20 Juni 2013, 11:51:15
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email FaceBook Login -->
Board Khusus "Khusus Muslimah"

myQuran - Komunitas Muslim Indonesia


myQ Selasar, sekilas info: Menghitung Hari Menuju SILAKBARNAS (Silaturrahim Akbar Nasional) - Pantai Depok, Jogja, 29-30 Juni | Ramadhan ceria, lebih bermakna dengan tebar #1000parcelcinta | Selamat datang di myQuran, komunitas muslim indonesia..


Dari Abbas bin Malik r.a, Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya berjihad untuk agama Allah pada waktu pagi atau petang hari lebih baik dari dunia dan seisinya." (Sahih Bukhari)

img_iklan_board/352783160.jpg

Penulis Topik: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??  (Dibaca 15333 kali)

Offline DodyKurniawan 07

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 4.163
  • Jenis kelamin: Pria
  • fayaa ilaahiththufbinaa...
    • Lihat Profil
    • IstanaIslamku
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #375 pada: 16 Juni 2008, 15:13:02 »
akh ferry...

apa yang antum nukilkan tersebut kalau dalam penyelidikan saya hanyalah ilmu dari satu sisi saja....
alhamdulillah saya sudah sangat mengenalnya sejak saya kenal dakwah salafi..... :)

mungkin bagi antum sudah jelas tapi bagi saya tidak semudah dan secepat dalam mengambil kesimpulan, karena pembahasan ini akan memutar ratusan tahun ke belakang.... :)
kalau saya sendiri saya akan berpikir seribu kali untuk mengucapkan perkataan seberat dalam judul tret sebelum saya menemukan benang merah dari semua ini.... :)
inilah sikap saya....

kalau sikap saudara ya monggo saudara sendiri yang mengambil sikap...
setiap orang bertanggung jawab kepada amal masing-masing :)

dan bagi saya sekalipun menghabiskan umur saya, akan saya lakukan sampai saya menemukan secara pasti dari semua ini dan benang merahnya...

wallahu a'lam....

Offline ferry_fasya

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 190
    • Lihat Profil
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #376 pada: 18 Juni 2008, 16:11:08 »
akh ferry...

apa yang antum nukilkan tersebut kalau dalam penyelidikan saya hanyalah ilmu dari satu sisi saja....
alhamdulillah saya sudah sangat mengenalnya sejak saya kenal dakwah salafi..... :)

mungkin bagi antum sudah jelas tapi bagi saya tidak semudah dan secepat dalam mengambil kesimpulan, karena pembahasan ini akan memutar ratusan tahun ke belakang.... :)
kalau saya sendiri saya akan berpikir seribu kali untuk mengucapkan perkataan seberat dalam judul tret sebelum saya menemukan benang merah dari semua ini.... :)
inilah sikap saya....

kalau sikap saudara ya monggo saudara sendiri yang mengambil sikap...
setiap orang bertanggung jawab kepada amal masing-masing :)

dan bagi saya sekalipun menghabiskan umur saya, akan saya lakukan sampai saya menemukan secara pasti dari semua ini dan benang merahnya...

wallahu a'lam....

@DodyKurniawan 07
Tidak ada paksaan dalam Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS. 2: 256)
Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk. (QS. 13: 33)

Bagi saya, untuk mengatakan yang Haq itu Haq dan yang Bathil itu Bathil adalah salah satu cara untuk ber-amar ma'ruf nahi mungkar, kenapa harus berpikir 1000 x.

mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? (QS. 3: 71)

Offline DodyKurniawan 07

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 4.163
  • Jenis kelamin: Pria
  • fayaa ilaahiththufbinaa...
    • Lihat Profil
    • IstanaIslamku
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #377 pada: 19 Juni 2008, 10:34:18 »
@DodyKurniawan 07
Tidak ada paksaan dalam Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS. 2: 256)
Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk. (QS. 13: 33)

Bagi saya, untuk mengatakan yang Haq itu Haq dan yang Bathil itu Bathil adalah salah satu cara untuk ber-amar ma'ruf nahi mungkar, kenapa harus berpikir 1000 x.

mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? (QS. 3: 71)

silahkan saudara.... :)

kalau antum sudah mantap meyakini itu, silahkan saudara pegang teguh...

saya berlindung kepada Allah dari menyembunyikan kebenaran....
Allah lebih mengetahui hati saya.... :)

baik sangka dulu ya akhii.... :)

Offline ferry_fasya

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 190
    • Lihat Profil
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #378 pada: 23 Juni 2008, 16:32:13 »
@DodyKurniawan 07
Tidak ada paksaan dalam Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS. 2: 256)
Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk. (QS. 13: 33)

Bagi saya, untuk mengatakan yang Haq itu Haq dan yang Bathil itu Bathil adalah salah satu cara untuk ber-amar ma'ruf nahi mungkar, kenapa harus berpikir 1000 x.

mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? (QS. 3: 71)

Assallamualaikum,

@Dodi
Saya tidak bermaksud sudzon kepada anda, jika anda teliti tulisan diatas maka ayat itu sebenarnya ditujukan kepada diri saya sendiri bukan kepada anda. Jadi yang sudzon siapa?

Sebaiknya kita kembali ketopik.

Offline ferry_fasya

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 190
    • Lihat Profil
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #379 pada: 23 Juni 2008, 16:37:05 »
Wasiat KH. Hasyim Asyari (pendiri NU)
Dalam suatu kesempatan KH. Muhyiddin Abdusshomad, seorang tokoh NU bercerita tentang wasiat KH. Hasyim Asyari, Berikut wasiat KH. Hasyim Asyari yang disampaikan melalui beliau: [1]
“sebagaimana telah maklum bahwa kaum muslimin di kawasan Jawa (Indonesia) sejak zaman dahulu kala menganut satu pendapat dan satu madzhab, satu sumber. Dalam fiqh menganut madzhab Imam Syafi’i, dalam ushuluddin (tauhid) menganut madzhab Abu Hasan Al-Asyari, dan dalam tasawwuf menganut madzhab Imam Ghazali dan Imam Abil Hasan As-Syadzili."

Setelah sebelumnya saya berusaha menampilkan (secara ringkas) perbedaan antara Asya’ariyah (faham tauhid yang dianut NU) dengan Ahlus Sunnah, maka sekarang saya melihat kejanggalan lain dari wasiat KH. Hasyim Asyari.

Dalam wasiatnya KH. Hasyim Asyari mengatakan bahwa NU dalam masalah Fiqh bermazhab kepada Imam Syafi’I dan dalam tasawwuf menganut Imam Ghazali.

Saya melihat kontradiksi antara Imam syafi’I dengan Tasawwuf (sufisme), karena kenyataannya Imam Syafie menentang khurafat tariqat sufi falsafi, tasawuf dan tariqat kebatinan:
اَلتَّصَوُّفُ مَبْنِيٌّ عَلَى الْكَسَلِ وَلَوْ تَصَوَّفَ رَجُلٌ اَوَّلَ النَّهَارِ لَمْ يَاْتِ الظُّهْرَ اِلاَّ وَهُوَ اَحْمَقُ.
 
"Tasawuf dibina di atas kemalasan, jika sekiranya seseorang itu menganut tasawuf di awal siang (pagi), tidak akan sempat sampai ke waktu Zuhur, dia sudah jadi bodoh ".

مَنْ يَدِيْنُ بِهَذَا (التَّصَوُّف) فَهُوَ زِنْدِيْقٌ اَوْ بِتَعْبِيْرٍ اَدَقٍّ صُوْفِيّ فَالصُّوْفِيُّ مَرَادِفَةٌ لِكُلِّ مَا يُنَاقِضُ الاِيْمَان الْحَق.
 
“Sesiapa yang menganut agama ini (sufi) maka dia seorang yang zindik atau dengan kata lain dia adalah sufi yang zindik, maka fahaman sufi samalah seperti setiap fahaman yang menentang keimanan yang hak”.

Imam Syafie amat benci kepada kezindikan sufi lalu beliau berkata:
“Saya lari meninggalkan Kota Basrah kerana di sana terdapat golongan zindik (sufi/tasawuf), mereka mengerjakan sesuatu yang baru yang mereka sebut dengan tahlilan”. [2]

footnote :
[1]  http://indonesiafile.com
[2] Talbisu al-Iblis. hlm. 159.  Ditahqiq dan ditashih oleh para ulama al- Azhar as-Syarif 1368H. Dar al-Kutub al-Ilmiyah.  Beirut

Offline ferry_fasya

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 190
    • Lihat Profil
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #380 pada: 23 Juni 2008, 16:54:11 »
Sejarah Hidup Imam Al Ghazali
Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.

Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A'lam Nubala' 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi'iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).

Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”

Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”

Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi'iyah 6/193-194).

Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi'iyah 6/194).
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi'iyah 6/195).

Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi'iyah 6/195).

Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A'lam Nubala' 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi'iyah 6/191).

Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.

Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi." (Majmu' Fatawa 6/54).

Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu." (Majmu' Fatawa 6/54).

Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.

Adz Dzahabi berkata, "Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa." (Siyar A'lam Nubala 19/328).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar'i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, "Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu." (Majmu' Fatawa 4/164).

Polemik Kejiwaan Imam Ghazali
Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.

Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.

Ibnu Asakir berkata, "Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami' Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi." (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A'lam Nubala 6/34).

Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, "An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi." (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A'lam Nubala 6/34).

Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur'an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.

Masa Akhir Kehidupannya
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, "Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri."

Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); "Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, "Bawa kemari kain kafan saya." Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, "Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut." Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A'lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi'iyah 6/201).
Karya-Karyanya*
*Nama karya beliau ini diambil secara ringkas dari kitab Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya'irah, karya Dr. Abdurrahman bin Shaleh Ali Mahmud 2/623-625, Thabaqat Asy Syafi'iyah 6/203-204
Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:
Pertama, dalam masalah ushuluddin dan aqidah:
1.   Arba'in Fi Ushuliddin. Merupakan juz kedua dari kitab beliau Jawahirul Qur'an.
2.   Qawa'idul Aqa'id, yang beliau satukan dengan Ihya' Ulumuddin pada jilid pertama.
3.   Al Iqtishad Fil I'tiqad.
4.   Tahafut Al Falasifah. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy'ariyah.
5.   Faishal At Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.

Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat, manthiq dan tasawuf, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya:
(1) Al Mustashfa Min Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, "Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fiqih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya." Tetapi kemudian beliau berkata, "Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar...…" (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya'irah dari Al Mustashfa hal. 17 dan 18).

Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah manthiqnya, "Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya." (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya'irah dari Al Mustashfa hal. 19).

Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah. beliau berkata, "Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka berarti dia itu manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali tidak mengenal ilmu manthiq!" (Adz Dzahabi dalam Siyar A'lam Nubala 19/329). Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.
(2) Mahakun Nadzar.
(3) Mi'yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.
(4) Ma'ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.
(5) Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.
(6) Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. Telah dicetak.
(7) Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.
(8) Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, "Adapun kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut." (Adz Dzahabi dalam Siyar A'lam Nubala 19/329).
Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, "Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya." (Adz Dzahabi dalam Siyar A'lam Nubala 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.
(9) Al Ajwibah Al Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.
(10) Ma'arijul Qudsi fi Madariji Ma'rifati An Nafsi.
(11) Qanun At Ta'wil.
(12) Fadhaih Al Bathiniyah dan Al Qisthas Al Mustaqim. Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.
(13) Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al Mu'tashim Billah Al Baghdadi.
(14) Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.
(15) Ar Risalah Alladuniyah.
(16) Ihya' Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya:
Abu Bakar Al Thurthusi berkata, "Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya' dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan." (Dinukil Adz Dzahabi dalam Siyar A'lam Nubala 19/334).

Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, "Adapun penjelasan Anda tentang Abu Hamid, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al Ihya' beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadits-hadits palsu." Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, "Adapun di dalam kitab Ihya' terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang." (Adz Dzahabi dalam Siyar A'lam Nubala 19/339-340).

Imam Subuki dalam Thabaqat Asy Syafi'iyah (Lihat 6/287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihya' dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihya' dalam kitabnya, Al Mughni An Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al Ihya Minal Akhbar. Kitab ini dicetak bersama kitab Ihya Ulumuddin. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin.
(17) Al Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya.
(18) Al Wasith.
(19) Al Basith.
(20) Al Wajiz.
(21) Al Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi'iyah yang beliau tulis. Imam As Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi'iyah 6/224-227.

bersambung ...

Offline ferry_fasya

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 190
    • Lihat Profil
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #381 pada: 23 Juni 2008, 16:56:51 »
. . . . Lanjutan

Aqidah dan Madzhab Beliau
Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi'i. Nampak dari karyanya Al Wasith, Al Basith dan Al Wajiz. Bahkan kitab beliau Al Wajiz termasuk buku induk dalam mazhab Syafi'i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi'iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, "Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A'jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi'i."

Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy'ariyah. Banyak membela Asy'ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al Iqtishad Fil I'tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy'ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy'ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy'ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy'ariyah.

Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.
Ketika berbicara dengan Asy'ariyah tampaklah sebagai seorang Asy'ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, "Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy'ari bersama Asy'ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat." (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 110).

Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al Ma'arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma'arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al Maqshad Al Asna, Jawahirul Qur'an dan Al Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:
Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta'lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii'tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.

Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah 2/628).

Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al Ghazali, bahwa tasawuf Al Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al Mausu'ah Al Muyassarah Fi Al Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al Mu'ashirah, karya Dr. Mani' bin Hamad Al Juhani 2/928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, "Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta'wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta'wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 111).

Tetapi perlu diketahui, bahwa pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada ajaran Ahlusunnah Wal Jama'ah meninggalkan filsafat dan ilmu kalam, dengan menekuni Shahih Bukhari dan Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Penulis Jawahirul Qur'an (Al Ghazali, pen) karena banyak meneliti perkataan para filosof dan merujuk kepada mereka, sehingga banyak mencampur pendapatnya dengan perkataan mereka. Pun beliau menolak banyak hal yang bersesuaian dengan mereka. Beliau memastikan, bahwa perkataan filosof tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Demikian juga halnya perkataan ahli kalam. Pada akhirnya beliau menyibukkan diri meneliti Shahih Bukhari dan Muslim hingga wafatnya dalam keadaan demikian. Wallahu a'lam.”
***
Sumber: Majalah As Sunnah
Penyusun: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.


Dari Sejarah ringkas Imam Ghazali diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa Imam Ghazali adalah seorang tokoh tasawuf (sufisme) yang menganut paham Asya’riyah, kemudian diakhir hidupnya beliau bertobat dan kembali keajaran Ahlus Sunnah Waljamaah dengan banyak mempelajari kitab-kitab hadist.

Apakah paham seperti ini yang mereka maksud dengan Aswaja, padahal Imam Abu Hasan Al Asyari (pencetus Asya’ariya) dan Imam Ghazali sendiri telah bertobat dari keyakinan mereka dan kembali keajaran Ahlus Sunnah Waljamaah ditambah lagi kenyataannya bahwa Imam Syafii termasuk yang menentang ajaran Tasawuf (sufisme).

Uraian singkat ini semakin memperjelas bahwa NU bukanlah Ahlus Sunnah Waljamaah, mungkin bisa dibenarkan jika dikatakan bahwa NU adalah salah satu aliran/sempalan dari ajaraan Ahlus Sunnah Waljamaah.

Offline fattahillahe

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 3.169
  • Jenis kelamin: Pria
  • Sepiro gedene sengsoro yen tinompo amung dadi cobo
    • Lihat Profil
    • Jasa Exspedisi
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #382 pada: 24 Juni 2008, 14:38:21 »
Saya melihat kontradiksi antara Imam syafi’I dengan Tasawwuf (sufisme), karena kenyataannya Imam Syafie menentang khurafat tariqat sufi falsafi, tasawuf dan tariqat kebatinan:
اَلتَّصَوُّفُ مَبْنِيٌّ عَلَى الْكَسَلِ وَلَوْ تَصَوَّفَ رَجُلٌ اَوَّلَ النَّهَارِ لَمْ يَاْتِ الظُّهْرَ اِلاَّ وَهُوَ اَحْمَقُ.
 
"Tasawuf dibina di atas kemalasan, jika sekiranya seseorang itu menganut tasawuf di awal siang (pagi), tidak akan sempat sampai ke waktu Zuhur, dia sudah jadi bodoh ".

مَنْ يَدِيْنُ بِهَذَا (التَّصَوُّف) فَهُوَ زِنْدِيْقٌ اَوْ بِتَعْبِيْرٍ اَدَقٍّ صُوْفِيّ فَالصُّوْفِيُّ مَرَادِفَةٌ لِكُلِّ مَا يُنَاقِضُ الاِيْمَان الْحَق.
 
“Sesiapa yang menganut agama ini (sufi) maka dia seorang yang zindik atau dengan kata lain dia adalah sufi yang zindik, maka fahaman sufi samalah seperti setiap fahaman yang menentang keimanan yang hak”.

Imam Syafie amat benci kepada kezindikan sufi lalu beliau berkata:
“Saya lari meninggalkan Kota Basrah kerana di sana terdapat golongan zindik (sufi/tasawuf), mereka mengerjakan sesuatu yang baru yang mereka sebut dengan tahlilan”. [2]

footnote :
[1]  http://indonesiafile.com
[2] Talbisu al-Iblis. hlm. 159.  Ditahqiq dan ditashih oleh para ulama al- Azhar as-Syarif 1368H. Dar al-Kutub al-Ilmiyah.  Beirut


pak ustad mohon diberikan informasinya yah, di kitab apa (tentu karangannya imam syafi'i sendiri dong) beliau mengatakan tentang tasawuf seperti itu ?

setahu saya pak ustad diatas itu hanya mengambil kutipan dari Kitab Talbsul iblis, dan kitab itu bukan karya Imam Syafi'i, jadi hanya sebatas kutipan, jadi dari mana si pengarangnya mengambil kutipan itu dari kitab karya Imam Syafi'i ?

mohon informasinya pak ustad ya ?
Dahar Ketupat Kuahipun Santen - Menawi Lepat Nyuwun Pengapunten
http://hastransport.blogspot.com/

Offline Justice 4 All

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 5.508
    • Lihat Profil
    • My Multiply
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #383 pada: 24 Juni 2008, 16:32:54 »

Yang dilarang oleh Imam Syafii tentu tidak semua sufi, hanya yang menyimpang. Karena Imam Syafii sendiri juga pernah menekankan pentingnya faqih (ilmu) dan sufi.

Kutip

Imam al-Shafi`i :

Imam Shafi’i said: “[Be both] a faqih and a sufi[sufiyyan ]: do not be only one of them, Verily, by Allah’s truth, I am advising you sincerely.” (al-Shafi`i in  Diwan, p. 47 see also: Diwan p. 66 where Imam Shafi’i gives the advise to be both a faqih and sufi).

Imam Shafi`i said: “Three things in this world have been made lovely to me: avoiding affectation, treating people kindly, and following the way of tasawwuf.” (The muhaddith al-`Ajluni also relates that in Kashf al-khafa wa muzil al-albas (1:341 #1089).

Imam al-Shafi`i said: “I accompanied the Sufis and received from them but three  words: their statement that time is a sword: if you do not  cut it, it cuts you; their statement that if you do not keep  your ego busy with truth it will keep you busy with  falsehood; their statement that deprivation is immunity.” (Ibn al-Qayyim in his Madarij al-salikin (3:128) and al- Suyuti in his Ta’yid al-haqiqa al-`aliyya (p. 15)).


atau tengoklah perkataan Imam Malik yang masyhur :

Kutip

و من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق

من تفقه و لم يتصوف فقد تفسق

و من جمع بينهما فقد تخقق

“He who practices Tasawwuf without learning Sacred Law corrupts his faith, while he who learns Sacred Law without practicing Tasawwuf corrupts himself. Only he who combines the two proves true.”

It is related by the muhaddith Ahmad Zarruq (d. 899)[Ahmad Zarruq, Qawa`id al-tasawwuf (Cairo, 1310)], and the hafiz `Ali al-Qari al-Harawi (d. 1014)[ Ali al-Qari, Sharh `ayn al-`ilm wa-zayn al-hilm (Cairo: Maktabat al-Thaqafa al-Diniyya, 1989) 1:33], the muhaddiths `Ali ibn Ahmad al `Adawi (d. 1190)[ Ali al `Adawi, Hashiyat al `Adawi `ala sharh Abi al Hasan li risalat Ibn Abi Zayd al musammat kifayat al talib al rabbani li risalat Ibn Abi Zayd al Qayrawani fi madhhab Maalik (Beirut: Dar Ihya' al Kutub al `Arabiyah, <n.d.>) 2:195] and Ibn `Ajiba (d. 1224)[Ibn `Ajiba, Iqaz al himam fi sharh al hikam (Cairo: Halabi, 1392/1972) p. 5 6.].



Ya, jadi kita harus bersikap adil lah......
Jawaban atas Syubhat yang Dituduhkan kepada Dakwah Tarbiyah

Updated! Latest article: Fatwa Syaikh Albany dan Syaikh Nashir As-Sa'di tentang Pemboikotan Musuh Islam


Offline ferry_fasya

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 190
    • Lihat Profil
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #384 pada: 02 Juli 2008, 11:38:56 »
pak ustad mohon diberikan informasinya yah, di kitab apa (tentu karangannya imam syafi'i sendiri dong) beliau mengatakan tentang tasawuf seperti itu ?

setahu saya pak ustad diatas itu hanya mengambil kutipan dari Kitab Talbsul iblis, dan kitab itu bukan karya Imam Syafi'i, jadi hanya sebatas kutipan, jadi dari mana si pengarangnya mengambil kutipan itu dari kitab karya Imam Syafi'i ?

mohon informasinya pak ustad ya ?

Assallamualaikum,

Saya bukan seorang Ustad ataupun dai, saya hanya seorang yang senang mencari ilmu agama untuk saya amalkan sendiri. Jadi mohon jangan panggil dengan sebutan ustad.
mengenai perkataan imam Syafii Rahimahulloh, silahkan lihat di "Manaqib Asy Syafi’I" karya Al Baihaqi.

Offline ferry_fasya

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 190
    • Lihat Profil
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #385 pada: 02 Juli 2008, 11:47:19 »
Yang dilarang oleh Imam Syafii tentu tidak semua sufi, hanya yang menyimpang. Karena Imam Syafii sendiri juga pernah menekankan pentingnya faqih (ilmu) dan sufi.

Imam al-Shafi`i :

Imam Shafi’i said: “[Be both] a faqih and a sufi[sufiyyan ]: do not be only one of them, Verily, by Allah’s truth, I am advising you sincerely.” (al-Shafi`i in  Diwan, p. 47 see also: Diwan p. 66 where Imam Shafi’i gives the advise to be both a faqih and sufi).

Imam Shafi`i said: “Three things in this world have been made lovely to me: avoiding affectation, treating people kindly, and following the way of tasawwuf.” (The muhaddith al-`Ajluni also relates that in Kashf al-khafa wa muzil al-albas (1:341 #1089).

Imam al-Shafi`i said: “I accompanied the Sufis and received from them but three  words: their statement that time is a sword: if you do not  cut it, it cuts you; their statement that if you do not keep  your ego busy with truth it will keep you busy with  falsehood; their statement that deprivation is immunity.” (Ibn al-Qayyim in his Madarij al-salikin (3:128) and al- Suyuti in his Ta’yid al-haqiqa al-`aliyya (p. 15)).

Ya, jadi kita harus bersikap adil lah......

Ucapan Imam syafi'i Rahimahulloh diatas apakah termasuk Qaul Qadim atau Qaul Jadid?  mohon penjelasannya pak Ustad!

Offline fattahillahe

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 3.169
  • Jenis kelamin: Pria
  • Sepiro gedene sengsoro yen tinompo amung dadi cobo
    • Lihat Profil
    • Jasa Exspedisi
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #386 pada: 04 Juli 2008, 11:31:22 »
Assallamualaikum,

Saya bukan seorang Ustad ataupun dai, saya hanya seorang yang senang mencari ilmu agama untuk saya amalkan sendiri. Jadi mohon jangan panggil dengan sebutan ustad.
mengenai perkataan imam Syafii Rahimahulloh, silahkan lihat di "Manaqib Asy Syafi’I" karya Al Baihaqi.

baik saya tidak akan panggil ustad dech bro....af1 ye  %peace%
lagi2 saya suruh melihat kitab yangbukan karangan imam syafi'i dunk ?  ::)

walau sebenarnya saya masih penasran loh di kitab imam syafi'i yg mana tuh perkataan imam syafi'i  :)
saya masih nuntut antum untuk bisa ngasih tahu kitab dalam kitab apa imam sayfi'i mentakan itu semuanya  %peace%

tapi kembani antum menyuruh saya untuk melihat di kitab Manaqib Asyyafi'i karya al_baihaqi, kasih tahu donk di bab apa halaman berapa ya ? jgn hanya ngasih tahu secara mujmal gitu dong bro, mumet nanti saya maklum newbie ........ :)
Dahar Ketupat Kuahipun Santen - Menawi Lepat Nyuwun Pengapunten
http://hastransport.blogspot.com/

Offline DodyKurniawan 07

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 4.163
  • Jenis kelamin: Pria
  • fayaa ilaahiththufbinaa...
    • Lihat Profil
    • IstanaIslamku
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #387 pada: 23 Juli 2008, 14:43:57 »
udah panjang nih..

btw sedikit OOT saya pernah dengar juga kalo Ibnu taimiyah tidak mengharamkan tasawuf secara mutlak, intinya tergantung tasawufnya....

afwan tidak sempat sebut kitab, harus ana cari dulu di perpus.... ::)
mungkin akhi ferry tahu masalah ini.... ::)

dalam mazhab syafiiyah pun sudah sangat dikenal ttg tingkatan2 pendapat Imam Syafii, saya kira kang fatahillane bisa menjelaskan masalah ini...

sekedar analogi, mungkinkah orang yg bermazhab syafiiyah tidak tahu secara detail lingkup mazhabnya... :)
« Edit Terakhir: 23 Juli 2008, 14:48:37 oleh DodyKurniawan 07 »

Offline ph34r

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 5.563
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #388 pada: 23 Juli 2008, 15:36:30 »
tasawuf yang pali pol / yang kadarnya sudah paling tinggi itu jelas2 bukan lagi Islam
masak syariat sudah gak berlaku lagi? bukannya syriat dipakai oleh orang Islam. kalo gak dipakai, masak bisa dipanggil Islam?

Offline DodyKurniawan 07

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 4.163
  • Jenis kelamin: Pria
  • fayaa ilaahiththufbinaa...
    • Lihat Profil
    • IstanaIslamku
Re: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??
« Jawab #389 pada: 23 Juli 2008, 15:42:31 »
 :)  atasku...

tergantung tasawufnya kan, kalo tasawufnya alhalaj ya jelas no way lah, dia kan dipenggal kepalanya oleh  para ulama....

 

myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadwal Sholat
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
  • myQripik produk baru!
  • Jaket
  • Kaos
  • Kalender
  • Stiker

SatNet
IMODE | myQ wiki | Quran Flash | Android | ChitCh@t | Plug-in | Radio | FB myQ Group
(c) 1999-2013, myQuran
Refresh Your Life!
Powered by SMF 2.0.4 | SMF © 2006–2010, Simple Machines LLC
XHTML | RSS | WAP2 | Mobile
Halaman dibuat dalam 1.873 detik dengan 22 queri.