Topik Umum > Ibu dan Anak
Belajar menjadi orang tua yang kreatif (mendidik anak usia dini)
izti (16 Juli 2007, 12:22:52):
Saat pertama kali mempelajari pendidikan anak usia dini (0-5 tahun / terkenal dengan sebutan masa-masa golden age), saya begitu takjub. Banyak hal yang ternyata tidak diketahui oleh orang tua, khususnya ibu untuk mendidik anak.
Saya pun sering terbengong-bengong dan senyum2 sendiri jika mengingat pengalaman masa kecil. Banyak anak yang seolah-olah tumbuh sendiri, tanpa bimbingan dan arahan yang baik dari orang tua, khususnya ibu.
Menjadi ibu, bukan hal yang mudah. Anak-anak memiliki kecerdasan yang luar biasa. Seorang ibu harus memiliki wawasan yang luas, ketrampilan yang baik, dan kreatifitas yang tinggi.
Bayangkan saja, kalau tidak kreatif, berapa banyak biaya yang akan dikeluarkan untuk membeli mainan, mencari media edukatif, dan lain sebagainya.
Nah, salah satu contoh, saya ingin membagi sedikit kreatifitas mendidik anak usia dini.
Yang pertama adalah simulasi untuk panca inderanya.
1. Mengenalkan warna (indera penglihatan : mata)
Kenalkan warna secara bertahap. Misalnya, pekan pertama, nuansa kamar anak berwarna biru, mulai dari baju yg dia pakai, sprei, sarung bantal dan guling, gorden, dan sebagainya.
Tetapi, jika dinilai terlalu mahal, buatlah benda-benda mainan yang dibuat dari kertas origami, lalu gunakan sebagai hiasan di kamarnya.
Semia mediasi yang telah dibuat itu, integrasikan dengan lagu-lagu anak-anak. Misalnya, menyanyikan lagu pelangi. Saat tiba pada kalimat: merah, kuning, hijau… tunjuklah benda-benda sesuai dengan warnanya. Maka anak akan lebih mudah mengingat warna-warna itu di dalam otaknya.
2. Mengenalkan macam-macam suara (indera pendengaran : telinga)
Ada pengalaman menarik saat tetangga saya menstimulasikan suara-suara binatang. Kebetulan, di lingkungan tempat tinggalnya memang mudah ditemui binatang2 seperti ayam, kucing, bebek, kambing, dll.
Saat ibu menginstruksikan: tirukan suara kucing…! Maka anaknya pun menirukan: “meoong….”
Tirukan suara ayam: “petok-petok….”
Tirukan suara bebek: “wek..wek..wek…”
Tirukan suara anjing: “anjing! Anjing!”
Nah loh…. :hihi:
Rupanya anak ini belum pernah melihat maupun mendengar suara anjing.
Nah, sesekali, ajaklah anak2 ke kebun binatang, untuk mengenalkan macam2 binatang, makhluk Allah yang lainnya, juga mengenalkan macam-macam suara. Selain itu, anak pun dikenalkan pada suara-suara lain selain suara ibu dan ayahnya.
Keaneka ragaman makhluk hidup maupun benda-benda lain di sekitarnya, dapat mengantarkan anak untuk belajar mengenal Allah, Sang Pencipta.
To be continued…. (yang mau menambahkan juga silahkan…) semoga bermanfaat.
Anis_WN (16 Juli 2007, 12:26:30):
mau nanya... ;)
suara ayam jago berkokok menurut teh izti gimana, sih bunyinya?
%peace%
(eh, baru sadar... ini teh untuk ibu2 aja, yah? :malu:)
akh_alif (16 Juli 2007, 19:19:49):
hmmmm.....kapan bisa..hmmm..... :malu: %peace%
izti (16 Juli 2007, 19:55:15):
--- Kutip dari: anis_wn pada 16 Juli 2007, 12:26:30 ---mau nanya... ;)
suara ayam jago berkokok menurut teh izti gimana, sih bunyinya?
%peace%
(eh, baru sadar... ini teh untuk ibu2 aja, yah? :malu:)
--- Akhir Kutipan ---
gimana yah?
kukuruyuk kallii.... :hihi:
sebaiknya, kalo mau mengenalkan suara2, dikenalkan dengan benda2 aslinya, atau direkam suara2nya. anak usia dini daya rekamnya kuat, jadi sebaiknya orang tua atau pendidik memberikan contoh yang benar. :)
termasuk dalam penggunaan bahasa. sebisa mungkin ajarkan kepada mereka bahasa yang benar dan mudah dimengerti. :)
@akh_alif
sayah juga baru teori doang kok, memang belum dipraktekkin ke anak sendiri, tapi Insya Allah sudah praktek langsung ke anak-anak di sekolah. :iyes:
Anis_WN (16 Juli 2007, 20:02:27):
neng izti, O0
Pengen ngetes aja, kok... Soalnya biasanya menirukan bunyi tuh juga dipengaruhi oleh adat/kebiasaan setempat. Contohnya bunyi pestol meletus, oleh orang bule dibunyikan "bang"...
Padahal itu kan panggilan untuk abang baso yg lewat di depan rumah kita...
:hihi:
Navigasi
[0] Indeks Pesan
Ke versi lengkap