Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Selasa, 22 Mei 2012/1 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:52 - Shubuh 4:33:16 - Terbit 5:55:13 - Dzuhur 11:49:37 - Ashar 15:11:37 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:30 WIB

Penulis Topik: Sagalonyo tentang Minang Kabau :)  (Dibaca 3875 kali)


Offline IAM1509

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 8.382
  • Lokasi: Kota Seribu Ruko
  • ^Manusia adalah tawanan dari pikirannya Sendiri ^
    • Lihat Profil
    • coretan kecil IAM1509
« Jawab #30 pada: 16 Mei 2007, 22:11:17 »
ditunggu yang lainno da matrix :)
11 Nov 2011

Offline MATRIX

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 8.848
  • Lokasi: Firdaus Heaven
  • Jenis kelamin: Pria
  • percayakah pesantren miskin tukang ngebom?
    • Lihat Profil
« Jawab #31 pada: 17 Mei 2007, 17:02:16 »


      Rumah Gadang merupakan ciri khas Rumah Adat Minangkabau (Sumatra Barat), yang berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga besar dan pusat kegiatan orang yang sedarah dan seketurunan dari kerabat matrilinial baik kegiatan ekonomi dan sosial maupun kegiatan budaya, dikepalai oleh seorang tungganai (Mamak) dan sebagai syarat berdirinya suatu nagari di Minangkabau, dengan arsitektur bentuk atap bergonjong (berbentuk tanduk kerbau).

       Rumah Gadang dibangun dengan bergonjong dimana semakin keatas semakin runcing, agar air mudah meluncur dan atap tahan lama walaupun terbuat dari injuk. Gonjong atap Rumah Gadang terdiri dua pola, yaitu gonjong Rumah Gadang Pola Koto Pialang (Aristokrat) terdiri dari 3 gonjong, 3 gonjong kanan , 1 gonjong depan dan 1 gonjong belakang , banyak terdapat di Luhak Tanah Datar. Sedangkan gonjong Rumah Gadang Pola Budi Caniago (Demokrat) terdiri 2 gonjong kanan, 2 gonjong kiri,1 gonjong depan dan 1 gonjong belakang, banyak terdapat di Luhak Agam Dan Luhak 50 Kota.

Rumah Gadang, sesuai dengan arsitektur ruangan dalam atau depan dengan lanjar (ruangan yang membujur dari depan ke belakang diantara tiang-tiang yang berderet), terbagi atas 3 tipe,yaitu :

    * Lipat Pandan : Berlanjar dua, disebut dengan Rumah Gadang Rajo Babandiang.

    * Belah Rebung : Berlanjar tiga ,disebut dengan Rumah Gadang Bapaserek/Surambi papek

    * Gajah Maharam : berlanjar empat, disebut dengan Rumah Gadang Gajah Maharam.

Menurut letaknya, ruangan Rumah Gadang terdiri atas:

    * Ruang depan : Merupakan ruang besar, dipakai sebagai ruang keluarga, rapat, menerima tamu dan sebagainya.

    * Ruang tengah : Terdiri dari kamar-kamar, dipakai untuk kamar tidur penghuni wanita bersama suaminya.

    * Ruang Anjungan : Bangunannya lebih tinggi dari ruang depan, sebelah kiri dan sebelah kanan dipakai untuk tempat wanita yang baru menikah.

    * Ruang Belakang : Merupakan dapur tanpa kamar mandi dipancuran diluar Rumah Gadang.

     Bentuk Rumah Gadang segi 4 , tidak sistematis, mengembang keatas , untuk menangkis terpaan angin kencang. Tinggi lantai 2 meter dari atas tanah, dulunya untuk menghindari binatang buas dan juga memelihara ternak dibawahnya dan loteng digunakan untuk menyimpan barang-barang (gudang).

     Permukaan dinding depan Rumah Gadang penuh dengan tatanan ukiran-ukiran yang menarik dan setiap ukiran itu mempunyai arti sendiri dan mengandung filsafah Minangkabau "ALAM TAKAMBANG JADI GURU".

Jenis ukiran Rumah Gadang tersebut terdiri atas :

    * Keluk Paku : Ditafsirkan anak dipangku kemenakan dibimbing.

    * Pucuk Tebung : Ditafsirkan kecil berguna , besar terpakai.

    * Seluk Laka : Ditafsirkan kekerabatan saling berkaitan.

    * Jala : Ditafsirkan pemerintahan Bodi Caniago.

    * Jerat : Ditafsirkan pemerintahan Koto Pialang.

    * Itik pulang petang : Ditafsirkan ketertiban anak kemenakan.

    * Sayat Gelamai : Ditafsirkan ketelitian.

    * Sikambang manis : Ditafsirkan keramah tamahan.

     Dinding belakang disebut Dinding Sasak, karena pada masa lalu terbuat dari bambu yang dianyam, dinding depan dan samping terbuat dari kayu serta diukir. Berdirinya Rumah Gadang harus dilengkapi dengan Rangkiang atau Lumbung Padi, terletak dihalaman depan dan samping, yang berfungsi sosial dan ekonomi.

Bentuk dan jenis rangkiang / lumbung padi tersebut antara lain:

    * Sitinjau Lauik : Digunakan sebagai tempat menyimpan padi untuk dijual bagi keperluan bersama atau pos pengeluaran adat. Bentuknya langsing, bergonjong dan berukir dengan empat tiang, letaknya ditengah.

    * Sibayau-bayau : Digunakan untuk menyimpan padi makanan sehari-hari. Bentuknya gemuk, bergonjong dan berukir dengan 6 tiang letaknya dikanan.

    * Sitangguang Lapa / Sitangka lapa : digunakan untuk menyimpan padi untuk musim kemarau dan membantu masyarakat miskin. Bentuknya bersegi, bergonjong dan berukir dengan 4 tiang , letaknya sebelah kiri.

    * Kaciak/kecil : Digunakan untuk menyimpan padi bibit dan untuk biaya mengolah sawah. Bentuknya bundar, berukir dan tidak bergonjong, letaknya diantara ketiga rangkaian tersebut.

      Kelengkapan bangunan Rumah Gadang lainnya adalah Tabuh Larangan, Lesung, Kincir, Pancuran dan Pedati. Halaman Rumah Gadang dilengkapi dengan puding berwarna kuning, puding warna perak, puding warna hitam dan batang kemuning sebagai pagar hidup.

     Arsitek yang membangun Rumah Gadang yang pertama adalah seorang Cerdik Pandai Minangkabau yang bernama : Datuk Tan Tejo Gerhano, yang dimakamkan di Pariangan Kabupaten Tanah Datar dan makam tersebut dikenal dengan kuburan panjang yang punya keunikan tersendiri bahwa setiap kali diukur akan berbeda panjangnya.

Sumber : www.minangnet.com
Bersujud wajahku kepada Allah Rabb yang menciptakan, yang membelah pendengaran dan penglihatan dengan daya dan kekuatanNya,Maha Suci Allah. Tulislah untuk kami dengan sujud kami pahala di sisiMu

Offline IAM1509

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 8.382
  • Lokasi: Kota Seribu Ruko
  • ^Manusia adalah tawanan dari pikirannya Sendiri ^
    • Lihat Profil
    • coretan kecil IAM1509
« Jawab #32 pada: 17 Mei 2007, 17:51:08 »
Unsur Pimpinan di Minangkabau

Seorang pemimpin di Minangkabau adalah:

        urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang
        urang nan diamba gadang, nan dianjuang tinggi
        kusuik nan ka manyalasaikan, karuah nan ka manjaniahkan
        takalok manjagokan, lupo maingekkan
        panjang nan ka mangarek, singkek nan ka mauleh


Di Minangkabau ada tiga jenis pemimpin, yaitu niniak mamak (penghulu), alim ulama, dan cadiak pandai. Ketiganya dikenal sebagai tungku tigo sajarangan.

     1.  Niniak Mamak (Panghulu)

    Niniak mamak adalah pemimpin dalam urusan adat, orang yang dituakan dalam kaum. Meliputi penghulu adat dan pembantu-pembantu utamanya. Sehari-hari ia dipanggil datuak.

     2.  Alim Ulama

    Alim ulama adalah pemimpin dalam urusan agama, orang yang memiliki ilmu agama yang luas dan iman yang dalam. Disebut juga suluah bendang dalam nagari, maksudnya berfungsi sebagai penerang kehidupan. Sehari-hari ia dipanggil angku, ustadz, buya, syekh, tuangku, dll.

     3.  Cadiak Pandai

    Cadiak pandai adalah pemimpin disebabkan ia memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, serta arif dan bijaksana.
11 Nov 2011

Offline Harimau^Pasaman

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 34
    • Lihat Profil
« Jawab #33 pada: 18 Mei 2007, 20:53:05 »
Tujuh Ekor Harimau Mati Dibunuh

Sjamsir Sjarif
Fri, 31 Mar 2006 21:50:42 -0800

Ondeeh Mandeeh.... ,
Kawan-kawan Nyiak Sunguik, anak cucu dari Inyiak-inyiak
nan manjago Nyiak Sunguik di Rimbo Gadang saisuak,
kini dibunuahi dek tangan-tangan gata.
Yaa Allah tunjukilah manusia-manusia kejam
yang membunuh makhlukmu seenaknya untuk dijadikan uang ...
Amiin Ya Rabbil aalamiin.

Salamo hampia tigo tahun Inyiak Sunguik manjalajah Rimbo Gadang
penuh margasatwa di hutan-hutan Sumatera Barat, 1958-61,

Inyiak Sunguik batua-batua manganggap Inyiak-Inyiak tu kawan Nyiak Sunguik nan Elok.

Mereka kadang-kadang lalok dakek halaman pondok Nyiak Sunguik,
kadang-kadang bajalan bairiangan dengan jarak tertentu marancah rimbo
saroman pangawal Pemberian Ilahi dalam Hutan Belantara Nan Indah dan Damai tu.

Kami saling menghormati dengan naluri raso kasiah sayang pemberian Ilahi Rabbi ...

Mandanga Garabak Data, antaro lain takana rasonyo salah saurang anak dari
Alm. Kol Ahmad Hosen dengan isterinyo Des lahia di sinan...

SOLOK - Dalam rentang waktu tiga bulan terakhir, tujuh ekor harimau di Sumatra Barat menemui ajal akibat ulah manusia. Satwa langka itu, mati karena berbagai cara. Kasus terakhir di Garabak Data, Kabu­paten Solok dua ekor harimau mati diracun.

Tujuh ekor harimau yang menemui ajal dalam tiga bulan terakhir, masing-masing terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota (1 ekor), Padang Pariaman (4 ekor) dan Kabupaten Solok (2 ekor).

Dari Harian Singgalang
Updated, Sabtu 1 April 2006 l


Offline IAM1509

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 8.382
  • Lokasi: Kota Seribu Ruko
  • ^Manusia adalah tawanan dari pikirannya Sendiri ^
    • Lihat Profil
    • coretan kecil IAM1509
« Jawab #34 pada: 18 Mei 2007, 20:58:54 »
hmm saba sen yo nyiak ...

tapi menurut awak rancak iko ko di posting di kaba dari nagari nyiak :hihi: :)
11 Nov 2011

Offline Harimau^Pasaman

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2007
  • Tulisan: 34
    • Lihat Profil
« Jawab #35 pada: 18 Mei 2007, 21:00:53 »
@ ateh aden

aden indak tahu baru kalua dari rimbo %peace%

Offline IAM1509

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 8.382
  • Lokasi: Kota Seribu Ruko
  • ^Manusia adalah tawanan dari pikirannya Sendiri ^
    • Lihat Profil
    • coretan kecil IAM1509
« Jawab #36 pada: 18 Mei 2007, 21:04:10 »
hehehe indak baa do nyiak awak cuma maingek kan seh nyo nyiak %peace%
11 Nov 2011

Offline MATRIX

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 8.848
  • Lokasi: Firdaus Heaven
  • Jenis kelamin: Pria
  • percayakah pesantren miskin tukang ngebom?
    • Lihat Profil
« Jawab #37 pada: 23 Mei 2007, 22:42:15 »
Sagalo Nan Ampek

Indak tahu di ampek
Kok tak tahu di ampek
alang sariknyo mamarentah

Adaik limbago nan salapan
Nan ampek tabang ka langik
aso bulan
Duo matohari
Tigo bintang
Ampek timue (fajar)

Nan ampek tingga di bumi
Rumah gadang Lumbuang baperong
Sawah gadang
Banda buatan

Adaik nan ampek
Partamo adaik nan sabana adaik
Kaduo adaik nan diadaikkan
Katigo adaik nan taradaik
Kaampek adaik istiadaik

Kato nan ampek
Partamo kato pusako
Kaduo kato mupakaik
Katigo kato dahulu kato batapek-i
Kaampek kato kudian kato bacari

Ampek macam ilimu kato
Partamo kato sama
Kaduo kato sadiak
Katigo kato bungkuak bana
Kaampek kato kurenah

Ragam kato nan ampek
Partamo kato mandaki
Kaduo kato malereang
Katigo kato mandata
Kaampek kato manurun

Ampek macam hukum kato
Partamo ditangkup (ditarimo)
Kaduo disalasaikan
Katigo dimusiah
Kaampek dibandiang

Ampek macam panyalasaien kato
Partamo disudi
Kaduo disiasati
Katigo disusuli
Kaampek dipareso-i

Undang-undang nan ampek
Partamo undang luhak rantau
Kaduo undang-undang panyusunan nagari
Katigo undang-undang urang dalam nagari
Kaampek undang-undang nan duopuluah

Ampek macam undang-undang panyusunan nagari
Partamo taratak
Kaduo dusun
Katigo koto
Kaampek nagari

Undang-undang kakuasaan nan ampek
Partamo undang-undang sagalo panghulu
Kaduo undang-undang urang tuo-tuo di nagari
Katigo undang-undang hulubalang di nagari
Kaampek undang-undang luhak pakaian sagalo panghulu atau Rajo Alam
Ampek macam hukum
Partamo hukum ilimu
Kaduo hukum bainah
Katigo hukum kurenah
Kaampek hukum ijtihaik

Ampek macam hukum ijtihaik
Partamo hukum badukalo
Kaduo hukum baramu
Katigo hukum basamo
Kaampek hukum samato

Ampek macam caro manantukan hukum
Partamo dicari jo rundiangan
Kaduo dicari manuruik adaik
Katigo dibandiang manuruik syarak
Kaampek dikaji dari awa sampai akie sarato sabab jo akibaiknyo

Ampek macam hukum buang
Partamo hukum buang siriah
Kaduo hukum buang biduak
Katigo hukum buang tingkarang
Kaampek hukum buang daki

Ampek macam jalannyo dakwa
Partamo karano tacemo
Kaduo karano disapokan
Katigo karano didakwakan
Kaampek karano panjalehan dakwa

Ampek macam manjawab tidak
Partamo batidak (indak mangakui)
Kaduo batidak sabanyak dakwa
Katigo batidak pado sabagian dakwa
Kaampek batidak pado saparuah dakwa atau saparuah batidak

Ampek macam nan buliah basuaro di pangadilan
Partamo urang nan mandakwa
Kaduo urang nan tadakwa
Katigo saksi-saksi nan mandakwa jo nan tadakwa
Kaampek hakim nan ka mamutuihkan

Ampek macamnyo jawab
Partamo diiyokan
Kaduo ditidakkan
Katigo diantahkan
Kaampek disahkan jo sumpah

Kaputusan sangketo nan ampek
Partamo mamakai hukum
Kaduo manggunokan limbago
Katigo karano takuik
Kaampek karano baralah (mangalah)

Ampek nan dilarang
Partamo jan hiduik badangki-dangkian
Kaduo jan hino mahinokan dalam pagaulan
Katigo jan batoloang-toloangan ateh karajo maksiaik jo karajo jahek
Kaampek jan mahasuik maadu domba

Ampek macam cupak
Partamo cupak usali
Kaduo cupak buetan
Katigo cupak tiruan
Kaampek cupak nan piawai

Ampek macam cupak nan piawai
Partamo batanam nan bapucuak
Kaduo bacupak bagantang
Katigo minum jo makan
Kaampek muluik manih baso katuju

Ampek macam cupak tiruan
Partamo pakaian nan rancak
Kaduo paralatan pamainan
Katigo pakakeh alaik kagumbiraan
Kaampek istri nan baiak

Basa ampek Balai
Partamo Bandaro (Titah) di Sungei Tarab
Kaduo Tuan Kadi di Padang Gantiang
Katigo Makudum di Sumaniak
Kaampek Indomo di Suruaso

Urang nan ampek jinih
Partamo andiko (panghulu)
Kaduo malin (ulamo)
Katigo manti (cadiak pandai)
Kaampek dubalang (urang mudo-mudo)

Urang nan ampek golongan
Partamo niniak mamak
Kaduo cadiak pandai
Katigo alim ulamo
Kaampek bundo kanduang


Ampek macam hak adaik bagian panghulu
Partamo hak adaik bungo kayu
Kaduo hak adaik takuak kayu
Katigo hak adaik tanam batu
Kaampek hak adaik bungo tanah

Macam urang nan ampek
Partamo urang namonyo
Kaduo takah urang
Katigo angkuah-angkuah urang
Kaampek urang-urangan

Jurai nan ampek
Partamo jurai Limo Puluah Koto
Kaduo jurai Canduang Lasi
Katigo jurai Tanah Data
Kaampek jurai Agam

Ampek suku asa
Partamo suku Budi
Kaduo suku Caniago
Katigo suku Koto
Kaampek suku Piliang

Ampek macam warih
Partamo warih nan sabananyo
Kaduo warih nan sawarih
Katigo warih nan mawarisi
Kaampek nan warih barih

Lumbuang nan ampek
Partamo si Tinjau Lauik
Kaduo si Bayau-bayau
Katigo si Tangka Lapa
Kaampek si Pati Jantan

Ampek kunci ilimu
Partamo ilimu kato sama
Kaduo ilimu kato sadiak
Katigo ilimu kato bungkuak bana
Kaampek ilimu kato kurenah

Ampek sipaik sako
Partamo tabanam
Kaduo tataruah
Katigo dilipek
Kaampek dipakai

Ampek padoman caro mamimpin
Partamo bapadoman ka alue patuik
Kaduo manampuah jalan nan pasa
Katigo mamaliharo anak kamanakan
Kaampek manjago harato pusako

Ampek larangan caro mamimpin
Partamo mambuek cabuah sio-sio
Kaduo maninggakan sidiak jo takaliak
Katigo mahariak manghantam tanah
Kaampek bataratak bakato asiang

Ampek macam taguah bapandirian
Partamo panghulu taguah di adaik
Kaduo malin taguah di agamo
Katigo manti taguah di buek
Kaampek dubalang taguah di nagari

Ampek macam limbago urang badunsanak
Partamo kok jauah cinto mancinto
Kaduo kok hampie jalang manjalang
Katigo kok kurang tukuak manukuak
Kaampek kok sampik lapang malapangi

Ampek macam batang aka
Partamo syariaik
Kaduo tarikaik
Katigo hakikaik
Kaampek makripaik

Ampek macam caro manantukan aka
Partamo karano diliek jo mato
Kaduo karano didanga jo talingo
Katigo karano dicium jo hiduang
Kaampek karano dirasokan jo lidah atau jo badan

Ampek macam timbuenyo aka
Partamo dari diri sandiri
Kaduo dari urang lain
Katigo dari tawaka (pitunjuak dari Tuhan)
Kaampek dari kapintaran (baraka)

Ampek macam asa datangnyo bana
Partamo dari dalie Tuhan
Kaduo dari Hadih Rasul
Katigo dari kato pusako
aampek dari kato mupakaik

Ampek sabab hilangnyo bana
Partamo karano banyak bicaro
Kaduo karano caro babicaro
Katigo karano tipu dayo
Kaampek karano tak taliti hati-hati

Ampek macam nan manjauahnyo bana
Partamo karano takuik jo malu
Kaduo karano kasiah sayang
Katigo karano rugi dek balabo
Kaampek karano dipuji jo disanjuang

Ampek macam nan disabuik bana
Partamo jujur
Kaduo luruih
Katigo malatakkan sasuatu di tampeknyo
Kaampek lawan bana duto

Ampek macam caro kiaik bapikie
Partamo pikie palito hati
Kaduo nanang hulu bicaro
Katigo haniang saribu aka
Kaampek dek saba bana nan datang

Ampek macam nan paralu dikatahui
Partamo tahu pado diri
Kaduo tahu pado urang lain
Katigo tahu pado alam
Kaampek tahu pado Nan Maha Kuaso

Ampek macam martabaik manusia
Partamo cadiak
Kaduo candokio
Katigo gudiman
Kaampek arih

Ampek macam nan tapakai dalam pagaulan
Partamo raso
Kaduo pareso
Katigo malu
Kaampek sopan

Ampek macam paham
Partamo wakatu bungo sadang kambang
Kaduo katiko angin sadang lunak
Katigo sadang dipa-antaroan
Kaampek katiko wakatu tampek tumbuah

Malam samalam dibagi ampek
Sabagian untuak makan
Sabagian untuak baibadaik
Sabagian untuak bapikie
Sabagian untuak tidue (lalok)

Ampek macam sarikaik
Partamo sarikaik sarikati
Kaduo sarikaik sarikato
Katigo sarikaik muawadah
Kaampek sarikaik maagna

Ampek macam alasan pusako digadai-dijua
Partamo untuak pambangkik batang tarandam
Kaduo karano rumah gadang katirisan
Katigo gadih gadang alun basuami
Kaampek maik tabujue tangah rumah
Bersujud wajahku kepada Allah Rabb yang menciptakan, yang membelah pendengaran dan penglihatan dengan daya dan kekuatanNya,Maha Suci Allah. Tulislah untuk kami dengan sujud kami pahala di sisiMu

Offline ronnie_brainsstar_jr

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 4.550
  • Lokasi: Jatinangor
  • Jenis kelamin: Pria
  • JIHAD FI SABILILLAH.......... ALLAHU AKBAR!!!
    • Lihat Profil
« Jawab #38 pada: 23 Mei 2007, 22:55:07 »
Yo bana mantap penasehat kerajaan awak ko

Salut O0 O0 O0
Rasulullah bersabda:
"Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mjuahid yang selalu memperjuangkan agama Allah SWT, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang nikah demi menjaga kehormatan dirinya" (HR. Thabrani)

http://saleropadang.wordpress.com

Offline IAM1509

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 8.382
  • Lokasi: Kota Seribu Ruko
  • ^Manusia adalah tawanan dari pikirannya Sendiri ^
    • Lihat Profil
    • coretan kecil IAM1509
« Jawab #39 pada: 24 Mei 2007, 09:06:55 »
rajo sakali2 nyumbang juolah :hihi: :p %peace%
11 Nov 2011

Offline Alwafi

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2007
  • Tulisan: 102
  • Lokasi: Padangpanjang
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #40 pada: 29 Mei 2007, 15:30:00 »
 Ciri dan Adat Orang Minang      

1. Aman dan Damai
Bila dipelajari dengan seksama pepatah-pepatah adat Minang, serta fakta-fakta yang hidup dalam masyarakat seperti masalah perkawinan, sistem kekerabatan, kedudukan tanah pusaka tinggi, peranan mamak dan penghulu,kiranya kita dapat membaca konsep-konsep hidup dan kehidupan yang ada dalam pikiran nenek-moyang kita.

Dari konsep-konsep hidup dan kehidupan itu, kita juga dapat memastikan tujuan hidup yang ingin dicapai oleh nenek-moyang kita.
Tujuan hidup itu adalah: BUMI SANANG PADI MANJADI TARANAK BAKAMBANG BIAK
Rumusan menurut adat Minang ini, agaknya sama dengan masyarakat yang aman damai makmur ceria dan berkah, seperti diidamkan oleh ajaran Islam yaitu "Baldatun Taiyibatun wa Robbun Gafuur". Suatu masyarakat yang aman damai dan selalu dalam penmgampunan Tuhan. Dengan adanya kerukunan dan kedamaian dalam lingkungan kekerabatan, barulah mungkin diupayakan kehidupan yang lebih makmur. Dengan bahasa kekinian dapat dikatakan bila telah tercapai stabilitas politik, barulah kita mungkin melaksanakan pembangunan ekonomi.

2. Masyarakat nan "Sakato"
Kalau tujuan akan dicapai sudah jelas, yaitu suatu masyarakat yang aman damai makmur dan berkah , maka kini tinggal bagaimana cara yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan itu. Kondisi yang bagaimana yang harus diciptakan. Menurut ketentuan adat Minang, tujuan itu akan dapat dicapai bila dapat disiapkan prasarana dan sarana yang tepat. Yang dimaksud dengan prasarana disini adalah manusia-manusia pendukung adat Minang, yang mempunyai sifat dan watak seperti diuraikan diatas. Manusia dengan kualitas seperti itulah yang diyakini adat Minang yang akan dapat membentuk suatu masyarakat yang akan diandalkan sebagai sarana (wahana) yang akan membawa kepada tujuan yang diidam-idamkan yaitu suatu masyarakat yang aman damai makmur dan berkah.
Suatu Baldatun Taiyibatun Wa Robbun Gafuur. Corak masyarakat idaman menurut kacamata adat Minang adalah masyarakat nan "sakato".

3. Unsur-unsur Masyarakat nan Sakato
Terdapat 4 unsur yang harus dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat untuk dapat membentuk masyarakat nan sakato.
Sakato artinya sekata-sependapat-semufakat. Keempat unsur itu adalah:

a. Saiyo Sakato
Menghadapi suatu masalah atau pekerjaan, akan selalu terdapat perbedaan pandangan dan pendirian antar orang satu dengan yang lain sesuai dengan yang lain dengan pepatah "kapalo samo hitam, pikiran ba lain-lain".
Perbedaan pendapat semacam ini adalah sangat lumrah dan sangat demokratis. Namun kalau dibiarkan berlanjut, maka akan berakibat masalah itu takkan terselasaikan. Pekerjaan itu akan terkatung-katung. Karena itu harus selalu dicari jalan keluar. Jalan keluar yang ditunjukkan adat Minang adalah melakukan musyawarah untuk mufakat, bukan musyawarah untuk melanjutkan pertengkaran.
Keputusan boleh bulat (aklamasi) tapi boleh juga gepeng atau picak (melalui voting). Adat Minang tidak mengenal istilah "Sepakat untuk tidak se-Mufakat". Bagaimana proses keputusan diambil, namun setelah ada kata mufakat maka keputusan itu harus dilaksanakan oleh semua pihak. Keluar kita tetap utuh dan tetap satu. Setiap individu Minang disarankan untuk selalu menjaga hubungan dengan lingkungannya.

Adat Minang tidak terlalu memuja kemandirian (privacy) menurut ajaran individualisme barat. Adat Minang mengajarkan supaya membiasakan berembuk dengan lingkungan kendatipun menyangkut masalah pribadi. Dengan demikian adat Minang mendorong orang Minang lebih mengutamakan "kebersamaan" kendatipun menyangkut urusan pribadi. Kendatipun seorang individu Minang menduduki posisi sebagai penguasa seperti dalam kedudukan mamak-rumah atau pun Penghulu Andiko maka keputusan tidak mungkin juga diambil sendiri. Karena itu sikap otoriter tidak pernah disukai rang-orang Minang.

Adat Minang sangat mendambakan persatuan dan kesatuan dalam masyarakat Minang. Orang Minang yakin tanpa persatuan dan kesatuan itu akan menjauhkan mereka dari tujuan masyarakat yang ingin dicapai. Mereka memahami pula dalam hidup berkelompok dalam masyarakat akan selalu terdapat silang selisih, marah dan sengketa akan selalu terjadi. Antara sanduak dan periukpun tak pernah sunyi akan selalu ada kegaduhan. Namun demikian orang Minang mempunyai dasar filosofi yang kuat untuk mengatasinya.

Adat Minang akan selalu mencoba memelihara komunikasi dan kemungkinan berdialog. Karena dengan cara itu segala masalah akan selalu dapat dipecahkan melalui musyawarah. Orang Minang menganggap penyelesaian masalah diluar musyawarah adalah buruk. Dalam mencapai kata sepakat kadangkala bukanlah hal yang mudah. Karena itu memerlukan kesabaran, ketabahan dan kadangkala terpaksa menguras tenaga. Namun demikian musyawarah tetap diupayakan

b. Sahino Samalu
Kehidupan kelompok sesuku sangat erat. Hubungan individu sesama anggota kelompok kaum sangat dekat. Mereka bagaikan suatu kesatuan yang tunggal-bulat. Jarak antara "kau dan aku" menjadi hampir tidak ada. Istilah "awak" menggambarkan kedekatan ini. Kalau urusan yang rumit diselesaikan dengan cara "awak samo awak", semuanya akan menjadi mudah. Kedekatan hubungan dalam kelompok suku ini, menjadikan harga diri individu, melebur menjadi satu menjadi harga diri kelompok suku.
Kalau seseorang anggota suku diremehkan dalam pergaulan, seluruh anggota suku merasa tersinggung. Begitu juga bila suatu suku dipermalukan maka seluruh anggota suku itu akan serentak membela nama baik sukunya.

c. Anggo Tanggo
Unsur ketiga yang dapat membentuk masyarakat nan sakato, adalah dapat diciptakannya pergaulan yang tertib serta disiplin dalam masyarakat.
Hal ini berarti bahwa setiap anggota masyarakat dituntut untuk mematuhi aturan dan undang-undang, serta mengindahkan pedoman dan petunjuk yang diberikan penguasa adat. Dalam pergaulan hidup akan selalu ada kesalahan dan kekhilafan. Kesalahan dan kekhilafan itu harus diselesaikan sesuai aturan. Dengan demikian ketertiban dan ketentraman akan selalu terjaga.

d. Sapikua Sajinjiang
Dalam masyarakat yang komunal, semua tugas menjadi tanggungjawab bersama. Sifat gotong royong menjadi keharusan. Saling membantu dan menunjang merupakan kewajiban. Yang berat sama dipikul yang ringan sama dijinjing. Kehidupan antara anggota kaum, bagaikan aur dengan tebing, saling bantu membantu, saling dukung mendukung. Dengan masyarakat nan sakato ini diharapkan akan dapat dicapai tujuan hidup dan kehidupan orang Minang sesuai konsep yang diciptakan nenek moyang orang Minang.

BUMI SANANG PADI MANJADI
PADI MASAK JAGUNG MAUPIA
ANAK BUAH SANANG SANTOSA
TARANAK BAKAMBANG BIAK
BAPAK KAYO MANDE BATUAH
MAMAK DISAMBAH URANG PULO

Kutip dari :Cimbuak.net
"......Yang mengenal dirinya Yang mengenal Tuhanya...."

Offline MATRIX

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 8.848
  • Lokasi: Firdaus Heaven
  • Jenis kelamin: Pria
  • percayakah pesantren miskin tukang ngebom?
    • Lihat Profil
« Jawab #41 pada: 31 Mei 2007, 11:25:18 »
Proses Malakok

Suku di Minangkabau adalah kelompok kaum yang berasal dari seseorang niniak yang disebut sesuku semua keturunan niniak ka bawah dihitung menurut garis ibu.

suku asli urang Minang hanya 4 buah suku yaitu suku Bodi dan Chaniago yang berasal dari keturunan Datuak perpatih nan Sebatang, Suku Koto dan Suku Piliang yang berasal dari Datuak Katumanggungan   

Pada kelanjutannya bahwa orang sesuku tidak terdiri dari orang-orang yang seniniak dimungkinkan karena dua hal :
 
1. Karena tiap nagari merupakan suatu wilayah adat yang independen yang tidak terikat dengan nagari lain sedangkan di lain pihak terdapat mobilitas suku yang bebas antara suku satu dengan suku yang lain. mereka yang pindah menyatu dengan persukuan yang ada di nagari yang baru ditempati.

"rosok lah aie pulang ka aie, rosok lah minyak pulang ka minyak"

2. Karena adanya pendatang baru berdarah non-Minang yang menetap di ranah Minang diterima sebagai kemenakan baru di Ranah Minang sehingga timbul keaneka ragaman dari Persukuan yang ada di Minangkabau yang tidak terbatas lagi dari keempat suku asli tadi.

Proses pembauran pendatang baru ini ke dalam struktur persukuan Minang di sebut dengan "Proses Malakok" atau proses pembauran (asimilasi) secara Minangkabau.

walaupun telah terjadi proses malakok, adat yang telah mendarah daging di negeri Minangkabau tidak bisa digeser sekehendak hati oleh suku-suku pendatang di Minangkabau   

tapi untuk menerapkan ini harus dikembalikan kepada Ketua2 adat Minangkabau yang berwenang ;)

Panghulu tagak di pintu adaik
Malin tagak di pintu agamo
Pagawai tagak di pintu susah
Dubalang tagak di pintu mati

Panghulu mahukum sapanjang adaik
Malin mahukum sapanjang sarak (syariat)
Manti mahukum silang salisiah
Dubalang mahukum tumbuak batuhuak jo baparang

Panghulu taguah di adaik
Malin taguah di agamo
Manti taguah di buek
Dubalang taguah di nagari

Kato rajo malimpahan Kato panghulu manyalasai
Kato manti kato barulang
Dubalang kato mandareh
Kato urang banyak kato bagalau

Dimano disalai palito
Di baliak telong nan batali
Dari Mano asa niniak kito
Dari Puncak Gunuang Marapi
Turun ka Pariangan Padang Panjang
Di langgundi nan baselo
Sinan sirangkak nan badangkiang
Sinan buayo putiah kuduak nampak
 

;)
« Edit Terakhir: 31 Mei 2007, 11:28:46 oleh MATRIX »
Bersujud wajahku kepada Allah Rabb yang menciptakan, yang membelah pendengaran dan penglihatan dengan daya dan kekuatanNya,Maha Suci Allah. Tulislah untuk kami dengan sujud kami pahala di sisiMu

Offline angween

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.180
  • Lokasi: jump-bee
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bad overrides...
    • Lihat Profil
« Jawab #42 pada: 04 Juni 2007, 19:46:31 »
satalah 3 halaman taba ilmu minang wak deknyo.

ado ciek yg ingin bana wak tau. baa namo2/panggilan dalam keluarga minang ko? keluarga awak kebetulan keluarga KG (keluarga gadang :D), nenek se ba-7 basaudara - iduik sado2nyo, alun lai masing2 keluarga nenek ko rato2 anaknyo 5-7 orang, apolagi yg saudara2 mama/amak wak yg 7 pulo. jadi kadang binguang wak maimbau orang ko, yg ma yg om, etek, angku, sepupu, uncu, incim, inyiak, dll dll.

tarimo kasih sabalunnyo uda2...
The opinions expressed or implied on the thread above reflect solely based on the author's personal experience. Thus, the author may disclaim warranties on, included but not limited to, any ki

Offline MATRIX

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 8.848
  • Lokasi: Firdaus Heaven
  • Jenis kelamin: Pria
  • percayakah pesantren miskin tukang ngebom?
    • Lihat Profil
« Jawab #43 pada: 05 Juni 2007, 11:00:57 »
untuk angku angween  %peace%

ini penjelasan tentang nama panggilan di msyarakat minangkabau walaupun ada beberapa tempat berbeda tapi secara garis besar seperti ini :

anak memanggil : ibunya dengan panggilan mama, mami, amak, ummi, ibu
saudara ibu yang lebih tua : mak dang, mak adang
ibu punya saudara yang lebih muda : mak etek biasanya untuk laki-laki, etek biasanya untuk perempuan
saudara kandung ibu yang laki-laki : mamak bisa dipanggil mak ngah, mak uniang dll

niniak (untuk buyut perempuan), Inyiak (buyut laki-laki) --> masih ada hubungan seibu
gaek (anak2 buyut perempuan),Datuk(gaek laki-laki) --> masih ada hubungan seibu
uo (nenek), tungganai (kakek)--> masih ada hubungan seibu
mande(ibu)

banyak sebutan yang lain seperti bako pihak keluarga ayah kandung dll
mungkin rang awak di siko bisa manambahkan ;)
Bersujud wajahku kepada Allah Rabb yang menciptakan, yang membelah pendengaran dan penglihatan dengan daya dan kekuatanNya,Maha Suci Allah. Tulislah untuk kami dengan sujud kami pahala di sisiMu

Offline bidadari_Azzam

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.949
  • Lokasi: Krakow, Poland
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Izinkan hamba memenuhi panggilanMu Yaa Allah...
    • Lihat Profil
    • Born for Islam
« Jawab #44 pada: 05 Juni 2007, 13:21:54 »
Subhanallah...
Lamo indak basuo rumah gadang tuh...
Rancak bana ko ha...
”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55] : 13)