Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Rabu, 23 Mei 2012/2 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:56 - Shubuh 4:33:20 - Terbit 5:55:23 - Dzuhur 11:49:41 - Ashar 15:11:42 - Maghrib 17:44:02 - Isya' 18:57:35 WIB

Penulis Topik: Aliran Sesat  (Dibaca 2300 kali)


Offline chair

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 4.625
  • Jenis kelamin: Wanita
  • tetep smangad!
    • Lihat Profil
    • chair
« Jawab #45 pada: 18 Juli 2007, 15:37:55 »
@pak ihsan
kalau yang model gitu insyaAllah ga akan cocok dengan saya...
orientasinya jelas, uang... saya juga sudah sering denger kajian begitu... bahkan ada yang membolehkan tidak sholat, tidak perlu pakai jilbab dll (karena menurutnya, dalam logika dia kita sedang berada pada fase madinah), jelas saya tidak sepakat yang seperti itu...

Offline abdul_wahab

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 562
  • Lokasi: Indonesia
  • Jenis kelamin: Pria
  • Jika ada khilaf dari saya pribadi, mohon dimaafkan
    • Lihat Profil
« Jawab #46 pada: 18 Juli 2007, 15:50:09 »
@chair
fase mekkah mas... salah ketik

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #47 pada: 18 Juli 2007, 17:53:57 »
mas...salah ketik mas  :hihi:
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline bidadari_Azzam

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.949
  • Lokasi: Krakow, Poland
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Izinkan hamba memenuhi panggilanMu Yaa Allah...
    • Lihat Profil
    • Born for Islam
« Jawab #48 pada: 18 Juli 2007, 18:31:34 »
Mode ON * nunggu Ts lanjutin kisahnya, ;)

%peace%
@abdulwahab, chair ntuh mbak...  :hihi:
”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55] : 13)

Offline abdul_wahab

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jun 2007
  • Tulisan: 562
  • Lokasi: Indonesia
  • Jenis kelamin: Pria
  • Jika ada khilaf dari saya pribadi, mohon dimaafkan
    • Lihat Profil
« Jawab #49 pada: 18 Juli 2007, 21:13:32 »
saya juga salah ketik (masalahnya hanya lihat isi dan namanya) ... Afwan. Pardon me ..

@chair
fase mekkah mbak... salah ketik

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #50 pada: 18 Juli 2007, 21:35:04 »
brur
ada yang tau gak cara menghancurkan JIL
Brur

mmff Liberal
yang tidak pernah konsisten dengan nilai yang mereka koar2kan

MUSLIM AWAM MENEKUK INTELEK LIBERAL ( JIL)
Inilah rekaman diskusi via surat elektronik (email) antara seorang awam (Yusuf Anshar) dengan seorang intelek liberal yang tidak lain adalah Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla. 
Sesungguhnya syubhat-syubhat (wacana-wacana untuk menimbulkan keraguan dan kerancuan terhadap ajaran Islam) yang dilontarkan oleh kaum liberal tidaklah bernilai apa-apa. Untaian dalil-dalil al-Quran dan al-Hadits sudah cukup jelas dan lugas untuk membantah ocehan dan bualan mereka yang ngawur.
Bila kemudian seorang awam membantah bualan mereka dengan sedikit berolah-akal, hal itu karena "gemas" melihat kepongahan dan kelancangan mereka. Seakan-akan hanya merekalah yang berakal, sedang orang-orang yang beragama dengan "lugu" (lurus dan gugu = taat) adalah orang-orang yang pandir (sufaha'). Keculasan berpikir mereka sangka kecerdasan berpikir. Keliaran dan kebablasan berpikir mereka kira bagian dari kebebasan berpikir. Puhh!!
Dalam perdebatannya, "orang awam" tidak banyak mengutip dalil (al-Quran dan al-Hadits). Asumsinya, kaum liberal sebetulnya tidak percaya dengan keduanya. Kalaupun percaya (percaya macam apa?), al-Quran dan al-Hadits bagi mereka hanyalah sebagai objek permainan, bahan diskusi dan perdebatan, bukan sebagai sumber pengetahuan dan petunjuk.
Diskusi ini terbagi atas beberapa babak:
1) Orang awam menekuk intelek liberal
Diskusi awal yang berlangsung lewat email pribadi. Sebelum mempublikasikan diskusi ini, orang awam terlebih dahulu mengirimkan email pemberitahuan tapi tidak digubris oleh sang intelek liberal. Bukti otentik (file PDF) diskusi ini bisa download di sini.
2) Orang awam meringkus intelek liberal
Dengan menggunakan nama "abdul razak", orang awam ikut nimbrung di milis JIL untuk menyebarkan alamat website yang memuat diskusi pertama di atas sekaligus membantah para intelek liberal.
3) Orang awam membanting intelek liberal
Setelah "abdul razak" ditendang dari milis JIL, orang awam berulang kali masuk ke milis dengan beberapa kali ganti nama (berhubung kepesertaannya di milis selalu dicabut) untuk membanting tulisan-tulisan Ulil.
•   tentang maqashid as-syariah
•   tentang kritik terhadap otoritas hadits
4) Orang awam menantang intelek liberal
Berhubung kepesertaan orang awam di milis selalu berujung dengan pencekalan dan pencabutan maka ia mencoba menantang diskusi babak kedua. Semula Ulil menyetujui, tapi kemudian keder lagi.
5) Orang awam membungkam intelek liberal
Karena tantangan diskusi babak kedua ditolak, orang awam terpaksa memantau tulisan-tulisan Ulil di milis dari jarak jauh dan menuangkan bantahannya disini sebagai suatu "diskusi monolog". Terdiri dari:
•   ocehan intelek liberal tentang khilafah
•   bualan intelek liberal tentang pindah agama
•   tipuan intelek liberal tentang sikap beragama
•   jampi-jampi intelek liberal tentang ekonomi
•   ilusi intelek liberal tentang realitas objektif
•   racauan intelek liberal dalam perjalanan di Paris
Selamat mengikuti
Pastikan anda mendapatkan update terbaru dari ebook ini! Periksa secara berkala di
 http://ulil-awam.co.nr
BAGIAN PERTAMA :  Orang awam menekuk intelek liberal
Date:Sun, 12 Dec 2004 18:59:35 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:ingin tahu
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Salam sejahtera untuk Anda dan rekan2 semua. Saya ingin mengetahui lebih mendalam tentang pemikiran Islam Liberal. Sejujurnya, saya adalah orang yang awam, yang tidak pernah mengecam pendidikan formal yang tinggi, baik dalam ilmu agama maupun umum. Saya hanya lulus SMA, pernah sempat kuliah di PT dan D3 tapi semuanya putus di tengah jalan. Saya lebih senang belajar mandiri (autodidak) terutama lewat membaca buku-buku, baik buku umum, terutama buku agama (Islam). Oleh karena saya orang awam, saya mengharap uraian Anda tidak dengan bahasa yang sukar (njlimet). Sesuai dengan pesan Rasulullah saw: "Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka!" Saya rasa Anda menerima Hadits di atas, karena Hadits tsb agaknya tidak bertentangan dengan ilmu psikologi komunikasi modern. Dan setahu saya JIL menerima hal yg demikian. Mudah2an Anda bersedia membagi pengetahuan dengan saya yg awam ini dan terimakasih sebelumnya.

Wassalam,
Yusuf
Date: Mon, 13 Dec 2004 10:45:36 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Subject: Re: ingin tahu
To: "yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>
Salam,
Silahkan mengunjungi situs JIL www.islamlib.com. Semua bahan-bahan yang anda butuhkan tentang JIL ada di sana.

Selamat membaca!

Ulil
Date:Tue, 14 Dec 2004 17:03:34 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:tentang kalian
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Setelah saya membuka-buka dan menelaah beberapa link dalam situs islamlib (utamanya link "Tentang Kami"), saya akhirnya mengambil kesimpulan mengenai Islam Liberal sbb:
 Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran terhadap Islam secara bebas dengan mengabaikan aqidah dan qaidah yang ada dalam Islam itu sendiri. Sistim pemikiran seperti ini jelas bathil dan sesat. Kenapa demikian? Begini logikanya:
a. Semua upaya penafsiran (pemikiran) sebebas apapun dia, tentu menggunakan metode, kaidah atau proses berpikir tertentu; kalau tidak demikian, itu bukan tafsir sebagai buah pikir melainkan lebih pantas disebut ngawur, nglantur atau nglindur. Kesimpulannya, tidak ada pemikiran yang bebas nilai, dia harus menggunakan kaidah berpikir tertentu agar diakui sebagai buah dari suatu proses berpikir.

b. Islam memiliki sejumlah nilai-nilai (aqidah dan qaidah) itu pasti (dan itu diakui oleh JIL sendiri), terlepas dari adanya sejumlah perbedaan pendapat terhadap beberapa materi dalam aqidah/qaidah tersebut. Nilai-nilai itulah yang harus digunakan agar buah pemikiran (penafsiran) kita terhadap Islam mendapat pengakuan sebagai bagian dari Islam. Sebagaimana halnya sebuah karya ilmiah dalam bidang ilmu tertentu, tidak akan mendapat pengakuan apa-apa bila tidak menggunakan metode ilmiah yang sesuai dengan bidang pembahasan karya tersebut, apakah itu fisika, sosiologi dan lainnya.
c. Nah, karena JIL tidak menggunakan aqidah dan qaidah Islam secara disiplin dan konsisten (kecuali yang sesuai dengan selera berpikirnya) dalam melakukan penafsiran bagaimana mungkin layak untuk diterima sebagai bagian dari Islam. Bahkan sudah sepantasnya kalau menurut Islam - sekali lagi menurut Islam - JIL adalah sesat dan keluar dari Islam; meskipun menurut pemikiran liberal sah-sah saja. Jadi, bertaubatlah!
"Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Dan peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri..." (QS 6:70)
"Orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mendebat ayat-ayat Kami." (QS 7:51)
Wassalam,
Yusuf
Date:Sun, 19 Dec 2004 22:40:10 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:Re: tentang kalian
To:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>
Salam,
Sebaiknya anda belajar dan membaca lebih banyak agar tidak mudah menganggap bathil suatu ide.Islam tidak membutuhkan orang-orang yang picik-pikiran dan suka menyesatkan sesama Muslim.
Baca lagi dan baca lebih banyak lagi.
Ulil
Date:Mon, 20 Dec 2004 17:58:17 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:picik
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Saya sangat setuju dengan anjuran anda utk banyak membaca (itu hobi saya). Tapi tolong jawab pertanyaan saya: Apakah menerima semua pendapat atau tidak menolak satupun pendapat adalah syarat utk terhindar dari picik-pikiran?
Apakah tidak ingin dikatakan sesat bukan salah satu bentuk picik-pikiran?
Lebih jauh lagi (saya ingin tahu aqidah kaum liberal); apakah menurut anda tidak ada dikhotomi antara haq dan bathil, benar dan salah, lurus dan sesat?
Wassalam,
Yusuf
Date:Mon, 20 Dec 2004 19:26:11 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:Re: picik
To:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>
Salam,
Anda boleh menerima atau menolak pikiran atau ide. Tetapi tidak berhak menyesatkan suatu ide. Itu bukan cara yang baik untuk berdiskusi. Apalagi anda hanya membaca sekelumit pikiran, dan dengan gampang menuduh suatu pikiran yang sekelumit itu sebagai sesat. Ini adalah model Islam a la Hartono Ahmad Jaiz (anda kenal, pengarang buku "Paham Sesat dalam Islam" itu?). Paham Hartonoisme ini yang membuat situasi diskusi dalam Islam menjadi tidak kondusif, karena dengan mudah sesorang disesatkan, dikafirkan, disyirikkan, dst.

Akidah kaum Muslim liberal adalah bahwa setiap pemahaman kita atas Islam adalah relatif, karena tidak ada yang tahu kebenaran mutlak selain Allah dan rasul-Nya. Kita adalah manusia relatif yang mencoba untuk memahami kebenaran. Wahyu telah berhenti. Setiap orang bisa mengutip ayat atau hadis, tetapi pada akhirnya apa yang ia katakan adalah pendapatnya sendiri, belum tentu sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Oleh karena itu, sesat-menyesatkan seperti yang anda lakukan adalah bertentangan dengan semangat dasar Islam sebagaimana dipahami oleh kaum liberal. Kamu mengikuti semangat yang dikembangkan oleh para mujtahid dahulu, "Ra'yuna shawabun yahtamilul khatha', wa ra'yu khashmina khtha'un yahtamilush shawab."
Anda boleh mengkritik paham Islib. Kami juga mengkritik pemahaman kelompok-kelompok Islam lain. Tetapi kami tidak setuju dengan sesat-menyesatkan, kafir-mengkafirkan. Sebab, kami menganggap bahwa jalan kebenaran menuju kebenaran adalah banyak. Bukan hanya satu. Islam satu, yes. Tetapi dipahami secara beda-beda. Tuhan satu, yes. Tetapi cara manusia mendekati dan memahami Tuhan berbeda-beda. Qur'an satu, yes. Tetapi tafsirnya beda-beda. Saya menolak anggapan bahwa satu jenis tafsir atau pemahaman adalah paling benar, dan yang lain dianggap sesat.
Islam liberal tidak pernah mendaku, sebagaimana kaum Islam fundamentalis, bahwa dirinya paling benar.
Kita semua adalah "salik", dalam istilah tasawwuf, pejalan-kaki yang sedang mencari kebenaran. sementara jalan menuju kepada kebenaran itu banyak ragamnya.
Terakhir, apakah ada dikotomi antara "haq" dan "bathil"? Jelas ada. Tetapi bagaimana kita mendefenisikan tentang dua istilah tersebut, itulah masalah dasarnya. Orang-orang dengan semangat Hartonoisme akan dengan mudah menuduh bahwa pendapat-pendapat yang berlawanan dengan dirinya adalah bathil. Inilah yang terjadi dalam Islam selama ini: semua kelompok menganggap dirinya yang paling haq, yang lain bathil. Orang Sunni menganggap orang Syiah bathil, begitu juga sebaliknya. Di dalam Sunni sendiri, masing-masing kelompok membathilkan kelompok yang lain. Bagi saya, Islam menjadi buruk citranya karena hal-hal semacam ini.
Islam liberal menghendaki bentuk pemahaman Islam yang lain, yakni pemahaman yang menempatkan semua perbedaan firqah, mazhab, isme, pandangan, ideologi, aliran dan lain-lainnya sebagai sebuah kekayaan Islam, dan tidak boleh disesatkan atau dikafirkan. Hanya dengan begitu Islam menjadi suatu peradaban yang kaya. Islam akan menyempit menjadi agama yang kerdil jika orang-orang yang berpandangan picik bahwa pemahamannya sendiri adalah paling benar (seperti anda?) marak di mana-mana, jika Hartonoisme berkecambah dan bertambah-tambah.
Semoga penjelasan ini mencukupi.
Ulil
Date:Tue, 21 Dec 2004 18:27:55 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:baru awal
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Terima kasih, karena pemahaman saya ttg pemahaman kaum liberal semakin bertambah.

Namun penjelasan anda bukannya mencukupi justru baru merupakan awal dari diskusi kita yg mungkin akan memanjang dan melebar. Saya harap anda tetap bersabar meladeni.
Ungkapan2 yg anda kemukakan memang sepintas cukup indah dan menyejukkan, namun sesungguhnya sangat lemah dan menggelikan. Satu contoh saja: imbauan anda agar tidak ada yg disesatkan atau dikafirkan karena Tuhan satu tapi cara mendekati dan memahami Tuhan berbeda-beda; kita adalah pencari kebenaran dan jalan utk menuju kebenaran itu banyak ragamnya. OK!

Taruhlah, jalan menuju Tuhan dan Kebenaran itu beragam dan berbeda-beda, tapi apakah diantara sekian banyak jalan itu tidak ada yang sesat? Apakah aliran "seks bebas" dan "bunuh diri massal" dengan alasan ritual penyembahan kpd Tuhan, tidak bisa dikatakan sesat?
 Bisa saja anda dengan kemampuan berolah-kata sedemikian rupa dapat mengelak penggunaan cap "sesat" terhadap aliran seperti itu; dengan mengatakan itu adalah bentuk "pencarian Tuhan yg belum selesai" atau "kebebasan berekspresi di hadapan Tuhan yg kebablasan" atau "puncak kegilaan manusia dalam ber-Tuhan" dan seabrek jungkir-balik dansa bahasa yg lainnya; namun saya kira kita dan ummat manusia sedunia tetap saja lebih mudah menerima penggunaan kata "sesat" thd mereka.

Nah, kalau kita (atau kebanyakan kita) bisa menerima cap "sesat" thd golongan2 "kebablasan" semacam itu, mengapa kita harus menolak penggunaan kata "sesat" thd sejumlah golongan2 tertentu meski dg kadar dan tingkat kesesatan yg berbeda-beda? Spt ungkapan Tuhan dlm al-Quran ttg "kecondongan yg sedikit" dengan kalimat "... laqad kidta tarkanu ilaihim syaian qalilan" [QS 17:74] dan "kesesatan yg jauh" dengan kalimat "... faqad dhalla dhalalan ba'idan" [QS 4:116].

Itu hanya satu contoh komentar saya thd uraian anda. Komentar2 yg lainnya saya simpan dulu agar diskusi kita tidak terlalu memanjang dan melebar.
Di atas saya katakan ini baru awal dari diskusi kita karena saya melihat titik pangkal pembicaraan yg mudah2an bisa mengurai benang atau jaring kusut dari pemikiran "Jaringan Ummat Liberal" (usul saya JIL berganti nama dulu menjadi JUL). Titik awal diskusi kita adalah ucapan anda: ".... apakah ada dikotomi antara haq dan bathil? Jelas ada. Tetapi bagaimana kita mendefenisikan tentang dua istilah tersebut, itulah masalah dasarnya." Yah, itulah masalah dasarnya. Kalau begitu, apa defenisi kaum liberal sendiri ttg al-haq dan al-bathil?
Wassalam,
Yusuf

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #51 pada: 18 Juli 2007, 21:36:20 »
Yusuf
Date:Tue, 21 Dec 2004 19:39:49 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:Re: baru awal
To:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>

Salam,
Setahu saya, yang suka bermain silat lidah, dan bermain dengan retorika bahasa yang seolah-olah meyakinkan adalah kaum fundamentalis. Ayat dan hadis kerap dihambur-hamburkan. Satu dua kalimat langsung penuh sesak dengan kutipan-kutipan dari Kitab Suci. Seolah-olah suatu pembicaraan yang penuh dengan ayat suci akan benar dengan sendirinya.
 Saya belajar di pesantren. Pengalaman yang saya perolah dari pesantren adalah: kiai-kiai saya jarang mengutip ayat dan hadis, karena mereka khawatir keliru menafsirkan. Paling jauh mereka mengutip pendapat ulama atau kiai yang lain. Kalau pun keliru, tak apa-apa, toh mereka manusia. Itulah pengalaman yang membekas pada diri saya hingga sekarang. Dan itulah yang membuat saya agak "muak" melihat kaum fundamentalis di kampus-kampus yang setiap bicara selalu memercikkan ayat dan hadis di mana-mana.
Ayat dan hadis bisa mengalami inflasi jika diobral dengan cara demikian.
Kembali ke pokok soal yang anda (saya tak mau pakai kata "antum" a la kaum fundamentalis di Jakarta) persoalkan. Soal kebebasan menafsir.


Kebebasan menafsir sudah menjadi kenyataan dan fakta dalam sejarah pemikiran Islam. Itu terjadi dari sejak zaman sahabat dan makin berkembang pada generasi-generasi ulama yang datang belakangan. Ribuan tafsir dari pelbagai sudut pendekatan ditulis oleh ulama. Ada tafsir yang liberal atau yang literal. Ada tafsir dengan pendekatan sufi yang sangat "bebas" dan ada tafsir "bil ma'tsur" a la "al-Durr al-Mantsur" yang sangat taat dengan pemahaman harfiah.
Ribuan tafsir itu tak mungkin ditulis jika tak ada kebebasan berpendapat dan berpikir dalam Islam.
Yang saya kaget, umat Islam sekarang, yang umumnya tak belajar tradisi pemikiran Islam yang kaya, tiba-tiba membenci kebebasan berpikir. Ada-ada saja alasannya. Salah satu alasannya: kebebasan berpikir itulah yang menyebabkan Iblis terjatuh dan sesat. Sebab Iblis memakai pikirannya sendiri dan menolak perintah Tuhan. Ketauhilah saudaraku, argumen ini sudah pernah dipakai oleh para ulama dahulu yang menentang penggunaan qiyas atau silogisme, tetapi toh ulama lain tak terpengaruh dengan pendapat ini, dan tetap menganggap qiyas sebagai salah satu asas penting dalam istinbath hukum.

Alasan lain yang paling populer, dan tampaknya di sinilah anda (sekali lagi bukan "antum") terjatuh, adalah bahwa jika kebebasan berpikir dibiarkan, maka orang akan cenderung kebablasan. Apakah demi kebebasan berpikir "seks bebas" dihalalkan? Apakah demi kebebasan, cara-cara ibadah dengan bunuh diri massal diperbolehkan? Kalau semua pendekatan kepaa Tuhan adalah sah, apakah cara "gila" yang ditempuh oleh sekte seperti "Ranting Daud" itu absah?

Dan seterusnya.
Saya sungguh heran dengan tanggapan semacam ini. Orang-orang yang berjuang untuk tagaknya kebebasan pikiran, baik di Barat atau di Timur, tidak pernah berpikir bahwa hal itu untuk menghalalkan "seks bebas". Yang patut dicurigai adalah, kenapa soal seks begitu mengganggu pikiran umat Islam. Apakah mereka begitu "ngeres" pikirannya, sehingga dipenuhi dengan seks melulu?
Kenapa hal yang pertama terlintas di pikiran anda begitu mendengar soal "kebebasan berpikir" adalah soal seks? Apakah anda mempunyai masalah dalam hal ini (maaf)?
Semua agama, bukan hanya Islam, mengharamkan zina. Semua agama mengharamkan pembunuhan, pencurian, berbohong, menipu, bersikap tak hormat pada orang tua, dst. Apa yang dalam tradisi Yahudi disebut sebagai "Sepuluh Perjanjian" (Ten Commandement) adalah merupakan ajaran-ajaran yang universal, bukan saja dalam agama Yahudi tetapi juga Islam dan agama-agama lain. Praktek-praktek penyembahan agama yang melanggar prinsip itu, akan dengan sendirinya ditolak oleh agama-agama besar.

Di negeri-negeri yang menjunjung tinggi pemikiran yang bebas, pencurian dan pembunuhan tidak dengan sendirinya halal demi kebebasan berpikir.
 Di sinilah saya percaya, bahwa akal manusia dan wahyu Tuhan sebetulnya bertemu dalam satu titik. Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taymiyah sebagai "Muwafaqat Sharihil Ma'qul li Shahihil Manqul".

Bagaimana jika wahyu dan akal bertentangan?
Saya mengikuti pendapat Ibn Rushd, seorang filosof dan ahli fikih dari abad 13 M, dalam "Fashl al Maqal Fi Ma Baina al Hikmati was Syariati min al Ittishal". Menurut dia, jika ada pertentangan antara keduanya, maka wahyu harus ditakwil. Tetapi, hal ini harus dilihat dengan cermat. Tidak semua pendapat akal manusia dengan sendirinya sah. Hanya pendapat yang dalam istilah Ibn Taymiyah disebut "sharih", pendapat yang dilandasi dengan argumen yang kokoh, dan bukan sekedar memperturutkan hawa nafsu belaka, yang dapat dipertimbangkan.
Apa pendapat yang "sharih" itu? Ibn Rushd sendiri tidak menetapkan suatu ancar-ancar. Bagi saya, ancar-ancar itu tidak ketat, kaku, sebab pada akhirnya yang menentukan sebuah pendapat masuk akal dan tidak adalah kalangan cerdik pandai sendiri. Ibn Rushd sendiri sudah mengatakan dalam "Bidayat al Mujtahid" bahwa "al nushush mutanahiyah wa al waqai' ghairu mutanahiyah", teks-teks agama dan wahyu terbatas jumlahnya, sementara situasi sosial terus berubah. Bagaimana mungkin, kata Ibn Rusdh, sesuatu yang terbatas akan mengatasi yang tak terbatas. Di situlah akal manusia dan kebebasan berpikir diperlukan.
 Tentang masalah "haq" dan "bathil", jelas hal itu ada. Yang menjadi soal adalah orang-orang yang sejenis dengan anda yang mudah "membathilkan" pandangan orang-orang yang berbeda. Anda menyebut JIL bathil? Atas dasar apa? Atas dasar kutipan ayat dan hadis yang berhamburan dengan seenaknya itu? Apakah kalau sudah mengutip ayat lalu selesai? Bukankah ayat bisa ditafsirkan macam-macam.

Ambil contoh ayat berikut ini. Ada ayat yang berbunyi, "La tudrikuhul abshar wa huwa yudrikul abshar wa huwal lathiful khabir". Ayat itu, kira-kira, isinya adalah bahwa Tuhan itu begitu lembut sehingga tak bisa dilihat oleh mata. Oleh karena itu, manusia tak akan bisa melihat Tuhan, meskipun di sorga. Atas dasar ayat inilah kaum Mu'tazilah menolak kemungkinan manusia melihat Tuhan di sorga.

Tetapi ada ayat lain, "Wujuhun yauma-idzin nadhirah, ila rabbiha nadlirah". Ayat itu kira-kira isinya adalah bahwa orang-orang yang beriman, di sorga nanti, akan melihat Tuhan. Atas dasar inilah kaum Asyariyyah berpendapat bahwa manusia mungkin melihat Tuhan di sorga.
Bagaimana anda mendamaikan antara kedua ayat itu. Kaum Mu'tazilah pakai ayat. Kaum Asyariyah pakai ayat. Mana yang benar.
Intinya, belum tentu kalau anda memakai ayat dan hadis dengan sendirinya anda sudah bisa menyudahi diskusi dan menuduh yang lain salah, sesat, bathil, murtad, kafir, dst.
Saya mengakui adanya yang "haq" dan yang "bathil". Tetapi saya, sebagai manusia, mempunyai pengetahuan yang terbatas, dan saya tak layak dengan begitu mudah menyalahkan dan membathilkan pendapat lain. Yang saya lakukan hanyalah mengkritik, tetapi saya tidak akan pernah sampai pada kesimpulan bahwa pendapat lawan saya bathil, kecuali jika pendapat itu jelas-jelas melawan akal sehat. Kalau ada orang berpendapat bahwa membunuh adalah halal, jelas itu batal, dari sudut pandang apapun. Tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa cara beribadah orang Kristen dan Hindu adalah batal.

Dalam menghukumi sesutau "bathal" atau "haq", kita harus memakai dua instrumen: wahyu dan akal. Tidak bisa hanya dengan wahyu. Oleh karena itu, saya keberatan sekali dengan tindakan ceroboh para kaum fundamentalis yang mengobral ayat dan hadis, tetapi mengabaikan penalaran akal sehat.

Ala kulli hal, apa yang saya tulis ini belum tentu benar. Sebab hanya Allah lah yang tahu mana yang benar mana yang salah. Kita hanya berusaha untuk benar.
Ulil
Date:Wed, 22 Dec 2004 17:47:45 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:akal-sehat
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>

Membaca email anda yg lalu, kesan yg saya tangkap adalah uraian anda lebih banyak merupakan curahan perasaan dan emosi yg campur-aduk (kesal-muak-sinis-kaget-bingung jadi satu). Saya mengerti perasaan anda dan saya turut prihatin dg kekesalan dan kebingungan anda. Namun upaya saya utk sedikit menjernihkan dan menenangkan arus pemikiran kita agak terhambat dg curahan pemikiran (dan emosi) anda yg cukup deras. Barangkali memang begitu cara berpikir dan model diskusi anda dan komunitas anda di utan kayu. Hanya saja saya tak ingin ber-su'u zhann dengan mengatakan bahwa itu salah satu cara anda mengacaukan konsentrasi orang yg ingin berpikir lurus-lurus saja.

Tapi tak apalah, mari kita kembali mengurai benang kusut ketimbang berlarut-larut dlm emosi dan ratapan thd ummat Islam yg memang (saat ini) sedang centang-prenang. Benang-merah uraian kita masih seputar "kebebasan berpikir" dlm kaitannya dg haq & bathil, benar & salah, lurus & sesat.

Ada sedikit kemajuan, karena sepertinya anda sudah mengakui adanya jalan beragama yg sesat dan bathil dg pernyataan anda: ".... praktek-praktek penyembahan agama yang melanggar prinsip itu, akan dengan sendirinya ditolak oleh agama-agama besar". Meskipun anda belum berani (atau masih malu) menggunakan kata "sesat" di situ, tapi maksudnya kurang lebih sama; karena jika semua agama-agama besar adalah "jalan yg benar" (menurut anda) berarti apa yg "ditolak" oleh mereka adalah "jalan yg salah". Salah jalan = sesat. Alaisa kadzalik?
Nah, satu jalinan benang kusut telah berhasil kita tarik simpulnya yaitu memang ada jalan yg benar dan ada jalan yang sesat atau "salah jalan" (bila anda tidak tega menggunakan kata "sesat"). Sayangnya, kriteria benar dan sesatnya suatu jalan beragama anda serahkan begitu saja (tanpa jelas dalil dan argumennya) pada dua hal yaitu "akal-sehat" dan "nilai-nilai universal" yaitu nilai-nilai yg terdapat dlm semua agama. Di sini pemikiran kita saling kusut lagi. Mari kita coba uraikan jalinan benang kusut ini dengan menarik suatu titik-temu yg kita sepakati bersama.
 Dalam beberapa bagian tulisan anda dalam email-email yg terdahulu anda telah memberikan suatu kesimpulan yg sangat berharga ttg "aqidah" kaum liberal yaitu bahwa "produk akal adalah relatif sedang kebenaran mutlak bersumber dari Tuhan". Kalau memang demikian pengakuan dan keyakinan anda, bagaimana kalau kita katakan saja (karena di titik ini pikiran kita sepakat) bahwa:

"Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."
Anda setuju dengan pernyataan di atas?
Wassalam,
Yusuf
Date:Thu, 23 Dec 2004 09:26:54 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:Re: akal-sehat
To:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>

Salam,
Dari mana anda menyimpulkan sejak awal bahwa dalam perspektif Islam liberal tidak ada yang "salah" dan "benar"? Tidak ada "haq" dan "batil"?
Sudah tentu hal itu ada. Yang membedakan anda dengan kaum Muslim liberal seperti saya adalah batasan mengenai dua istilah itu.
Aqidah kami adalah: Islam bukan satu-satunya agama yang benar, dan bukan pula paling benar. Maksud saya "Islam" sebagai nama agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Kami memandang bahwa kebenaran tersebar dalam semua agama. Oleh karena itu, kami tidak akan memandang agama lain sebagai bathil.
 Ada standar universal tentang kebathilan. Hal itu tampak dalam hal-hal yang baik secara wahyu atau akal sehat dianggap batal, seperti tindakan kejahatan yang terkandung dalam "Sepuluh Perjanjian" (Ten Commandement).

Belum tentu hal-hal yang berlawanan dengan ketentuan yang secara harafiah tertera dalam Quran adalah batil. Misalnya, hukuman penjara bagi pencurian yang menurut fiqh sudah memenuhi syarat untuk dikenai hukum potong tangan.
Kenapa demikian? Sebab, dalam kerangka bepikir kami, tidak semua hal yang secara harafiah tercantum dalam Qur'an mesti kita ikuti secara harafiah pula. Kenapa demikian, kita diskusi di lain kesempatan (kalau saya ada waktu).
Sekarang saya akan menanggapi pernyataan anda di bawah ini:
 "Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."
Apa yang anda maksudkan dengan "jalan agama"? Apakah jalan itu menyangkut ibadah, mu'amalah, akhlaq, adab, atau apa? Sebab agama memiliki dimensi yang kompleks. Di level mana anda mau berbicara?
Apa yang anda maksudkan dengan "kriteria yang ditetapkan oleh Tuhan"? Bisakah anda menggunakan istilah yang jauh lebih standar dalam keilmuan Islam? Sebab istilah "kriteria Tuhan" sama sekali tidak jelas.

Saya tak akan menjawab pertanyaan anda ini kalau anda tidak menjelaskan masalah itu dulu.

Ulil
Date:Thu, 23 Dec 2004 19:42:39 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:kriteria agama
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>

Saya cukup surprise mendengar pernyataan anda bahwa agama memiliki dimensi yang sangat kompleks. Tadinya saya menganggap kaum liberal mempersempit makna agama pada tataran moral saja. Syukurlah kalau begitu! Bila anda meminta saya memperjelas di level mana kata "agama" yang saya maksud dalam kalimat:
"Tidak ada ukuran dan kriteria yg terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu jalan beragama selain ukuran dan kriteria yg ditetapkan oleh Tuhan."
Maka saya katakan bahwa sebenarnya yg saya maksud adalah "agama" dlm arti yg seluas-luasnya (di semua lini kehidupan). Tapi agar diskusi kita tidak terlalu melebar sehingga bertele-tele (apalagi anda sedang sibuk, mungkin ikut seminar natal dsb) maka dalam diskusi kali ini saya membatasi pada level "aqidah" atau "kepercayaan" saja dulu.
 Adapun yg saya maksud dengan "kriteria yang ditetapkan oleh Tuhan" tidaklah terlalu muluk-muluk, anda tidak usah bingung. Persis seperti pengertian kriteria yg terdapat dalam kamus-kamus (kriteria = standar, ukuran, patokan, norma). Dalam kaitannya dengan Tuhan dan Agama berarti kepercayaan dan amalan apa saja dalam beragama yg harus dimiliki oleh seseorang untuk mendapatkan ridha Tuhan. Kalau anda meminta istilah yg lebih islami (ehm...) ya Rukun Iman dan Rukun Islam itu. Tapi saya kira seorang liberalis sejati macam anda lebih senang menggunakan istilah yg universal.
Nah, kalau kedua pengertian di atas kita gabung maka pernyataan tadi bisa diperjelas sebagai berikut:

"Tidak ada standar, ukuran, patokan dan norma yang terbaik dan tersehat (bagi akal-sehat) utk menentukan benar-tidaknya suatu kepercayaan (aqidah) dalam agama selain standar, ukuran, patokan dan norma yang ditetapkan oleh Tuhan."
Sekali lagi: apakah anda setuju dengan pernyataan di atas? Kalau anda memang sedang super sibuk, cukup dijawab dengan dua huruf "YA" atau "NO".

Wassalam,
Yusuf
Date:Fri, 24 Dec 2004 06:23:30 -0800 (PST)
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:Re: kriteria agama
To:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>

Salam,
Jelaskan dulu, apa yang anda maksud dengan kriteria Tuhan dalam masalah akidah.
Urusan akidah dalam Islam tidak sesimpel yang anda bayangkan. Pertengkaran pendapat luar biasa hebatnya. Banyak sekte timbul di sana. Masing-masing mendaku sebagai paling benar, paling sesuai dengan kriteria Tuhan.
Apa yang anda maksud dengan kriteria Tuhan dalam akidah? Apa saja isinya?
Ulil



Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #52 pada: 18 Juli 2007, 21:36:43 »
Date:Sun, 26 Dec 2004 18:37:04 -0800 (PST)
From:"yusuf anshar" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:kesimpulan dan saran
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>

Meskipun anda tidak menjawab dengan "ya" atau "no" tapi dari tema baru yg anda angkat dapat disimpulkan bahwa anda setuju dan memang tidak bisa tidak, anda mesti setuju dg pernyataan tsb. Karena pernyataan tsb adalah konsekuensi logis dari prinsip kaum liberal sendiri bahwa: "produk akal adalah relatif sedang kebenaran mutlak bersumber dari Tuhan". Saya bertanya "setuju atau tidak" hanyalah utk mengingatkan dan menegaskan kembali aqidah dan aksioma tsb. Karena siapapun yg ditanya - asalkan dia tidak atheis - tentang siapa yg paling tahu (segala hal, apalagi ttg agama) apakah Tuhan atau manusia; pasti akan menjawab "Tuhan" tanpa perlu berpikir panjang lagi; meskipun diantara mereka sendiri masih sibuk berdebat ttg "Tuhan". Yah, di situlah anehnya manusia dan di situlah hebatnya Tuhan yg menciptakan manusia.
Di bawah ini saya urutkan dulu kemajuan dan kesimpulan yg telah kita capai dari diskusi ini:
1. Adanya jalan yg haq, benar, lurus dalam beragama dan adanya jalan yg bathil, salah, sesat dalam beragama.
2. Tidak ada yang paling tahu ttg jalan yg haq, benar, lurus dalam beragama serta jalan yg bathil, salah, sesat dalam beragama selain Tuhan.
 Bagaimana cara manusia mendapat ilmu Tuhan itu? Jawabannya ialah lewat Wahyu. Orang yang mendapat wahyu dari Allah disebut Nabi atau Rasul. Berhubung komunitas anda masih mengaku beragama Islam (paling tidak berlabel Islam), maka Wahyu yg dimaksud dlm pembicaraan kita ini tidak lain adalah wahyu terakhir (yakni al-Quran) yg diturunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir (yakni Muhammad saw).

Kalau demikian, berarti kesimpulan di atas kita tambah dengan kesimpulan ketiga sbb:
3. Untuk mengetahui jalan yg haq, benar, lurus dalam beragama serta jalan yg bathil, salah, sesat dalam beragama kita harus merujuk pada firman Allah dalam al-Quran dan sabda Rasul dalam al-Hadits.

Sekarang barulah kita memasuki medan pertarungan sesungguhnya antara semua golongan, sekte dan aliran yg mengaku diri Islam (termasuk JIL). Medan pertarungan itu adalah:
 
"Mana jalan beragama yg haq, benar, lurus dan mana jalan beragama yg bathil, salah, sesat menurut Allah dan Rasul-Nya (menurut al-Quran dan as-Sunnah)?"

Hal ini sesuai dengan - dan sudah mencakup - pertanyaan anda: bagaimana kriteria dan materi aqidah dalam Islam? Menurut anda, aqidah Islam tidak simpel, sengit dipertengkarkan hingga menimbulkan banyak sekte. Bagaimana ini?

Sebelumnya, ada dua prinsip dan fakta yg harus kita ingat:
1. Aqidah Islam (demikian pula aspek-aspek lain dlm Islam) adalah apa yg dikatakan oleh al-Quran dan as-Sunnah, bukan apa yg dikatakan oleh sekte-sekte ummat Islam.
2. Sekte-sekte tsb baru muncul jauh sepeninggal Nabi saw dan tidak kita dapati di zaman Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Mengapa di zaman Nabi belum muncul sekte-sekte? Penyebabnya ada dua:
1) Ketika itu wahyu masih turun dan penerima wahyu (yg punya otoritas utk menjelaskannya) yaitu Nabi masih hidup. Sehingga semua pertanyaan yg timbul seputar Islam akan dijawab langsung oleh "nara sumber kebenaran" yakni Allah lewat lisan Nabi-Nya.
2) Sikap para sahabat yg "sami'na wa atha'na" dan tidak suka bertanya yg tidak perlu. Hal-hal yg berkaitan dengan aqidah yg disampaikan oleh al-Quran dan al-Hadits langsung mereka imani dan yg berkaitan dengan amaliyah langsung mereka amalkan.

Perselisihan pendapat yg menjurus ke perpecahan mulai terjadi setelah lenyapnya faktor pertama di atas (Nabi wafat). Kemudian dari zaman ke zaman, perpecahan semakin menjadi-jadi hingga menimbulkan sekte-sekte, seiring dengan makin lunturnya "watak sahabat" (faktor kedua) di kalangan ummat Islam. Lemahnya iman, rendahnya ketaatan serta banyak bertanya dan berdebat merupakan pintu gerbang terbesar (dari sisi internal) bagi timbulnya sekte-sekte dlm Islam.

Adapun dari sisi eksternal, masuknya filsafat dlm tubuh ummat Islam (disamping faktor politik) merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi maraknya sekte-sekte itu. Mengapa demikian? Pekerjaan filsafat hanya dua, bertanya dan berdebat, berdebat dan bertanya, tak putus-putusnya bagaikan "lingkaran setan" (karena bila berhenti berarti tamatlah riwayat filsafat). Seandainya seluruh filsuf yg ada di dunia dibebankan utk menuntaskan satu permasalahan saja sebelum berpindah ke permasalahan selanjutnya, niscaya habis umur mereka dan habis umur dunia, sedang mereka masih sibuk berpikir ttg "apa itu berpikir?". (Rene Descartes yg sempat diduga mati bunuh-diri, terkenal dg ucapan hampanya cogito ergo sum = aku berpikir maka aku ada. Kalau benar ia bunuh-diri, mungkin saja ia ingin membuktikan kesimpulannya dan tidak ingin kesimpulannya itu dipertanyakan lagi). Apalagi utk memikirkan ttg "akal", alih-alih utk memikirkan ttg Sang Pencipta akal dan apa yg dimaui Tuhan. Manakala cara filsafat dipakai dlm beragama niscaya kita tidak akan mendapatkan hasil apa-apa selain kekufuran. Kenapa? Karena agama diturunkan bukan utk itu (dipertanyakan dan diperdebatkan). Agama diturunkan utk diimani dan diamalkan. (NB: filsafat dan turunannya sebetulnya berguna untuk membahas sains, bukan agama).

Bercermin dari kedua fakta dan faktor penyebabnya di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa utk mengetahui ajaran Allah dan Rasul-Nya yg benar, kita harus kembali ke masa awal Islam, melihat bagaimana para sahabat pada umumnya (utamanya as-sabiqun al-awwalun, khususnya al-khulafa' ar-rasyidun) mengimani dan mengamalkan al-Quran dan as-Sunnah. Itulah Islam yg masih bersih dari distorsi dan kontaminasi sekte-sekte dan penafsiran-penafsiran yg menyimpang. Bukankah anda sendiri pernah berkata:

"Akidah kaum Muslim liberal adalah bahwa setiap pemahaman kita atas Islam adalah relatif, karena tidak ada yang tahu kebenaran mutlak selain Allah dan rasul-Nya. Kita adalah manusia relatif yang mencoba untuk memahami kebenaran. Wahyu telah berhenti. Setiap orang bisa mengutip ayat atau hadis, tetapi pada akhirnya apa yang ia katakan adalah pendapatnya sendiri, belum tentu sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan."
 (Saya kutip tanpa perubahan, dari email anda tanggal 20 Desember 2004).

Memang para sahabat termasuk dlm perkataan anda "kita adalah manusia relatif". Tapi seperti yg saya kemukakan di atas, sikap para sahabat terhadap al-Quran dan al-Hadits tidak seperti kita. Para sahabat tidak suka bertanya dan berdebat, demikian pula tidak suka menakwil dan menafsirkan. Apa yg mereka terima dari Allah dan Rasul-Nya (al-Quran dan as-Sunnah) mereka sikapi dengan iman dan amal. Sehingga apa-apa yg mereka sepakati (ijma' para sahabat) bukanlah hasil penafsiran dan pemahaman pribadi mereka melainkan hasil dari sikap mengimani dan mengamalkan apa-apa yg disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ijtihad baru mereka lakukan manakala menemukan hal-hal baru yg tidak mereka dapati (secara eksplisit) dalam al-Quran dan as-Sunnah, itupun dengan cara yg sangat hati-hati dan tetap berlandaskan aqidah dan kaidah yg mereka dapati dlm al-Quran dan as-Sunnah.

Dari uraian di atas, dapat kita tarik kesimpulan keempat yg merupakan hasil akhir dari diskusi kita yaitu:
4. Jalan beragama yg haq, benar, lurus menurut Allah dan Rasul-Nya adalah jalan beragama sebagaimana yg telah disepakati (ijma') oleh para sahabat Rasulullah saw sedang jalan beragama yg bathil, salah, sesat adalah jalan beragama yg bertentangan dengan kesepakatan (ijma') para sahabat Rasulullah saw.
 
Keempat kesimpulan di atas - kalau anda menelaah baik2 diskusi kita dari awal hingga kini - pada dasarnya disarikan dari prinsip2 atau pernyataan2 anda sendiri. Jadi saya hanya mencoba memetakan kembali prinsip2 anda dalam bingkai Islam yg terlepas, sementara anda sendiri tidak mau melepaskan label "islam" dari nama jaringan anda (entah karena pertimbangan strategis duniawi ataukah ukhrawi; Allahu A'lamu).

Sekarang mari kita introspeksi. Adakah diantara para sahabat yg tidak menganggap kafir orang yg mempertuhankan Yesus Kristus? Adakah diantara al-khulafa' ar-rasyidun yg mengkafirkan sesama mereka sebagaimana Syi'ah yg mengkafirkan Abubakar dan Umar? Adakah diantara para sahabat yg menghalalkan wanita muslimah menikah dengan pria non-muslim? Bagaimana dengan komunitas anda?

Benang dan jaring kusut JIL telah saya uraikan sehingga terpisahlah tali Islam dari tali liberal dengan empat simpul di atas. Kini terpulang kepada anda, mau memegang tali yang mana. "Al-haqqu min rabbika faman sya-a falyu'min wa man sya-a falyakfur". Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memberikan saran dan imbauan berikut:
 
1. Bila anda mau berpegang dengan keempat asas di atas, berarti anda harus menanggalkan pemikiran liberal anda yg bertentangan dengan ijma' atau kesepakatan kaum muslimin. Andaikata itu terjadi, saya menyarankan agar anda mengganti nama JIL menjadi JMP (Jaringan Muslim Progresif) misalnya. Seorang muslim yg progresif (berpikiran maju) tidak mesti menanggalkan aqidah dan qaidah keislaman mereka. Anda bisa membahas berbagai isu-isu aktual seputar ummat Islam dengan jujur, terbuka dan kritis tanpa perlu melanggar ajaran Islam.
2. Bila anda tidak mau melepaskan pemikiran liberal anda, maka anda harus melepaskan label "Islam" dari nama komunitas anda; misalnya menjadi JUL (Jaringan Ummat Liberal).
3. Bila anda tidak mengindahkan salah satu dari kedua saran di atas, berarti anda tetap berpegang dengan tali liberal yg kufur dan melilitkannya dengan tali Islam sehingga menghasilkan pemikiran yg kusut dan sesat lagi menyesatkan banyak kaum muslimin. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Wassalam,
Yusuf
_____________________________ ___________
Diskusi ini berakhir sampai di sini, ditandai dengan tidak dibalasnya email terakhir Yusuf Anshar. Sebelum mempublikasikan diskusi ini di internet, Yusuf Asnhar mengirim email pemberitahuan terlebih dahulu kepada Ulil, tapi email itu tidak juga dibalas

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #53 pada: 18 Juli 2007, 21:37:54 »
BAGIAN KE DUA : orang awam meringkus intelek liberal
Dengan menggunakan nama "abdul razak", orang awam ikut nimbrung di milis JIL untuk menyebarkan alamat website yang memuat diskusi pertama di atas sekaligus membantah para intelek liberal.
To:islamliberal@yahoogroups.com
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Thu, 27 Jan 2005 21:43:01 -0800 (PST)
Subject:~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk Meutia
Meutia,
Saya kira, masih banyak orang Islam yang percaya bahwa hukum orang murtad adalah bunuh. Sebab, itulah ketentuan seperti yang tertuang dalam hadis. Dengan demikian, jika ada orang Islam pindah agama, maka ia harus dibunuh.
Jika ajaran semacam ini masih dipercayai umat Islam, maka tak bisa dielakkan lagi jika umat agama lain berpandangan bahwa ajaran Islam tentang kebebasan agama itu bohong belaka. Kalau benar-benar Islam menghargai kebebasan agama, kenapa tidak ada kebebasan untuk pindah agama.

Saya pernah mendengar jawaban kaum konservatif seperti berikut ini: kalian bebas untuk menerima atau menolak Islam. Tetapi begitu anda menerima, maka anda terikat dengan ketentuan Islam, salah satunya ketentuan tentang hukum bunuh bagi orang murtad.
Jawaban semacam ini memperlihatkan bahwa Islam tidak menghargai kebebasan dengan sungguh-sungguh. Bebas hanya sebelum masuk Islam. Begitu sudah masuk, maka harus "terpaksa" mengikuti segala hal di dalamnya, tanpa boleh protes.
 Kaum konservatif itu akan menjawab seperti ini: ya, itu kan biasa juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Anda bebas daftar atau tak daftar di, katakan saja, Sekolah "Mawar". Tetapi begitu anda sudah ada di dalam sekolah itu, anda tak bebas lagi. Anda harus mengikuti segala aturan di sana.
Jawaban saya simpel: bedanya dalam hal Islam dan Sekolah Mawar adalah berikut ini. Kalau anda masuk Sekolah Mawar, anda harus ikut aturan di sana. Itu benar. Tetapi jika aturan itu sudah dianggap tak masuk akal, maka anda boleh protes, boleh demo, dan aturan itu boleh diubah. Tetapi, begitu anda masuk Islam, jika Islam dipahami secara "konservatif", maka anda harus ikut aturan di sana, dan tak boleh protes, sebab aturan itu dari Tuhan.
Karena itu, perbandingan antar Islam dan Sekolah Mawar tak tepat. Dalam pandangan kaum liberal, jelas. Tidak setiap aturan yang sifatnya operasional dalam Quran dan Sunnah harus diikuti. Yang harus diikuti adalah nilai-nilai pokok yang sifatnya umum dan abstrak. Jika aturan (operasional) itu sudah tak sesuai dengan zaman, seperti hukum bunuh buat orang murtad itu, ya ketentuan tersebut boleh ditinggalkan.
Apakah dengan begitu kita melawan Quran dan Sunnah?
Jawabannya: tidak!
Bukankah sahabat Umar (ra), sahabat besar yang "rating"-nya kedua setelah Abu Bakar (ra), menolak ketentuan tentang zakat buat orang muallaf, padahal ketentuan itu ada dalam Quran.
Apakah Umar melawan Quran? Jawabannya" tidak!
Umar memakai (kalau mau meminjam istilah modern) "hermeneutika liberal" dalam memahami agama.
Jadi, hukum mati buat orang murtad sudah tak relevan lagi, dan harus ditinggalkan, karena jelas berlawanan dengan prinsip kebebasan keyakinan yang merupakan hak dasar manusia.
Sekian,
Ulil
To:islamliberal@yahoogroups.com
From:"abd razak" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Sun, 30 Jan 2005 19:56:33 -0800 (PST)
Subject:~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk Ulil
Misal perbandingan antara Islam dengan Sekolah memang kurang tepat. Masalahnya, Islam (menurut Islam itu sendiri) adalah satu-satunya agama yang benar dan diterima di sisi Allah; sedang sebuah sekolah, tidak bisa mengklaim diri sebagai satu-satunya sekolah yang sah. Sebuah sekolah juga tidak pernah mewajibkan semua orang bersekolah dan resiko tidak bersekolah juga tidak fatal. Sedangkan resiko tidak berislam adalah api neraka yang jelas bukan bencana tsunami.
 Hukuman mati bagi orang murtad memang ada dalam hukum Islam. Namun (seperti halnya hukum potong-tangan, rajam, dan hudud lainnya) untuk menjalankannya membutuhkan perangkat "daulah" atau pemerintahan yang resmi dan diakui (secara de facto dan de jure) menjalankan hukum syariat. Bila perangkat hukum tersebut ada, maka mereka berhak untuk menjalankannya demi hukum (tentunya bagi warga negaranya yang muslim). Terlepas dari masalah mereka dianggap melanggar prinsip kebebasan dan HAM sehingga dicap sebagai "negara pelanggar HAM" yang harus diboikot dan diinvasi oleh sang polisi dunia. Adapun bila daulah tersebut merupakan "khilafah 'ala minhaj an-nubuwwah" atau sebentuk pemerintahan global yang tidak mengenal sekat-sekat teritorial, maka hukum tersebut berlaku atas seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Bedanya ketika itu (pada saat khilafah tersebut eksis dan efektif), tidak ada lagi cap pelanggaran HAM bagi mereka, karena yang menjadi "polisi dunia" ketika itu bukan lagi PBB, Amerika atau negara liberal manapun, melainkan khilafah itu sendiri.

Begitulah sekelumit gambaran tentang syariat Islam yang berkaitan dengan masalah hukum murtad. Menyinggung tentang prinsip kebebasan dan hak asasi manusia, itu bukanlah segala-galanya. Menurut Islam ada hak asasi yang lebih mendasar dan prinsipil dibanding itu semua. Yaitu Hak Asasi Tuhan. Dalam sebuah Hadits Shahih Bukhari-Muslim, Nabi saw menyatakan bahwa ada "haq Allah atas manusia dan haq manusia atas Allah". "Haq Allah atas manusia" yaitu agar Dia disembah (dengan ibadah yang benar) dan tidak dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Sedangkan "haq manusia atas Allah" manakala mereka telah melaksanakan "haq Allah" tadi adalah bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga. Model dan konsep "haq asasi" ini bersifat vertikal dan berdimensi dunia-akhirat. Tentunya jauh lebih tinggi dan berharga dibanding segala hak-hak lainnya.
Kesimpulannya, hukuman mati bagi orang murtad adalah sah dan operasional dengan sejumlah prasyarat tertentu. Adapun bila (menurut pandangan liberal) dianggap melanggar prinsip kebebasan dan HAM, yah silakan saja. Asalkan jangan membawa-bawa nama Islam dalam pandangan liberal. Apa perlunya Islam dengan yang namanya "liberal-liberalan". Jadi, terserah anda, "al-Haqqu min rabbikum faman sya-a falyu'min wa man sya-a falyakfur" (Kebenaran itu dari Tuhan kalian maka siapa yang mau silakan beriman dan siapa yang mau silakan kufur)!
Sekian.

Bagi yang ingin mengetahui apa sebetulnya JIL itu, silakan membaca diskusi antara Koordinator JIL (Ulil Abshar Abdalla) dengan seorang awam di http://ulil-awam.cjb.net.
To:islamliberal@yahoogroups.com
From:"Chodjim Achmad [JKTSN Jakarta Performance Chemicals]" <xxxxx@sumitomocorp.co.jp>
Date:Tue, 1 Feb 2005 15:30:51 +0700
Subject:RE: ~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk Ulil

(1) Hukuman Mati Bagi Orang Murtad
Kalau kita meyakini bahwa Alquran itu satu-satunya kitab Islam yang valid isinya, dan tidak diragukan lagi kebenarannya, maka jelas "tidak ada hukuman mati" dalam Alquran. Lha, wong di Alquran, orang boleh memilih kafir atau iman. Lha, kalau ada hukuman mati untuk orang murtad kan sama saja Alquran itu bohong alias "rayb fii hi", diragukan kandungannya. Dalam Hadis pun, kalau kita mau jujur, juga tidak ada hukuman mati bagi si murtad (ansich karena pindah agama). Jadi, kesimpulannya ya tidak ada hukuman mati bagi orang murtad kalau mengacu Alquran dan Hadis. Itu sama dengan hukuman rajam bagi orang yang berzina, tidak ada di Alquran. Tapi, budaya Arab tetap memberlakukan hukuman rajam, meski Islam sudah datang dan mengatur hukumnya lewat Alquran. Ini kalau kita membaca Alquran dengan jernih!
Mengapa hukuman rajam tetap diberlakukan meski sudah dihapus oleh Alquran? Karena, hukuman rajam itu menguntungkan penguasa. Coba analisis sendiri mengapa hukuman rajam menguntungkan penguasa. Hukuman mati bagi orang murtad juga tetap diberlakukan meski tidak ada di dalam Alquran, karena hukuman ini menguntungkan penguasa! Kalau Islam kayak begini, sadis namanya dan bukan rahmat lil alamin.

(2) Kekhalifahan Islam
Hidup memang harus realistis. Ketika agama Islam bersentuhan dengan aneka budaya, maka kita tidak bisa lagi bermimpi tentang kekhalifahan Islam. Jangankan sistem Kekhalifahan, lha wong menyatukan negara-negara Arab saja sulit, kok. Masing-masing memiliki jenis akar budaya yang berbeda, meski prinsip Islamnya sama. Jadi, pemerintahan global tanpa sekat-sekat teritorial itu hanya ada ketika kita hidup di zaman kegelapan (the dark age). Dalam manajemen pemasaran, memang dikenal adanya borderless country. Pada zaman sekarang ini barang apa saja sudah tidak kenal batas-batas negara. Tapi, budaya tidak dapat dibuat universal. Mengapa? Karena budaya itu bagaikan ibu kandung yang melahirkan sebuah bangsa. Ada "rasa" yang sangat subjektif yang tak akan pernah bisa dibabar secara objektif! Karena "rasa yang sangat subjektif" itulah perkawinan sesama anak manusia biasanya dibatasi oleh "adat-istiadat" atau budayanya. Makin sedikit perbedaannya, makin tinggi harapan kesejahteraan hidupnya dalam berkeluarga.
(3) HAM
Sebagaimana Hadis yang Anda kutip, ada Hak Allah atas manusia. Siapa yang tahu hak Allah, ya tentunya Allah itu sendiri. Kalau ada manusia mengatakan hak Allah itu begini dan begitu, itu artinya orang itu telah menyekutukan Tuhan dengan dirinya yang bicara ini-itu tadi. Maka, satu-satunya hak Allah yang dinyatakan di Alquran adalah QS 2:21, yaa ayyuha al-naas 'buduu rabbakum alladzii khalaqakum walladziina min qablikum laallakum tattaquun, wahai manusia beribadahlah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa.
Sengaja kata "u'buduu" tidak saya terjemahkan "sembahlah". Mengapa? Karena Tuhan tidak gila disembah seperti raja yang ingin disembah. Lha wong Tuhan itu sudah Maha Tinggi kok, meski sama sekali tak ada orang yang menyembah. Raja ingin disembah karena ingin diakui kebesarannya. Lha, Tuhan, Allaahu akbar, Dia Maha Besar!!

Karena ibadah itu tidak sebangun dengan "penyembahan", maka tak ada orang yang berhak menetapkan cara menyembah kepada Tuhan. Kalau ada orang yang menetapkan penyembahan, jelas orang itu melanggar hak Tuhan. Nabi Muhammad saja tidak berani menetapkan cara penyembahan. Sehingga tak satu pun cara ibadah di dalam Islam yang dibuat oleh Nabi Muhammad saw. Cobalah cara-cara salat, puasa, zakat, dan haji itu sudah ada sebelum Islam datang. Nabi Muhammad cuma memformulasikan kembali tata-cara ibadah-ibadah tersebut agar umat dibawah pimpinannya bisa bersatu dan hidup dalam keharmonisan. Makanya, tata-cara salat, zakat, puasa, dan haji tidak dinyatakan dengan kualifikasi yang "qath'i", alias tegas, jelas, terang, yang tidak memungkinkan makna ganda dalam memahaminya. Itulah yang membuat timbulnya mazhab-mazhab dalam agama Islam. Kalau semua tata-cara ibadah itu sudah jelas digariskan dengan tegas di dalam Alquran, maka pasti dunia Islam hanya ada "satu macam" saja!
 Kata Syekh Siti Jenar, "agama yang dijalankan oleh umat itu adalah hasil dari pandangan atau pendapat para ulama atau elite agamanya." Sungguh keliru kalau kita mengatakan bahwa orang Islam itu beribadah mengikuti Nabi Muhammad saw. Yang benar, orang Islam beribadah mengikuti ulama-ulamanya atau cendikianya. Dan, para ulama ini adalah orang-orang yang menafsirkan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Karena hasil dari penafsiran apa yang diajarkan Nabi, maka jangan heran bila wujud peribadatan dalam Islam itu beraneka-ragam. Kalau kita lihat tata-cara salat saja, amat beragam sekali bentuknya, meski ada bentuk-bentuk yang sama seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk. Tapi, tata-cara itu pun sudah ada di dalam agama Yahudi maupun Kristen Orthodoks, dan bukan hal baru yang dibuat Nabi.
Semoga kita arif dalam memahami agama, dan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Salam,
chodjim
To:islamliberal@yahoogroups.com
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Tue, 1 Feb 2005 20:05:25 -0800 (PST)
Subject:RE: ~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk Mas Chodjim

Mas Chodjim yang baik,
Surat-surat anda di milis ini sangat bermutu. Kalau dikumpulkan, bisa jadi buku tersendiri, dan siapa tahu kalau diterbitkan akan laris-manis seperti buku-buku anda yang lain. Serius lho ini...
Catatan: Dalam email, nama anda tertulis "Chodjim Achmad [JKTSN Jakarta Performance Chemicals]". "Jakarta Performance Chemicals" kayaknya mengganggu ya Mas. Apalagi anda ahli mistik Islam, kayaknya nama anda kurang pas kalau ada imbuhan "chemicals".
;););)
Ulil
To:islamliberal@yahoogroups.com
From:"abd razak" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Tue, 1 Feb 2005 23:01:14 -0800 (PST)
Subject:RE: ~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk Mas Chodjim

(1) Hukuman Mati
Dua ayat yang sering dikutip orang untuk menyalahartikan kebebasan beragama yaitu 2:256-257 dan 18:29 *) kalau kita jujur dan utuh membacanya maka tampak sekali bahwa "kebebasan" yang ditawarkan itu bukanlah kebebasan tanpa konsekwensi (seperti yang diidam-idamkan para pengikut hawa nafsu). Melainkan kebebasan yang berkonsekwensi. Setiap pilihan ada resiko dan konsekwensinya. Tidaklah sama antara terang dan gelap, iman dan kufur, baik dan buruk (renungkan baik2 QS 68:35-40) **). Ada konsekwensi di dunia dan ada konsekwensi di akhirat. Untuk yang terakhir ini, kiranya tidak perlu saya perjelas, terlalu mengerikan.... (tsunami tidak ada apa-apanya). Sedangkan konsekwensi di dunia menyangkut aturan syariah terhadap orang kafir (non-muslim); mulai dari persoalan "larangan memberi ucapan selamat natal" (sebagai contoh) hingga "hukuman mati dan perang" bagi kafir harbi (kafir yang bersikap ofensif thd Islam). Tentu saja semuanya dilakukan dengan syarat, aturan dan adab-adab tertentu. Terlalu panjang dan akan tidak efisien untuk kita uraikan satu-persatu di sini. Demikian pula tentang hukum rajam, saya merasa tidak perlu terjebak untuk membahas dari tinjauan fiqh dan ushul fiqh. Sudah sering saya sampaikan (baca diskusi Ulil dengan orang awam di http://ulil-awam.cjb.net) bahwa kerancuan dan kecurangan kaum liberal adalah mereka tidak pernah konsisten dalam melakukan analisa hukum, tidak jelas aqidah dan qaidahnya (namanya juga liberal) lantas mereka menuduh ulama ummat ini (yang berpegang dengan aqidah dan qaidah islam) melakukan "siasat hukum". Siapa sebenarnya yang bersiasat? Ushul fiqh dibuat bukan untuk menyiasati hukum (pelajari sejarah tasyri') melainkan untuk melindungi hukum agar tidak dijadikan karet dan gabus oleh orang-orang jahil dan pengikut hawa nafsu (liberal).
(2) Khilafah
Siapa bilang Khilafah tidak realistis? Siapa bilang Imperium Israel Raya tidak realistis? Siapa bilang sekarang bukan lagi "zaman kegelapan"? Gelap dari sudut pandang mana dulu; dari sisi sains "lampu edison", dari sisi material "bursa saham", dari sisi moral "ham", ataukah dari sisi agama dan akhlaq?
Realistis mana mendirikan "pemerintahan global" di zaman "merpati pos" ataukah di era "electronic mail"? Di zaman "busur dan anak-panah" ataukah di era "rudal balistik"? Tahukah anda bahwa "dunia" sekarang ini sudah semacam "kampung" atau bahkan sebentuk "keluarga"? Ketika interaksi antar negara sudah hampir tanpa sekat maka kebutuhan akan adanya satu "polisi dunia" menjadi tak terelakkan. Tidak mungkin suatu komunitas (global) bisa stabil tanpa adanya satu pemimpin peradaban. Persoalannya anda mau dipimpin siapa? Apakah Amerika dengan HAM dan demokrasinya? Ataukah Khilafah dengan "Tauhid" dan "Syura"-nya? Anda (kaum liberal) pilih yang pertama, kan? Hormatilah kami yang memilih yang kedua. Tapi jangan bilang tidak realistis.

(3) HAM
Ini yang lebih konyol lagi ala orang liberal. Mempertentangkan antara Allah dan Rasul Allah. Tapi tidak jelas juga dimana pertentangannya. Adakah pertentangan antara Hadits "Haq Asasi Tuhan" dengan ayat yang dikutip itu (QS 2:21)? Apalagi mengatakan "orang Islam beribadah bukan mengikuti cara Nabi melainkan cara ulama". Bolehlah anda berkata demikian, tapi kalau ditanya: "Ulama itu mengikuti siapa atau apa?" Ikut mimpi? Atau wangsit? Bila anda mengatakan cara ibadah ummat Islam (termasuk ulamanya) tidak persis sama (100%) dengan cara ibadah Nabi, itu yang betul. Al-Quran memerintahkan "bertaqwalah kepada Allah semampu kalian" dan Nabi mengatakan "apa yang aku perintahkan, laksanakan semampu kalian". Semampu kalian bukan berarti semau kalian. Ngawur dan nglantur (ala orang liberal). Tengoklah cara ibadah antara mazhab-mazhab. Dimana sih letak perbedaannya? Adakah yang shalat shubuh tiga rakaat? Atau bertakbir dengan mengangkat kaki? Ada-ada saja si liberalis ini.
*)
[002:256] Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
[002:257] Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
[018:029] Dan katakanlah: "Kebenaran itu dari Tuhanmu; maka siapa yang mau silakan beriman, dan siapa yang mau silakan kafir." Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
**)
[068:035-040] Maka apakah patut Kami menjadikan muslimun itu sama dengan mujrimun? Bagaimana kalian ini, bagaimana kalian mengambil keputusan (bahwa muslimun sama dengan mujrimun)? Ataukah kalian punya kitab yang kalian pelajari di dalamnya bahwa kalian benar-benar boleh memilih (semaunya)? Ataukah kalian memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami yang berlaku sampai hari kiamat bahwa kalian benar-benar dapat mengambil keputusan (semaunya)? Tanyakanlah mereka: "Siapakah di antara mereka yang bertanggung-jawab terhadap (akibat dari keputusan) itu?"

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #54 pada: 18 Juli 2007, 21:40:19 »
To:islamliberal@yahoogroups.com
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Wed, 2 Feb 2005 02:48:18 -0800 (PST)
Subject:RE: ~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk abdul razak

Salam,
Saya tahu, ternyata anda, abdul razak, ini adalah Yusuf Anshar yang berkirim surat secara pribadi dengan saya.

Jika anda benar-benar Yusuf Anshar, maka saya ingin mengatakan hal berikut ini:
Anda telah menyebarkan diskusi pribadi antara saya dengan Yusuf Anshar (yang ternyata, mungkin, adalah anda sendiri) tanpa meminta izin dari saya. Ini jelas melanggar etik. Debat saya dengan M. Nur Abdurrahman dari Makasar yang tersebar di berbagai internet dulu disebarkan oleh seorang teman yang terlebih dulu minta izin pada saya.
Jika anda minta izin pada saya, jelas saya keberatan diskusi itu anda sebarkan ke internet, sebab diskusi itu belum selesai. Saya akhirnya malas menanggapi surat anda yang terakhir, karena saya anggap sudah tak ada gunanya lagi berdiskusi dengan orang "pikirannya" tertutup, dan hanya ingin "mengkafirkan" orang yang berbeda pedapat. Saya sudah berkesimpulan, orang-orang seperti andalah yang membuat Islam buruk rupa di hadapan Barat. Karena itu, saya memutuskan untuk tidak menulis tanggapan lagi. Lagi pula, saat itu pecah bencana tsunami. Saya menganggap, tak baik kita debat soal beginian, pada saat terjadi bencana. Perhatian saya juga tertuju pada Aceh.
Sekali lagi, jika anda benar-benar Yusuf Anshar, maka anda melakukan tindakan yang tak etis.
 Sekali lagi, jika anda benar-benar Yusuf Anshar, maka saya meminta hal berikut ini. Karena diskusi itu sudah tersebar di internet dan diketahui oleh publik, maka mari kita teruskan di milis JIL ini.
Saya tak keberatan dengan pemuatan seperti itu, asal ada permintaan izin dulu dari saya. Begitulah etikanya.
Salam,
Ulil
To:islamliberal@yahoogroups.com
From: "hamiludd2kwah" <xxxxx@yahoo.com.au>
Date:Wed, 02 Feb 2005 18:59:03 -0000
Subject:~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk abdul razak

Cukup menarik diskusi Sheikh Ulil dan orang awam (Abd Razak dibawah ini. Gimana kalau saya bukukan agar kawan2 lain bisa membacanya...?
Sekaligus saya minta izin agar dikemudian hari tidak ada yang menuntut kalau saya membuat buku tanpa izin/

Tolong di jawab ke
hamiludd2kwah@yahoo.com.au

http://ulil-awam.cjb.net./
Diskusi via Email antara Koordinator JIL
(Ulil Abshar Abdalla) dengan Orang Awam
File PDF (bukti otentik) dari diskusi ini download di sini
dst... ["hamiludd2kwah" menyalin ulang seluru isi diskusi tsb]
To:islamliberal@yahoogroups.com
From:"MTD4 Ethylene Mechanic" <xxxxx@capcx.com>
Date:Thu, 3 Feb 2005 09:42:38 +0700
Subject:RE: ~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk abdul razak

Mas ulil, (persiapkan stamina meminjam istilah dari wak hamid...he-he-he)
Ini persengkokolan khas orang-orang hizbuttahrir....:-) Yusuf anshar, abd razak, hamiludd2kwah, m. nur abdurrahman...ya sama saja.
Saya jadi ingat ucapan seorang da'I dari HT di majalah sahid namanya hari mukti (dulu dia seorang rocker dari bandung, lagunya juga enak2 saya juga waktu muda menjadi penggemarnya :-)), mengatakan bahwa "sekarang saya tidak menjadi rocker lagi, itu masa jahiliah saya, sekarang tugas saya yg utama adalah berdakwah terutama untuk membentengi masalah ghawzul fikri dari barat contohnya pemikiran2 sesat ulil abshar dari islam liberal...dst."

Sekarang silakan dilanjut perdebatannya...biar enak ya babnya di runut misalnya mulai dari bab ke-khilafahan yg katanya dulu pernah terang-benderang memayungi umat islam, kemudian dilanjutkan dengan bab-bab lainnya.
Monggo...
Mungkin biar rame tidak monothon ya di bantu temen2 JIL dan HT lainnya yg ada di milis ini.
Salam,
Syaikhul Amin
To:islamliberal@yahoogroups.com
From:"abd razak" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Wed, 2 Feb 2005 22:48:01 -0800 (PST)
Subject:RE: ~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk abdul ra zak

Benar, saya adalah Yusuf Anshar dan saya seorang "abdul razak" (hamba dari Tuhan Pemberi Rezki). Tapi sayang seribu sayang, saya tidak ada kaitan sedikitpun dengan hizbuttahrir atau kelompok manapun juga. Sungguh! Saya benar-benar orang awam, tidak berafiliasi dengan apa dan siapapun juga kecuali "ummat Islam". Istilah guyonnya, "single fighter" atau "prajurit kesepian" :))
Terus-terang saya sengaja ikutan di milis JIL sekedar untuk menyebarkan "diskusi ulil-awam" itu. Niatnya "amar ma'ruf nahi mungkar", tiada maksud lain yang berbau negatif apalagi destruktif. Sebelum aksi "publikasi diskusi" ini saya lakukan, saya mengirim email ke Hidayatullah Online sbb:
"Saya tidak tahu, apakah sebaiknya kita minta izin (atau sekedar pemberitahuan) kepada si Ulil untuk pemuatannya. Yang jelas, ummat perlu mengetahui belang dan kedok JIL yang menggunakan nama "Islam" untuk menyebarkan paham liberalnya."


Hidayatullah Online membalas email saya tsb sbb:
"Kadang-kadang saya bertanya dalam hati kecil. Apakah ketika dia (Ulil) melecehkan ayat-ayat Allah, melecehkan saudara2 kita .... apakah dia juga pernah izin Allah atau dengan saudara2 kita? Tapi saya sangat setuju jika anda meminta izin. Atau sekurang-kurangnya pemberitahuan." (titik-titik di tengah sebagai pengganti kalimat yang tidak saya tulis, kuatir dibilang tidak etis lagi).
Setelah mempertimbangkan bolak-balik, akhirnya saya mengirim sekedar "pemberitahuan" ke email Ulil (bukti otentik ada di email saya) yang antara lain berbunyi sbb:
"Dengan ini saya merasa perlu sekedar memberitahukan kepada anda bahwa saya bermaksud mempublikasikan di internet diskusi kita lewat email dari tanggal 12 s/d 26 Desember 2004..."
Ironisnya, "pemberitahuan" tsb tidak digubris sama-sekali (tidak ada balasan emailnya yang bernada keberatan). Saya jadi berpikir, email dari Hidayatullah Online tadi mungkin ada juga benarnya. Sebetulnya, di sini saya ingin sekali mengucapkan kata "maaf" kepada Ulil, tapi kalau membaca lagi email kawan saya tsb, bulu-kuduk saya merinding, kuatir ucapan maaf kepada orang yang bersikap sedemikian beraninya kepada ayat-ayat Allah tsb tidak diridhai oleh-Nya. Jadi, dilematis.
Sebetulnya, jika anda mau menerima salah satu dari tiga saran yang saya berikan di akhir diskusi kita (lihat kembali di http://ulil-awam.cjb.net), itu sudah cukup bagi saya. Tidak perlu ada aksi publikasi. Karena, "in uriidu illaa al-ishlah ma-statha'tu" (tidak ada yang kuingini selain perbaikan, semampuku). Saya kira saran yang saya tawarkan di akhir diskusi tsb cukup aspiratif dan akomodatif.
Dialog, diskusi, debat atau apapun namanya tidak ada manfaatnya kalau tidak membawa kepada perubahan sikap menjadi lebih baik (menurut ukuran syariat) atau dikenal dengan istilah "taubat". Kalau sekedar diskusi untuk menang-kalah atau bermain retorika sambil melempar pemikiran spekulatif yang kontroversial, alangkah ruginya umur kita yang singkat dan sekali ini.
Wassalam,
abdul razak
To:islamliberal@yahoogroups.com
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Thu, 3 Feb 2005 22:08:19 -0800 (PST)
Subject:RE: ~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk abdul ra zak

>Setelah mempertimbangkan bolak-balik, akhirnya saya mengirim >sekedar "pemberitahuan" > ke email Ulil (bukti otentik ada di >email saya) yang antara lain berbunyi sbb:
 
>"Dengan ini saya merasa perlu sekedar memberitahukan kepada anda >bahwa saya bermaksud mempublikasikan di internet diskusi kita >lewat email dari tanggal 12 s/d 26 Desember 2004..."
Tanggapan:
Saya mencoba men-trace back kotak surat saya, dan saya sama sekali tak menemukan surat anda yang berisi permintaan izin untuk menyebarkan diskusi itu. Saya sudah teliti sampai berkali-kali, tetapi saya tak menemukan surat itu
Jika saya mendapat surat itu, sudah pasti saya keberatan, sebab diskusi itu belum selesai.
Catatan kecil:
Anda mengaku sebagai orang awam. Pertanyaan saya: orang awam kok berani mengkafirkan? Dari mana dasarnya? Kalau awam, ya tahu diri dong.
Ulil
_____________________________ ___________
Entah Ulil lupa atau "sengaja lupa" tentang email pemberitahuan itu. Yang jelas inilah bukti adanya email pemberitahuan itu.
Date:Fri, 4 Feb 2005 17:08:37 +0700 (WIT)
Subject:[Fwd: RE: ~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk abdul ra zak]
From:"Heru Hendratmoko" <xxxxx@centrin.net.id>
To:"abd razak" <xxxxx@yahoo.com>

Hihihi... saya juga orang awam. dan karena itu boleh dong mengklaim mewakili pendapat awam pribadi: tanggapan anda terhadap tulisan ulil bikin saya, ups, geli.
tetapi o tetapi, saya lebih terhibur membaca karya kho ping hoo ketimbang membaca tulisan anda yang suka main cap terhadap orang lain. di situ juga ada tokoh putih, ada tokoh hitam juga lho. belang-belang juga ada.
tadinya sih saya hampir ngikutin paham anda, tapi akhirnya gak jadi deh. habis geli sih. kecele kan. hehehe
eh, omong-omong, anda ngikutin serial pendekar pulau es gak? atau nonton crouching the tiger?
To:islamliberal@yahoogroups.com
From: "Dondy Sentya" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Fri, 4 Feb 2005 14:20:55 +0000 (GMT)
Subject:Rubbish! RE: ~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad --  Untuk abdul ra zak

Saya sepakat menilai bahwa bukan substansi yang dibicarakan yang penting dalam hal Razak's Gate ini yang memposting korespondensi pribadi dalam ruang publik. Coba tanyakan diri Anda, Saudara Razak, ketika memulai korespondensi apakah hal itu dimaksudkan untuk dirilis kepada publik? Selain itu, jika kemudian intensi perilisan korespondensi dilakukan kemudian, adalah patut dan merupakan praktik etika standar ilmiah di manapun untuk mendapatkan IZIN dan bukan sekadar pemberitahuan karena konteks publikasi tersebut pada awalnya adalah privat. Hal ini berbeda ketika Anda mengutip pendapat atau tulisan seseorang (quotation/footnoting) yang telah dipublikasikan secara luas, untuk hal ini tidak perlu dimintakan izin melainkan cukup acknowledgment.
Sesuai judul posting Anda yang menamakan diri Anda "Orang Awam", saya jadi percaya dengan cara-cara Anda yang tidak etis itu. Tapi, sayangnya "terlalu awam" bagi se-"orang awam" sampai bersusah payah meng-compile dan bahkan mem-posting korespondensi awam di internet.
Lain kali ke-awam-an Anda Razak perlu digiatkan jadi kita lebih percaya lagi Anda benar-benar awam. Namun karena orang awam pun selalu ingin belajar dan pintar maka jangan lupa pengetahuan mengenai etika publikasi harus diperdalam. Tidak usah repot-repot ngomongin soal Tuhan dulu deh...["kan kamu toh orang awam"]....mending katamkan dulu metodologi penelitian ilmiah ya. Singkatnya begini saja, tentu Anda pun tidak mau (misalnya) korespondensi Anda dengan Mak Erot yang sifatnya privat itu untuk memperpanjang "barang" Anda yang penuh masalah itu dipublikasikan di majalah Times, kecuali Anda bersepakat untuk men-disclose, bukan?

Ciao,
dondys
Regards,
Dondy Sentya
School of Law (Postgraduate)  University of Warwick
Coventry
United Kingdom  CV4 7AL
To:islamliberal@yahoogroups.com
From:"abd razak" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Sun, 6 Feb 2005 01:36:06 -0800 (PST)
Subject:Re: Rubbish! RE: ~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk abdul ra zak

Pada hari Sabtu (5/2/2005) saya memposting email balasan untuk Ulil yang dilengkapi dengan attachment file namun sayang sampai sekarang belum ditampilkan di milis. Dugaan saya mungkin milis ini tidak menerima attachment file. Karenanya, berikut ini saya salinkan kembali isi email saya kemarin tapi kali ini tanpa attachment file. Kalau ada pembaca yang ingin meminta bukti otentik tsb (file PDF) bisa menghubungi saya lewat japri (email pribadi) saja.
Inilah isi email saya kemarin:
See attachment! (mudah2an milis ini menerima attachment file. Kalau tidak, yang berminat bisa saya kirimkan ke emailnya masing2)
Itu adalah bukti otentik (file PDF) email "pemberitahuan" yang telah terkirim (berada dalam "sent folder" dan perhatikan tanggalnya). Terserah pembaca, mau percaya ucapan Ulil atau "mesin" email Yahoo! ?
Baca baik2 diskusi kita di <http://ulil-awam.cjb.net>, adakah barang sepotong kalimat yang memvonis "Ulil kafir"? Saya hanya menyatakan bahwa menurut al-Quran dan al-Hadits serta ijma' para ulama, paham liberal yang "membenarkan semua agama" adalah kufur. Siapa yang mempercayainya dengan sepenuh hati, ya... kafir.
Saya heran, kenapa kalian sangat risih dan alergi dengan "sinyalemen kafir" dari seorang awam tapi tidak takut dan kuatir dengan "statement kafir" dari al-Quran dan al-Hadits serta ijma' para ulama terhadap orang-orang yang "membenarkan semua agama"?
Wassalam,
abd razak

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #55 pada: 18 Juli 2007, 21:40:50 »
To:islamliberal@yahoogroups.com
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Sun, 6 Feb 2005 19:17:54 -0800 (PST)
Subject:Re: Rubbish! RE: ~JIL~ Re: Soal hukum mati buat orang murtad -- Untuk abdul ra zak

Bung,
Quran, sebagaimana kata Imam Ali, mempunyai banyak segi penafsiran, "hammalun dzu wujuh'. Anda mengatakan bahwa menurut Quran dan Hadis paham liberal tentang kebenaran semua adalah kufur. Saya katakan, itu bukan kata Qur'an dan Hadis, tetapi Quran dan Hadis sebagaimana anda tafsirkan. Bedakan antara kedua hal itu. Banyak orang mendaku, Qur'an bilang begini, bilang begitu. Padahal, itu bukan Qur'an, tetapi Qur'an setelah ditafsirkan oleh orang-orang itu.
 Catatan: ternyata anda tidak mengirim pemberitahuan itu secara pribadi ke saya. Jadi, saya anggap anda belum minta izin saya. Anda telah melakukan tindakan tak etis.
Ulil
Date:Mon, 7 Feb 2005 19:35:14 -0800 (PST)
From:"abd razak" <xxxxx@yahoo.com>
Subject:Re: ~JIL~ Re: ulil - awam
To:islamliberal@yahoogroups.com

Ulil menulis sbb:
Quran, sebagaimana kata Imam Ali, mempunyai banyak segi penafsiran, "hammalun dzu wujuh'. Anda mengatakan bahwa menurut Quran dan Hadis paham liberal tentang kebenaran semua (agama*) adalah kufur. Saya katakan, itu bukan kata Qur'an dan Hadis, tetapi Quran dan Hadis sebagaimana anda tafsirkan. Bedakan antara kedua hal itu. Banyak orang mendaku, Qur'an bilang begini, bilang begitu. Padahal, itu bukan Qur'an, tetapi Qur'an setelah ditafsirkan oleh orang-orang itu.
*)Tambahan kata dari saya (abdul razak), agar maksudnya jelas.
Saya berkata:
Aha...! Inilah salah satu jurus andalan "perguruan" liberal. Jurus ini saya namakan jurus "langkah-seribu" (lari dari kenyataan); jurus paling pengecut yang pernah saya kenal di rimba perfilsafatan. (Apa kabar Heru Hendratmoko, sang penggemar kho ping hoo?) :))
Ulil sudah lari dari lapangan pertarungan, biarkan saja, jangan kita kejar. Makanya, di sini saya hanya akan mengutip (bukan menafsirkan) ayat-ayat al-Quran dan Hadits Nabi yang berkaitan dengan orang-orang kafir. Silakan dibaca saja dan jangan ditafsirkan.


Supaya Ulil tidak makin lari, saya salinkan dulu "bahasa asli" (Bahasa Arab)-nya baru terjemahannya (khusus untuk pembaca yang buta bahasa Arab). Soalnya kata orang, "terjemahan" adalah sebentuk "penafsiran" juga.
Inilah ayat al-Quran surat al-Kafirun (kata orang ayat toleransi, tapi itu penafsiran): "Qul yaa ayyuhal kaafiruun. Laa a'budu maa ta'buduun. Wa laa antum 'aabiduuna maa a'bud. Wa laa ana 'aabidun maa 'abadtum. Wa laa antum 'aabiduuna maa a'bud. Lakum diinukum wa liya diin."
Terjemahannya:
"Katakanlah: Hai orang-orang kafir! .... Bagi kalian agama kalian dan bagi kami agama kami"
(Titik-titik adalah kalimat yang sengaja tidak saya terjemahkan untuk menghindari debat-kusir tentang terjemahan kata "abada-ya'budu" yang katanya tidak boleh diterjemahkan "menyembah"). (Apa kabar Chodjim, sang ahli tafsir?) :))
Adapun Hadits, Rasulullah saw bersabda:
"Walladzii nafsu muhammadin biyadihi, laa yasma'u bii ahadun min haadzihil-ummati, yahuudiyyun walaa nashraaniyyun, tsumma yamuutu walam yu'minu billadzii ursiltu bihii illaa kaana min ashhaabin-naari." (Rawaahu Muslim)
Terjemahannya:
"Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Siapa saja dari ummat ini, baik ia Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang aku kemudian ia mati sedang ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, melainkan ia akan menjadi penghuni neraka" (HR. Muslim)
Ingat! Kutipan ayat dan hadits di atas tidak perlu dikomentari. Karena siapa yang menanggapi berarti menafsirkan. Begitu kata Ulil. Jadi saya tidak akan menuding siapa itu Yahudi dan siapa itu Nasrani. Karena, kata Ulil, itu namanya penafsiran. Anda atau siapa pun juga tidak boleh menyela, bukan Yahudi itu dan bukan Nasrani itu yang dimaksud. Karena itu juga penafsiran anda. Jadi, biarkanlah Allah dan Rasul-Nya yang berbicara, kita yang mendengarkan.
Lupakanlah "sinyalemen" kafir dari seorang awam yang tentunya merupakan sebuah penafsiran, tapi ingatlah "statement" kafir dari Allah dan Rasul-Nya yang tentunya merupakan sebuah kebenaran.
Supaya Ulil tidak lari terlalu jauh, kita ke soal yang lain saja ah. Yaitu, tentang email "pemberitahuan" Yusuf Anshar yang dikirim ke email Ulil tanggal 2 Januari 2005. Email "pemberitahuan" tsb saya forward saja ke email Ulil. Bila ada yang berminat bisa di-forward-kan juga. Inilah bukti bahwa Yusuf Anshar sudah mengirim pemberitahuan. Dengan sendirinya Razak's Gate batal demi hukum. Tapi Ulil juga menyangkal ia menerima email pemberitahuan tsb sedang kita tidak bisa menuntut buktinya. Maka Ulil's Gate pun batal demi hukum. Tinggallah pihak ketiga! Jadi kita namakan saja kasus ini dengan Yahoo!'s Gate. (Apa kabar Dondy Sentya, sang pakar hukum?) :))
Mohon maaf bagi para pemerhati diskusi ulil dengan orang awam
http://ulil-awam.cjb.net
yang belum sempat disapa satu-persatu.
Wassalam,
abd razak
_____________________________ ___________
Email terakhir ini tidak sempat termuat di milis berhubung keanggotaan "abdul razak" di milis keburu dicabut. Tapi email yang sama juga dikirim ke email pribadi Ulil Abshar Abdalla namun tidak pula dibalas. Jurus "langkah seribu" memang jurus pamungkas Ulil. 

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #56 pada: 19 Juli 2007, 16:14:29 »
Info yg bagus akhi... O0 ntar tak copy ke situs aku  :)

Tapi ada lagi neh NEO SILUMAN... :-\
 ;)
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline anaqimuddin

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 797
    • Lihat Profil
« Jawab #57 pada: 19 Juli 2007, 16:17:54 »
Boleh diinfokan ke publik....siapa tuh NEO SILUMAN.... O0
bisa minta tolong gak nitip ke situs nya..supaya nambahin "ATI-ATI PADA INKAR QUR'AN"  :hihi:
« Edit Terakhir: 19 Juli 2007, 16:21:20 oleh anaqimuddin »

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #58 pada: 19 Juli 2007, 22:18:44 »
Namanya ajah siluman   :D

tau gak siluman ? .....

kalo SETAN mau gentayangan suka menyerupai sesuatu.... :-X  tul gak ? :hmmm:

 :ngemil2:
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline abizechaabizecha

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 4.214
  • Lokasi: saudi arabia
  • Jenis kelamin: Pria
  • meniti jejak generasi salaf
    • Lihat Profil
    • mylink
« Jawab #59 pada: 19 Juli 2007, 22:34:04 »
BAGIAN KETIGA  orang awam membanting intelek liberal
Setelah "abdul razak" ditendang dari milis JIL, orang awam berulang kali masuk ke milis dengan beberapa kali ganti nama (berhubung kepesertaannya di milis selalu dicabut) untuk membanting tulisan-tulisan Ulil.
To:islamliberal@yahoogroups.com
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Tue, 15 Feb 2005 05:13:17 -0800 (PST)
Subject:~JIL~ Maqashid al Shariah: Suatu elaborasi awal atas teori Al-Syathibi
Salam,
Melanjutkan posting saya untuk Sdri. Suriya tentang spiritualitas agama, saya ingin berbagi sedikit tentang pendapat Abu Ishaq Al-Syathibi, seorang ulama besar abad 16 M dari lingkungan mazhab Maliki, tentang salah satu tujuan agama. Al Syathibi dikenal melalui bukunya yang akhir-akhir ini menarik perhatian kalangan intelektual Muslim liberal, "Al Muwafaqat fi Ushul al Syari'ah" [(Beirut: Dar al Ma'rifah, 1999), cet. ke-4].
Dalam volume kedua bukunya itu, ketika membahas soal "maqashid" atau tujuan agama, Al Syathibi mengemukakan sejumlah perbedaan pendapat di kalanga ulama tentang soal berikut ini. Apakah hukum-hukum Tuhan mengandung maksud tertentu, mempunyai 'illat atau tidak. Menurut Al Razi, salah satu teolog besar dari kalangan mazhab Syafii, hukum Tuhan tak mengandung alasan. Tuhan bertindak secara arbitrer, semaunya saja (radaksi Arabnya: ahkamu Allahi laisat mu'allalah bi 'illah al battah).
Kaum rasionalis Islam, yaitu Mu'tazilah, berpendapat sebaliknya. Mereka mengatakan bahwa hukum-hukum Tuhan mengandung alasan dan tujuan. Dan inilah pendapat yang diikuti oleh kebanyakan para fukaha, para ahli hukum Islam dari periode belakangan.
Tampaknya Al Syathibi lebih cenderung pada pendapat yang kedua ini.
Komentar saya: keterangan Al Syathibi ini menarik. Selama ini ada kesan bahwa kaum Mu'tazilah adalah sekte yang sesat, bidah, momok yang menakutkan. Al Syathibi, yang Sunni, mengutip pendapat kaum Mu'tazilah dengan tanpa rasa kikuk dan khawatir, dan bahkan mengatakan bahwa pendapat mereka dalam soal tersebut diikuti oleh kebanyakan fukaha.
Selanjutnya, Al Syathibi mengatakan bahwa jika kita teliti seluruh hukum dalam syari'ah, maka semuanya itu dibuat untuk tujuan yang satu, yaitu kemaslahatan manusia (mashalih al 'ibad). Atas dasar inilah, Al Syathibi dikenal sebagi salah satu tonggak penting dalam sejarah hukum Islam, sebab dialah salah satu ulama yang paling menekankan pentingnya segi "kemaslahatan" sebagai dasar pemahaman atas hukum Islam.
Setelah mengulas secara "elaborate" makna maslahat dan jenis-jenisnya, Al Syathibi mengatakan bahwa maslahat paling dasar dalam agama adalah lima: menjaga agama, nyawa, keturunan, hak milik, dan akal. Yang menarik adalah tambahan keterangan dari Al Syathibi setelah menjelaskan lima jenis maslahat ini, "Wa qad qaluu innaha mura'atun fi kulli millah". Artinya: kemaslahatan itu, menurut para ulama, juga dianggap penting dalam semua agama.
Komentar saya: keterangan terakhir ini sangat menarik, sebab secara implisit Al Syathibi sebenarnya sedang menuntut kita kepada pengertian yang sangat krusial, yaitu bahwa inti agama adalah satu: kemaslahatan manusia.

Mengikuti pendapat yang umum di kalangan para fukaha, Al Syathibi mengemukakan suatu perspektif keagamaan yang menarik. Menurut dia, maslahat itu bertingkat-tingkat, hirarkis.
Ada 3 tingkat kemaslahatan:
- Dlaruriyyat (maslahat yang urgen)
- Hajiyyat (maslahat pendukung)
- Tahsiniyyat (maslahat penyempurna/aksesoris)
Sebagai contoh. "Makan" adalah maslahat dalam kategori pertama. Sebab jika kita tak makan maka kita melanggar salah satu dari 5 maslahat dlaruriyyat, yaitu memelihara kelangsungan nyawa. Tetapi makan sesuatu yang halal adalah termasuk maslahat jenis kedua, yaitu maslahat hajiyyat (maslahat pendukung). Selanjutnya, jika kita makan dengan tangan kanan atau makan dengan dimulai bacaan basmalah maka hal itu masuk dalam kategori maslahat tingkat tiga, yaitu maslahat tahsiniyyat (aksesoris).
Maslahat tingkat kedua tentu tidak sepenting maslahat tingkat kedua, dan maslahat tingkat ketiga tentu tidak sepenting yang tikat kedua.
Begitulah, cara pandang keagamaan sebagaimana dipakai oleh kaum fuqaha adalah bersifat hirarkis. Ada nilai-nilai utama, lalu ada nilai-nilai lain yang hanya bersifat pendukung. Tidak semua nilai dalam agama sama kedudukannya, dan karena itu juga harus diperlakukan secara berbeda. Begitu juga, tidak semua ayat dalam Quran sama kedudukannya. Ada ayat yang kedudukannya sangat penting, vital, dan universal. Ada ayat-ayat yang hanya berbicara mengenai sesuatu yang sifatnya teknikal-temporal. Ayat-ayat pertama jauh lebih tinggi kedudukannya ketimbang dengan ayat kedua. Ayat-ayat dalam Quran yang bersifat teknikal-temporal tidak berlaku abadi, dan memang tidak dikendaki berlaku abadi oleh Tuhan (wallah a'lam). Yang abadi adalah ayat-ayat dalam kategori pertama.
Inilah cara pandang keagamaan hirarkis yang sering saya ajukan sebagai salah satu cara pandang Islam liberal. Inspirasi untuk hal ini saya peroleh dari para fukaha klasik seperti Al Syathibi itu.
Tantang berikutnya adalah menyusun hirarki ayat-ayat dan nilai-nilai dalam Islam yang bersifat universal dan abadi, yang tak aus oleh perbedaab waktu dan tempat. Inilah tantangan yang masih merupakan wilayah terbuka untuk digarap oleh para pemikir Islam liberal. Saya belum selesai memikirkan hal ini secara sistematis.
Pertanyaan yang menuntut jawaban dari kita adalah: kenapa suatu nilai kita anggap universal, yang lain tidak? Apa dasarnya? Kenapa sebuah ayat kita anggap universal, yang lain temporal? Apa dasar dan manhajnya?
Salah satu kaidah dan manhaj yang saya usulkan adalah sebagai berikut. Setiap usaha untuk menyusun hirarki nilai, selalu akan terperangkap dalam kondisionalitas tempat dan waktu. Al Syathibi, ketika merumuskan 5 maslahat utama, tentu dia tak bisa bebas dari kondisi ruang dan waktu di mana dia hidup. Ketika waktu berkembang, maka sensitivitas manusia juga ikut berubah. Oleh karena itu, tak mustahil jika cara pandang tentang maslahat menjadi bergeser. Sekarang ini, apa yang kita anggap sebagai maslahat utama mungkin tak hanya sebatas lima, tetapi bisa bertambah.
Sebetulnya, kelima maslahat utama seperti dirumuskan Al Syathibi itu, jika kita kembangkan penafsirannya, masih tetap relevan untuk kebutuhan kita saat ini. Dalam pemahaman kita sekarang, kelima maslahat utama itu akan berbunyi sebagai berikut:
(1) Melindungi kebebasan beragama.
(2) Melindungi kelangsungan hidup.
(3) Melindungi kelangsungan keturunan.
(4) Melindungi hak milik.
(5) Melindungi kebebasan berpikir
Jika kita tafsirkan dalam bahasa kontemporer, maka kelima maslahat itu akan mencakup perlindungan atas sekurang-kurangnya 3 hak: hak-hak sipil, hak-hak ekonomi, dan hak-hak budaya.
Dalam tafsiran yang liberal, pandangan Al Syathibi tentang "tujuan agama" itu bisa diterjemahkan secara modern dengan cara berikut. Tujuan pokok agama adalah tiga, yaitu melindungi hak-hak sipil, hak-hak ekonomi, dan hak-hak budaya. Dalam hak-hak sipil terkandung sejumlah hak pokok, misalnya hak untuk bebas berpikir dan menyatakan pendapat, hak berkumpul, hak untuk berbeda, hak untuk meninggalkan suatu pandangan dan keyakinan tertentu, dst. Dalam hak-hak ekonomi terkandung hak-hak seperti kebebasan gerak untuk melakukan tukar-menukar barang, hak atas hidup yang layak, hak atas asuransi kesehatan, hak atas pekerjaan, dst. Dalam hak-hak budaya terkandung hak untuk melestarikan warisan budaya tertentu.
Memang tidak semua hak-hak tersebut singkron dan bersesuaian satu dengan yang lain. Hak-hak sipil, misalnya, bisa bertabrakan dengan hak-hak budaya. Hal ini memang membutuhkan elaborasi tersendiri. Teori-teori terkahir yang dikembangkan oleh para filosof multikulturalisme seperti Bikhu Parekh, Kymlicka, Charles Taylor, dll., bisa membantu kita untuk mengatasi dilema-dilema yang muncul dari ketidaksesuaian semacam itu.
Yang tidak dipikirkan secara terpisah dan serius oleh generasi Al Syathibi adalah soal siapa yang berhak untuk "melindungi" maslahat-maslahat tersebut: negara atau komunitas.
Dalam defenisi klasik tentang negara dan khilafah, jelas sekali bahwa fungsi negara ditakrifkan sebagai alat untuk menegakkan kemaslahatan agama dan dunia (hirasat al dunya wa al din). Pandangan semacam ini bisa dibenarkan dalam kerangka teori negara klasik yang belum memisahkan antara negara dan agama, atau antara institusi negara dan agama. Dalam perkembangan modern, tentu hal ini sudah tidak relevan lagi. Dalam masyarakat modern, negara dan agama dipandang sebagai dua wilayah yang berbeda. Agama adalah wilayah kesadaran individual yang dasarnya adalah kesukarelaan, negara adalah wilayah pemaksaan(saya sudah singgung hal ini dalam posting terpisah kepada Sdri. Suriya).
Jika kebebasan untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinan orang bersangkutan adalah termasuk hak-hak sipil, maka negara hanyalah punya wewenang sebatas melindungi hak itu. Tetapi soal bagaimana orang yang bersangkutan menjalankan paham agamanya, soal apakah yang bersangkutan menjalankan agama dengan taat atau tidak, maka hal tersebut tidak merupakan wewenang negara. Oleh karena itu, teori "hisbah" yang menjadi dasar bagi polisi moral yang kita jumpai dalam sejumlah negeri Islam seperti Saudi Arabia, tidak bisa kita terima dalam kerangka kesadaran modern yang sudah berubah tentang watak negara.
Sekian.

Ulil
To:islamliberal@yahoogroups.com
From:"mustaliq mustaliq" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Wed, 16 Feb 2005 18:01:18 -0800 (PST)
Subject:Re: ~JIL~ Maqashid al Shariah: Suatu elaborasi awal atas teori Al-Syathibi

Sejak dulu, Ulil memang rajin mengutip dari kitab-kitab klasik maupun kontemporer, tapi bukan sebagai rujukan ilmiah, melainkan tidak lebih dari bumbu basa-basi ilmiah.
Al-Syathibi mengatakan bahwa maslahat paling dasar dalam agama ada lima. Yang pertama adalah menjaga agama. Di tangan Ulil koq diracik menjadi: melindungi kebebasan agama; dalam arti bebas untuk beragama atau tidak beragama, bebas untuk menjalankan agama atau tidak menjalankan agama, bebas untuk pindah agama, dan lain-lain. Padahal yang dimaksud dengan menjaga agama di sini adalah menjaga agar agama dan ubudiyyah kepada Allah dapat tetap lestari hingga akhir zaman. Misalnya dengan penerapan hukuman mati bagi orang yang murtad atau meninggalkan shalat, dsb.
Kalau gitu mah bukan elaborasi tapi eliminasi.
Tolong dong, kutipan-kutipan kitab klasiknya yang sedikit menggigit!
Kalau mau mencari kitab-kitab klasik, ngapain repot-repot ke hypermart, pasar induk atau kaki-lima? Klik aja www.saaid.net  komplit deh. Mau di rumah, kantor, atau warnet di market dan kaki-lima juga boleh.
To:islamliberal@yahoogroups.com
From:"ikra2004" <xxxxx@verizon.net>
Date:Thu, 17 Feb 2005 13:02:36 -0000
Subject:~JIL~ Re: Maqashid al Shariah: Suatu elaborasi awal atas teori Al-Syathibi

Bung Nadirsyah Hosen, saya sebagai Islam Supermarket menilai apa yang dilakukan Ulil atas buah fikiran Ulama Kuno bernama Abu Ishaq dari Syathibi itu terasa sebagai usaha pembelaan apolegetik atas buah fikiran itu. Dan karenanya, juga hal yang sama telah dilakukan Ulil dalam membahas ayat-ayat yang berasal dari Qur'an.

Ide tentang Sipil Society, HAM, dll yang diungkapkan Ulil itu, adalah ide yang sekarang ramai menjadi wacana dunia kita, itu adalah buah fikiran baru manusia kontemporer, tidak ada kaitannya dengan wacana masa lampau yang umuranya ratusan tahun (bukan ribuan tahun lho!) itu, dan lahirnya dari Eropah modern. Ini harus berani kita akui dengan jujur.
Ikra.-
To:islamliberal@yahoogroups.com
From:"mustaliq mustaliq" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Fri, 18 Feb 2005 18:06:27 -0800 (PST)
Subject:Re: ~JIL~ Re: Maqashid al Shariah: Suatu elaborasi awal atas teori Al-Syathibi

Bung Ikra hampir benar !!
Sudah waktunya Ulil jujur dan berterus-terang bahwa antara Islam dan Liberal memang dua kutub dengan akar ideologi yang berbeda. Dan kita pun harus menerima kenyataan bahwa perbedaan itu tidak melulu bersifat variatif dan alternatif, tapi secara fundamental adalah kontradiktif. Ide Pluralisme (pembenaran semua agama) demikian pula isu "kesetaraan gender" dan semacamnya, sekali lagi hanyalah basa-basi ilmiah, kalau bukan lelucon dan gombal ilmiah. Dan yang lebih penting lagi, seperti pengakuan jujur Ikra, semua itu adalah produk manusia kontemporer (baca: Liberal); tidak perlu dicari korelasi ataupun elaborasinya dari Islam. Karena ujung-ujungnya pasti tidak nyambung dan lagi-lagi apologetik.
Islam Liberal ? No way !!
To:islamliberal@yahoogroups.com
From:"ikra2004" <xxxxx@verizon.net>
Date:Sat, 19 Feb 2005 12:52:42 -0000
Subject:~JIL~ Re: Maqashid al Shariah: Suatu elaborasi awal atas teori Al-Syathibi

Is Islam liberal no way, Bung Mutaliq?
But I am a liberal and also a Moslem!
Dan saya sependapat dengan pandangan ilmaiah atas kehidupan di dunia ini, apakah itu ada di dalam Qur'an dan Sunnah atau tidak, saya tidak memikirkannya untuk menggotuk-gatukkannya (baca: methode apologetik!). Tapi memang biasanya apa yang baik yang dihasilkan oleh manusia kontemporer, baik yang ada di Barat maupun yang di Timur, atau di Utara maupun di Selatan, yang pyanya manfaat bagi kemaslahatan kehidupan bersama (manusia, bintang, tetumbuhan, mineral) di dunia ini seringkali ada landasan moralnya yang sejalan dengan ajaran agama (baca: bukan hanya islam). Kenapa bisa demikian? Kareena di dalam otak manusia itu ada abagian yang disebut "Limbic System) yang diwarisi manusia dari perjalanan evolusinya pada tahap Mammalia sekian juata tahun yang lalu sebelum menjelma jadi manusia, yang intinya adalah adanya sumber rasa empati dan cinta kepada keturuanan dan mahluk sesamanya pada bagian otak itu. Limbic System inilah yang harus kita pelihara dan kembangkan sebagai dasar bagi olah otak rasional yang dilakukan oleh bagian otak lainnya yang bernama Cortex, atas dorongan dari bagian otak tertua R-Complex yang kita warisi dari tahap Reptelia dalam perjalanan evolusi. Urain ini dasarnya adalah Teori Ilmiah yang disusun oleh Dr. Paul MacLean dari hasil riset di laboratorium Evolusi Otak di University of California di Davis, CA.
Itulah pandangan saya tentang kehidupan di dunia ini.
Tapi kehidupan di akhirat bagaimana? Itu hal yang tak terfikirkan oleh manusia karena memang alat untuk memikirkannya tidak dimiliki manusia, maka saya pulangkan hal itu kepada Tuhan dalam rangka Hablumminallah, misalnaya lewat salat yang khusyk sekali ayang bisa kita lakukan di mana saja, atau menggunakan cara yang pribadi untuk mengerjakan "dzikir" (baca: mengingat, atau "eling" kepada) Tuhan. Pengalaman ayang paling tidak bisa saya lupakan adalah ketika salat pertama kali di Masjidil Haram dalam rangka menunaikan Ivadat Haji pada 1995, saya merasakan dengan jelas sekali apa yang (mungkin) dikenal sebagai "Mi'raj Kecil" itu. Dan sejak saat itulah saya merasa being liberated from any rigid doctrine I used to follow as a Moslem -- I have changed an yet not too!
You see, this is Ikra! Islam liberal, atau bukan, I don't care! I am free! Jadi, antara kita mungkin juga ada perbedaan-perbedaan, Bung Mustaliq.
Ikra.-
To:islamliberal@yahoogroups.com
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <xxxxx@yahoo.com>
Date:Sun, 20 Feb 2005 13:23:49 -0800 (PST)
Subject:Re: ~JIL~ Re: Maqashid al Shariah: Suatu elaborasi awal atas teori Al-Syathibi

Sdr. Mustaliq,
Jika anda jujur dengan pandangan anda, dan bahwa semua gagasan yang dibawa oleh Islam Liberal adalah "gombal ilmiah", maka mari kita berdiskusi tentang isu apa saja dalam gagasan Islam liberal yang anda anggap "gombal" itu.
Silahkan pilih isu apa saja.
Anda tidak usah terkecoh dengan nama "liberal". Tetapi mari kita masuk ke isu yang kongkret dan kita berdiskusi dengan baik-baik di situ.
Sumonggo!
Ulil
To: islamliberal@yahoogroups.com
From: "mustaliq mustaliq" <xxxxx@yahoo.com>
Date: Mon, 21 Feb 2005 17:23:27 -0800 (PST)
Subject: Re: ~JIL~ Utk Ulil, Ikra dan Assyaukani

Utk Ulil,
Saya sangat antusias sekaligus sangat pesimis plus sinis dengan ajakan Ulil untuk berdiskusi. Soalnya saya tahu persis bahwa Ulil dan JIL setali tiga uang. Manakala posisi mereka terdesak dan terjepit dengan ulah salah seorang anggota milis dan lawan diskusi, mereka tidak segan-segan dan tidak malu-malu mencabut keanggotaannya. Cut, habis perkara! Begitu kira-kira semboyannya. Kehadiran saya di milis ini untuk berdiskusi, itu sudah jelas. Tapi siapa yang bisa menjamin posting saya suatu saat tidak dicekal oleh Moderator yang sudah mulai pasang kuda-kuda?
Jadi, dalam kesempatan ini saya permaklumkan kepada seluruh anggota milis, bahwa bila suatu saat nama saya "hilang dari peredaran" maka yakin dan percaya bahwa sang Moderator telah menjalankan tugasnya dengan baik, "menertibkan" orang-orang yang tidak sehaluan dengan JIL. Di mata mereka, semua orang bebas mengkritik dan menghujat Islam, tapi jangan coba-coba menguak "aib" Liberal.
Utk Ikra,
Pengalaman ruhani anda cukup "mendebarkan". Tapi tahukah anda bahwa Muhammad Saw "Sang Kekasih Terkasih" Allah yang bahkan sudah "Mi'raj" dalam arti kata yang sebenarnya, telah membawa dan mengarahkan Islam untuk menjadi agama yang memegang "kerajaan" dunia dan akhirat sekaligus. Ini bukan kata saya lho, tapi kata para pakar sejarah, termasuk yang non-muslim dan liberal. Anda bisa saja berkilah, bahwa itu mungkin cocok untuk zamannya. Mungkin....(?) Tapi yang pasti, pengalaman ruhani pribadi jangan dijadikan justifikasi untuk merasa puas dan terlena dengan model Islam yang anda pahami dan praktekkan selama ini. Evaluasi dan koreksi terus keislaman kita dengan menggunakan Rasul-Nya sebagai model, bukan manusia kontemporer yang sudah terkena polusi dan radiasi materialisme, liberalisme, hedonisme, dan isme-isme lainnya.
Utk Assyaukani,
Tolong beri saya kesempatan untuk menertawai "lelucon ilmiah" Ulil.