Sahabat Kecil
myQ Newbie
Offline
Kelamin: 
Tulisan: 38
|
 |
« pada: 28 Mei 2007, 09:58:56 » |
|
Saudaraku Salafi Amerika hadaniyallah wa iyakum, Anda tanyakan: Akhi, mohon dijelaskan yang dimagsut dengan "aib" dalam perkataan antum: "Larangan mengolok-olok berhubungan dengan aib yang tidak perlu disebarkan," itu bagaimana, apa saja batasan2nya?
Jawab:
Kita coba melihat berbagai keadaan: Si A. Dia orang awam, shalat shubuh sering kesiangan. Memakai kaos Osama bin Laden. Dia bangga, menganggap Osama sebagai pahlawan. Si B. Banyak mempelajari Islam, mantan aktifis IM. Dia mulai tertarik dengan manhaj salaf karena senantiasa menyandarkan diri dengan hujjah. Tapi terkadang dia berkata,"sebetulnya kita bisa bersatu dengan syi'ah...". Si C. Banyak mempelajari Islam, mantan aktifis Jamaah Tabligh. Dia juga mulai tertarik dengan manhaj salaf. Si C menulis buku, didalamnya memuat keutamaan berkunjung ke syaikh tarekat yang dikunjungi ulama Jamaah Tabligh. Si C meninggal dunia, belum sempat menulis perbaikan atas bukunya. Si D. Tertarik mempelajari Islam. Rajin ke masjid. Secara sembunyi-sembunyi di kamar nenggak minuman keras. Si E. Muslim, rajin shalat. Punya penyakit suka ngambil punya orang lain. Si F. Muslim, giat berda'wah. Memuji Imam Samudra, Osamah, Dr Azahari, mengajak para pemuda melawan thaghut NKRI, mengajak meledakkan Monas dsb.
Mana yang bisa kita ungkapkan keburukannya dihadapan ummat?
Si A, walaupun memakai kaos Osama bin Laden, tapi dia orang awam. Tidak bisa kita sampaikan ke ummat bahwa dia adalah sesat. Mending kita ajak untuk mengenal Allah dengan baik, mengikuti sunnah.
Si B, memang mengucapkan kata-kata yang merupakan manhajnya IM, yaitu persatuan dengan mengesampingkan perbedaan, melihat kesamaan, tetapi dia adalah orang yang sedang 'proses'. Jika dia menda'wahkan, menyampaikan ke ummat, kita terangkan bahwa itu adalah keliru. Jika pemahaman itu untuk dia pribadi, maka padanyalah da'wah disampaikan, tanpa perlu menyampaikan ke ummat.
Si C. Walaupun mulai beranjak dari JT, tetapi pemikirannya masih ada yang melekat. Apalagi menulis buku. Si C perlu diterangkan penyimpangannya, supaya ummat yang kadung membaca bukunya tidak tersesat.
Si D. Walaupun minum minuman keras, tetapi dia lakukan secara sembunyi-sembunyi. Ini menunjukkan dia masih malu. Maka, penyebarluasan kemaksiatannya dengan menyampaikan ke orang-orang adalah tercela. Yang tepat, sampaikan ke orang yang bisa menasehati dia supaya bisa lepas dari kemaksiatannya.
Si E. Penyakit suka mencurinya perlu disampaikan ke orang-orang, supaya orang hati-hati apabila dekat dengannnya.
Si F. Perlu diterangkan ke ummat bahwa dia adalah orang yang menyimpang, terpengaruh khawarij dsb.
Gitu saja, tinggal diterapkan.
Buat Panglima, maksud 'Jika' disini adalah sekedar mengingatkan supaya tidak jauh membahas sesuatu yang tidak berpengaruh terhadap baik buruknya keislaman kita. Hemat energi kita. Jika waktu itu kita gunakan untuk mempelajari aqidah Islam yang dipahami oleh ulama salaf, tentu lebih baik. Semoga Anda dimudahkan mempelajari manhaj dan aqidah salaf, yaitu Islam yang dipahami oleh Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wassalam, diajarkan kepada para shahabat, diteruskan oleh tabi'in dan seterusnya dari generasi penerusnya yang mengikuti jalan mereka.
Ane kira Abu Haidar Mohammad ini orang alim Salafi. Kayaknya dikit-dikit kita perlu saling diskusi ya. Siapa tahu, jawaban dia ada baiknya, dan dia mau mendengar pandangan kita. Betul gak? Bisa aja kan begitu...
Ane lihat ada kelemahan-kelemahan dari jawaban Abu Haidar Mohammad itu, misalnya aja:
- Abu Haidar Mohammad (AHM) bikin contoh-contoh macam begitu. Di kehidupan aslinya di masyarakat kan gak sesederhana itu. Lagian darimana kita bisa tahu hati masing-masing orang sama kesibukan-kesibukannya. Di masyarakat itu gak sesimple itu ustadz. Tuh lihat, dia bikin contoh "Si D: Rajin ke masjid, tapi di kamar minum-minuman keras". Darimana kita tahu kalau Si D minum minuman keras, kan dia di kamar? Emang kita malaikat?
- "Si B dan Si C" mantan aktifis IM dan JT, disitu disebut "mulai tertarik dengan manhaj Salaf". Ane nanya sama dia, apa sih pengertian manhaj Salaf? Apa batasannya manhaj Salaf? Apa saja yang kita ikuti dari Salaf dan kita tinggalkan darinya? Tahu darimana kita bahwa Si B, Si C, Si K, Si L, bukan pengikut manhaj Salaf? Tahu dari mana bahwa AHM dan teman-temannya pengikut setia manhaj Salaf? (Tolong kalo jawab itu "to the point", jangan diputar-putar, ntar tuliskan asal-usul kata Salaf, perkataan Ibnu Mandzur, Adz Dzahabi, dll. Yang macam gitu udah banyak dimana-mana, gak usah diulang lagi).
- Ane mau tanya secara jujur buat AHM, apa sih kelebihan Salafi (kelompok Antum ini, bukan Salafus Soleh lho) dari IM dan JT. Kan syaikh Antum sudah di-tahdzir menyebarkan akidah Murjiah atas nama Ahlussunnah?
- Buat contoh "Si F", katanya terpengaruh Khawarij. Darimana Antum bisa simpulkan begitu? Apa Antum ulama ahli fatwa yang bisa menghukumi orang ini Khawarij, ini ahli bid'ah, ini mu'tazilah, ini itu, dst. Antum punya ilmu buat menghukumi orang-orang yang dikagumi "Si F" itu sebagai khawarij? Gimana dengan Abdullah bin Zubair ra. yang mengadakan perlawanan ke Yazid bin Muawiyyah? Bagaimana dengan Aisyah ra. dan Muawiyyah yang mengangkat senjata menentang Khalifah Ali ra.? Apa mereka khawarij juga?
- Orang macam Antum dan lain-lainnya itu sudah lama ditantang debat terbuka oleh MMI. Tapi kelompok Antum tidak pernah menjawabnya. Maunya menjawab lewat tulisan-tulisan macam begini, di majalah, buku, atau internet. Dulu Ibnu Abbas ra. mau debat terbuka dengan Khawarij. Jadi yang lebih mirip Ibnu Abbas siapa ya, Salafi atau MMI?
- AHM bilang "Gitu saja, tinggal diterapkan". Ini kata-kata macam apa? Apa dakwah itu semudah orang bilang "Gitu aja kok repot!" Antum gak pantes bilang macam begitu, kayaknya ngremehin banget situasi Umat Islam di lapangan. Lagian orang-orang Salafi di GDI ini apa bisa memenuhi cara-cara yang Antum bilang itu?
Menurut ane, betapa parahnya akal orang-orang Salafi ini. Setahu ane AHM itu tidak tulis dalil-dalil apapun, selain dalil yang sedikit. Tapi buat Salafi, orang macam dia bisa-bisa dianggap sudah "ilmiah". Giliran orang lain bikin kritik ilmiah, ntar dibelokkan kemana-mana,...dengki kek, benci manhaj salaf, attacking, hizbiyyah,... Kok gak sadar-sadar to orang-orang itu? Itu punya akal dan hati dipakai, jangan ta'ashublah. --- SK ---
|