20 Juni 2013, 08:51:43
Selamat datang,
Pengunjung
. Silahkan
masuk
atau
mendaftar
. Apakah anda lupa
aktivasi email
?
1 Jam
1 Hari
1 Minggu
1 Bulan
Selamanya
-->
myQ Selasar, sekilas info: Menghitung Hari Menuju SILAKBARNAS (Silaturrahim Akbar Nasional) - Pantai Depok, Jogja, 29-30 Juni | Selamat datang di myQuran, komunitas muslim indonesia..
Depan
myQdotCOM
myQdotORG
Forum
Bantuan
Cari
Kalender
Media
Facebook
Masuk
Registrasi
Dari Abu Sa'id Al Khudry r.a, bahwasanya Rasulullah s.a.w lebih pemalu dari gadis dalam pingitan. Apabila terjadi sesuatu yang tidak disukainya, kami dapat mengenali dari wajahnya. (
HR Bukhari dan Muslim
)
myQuran - Komunitas Muslim Indonesia
»
Pesantren Virtual
»
Fiqih, Akhlaq, & Ahkamul Islam
(Moderator:
kurnia_saputra
,
ina13
,
mushab bin umair
) »
Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ...
« sebelumnya
berikutnya »
Cetak
Halaman: [
1
]
Turun
Penulis
Topik: Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ... (Dibaca 570 kali)
dedi susanto
myQ Perambah
Tulisan: 250
Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ...
«
pada:
28 Juni 2007, 09:59:33 »
Perkataan : Semua orang (kecuali beberapa) tidak boleh berbicara masalah politik ...
mengingatkan saya kepada seorang bodoh yang menyerang saya dengan mengatakan : Anda tidak usah bicara2 soal agama lagi ...
Dan juga perkataannya kepda seorang pemuda : Boleh bergaul dengan fulan dan fulan tapi jangan bicara agama ...
Ini sangat mengherankan 100 % ...
Jika saya tidak boleh bicara soal agama, lalu mengenai apa saya harus bicara? Apakah saya harus bicara soal dunia terus-menerus kapanpun, di manapun dan kepada siapapun? Lalu dalil Al Qur'an dan hadits yang mana yang membolehkan bahkan mengharuskan saya bicara soal dunia terus-menerus dan tidak bicara agama? Dan kebaikan apa yang dapat saya peroleh ...
??
Bahkan saya berkata, bahwa setiap muslim wajib berbicara mengenai agama sesuai kadarnya. Hal itu akan mengingatkannya pada akhirat, menjauhkannya dari cinta dunia dan mengingatkannya pada Allah ...
Dan karena masalah politik adalah masalah yang terintegrasi dalam agama, maka secara otomatis setiap muslimpun akan membicarakannya, dan memang mestinya demikian. Apakah dia harus menutup mata dan telinga pada orang2 yang memimpinnya? Apakah dia akan membiarkan orang2 korup menguasai hajat hidup umat islam dan tidak berbuat apa2
?? Bahkan setiap muslim harus membuka mata dan telinga, dan juga membuka mulutnya sesuai kadarnya ...
Bukankah nabi shalallahu alaihi was salam tidak mengakui muslim yang tidak peduli dengan perkara umat islam sebagai umatnya ... ??
Maka yang terlarang adalah membicarakan politik hanya sebagai masalah dunia semata, yang tidak mengingatkannya pada Allah, yang menimbulkan perpecahan dan caci maki ...
Wallahu alam ...
Tercatat
Tweet
space dicadangkan (0)
abu_afkar
myQ Pro-Aktif
Tulisan: 577
Jenis kelamin:
Re: Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ...
«
Jawab #1 pada:
28 Juni 2007, 13:37:16 »
@Dedi S.
Bagi saya tergantung, apa maksud politik di sini...
Kalau bicara politik maksudnya, adalah membicarakan permasalahan umat, disertai
upaya (minimal untuk diri sendiri) pemecahannya, itu adalah sunnah. Sebagaimana hadis:
"Barang siapa tidak peduli dengan (urusan) umatku, bukanlah golonganku"...
Misalnya mendiskusikan masalah Lapindo, kemudian mengambil hikmahnya. Kalau bisa
ikut (dengan kemampuannya) membantu, atau minimal doa... Itu sangat baik...
Tapi, kalau maksudnya politik adalah analisis2 yang penuh prasangka, ini berkoalisi dengan itu,
ini menghancurkan itu, si Ini tidak becus, si Anu (tokoh) politik plin-plan, si Itu omongnya doang, dst.... Sebagaimana sering saya dengar, kayaknya lebih banyak mudharatnya...
Tercatat
Berdialoglah dengan cara terbaik (ahsan)...
Personal blog:
http://soni69.tripod.com
http://abuafkar.multiply.com
dedi susanto
myQ Perambah
Tulisan: 250
Re: Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ...
«
Jawab #2 pada:
29 Juni 2007, 08:44:36 »
Saya rasa tidak ada perbedaan di sini ...
pembicaraan politik yang mengakibatkan perpecahan dan permusuhan serta berambisi duniawi itulah yang jelas2 tidak boleh ...
Saya hanya ingin meluruskan thread yang dibuat syaikh al mukarram abu al jauzaa yang seakan-akan menyalahkan umat islam yang berbicara soal politik, dengan anggapan mereka bukan ahlul ilmi dan ahlul sunnah ...
Padahal berbicara politik, baik yang berupa kemslahatan umat maupun kepemimpinan, merupakan media mengingat, dan pendidikan bagi umat islam secara keseluruhan ...
Yang paling penting adalah setiap orang berbicara sesuai kadarnya ... yang awam berbicara sebatas keawamannya, dan yang ahli bicara sesuai bidangnya ...
Tercatat
Abu Aufa
myQ Perambah
Tulisan: 249
Jenis kelamin:
Re: Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ...
«
Jawab #3 pada:
29 Juni 2007, 10:36:18 »
Cukuplah Hadits berikut sebagai jawaban dalam masalah ini...
عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيها الرويبضة قيل وما الرويبضة قال الرجل التافه في أمر العامة
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :
“Akan tiba nanti atas umat manusia masa-masa penuh tipu daya. Para pembohong dianggap orang jujur, dan (sebaliknya) orang jujur dianggap sebagai pendusta. Orang yang khianat dianggap amanah, dan (sebaliknya) orang yang amanah dianggap khianat. Dan para ruwaibidlah mulai angkat bicara”. Ada yang bertanya : “Apa itu ruwaibidlah ??”. Beliau menjawab,”Orang bodoh yang berbicara tentang urusan rakyat banyak”!
(HR. Ibnu Majah dan derajat hadits ini shahih).
Dan Simaklah juga perkataan Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah tentang siapakah yang berhak berbicara politik...
العالم بكتاب الله وسنة رسوله وأقوال الصحابة فهو المجتهد في النوازل، فهذا النوع الذي يَسوغ لهم الإفتاء ويَسوغ استفتاؤهم ويتأدى بهم فرضُ الاجتهاد، وهم الذين قال فيهم رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها
“Orang yang menguasai Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta fatwa-fatwa para shahabat sajalah yang layak dikatagorikan sebagai mujtahid dalam kasus-kasus nawazil (kontemporer). Merekalah yang berhak berfatwa, dimintai fatwa dan berhak melaksanakan kewajiban ijtihad. Dan mereka pula yang disebut oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits :
إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها
”Sesungguhnya Allah akan memunculkan pada umat ini setiap seratus tahun seorang yang akan memperbaharui dien”
(HR. Abu Dawud dengan sanad shahih). <selesai perkataan Ibnul-Qayyim> I’lamul-Muwaqqi’iin (4/212)
Allahul Musta'an
Tercatat
dedi susanto
myQ Perambah
Tulisan: 250
Re: Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ...
«
Jawab #4 pada:
29 Juni 2007, 11:19:39 »
Hadits itu tentang orang2 yang memegang wewenang untuk berfatwa tentang masalah politik ... begitu juga perkataan imam Ibnu Qayyim ...
Dan saya tidak pernah mengatakan agar orang awam BERFATWA ...
Saya hanya mengatakan mereka bicara tentang politik sebagai bagian dari agama ... tentang umat islam secara luas ...
jadi tidak ada pertentangan sama sekali ...
Tercatat
ShopyCees
myQ Junior
Tulisan: 50
Jenis kelamin:
Re:Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ...
«
Jawab #5 pada:
18 Januari 2012, 03:18:40 »
kalau soal politik sebenarnya tidak susah. tanda calon yang tidak korupsi adalah dana kampanyenya tidak besar. dan sebagian besar adalah inisiatif dari sekelompok orang yang ingin dia naik. buka meminta ke calon atau partai yang berkepentingan. sama seperti ustad ceramah. kalau kita mau mendengarkan orang tersebut untuk berbicara di depan kita maka, jangankan dibayar, bahkan kita yang menggalang dana agar orang tersebut bisa bicara didepan kita.
jadi kalau ada partai yang seperti ini maka bisa dipastikan sangat kecil kemungkinannya dia akan korupsi.
kampanye tetap ada, tapi berbeda. kalau di lingkungan korup calonnyalah yang berteriak minta naik, maka disini pendukungnya minta dia naik bukannya dia yang umbar2 janji.
Tercatat
Pastikan anda sedang tidak emosi. d^-^
M. Akbar M. Siddik
myQ Newbie
Tulisan: 3
Jenis kelamin:
myQer
Re:Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ...
«
Jawab #6 pada:
22 Maret 2012, 19:09:31 »
kini kita smakin terhimpit pada sudut akhir zaman, dan identitas ke ISLAM an smakin berdogma saja, knapa kita tidak masuk sistim dan memmberi warna ISLAM pada sistim yang kita masuki???
Tercatat
M. Akbar M. Siddik
myQ Newbie
Tulisan: 3
Jenis kelamin:
myQer
Re:Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ...
«
Jawab #7 pada:
22 Maret 2012, 19:14:31 »
Provinsi NTB terdiri dari 2 kota administratif (Modern Goverment Town) yaitu : Kota Mataram di Pulau Lombok bagian barat dan Kota Bima di Pulau Sumbawa bagian tengah. Di NTB terdapat 8 daerah kabupaten yaitu : Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah dan Lombok Timur di Pulau Lombok. Kabupaten - Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu dan Bima di Pulau Sumbawa. Ibukota provinsi NTB terletak di Mataram Pulau Lombok.
Pada era orde lama periode republik indonesia serikat (RIS), Daerah Bali, NTB dan NTT serta Timor timur (sebelum berpisah di tahun 1999 era Habibie) termasuk dalam Negara Bagian Kepulauan Sunda Kecil dan sering disebut Bali Nusra. Setelah kembali menganut sistem NKRI Tahun 1971 provinsi ini tergolong dalam kawasan terbelakang di indonesia timur dengan menduduki Indeks Human Resources (IHR) predikat sumberdaya manusia urutan ke-27 dari tahun 1957-1998 dan urutan ke 37 tahun 2001-2011 ini.
Rendahnya indeks SDM/IHR masyarakat NTB ditilik dari rendahnya indikator usia sekolah, tingkat kesehatan dan gizi, sarana prasarana publik, kemampuan produksi dan industri serta pola hidup yang tradisional taklid.
Selama kurun waktu zaman penjajahan, orde lama, dan orde baru hampir seluruh daerah tingkat dua di NTB dikendalikan oleh pemerintah pusat dengan pola desentralisasi mutlak yang menempatkan pucuk pimpinan daerah oleh pejabat non pribumi. Selama kurun waktu hampir 1 abad (1916-1993) tersebut ekonomic goverment NTB berorientasi pada pertanian substantif non agribisnis dengan produk hasil pertanian yang langsung distribusi lintas region tanpa proses pengolahan industri karena investasi produksi market machine tidak teralokasi karena target pembangunan nasional tempo dulu yang pernah disentil memakmurkan jawa sumatera kalimantan bali saja di indonesia.
Bisnis tataniaga dan perdagangan barang dipelopori oleh saudagar cina dan arab terutama dominan di Pulau sumbawa dan lombok bagian barat. Anekdot RCTI (rizqi cina terhadap indonesia) ok sampai saat ini masih terhitung kebetulan yang cukup lama di NTB. Pengaruh perniagaan Islam yang pernah dipelopori oleh Syarikat Dagang Islam (SDI) pada era 1902 tidak sempat dikenyam pelaku ekonomi NTB yang lebih berorientasi pada mental gawe (jiwa pegawai) dimana keseluruhan kehendak akademik diarahkan pada cita-cita menjadi pegawai negara. Alhasil jiwa enterpreneur wirausaha memproduksi barang yang riil guna pemenuhan kebutuhan fisik hidup diandalkan dari import dari daerah alain atau negara asing.
Sejak abad ke-18 periode industrialisasi dunia, NTB dan sekitarnya sampai saat ini belum bisa memproduksi barang lokal sebagai jatidiri produk daerah, selain produk kerajinan tradisional, hasil alami pertanian, perikanan dan tenun. Peralihan industri rumahtangga menjadi badan usaha formal (serikat andil usaha) sangat lamban terjadi sehingga penguasaan ekonomi usaha tetap didominasi suku perantauan bugis, jawa, cina dan arab.
Perilaku politik sosial dan kemasyarakatan penduduk NTB bertemperamen semi kultusifik tradisional borjuis. Ketokohan personal diagungkan sebagai panutan segala urusan dengan mengenyampingkan nalar kehendak dan realitas hidup. Seorang peneliti psikologi budaya pernah berujar bahwa budaya taklid yesmen yang terjadi pada masa kekaisaran mesir kuno dan romawi dapat di jumpai dalam wujud yang berbeda di antero kebiasaan budaya dan pola perilaku penduduk di NTB dan sunda kecil lainnya. Keputusan untuk penanganan hajat hidup ekonomi dan pengaturan masyarakat berpatokan pada permusyawaratan yang sudah diseting oleh para tokoh dan penguasa (pemimpin). Sampai saat ini indikator kelayakan kepemimpinan dan mandat kekuasaan khalayak dipercayakan pada personal tertentu yang berpengaruh secara historis (cerita takhyul zaman kerajaan dst), atau type kharismatik seseorang yang dilihat dari kewibawaan fisik. Perihal pergeseran tolak ukuran penilaian dan dasar pengambilan keputusan politik (masyarakat / pemilih) di NTB berkaitan dengan jiwa gawe yang berpendidikan formal humaniora non aplikatif sebagai ciri utama dominasi jurusan non aplikatif yang dianut model masyarakat campur baur (suku campuran) umumnya.
Tipikal intelektualitas dan keilmuan yang menjadi acuan ukuran kredibilitas dan konditue seseorang bukanlah alasan masyarakat NTB (dan daerah terbelakang) lainnya dalam menempatkan spesialisasi untuk kemajuan produktivitas. Hal tersebut ironis dengan fanatisme agama yang menjadi ciri tempramen moral masyarakatnya. Justru ketegasan petunjuk nilai akidah hanya dipergunakan untuk mengatur hajatan hidup yang bersifat semi dan umum saja, sedangkan dalam urusan yang bersifat aplikasi sektor riil, norma dan agama hanya dijadikan nilai pembicaraan cerita saja yang hampir punah. Jual beli kepentingan dengan kompensasi material adalah ciri utama negatifnya karakter politikal needed orang NTB.
Memasuki era 1990-an, investasi dan pengadaan barang publik di kawasan timur indonesia mulai diperhatikan pemerintah karena alasan adanya ketimpangan ekonomi, ketidak merataan pembangunan dan kecemburuan sosial. Ranah konsep kejawaan yang telah berhasil mewarnai nusantara indonesia dalam slogan ibu pertiwi tumpahdarah semakin bergeser oleh istilah ekaprasetia dan moral pancasila. Akhirnya otonomi akhir era 90-an menempatkan kesejajaran kepentingan unsur pemerintahan dengan transaksi kepentingan politik dan syailendra bisnis ekonomi sistim group (sindikat) yang menjadi mode baru bagi tujuan popularitas dan kemumpungan nasib hidup per golongan anak bangsa.
Sistem politik desentralisasi (kolonial lokal) yang mendarahdaging ratusan tahun di NTB telah mengkerdilkan pendidikan politik dari fase tradisional berjalan ditempat dalam fase neo mistik humanioran tendensial. Di era reformasi, pola pikir masyarakat yang transisional sejak tahun 2000 dan seterusnya diperkirakan masih 03 dekade lagi untuk lepas landas menuju industrialisasi society modernisasi economic scale.
Ketokohan personal (performance kharismatis) masih merupakan tolak ukur kaderisasi kepemimpinan menuju kursi penguasa disetiap pranata organisasi sosial politik dan pemerintahan, ini berlaku umum bagi beberapa daerah yang masih dalam masa transisi peradaban kedesaan menuju modernisasi sosial.
Dahulu, Partai Islam (Nahdlatul Oelama dan Syarikat Islam) masih mendominasi pemenangan suara pemilu pertama, walaupun tampuk pemerintahan gubernur dipegang oleh perpanjangan kekuasaan jawa dan golkar. Baru pada pemilu 1982 dengan tiga peserta (2 partai 1 golongan) pemilu, P3 menang di NTB terutama disebabkan oleh arah aspirasi rakyat berpatokan pada fatwa para tokoh agama dan tokoh adat yang saat itu masih sejati idealismenya benar-benar bersandarkan pada khilafah Islamiah. Namun pucuk pemerintahan gubernur masih dikendalikan sistim desentralisasi jawa golkar. Tahun 1987 Golkar menang mutlak sampai periode 1999. Walaupun agak berkurang, kelanjutan pemerintah Golkar terus bercokol sampai periode akhir 2007. Selama masa waktu 25 tahun itu Golkar adalah penentu hidup matinya NTB. Berbicara mengenai ketertinggalan NTB dalam segala indikator kesejahteraan dan kelayakan ekonomi maka selama pemerintahan yang berkuasa itulah yang jalan ditempat menimbun kekuatan sumberdaya dan potensi demi menjaga kesinambungan kelanjutan syailendra kekuasaan pemerintahan dan penguasaan hajat hidup masyarakat. Kejayaan Golkar praktis menguasai seluruh kepentingan dan program yang dilaksanakan seantero NTB selama sepertiga abad, mendarah daging dari akar sampai pucuk pemerintahan dan pranata sosial. Sebagaimana karakter politik masyarakat yang fanatis buta lainnya di kawasan indonesia, orang NTB masih sulit menerima pembaruan yang mengarah pada pendidikan politik yang berdasarkan ideologi sistem demokrasi yang akurat dan aplikatif menjawab permasalahan selaksa bidang penghidupannya. Jadilah ideologi dan falsafah partai tidak diperhatikan sebagai alasan berpolitik dan berdemokrasi. Istilah biasa setiap moment pemilu adalah Islam yes partai islami no, pada era reformasi saat ini bagi wong cilik ntb adalah semboyan “jangan lihat partainya, lihat jasa orangnya”.
Pemimpin pemerintahan diseluruh tingkat di NTB pada era 1977-1990 masa awal orde baru didominasi oleh penjabatan gubernur, bupati dan kepala desa dari personil prajurit TNI dan camat kecamatan dari didikan TNI (IPDN) untuk merubah karakter politik ideologi islamiah menjadi anak pion golongan pegawai karyawan negara beserta kepentingan surat sakti dari sentral jawa (wawasan nusantara). Sistim politik terkendali yang telah diprogramkan dalam rencana penguasaan lima tahunan oleh pusat jawa harus meyakinkan tercapai arah pengkerdilannya dalam setingan global pancasilaisasi dan kuningisasi.
Gubernur asli putera NTB yang pertamakali dipilih langsung dan berasal dari unsur ulama islam dan kepesantrenan baru pada tahun 2007 memimpin pemerintahan NTB. Namun kebatuan ciri identitas taklid kegolkaran adalah telah mendarah daging di NTB sebagai suatu penyakit politik yang sangat sulit diobati dengan pendidikan politik, pencerahan demokrasi, sosialisasi ideologi, apalagi dengan program kerja partai dan penyerapan aspirasi rakyat yang masih sangat rendah seperti periode 1999-2011 ini; semuanya tak mampu menempatkan pencitraan yang baik bagi sebuah aliran sistem politik pemerintahaan hukum ekonomi dan partai peserta pemilu. Banyak kalangan rakyat NTB menilai Tuan Guru Bajang sampai pertengahan 2011 ini dianggap tidak mampu memberi warna baru dalam menggenjot kesejahteraan hidup dan peluang usaha rakyat pribumi bumi gora.
Pada tahun 2009, partai Demokrat berhasil menyaingi Golkar pada kursi wakil rakyat (legislatif), di ikuti oleh PAN, PKS, PPP dan Hanura. Seperti biasa, nuansa pengaruh ideologi, hasil (program saja?) kerja partai politik yang amburadul mementahkan keberhasilan proses pendidikan politik dan upaya rasionalisasi tendensi masyarakat pemilih.
Tercatat
M. Akbar M. Siddik
myQ Newbie
Tulisan: 3
Jenis kelamin:
myQer
Re:Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ...
«
Jawab #8 pada:
22 Maret 2012, 19:16:59 »
Menyimak opini dan berita media (TV - expecially TVone) tahun 2011-2012, tampaknya Golkar sedang bermain halus menginjak kepala lawan politiknya, mungkin TVone bukan golkar, tapi kenyataannya mereka sedang asyik bergosip dan berisyu membakar pena memancing reaksi dan menanam api sekam politik untuk menuai kontroversi.
Tercatat
Cetak
Halaman: [
1
]
Naik
« sebelumnya
berikutnya »
myQuran - Komunitas Muslim Indonesia
»
Pesantren Virtual
»
Fiqih, Akhlaq, & Ahkamul Islam
(Moderator:
kurnia_saputra
,
ina13
,
mushab bin umair
) »
Semua Muslim "Wajib" Bicara Politik ...
Short:
http://myquran.net/t/22689
myAgenda!
[
myQ Peduli
]:
Tebar #1000parcelcinta Ramadhan 1434H
[
myQ Peduli
] Baksos Cibuyutan Part III : Pemberian beasiswa untuk siswa siswi setempat.
[
Umum
]
Silakbarnas myQuran, 29 - 30 Juni 2013. Yuk rihlah dan silaturrahim ke Jogja!
myQomunitas!
myQuran @ Facebook
mySholat!
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
<img src="http://www.myquran.org/sholat/?type=png" title="Jadwal Sholat" />
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
myQripik
produk baru!
Jaket
Kaos
Kalender
Stiker
IMODE
|
myQ wiki
|
Quran Flash
|
Android
|
ChitCh@t
|
Plug-in
|
Radio
|
FB myQ Group