Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Rabu, 23 Mei 2012/2 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:56 - Shubuh 4:33:20 - Terbit 5:55:23 - Dzuhur 11:49:41 - Ashar 15:11:42 - Maghrib 17:44:02 - Isya' 18:57:35 WIB

Penulis Topik: Hukum pacaran dalam islam  (Dibaca 16041 kali)


Offline muhshodiq

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 133
  • Lokasi: Solo & Yogyakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Berkatalah baik-baik atau [lebih baik] diam!
    • Lihat Profil
    • Muslim Moderat
« Jawab #345 pada: 06 November 2007, 04:58:08 »
Ana pamitan.
Syukran atas perhatian dan masukannya.
Billaahit tawfiq wal hidaayah. Wassalaamu 'alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh.
M Shodiq Mustika, penulis buku & mubalig Muhammadiyah


Offline Al-Mihali

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2007
  • Tulisan: 910
    • Lihat Profil
« Jawab #346 pada: 06 November 2007, 05:24:15 »
Wah..kayaknya pak muhshodiq WAJIB turun lapangan nih, coba bapak "intip" bagaimana model pacaran anak muda zaman sekarang, setelah itu baru anda komentar lagi.
Jangan bawa pikiran anda sendiri dong tanpa melihat realita yang ada di lapangan, itu namanya buta karena pikiran sendiri alias katak dalam tempurung.

Saran saya : MUHSHODIQ TURUN DARI DUNIA KHAYALANNYA DAN LIHAT LANGSUNG BAGAIMANA ANAK MUDA ZAMAN SEKARANG BERPACARAN, BARU NGOMONG LAGI.

Offline muhshodiq

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 133
  • Lokasi: Solo & Yogyakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • Berkatalah baik-baik atau [lebih baik] diam!
    • Lihat Profil
    • Muslim Moderat
« Jawab #347 pada: 06 November 2007, 05:48:32 »
Wah..kayaknya pak muhshodiq WAJIB turun lapangan nih, coba bapak "intip" bagaimana model pacaran anak muda zaman sekarang, setelah itu baru anda komentar lagi.
Jangan bawa pikiran anda sendiri dong tanpa melihat realita yang ada di lapangan, itu namanya buta karena pikiran sendiri alias katak dalam tempurung.

Saran saya : MUHSHODIQ TURUN DARI DUNIA KHAYALANNYA DAN LIHAT LANGSUNG BAGAIMANA ANAK MUDA ZAMAN SEKARANG BERPACARAN, BARU NGOMONG LAGI.
Hasil penelitian ilmiah mengenai perilaku pacaran di zaman sekarang sudah kami periksa. Itulah realita yang ada di lapangan. Tadi pun sudah ana sampaikan kepada al-Mihali:

Kutip
Apakah pacaran gaya anak zaman sekarang pada kenyataannya pasti mendekati zina?
Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/03/ciuman-dengan-pacar/#comment-505 

Di situ bisa antum periksa hasil penelitian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar prasangka subyektif.

Oh ya, ana sudah pamitan kok masih diajak diskusi lagi? Kalo memang suka diskusi dengan ana, silakan kunjungi blog ana.

Terpaksa deh, ana pamitan lagi. Billaahit tawfiq wal hidaayah. Wassalaamu 'alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh.

« Edit Terakhir: 06 November 2007, 05:55:53 oleh muhshodiq »
M Shodiq Mustika, penulis buku & mubalig Muhammadiyah


Offline Al-Mihali

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2007
  • Tulisan: 910
    • Lihat Profil
« Jawab #348 pada: 06 November 2007, 06:38:26 »
Shodiq kurang gaul kamu ya,....kok enak aja main paksa pendapat, memangnya kamu udah nanya berapa orang dan berapa orang yang jujr menjawabnya dan berapa yang bohong...?
Atau kayaknya kamunya yang nggak pernah pacaran ya...?
atau malah nggak pernah melihat orang berpacaran...?

Penelitian ilmiah mu nggak bermutu, dan tidak bisa di jadikan patokan, selain data-datanya tidak ada juga kamu main paksa saja pada pikiranmu sendiri, sementara kami yang melihat realitanya bahkan mungkin banyak yang langsung merasakan realitanya orang berpacaran itu bagaimana, sehingga kami menolak bentuk LEGALISASI pacaran dengan nama ISLAM, karena kami mencintai agama Islam yang bersih dan suci ini dari pengaruh budaya barat dan budaya kurang suci lainnya.

Beberapa di antara kami telah merasakan berpacaran dan mungkin banyak yang melihat bagaimana cara anak muda zaman sekarang yang telah terlalu bebas dalam berpacaran hingga ada istilah "cinta mati", juga banyak yang melakukan hubungan suami istri sebelum menikah, dan kenyataan ini tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa inilah kenyataannya, hasil dari budaya berpacaran yang kebablasan.

Makanya , begitu ada yang mau melegalisasikan budaya pacaran dengan memakai nama Islam, pasti banyak yang kegerahan, pacaran islami, memakai nama agama untuk pekerjaan yang kurang benar menurut agama , apakah ini tidak saling bertentangan antara kata Pacaran dengan kata Islami-nya...?

Atau kamu sedang promosi buku di sini ya...?
Demi uang kamu mengobrak abrik agama, apakah kamu sudah siap dengan balasannya dari ALLAH..?
Saya melihat ide-mu dengan kamu mau membuat buku adalah hal yang paling buruk, teori menghalalkan segala cara demi uang, wah,...dajjal juga kamu yakh...

Offline nextop

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 1.536
    • Lihat Profil
« Jawab #349 pada: 06 November 2007, 09:39:54 »
Wow, udah berapa hari gak OL, udah nambah juga rupanya postingan deseneh. Masih ngeliat-liat dulu deh...

@Al Mihali
doi (MShodiq) dahulu pacaran, bo. silakan lihat di muhshodiq.wordpress.com/2007/02/18/izinkan-aku-berzina
"Words can inpire, Thoughts can provoke, but only action can take you closer to your dream"
Who said that? %peace%

Offline dajal007

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 763
  • Lokasi: bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • akan ada "mata" yang selalu melihat
    • Lihat Profil
    • amgidarap kilab kitit
« Jawab #350 pada: 06 November 2007, 10:42:37 »
wah ada apa nih, kok nama saya disebut-sebut, eh bukan saya ya... yang disebut kan "j" nya dobel >:D


@kang yangga
apa ente nggak pake memandang dan nggak pake ketemu :hihi: atau nggak pake telfon dan berkata kata manis.
aktivitas itu pun dilakukan pada orang yang bersahabatan. apakah berarti dalam bersahabatan pun tidak boleh seperti itu?

Kalau kita mau mengartikan suatu terminasi maka kita pake yang umum :)
memangnya definisi dari KBBI bukan yang umum ya? bukannya saya menutup mata dari kondisi yang ada terkait dengan pacaran, namun karena penggunaan kata yang digunakan harus sesuai definisinya dengan standar baku (dalam hal ini KBBI) maka saya masih berpegangan pada definisi pacaran berdasar KBBI. beda halnya jika kita membahas ta'aruf, maka standar baku yang digunakan bukanlah KBBI, karena taaruf bukanlah bahasa indonesia yang baik dan benar.

banyak kasus dimana masyarakat (saya pun termasuk) menggunakan definisi yang berbeda dengan KBBI, apakah itu berarti akang juga akan menggunakan definisi yang diakui oleh masyarakat? padahal KBBI itu disusun dalam pengawasan pemerintah dan ahli bahasa.


@kang l4tahzan
seberapa pentingkah menemukan padanan kata pacaran dalam bahasa arab??
bagi saya sangat penting, karena bahasa arab adalah bahasa yang digunakan dalam al-quran dan al-hadits, sedangkan setiap hukum ditetapkan berdasarkan keduanya.

apakah kemudian setelah diketahui bagaimana hukum pacaran menurut ulama arab kemudian antum akan percaya dan mengikutinya??
kenapa tidak? bukankah saat ini kita sedang berdiskusi? diskusi dalam ilmu komunikasi didefinisikan sebagai "sebuah proses tukar menukar informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas, lebih teliti tentang sesuatu atau untuk mempersiapkan dan merampungkan kesimpulan/pernyataan/keputusan".

apakah tidak mencukupi perkataan ulama2 indonesia dalam memaknai pacaran dengan segala macam aktifitasnya yang banyak mendekati zina itu sebagai perbuatan haram??
bagi saya tidak cukup, lagipula keinginan saya ini (mencari padanan kata pacaran dalam bahasa arab) dipicu oleh pendapat teman-teman yang mengatakan "dalam islam tidak ada kata/ istilah pacaran".

Katakanlah MUI sebagai lembaga resmi negara yang mengumpulkan para ulama2 indonesia belum mengeluarkan fatwa tentang keharaman pacaran, bukan berarti pacaran menjadi otomatis halal.
saya tidak pernah menyatakan pacaran itu halal, karena lawan dari haram bukan saja halal, tetapi bisa makruh atau mubah.

Sebagaimana tidak adanya fatwa MUI bahwa selingkuh itu haram, lantas apakah ada kemungkinan selingkuh itu halal??
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, makna dari lafal selingkuh masih seperti aslinya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Kedua, cetakan ke-7, 1996, hal. 900, selingkuh adalah:
1. Tidak berterus terang; tidak jujur; suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; curang; serong;
2. Korup; menggelapkan uang.

dari definisi ini tampakya tidak perlu lagi ada fatwa.

Keharaman pacaran bukan pada istilah. Istilah bisa apa saja tergantung pada banyak hal, boleh dating, kencan, pacaran, 'cem-ceman', dsbnya.
yup sepakat, bukan istilahnya yang haram, tetapi aktivitasnya.
Sebagaimana dengan istilah 'kumpul kebo'??, jika orang yang lugu akan mengartikannya "mengumpulkan kerbau", orang yang berfikir sehat akan mengartikannya "hidup bersama antara laki2 dan wanita yang belum menikah"(benar dan salah tergantung nilai2 etika yang berlaku dimasyarakat tsb, sebagaimana yang terjadi di amerika, ada daerah2 yang sangat anti dengan kehidupan free sex tetapi kebanyakan dari mereka "fine2" ajah), dan ahli agama akan mengatakan (kurang lebih) "hidup serumah antara laki2 dan wanita yang belum menikah, dan melakukan perzinahan maka dari itu ianya dihukumi haram", tidak hanya melihat dengan fakta tetapi juga menetapkan status perbuatan itu dari sudut pandang syariat. Artinya aktifitasnyalah yang kemudian dihukumi sebagai perbuatan yang (mendekati) haram atau halal.
oleh karena itulah, mengapa saya mengembalikan definisi ke KBBI, sebagai standar baku dalam berbahasa indonesia. agar kita dapat berbahasa indonesia dengan baik dan benar.

terkait dengan definisi kumpul kebo yang akang tuliskan, secara jelas dari definisi tersebut kita dapat melihat aktivitas bakunya, dan kita bisa menghukuminya. berbeda dengan definisi pacaran yang masih sangat luas dan belum jelas aktivitas bakunya seperti apa. kecuali jika definisi pacaran diubah sehingga sesuai dengan kenyataan yang ada.

Jadi apakah tepat mengembalikan definisi "pacaran" kepada KBBI untuk menentukan 'kehalalan'nya?? Siapa yang menyusun KBBI itu?? seorang ahli agama kah ataukah orang yang belum/bahkan tidak mengenal syariat islam?? Karena kita sedang berbicara hukum (syariat) suatu aktifitas lho.
bagi saya justru mengembalikan definisi dalam bahasa indonesia ke KBBI merupakan hal yang pertama kali harus dilakukan, karena itu mendasari kita dalam berteori. sekali lagi, penolakan saya terhadap keharaman pacaran bukan berarti saya menghalalkan pacaran, sebab lawan dari haram tidak selalu halal, tetapi bisa juga mubah atau makruh. penyusun KBBI beradad alam pengawan pemerintah dan ahli bahasa indonesia. memang kita sedang membicarakan hukum, tapi istilah yang sedang kita bahas ada dalam bahasa indonesia, dan agar definisi kita sama maka perlu menggunakan standar baku yang diakui secara resmi, dalam hal ini KBBI

Lantas..katakanlah istilah "pacaran" itu masih memuat "asumsi" bahwa ianya boleh jadi halal, kenapa harus diperkenalkan istilah "pacaran islami"???
ini untuk membedakan aktivitas pacaran yang tidak islami, dimana pacaran yang tidak islami tentunya haram.

Jika dikatakan bahwa 'pacaran yang terjadi pada umumnya itu mendekati zina, sedangkan yang ini tidak, maka dari itu dibutuhkan istilah baru',
tergantung kondisi dan sifat masyarakatnya. sebab bahasa bisa mengalami pergeseran makna, dan masyarakat ada yang terbuka ada pula tertutup.

sekarang kami tanya, adakah KBBI mencantumkan pengertian "pacaran islami"
memang kalo secara frasa, tidak ada definisi pacaran islami, dalam KBBI. kata islam atau islami saya tidak tau ada atau tidak, sebab saat ini saya belum punya KBBI dan belum ada KBBI online yang sudah jadi (saat ini masih dalam tahap pembangunan, lihat http://kbbi.storymasterq.com)


jika antum berkata sebagai orang2 yang benar??? Tidak ada??? artinya antum2 ini hendak berlindung dibalik makna istilah "pacaran" yang sangat2 umum yang terdapat dalam KBBI itu sebagai pembenaran akan istilah "pacaran islami" ala sifulan?? Sadarkah antum semua akan kesalahan dalam memahami hal ini?? sungguh disayangkan jika antum melakukannya dengan penuh kesadaran dalam mencari2 "pembenaran" atas sebuah kesalahan yang nyata, apalagi berusaha/berpartisipasi membodohi masyarakat awam. Dan jika selama ini antum tidak sadar telah melakukan kesalahan, maka berfikirlah ya ikhwah fillah.
maksudnya "berlindung dibalik kata pacaran?" dan "pembenaran pacaran islami ala si fulan?"


Katakanlah kata si dajal007, "..tidak ada ketentuan khusus tentang praktek pacaran, dan dengan siapa kita boleh berpacaran" benar, lantas apakah kata2 "islami" dibelakang kata pacaran itu tidak dimaksudkan untuk menjadikan syarat agar praktek dan dengan siapanya itu menjadi "terarah"?? bukankah kata2 'islami' itu untuk memberikan 'batasan2 khusus' terhadap praktek2 pacaran konvensional agar menjadi 'islami'?? apakah kita hendak mengatakan 'saya pacaran islami lho sama dia' tanpa sebelumnya menyatakan 'maukah kau menjadi pacarku'??? Tanpa sebelumnya melakukan PDKT?? Ngerayu sana ngerayu sini dsbnya?? Katakanlah hal itu tidak dilakukan, tidak ada permintaan 'maukah kau jadi pacarku?', tidak ada PDKT tahu2 'jadian', ngerayu2 juga cuma sedikit, tidak pernah pegangan tangan, tidak pernah berduaan, tidak pernah jalan2 nonton bareng/ hang out ke mall, dsbnya, apakah yang seperti ini disebut "pacaran islami"?? mungkinkah hal itu dilakukan?? Mungkin saja, tapi didalam mimpi, mimpi orang2 yang mencari2 pembenaran.
kalo mengikuti definisi yang ada, bisa saja terjadi. banyak hal besar yang terjadi diawali oleh mimpi. teman saya pernah berkata "mimpi itu ada untuk diwujudkan".


Betul jika dikatakan pacaran itu cuma ada dalam bahasa indonesia/ atau mungkin melayu. Tetapi apakah aktifitas pacaran itu tidak memiliki kiblat??
kiblatnya ya... budayanya sendiri, karena kata pacaran merupakan kata asli, bukan kata serapan.


Barat mengenal istilah "girlfriend and boyfriend" (berbeda dengan girl friend dan boy friend), yang artinya 'individual whom shares non-marital romantic relationship'(wikipedia) atau dalam terjemahan bebas bahasa indonesia, "individu2 yang saling menjalin hubungan berkasih2-an tanpa/belum/tidak menikah",
kaitannya dengan pembicaraan kita? apakah anda menganggap pusat/ kiblat aktivitas pacaran berasal dari sana?


dan menurut saya pengertian seperti ini jauh lebih "fair" dibandingkan arti 'pacaran' yang terdapat dalam KBBI. Sebagaimana faktanya, orang yang berpacaran itu, yang berkasih2-an antara laki2 dan wanita itu adalah mereka yang belum/tidak menikah.
apakah dari pengertian tersebut disebutkan jenis kelamin? memang dalam bahasa inggris, ada pembedaan jenis kelamin, tetapi dalam bahasa indonesia?


Lagi2, kemampuan kita untuk berfikir sehat disini diuji, apakah fakta yang sedemikian nyata seperti ini bisa dipatahkan dengan sekedar mengembalikannya pada makna pacaran menurut KBBI???
boyfried/girlfrind bisa jadi merupakan padanan kata untuk pacaran dalam bahasa inggris. tidak ada yang lebih fair diantara keduanya. karena antara indonesia dengan negara lain memiliki basis budaya yang berbeda, dan hal ini mmpengaruhi penggunaan kata. lalu apakah, berkasih-kasihan dengan orang yang belum dinikahi merupakan hal yang haram? bukankah 4JJ1 pun menyuruh umatNya untuk saling mengasihi, tentunya dengan tata cara yang telah diatur. itulah mengapa saya menyatakan bahwa definisi pacaran masih sangat luas, dan karena itulah kita masih memiliki peluang untuk merubahnya. lagi pula memang terkadang teori itu berbeda dengan prakteknya. tapi bukan berarti praktek tidak butuh teori, atau teori tidak memperhatikan prakteknya.

bey de wey ani wey bus wey, boleh tau pada buku apa Abu Syuqqah menuliskan ta'aruf syar'i?

saya memilih menggunakan kata pacaran islami hanya untuk teman-teman saya yang masih sangat jauh dari ajaran islam, sebab sepengetahuan saya, yang haram bukanlah nama pacarannya tapi aktivitasnya. tentunya istilah ini tidak akan cocok jika digunakan kepada teman-teman yang sudah sangat paham tentang ajaran islam. bukankah rosul pun mengajarkan untuk berdakwah dengan menggunakan bahasa yang dipahami oleh yang didakwahi?

sebagai perbandingan, apakah ada pernikahan/walimah yang tidak islami? kalo sepengetahuan saya, ada.
mengaburkan ketidakjelasan, membenarkan kesalahan, menyesatkan kepada kebenaran
kunjungi amgidarap kilab kitit[/size]

Offline lazios

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.373
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • Damainya malam - indahnya Pagi
    • Lihat Profil
    • www.batan-bdg.go.id
« Jawab #351 pada: 06 November 2007, 20:11:25 »
assalamu'alikum...
pak shodiq, komen saya dihapus tuh ma bapak.
Apa saya mengeluarkan kata2 ga sopan.

Sayang saya gak ada file save'annya. Kalo' ada bisa dibahas di sini.

-----------------------------------------

Ok pak kita kunjungi blog bapak :

tentang  "Hadits-hadits Shahih Yang Terlupakan" di http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/11/hadits-hadits-shahih-yang-terlupakan/

contohnya hadist :
Kutip dari: di blog bapak
1. "Dari Anas r.a. dikatakan bahwa Ummu Sulaim menggelar tikar [dari kulit] untuk Nabi saw., kemudian beliau tidur [siang] di atasnya. Anas berkata: “Ketika Nabi saw. tidur, Ummu Sulaim mengambil keringat dan rambut beliau, lalu mengumpulkannya dalam suatu bejana, kemudian menghimpunkannya ke dalam wewangian ….” (HR Bukhari dan Muslim)"

2. Dari Anas bin Malik r.a., dia berkata bahwa Rasulullah saw. menemui Ummu Haram binti Milhan. Lantas dia menjamu makan Rasulullah saw.. Ketika itu, Ummu Haram merupakan istri Ubadah bin Shamit. Rasulullah saw. berkunjung ke rumah wanita tersebut. Lantas wanita tersebut menjamu makan Rasulullah saw. dan menyisir rambut beliau. …. (HR Bukhari dan Muslim)

siapakah ummu sulaimn dan ummu haram menurut bapak ?

jujur...saya juga belum baca shiroh ummu sulaimn dan ummu haram. Jadi boleh bapak cari dan tolong beri tahu kepada saya shiroh ke-2 ummu tsb.

but...btw saya menemukan sedikit shiroh mereka :

UMMU SULAIMN :
http://suryadhie.wordpress.com/category/shirah-an-nisaa-nabawiah/page/9/
dan UMMU HARAM :
http://suryadhie.wordpress.com/category/shirah-an-nisaa-nabawiah/page/8/


saya menemukan bahwa :
ummu sulaimn adalah saudari ummu haram dan mahram Rasulullah

yaitu di
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam memuliakan beliau dan pernah mengunjungi beliau di rumahnya dan istirahat sejenak di rumahnya. Beliau dan Ummu Sulaim adalah bibi Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam baik apabila dihubungkan dengan sepersusuan ataupun dikaitkan dengan nasab, sehingga menjadi halal menyendiri keduanya.

-----------------------------------
komentar saya :
1. bapak adalah seorang manusia yang ada kemungkinan khilaf.
2. bapak telah memberikan 2 buah hadist yg dapat menjadikan pemikiran orang2 awam salah persepsi, bahwa berkhalwat pun diperbolehkan.

maka :
dua buah kesalahan dlm mengutip hadist untuk pembenaran khalwat, sudah cukup untuk membuat saya untuk MERAGUKAN isi dari blog bapak.

perlu bapak ketahui, bahwa seorang perawi hadist saja butuh syarat2 yg berat.
saya ga hapal syarat2nya. Tapi kurang lebih salah satunya adalah :
periwayat hadist harus hebat ingatannya, harus hafal banyak hadist dari perawi yang sanadnya tdk terputus. Dia tidak boleh lupa hadist2 yg telah dia hafal. Dia tidak boleh tercampur oleh hadist yg sanadnya terputus

-------------------
bapak sendiri telah memberikan 2 buah hadist yg tidak tepat untuk dimasukkan ke dalam persepsi orang awam. So...2 buah kesalahan tsb cukup bagi saya untuk MERAGUKAN pemikiran bapak

maaf kalo' ada salah kata
wassalamu'alaikum
« Edit Terakhir: 06 November 2007, 20:21:35 oleh lazios »
teruskan !

Offline dajal007

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 763
  • Lokasi: bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • akan ada "mata" yang selalu melihat
    • Lihat Profil
    • amgidarap kilab kitit
« Jawab #352 pada: 07 November 2007, 04:07:58 »
terkait sejarah ummu haram dan ummu sulaimn saya juga pengen tau lebih jauh juga, soalnya ada dua pendapat tentang status kemahroman keduanya dengan rosululloh.

pertama, seperti yang disebutkan oleh kang lazios, bahwa keduanya merupakan mahrom rosululloh

kedua, keduanya bukan mahrom rosululloh, sebab saudara sepersusuan rosululloh tidak ada yang bernama dari keduanya, dan hubungan kekerabatan keduanya pun cukup jauh.

tentunya salah satu dari keduanya ada yang salah, tapi saya belum tau yang mana. saya belum menemukan penjelasan tentang keduanya, adakah yang bisa membantu. dan saya harap memberikan data valid, bukan opini.
mengaburkan ketidakjelasan, membenarkan kesalahan, menyesatkan kepada kebenaran
kunjungi amgidarap kilab kitit[/size]

Offline l4tahzan

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2006
  • Tulisan: 149
    • Lihat Profil
« Jawab #353 pada: 07 November 2007, 05:11:15 »
@all
Usahakan melatih diri menggunakan bahasa-bahasa yang baik, meski diri sendiri agak "susah", karena terkadang esmosi juga  ;). Pak Shodiq ini jauh lebih 'senior' dibandingkan kita2, kalaupun ada istilah yang hendak dinisbatkan kepada beliau, usahakan dengan alasan2 yang kuat, wallahu'alam.

@dajal007 (agak kurang enak dengan nama ini akhi..sebaiknya gunakanlah istilah yang baik, ini bukan perkara "j" nya satu atau dua, tetapi dajal itu sendiri pengucapannya(meski hanya didalam hati) mengandung segala kejelekan makhluk, wallahu'alam)

 :)
Semoga Allah SWT memudahkan kita dalam melihat permasalahan ini, insyaAllah.

Jangan mudah terjebak dalam perkara "bahasa" ini akhi. Banyak mereka yang "jatuh" ke dalam racun liberalisme berawal bermain-main dengan kata2. Kita mempersulit diri, membohongi diri sendiri, kita tahu bahwa "pacaran" itu tidak semata-mata "bercinta dengan kekasih tetap", dsbnya, tetapi akibat permainan kata2 yang mereka lakukan, perlahan-lahan kita menjadi orang2 yang membela mereka. Tidak semua kata2 yang ada disebuah komunitas, ada padanannya dikomunitas yang lain. Sebagaimana kata "pacaran" di indonesia, memang tidak dipakai di amerika tetapi bukan berarti juga hal itu tidak ada padanannya. Untuk itu fakta, gejala, kejadian, dan tanda2 yang diwakili oleh sebuah kata yang ada pada komunitas lain itulah yang akhirnya bisa menjadi rujukan kita untuk menemukan padanannya atau jika memang belum ada, kita menciptakan istilah baru terhadap kata2 itu.

Sederhananya begini, banyak orang sudah mendengar istilah "sekulerisme". Kata ini dalam bahasa arab sudah kadung diterjemahkan dengan istilah " 'ilmaniyah". Dari akar kata "al 'ilm" yang berarti ilmu, sebagaimana kata rabb menjadi rabbaniyah, maka kata 'ilm itu menjadi " 'ilmaniyah". Terhadap hal ini Syaikh Yusuf Qardhawi mengatakan "bahwa menterjemahkan sekularisme sebagai 'ilmaniyyah adalah bukan saja "satu terjemahan yang tidak teliti (ghayru daqiqah)", tetapi juga "satu terjemahan yang tidak betul (ghayru sahihah)," karena "perkataan [sekularisme] itu tidak mempunyai kaitan langsung dengan lafaz al-'ilm (ilmu) dan akar katanya.". Asy Syaikh menambahkan "terjemahan perkataan asing dengan lafaz 'ilmaniyyah ini disebabkan oleh orang-orang yang menterjemahkannya tidak memahami perkataan al-din dan al-'ilm melainkan hanya dengan ide Barat Kristian, yang memang bagi orang Barat (al-insan al-gharbi) agama dan ilmu mereka itu adalah saling bertentangan. " dan karenanya, menurut al-Qaradawi, adalah "penipuan yang (patut) dikemukakan" .

Pacaran itu sendiri adalah sebuah fenomena.(http://id.wikipedia.org/wiki/Fenomena).

Arti sebuah fenomena tidak bisa didasarkan kepada kamus. Fenomena itu sendiri meliputi gejala, fakta, hal yang dirasakan, kenyataan, kejadian dsbnya.  Sebagaimana makna cinta. Para ahli pun 'memperdebatkan' makna kata cinta itu seperti apa. Tetapi satu yang "pasti" cinta itu adalah sebuah fenomena, sehingga menjelaskan makna cinta, haruslah juga menjelaskan tanda2nya, kenyataan yang terjadi antara orang yang jatuh cinta, gejala2nya, dsbnya. Begitu juga dengan istilah Pacaran, haruslah dijelaskan secara ilmiah, melingkupi gejala2nya, faktanya, apa yang dirasakan, kenyataannya , dsbnya. Sehingga sangat tidak ilmiah mengartikan "pacaran" itu dengan hanya menyandarkannya kepada KBBI ("bercinta dengan kekasih tetap"), sebagaimana yang sering didengungkan Pak Shodiq.

Lantas apakah fenomena seperti "pacaran" itu bisa kita temukan ditempat lain?? Ternyata ada. Di barat,semacam eropa dan amerika adalah kiblatnya "jurus2" menggaet pacar dan sebagainya. Pak Shodiq pun tak jarang mengutip "jurus2" atau "kaidah2" yang berasal dari sana, misalnya dalam hal pandangan mata (http://pacaranislami.wordpress.com/2007/04/12/tatapan-mata-cewek-cowok/). Intinya, fenomena pacaran itu memang berasal dari barat. Hal ini sulit untuk dibantahkan. Akh daj.. tidak percaya?? bagus..kalau masih punya orang tua(ayah saya sudah almarhum, tetapi dulu pernah ngobrol2, gimana sih dulu ketemu sama ibu saya, meski mereka 'berpacaran' tetapi pacaran mereka sangat berbeda dengan pacaran masa kini, dulu saya sempat berfikir 'sepertinya ini nih pacaran islami', mereka nonton film bisu, kalau nonton maka nenek saya pasti ikut, kalo ga nenek saya, adek nenek saya, dsbnya alias ada muhrimnya, dan tidak sampai 1 semester ayah dan ibu saya menikah, tetapi 'pacaran tetaplah pacaran'. Mereka belum tahu ada dalil "zina mata dsbnya..", yang mereka tahu, ketika mereka 'berpacaran' maka mereka sebenarnya telah siap untuk segera menikah) tanyakan lah kepada mereka. Apakah berbeda pacaran dahulu dengan pacaran sekarang?? Dan kita tentu tidak sulit membandingkan pacaran saat ini dinegeri sendiri dengan pacaran diluar semacam amrik, dsbnya. Dan, sebagai tolak ukur bahwa pacaran kita berkiblat kesana adalah jika hari valentin atau tahun baru masehi, maka mayoritas dari kita yang berpacaran disini akan juga turut merayakan.

Sebenarnya apakah pacaran itu?? Didalam sebuah artikel dijelaskan "..Pacaran adalah hubungan antara cowok dan cewek yang diwarnai keintiman. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan sebagai pacar. Demikian definisi yang dikemukakan Reiss dalam buku Marriage and Family Development karangan Duval and Miller, keluaran tahun 1985. So, pacaran berarti kita sudah melangkah lebih jauh dalam hal usaha mengenal lawan jenis. Di sini kita sudah bikin komitmen sama si pacar(http://www.kompas.com/kompas-cetak/0309/26/muda/584131.htm). Cukup jelas. Ada 'keintiman' antara cowok dan cewek yg belum menikah. Ada 'komitmen' untuk saling menjadi pacar, ada 'komitmen' untuk 'mengenal' lebih jauh dsbnya. Keintiman sendiri jika dijelaskan akan melingkupi semua perkara zina kecil dan kemungkinan zina besar, tidak diragukan lagi, pacaran dalam kacamata syariat Islam sejatinya adalah 'perzinahan'. Fair, adil. Inilah yang sesuai dengan gejala dan fakta dilapangan. Kita tidak berkhayal2 tentang definisi tersebut.

Kembali ke perkara "bercinta dengan kekasih tetap". Katakanlah kita terima pengertian seperti itu. Meski demikian, kita masih bertanya2..Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan kekasih tetap disini?? Suami/istrikah?? apakah kita hendak mengatakan suami/istri juga mereka yang berpacaran??Kayanya ya nggak  :). Kalaupun ada yang mengatakan "pacaran setelah menikah itu halal", hal itu lebih kepada penisbatan atas aktifitas "pacaran" itu sendiri, yang kalau dilakukan mereka yang belum menikah maka terjerumus kepada zina2 kecil dan bahkan tak jarang berakhir kepada zina besar sebagaimana pennjelasan Hadits Rasulullah SAW, tetapi jika aktifitas itu dilakukan oleh mereka yang telah menikah, maka semua hal itu menjadi pahala yang berlipat ganda, insyaAllah.

Jadi kalau lah ada teman2 akh daj.. yang mengatakan "tidak ada itu istilah pacaran didalam islam", begitulah yang dikatakan para ulama kita. Mereka adalah ahlinya dalam perkara agama ini. Siapa lagi yang bisa kita percayai dalam berbicara tentang perkara Islam, kecuali para ulama ini. Katakanlah ada satu dua ulama yang mengatakan "ada" pacaran didalam islam, maka hal itu harus dibuktikan dengan dalil yang jelas dan kuat. Apakah sampai saat ini Pak Shodiq sudah membuktikan hal itu???

Mengenai kata "selingkuh" yang 'kebetulan'(sebenarnya tdk ada yang kebetulan) agak cocok antara makna KBBI dengan syariat Islam. Dalam hal ini saya sebenarnya hendak menjelaskan bahwa apa yang tertulis dikamus itu boleh jadi bertentangan dengan fakta dan realita yang ada. Nah, jika definisi dalam kamus itu sendiri bisa bertolak belakang dengan fakta dan kenyataan yang ada, lantas apakah kita rela "membodohi" diri kita sendiri dalam usaha kita mencari kebenaran dari sebuah fenomena, semisal "Pacaran"??? Tentu mereka yang berakal tidak akan melakukan hal itu. Mereka akan mengenali gejala2nya dengan baik, mengetahui fakta dilapangan seperti apa, tanda2nya seperti apa, dsbnya, kemudian dengan itulah mereka mengukur kebenaran dari sebuah istilah yang mewakili fenomena tersebut.

Jika dikatakan "kumpul kebo jelas aktivitas bakunya..lha kalo pacaran kan ga jelas aktifitas bakunya..boleh jadi mereka slaing menjaga pandangan, boleh jadi mereka ga pegangan tangan, kemana2 selalu ditemani muhrim, hati terjaga dari khayalan2 birahi, tidak pernah berjalan2 ke tempat2 sepi, dsbnya".

Memangnya apa sih yang diakui sebagai sebuah aktifitas yang baku?? tidakkah kejadian yang terjadi pada mayoritas itu meyakinkan kita bahwa itulah aktifitas pacaran yang baku?? yang minoritas(pacaran islami misalnya) tentu tidak berarti mereka meninggalkan aktifitas baku itu secara keseluruhan, kalau iya(ditinggalkan secara keseluruhan), tentu sangat tidak tepat membahasakan aktifitas yang minoritas itu dengan 'pacaran islami'. Ini yang saya sebutkan bertentangan dengan gejala, tanda2, fakta, kenyataan, dsbnya. Mereka bisa "jadian pacaran" itu karena mereka pada awalnya tidak bisa menjaga pandangan mata, itu pasti. Tidak ada(kalaupun ada sedikit) orang yang "mencintai" lawan jenisnya tanpa sebelumnya melihat lawan jenis tersebut
. Dilihat2 bagian tubuhnya yang 'menarik' apa saja, diinventarisir untuk kemudian diputuskan langkah2 apa saja guna mendekati si lawan jenis, dsbnya. Padahal mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya itu adalah dosa. Jika hal ini sudah diketahui tetapi masih dilakukan, berarti anda meremehkan dosa kecil. Tidak menjadi kecil lagi, dosa kecil yang kita remehkan, karena segala sarana dan upaya kita 'mendekati' perkara dosa itu juga terhitung sebagai dosa.

Kita baru boleh memandang lawan jenis dengan lebih detail atau serius kalau sudah ada kemauan untuk meminang atau motivasi untuk segera menikah itu besar, inilah yang benar menurut syariat. Itu baru dari sisi mata. Jika tidak seperti itu, dapat dipastikan zina kecil berikutnya terjadi, bahkan peluang untuk terjadinya zina besar semakin terbuka lebar. Karena efek psikologis dari aktifitas pacaran itu adalah hilangnya rasa asing(baca: malu) dengan lawan jenis, alias non muhrim. Padahal rasa asing dengan lawan jenis itulah yang akan menjaga diri kita dan menjauhkan kita dari perzinahan. Jadi kalau ada yang bilang mereka pacaran tetapi tidak melakukan setidaknya salah satu dari yang saya sebutkan diatas, sesungguhnya mereka telah berbohong. Kepada Allah SWT kita kembalikan segala urusan.

Bagaimana dengan istilah "pacaran islami"?? Sesungguhnya jika kita konsisten dengan "dugaan" bahwa pacaran itu dalam rangka saling mengenal. Maka yang perlu kita ambil sebagai istilah bukan kepada "pacaran" nya, tetapi kepada "perkenalannya". Sehingga kenalkanlah istilah "perkenalan islami", atau "ta'aruf syar'iyah", karena inilah yang dijelaskan oleh Al Quran dan Sunnah. (http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/2007/09/25/tinjauan-taaruf-sebuah-istilah-asal-keren/#more-16). Tetapi apa yang dilakukan oleh Pak Shodiq?? Beliau seolah2 asing dengan kata2 perkenalan a.k.a ta'aruf itu. Menurut beliau, kata2 itu baru2 ini saja dijadikan "istilah" untuk perkenalan pra-nikah. Padahal Al Quran telah berbicara tentang ta'aruf ini sudah 14 abad yg lalu. Bahkan buku rujukan beliau, KW Ustadz Abu Syuqqah, justru mengenalkan perkenalan a.k.a ta'aruf itu sebagai pendahuluan pernikahan, bukan "tanazhur" seperti dugaan Pak Shodiq. Adakah yang berfikir ucapan "Ta'aruf" Ustadz Abu Syuqqah itu bukan ta'aruf syar'iyah??. tentu tidak bukan. Kalaupun ada yang berujar "kami lebih suka dengan istilah 'pacaran islami' " daripada "ta'aruf", berarti anda sekalian jangan menisbatkan hal itu kepada KW Ustadz Abu Syuqqah. Karena Ustadz Abu Syuqqah tidak pernah mengisyaratkan hal itu apalagi sampai mengatakannya, na'udzubillah.

Pemilihan kata "pacaran islami" itu sendiri haruslah didukung oleh dalil2 yang benar dan tegas. Tidak tepat jika hanya karena kita ingin mengenalkan "perkenalan yang syar'i" kepada teman2 kita yang belum memahami batasan gaul secara islami, kita menggunakan kata "pacaran islami". Karena apa? karena kita sendiri belum 'membersihkan' makna pacaran itu dari segala konotasi yang diwakili olehnya. Bagaimana misalnya para ulama membersihkan makna "bank" yang berkonotasi "ribawi" itu dengan menjelaskan status hukum menerima, berkomplot, terlibat, dsbnya dengan riba sebagai perbuatan yang haram. Untuk itu solusinya "Bank Syari'ah". Alih2 teman2 kita yang masih jauh dari islam itu menjadikan 'perkenalannya dengan lawan jenis' menjadi syar'i, yang ada justru mereka merasa 'dibela', merasa ada 'dalil', mereka merasa tindakan mereka itu "nyar'i", padahal tidak. Contoh, pada perkara "bolehnya memegang lawan jenis asal tidak bersyahwat" yang disandarkan pada ijtihad Ustadz Yusuf Qardhawi. Ustadz Yusuf Qardhawi,menetapkan "bolehnya" itu jika terlepas dari 2 syarat, pertama tidak bersyahwat dan kedua tidak menimbulkan fitnah. Seorang wanita muslimah, apabila terlihat dengan "akrab" dengan laki2 yang bukan muhrimnya maka akan mudah lahirnya fitnah, apalagi sampai berpegang tangan, na'udzubillah. "Itu kan salahnya orang yang memfitnah" mungkin ada yang berdalih seperti itu, ketahuilah akhi, mereka yang memfitnah memang salah, tetapi menjadi penyebab orang lain  memfitnah itu jelas2 lebih salah. Lagi2 tidak pada tempatnya menyandarkan "bolehnya berpegang tangan dengan non muhrim" pada aktifitas yang bisa menimbulkan fitnah semacam pacaran.

Disamping itu, mereka yang kemudian menduga ada 'pacaran islami' ini menjadi tergantung akan keberadaan si penggagas untuk "mengcounter" nasehat yang sampai kepada mereka. Mereka "takut" mendengarkan langsung penjelasan Al Quran melalui tafsir para ulama ahli tafsir, mendengarkan penjelasan hadits dari para ulama hadits, membaca langsung ijtihad para ulama yang berkompeten dsbnya. Yang mana proses berfikir mereka dalam menimbang perkara syariat ini menjadi kurang terasah diakibatkan pilihan mereka yang mengikuti 'pembenaran' bukan kebenaran. Karena kebenaran agama Islam ini tidak dengan dengan permainan kata2, tetapi tegak oleh dalil. Kuncinya ada pada perenungan yang dalam dan jujur terhadap keseluruhan dalil Al Quran dan Sunnah. Bagaimana Al Quran memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan, menutup aurat, tidak berlebih2an dalam hal perhiasan, wangi2an, tidak berdua2an, tidak berkhalwat, jika sudah mampu menikah maka segera menikah, jika belum mampu maka berpuasa,  apa ukuran 'kemampuan' seseorang?? dia berani bertanggungjawab mencari penghidupan yang halal dan memiliki kemauan yang kuat untuk terus belajar terutama perkara2 syariat agar dia mampu membimbing keluarganya kelak, dsbnya.

Jika sebuah tujuan itu baik, maka jalannya pun haruslah jalan yang baik. Semoga sedikit bermanfaat.
wallahu'alam
wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh



« Edit Terakhir: 07 November 2007, 05:27:39 oleh l4tahzan »

Offline Al-Mihali

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2007
  • Tulisan: 910
    • Lihat Profil
« Jawab #354 pada: 07 November 2007, 07:26:03 »
@l4tahzan,
Penjelasan paling mantap yang pernah ada, top habis.. O0

Bila dengan tulisan di atas M shodiq nggak menahan diri membuat buku pacaran islami-nya, sungguh dia telah menjauhkan diri dari kebenaran.

Sekali lagi salut atas penjelasan l4tahzan.. O0

Offline nextop

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 1.536
    • Lihat Profil
« Jawab #355 pada: 08 November 2007, 07:29:41 »
@Mushodiq

Bismillah

terima kasih, Anda akhirnya turun gunung juga. Maaf, saya baru sempat membalas sekarang.

Perihal tuduhan saya mengenai kesalahan logika (logical fallacies) yang engkau lakukan di blog pribadi pada artikel "izinkan aku berzina," saya akan menjwabnya sekarang.

Mengenai abusive argentum ad hominem dan respective argentum argentum, saya kutipkan dari jawaban antum kepada penanya:

M Shodiq Mustika // Feb 21st 2007 at 1:42 pm

“katanya kalau ada status pacaran itu bisa “zina hati”, karena qt sering mikirin do’i. So tetap aja haram khan?”

Sudah sering saya dengar aktivis dakwah yang mengharamkan pacaran. Tapi, siapakah ulama yang memfatwakan haramnya pacaran? Apakah ilmunya sudah mendalam seperti Qardhawi, Abu Syuqqah, dan Quraish Shihab?


yang saya bold adalah jawaban anda.

sudah sangat jelas kan? Respective argentum ad hominem sekaligus abusive argentum ad hominem terletak pada dua kalimat tanya "Tapi, siapakah ulama yang memfatwakan haramnya pacaran? Apakah ilmunya sudah mendalam seperti Qardhawi, Abu Syuqqah, dan Quraish Shihab?"

Di satu sisi anda "meragukan" kualifikasi keilmuan ulama yang mengharamkan pacaran, di sisi lain anda hanya berpegang kepada 3 ulama yang Anda anggap mendukung kesimpulan anda mengenai pacaran. padahal jauh panggang dari api, artinya anda tidak bisa memasak sate. eh bukan, artinya sama sekali tidak mendukung promosi yang anda gembar-gemborkan mengenai pacaran.

dengan mengemukakan pandangan ketiga ulama tersebut, saya takut Anda hanya berlindung di bawah pandangan mereka seakan-akan bila kemudian anda terbukti salah, anda dapat mengatakan "wong abu Syuqqah, Qardhawi, dan Quraish Shihab berpandangan seperti itu, kok." Padahal seperti yang saya kemukakan, saya tidak menemukan korelasi fatwa mereka dengan pandangan Anda yang nyleneh tersebut.
"Words can inpire, Thoughts can provoke, but only action can take you closer to your dream"
Who said that? %peace%

Offline nextop

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 1.536
    • Lihat Profil
« Jawab #356 pada: 08 November 2007, 07:37:01 »
Tambahan lagi, mengenai hadits berikut

Dari Abu Umamah r.a., ia mengatakan, telah datang seorang pemuda menghadap Rasul saw. seraya berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah saya berzina!” Orang-orang yang ada di sekitarnya menghampiri dan memaki, “Celaka kau, celaka kau!” Akan tetapi, Rasulullah mendekati pemuda itu dan duduk di sampingnya. Kemudian terjadilah dialog.

Rasul bertanya, “Apa kau ingin [zina] itu terjadi pada ibumu?” Si pemuda menjawab, “Sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan Tuan.” Maka bersabdalah Rasul, “Begitu pula orang-orang lain. Mereka tidak ingin [zina] itu terjadi pada ibu mereka.”

Rasul bertanya lagi, “Apa kau ingin [zina] itu terjadi pada saudara-saudara perempuanmu?” Si pemuda menjawab, “Sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan Tuan.” Maka bersabdalah Rasul, “Begitu pula orang-orang lain. Mereka tidak ingin [zina] itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka.”

Rasul bertanya lagi, “Apa kau ingin [zina] itu terjadi pada saudara-saudara perempuan bapakmu?” Si pemuda menjawab, “Sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan Tuan.” Maka bersabdalah Rasul, “Begitu pula orang-orang lain. Mereka tidak ingin [zina] itu terjadi pada saudara-saudara perempuan bapak mereka.”

Rasul bertanya lagi, “Apa kau ingin [zina] itu terjadi pada saudara-saudara perempuan ibumu?” Si pemuda menjawab, “Sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan Tuan.” Maka bersabdalah Rasul, “Begitu pula orang-orang lain. Mereka tidak ingin [zina] itu terjadi pada saudara-saudara perempuan ibu mereka.”

Kemudian [telapak tangan] Rasulullah menyentuh dada pemuda itu seraya berdoa, “Ya Allah!Ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya!” (HR Ahmad)

Bagaimana mungkin ini menjadi dalil bagi pandangan anda mengenai pacaran Islami? Bisakah anda membedakan konten dan konteks? Ketika Rasulullah berdakwah dengan lemah lembut kepada orang yang meminta izin untuk berzina, benarkah kelemah lembutan itu membuat Rasulullah mengizinkan orang untuk berzina? Saya (dan saya harap anda juga) tentu menjawab tidak. dan dari zahir hadits nggak ada tuh kata-kata yang memberi izin untuk berzina. Dalam hal ini Rasulullah menggunakan konteks kelemahlembutan tetapi tidak mengubah kontennya (larangan untuk berzina). Dalam konteks komunikasi, anda telah mengambil kesimpulan yang salah dari sedikit informasi yang tersedia. Kalau dalam logical fallacies, anda terjatuh dalam HASTY CONCLUSION. Dan ini sangat fatal loh, pak. Ini ibarat seseorang mengatakan kepada saya, "Eh, Pak Shodiq suka makan pisang." Lantas, dengan gaya yakin dan sok tahu, saya mengumumkan kepada orang-orang, "Eh, Pak Shodiq ternyata monyet!" Monyet kan suka makan pisang! Tapi, ternyata gaya saya yang sok tau ini hanyalah buah dari kesalahan dalam pengambilan kesimpulan dari informasi yang saya dapatkan. Dan itu yang anda lakukan terhadap hadits Rasulullah. dan (sekali lagi) itu sangat fatal!

Terus, benarkah pacaran itu zina atau (sekurang-kurangnya) mendekati zina? Saya jawab belum tentu zina, tapi sudah pasti mendekati zina. Setidaknya, peneletian neuroendocrinologi sudah membuktikannya. saya juga sudah memberi referensi jurnal ilmiahnyanya, Silakan lihat postingan saya di http://myquran.org/forum/index.php/topic,24654.msg726914.html#msg726914

Dan mendekati zina...itu dilarang oleh Allah, pak shodiq. mudah-mudahan Allah mengampuni bapak.
« Edit Terakhir: 08 November 2007, 07:41:43 oleh nextop »
"Words can inpire, Thoughts can provoke, but only action can take you closer to your dream"
Who said that? %peace%

Offline Kaezzar

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 1.941
  • --- Revealing the truth behind the dark ---
    • Lihat Profil
« Jawab #357 pada: 10 November 2007, 18:40:04 »
Mampir dulu bentar, ud lama g ke sini gara2 jadwal lagi...:malu:

ALAIK, Hadits itu tidak dijadikan dasar oleh pak shodiq
Tapi Hadits itu dimaksudkan untuk counter terhadap adanya makian dan cacian yg ditujukan ke si blogger
Jadi maksudnya, dalam berdakwah untuk melarang perbuatan zina yg terang2an saja, Rasul menggunakan pendekatan yg sedemikian halusnya...jadi kenapa para pihak kontra tidak mencontoh dakwah Rasul...padahal pacaran itu sendiri belum tentu mendekati zina
Jadi poin utamanya cuma masalah etika dalam berdakwah aja...gimana, mungkin bisa dikonfirm ulang  :)

Kalo masalah penelitian itu, bisa nextop kasi tau g kira2 interaksi apa aja...n yg kaya gimana si...ko bisa ningkatin hormon2 tersebut....koz kalo cuma dibatasi interaksi lawan jenis, berarti dalam berteman juga g bisa dong...

Wassalam
The truth is all around us, all you have to do is thinking

Offline l4tahzan

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2006
  • Tulisan: 149
    • Lihat Profil
« Jawab #358 pada: 10 November 2007, 20:03:14 »
@Kaezzar
Maksud akh nextop, bahwa meski rasulullah SAW menjawab dengan lemah lembut tidak kemudian zina itu menjadi halal. Dengan konteks yang sama, akh nextop ingin menjelaskan bahwa meski kita berdakwah lemah lebut kepada mereka yang ingin berpacaran, tetapi tidak serta merta pacaran itu menjadi halal.

Tapi pak shodiq kan tidak begitu, dengan dalih 'lemah lembut' terhadap mereka yang berpacaran, justru menciptakan syubhat baru pacaran islami ala beliau, disinilah salah satu kesalahan fatal beliau dalam memahami dalil, dan ternyata banyak dalil yang beliau tempatkan tidak pada tempatnya. Paham akhi..

Oya mengenai pertanyaan antum "..masalah penelitian itu, bisa nextop kasi tau g kira2 interaksi apa aja...n yg kaya gimana si...ko bisa ningkatin hormon2 tersebut....koz kalo cuma dibatasi interaksi lawan jenis, berarti dalam berteman juga g bisa dong..., antum juga menanyakan hal yang sama disini http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/2007/09/23/andakah-yang-bisa-menahan-hawa-nafsu/. Bahkan berulang2 dengan pertanyaan yang sama. Saya ngga tahu apakah memang 'berniat' bertanya atau apa, wallahu'alam. Yang menyedihkan, jika kemudian hal itu tidak menjadikan kita kemudian berfikir untuk mencari kebenaran, hanya mencari2 celah untuk mendapatkan 'pembenaran', na'udzubillah.

Anda sendiri yang pernah mengatakan "Waduh, maaf mas…
Masa iya karena mas dulu g kuku nahan nafsu, terus semua org jadi dijustifikasi ngga bakal mampu juga….lha piye iki tho?”
..sekarang kami kembalikan kepada antum, Apakah nafsu itu menurut antum??bagaimana tanda2nya??bagaimana cara menahan nafsu itu?? , jika antum juga mengaku sebagai orang2 yang benar dan mencari kebenaran, tunjukkan jawaban antum.

wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

« Edit Terakhir: 10 November 2007, 20:06:37 oleh l4tahzan »

Offline nextop

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 1.536
    • Lihat Profil
« Jawab #359 pada: 11 November 2007, 01:47:50 »
Kalo masalah penelitian itu, bisa nextop kasi tau g kira2 interaksi apa aja...n yg kaya gimana si...ko bisa ningkatin hormon2 tersebut....koz kalo cuma dibatasi interaksi lawan jenis, berarti dalam berteman juga g bisa dong...

@Kaezarr
Baca dahulu sebuah postingan dengan baik, baru bertanya atau berkomentar!!!
Bisa abda buktikan bagian mana tulisan saya yang menyebutkan interaksi lawan jenis? Ingat, saya menuliskan hubungan asmara (love relationship), bukan hubungan dengan lawan jenis biasa. Ada perbedaan reaksi biologis tubuh antara interaksi laki-laki dan perempuan dalam hubungan asmara dan interaksi lawan jenis pada umumnya.

Beli putu bambu di Molis
berpikir dahulu, baru menulis.

beli batik di kaki lima
baca dahulu dengan baik, baru bertanya!!
« Edit Terakhir: 11 November 2007, 04:26:21 oleh nextop »
"Words can inpire, Thoughts can provoke, but only action can take you closer to your dream"
Who said that? %peace%