركعة

“Manusia menegakkan (shalat tarawih) di bulan Ramadlan pada masa ‘Umar bin Khaththab radliyallaahu ‘anhu 23 raka’at” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa’’  no. 252).

Sanad hadits ini terputus (munqathi’).  Imam Al-baihaqi berkata : “Yazid bin Ruman tidak menemui masa Umar” (Nashbur-Rayah 2/154).  Kesimpulannya : hadits ini lemah (dla’if).

-   Dari Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman dari Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma berkata :

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي في رمضان عشرين ركعة

“Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat di bulan Ramadlan 20 raka’at dan witir” (HR. Thabarani dalam Mu’jamul-Ausath no. 802 dan 1/243, dan dalam Al-Mu’jamul-Kabiir no. 11934).

Imam Ath-Thabrani rahimahullah berkata : “Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini kecuali Abu Syaibah dan tidaklah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas kecuali dengan sanad ini saja” (Al-Mu’jamul-Ausath 1/244).  Dalam kitab Nashbur-Rayah (2/153) dijelaskan : “Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman adalah perawi yang lemah menurut kesepakatan, dan dia telah menyelisihi hadits yang shahih riwayat Abu Salamah, sesungguhnya beliau bertanya pada ‘Aisyah : Bagaimana shalat Rasulullah di bulan Ramadlan? (yaitu dalil pada poin b di atas).  Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini palsu (maudlu’). (lihat Adl-Dla’iifah 2/35 no. 560 dan Irwaaul-Ghalil  2/191 no. 445).

-   Dari Dawud bin Qais dan yang lainnya, dari Muhammad bin Yusuf, dari As-Sa’ib bin Yazid ia berkata :

[size=14ptأن عمر جمع الناس في رمضان على أبي بن كعب وعلى تميم الداري على إحدى وعشرين ركعة يقرؤون بالمئين وينصرفون عند فروع الفجر[/size]

“Umar radliyallaahu ‘anhu mengumpulkan orang-orang di bulan Ramadlan (untuk melaksanakan shalat tarawih) yang diimami oleh Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Daari dengan 21 raka’at.  Mereka membaca (surat-surat) Al-Mi’iin (= surat yang berjumlah lebih dari 100 ayat) dan pulang di ambang fajar” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf  7730).  

Atsar ini pun tidak terlepas dari kelemahan, diantaranya adalah bahwa orang-orang yang meriwayatkan dari ‘Abdurrazzaq lebih dari satu orang, salah satunya adalah rawi yang bernama Ishaq bin Ibrahim bin ‘Abbad Ad-Dabari.  Disinilah letak kelemahannya.  Ishaq telah menyalahi riwayat orang yang lebih tsiqah (terpercaya) daripada dia.  Walhasil, hadits ini pun berderajat munkar dan mushahhaf (keliru).

d.   Apabila kaum muslimin tetap bersikeras melakukan shalat tarawih dengan 23 raka’at (walaupun pendapat ini adalah lemah), maka mereka tetap harus mengerjakannya secara thuma’ninah.  Karena tidak jarang mereka yang melakukan 23 raka’at, shalat tarawih dilakukan dengan sangat cepat dan tidak thuma’ninah.  Dan bahkan ada diantara mereka yang membaca Al-Fatihah dengan satu nafas.  Padahal Allah telah memerintahkan dalam membaca Al-Qur’an : وَرَتّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً (= dan bacalah Al-Qur’an itu secara perlahan-lahan/tartil – QS. Al-Muzammil : 4).  Diantara mereka juga ada yang melakukan rukuk dan sujud seperti patukan ayam (karena cepatnya – tidak thuma’ninah), padahal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

لا تجزئ صلاة الرجل حتى يقيم ظهره في الركوع والسجود

“Tidak sah shalat seseorang hingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud” (HR. Abu Dawud no. 855, Nasa’i dalam Al-Kubra no. 699, Tirmidzi no. 265, dan Ibnu Majah no. 870; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Misykatul-Mashaabih 1/153).

رأى رجلاً لا يتم ركوعه، وينقر في سجوده وهو يصلي، فقال: لو مات هذا على حاله هذه؛ مات على غير ملة محمد؛ [ينقر صلاته كما ينقر الغراب الدم]، مثل الذي لا يتم ركوعه وينقر في سجوده؛ مثل الجائع الذي يأكل التمرة والتمرتين لا يغنيان عنه شيئاً

“Beliau melihat seorang laki-laki yang tidak menyempurnakan ruku’-nya dan mematuk di dalam sujudnya ketika shalat.  Kemudian beliau bersabda,”Sekiranya orang ini mati dalam keadaan seperti ini, niscaya ia mati bukan pada millah (agama) Muhammad [karena ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah].  Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematuk di dalam sujudnya seperti orang yang lapar makan satu buah kurma dan dua buah kurma yang tidak memberikan manfaat apa-apa baginya” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad 340/1, 349/1; dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir 1/192/1 dengan sanad hasan. Lihat Ashlu Shifati Shalatin-Nabiyy oleh Syaikh Al-Albani halaman 642).

Maka selayaknyalah kaum muslimin tetap melaksanakan dengan khusyu’, thuma’ninah, dan sesuai dengan contoh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

e.   Bentuk-Bentuk Shalat Tarawih dan Witir dalam Riwayat yang Shahih

-   Tiga belas raka’at, dua raka’at-dua raka’at yang diawali dengan dua raka’at ringan.

عن زيد بن خالد الجهني أنه قال لأرمقن صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم الليلة فصلى ركعتين خفيفتين ثم صلى ركعتين طويلتين طويلتين طويلتين ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم أوتر فذلك ثلاث عشرة ركعة

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani ia berkata : “Aku akan mempraktekkan shalat malam Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Beliau shalat dua raka’at ringan, lalu shalat dua raka’at yang sangat lama, demikian pula dua raka’at berikutnya dan sesudahnya. Lalu shalat dua raka’at tetapi lebih pendek dari sebelumnya, lalu shalat dua raka’at yang lebih pendek dari sebelumnya, kemudian shalat witir (tiga raka’at). Maka jumlahnya tiga belas raka’at (HR. Muslim no. 1284).

-   Tiga belas raka’at, delapan raka’at dilakukan dua-dua, lalu witir lima raka’at dengan duduk tasyahud di raka’at terakhir.

ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يرقد فإذا استيقظ تسوك ثم توضأ ثم صلى ثمان ركعات يجلس في كل ركعتين فيسلم ثم يوتر بخمس ركعات لا يجلس الا في الخامسة ولا يسلم الا في الخامسة

"Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa tidur malam, apabila bangun beliau bersiwak lalu berwudlu kemudian melakukan shalat delapan raka’at, salam setiap dua raka’at. Setelah itu beliau berwitir lima raka’at dengan duduk tasyahud dan salam pada raka’at yang kelima.” (HR. Muslim no. 737 dan Ahmad, no. 24965).

-   Sebelas raka’at, salam setiap dua raka’at, dan witir satu raka’at.

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي فيما بين أن يفرغ من صلاة العشاء وهي التي يدعو الناس العتمة إلى الفجر إحدى عشرة ركعة يسلم بين كل ركعتين ويوتر بواحدة فإذا سكت المؤذن من صلاة الفجر وتبين له الفجر وجاءه المؤذن قام فركع ركعتين خفيفتين ثم اضطجع على شقه الأيمن حتى يأتيه المؤذن للإقامة

Dari ‘Aisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ia berkata : “Biasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat setelah isya’ – yang oleh orang-orang dinamakan dengan shalat ‘atamah – sampai menjelang fajar sebanyak sebelas raka’at, salam pada setiap dua raka’at dan witir satu raka’at. Apabila mu’adzin telah mengumandangkan adzan fajar, dan fajar telah nampak jelas dan muadzinpun telah hadir, maka beliau shalat dua raka’at ringan (yaitu shalat sunnah fajar) kemudian berbaring di sisi badan yang kanan sehingga muadzin datang mengumandangkan iqamat” (HR. Muslim no. 736).

-   Sebelas raka’at, empat raka’at-empat raka’at lalu witir tiga raka’at.

عن أبي سلمة بن عبد الرحمن أنه سأل عائشة كيف كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان قالت ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثا

Dari Abu Salamah bin Abdirrahman bertanya kepada ‘Aisyah : “Bagaimana shalat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadlan ?”. Aisyah menjawab : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah shalat di bulan Ramadlan maupun di bulan selainnya lebih dari sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at, kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Setelah itu shalat empat raka’at dan kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga raka’at1 (HR. Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 738).

-   Sebelas raka’at, delapan raka’at dengan tasyahud, tetapi tidak salam, kemudian bangkit satu raka’at dan salam (berarti sembilan raka’at). Kemudian shalat dua raka’at dan salam.

قلت يا أم المؤمنين أنبئيني عن وتر رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت كنا نعد له سواكه وطهوره فيبعثه الله ما شاء أن يبعثه من الليل فيتسوك ويتوضأ ويصلي تسع ركعات لا يجلس فيها إلا في الثامنة فيذكر الله ويحمده ويدعوه ثم ينهض ولا يسلم ثم يقوم فيصلي التاسعة ثم يقعد فيذكر الله ويحمده ويدعوه ثم يسلم تسليما يسمعنا ثم يصلي ركعتين بعدما يسلم وهو قاعد فتلك إحدى عشرة ركعة يا بني فلما سن نبي الله صلى الله عليه وسلم وأخذه اللحم أوتر بسبع وصنع في الركعتين مثل صنيعه الأول فتلك تسع يا بنى

Dari Sa’d bin Hisyam bin ‘Amir, ia berkata : “Wahai Ummul-Mukminin, kabarkan kepadaku tentang shalat witir Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam”. ‘Aisyah menjawab : “Kamilah yang mempersiapkan siwak dan air wudlu beliau. Bila Allah membangunkan beliau pada waktu yang dikehendaki di malam hari, beliau bersiwak dan berwudlu lantas shalat sembilan raka’at tidak duduk (tasyahud) kecuali pada raka’at kedelapan. Beliau berdzikir, memuji Allah, (membaca shalawat Nabi – dalam riwayat yang lain), dan berdoa, kemudian beliau bangkit dan tidak salam meneruskan raka’at kesembilan. Kemudian beliau duduk, berdzikir, memuji Allah, (membaca shalawat Nabi – dalam riwayat yang lain), dan berdoa, kemudian salam dengan satu salam yang terdengar oleh kami. Setelah itu beliau shalat dua raka’at sambil duduk. Jadi jumlahnya sebelas raka’at wahai anakku. Ketika beliau telah tua dan gemuk, beliau berwitir tujuh raka’at, kemudian dua raka’at setelahnya dilakukan seperti biasa, maka jumlahnya sembilan wahai anakku” (HR. Muslim no. 746).

-   Sembilan raka’at, diantaranya enam raka’at, duduk tasyahud pada raka’at keenam namun tidak salam, kemudian bangkit satu raka’at dan salam (berarti tujuh raka’at). Kemudian shalat dua raka’at dengan duduk. Dasarnya adalah hadits yang telah disebut sebelumnya (HR. Muslim no. 746).


Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #22 pada: 04 September 2007, 08:36:06 »
3.   Disunnahkan Membaca Qunut dalam Shalat Witir

a.   Doa qunut yang dibaca dalam shalat witir adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Hasan bin ‘Ali : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepadaku beberapa kata yang selalu kuucapkan pada waktu witir :

اللّهُـمَّ اهْـدِنـِيْ فِـيْمَنْ هَـدَيْـت، وَعَـافِنـِيْ فِـيْمَنْ عَافَـيْت، وَتَوَلَّـنِيْ فِـيْمَنْ تَوَلَّـيْت ، وَبَارِكْ لـِيْ فِـيْمَا أَعْطَـيْت، وَقِـنِيْ شَرَّ مَا قَضَـيْت، فَإِنَّـكَ تَقْـضِيْ وَلا يُقْـضَى عَلَـيْك ، إِنَّـهُ لا يَـذِلُّ مَنْ والَـيْت، [ وَلا يَعِـزُّ مَن عَـادَيْت ]، تَبَـارَكْـتَ رَبَّـنَا وَتَعَـالَـيْت

[Alloohummah-dinii fiiman hadait, wa’aafinii fiiman ‘aafait, watawallanii fiiman tawallait, wabaariklii fiimaa a’thoit, waqinii syarro maa qodloit. Fa-innaka taqdlii walaa yuqdloo ‘alaik, innahu laa yadzillu man waalait, walaa ya’izzu man ‘aadait, tabaarokta robbanaa wata’aalait]

“Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi, sayangilah aku sebagaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berikanlah berkah terhadap apa-apa yang telah Engkau berikan kepadaku, jauhkanlah aku dari kejelekan apa yang telah Engkau telah taqdirkan. Sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan hukum, dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepada-Mu. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau, wahai Rabb kami yang Maha Tinggi”  (HR. Abu Dawud no. 1425, Tirmidzi no. 464, Ibnu Majah no. 1178, An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 1442, dan Ahmad no. 1727, dan Baihaqi 2/209,497-498. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil 2/172).

Bisa ditambahkan shalawat di akhir doa qunut (lihat Irwaaul-Ghalil 2/175 no. 430).

b.   Doa qunut bisa dilakukan sebelum atau setelah rukuk. Keduanya telah ada contohnya dalam Sunnah.

عن أبي بن كعب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قنت يعني في الوتر قبل الركوع

Dari Ubay bin Ka’b radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan qunut dalam shalat witir sebelum rukuk  (HR. Abu Dawud no. 1427; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/268 dan Irwaaul-Ghalil 2/167).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia menceritakan qunut nazilah yang dibaca Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

عن أنس بن مالك قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم شهرا بعد الركوع في صلاة الصبح يدعو على رعل وذكوان

Dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berqunut selama satu bulan (yaitu qunut nazilah) setelah rukuk dalam shalat shubuh mendoakan kecelakaan atas Bani Ri’l, Dzakwan…..” (HR. Muslim no. 677).

c.   Mengangkat Tangan dan Mengucapkan Amien (Bagi Makmum)
Dasarnya adalah keumuman hadits Salman Al-Farisi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إن ربكم تبارك وتعالى حيي كريم يستحي من عبده إذا رفع يديه إليه أن يردهما صفرا

“Sesungguhnya Rabbmu Tabaraka wa Ta’ala adalah Yang Maha Pemalu dan Maha Pemurah. Dia merasa malu terhadap hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya berdoa kepada-Nya, lalu kembali dengan tangan hampa” (HR. Abu Dawud no. 1488, Tirmidzi no. 3556, Ibnu Majah no. 3865 dan Al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah 5/185. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud  1/409).

Juga riwayat shahih dari ‘Umar bin Khaththab radliyallaahu ‘anhu, dari Abu Rafi’ bahwa ia menceritakan : “Aku pernah shalat di belakang ‘Umar bin Khaththab, beliau berqunut setelah rukuk dan mengangkat kedua tangannya sambil menjahrkan (mengeraskan) doa” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi 2/212; beliau menyatakan : “Ini adalah riwayat dari ‘Umar radliyallaahu ‘anhu sanadnya shahih).

قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم شهرا متتابعا في الظهر والعصر والمغرب والعشاء وصلاة الصبح في دبر كل صلاة إذا قال سمع الله لمن حمده من الركعة الآخرة يدعو على أحياء من بني سليم على رعل وذكوان وعصية ويؤمن من خلفه

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah qunut (nazilah) pada waktu shalat Dhuhur, ‘Asar, Maghrib, ‘Isya’, dan Shubuh di akhir shalat; dan ketika mengucapkan Sami’alloohu liman hamidah pada raka’at terakhir, beliau mendoakan kecelakaan atas Bani Sulaim, yaitu suku Ri’l, Dzakwaan, dan Ushayyah. Sementara orang-orang di belakang beliau mengaminkannya” (HR. Abu Dawud no. 1443 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud  1/397).

d.   Doa di Akhir Shalat Witir

Yaitu berdoa sebelum atau sesudah salam pada shalat witir. Telah shahih dari ‘Ali bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa mengucapkan di akhir witirnya :

اللّهُـمَّ إِنِّـيْ أَعُـوْذُ بِرِضَـاكَ مِنْ  سَخَطِـك، وَبِمُعَـافَاتِـكَ مِنْ عُقُوْبَـتِك، وَأَعُـوْذُ بِكَ مِنْـكَ، لا أُحْصِـيْ ثَنـَاءً عَلَـيْك، أَنْـتَ كَمَـا أَثْنَـيْتَ عَلَـى نَفْسـِك

[Alloohumma innii a’uudzu biridlooka min sakhothik, wabimu’aafaatika min ‘uquubatik, wa-a’uudzubika minka, laa uhshii tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsik]

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dengan keridlaan-Mu dari kemarahan-Mu, dengan keselamatan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari diri-Mu. Tidak dapat kuhitung pujian kepada diri-Mu, sebagaimana yang dapat Engkau lakukan terhadap diri-Mu sendiri” (HR. Abu Dawud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, Ibnu Majah no. 1179, dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/393 dan Irwaaul-Ghalil 2/175 no. 430).

سُـبْحانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوس سُـبْحانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوس سُـبْحانَ اْلمَلِكِ القُدُّوس [رَبِّ اْلمَلائِكَةِ وَالرُّوْح]

[Subhaanal-Malikil-Qudduus, Subhaanal-Malikil-Qudduus, Subhaanal-Malikil-Qudduus, Rabbil-Malaaikati war-Ruuh]

“Maha Suci Allah Raja Yang Suci, Maha Suci Allah Raja Yang Suci, Maha Suci Allah Raja Yang Suci” (Nabi mengangkat suara dan memanjangkannya pada saat yang ketiga) Rabbnya para malaikat dan ruh” (HR. Abu Dawud no. 1430, An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 446-447, Ahmad no. 15390 dan Ad-Daruquthni 2/31 Bab Maa Yuqra-u fii Raka’aatil-Witr wal-Qunuut Fiih. Adapun kalimat dalam tanda kurung merupakan tambahannya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/393 dan Salim Al-Hilaly dalam Shahih Al-Adzkar 2/255).

e.   Bolehkah Witir Dua Kali dalam Satu Malam ?

Mengerjakan witir dua kali dalam satu malam hukumnya adalah makruh berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا وتران في ليلة

“Tidak ada witir dalam satu malam” (HR. Abu Dawud no. 1439, An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 1388, dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Abani dalam Shahihul-Jami’ish-Shaghir no. 7567).

Shalat witir bisa dilakukan sebelum atau sesudah tidur. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

من خاف أن لا يقوم من آخر الليل فليوتر أوله ومن طمع أن يقوم آخره فليوتر آخر الليل فإن صلاة آخر الليل مشهودة وذلك أفضل

“Barangsiapa yang merasa khawatir tidak bisa bangun pada akhir malam, maka hendaklah ia shalat witir pada awalnya (yaitu sebelum tidur). Dan barangsiapa yang mampu bangun di akhir malam, maka hendaklah ia shalat di waktu tersebut. Sesungguhnya shalat di akhir waktu malam disaksikan (oleh para malaikat). Dan itulah yang lebih utama” (HR. Muslim no. 755).

4.   Bilamana Kaum Wanita Shalat Berjama’ah di Masjid?

a.   Pada Asalnya, Kaum Wanita Tidak Terlarang Melaksanakan Shalat di Masjid

Hal ini sesuai dengan keumuman ayat :

إِنّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ وَأَقَامَ الصّلاَةَ وَآتَىَ الزّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاّ اللّهَ فَعَسَىَ أُوْلَـَئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta mereka tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah : 17-18).

عن بن عمر قال كانت امرأة لعمر تشهد صلاة الصبح والعشاء في الجماعة في المسجد فقيل لها لم تخرجين وقد تعلمين أن عمر يكره ذلك ويغار قالت وما يمنعه أن ينهاني قال يمنعه قول رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تمنعوا إماء الله مساجد الله

Dari Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Salah seorang istri ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu biasa menghadiri shalat ‘isya’ dan shbuh berjama’ah di masjid. Ada yang berkata kepadanya : ‘Mengapa Anda keluar, bukankah Anda tahu bahwa ‘Umar tidak menyukai hal ini dan pencemburu ?’. Ia menjawab : ‘Apa yang menghalanginya untuk melarangku adalah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid” (HR. Bukhari no. 858 dan Muslim no. 442. Lafadh ini milik Bukhari).

b.   Rumah Lebih Afdlal bagi Kaum Wanita daripada Masjid untuk Melaksanakan Shalat

عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تمنعوا نساءكم المساجد وبيوتهن خير لهن

Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Janganlah kalian melarang wanita-wanitamu pergi ke masjid; akan tetapi shalat di rumah adalah lebih baik bagi mereka” (HR. Abu Dawud no. 567, Ibnu Khuzaimah no. 1683, Al-Hakim no. 755 dan yang lainnya; shahih lighairihi sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/169 dan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Jami’ li-Ahkaamin-Nisaa’ 1/293).

c.   Keluarnya Wanita ke Masjid untuk Shalat Setidaknya Memenuhi Beberapa Syarat Berikut:

   Tidak Memakai Wangi-Wangian

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا تمنعوا إماء الله مساجد الله ولكن ليخرجن وهن تفلات

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Janganlah kalian melarang kaum wanita ke masjid, dan hendaklah mereka keluar tanpa memakai wangi-wangian” (HR. Abu Dawud no. 565; Ahmad 2/438,475,528; Ibnul-Jarud no. 169; Ibnu Khuzaimah no. 1679, dan lain-lain; hasan shahih. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud 1/169).

   Tidak Menimbulkan Fitnah

عن يحيى وهو بن سعيد عن عمرة بنت عبد الرحمن أنها سمعت عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم تقول لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء لمنعهن المسجد كما منعت نساء بني إسرائيل قال فقلت لعمرة أنساء بني إسرائيل منعهن المسجد قالت نعم

Dari Yahya bin Sa’id, dari ‘Amrah binti ‘Abdirrahman, bahwasannya ia telah mendengar ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata :”Sekiranya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melihat apa yang dilakukan kaum wanita sekarang, tentu beliau akan melarang mereka pergi ke masjid sebagaimana dilarangnya kaum wanita Bani Israil”. Aku berkata kepada ‘Amrah : “Apakah wanita Bani Israil dilarang pergi ke tempat ibadah mereka ?”. Ia menjawab : “Benar” (HR. Bukhari no.  dan Muslim no. 445. Lafadh ini milik Muslim).


Catatan kaki :

1.  Kaifiyat pelaksanaan shalat witir tiga raka’at ini bisa dua macam. Pertama, dilakukan tiga raka’at sekaligus dengan duduk tasyahud dan salam di raka’at ketiga, Kedua, dilakukan dua raka’at salam, dan satu raka’at salam; sesuai dengan keumuman kaifiyat shalat malam :
صلاة الليل مثنى مثنى “Shalat malam itu dilaksanakan dua raka’at-dua raka’at” (HR. Muslim no. 749).



Abu Al-Jauzaa'

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #23 pada: 04 September 2007, 08:51:23 »
Zakat Fithrah


1.   Hukum Zakat Fithrah

Zakat fithrah hukumnya wajib.  Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم فرض زكاة الفطر من رمضان على كل نفس من المسلمين

“Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fithrah di bulan Ramadlan terhadap setiap orang dari kalangan muslimin” (HR. Muslim no. 984).

2.   Siapa yang Wajib Membayar Zakat Fithrah ??

Zakat fithrah diwajibkan kepada semua golongan dari kaum muslimin baik anak kecil dan orang tua, laki-laki dan wanita, merdeka dan budak.  Hal berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma :

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر صاعا من تمر أو صاعا من شعير على العبد والحر والذكر والأنثى والصغير والكبير من المسلمين

“Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fithrah di bulan Ramadlan kepada manusia; satu sha’ tamr (kurma) atau satu sha’ gandum atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan wanita dari kalangan umat muslimin” (HR. Bukhari no. 1432 dan Muslim no. 984).

Seorang muslim wajib mengeluarkan zakat fithrah untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya, baik anak kecil, besar, laki-laki, wanita, orang merdeka, maupun budak.  Berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radliyallaahu ‘anhuma :

أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بصدقة الفطر عن الصغير والكبير والحر والعبد ممن تمونون

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan menunaikan zakat fithrah untuk anak kecil, orang tua, orang merdeka, dan budak yang masuk dalam tanggungannya” (HR. Ad-Daruquthni 2/1410 dan Baihaqi 4/161 dengan sanad hasan).

Tidak wajib zakat fithrah atas janin yang masih ada di dalam perut ibunya.

3.   Jenis-Jenis yang Dibayarkan Sebagai Zakat Fithrah

Jenis-jenis yang dapat dibayarkan sebagai zakat fithrah adalah semua jenis makanan pokok, gandum, kurma, keju, dan kismis (anggur kering).  Hal berdasarkan hadits dari Abu Sa’id Al-Khudry radliyallaahu ‘anhu :

كنا نخرج زكاة الفطر صاعا من طعام أو صاعا من شعير أو صاعا من تمر أو صاعا من أقط أو صاعا من زبيب

“Dulu kami mengeluarkan zakat fithrah (sebanyak) satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ tamr (kurma), atau satu sha’ keju, atau satu sha’ anggur kering (kismis)”   (HR. Bukhari no. 1435 dan Muslim no. 985).

4.   Ukuran Zakat Fithrah

Seorang muslim mengeluarkan zakat fithrah sebanyak satu sha’ dari berbagai jenis makanan yang telah disebutkan.  Satu sha’ kira-kira hampir setara dengan 3 kg beras.

5.   Yang Berhak Menerima Zakat Fithrah

Adapun golongan yang berhak menerima zakat fithrah hanyalah dari golongan orang-orang miskin saja, sebagaimana hadits dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta menjadi makanan bagi orang-orang miskin”  (HR. Abu Dawud no. 1609, Ibnu Majah no. 1827, dan Hakim 1/409. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/447 dan Irwaaul-Ghaliil 3/332 no. 843).

Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fataawaa (25/71-78) dan muridnya Ibnul-Qayyim dalam kitabnya Zaadul-Ma’aad (2/44).

Adapun mengqiyaskan pemberian zakat fithrah ini dengan zakat maal (yaitu untuk delapan golongan), maka pengqiyasan ini adalah pengqiyasan yang salah.  Zakat fithri berbeda sifatnya dengan zakat maal, sehingga tidak boleh adanya pengqiyasan (terhadap 2 hal yang berbeda). 

6.   Waktu Penyerahan Zakat Fithrah

Zakat fithrah dikeluarkan sebelum orang-orang berangkat menunaikan shalat ‘Ied, dan tidak boleh menundanya hingga shalat didirikan.  Hal ini didasarkan pada hadits Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :

.... من أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات

“….Barangsiapa yang menyerahkannya sebelum shalat (‘Ied), berarti ia adalah zakat yang diterima.  Dan barangsiapa yang menyerahkan setelah shalat (‘Ied), maka ia hanyalah sedekah biasa” (ibid).

Diperbolehkan membentuk panitia pengumpulan zakat fithrah serta diperbolehkan juga membayarkannya bagi kaum muslimin sehari atau dua hari sebelum pelaksanaan shalat ‘Ied.

وأن عبد الله بن عمر كان يؤدي قبل ذلك بيوم ويومين

“Bahwasannya Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma membayarkan zakat fithri sehari atau dua hari sebelum shalat ‘Ied” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 2421).



Abu Al-Jauzaa'

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #24 pada: 04 September 2007, 08:54:06 »
Menentukan Jatuhnya Tanggal 1 (Satu) Syawal


Penjelasan dalam bab ini serupa dengan pembahasan Bab Cara Penentuan Bulan Ramadlan. Ada satu penjelasan penting dalam bab ini untuk penekanan pentingnya menjaga persatuan umat (di atas sunnah).

Syaikh Al-Albani berkata : “Inilah yang sesuai dengan syari’at yang mudah ini (yaitu : berpuasa dan berhari raya ‘Iedul-Fithri bersama masyarakat/orang banyak – tidak menyendiri) yang diantara tujuan-tujuannya adalah menyatukan umat dan menyamakan barisan-barisan mereka, serta menjauhkan mereka dari segala sesuatu yang dapat mencerai-beraikan persatuan mereka dari pemikiran-pemikiran individualistis, sehingga syari’at tidaklah memihak kepada pemikiran seseorang – walaupun benar dari sudut pandang dirinya – dalam peribadatan yang bersifat jama’i seperti puasa, hari raya, dan shalat berjama’ah. Tidaklah Anda pernah melihat bahwa para shahabat radliyallaahu ‘anhum, mereka sebagiannya shalat di belakang lainnya dalam keadaan di antara mereka ada yang menilai bahwa menyentuh wanita, kemaluan, atau keluarnya darah termasuk pembatal-pembatal wudlu. Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna di waktu safar, dan sebagian lagi ada yang mengqasharnya ? Kendatipun demikian, perselisihan mereka dengan yang lainnya tidaklah menjadi penghalang bagi mereka untuk berkumpul (bersatu) di dalam masalah shalat di belakang imam yang tunggal, sehingga mereka tidak berpecah karenanya. Hal itu karena pengetahuan mereka bahwa perpecahan dalam agama lebih jelek dari sekedar perbedaan sebagian pendapat. Bahkan sampai pada tingkatan dimana sebagian mereka tidak menghiraukan suatu pendapat yang menyelisihi pendapat imam besar di lingkup yang lebih besar seperti ketika di Mina, hingga mendorongnya untuk meninggalkan pendapat pribadi secara mutlak dalam lingkup tersebut, demi menjauhi akibat buruk yang akan ditimbulkan karena beramal dari hasil pemikirannya (yang menyelisihi imam)”. Maka diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/307 (sebuah contoh yang sangat baik dalam masalah ini) :

أن عثمان رضي الله عنه صلى بمنى أربعا , فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه : صليت مع النبي صلى الله  عليه وسلم ركعتين , و مع أبي بكر ركعتين , و مع عمر ركعتين , و مع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها , ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين متقبلتين , ثم إن ابن مسعود صلى أربعا ! فقيل له : عبت على عثمان ثم صليت أربعا  ! قال : الخلاف شر .

Bahwasannya ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu shalat di Mina empat raka’at, maka berkatalah Abdullah bin Mas’ud dalam rangka mengingkari perbuatannya : “Aku shalat (ketika safar) bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dua raka’at, bersama Abu Bakar dua raka’at, dan bersama ‘Umar dua raka’at, dan bersama ‘Utsman di awal pemerintahannya, kemudian beliau melakukannya dengan sempurna (empat raka’at – tidak diqashar), kemudian kalian berselisih, dan aku ingin sekiranya empat raka’at itu tetap menjadi dua raka’at (sebagaimana dilakukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) Akan tetapi kemudian Ibnu Mas’ud shalat empat raka’at. Maka ditanyakan kepadanya : Engkau telah mencela perbuatan ‘Utsman, namun engkau sendiri shalat empat raka’at ?”. Maka beliau menjawab : “Perselisihan itu jelek”
[selesai - Lihat selengkapnya dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 224].

Dalam atsar Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu tersebut tergambar sebuah pemahaman yang agung dalam menjaga persatuan umat 1 . Tidak dipungkiri di sini bahwa apa yang menjadi pendapat Ibnu Mas’ud itulah yang benar, yaitu mengqashar shalat ketika mabit di Mina sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam – dan itulah yang berlaku hingga kini.

Catatan kaki :

1.  Atsar tersebut janganlah dipahami bahwa upaya menjaga persatuan dan kesatuan umat menafikkan nasihat dan penyampaian kebenaran. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud dan para shahabat lain tetap menyampaikan nasihat kepada ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhum. Hal ini merupakan satu upaya untuk menampakkan al-haq dan tidak menyembunyikankannya. Dan kebenaran itu memang harus disampaikan.




Abu Al-Jauzaa'
« Edit Terakhir: 04 September 2007, 08:58:43 oleh Abu Al-Jauzaa »

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #25 pada: 04 September 2007, 09:05:35 »
Larangan untuk Berpuasa di Dua Hari Raya


Dari Abu ‘Ubaid budak Ibnu Azhar. Ia mengatakan :

شهدت العيد مع عمر بن الخطاب رضى الله تعالى عنه فقال هذان يومان نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صيامهما يوم فطركم من صيامكم واليوم الآخر تأكلون فيه من نسككم

Aku ikut shalat ‘Ied bersama ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu lalu ia berkata : “Dua hari ini telah dilarang untuk melakukan puasa padanya : Hari kalian berbuka dari berpuasa (‘Iedul-Fithri) dan hari dimana kalian memakan kurban kalian (‘Iedul-Adlha)” (HR. Bukhari no. 1889 dan Muslim no. 1137).

Imam An-Nawawi berkata : “Ulama telah berijma’ tentang haramnya melakukan bentuk puasa apapun di kedua hari ini, apakah ia puasa nadzar, puasa sunnah, puasa kaffarat, maupun puasa lainnya” (Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi 3/207).


Abu Al-Jauzaa'

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #26 pada: 04 September 2007, 09:07:36 »
Shalat ‘Ied di Mushalla (Tanah Lapang)


Adalah sunnah yang pasti dari Rasulullah shallallaahu ‘laihi ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya untuk melaksanakan shalat ‘Ied di mushalla (tanah lapang). Dari Abdillah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata :

كان النبي صلى الله عليه وسلم يغدو إلى المصلى والعنزة بين يديه تحمل وتنصب بالمصلي بين يديه فيصلي إليها

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa berpagi-pagi (menuju) ke tanah lapang pada hari ‘Ied, sedangkan ‘anazah (semacam tombak – Pent.) dibawa di depannya. Ketika beliau sampai di sana, (‘anazah tadi) ditancapkan di depan beliau dan beliau menghadapnya (yaitu dijadikannya sebagai sutrah/pembatas shalat). Hal ini karena tanah lapang itu terbuka, tidak ada yang membatasinya” (HR. Bukhari no. 930).

Dari Abi Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يخرج يوم الفطر والأضحى إلى المصلى فأول شيء يبدأ به الصلاة ثم ينصرف فيقوم مقابل الناس والناس جلوس على صفوفهم فيعظهم ويوصيهم ويأمرهم فإن كان يريد أن يقطع بعثا قطعه أو يأمر بشيء أمر به ثم ينصرف قال أبو سعيد فلم يزل الناس على ذلك.....

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa keluar menuju tanah lapang pada hari ‘Iedul-Fthri dan ‘Iedul-Adlhaa. Hal pertama yang beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia, dimana mereka dalam keadaan duduk di shaff-shaff mereka. Beliau memberi pelajaran, wasiat, dan perintah. Jika beliau ingin mengutus satu utusan, maka (beliau) memutuskannya. Atau bila beliau ingin memerintahkan sesuatu, maka beliau memerintahkannya dan kemudian berpaling”. Abu Sa’id berkata : “Maka manusia terus-menerus melakukan yang demikian (sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam)…..”   (HR. Bukhari no. 913, Muslim no. 889, An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 1785 dan yang lainnya. Lafadh ini milik Bukhari).

Tidak diragukan lagi bahwasannya Masjid Nabawi mempunyai keutamaan yang lebih dari tempat lain (lebih utama seribu kali shalat di tempat lain – Shahih Bukhari no. 1133 dan Shahih Muslim no. 1394). Walaupun demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya tetap melaksanakannya di tanah lapang. Hal ini menunjukkan bahwa disyari’atkannya pelaksanaan shalat ‘Ied adalah di tanah lapang. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata : “Dari hadits ini diambillah dalil atas sunnahnya keluar ke tanah lapang untuk shalat ‘Ied. Sesungguhnya yang demikian itu lebih utama daripada shalat ‘Ied di masjid karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam terus-menerus melakukan demikian. Padahal shalat di masjid beliau memiliki banyak keutamaan” (lihat Fathul-Bari 2/450). Namun jika ada sesuatu yang tidak memungkinkan mengerjakannya di tanah lapang (karena hujan, atau tidak tersedianya tanah lapang/tanah kosong sebagaimana lazim di sebagian perkotaan padat), maka boleh shalat di masjid. Wallaahu a’lam.


Abu Al-Jauzaa'

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #27 pada: 04 September 2007, 09:18:26 »
jazakallahu khoir artikelnya akhi, ana boleh ngopi kan?
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #28 pada: 04 September 2007, 09:25:52 »
Shalat ‘Ied

1.   Makan Sebelum Shalat ‘Iedul-Fithri dan Tidak Makan Sebelum Shalat ‘Iedul-Adlha

عن بن بريدة عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان لا يخرج يوم الفطر حتى يأكل وكان لا يأكل يوم النحر حتى يرجع

Dari (Abdullah) bin Buraidah dari ayahnya : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah keluar (menuju tanah lapang untuk melaksanakan shalat) pada hari raya ‘Iedul-Fithri sebelum makan. Dan tidaklah beliau makan pada hari raya ‘Iedul-Adlhaa sebelum beliau kembali (dari melaksanakan shalat)” (HR. Tirmidzi no. 542, Ibnu Majah no. 1756, Ad-Darimi no. 1600, dan Ahmad no. 23033; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Misykatul-Mashaabih 1/248).

2.   Mandi di Pagi Hari Sebelum Melaksanakan Shalat ‘Ied

Dari Nafi’ ia berkata :

أن عبد الله بن عمر كان يغتسل يوم الفطر قبل أن يغدو إلى المصلى

“Abdullah bin ‘Umar biasa mandi pada hari raya ‘Iedul-Fithri sebelum pergi ke tanah lapang (untuk melaksanakan shalat)” (Diriwayatkan oleh Malik no. 426, Asy-Syafi’i dalam Musnad Asy-Syafi’i dalam Kitabul-‘Ied, dan Abdurrazzaq no. 5754 dengan sanad shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Ali Al-Halaby dalam Ahkaamul-‘Iedain).

3.   Berpakaian yang Bagus

أن عبد الله بن عمر قال أخذ عمر جبة من إستبرق تباع في السوق فأخذها فأتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله ابتع هذه تجمل بها للعيد والوفود فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم إنما هذه لباس من لا خلاق له فلبث عمر ما شاء الله أن يلبث ثم أرسل إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم بجبة ديباج فأقبل بها عمر فأتى بها رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إنك قلت إنما هذه لباس من لا خلاق له وأرسلت إلي بهذه الجبة فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم تبيعها أو تصيب بها حاجتك

Bahwasannya Abdullah bin ‘Umar berkata : ‘Umar (bin Khaththab) mengambil sebuah baju dari sutera tebal yang dijual di pasar, lalu ia datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Ya Rasulullah, belilah jubah ini agar engkau dapat berdandan dengannya di hari raya dan saat menerima utusan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Umar : “Ini adalah pakaiannya orang yang tidak mendapatkan kebahagiaan (di akhirat)”. Maka tinggallah ‘Umar sepanjang waktu yang Allah inginkan. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengirimkan kepadanya jubah dari sutera. ‘Umar menerimanya lalu mendatangi beliau. Ia berkata : “Ya Rasulullah, dulu engkau pernah berkata bahwa pakaian ini merupakan pakaian orang yang tidak mendapatkan kebahagiaan (di akhirat), dan engkau kemudian mengirimkan kepadaku jubah ini”. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya : “Juallah ia atau penuhilah kebutuhanmu dengannya” (HR. Bukhari no. 906, Muslim no. 2068, Abu Dawud no. 1076, dan yang lainnya).

Al-‘Allamah As-Sindi berkata : [أن التجمل يوم العيد كان عادة متقررة بينهم ولم ينكرها النبي صلى الله تعالى عليه وسلم فعلم بقاؤها] “Dari hadits ini diketahui bahwa berdandan (membaguskan penampilan) pada hari raya merupakan kebiasaan yang ditetapkan di antara mereka (para shahabat), dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkarinya, maka diketahui tetapnya kebiasaan itu” (Hasyiyah As-Sindi ‘alan-Nasa’i 3/181 no. 1560).

4.   Semua Kaum Muslimin Keluar Menuju Tanah Lapang (untuk Melaksanakan Shalat) Tanpa Terkecuali

Bahkan, bagi para wanita yang haidl yang mereka tidak melaksanakan puasa dan shalat pun tetap diperintahkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk datang di tanah lapang menyaksikan pelaksanaan shalat.

عَنْ أمِّ عَطِيَّة نُسيبة الأنصاريَّة رضي الله عنها قالت: أمرنا تعني النبي صلى الله عليه وسلم أن نُخْرِجَ في العيدين العواتق وذوات الخدورِ وأمر الحُيَّضَ أن يعتزلن مصلى المسلمين.
وفي لفظ : كنا نُؤْمَرُ أن نخرج يوم العيد، حتى نخرج البكر من خِدْرها، وحتى نخرج الحُيَّض فيكبرن بتكبيرهم ويدعون بدعائهم يرجون بركة ذلك اليوم وطهرته.

Dari Ummu ‘Athiyyah Nusaibah Al-Anshariyyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami mengeluarkan wanita-wanita muda, gadis-gadis pingitan pada hari raya ‘Iedain (menuju tanah lapang), dan beliau memerintahkan wanita-wanita haidl untuk menjauhi tempat shalat orang-orang muslim1

5.   Berjalan Kaki Menuju Tanah Lapang

عن علي بن أبي طالب قال من السنة أن تخرج إلى العيد ماشيا

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Termasuk sunnah yaitu engkau keluar (menuju tanah lapang) di hari ‘Ied dengan berjalan kaki” (HR. Tirmidzi no. 530 dan Ibnu Majah no. 1296. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 1/164).

Imam At-Tirmidzi berkata ketika mengomentari hadits di atas : “Kebanyakan dari ahli ‘ilmu (ulama) mengamalkan hadits ini dimana mereka menyukai seseorang yang keluar menuju shalat ‘Ied (di tanah lapang) dengan berjalan kaki. Mereka (ahli ilmu) juga men-sunnah-kan memakan sesuatu sebelum mereka keluar untuk shalat ‘Iedul-Fithri. Janganlah seseorang menaiki kendaraan kecuali jika ia mempunyai udzur”.

6.   Menempuh Jalan yang Berbeda Ketika Berangkat dan Pulang dari Tanah Lapang

عن جابر قال كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا كان يوم عيد خالف الطريق.....

Dari Jabir radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hari ‘Ied, beliau mengambil jalan yang berbeda (ketika berangkatdan pulang dari tanah lapang)” (HR. Bukhari no. 943).

7.   Takbir ‘Ied

a.   Waktu Disunnahkannya Mengumandangkan Takbir Hari Raya ‘Iedul-Fithri

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يخرج يوم الفطر فيكبر حتى يأتي المصلى وحتى يقضي الصلاة فإذا قضى الصلاة قطع التكبير

“Bahwasannya bila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar (dari rumah beliau) pada hari ‘Iedul-Fithri, maka beliau bertakbir hingga tiba di tanah lapang dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat beliau menghentikan takbir” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya dan Al-Muhamili dalam Kitab Shalatul-‘Iedaian dengan sanad mursal shahih. Namun memiliki pendukung yang menguatkannya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 171).

b.   Lafadh Takbir Hari Raya

Tidak ada lafadh takbir hari raya shahih yang marfu’ dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Hanya saja ada beberapa riwayat shahih dari para shahabat, antara lain :

   Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu :

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ ، لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ ، وَللهِ اْلحَمْدُ

[Alloohu akbar, alloohu akbar. Laa ilaaha illalloohu walloohu akbar, alloohu akbar wa lillaahil-hamd]

“Allah Maha Besar Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Dan untuk Allah lah segala puji” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/168 dengan sanad shahih).

   Dari Abdullah bin ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ ، اللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ ، اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَذَا

[Alloohu akbar alloohu akbar alloohu akbar, alloohu akbar wa lillaahil-hamd, alloohu akbar wa ajallu, alloohu akbar ‘alaa maa hadzaa]

“Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar untuk Allah lah segala puji. Allah Maha Besar dan Maha Mulia. Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kita” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi 3/315 dengan sanad shahih).

   Dari Salman Al-Khair radliyallaahu ‘anhu :

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرَا

[Alloohu akbar alloohu akbar allohu akbar kabiira]

“Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar kabiir” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi 3/316) 2.

Takbir ini hendaknya terus diucapkan oleh semua kaum muslimin sampai datangnya imam untuk ditegakkannya shalat ‘Iedul-Fithri.

8.   Waktu Ditegakkanya Shalat ‘Ied

Ibnul-Qayyim berkata : “Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan shalat ‘Iedul-Fithri dan menyegerakan shalat ‘Iedul-Adlhaa. Dan adalah Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma – dengan kuatnya upayanya untuk mengikuti Sunnah Nabi – tidak keluar hingga matahai terbit” (Zaadul-Ma’ad 1/442).

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazaairi berkata : “Waktu shalat ‘Iedul-Fithri dan ‘Iedul-Adlha adalah dimulai dari naiknya matahari setinggi satu tombak sampai tergelincir. Yang paling utama, shalat ‘Iedul-Adlhaa dilakukan di awal waktu agar manusia dapat menyembelih hewan-hewan kurban mereka. Sedangkan shalat ‘Iedul-Fithri agak diakhirkan waktunya agar manusia dapat mengeluarkan zakat fithri mereka 3” (Minhajul-Muslim halaman 278).

9.   Tidak Ada Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat ‘Ied

عن بن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى يوم الفطر ركعتين لم يصل قبلها ولا بعدها

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat ‘Iedul-Fithri dua raka’at, dan beliau tidak shalat sebelum maupun sesudahnya….” (HR. Bukhari no. 921).

Peniadaan shalat sunnah tersebut hanya ketika berada di tanah lapang. Akan tetapi bila ia telah sampai rumah, maka ia boleh shalat sunnah mutlak sebagaimana hadits :

عن أبي سعيد الخدري قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يصلي قبل العيد شيئا فإذا رجع إلى منزله صلى ركعتين

Dari Abu Sa’id Al-Khudry radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah shalat sebelum ‘Ied, tetapi bila beliau pulang ke rumahnya maka beliau shalat dua raka’at” (HR. Ibnu Majah no. 1293; Ahmad no. 11242,11373; dan Hakim 1/297; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil 3/100).

10.   Tidak Ada Adzan dan Iqamat

عن جابر بن سمرة قال صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم العيدين غير مرة ولا مرتين بغير أذان ولا إقامة
Dari Jabir bin Samurah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Aku pernah shalat hari raya bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bukan hanya sekali atau dua kali tanpa adzan dan iqamat” (HR. Muslim no. 887).

Ibnul-Qayyim berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila sampai ke tanah lapang, beliau memulai shalat tanpa adzan dan iqamat, tidak pula ucapan : Ash-Sholaatu jaami’ah [الصلاة جامعة]. Menurut sunnah, itu semua tidak usah dilakukan” (Zaadul-Ma’ad 1/442).


Catatan kaki :

1.  Hadits ini menunjukkan bahwa para wanita haidl diperintahkan untuk mendatangi tanah lapang, akan tetapi tempat mereka agar terpisah dari shaff-shaff kaum muslimin yang melaksanakan shalat (sedikit menjauh). Sebagian ulama juga beristidlal dengan hadits ini atas terlarangnya wanita haidl untuk menetap di masjid. Wallaahu a’lam.

2.  Adapun lafadh takbir hari raya ‘Iedul-Fithri (juga ‘Iedul-Adlhaa) selain dari yang disebut di atas, menurut ulama ahli hadits, bukanlah berasal dari riwayat shahih dari salaf. Allaahu a’lam.

3.  Waktu paling utama mengeluarkan zakat adalah dipagi hari sebelum pelaksanaan shalat ‘Iedul-Fithri.



Abu Al-Jauzaa'
« Edit Terakhir: 04 September 2007, 09:45:43 oleh Abu Al-Jauzaa »

Offline Abu Al-Jauzaa

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.466
  • Jenis kelamin: Pria
  • Namaku : Abu Al-Jauzaa'
    • Lihat Profil
    • Blog Abu Al-Jauzaa'
« Jawab #29 pada: 04 September 2007, 09:26:53 »
Akh @exblopz,........... silakan. Tulisan di atas ditulis untuk dibaca dan disebarkan. Semoga bermanfaat !