Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Rabu, 23 Mei 2012/2 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:56 - Shubuh 4:33:20 - Terbit 5:55:23 - Dzuhur 11:49:41 - Ashar 15:11:42 - Maghrib 17:44:02 - Isya' 18:57:35 WIB

Penulis Topik: Share Tentang Dinar Dirham  (Dibaca 2209 kali)


Offline salsabila^_^

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.136
  • ~Wanna be someone better~
    • Lihat Profil
« pada: 03 Agustus 2007, 12:37:14 »
Assalamualikum....

Bagi teman-teman yg banyak tau tentang dinar dirham, ayo share disini pengetahuannya...
mudah-mudahan bermanfaat.
kan keren tuh siapa tau kedepannya di Annahl bisa bertransaksi menggunakan Dinar Dirham %peace%


Btw, katanya BNI Syariah akan meluncurkan produk Dinar Dirham. bener ga ya... kalau bener, kapan :D


Let's pack your bag and traveling with me *_^

Offline hanima

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.021
  • Lokasi: SURABAYA
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #1 pada: 03 Agustus 2007, 14:39:11 »
belum punya pengethauan apa-apa tentang dinar dirham ini, sy denger2 siy memang udah ada beberapa bank yang mengeluarkan produk dinar dan dirham ini, mungkin seperti beli emas koin aja ya..

klo sy baca tentang perencanaan keuangan safir senduk, alternatif investasi yang mudah dan aman, adalah ya pembelian dalam bentuk uang dinar dan dirham ini... :)

Offline hanima

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 2.021
  • Lokasi: SURABAYA
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #2 pada: 06 Agustus 2007, 12:56:53 »
ada artikel bagus tentang dinar dan dirham ini..sumbernya..lupa..:)

Kutip
Devaluasi Rupiah dan Prospek Dinar-Dirham

Rep:28-05-05

Oleh :

Agus Wahid


Direktur Eksekutif The International Institute of Islamic Thought Indonesia (IIIT-I)

Keterpurukan rupiah terhadap dolar AS mendorong sebagian masyarakat kita melirik mata uang dinar dan dirham. Hal yang dapat dipahami. Sebab melemahnya rupiah bukan hanya mendestabilkan masalah ekonomi makro dan mikro, tapi membuat masyarakat dari berbagai lapisan harus menelan pil pahit akibat devaluasi rupiah. Harga berbagai jenis barang dan jasa naik antara 2,5 hingga 30 persen.

Lalu, apakah penggunaan mata uang dinar yang berbahan utama emas 22 karat dan dirham yang berbahan utama perak dapat menyelamatkan destruksi rupiah? Secara empirik, dinar dan dirham belum pernah menyulitkan negara dan bangsa yang menggunakannya. Dan secara teoritik --hal ini yang jauh lebih menarik-- dinar dan dirham terbebas dari tindakan spekulatif dan inflasi, bahkan tindakan pemalsuan.

Dinar dan dirham tak bisa dimainkan sebagai komoditas yang bisa diperdagangkan. Celah memperdagangkannya memang masih ada. Tapi ketiadaan margin dari transaksinya membuat ketidakmauan para spekulan di manapun. Inilah makna utama mendasar keseimbangan nilai intrinsik dengan nilai nominal pada dinar dan dirham.

Layak dilirik
Mencermati keunggulannya, dinar dan dirham layak kita lirik lebih jauh untuk digunakan sebagai alat transaksi dan sebagai penambah mata uang yang berlaku seperti halnya Saudi Arabia yang tetap memberlakukan real, di samping dinar dan dirham. Sebuah renungan yang perlu dijawab, bagaimana prospek persebaran dinar dan dirham? Ada dua variabel yang perlu kita sorot. Variabel pertama, cukup memberi harapan konstruktif. Dalam perspektif kepentingan nasional Indonesia, dinar dan dirham punya prospek yang cukup cerah. Dilandasi jumlah populasi masyarakat Muslim dan pengalaman pahit devaluasi rupiah terhadap dolar yang merusak sendi ekonomi makro dan mikro, maka kecil kemungkinan terjadi penolakan.

Dalam perspektif regional, baik wilayah Asia Tenggara atau Timur Tengah, kita saksikan jumlah populasi yang lebih fantastik. Bagaimanapun, jumlah 755.366.031 jiwa untuk seluruh penduduk Timur Tengah adalah angka yang sangat gemuk, menjanjikan, dan prospektif jika digarap serius. Tingkat permintaan dinar dan/atau dirham akan jauh lebih ''hiperbolik'' jika dikaitkan dengan kegiatan perdagangan luar negerinya (ekspor-impor). Menurut data Islamic Development Bank (IDB), sekadar data pendukung sampai menjelang tahun 2000-an saja, volume ekspor seluruh negara-negara Islam anggota IDB mencapai 377,9 miliar dolar AS, sedangkan impornya mencapai 382,2 miliar dolar AS.

Mata uang tunggal
Satu hal yang cukup menarik dicatat, pendayagunaan dinar dan dirham secara fantastik praktis akan mengurangi ketergantungan tunggal terhadap dolar AS. Makna reflektifnya adalah akan semakin kecilnya kemungkinan negara-negara pengguna dinar dan dirham setiap saat digoyang produsen dolar AS, juga para fund manager --yang sejauh ini terus malakukan spekulasi secara destruktif untuk kepentingannya sendiri.

Kian mengecilnya ketergantungan terhadap dolar AS --dengan demikian-- akan berkorelasi konstruktif terhadap upaya stabilisasi ekonomi makro dan mikro. Inilah spirit perlindungan kebangsaaan terhadap kepentingan nasional yang seharusnya menjadi warna baru nasionalisme saat ini.

Jika kita tengok ke belahan lain (negara-negara Eropa), tampaknya spirit menjaga stabilitas ekonomi makro itulah yang akhirnya menyepakati mata uang euro. Euro adalah jawaban konstruktif atas ketergantungan tunggal terhadap dolar AS. Kita perlu mencatat, meski dolar masih berlaku sebagai salah satu alat transaksi di belahan Eropa, tapi munculnya euro mampu mengurangi secara signifikan kedigdayaan dolar.

Eropa mampu memberlakukan euro. Mampukah negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim memberlakukan dinar atau dirham? Sikap politik ini sebagai variabel kedua tidak mudah. AS sebagai produsen dolar akan merasa terlecehkan citra nasionalnya jika negara-negara Islam bergerak merapatkan barisan demi kesatuan mata uang.

Jika sang adidaya AS tersinggung, ia tak akan diam. Ia akan mengabaikan hak demokrasi masing-masing negara --termasuk dalam hal penggunaan mata uangnya-- dengan menggencarkan sejumlah rekayasa destruktif. Salah satunya --atas nama kelestarian lingkungan dan sejumlah dalih taktis lainnya-- AS akan memberlakukan sejumlah prosedur yang akan mempersulit kepentingan para eksportir asal negara-negara bermata uang dinar-dirham baru.

Mencermati reaksi AS ini, sebuah pertanyaan yang harus dijawab adalah mampukah negara-negara yang siap memberlakukan dinar-dirham ini mengurangi ketergantungan tunggal ekspornya ke AS? Secara objektif, tantangan itu tidak mudah dijawab karena sudah menikmati sekian lama manisnya ekspor ke belahan AS. Dan bagi negara-negara Islam itu sendiri pun --sangat boleh jadi-- tak rela memutuskan hubungan ekspor ke AS.

Sekadar data, komunikasi bisnis mereka ke negara-negara industri termasuk ke AS mencapai 210,7 miliar dolar AS. Angka yang fantastik ini --secara bisnis ataupun psikologis-- akan membuat dirinya terus terjerat dan sulit keluar dari ketergantungannya. Namun demikian --sebagai refleksi kuatnya nasionalisme dalam arti luas-- para kepala pemerintahan dari negara-negara Islam ataupun para pebisninya perlu mencari pasar baru, misalnya di belahan Eropa sebagai alternatif negara tujuan ekspor.

Jika perlu, antarnegara Islam itu sendiri menciptakan ikatan hubungan ekspor-impor. Barangkali, sudah saatnya, negara-negara Islam membangun ''Pasar Bersama Dunia Islam'' di mana masing-masing dipersilakan mengeksplorasi keberadaan pasar bersama itu secara konstruktif. Hingga menjelang tahun 2000-an, hubungan bisnis antarnegara Islam --boleh jadi karena belum ada Pasar Bersama Dunia Islam-- hanya tercatat 35,9 miliar dolar AS (ekspor) dan hanya 39,4 miliar dolar AS (impor). Sebuah catatan yang cukup memprihatinkan dalam konteks kerja sama ekonomi dan bisnis antarnegara Islam.

Kita berasumsi, pengalihan tujuan ekspor berhasil diwujudkan. Atau -setidaknya-- Pasar Bersama Dunia Islam terealisasi. Akankah AS diam? Tetap. Ia akan bereaksi negatif. Instrumen pengereman melalui amputasi peluang ekspor akan ditindaklanjuti dengan manuver lain yang --bisa jadi-- lebih jauh dan sadis: politicking dalam bentuk mengacaukan situasi politik domestik.

Langkah yang dimainkan bukan penciptaan konflik bilateral dan bersifat langsung dengan AS, tapi rekayasa konflik internal, meski instrumen yang dimainkannya sektor moneter. Dari pintu moneter, akan memanas suhu politik sebagai akibat ketidakpercayaan publik terhadap negara yang tidak mampu mengatasi gejolak ekonomi dan moneter. Bisa juga, melalui aksi politik, yakni dukungan (keberpihakan) terhadap kekuatan separatis atau yang berpotensi besar untuk melakukan pemisahan diri dari Pusat.

Jika kita meneropong sejumlah manuver AS dengan berbagai trik-trik jahatnya, maka prospek pemberlakuan dinar-dirham tetap dipertanyakan, terutama jika diharapkan menjadi mata uang regional yang berlaku di negara-negara Islam, misalnya. Karenanya, agenda pemberlakuannya harus lebih realistis: memenuhi permintaan domestik, terutama dalam kerangka menjawab instabilitas ekonomi makro yang dampaknya memprihatinkan bagi kepentingan ekonomi mikro.

Dengan argumen nasionalisme baru ini, kiranya sang produsen dolar akan memberikan kelonggaran tertentu. Di sinilah --jika Pemerintah mengeluarkan regulasi (perizinan) penggunaan mata uang dinar-dirham yang sah sebagai alat transaksi-- maka persebarannya di Tanah Air akan terlihat. Pada akhirnya, persebaran luasnya akan ikut mengurangi inflasi yang selama ini terus membuntuti, juga tidak terombang-ambing oleh ulah para spekulan. Dan itulah kontribusi nyata sistem moneter syariah yang ikut memperkuat sistem perekonomian nasional, sekaligus memperingan beban ekonomi masyarakat

 

Offline dark_ipl

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.836
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • wink..
    • Lihat Profil
« Jawab #3 pada: 07 Agustus 2007, 10:10:50 »
wah.. jadi status dirham dan dinar ini sudah sah belum sebagai alat jual-beli di negara kita?

sepertinya menjadi solusi yang bagus untuk mengurangi ketergantungan terhadap dollar.. :)
http://blog.dark-ipl.com ............................. ............

Offline muhand15

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 70
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #4 pada: 13 Agustus 2007, 16:18:57 »
Bank-bank yang akan mengeluarkan tabungan emas (Dinar dan Dirham) rencanannya:

1. HSBC Amanah (Bulan Juli), Tapi masih belum ada konfirmasi lagi. tapi kondisi terakhir sedang di ajukan ke BI.
2. BSM rencananya saat Bulan Ramadhan nanti.

Sumber : http://www.pesantrennet.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=12&artid=245

Offline muhand15

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 70
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #5 pada: 13 Agustus 2007, 16:20:11 »
wah.. jadi status dirham dan dinar ini sudah sah belum sebagai alat jual-beli di negara kita?

sepertinya menjadi solusi yang bagus untuk mengurangi ketergantungan terhadap dollar.. :)

Maka dari mulai sekarang kita mengkonversi mata uang kita ke dinar dan dirham (baca : emas) karena siapa lagi kalau bukan kita

Offline muhand15

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 70
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #6 pada: 13 Agustus 2007, 16:23:29 »
belum punya pengethauan apa-apa tentang dinar dirham ini, sy denger2 siy memang udah ada beberapa bank yang mengeluarkan produk dinar dan dirham ini, mungkin seperti beli emas koin aja ya..

klo sy baca tentang perencanaan keuangan safir senduk, alternatif investasi yang mudah dan aman, adalah ya pembelian dalam bentuk uang dinar dan dirham ini... :)

Ada 2 tempat untuk mendapatkan dinar dan dirham di jakarta:

Di PT Antam (BUMN yang bergerak dalam Logam Mulia). Info lebih lanjut lihat di http://Logammulia.com

Atau di Wakala (Money Changer Dinar dan Dirham) bisa juga dilihat di http://wakalasauqi.blogspot.com/

Offline salsabila^_^

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.136
  • ~Wanna be someone better~
    • Lihat Profil
« Jawab #7 pada: 17 Maret 2009, 17:20:56 »
Lawan Dolar Dengan Dinar
Jurus Jitu Bebas Krismon dan Kemerosotan Nilai Uang
Oleh Zaim Saidi
Pustaka Adina November 2003

Prawacana

Perkenalan saya pada sistem mata uang dinar dan dirham pertama kali terjadi tanpa sengaja sekitar akhir 1998. ketika itu penerbit Mizan meminta saya menuliskan kata pengantar untuk buku yang akan diterbitkannya, Jerat Utang IMF, buah karya Abdur Razak Lubis dkk, dari Paid (People Against Interest-Debt), Malaysia. Buku ini berisikan berbagai telaah kritis atas masalah-masalah kemanusiaan yang timbul akibat modernitas. Secara spesifik pembahasan buku ini difokuskan pada sistem finansial dan moneter yang berlaku saat ini, yang dipandang sebagai sumber masalah. Secara ringkas buku Jerat Utang IMF hendak mengatakan bahwa segala sumber persoalan kemanusiaan kontemporer yang kita lihat saat ini adalah akibat sistem finansial ribawi.

Sistem finansial ribawi ditopang oleh segitiga uang kertas, pengenaan bunga, dan penciptaan kredit. Motor penggerak sistem ribawi ini adalah perbankan. Sistem ini telah memungkinkan perbankan menciptakan uang dari ketiadaan dan dengan melakukan itu perbankan memberikan pemasukan yang luar biasa besarnya bagi pemiliknya. Uang, bagi para banker, memberikan anak-pinak berupa uang berikutnya. Semakin banyauang yang diutangkan oleh banker semakin banyak kekayaannnya.

Pada umunya kita melakoni pola kehidupan dengan sistem ribawi ini dengan begitu saja, taken for granted. Maklumlah, sejak kanak-kanak, kita hanya diajari dan menjalani system ini. Padahal sistem ribawi ini sebetulnya belum terlalu lama berlangsung. Kalau pemakaian sistem uang kertas kita jadikan cuan, maka sistem ini baru sekitar 75 tahun. Memang, praktek riba sudah ada sejak berabad-abad lalu, tetapi itu dilakukan secara individual. Dengan kata lain para pemakan riba adalah mereka yang berperilaku menyimpang, atau perkecualian. Sedangkan hari ini praktek ini sudah menjadi sistem, kita semua terlibatdi dalamnya, meski mungkin tidak menyadarinya.

Lalu di mana konteks bagi dinar emas dan dirham perak dalam hal ini?

Tak banyak yang menyadari bahwa menggantikan mata uang emas dan perak, dengan mata uang kertas, pada hakekatnya adalah mengkhianati amanah untuk tidak mengubah takaran dan timbangan. Sebab, fungsi uang yang paling hakiki, selain sebagai alat tukar dan penyimpan nilai, sesungguhnya adalah sebagai alat takar. Seperti halna alat takar berat, yang diukur dengan gram atau kilogram, dan alat takar panjang yang diukur dengan cm, alat takar atas nilai pun sesungguhnya sama saja. Mata uang emas dan perak, karena ditentukan oleh nilai intrinsiknya - dalam proxy berat dan kadar - merupakan takaran bagi nilai suatu komoditas lain.

Demikianlah, uang kertas tidak dapat digunakan sebagai alat takar nilai. Maka harga-harga menjadi tidak baku. Perbedaan takaran nilai ini kita kenal sebagai perbedaan kurs. Akibatnya kita selalu kesulitan menetapkan harga suatu barang, ketika barang itu dipindahkan dari satu negara ke negara lain. Lebih jauh dari itu, perbedaan takaran ini, membuka peluang manipulasi. Negara yang memiliki mata uang yang kuat dapat merugikan negara yang memiliki mata uang yang lemah. Mekanisme perampasan harta inilah, dengan jalan masuk pengacauan takaran nilai, yang dapat kita jelaskan melalui konsep riba.

Dengan uang kertas takaran nilai telah kita khianati, dan kita terjebak di dalam sistem riba. Akibatnya struktur ekonomi politik dunia berbalik 180 derajat: kejayaan kedaulatan Islam, sebagai pengawal terakhir pemakaian koin emas dan perak sebagai mata uang, runtuh bersamaan dengan runtuhnya kedaulatan ini. Sebagai gantinya adalah kehinaan, yang diwujudkan dalam wajah negeri Turki sekarang. Kerajaan Islam yang begitu besar di bawah Turki Usmani, sebagai negeri berkelas "Dunia Pertama" digantikan menjadi negeri miskin, hina, dan terpuruk berkelas "Dunia Ketiga" sebagaimana kita lihat pada Turki hari ini. Fakta ini disimbolisasi dengan mata uang lira, yang nilai tukarnya menjadi sangat rendah - serendah Turki sekarang disbanding Turki dahulu. Pada 1920, saat kelompok sekularis mulai berkuasa, 1 poundsterling setara dengan 5 lira Turki, delapan pulun tahun kemudian, pada 2000, 1 poundsterling setara dengan 100.000 lira!

Perubahan sistem mata uang ini memakan waktu panjang. Uang kertas pertama kali diperkenalkan pada abad ke-9 di negeri Cina ketika para banker swasta mengeluarkan sertifikat tebus bagi pemerintahan Dinasti Tang. Tetapi standarnya tetap pada logam perak. Sementara itu di Eropa uang kertas mulai dicetak pada abad ke-16. pada abad ke-18 pemakaian uang kertas menjadi umum di berbagai belahan dunia. Namun, semuanya tetap didukung dengan emas atau perak, dalam suatu sistem yang disebtu sebagai standar emas.

Hanya di wilayah kekuasaan Islamlah, di bawah daulah Usmani, pemakaian koin emas dan perak terus bertahan, sampai kejatuhannya, 1924. daya tahan ini, agaknya, tidak terlepas dari doktrin yang terutama terkait dengan hokum-hukum muamalah dan jinayah. Ketentuan tentang zakat (mal), diat dan hudud, serta mahar, dan pengelolaan harta benda lainnya, selalu dikaitkan dengan dinar dan dirham. Swiss memang masih memberlakukan sistem tebus emas atas swiss franc sampai tahun 1954, tetapi alat tukarnya di pasar tepat dengan kertas.

Buku ini bermaksud memperkenalkan kembali inti pokok sistem bimetalik yang telah lama dilupakan orang dan membahas berbagai aspek perkembangan pemakaian mata uang dinar dan dirham di masa kini. Pembahasan mencakup beberapa aspek teoritis, sekilas kesejarahan dan diakhiri dengan pendekatan-pendekatan praktis. Sejumlah argument dari perspektif ekonomi politik maupun dari perspektif syariah diupayakan dikemukakan dengan secukupnya.

Diharapkan buku ini dapat menjadi rujukan dan pembuka mata bagi masyarakat Indonesia tentang masalah ini.

Semoga bermanfaat.

Zaim Saidi

Sumber : http://www.mandailing.org/ind/bacaan01.html
Let's pack your bag and traveling with me *_^

Offline kuringtea

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 2.834
  • Lokasi: Bandung-bogor-bekasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Inspirasi "mujahid" dilampu motorku
    • Lihat Profil
    • www.perisaidakwah.com
« Jawab #8 pada: 17 Maret 2009, 17:41:22 »
Lanjut..ijin menyimak duluh
Sahabat ‘Umar Ibn al-Khaththab berkata,

“Bukanlah orang yang berakal itu adalah yang dapat mengetahui kebaikan dari keburukan, namun orang yang berakal adalah yang mampu mengetahui yang terbaik dari dua keburukan.”

[ Raudhatul Muhibbin,hal 8)
Mangga mampir di : makadir.wordpress.com

Offline salsabila^_^

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.136
  • ~Wanna be someone better~
    • Lihat Profil
« Jawab #9 pada: 17 Maret 2009, 17:56:39 »
Cilincing, 16 Maret 2009
Dinar Penolong Nelayan
Sufyan al Jawi - Numismatik Indonesia


Dinar dan Dirham sebagai sarana lindung nilai telah memberikan banyak manfaat bagi para pemegangnya. Nelayan di pesisir pulau Jawa telah membuktikan manfaatnya


Bulan Desember - Februari, dikenal oleh nelayan sebagai musim baratan, yaitu musim angin barat yang menimbulkan ombak besar, sementara ikan-ikan sulit diperoleh karena bersembunyi di dasar laut agar tidak terseret arus. Kondisi ini sangat membahayakan dan merugikan nelayan. Tak berlebihan bila Pak Candra begitu gembira dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena dua tahun yang lalu dia sempat membeli 1 dinar emas seharga Rp 850.000. Kini di musim paceklik, dinar tersebut menolongnya di saat 'bokek' sehingga dia dapat melaut kembali tanpa harus berhutang, menjelang datangnya musim timur.

Ketika saya sedang ke kampung nelayan Cilincing, untuk mengecek hasil pemasukan WC Umum milik saya, tiba-tiba Pak Candra menghadang saya. Dia ingin menanyakan harga dinar terkini. Kebetulan saya membawa koran Republika terbaru, maka saya tunjukan saja harga dinar yang ada di situ meski itu bukan harga up to date. "Jadi kalo harga dinar sekarang berapa, Yo?" Tanya Pak Candra. "Saya sms dulu ke Wakala Induk, pak"

Sambil menunggu jawaban Sms, kami duduk di warung Karlan. Tak lama kemudian muncul juga Sms yang ditunggu, raut wajah Pak Candra begitu sumringah melihat angka Rp 1.400.000 sekian. "Kalo dijual berapa potongannya, Yo?" "Sesuai maklumat 6%, pak" "Setuju!" Sergah Pak Candra. "Saya-kan beli cuma 850 ribu". Kemudian dia menceriterakan bagaimana perlakuan Toko Emas di Pasar Koja yang memotong 'bebek angsa' nilai gelang dan kalung istrinya ketika dijual kembali, potongannya 12%!! Itupun harus ngotot dengan enci toko. Sehingga pembicaraan kami menarik perhatian nelayan yang sedang ngopi, terutama Mas Karlan si-pemilik warung.

Mas Karlan adalah tukang las yang sedang mengerjakan orderan dari Pak Candra untuk membuat dua unit sirip kemudi perahu seharga Rp 1.600.000. Singkat cerita, pak Candra dan mas Karlan bersepakat untuk melakukan transaksi dengan menggunakan dinar emas plus sedikit rupiah. Semoga Allah memberkahi perniagaan mereka. Sebagai catatan: ongkos pembuatan dua sirip perahu berikut bahannya dua tahun yang lalu Rp 900.000, kini Rp 1.600.000 setara dengan inflasi uang kertas terhadap 1 dinar.

Laporan: Sufyan al Jawi, Wakala al-Faqi Cilincing Jakarta Utara, Selasa, 10 Feb 2009
Sumber : http://wakalanusantara.com/detil.php?jdl=Dinar.Penolong.Nelayan&id=67
Let's pack your bag and traveling with me *_^

Offline Arul

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 6.191
  • Lokasi: Insya ALLOH di buminya ALLOH
  • Jenis kelamin: Pria
  • Ruly Khansa
    • Lihat Profil
« Jawab #10 pada: 19 Maret 2009, 11:20:14 »
Bisa Cek disini mba  O0

Mudah mudahan bermanfaat http://www.geraidinar.com/
Ikutan Investasi ini yuk
Insya allah productnya bermanfaat
 http://www.dana-syariah.com/?id=Nengasya

Offline 4type

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2007
  • Tulisan: 74
    • Lihat Profil
    • Wakala Adina
« Jawab #11 pada: 07 Mei 2009, 14:03:29 »
wah.. jadi status dirham dan dinar ini sudah sah belum sebagai alat jual-beli di negara kita?

Indonesia karena terpasung dengan peraturan IMF (seluruh anggota IMF juga), tentunya tidak akan memberlakukan / menerbitkan uang bimetalik (berbasis emas dan perak).
Tapi pada saat yang sama IMF juga nimbun emas :(
Satu hal yang harus diingat, dinar dan dirham pada dasarnya adalah alat barter yang memiliki nilai intrinsik.
Kalo mau barter dengan dinar-dirham ya lakukan saja. Ga ada peraturan permerintah yang melarang barter kok :)
Tapi... (ada tapi nya loh) ketika ada pasar yang memberlakukan dinar-dirham sebagai alat barternya, harus ada seorang muhtasib yang bertugas menjaga agar dinar-dirham yang berputar di pasar itu, kadar dan beratnya memang sesuai standard.
Btw, muhtasib itu ditunjuk oleh seorang amir / pemimpin di mana pasar tersebut berjalan.


Posting Digabung: [time]Thu May  7 14:05:25 2009[/time]


@Arul
Tolong ceritain tentang qirad muzarakah nya gerai dinar dong.
Skema nya bagaimana, n  kerjasamanya dengan perniagaan apa aja?
Soalnya, setahu saya yang sudah masuk dalam skema ini sudah ribuan dinar.
thx
« Edit Terakhir: 07 Mei 2009, 14:06:47 oleh 4type »
Democracy is just another piece of shit!
NGOMONG MELULU..... KAPAN NGAMALINNYA?????

Offline salsabila^_^

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.136
  • ~Wanna be someone better~
    • Lihat Profil
« Jawab #12 pada: 13 Agustus 2009, 23:40:44 »
Kabar terbaru, dinar sudah tersedia dlm pecahan setengah dan dua dinar.

Sumber : www.wakalanusantara.com
Let's pack your bag and traveling with me *_^

Offline viraisti

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 4.573
  • Jenis kelamin: Wanita
  • :: ternyata kini aku Pejuang :D ::
    • Lihat Profil
« Jawab #13 pada: 14 Agustus 2009, 09:25:22 »
*nitip fingerprint disini :)
Jika memang takdir..
cinta pasti bertemu meski kau dan aku ada diujung dunia ^^

Offline mizuka

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 2.516
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Berikan senyum terindahmu pada dunia...
    • Lihat Profil
    • about mizuka
« Jawab #14 pada: 14 Agustus 2009, 09:31:32 »
^nitip jari ya??