Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Selasa, 22 Mei 2012/1 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:52 - Shubuh 4:33:16 - Terbit 5:55:13 - Dzuhur 11:49:37 - Ashar 15:11:37 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:30 WIB

Penulis Topik: Syaikh Rabii' Al-Madkhali::"Penyimpangan, Skandal, Kesesatan dan Kebodohannya".  (Dibaca 4844 kali)


Offline coal

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 2.389
  • Jenis kelamin: Pria
  • yang sopan mas
    • Lihat Profil
« Jawab #90 pada: 29 Mei 2007, 14:53:21 »
tuk akhi kuringtea dan lainnya
mengenai pnlaian arti kata itu hrs diliat dr brbagai hal, misal kata 'anjing lu' itu di negeri kita bmakna kasar, ttpi blm tntu di negeri lain, wallohualam
;D %peace%

Offline Abdul Ghafur

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 728
    • Lihat Profil
« Jawab #91 pada: 29 Mei 2007, 15:11:09 »
@ atasku
afwan, apa antum user lama dengan nick baru?
tapi smoga emang betul2 baru

ahlan wa sahlan! O0

Offline Abu Haidar Mohammad

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 299
    • Lihat Profil
« Jawab #92 pada: 29 Mei 2007, 17:17:20 »
Alhamdulillah, washolatu wassalaamu'ala Rasulillah.

Saudara-saudaraku, semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kalian semua.

Untuk Salafy Amerika (pertanyaan tidak saya sebutkan, liat postingannya):
1. Dalil tentang mencela orang lain.
Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam menyebut orang yang berbicara pada hari jum'at ketika khatib sedang berkhutbah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal (dalam HR Ahmad).  Allah Ta'ala juga menyebut pengikut hawa nafsu seperti anjing yang menjulurkan lidahnya (Al A'raf 175-176), Abu Umamah menyebut khawarij sebagai anjing-anjing neraka, Abul Hasan Al Asyari menyebut orang-orang yang mentakwil sifat Allah sebaga 'ahlu zaigh' dan lainnya.  Semua itu merupakan celaan, semuanya merupakan dalil yang kaum muslimin hendaknya mencela terhadap orang yang memang keadaannya berhak untuk dicela.

2. Dalam contoh yang diberikan oleh Akh Kuringtea, lebih baik yang menyampaikan menuliskan disini.  Karena seseorang mencela seharusnya menyebutkan sebab kenapa dia dicela.  

3. Dalam contoh poin 1, sikap mencela yang dilakukan merupakan amalan untuk menjauhkan ummat dari penyimpangan orang tersebut.  Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam menggelari khawarij dengan anjing-anjing neraka, supaya ummat tidak terjerumus kedalamnya.  Amalan ini diikuti oleh ulama-ulama salaf sesudahnya, yang memberikan peringatan kepada ummat .  Imam Nawawi dalam membahas ghibah yang dibolehkan, diantaranya adalah dalam rangka memberikan tahdzir dari penyimpangan pengusung bid'ah.  Semua itu merupakan dalil bahwa memberikan tahdzir terhadap orang yang sesat adalah sesuatu yang dicontohkan atau disyariatkan.

4. Tentang contoh apakah dia 100% sebagai anjing neraka, kita tidak bisa memvonis seperti itu.  Kita tidak boleh melampaui batas sampai menetapkan seseorang sebagai ahlul jannah ataupun ahlunnar.  Apa yang dinilai dari seseorang adalah semata dari lahiriahnya dan ucapannya.

5. Menggelari Syaikh Rabi' sebagai anjing, tentu tidak "asal menggelari".  Seseorang diberi gelar kalau memang pantas menyandangnya.  Maka dilihat dulu, apakah kesalahan Syaikh Rabi' sehingga pantas digelari anjing?

Buat Abie, gelar buruk yang diberikan kepada penganut kesesatan adalah menunjukkan kita cinta padanya.  Lho kok bisa?  Iya.  Seseorang, sebutlah Imam X.  Dia mempunyai pemahaman yang menyimpang, misalnya mengajak bersatu antara sunni dan syi'ah.  Ada dua muslim sunni, satu namanya A dan satu lagi namanya B.  Si A menggelari Imam X dengan mujadid, si B menggelari Imam X dengan ahlul bid'ah.  Si A menyebarkan tulisan dan ceramah Imam X, sementara Si B mentahdir ummat dari kesesatan Imam X, sekaligus memberikan masukan-masukan baik lewat buku maupun sarana lainnya bahwa pemahaman Imam X dalam ide persatuannya adalah keliru.  Mana yang lebih menyayangi Imam X, si A apa si B?

Jelas si B.  Upaya tahdir yang dilakukan si B mengurangi dosa-dosa yang akan ditanggung Imam X dari kesesatannya.  Si B sangat menyayangi Imam X (yang muslim itu), sehingga berusaha dengan sekuat tenaga mengeluarkan Imam X dari kesesatannya.  Sementara si A, dia hanya bermodal semangat tanpa ilmu, malah mendukung Imam X dan menggelari sebagai mujadid, yang menyebabkan Imam X makin jauh didalam kesesatannya.

Buat Panglima Kumbang, masalah gank lebih baik disudahi, bukankah sudah tidak lagi Anda gunakan?

Buat saudara Abdul Ghafur:
Anda katakan: yg disampaikan syekh rabi' banyak yg gak benarnya banyak menuduh dan mencela

Jawab; Lebih baik Anda buktikan dan tunjukkan dalam forum ini, banyak yang nggak benarnya dalam hal apa?  Misalnya saja dalam kitab X Syaikh Rabi' menuduh kelompok A begini-begini, padahal kenyataannya tidak dst.  Tapi dengan hujjah ilmiah ya...

Anda katakan: hampir semua yg diserang oleh syekh rabi' belum tentu demikian.
lalu, mana yg diserang syekh rabi' yg benar2 demikian?

Jawab: Lho saya kan yang bertanya, harusnya Anda yang membuktikan bahwa yang 'diserang' Syaikh Rabi' belum tentu demikian.

Anda katakan: apakah istilah 'quthbi', 'sururi', 'ikhwani', 'al pramuki' dll. juga ada dalam syariat?

Jawab:  Bukankah penyebutan itu untuk menyebutkan pengikut?  Apanya yang salah?  Sururi berarti pengikut Muhammad Surur.  apanya yang bertentangan dg syariat dari segi penamaan?  

Buat semuanya, semoga diskusi kita meningkatkan ukhuwwah diantara kita, dengan  semangat bahwa ini kita lakukan karena kita menyayangi saudara kita sesama muslim.





Offline salafy amerika

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 111
    • Lihat Profil
« Jawab #93 pada: 29 Mei 2007, 21:20:48 »
Saudaraku Abu Haidar Mohammad, semoga Allah membimbing antum, saya dan kita semua,

pertanyaan saya no.1 adalah:

"1. Mohon ditunjukkan dalil qath'i yang memerintahkan seorang muslim untuk mencela muslim yang lain."

jawaban antum:
1. Dalil tentang mencela orang lain.
Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam menyebut orang yang berbicara pada hari jum'at ketika khatib sedang berkhutbah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal (dalam HR Ahmad).  Allah Ta'ala juga menyebut pengikut hawa nafsu seperti anjing yang menjulurkan lidahnya (Al A'raf 175-176), Abu Umamah menyebut khawarij sebagai anjing-anjing neraka, Abul Hasan Al Asyari menyebut orang-orang yang mentakwil sifat Allah sebaga 'ahlu zaigh' dan lainnya.  Semua itu merupakan celaan, semuanya merupakan dalil yang kaum muslimin hendaknya mencela terhadap orang yang memang keadaannya berhak untuk dicela.

Tanggapan:

"Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam menyebut orang yang berbicara pada hari jum'at ketika khatib sedang berkhutbah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal (dalam HR Ahmad)."

sebutan "keledai" dari Rasulullah diatas adalah untuk hal khusus, yaitu untuk orang yang berbicara pada saat khatib sedang khotbah jum'at. Bukan untuk yang lain-lain. Dalam hadits diatas, tidak terlihat Rasulullah memberikan perintah kepada umatnya untuk mencela muslim yang lain pada hal-hal yang diluar kondisi "berbicara pada saat khatib sedang khutbah jum'at".

Bukankah dalil khusus hanya untuk hal khusus? dan tidak bisa digunakan sebagai dalil umum?
Apakah bisa ucapan sunnah setelah bersin, digunakan untuk ucapan setelah makan atau setelah menguap atau setelah buang angin?
Mohon untuk tidak membuat syubhat baru.


"Allah Ta'ala juga menyebut pengikut hawa nafsu seperti anjing yang menjulurkan lidahnya (Al A'raf 175-176)"

Selengkapnya ayat-ayat diatas adalah sebagai berikut:
Kutip
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِيَ آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

[7:175] Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَـكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

[7:176] Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.


Sejauh pemahaman saya, ayat2 diatas adalah diturunkan untuk orang kafir Yahudi, jadi bersifat khusus dan tidak bersifat umum.

Dengan dalil ayat yang antum berikan diatas, maka antum seolah2 menyamakan saudara2 antum yang muslim sebagai seorang kafir Yahudi. (karena pertanyaan saya adalah dalil mencela sesama muslim, namun antum menggunakan dalil celaan untuk orang kafir)

Semoga Allah mengampuni antum, saya dan kita semua.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwa:

“KHAWARIJ adalah seburuk2 makhluk Allah, dimana mereka senang mengambil ayat2 Allah yang turun atas orang2 kafir dan meletakkannya untuk orang2 beriman.” (Shahih Al-Bukhari, Bab Qatli Al-Khawarij wal Mulhidin)

segitu dulu..
« Edit Terakhir: 30 Mei 2007, 06:04:12 oleh salafy amerika »

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #94 pada: 29 Mei 2007, 22:00:18 »
Ijinkan saya untuk menengahi hal di atas.
Yang pertama apakah hukumnya mencela antara sesama muslim? Hukum asalnya seperti hadits yang telah saya bawakan di muka yaitu seorang muslim tidak akan beriman apabila lisan dan tangannya tidak bisa membuat selamat muslim yang lainnya. Dalam hal ini sudah jelas hukumnya harom.

Namun ingatlah hadits ini bersifat umum. Karena rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam juga faham ada orang munafik. Dan orang-orang munafik telah Allah hinakan dalam Kitab-Nya dan juga rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam. Kita tahu bahwa orang munafik orang Islam. Jadi bukanlah bertentangan hadits dan ayat tapi ini adalah dalam arti khusus.

Apabila seseorang menjuluki seseorang dengan sebutan seperti khawarij, yang dalam nash disebutkan bahwa khawarij adalah anjing. Maka dia harus mempunyai dalil yang rajih yang membuktikan bahwa orang yang dia katakan khawarij itu adalah benar-benar khawarij. Harus dia buktikan kebenarannya agar tidak timbul perselisihan dikalangan kaum muslimin.

Apabila antum mendapati seseorang mengatakan fulan itu munafik, ataupun fulan itu khawarij, maka apabila seseorang yang menuduhnya memberikan bukti, maka telitilah bukti-buktinya, dan apabila antum mempunyai sanggahan maka utarakan dengan perkataan yang baik.

Sehingga sebenarnya persoalan dari thread ini sepele, yaitu ketika Syaikh Rabi' mengatakan anjing kepada salah satu tokoh pembesar IM, maka antum telitilah apa yang dikatakan Syaikh Rabi', bukan dari perkataan anjingnya, tapi kenapa beliau mengatakan anjing. Kita faham kredibilitas dari kedua tokoh itu dihati para pengikutnya.

Maka dari itu telitilah agar tidak terjadi fitnah. Setelah antum teliti, baru kemudian duduk persoalannya diluruskan. Kalau antum punya ilmu terhadap hal itu maka kewajiban antum adalah meluruskan yang bengkok. Apabila antum tidak punya ilmu terhadap hal itu maka para ulama telah memberikan kaidah tidak berkata tanpa ilmu, artinya antum diam. Karena sesungguhnya Allah adalah yang Maha Mengetahui.

Sebenarnya saya juga berkali-kali mengingatkan kepada para user yang ada di GDI untuk berbicara dengan ilmu, tanpa sekali-kali berbicara sekehendak mereka yang menyebabkan perpecahan, keragu-raguan, was-was dan fitnah. Sehingga antara muslim satu dengan muslim yang lainnya salilng menghina fulan munafik, fulan khawarij, ataupun fulan pantas disebut kafir dan seterusnya.

Kita fair saja. Sekali lagi di sini kita diskusi dengan ilmu, jangan dahulukan hawa nafsu. Apabila antum punya ilmu, maka berikanlah pengetahuan antum disini dan buang jauh-jauh pendapat antum yang bertolak belakang dengan ilmu. Tapi apabila antum sama sekali tak punya ilmu, buat apa harus menyebut-nyebut sesuatu yang antum tidak ketahui. Demikianlah penjelasan singkat dari ana agar tak sampai membuat keruh suasana di thread ini.

wallahu'alam bishawab.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline kuringtea

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 2.834
  • Lokasi: Bandung-bogor-bekasi
  • Jenis kelamin: Pria
  • Inspirasi "mujahid" dilampu motorku
    • Lihat Profil
    • www.perisaidakwah.com
« Jawab #95 pada: 29 Mei 2007, 22:22:13 »
TERKAIT TEMA CELAAN & OLOK OLOK DALAM THREAD INI (LANJUTAN...)

Prolog :

Sesungguhnya seorang muslim yang baik akan berupaya, ingkari, benci , penyimpangan,dan berusaha semampunya untuk ingatkan.. baik dengan lembut/hikmah (asal dasar dakwah),

َبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

[3:159] Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu246. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

ataupun berdakwah  secara tegas,keras, sesuai dengan kondisi.dan kita mengakui bahwa peringatan, tahdzir, penjelasan terhadap penyimpangan dalam dien ini adalah hal yang disyariatkan dan sangat penting, tentunya dengan cara yang benar & baik.

Demi Dzat yang mana jiwaku ada pada Tangan-Nya, sungguh kamu harus melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar atau Allah akan menimpakan kepada kamu adzab, kemudian kamu berdoa maka doa itu tidak akan dikabulkan.” (H.R. Tirmidzi, hadits hasan)


Nabi SAW dakwah dengan lembut & hikmah (banyak dalil dalil yang menguatkan), tapi ada saatnya beliau TEGAS & KERAS, (bagaimana beliau pernah menyuruh memenggal kepala laki laki yahudi yang berkhianat  dalam pereistiwa pengkhianatan bani Quraizah dalam perang ahzab, atau beliau mencela Khawarij " dengan segala cirinya " dengan Anjing neraka.) dan secara TEORITIS, seharusnya kita di forum ini sepakat dalam hal konteks bahwa Nabi SAW berdakwah dengan lembut, pernah Tegas, Keras, yang sesuai kondisi .dalam bimbingan prtunjuk Allah SWT.

Dalam Konteks "REALITAS" bersikap keras,tegas, mencela tentunya harus berdasarkan Dalil, Hujjah. serta data -data yang valid, Apalagi menyangkut Vonis atau celaan pada INDIVIDU muslim (vonis mu^ayyan) yang menurut pendapat ulama, dalam konteks individu sebelum men'Judge" harus ditegakkan Hujjah dan disingkirkan penghalang (apakah dia sedang lupa, tidak sadar, dipaksa,dst)   

baiklah kita liat..

A. Yang ana Fahami tentang celaan/sikap keras


Ada yang bersifat umum, dan khusus

Contoh sikap keras dan tahdzir secara umum adalah: sabda beliau kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang firman Allah :

هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب و أخر متشابهات، فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة و ابتغاء تأويله

“Dialah (Allah) yang telah menurunkan kepada kalian Al Kitab, yang padanya ada ayat-ayat muhkamah, yang itu merupakan induk Al Kitab, dan yang lainnya ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di hatinya ada penyimpangan mereka akan mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dalam rangka mencari fitnah dan mencari ta’wilnya…” [Ali ‘Imran : 7]


Contoh sikap keras dan tahdzir secara khusus.

Rasulullah  bersabda:

... إِنَّ مِنْ ضِئْضِىءِ هَذَا –أَوْ فيِ عَقِبِ هَذَا – قَوْمًا يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الإِسْلاَمِ مُرُوْقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ، يَقْتُلُوْنَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ، وَ يَدَعُوْنَ أَهْلَ الأَوْثَانِ، لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ قَتَلْتُهُمْ قَتْلَ عَادٍ

akan keluar dari keturunan orang ini (Dzulkhuwaishirah) suatu kaum yang mereka itu ahli membaca Al Qur’an, namun bacaan tersebut tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Mereka membunuhi ahlul Islam dan membiarkan hidup (tidak mereka bunuh) ahlul Autsan (orang-orang kafir). Jika aku sempat mendapati mereka, akan aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan terhadap kaum ‘Ad [HR. Al Bukhari 3344, Muslim 1064; Abu Dawud 476

Rasulullah  juga berbicara pedas tentang khawarij dengan mengatakan:

الخَوَارِجُ كِلاَبُ النَّار
Khawarij adalah anjing-anjing neraka. [HR. Ibnu Majah (172) dari ‘Abdurrahman bin Abi Aufa]

kutip dari akh abu haidar :

Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam menyebut orang yang berbicara pada hari jum'at ketika khatib sedang berkhutbah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal (dalam HR Ahmad) Allah Ta'ala juga menyebut pengikut hawa nafsu seperti anjing yang menjulurkan lidahnya (Al A'raf 175-176),


Tanggapan : ini bersifat umum

Kutip dari akh abu haidar

Abu Umamah menyebut khawarij sebagai anjing-anjing neraka

Tanggapan : ini bersifat khusus (Khawarij)

B. Dari Point A . ada beberapa hal ingin sampaikan & ditanyakan  : (DALAM TATARAN PRAKTEK &REALITAS)


kalaulah dalam tahdzir yang sifatnya umum : diketahui bahwa orang yang berbicara pas khutbah jumat seperti keledai, sabda Nabi diatas. apakah ini kalimat celaan permisalan atau memang perintah untuk diucapkan bila ada yang melakukan  ?

Misal,
ketika ada teman kita yang berbicara dalam khutbah , selesai jumatan .kita nasehati (cela?) di dengan ungkapan :  " HAI KELEDAI, kalau sholat jumaat jangan ngomong ! DASAR KELEDAI ".
kita bilang begitu karena merasa ada teori/dalilnya hadist diatas.

atau  kita memilih  katakan  : " saudaraku jangan bicara ketika khutbah jumat , karena dilarang Nabi dan beliau SAW menyatakanhal itu  ibarat keledai yang membawa kitab tebal..." tentu kita akan pakai cara kedua. dan apakah cara pertama salah? khan dia pakai dalil : berbicara pada jumatan ibarat keledai.dst . Bagaimana pandangan teman-teman..

kalaulah dalam tahzir yang sifatnya Khusus : misal tentang ucapan Khawarij anjing neraka, dan minisbatkan pada seseorang. pertanyaan ana :

1. Apakah hadist tentang khawarij anjing neraka ini :merupakan Mutlak dalil untuk menyebut secara khusus Kaum/atau golongan yang dinilai khwarij dengan sebutan  ANJING ?,atau cukup mengatakan si fulan khawarij (tanpa ANJING).
karena ada yang  menjadikan Dalil ini : Untuk berkata KASAR,CELA,LECEHKAN. sebut "binatang"   golonganlain yang dianggap mempunyai kesalahan dalam islam (padahal kesalahannya bukan terkait Khawarij,yang ana fahami dari hadist diatas kalimat anjing neraka diucapkan  Nabi di nisbatkan pada  KHUSUS golongan Khawarij ) . kadang serinkali    kebablasan mendahulukan ucapan KASAR,OLOK OLOK, dan CELAAN, sebelum  kelembutan dan hikmah

Contoh :

 Ustadz Abdurahman Attamimi (Organisasi Al Irsyad, Jatim. guru ust.Abu salma). di cela & digelari sebagai " Al Kadzab " :nenene: :nenene: :'( (sebuah penghinaan, dengan penisbatan pada si Nabi Palsu Musailamah Alkadzab) yang dilakukan oleh kelompok yang mengaku sebagai salafi juga (rujukan mereka pun sebenarnya pada ulama ahlusunnah, kalau kita liat tulisan di WEB/buku mereka) beliau (ustd.attamimi) dicela ketika ceramah beliau di Markaz imam Al albani, di Yordan . Kira kira dengan sebutan "al kadzab " ini apakah lantas nasehat,tahdzir mereka akan diterima oleh beliau dan murid muridnya ? :hmmm: Faktanya adalah yang ada :    " Bantah -Membantah " bukanya nasehat yang menghasilkan "solusi" atau keberkahan.

Para pencela berkata begitu tanpa ada risi :  :toe: :toe:

karena merasa "SEDANG MELURUSKAN,INGATKAN UMMATdll" dan mempunyai dalil tentang bolehnya MENCELA dan berkata kasar (silakan liat dalil bicara KASAR   http://merekaadalahteroris.com/bicara-kasar.htm,  Komentar : sebuah dalil/teori yang shahih/valid tetapi "ada perlu dikritisi dalam PRAKTEK penerapan..!, :siul: ya ini hasilnya hadirin sekalian 
"al kadzab", "yusuf quradhi (nisbat pd bani quraidhah,yahudi !),"aduwullah (musuh ALLAH !)  dst. bagi ikhwan yang ingin mengecek kebenaran celaaan ini silakan liat di (www.Fakta.blogsome.com) atau ketik di gogling : "Attamimi al kadzab", " qardhawi aduwullah ", "yusuf quradhi". :wataw:


2.  Bila kita sepakat, bahwa ya boleh bilang anjing neraka asal pada pada Khawarij. Tentu  Kita Harus berhati hati memberikan gelar celaan tersebut pada seseorang, sebelum  jelas "kekhawarijan-nya" (sebelum tegakkanya hujjah, dan tersingkir penghalang)

contoh 1 :

seingat ana malah ada ustadz salafy lokal [penulis buku MAT}  menuduh :tembakin: seorang shahabat Abdullah bin muthi bin al aswad al adawi{Ibnu katsir, Ibnu hajar golongkan Ibnu muthi sebagai shahabat},  sebagai khawarij & pembrontak! :nenene:   {liat bahasannya dibuku Siapa Teroris Siapa Khawarij (STSK) , hal 206 sd 223}
dan dihalaman awal buku MAT.hal 6,ustadz salafy tadipun pake dalil khawarij/teroris sebgai anjing2 jahanam.  yu ah hati2 maen gelarin2,apalagi membela (STANDAR GANDA ) thadap yg salah/terpleset. :'(


contoh 2 :
 
Syaikn muqbil bin Hadi  menyebut syaikh qardhawi dalam bukunya "Iskaatul kalbil ‘aawiy Yusuf bin Abdillah al Qardhawy”, yang diterjemahkan dengan edisi edisi indonesia Penerbit Al-Ilmu dengan "Mendiamkan Anjing yang Melolong >:(” dan akan terbit pertengahan 2007 ini.beliau Syaikh Muqbil menilai  tentang penyimpangan/kesalahan Syaikh qardhawi dengan  "anjing melolong" sebagai " perumpaaan yang pantas " dengan dasar [surat Al-A’raaf 175-176]
untuk lebih jelasnya silakan liat : http://penerbit.al-ilmu.com/2007/02/22/mendiamkan-anjing-yang-melolong/

Ya, kita ada mengetahui peringatan, nasehat,kritikan dari para ulama kepada beliau syaikh qardhawi,  tetapi saya (karena keterbatasan wawasan saya ) belum pernah mendengar, atau membaca sekeras/setajam apapun mengkritik beliau (seperti syaikh bin baz, syaikh al albani, dll) mengumpamakan beliau "hafizhahullah" dengan "ANJING". selain dari individu syaikh tertentu (syaikh Muqbil, Syaikh Rabie )  anapun belum melihat ada FATWA JUMHUR ULAMA semacam "Laznah Daimah " ulama saudi , yang menyatakan beliau : layak diumpamakan "anjing"
atau layak disebut KHAWARIJ sehingga pantas disebut anjing (ada dalil). kalau ada yang punya fatwa Laznah Daimah yang memvonis beliau diumpamakan ;anjing: , silakan tampilkan .

tetapi kalau fatwa tentang peringatan "Murjiahnya" seorangnya Syaikh Salafy dari Yordan ,sudah pernah saya liat (maaf bukunya di tempat lain,belum bisa ana kutipkan), walaupun saya yakin ada bantahannya. :)

bahkan dalam buku nya "Para pejuang" terbitan GIP, beliau syaikh qardhawi menceritakan pengalaman dengan Syaikh bin Baz ketika hendak mendistribusikan buku yang Halal & Haram di Saudi, meminta izin pada syaikh bin Baz, setelah memberikan beberapa kritikan dan catatan,beliau (syaikh bin Baz) akhirnya memberikan izin untuk diedarkan di Saudi. %peace% %peace%
 bahwa melihat "polemik"yang panjang  beliau dengan syaikh qardhawi tentang "perdamaian dengan yahudi " sesengit apapun diskusi ternyata tetap saling menghornati & tidak ada CELAAN atau julukan "anjing". (silakan liat dalan fatwa kontemporer)  O0


Adapun kesimpulan yang ingin saya sampaikan :

1.  Dakwah Amar ma^ruf nahi mungkar ,tahdzir, meluruskan penyimpangan (baik dengan lemah lembut, tegas,
      kasar)  adalah hal yang disyariatkan.tentu dengan cara benar (berhujjah ilmiah) & baik (cara/metoda)

2.  Dakwah diutamakan dengan hikmah dan kelembutan (QS : 3 ayat 159, diatas),kalaupun ada celaan tentu harus 
     ada hujjah,data atas celaan yang dilakukan . dan Hujjah atau dalil tidak cukup saja, tetapi harus
     TEPAT  &  JELAS  dalam aplikasinya
.

masih ingat ? dengan kisah KHAWARIJ yang berdalil dengan perkataan (Hujjah yang valid sumbernya) tetapi SALAH PENERAPAN

Ucapan Khawarij (Pake Dalil Quran)  : "Tiada ada hukum kecuali hukum Allah ",
dikomentari oleh Ali  Ra                                   :  “Ungkapan benar, tetapi disalahpahami


inilah yang menjadi pelajaran kenapa dengan segala kritikan yang ada pada syaikh qardhawi, Syaik muqbil bin Hadi  mengumpamakan, syaikh qardhawi dengan " anjing mengonggong" berdasarkan ayat al Quran [surat Al-A’raaf 175-176], tetapi pengambilan dalil (al quran) tadi untuk mencela kesalahan beliau dan diumpamakan binatang, tidak digunakan oleh ulama sunnah yang lain (syaikh bin baz, syaikh al albani."LAZNAH DAIMAH", dll)

Terakhir saya menyadari , banyak kekurangan dalam tulisan ,jua alur penulisan, dan tampilan/EYD,saya ini. dan saya beristighfar kepada Allah SWT.
Barakallahu fiikum
Wallahu A'lam.
afwan

                                 
  Sahabat Abu Darda ra . juga pernah mengatakan:

“Kalian menghisab orang lain seolah-olah kalian adalah para Tuhan! Padahal kalian adalah hamba-hamba dan manusia bias
a[/b]

Sahabat ‘Umar Ibn al-Khaththab berkata,

“Bukanlah orang yang berakal itu adalah yang dapat mengetahui kebaikan dari keburukan, namun orang yang berakal adalah yang mampu mengetahui yang terbaik dari dua keburukan.”

[ Raudhatul Muhibbin,hal 8)
Mangga mampir di : makadir.wordpress.com

Offline coal

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 2.389
  • Jenis kelamin: Pria
  • yang sopan mas
    • Lihat Profil
« Jawab #96 pada: 29 Mei 2007, 23:30:32 »
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (an nahl : 125) - salam kenal semua, ana 'coal', new comers
;D %peace%

Offline tjahndeso

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2007
  • Tulisan: 153
    • Lihat Profil
« Jawab #97 pada: 30 Mei 2007, 07:13:03 »
akh kuringtea

Barokallahu fik
 
O0  O0  O0



Offline coal

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 2.389
  • Jenis kelamin: Pria
  • yang sopan mas
    • Lihat Profil
« Jawab #98 pada: 30 Mei 2007, 08:41:45 »
penjelasan akh kuringtea sangat bagus dan bermanfaat, sukron akhi
;D %peace%

Offline gaza

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 1.498
  • Lokasi: tangerang-banda aceh
  • Jenis kelamin: Pria
  • Wa'idu
    • Lihat Profil
    • Personal
« Jawab #99 pada: 30 Mei 2007, 08:59:32 »
hmmmh... berdasarkan penjelasan @AHM (Abu Haidar Muhammad) tentang panggilan terhadap sesama muslim dalam konteks mengikuti. dan tidak bertentangan dengan syari'at ::)

Kutip
Anda katakan: apakah istilah 'quthbi', 'sururi', 'ikhwani', 'al pramuki' dll. juga ada dalam syariat?

Jawab:  Bukankah penyebutan itu untuk menyebutkan pengikut?  Apanya yang salah?  Sururi berarti pengikut Muhammad Surur.  apanya yang bertentangan dg syariat dari segi penamaan? 

berarti kelompok ummat nambah lagi neh... ada salafiyun, ikhwaniyun, tahririyun, quthbiyun,sururiyun, albanayun, albaniyun, en yang paling banyak di GDI yaaa Rabiyun..... no offense bro...!!!
...Wahai Tentara Allah bertahanlah... Jangan menangis walau jasadmu terluka.. sebelum engkau bergelar syuhada.. Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah

Offline kriukkriuk

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 273
    • Lihat Profil
« Jawab #100 pada: 30 Mei 2007, 09:44:53 »
vote Ustadz Kuringtea for Moderator !! O0

(maap OOT...lanjuuuuuttttt...) :D
Pengen punya Maktabah Syamilah (Arab): Tafsir, Ulumul Qur'an, Fiqh, Tasawuh, Mushtalah Hadits, Sejarah, Kamus, Ensiklopedi, dsb?
Anda dapat nikmati dalam paket DVD 1800 Kitab + Upgrade ke 2000 kitab
Hub. saya via Private Message.

Offline zaad

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2006
  • Tulisan: 1.530
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • APAKAH ENGKAU TIDAK PUNYA MALU ?
    • Lihat Profil
« Jawab #101 pada: 30 Mei 2007, 09:58:29 »
untuk kuring tea, saya pernah membaca seorang ulama jaman dahulu menulis sebuah buka berjudul (terjemahannya kira-kira) beda antara pencontek dan penulis kitab". ini tentu suatu celaan yang sangat keras.

===
yang ingin saya katakan adalah, ini adalah permasalahan antar ulama, dan karean itu kita tidak berhak untuk membahas karena kapasitas kita belum sampai.
===
ulama boleh berijtihad, jika benar dapat satu jika salah dpat dua, dan kita boleh mengikuti atau tidak, tapi kita pribadi tidak berhak menyalahkannya, karena kita juga tidak tahu alasan ijtihad tersebutt.
=======
dan kalaupun aku misalnya setuju dengan ijtihad itu maka aku tidak boleh mengatakan 'yusuf qordhowi seperti anjing melolong" paling jauh adalah "syaihk menulis kitab berjudul....."
apakah engkau tidak merasa cukup dengan sunnahnya sehingga harus melakukan bid'ah ?

Achmad irzan bin sukamto from pekalongan, jawa engah, hidup di kabupaten tangerang.

Offline gaza

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 1.498
  • Lokasi: tangerang-banda aceh
  • Jenis kelamin: Pria
  • Wa'idu
    • Lihat Profil
    • Personal
« Jawab #102 pada: 30 Mei 2007, 10:04:58 »
vote Ustadz Kuringtea for Moderator !! O0

(maap OOT...lanjuuuuuttttt...) :D

Siiip ane dukung... Buat ndampingin @exblopz and @Ghif yang kayaknya rada keteteran ma GDI (coz nih forum panasnya kadang-kadang nyamain ISAGLA en Qur'an dan Hadits :toe:)

eh emangnya MYQURAN dah Mo PEMILU apah dah nyalonin @kuringtea jadi calon Moderator..??  :D

Vote @kuringtea jadi moderator O0 (@kriukkriuk antum ketua tim suksesnya yah :jaim:)

Ma'af OOT juga %peace%
...Wahai Tentara Allah bertahanlah... Jangan menangis walau jasadmu terluka.. sebelum engkau bergelar syuhada.. Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah

Offline kriukkriuk

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2006
  • Tulisan: 273
    • Lihat Profil
« Jawab #103 pada: 30 Mei 2007, 10:30:03 »
@zaad

nah, ya itu kang, terkadang ikhwah disini tdk mendahulukan siapa yg menyatakannya.
kapasitas ulama disejajarkan dgn kita yg paling gak tau apa2 soal ulama.
giliran ada 'kampanye' hujat si fulan dari syaikh A, kita ngikut ajah.
blom apa2 sdh maen setuju aja, padahal kita masih jauh kenal dgn ulama yg di 'hujat'.

ana sendiri bbrp kali menemukan dan langsung berhadapan dgn org macam gitu.
semangatnya luaarrr biasa ketika menunjuk imam al-ghazali sbg sufi tulen yg tersesat aqidahnya.

kenapa bisa begitu yah?

setau ana, islam tdk hanya dogma, sebagian lainnya pasti bisa diserap oleh logika.
tapi kenapa bagian yg ini (hujat), serasa boleh ditelan bulet2...

hareudaaaannnngggg.....!

@gaza
kalo ustadz kuringtea mah dah ana calonin sejak pak exblopz molai kewalahan di GDI.
maksud hati supaya bisa jadi PLT-nya pak ghif yg jarang onlen.
dan bukan ana aja yg dukung, moderator Miqu justru yg paling duluan 'kesengsem' sama ustadz kuringtea.
bbrp ikhwah jg dukung kok.
tinggal ybs aja mau nggak? :)

(setau ana ustadz kuringtea sering posting lewat hp, sekarang udah nggak lagi. Berarti siap dong...:D)
Pengen punya Maktabah Syamilah (Arab): Tafsir, Ulumul Qur'an, Fiqh, Tasawuh, Mushtalah Hadits, Sejarah, Kamus, Ensiklopedi, dsb?
Anda dapat nikmati dalam paket DVD 1800 Kitab + Upgrade ke 2000 kitab
Hub. saya via Private Message.

Offline Abdul Ghafur

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mar 2007
  • Tulisan: 728
    • Lihat Profil
« Jawab #104 pada: 30 Mei 2007, 11:09:22 »
Sehingga sebenarnya persoalan dari thread ini sepele, yaitu ketika Syaikh Rabi' mengatakan anjing kepada salah satu tokoh pembesar IM, maka antum telitilah apa yang dikatakan Syaikh Rabi', bukan dari perkataan anjingnya, tapi kenapa beliau mengatakan anjing. Kita faham kredibilitas dari kedua tokoh itu dihati para pengikutnya.
bukannya syekh muqbil?