19 Juni 2013, 21:31:28
Selamat datang,
Pengunjung
. Silahkan
masuk
atau
mendaftar
. Apakah anda lupa
aktivasi email
?
1 Jam
1 Hari
1 Minggu
1 Bulan
Selamanya
-->
Board khusus buat pasutri
myQ Selasar, sekilas info: Menghitung Hari Menuju SILAKBARNAS (Silaturrahim Akbar Nasional) - Pantai Depok, Jogja, 29-30 Juni | Selamat datang di myQuran, komunitas muslim indonesia..
Depan
myQdotCOM
myQdotORG
Forum
Bantuan
Cari
Kalender
Media
Facebook
Masuk
Registrasi
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: "Iman mempunyai lebih daripada enam puluh cabang. Ada pun malu adalah salah satu cabang iman." (
Sahih Bukhari
)
myQuran - Komunitas Muslim Indonesia
»
Pesantren Virtual
»
Artikel
(Moderator:
kurnia_saputra
,
ina13
,
mushab bin umair
) »
GENERASI SALAH ASUH ...
« sebelumnya
berikutnya »
Cetak
Halaman:
1
...
5
6
[
7
]
8
Turun
Penulis
Topik: GENERASI SALAH ASUH ... (Dibaca 11081 kali)
ihsan
myQ Pejuang
Tulisan: 3.432
Jenis kelamin:
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #90 pada:
30 Maret 2012, 14:26:25 »
Link:
Pelajaran Calistung Sejak PAUD Bikin Anak Jadi Stres
http://myquran.org/forum/index.php/topic,76194.0.html
Tercatat
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin
KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/
Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0
ihsan
myQ Pejuang
Tulisan: 3.432
Jenis kelamin:
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #91 pada:
17 Juli 2012, 10:12:50 »
dapat email dari teman ^,^ sekalian arsipkan ke sini
--------------------------------------
Pendidikan Sebenarnya
By
Prof. Rhenald Kasali
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,”lanjutnya.
“Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ”
Dia pun melanjutkan argumentasinya. “Saya sudah 20 tahun mengajar.
Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita. Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan.
Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. * Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.
Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan
. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil
kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman:
gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.
Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
Copas Dari salah satu Artikel Prof. Rhenald Kasali, Semoga menginspirasi..
https://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/pendidikan-sebenarnya
«
Edit Terakhir: 17 Juli 2012, 10:19:37 oleh ihsan
»
Tercatat
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin
KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/
Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0
ihsan
myQ Pejuang
Tulisan: 3.432
Jenis kelamin:
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #92 pada:
18 Juli 2012, 10:11:41 »
10 Salah Asuh
Bukan cuma anak yang bisa salah. Orang tua pun bisa salah. Coba cek, apakah Anda pernah melakukan kesalahan terhadap anak saat mengasuhnya.
1. Tidak peduli kebutuhan dasar anak.
Mungkin Anda mengira apa yang sudah Anda berikan kepada anak adalah yang terbaik. Sekolah mahal, mainan banyak dan selalu baru, memberinya les musik, menari, melukis. Tapi, waktu Anda untuk bertemu anak dan memanfaatkan waktu bersamanya hanya dua kali dalam enam bulan. Betulkah itu kebutuhan anak? Berikan diri Anda sebagai kebutuhan dasar anak. Berikan waktu Anda, curahkan perhatian Anda, dengarkan kisah-kisahnya yang lugu, lucu dan ajaib.
2. Perlakukan anak seperti orang dewasa.
Banyak tuntutan tak masuk akal terhadap anak. Makan tak boleh berceceran, pakai baju harus match tanpa diajari, tidak boleh salah, harus cepat mengambil keputusan dan lain-lain. Anda menjadikan diri Anda sebagai standar. Tuntut anak sesuai dengan milestone atau tahap perkembangannya. Pahami tahap perkembangannya, ikuti iramanya. Pahami jalan pikirannya. Logika anak-anak jauh dari sempurna. Otaknya masih tumbuh, demikian pun fisiknya.
3. Dilayani habis-habisan.
Mengambil buku di kamar, mengambil sepatu di rak sepatu atau mengambil minum di dapur harus Anda atau pengasuhnya yang mengambilkan. Ia diperlakukan sebagai bayi yang belum mampu melakukan apapun. Berikan kesempatan pada anak untuk melakukan sesuatu yang seharusnya sudah bisa ia lakukan. Bila perlu, sedikan tempat yang mudah ia gapai untuk mempermudah apapun yang ia butuhkan. Misalnya meja kecil untuk meletakkan gelasnya. Merasa diri mampu melakukan segala sesuatu sendiri, akan meningkatkan harga diri anak.
4. Tidak pernah berkata ‘tidak'.
Kata “YA” selalu keluar dari mulut Anda. Bukan hanya pada sebuah pernyataan anak seperti “Gambar aku bagus, bunda?” Tapi juga untuk semua permintaannya. Ketika Anda pelit mengatakan 'TIDAK,' Anda tak peduli pada anak. Anda hanya peduli pada diri Anda, tak mau repot-repot konflik dengan anak. Anda tak mau berpikir, mengapa Anda mengatakan 'tidak.' Gunakan kata ‘YA’ dan ‘TIDAK’ secara adil. Pikirkan sebelum mengatakan 'YA' atau 'TIDAK' karena anak harus tahu mengapa dia mendapatkan jawaban itu. Terutama untuk bereksplorasi, dua kata ini sangat penting.
5. Bicara dengan bahasa yang kacau.
Tidak ada standar bahasa yang jelas. Anda sesekali berkata ‘utu’ untuk ‘lucu’, ‘acih’ untuk ‘terima kasih’ atau ‘pepe’ untuk sebutan vagina. Terdengar lucu saat mengucapkan kata-kata itu, tapi jelas-jelas membingungkan anak. Bicara sesuai dengan kaidah bahasa. Ucapkan kata-kata dengan benar, tak perlu mengikuti anak bicara dengan ucapan cadel. Dia memang belum fasih bicara karena perkembangan bicaranya juga belum sempurna. Si kecil butuh role model untuk mengenal dan meniru. Jangan ragu untuk mengenalkan banyak kata kepada anak, bisa melalui lagu, buku atau film.
6. Tidak ada disiplin.
Meletakkan tas sekolah di kolong meja, meletakkan sepatu di kursi tamu, ada sendok di rak buku. Menyedihkan sekali kondisi rumah si kecil. Sama seperti di jalan raya yang punya aturan, di rumah pun harus ada aturan karena aturan dibuah demi keamanan dan kenyamanan bersama. Ajarkan disiplin pada anak sejak dini. Buat daftar apa saja yang harus dipatuhi oleh semua penghuni rumah, agar semua anggota keluarga bersikap konsisten menjalaninya. Khusus untuk anak, Anda bisa membantu mengingatkannya bahwa sepatu tempatnya bukan di sofa, tas sekolah bukan di kolong meja tempatnya.
7. Tidak dituntut untuk menghormati orang tua.
Demi menjaga keakraban dengan anak atau dianggap sebagai teman yang menyenangkan, Anda berperilaku seperti teman sebayanya. Atau Anda malah membiarkan si kecil memanggil Anda dengan sebutan nama atau dengan ucapkan “eh”. Tak ada batasan antara pemegang otoritas dan yang harus mematuhinya. Berlakukan konsep menghormati orang tua, apalagi Anda hidup dengan budaya timur. Mengucapkan salam saat bertemu orang lain, membungkuk ketika berjalan di depan orang yang lebih tua, sudah menjadi tata karma yang harus diikuti oleh anak.
8. Memberi hadiah berlebihan.
Karena tak punya waktu untuk anak, Anda menggantikan kehadiran Anda dengan hadiah. Saat Anda sedang berjuang untuk mendorong anak melakukan yang terbaik, Anda juga memberikan hadiah yang berlebihan atau tidak seharusnya ia dapatkan. Misalnya Anda memberikan hadiah sepeda karena anak berhasil membereskan tempat tidurnya. Berikan penghargaan atau hadiah sesuai dengan usaha yang anak lakukan. Hadiah tak harus berupa benda. Ucapan atau pujian seperti “Kamu hebat” atau “Kamu pintar” dapat Anda gunakan. Fungsi hadiah sebenarnya adalah menghargai apa yang sudah dilakukan oleh anak.
9. Dibiarkan jauh dari Anda.
Anda sudah ajarkan pada anak tentang siapa nama orang tuanya, tempat tinggalnya, nomor telepon Anda, atau harus menghubungi satpam bila kehilangan Anda. Tapi, bukan berarti Anda memberikan kepercayaan penuh pada anak untuk berada jauh dari jangkauan Anda. Usahakan anak selalu berada dalam pengawasan mata Anda saat berada di tempat umum. Selain Anda tidak mengetahui bahaya apa yang akan mengancam dari lingkungan, hati-hati juga dengan kemampuan logika atau berpikir anak. Kasus anak terjepit eskalator atau jatuh dari lantai atas tidak sedikit, bukan?
10. Tidak mengijinkan anak menjadi anak.
Memaksakan selera atau mimpi Anda kepada anak, dilakukan para orang tua dari generasi ke generasi. Segala hal harus sesuai dengan kehendak Anda, jika tidak mau maka teror pun Anda lakukan. Misalnya menurut Anda pakaian t-shirt dengan rok jeans yang warnanya senada itu pakaian yang paling bagus untuk anak. Sedangkan menurut anak rok kotak-kotak berwarna merah dengan t-shirt kuning garis-garis sudah sangat keren. Dengarkan pendapat anak. Ia memang masih kecil, tapi tidak berarti suaranya tidak didengar oleh Anda atau orang dewasa . Saat Anda mau mendengarkan pendapatnya, ini juga menjadi cara untuk ajarkan anak belajar mendengarkan orang lain.
http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/Keluarga/10.salah.asuh/001/007/1101/25/3
Tercatat
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin
KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/
Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0
ihsan
myQ Pejuang
Tulisan: 3.432
Jenis kelamin:
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #93 pada:
18 Juli 2012, 10:24:30 »
Ada hal yg terlewatkan dalam menetukan kebijakan didunia pendidikan kita
dan saya sepakat dg ini
Diskusi tentang pentingnya RISET dan ANALISIS
di
http://www.forumsains.com/pendidikan/cermin-pendidikan-di-indonesia/msg128278/#msg128278
Cermin Pendidikan Di Indonesia
Munculnya berbagai kebijakan bagi pendidikan di negara ini disinyalir tidak berdasarkan hasil riset dan analisis yang mendalam.
Riset pendidikan selama ini hanya bersifat reaktif dan solusi untuk jangka pendek.
Sehingga menyebabkan pemerintah tidak memiliki kebijakan bagi pendidikan untuk jangka panjang. Demikian yang dikemuka dalam lokakarya "Penajaman Peran dan Fungsi Balitbang dalam rangka Reformasi Birokrasi" yang berlangsung (23-24/10/2011), di Bogor.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengakui, bahwa riset pendidikan yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus bisa menjadi sebuah kebijakan. Karena setiap kebijakan pemerintah seharusnya berdasarkan hasil kajian dan analisis dari balitbang. "Riset jangan hanya dilakukan internal dan parsial. Agar riset bisa menjadi kebijakan, pihak lain seperti daerah dan lembaga penelitian harus ikut dilibatkan. Ini yang belum dilakukan," kata Musliar.
Menurut Sofian Effendi, anggota tim Reformasi Birokrasi Nasional Wakil Presiden RI, kebijakan pemerintah yang
cenderung reaktif dan tidak berdampak jangka panjang ke depan.
Padahal Indonesia membutuhkan
perubahan strategi pendidikan 20-30 tahun ke depan
. "Seharusnya, tugas paling pokok balitbang membuat kajian kebijakan jangka panjang, melihat perkembangan Indonesia 25 tahun ke depan. Apa masalah yang akan dihadapi dan bagaimana SDM yang harus dicetak," kata Sofian. Hasil riset dan analisis balitbang itulah yang akan menjadi pegangan mendikbud untuk pelaksanaannya. Bukan sebaliknya seperti yang terjadi sekarang.
"Mereka harus melakukan policy research. Bukan scientific research seperti sekarang. Untuk bisa policy research, Balitbang perlu analis-analis kebijakan. Bukan peneliti," kata Sofian. Kepala Balitbang Kemdikbud Khairil Anwar Notodiputro berencana mengembangkan riset kebijakan yang responsif, antisipatif, dan futuristik. Ia berharap reformasi peran dan fungsi balitbang bisa mengembangkan mutu hasil litbang sehingga bisa menjadi "penunjuk jalan" bagi perubahan di pendidikan dan kebudayaan.
Namun sebelum bisa melakukan itu, peran dan fungsi Balitbang harus diperkuat dengan mengubah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2006 tentang fungsi dan peran Balitbang, yakni mengadakan penelitian dan pengembangan.
http://www.forumsains.com/pendidikan/cermin-pendidikan-di-indonesia/msg128278/#msg128278
Tercatat
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin
KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/
Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0
ihsan
myQ Pejuang
Tulisan: 3.432
Jenis kelamin:
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #94 pada:
22 Juli 2012, 10:41:33 »
Bangkitnya Pendidikan Agama Nigeria Dari Moment Ramadhan
Anak muslim Nigeria kini diarahkan untuk kembali mengenal fitrahnya Islamnya yaitu Al Qur'an
Ahad, 22 Juli 2012
Hidayatullah.com- Pendidikan Barat hampir tidak mengajarkan mengenai moral, tetapi Al Qur'an dipenuhi dengan pelajaran tentang bagaimana menjalani kehidupan yang damai dan produktif. Al-Qur'an mengajarkan keadilan, kesetaraan dan toleransi.
Kutipan itu keluar dari seorang Abdulsemiu Mobolaji Adedo, seorang pensiunan dari sebuah perusahaan minyak di Nigeria.
Saat ini terjadi kekhawatiran besar terhadap para orangtua Muslim Nigeria terhadap pertumbuhan anak-anak mereka yang jauh dari syariat Islam.
"Hari ini mereka (para orangtua) menyesal telah mengabaikan betapa pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak mereka," Ujar Femi Abass, seorang kolumnis muslim terkemuka di Nigeria kepada OnIslam.net.
Pernyataan Femi ini terkait fakta dari gaya hidup anak-anak muslim Nigeria yang tidak sedikit terjebak pada cara berpikir barat bahkan mengadopsi gaya hidupnya tanpa filteriasasi agama.
Para ahli pendidikan seperti Dr Abubakar Momoh, seorang dekan disebuah universitas di Nigeria berpendapat. Gejolak sosial di Nigeria, mulai dari kekerasan, kriminalitas, gangster, pergaulan bebas hingga konflik etnis yang berkembang,
merupakan gambaran dari gagalnya pendidikan agama bagi generasi penerus
Nigeria ini.
"Semua ini adalah konsekuensi, ketika anak-anak selalu dibahagiakan secara material semata dan dibiasakan hidup dalam kemewahan," kata Dr Abubakar.
Di Ramadhan tahun ini, keluarga-keluarga Muslim Nigeria akhirnya mulai membuka mata atas pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak mereka sejak dini. Bahkan banyak dari mereka mulai melakukan pemantauan terhadap apa yang dikonsumsi anak-anak mereka.
Mulai dari teman pergaulan, tontonan dan aktivitas lainnya. Semua ini bertujuan untuk mengantisipasi efek pergeseran budaya dan kepribadian anak-anak dari ancaman budaya westernisasi.
"Saat anak-anak ke sekolah dipagi hari, siang harinya mereka kami wajibkan ke madrasah untuk belajar Al Qur'an. Ternyata ini memang efektif memberikan perubahan akhlak pada mereka, " jelas Abdulsemiu Mobolaji Adedo.
http://hidayatullah.com/read/23827/22/07/2012/bangkitnya-pendidikan-agama-nigeria-dari-moment-ramadhan.html
Tercatat
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin
KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/
Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0
Technomha Aznesse
myQ Perambah
Tulisan: 214
Jenis kelamin:
Mujahid Maya
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #95 pada:
23 Juli 2012, 07:56:03 »
generasi muda islam yang akan mengendalikan dunia ini pada zamanya, akan bagaimanakah nasib islam dengan generasi muda yang sekarang.?
Tercatat
Love people who love you, then God will love you
Elingo
myQ Newbie
Tulisan: 19
Jenis kelamin:
Ngiling mboten Nggiling
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #96 pada:
23 Juli 2012, 16:43:23 »
bwagus generasinya
Tercatat
Bacalah dengan nama Tuhan-Mu
Desita
myQ Perambah
Tulisan: 243
Jenis kelamin:
myQer
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #97 pada:
31 Juli 2012, 08:18:53 »
bisa kita bayangkan bgmn jadinya kalu kita terus terjebak dalam situasi seperti ini, jadi kapankah kita harus memulai membenahinya? yg pasti SECEPATnya ..
Tercatat
Biaya Umroh 2013
|
Travel Umroh Jakarta
ihsan
myQ Pejuang
Tulisan: 3.432
Jenis kelamin:
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #98 pada:
02 Agustus 2012, 21:09:53 »
Anak berlaku kriminal, salah siapa ?
(Arrahmah.com) - Kasus pembunuhan sadis yang menimpa ayah dan anak di Bojonggede, Bogor (Rabu, 18/7/2012) sungguh mengejutkan publik. Bukan hanya karena cerita tragisnya, melainkan karena salah satu pelaku tindakan sadis tersebut adalah remaja berusia 14 tahun.
Menanggapi peristiwa pembunuhan sadis teresbut, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait menegaskan; faktor utama yang menyebabkan sang anak melakukan tindakan keji tersebut adalah faktor ekonomi, meski masih ada faktor-faktor yang lainnya. (Kompas.com, jum'at 20/7/2012). Dari kenyataannya, anak itu adalah orang miskin. Anak itu bisa melakukan tindakan sadis karena faktor ekonomi. Kebetulan si A ini anak pemulung. Menurut pengalamannya pula, selain faktor ekonomi, faktor lain yang mempengaruhi anak melakukan tindakan sadis adalah ketergantungan narkoba dan kesenjangan sosial yang tinggi di Masyarakat.
Melihat hal tersebut, ia meminta ketiga faktor itu turut menjadi pertimbangan pihak kepolisian dalam memproses kasusnya. "Anak ini justru harus ditempatkan sebagai korban. Polisi harus hati-hati menerapkan pasal kepada si anak. Hukuman berat harus diberikan ke orang-orang dewasa yang memengaruhi sang anak karena mereka melakukan tindakan perencanaan," lanjutnya. Karena sang anak harus ditempatkan dalam perspektif korban, Arist menyarankan pihak kepolisian untuk menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak untuk menjerat anak pelaku pembunuhan. Sementara itu, untuk orang dewasa, mereka bisa menggunakan pidana tentang pembunuhan berencana. "Polisi tidak bisa menggunakannya kepada anak 14 tahun itu pakai Pasal 340, harus pakai Undang-Undang Perlindungan Anak atau bisa pakai Undang-Undang Pencurian Disertai Tindak Kekerasan. Yang bisa dikenakan Pasal 340 adalah orang dewasa pemilik order itu," lanjutnya.
Remaja dan Lingkungannya
Fase remaja adalah periode kehidupan manusia yang sangat strategis, penting dan berdampak luas bagi perkembangan berikutnya. Saat perkembangan inilah peran keluarga sangat di perlukan, karena pengawasan/kontrol diri dari orang tua akan sangat membantu perkembangan anak untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Usia remaja adalah masa dimana perkembangan antara masa anak-anak dan dewasa, yang ditandai oleh perubahan-perubahan fisik serta perkembangan kognitif (kemampuan berpikir) dan sosial. Pada masa remaja banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri anak, baik segi psikis maupun fisiknya. Dalam segi psikis bayak teori-teori perkembangan yang memaparkan ketidakselarasan, gangguan emosi dan gangguan perilaku sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang dialami remaja karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun akibat perubahan pada lingkungan. Jika tidak diwaspadai, perubahan-perubahan itu akan berdampak negatif pada remaja.
Menelaah dari kasus pembunuhan ini selain faktor ekonomi yang paling mengedepan sehingga kasus pembunuhan ini terjadi, adalah faktor lingkungan sangat berperan sehingga pembunuhan ini terjadi. Lingkungan adalah tempat perkembangan sosial, dan pada fase inilah saatnya remaja telah mengalami perkembangan kemampuan untuk memahami orang lain (social cognition) dan menjalin persahabatan. Remaja memilih teman yang memiliki sifat dan kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, misalnya sama hobi, minat, sikap, nilai-nilai, dan kepribadiannya.
Perkembangan sikap yang cukup rawan pada remaja adalah sikap comformity yaitu kecenderungan untuk menyerah dan mengikuti bagaimana teman sebayanya berbuat. Misalnya dalam hal pendapat, pikiran, nilai-nilai, gaya hidup, kebiasaan, kegemaran, keinginan, dan lain-lainnya. Dalam kasus pembunuhan ini terlihat si pelaku memiliki banyak teman, bukan tidak mungkin pengaruh dari teman yang membuat si pelaku terjerumus.
Perkembangan kesadaran beragama sangat diperlukan dalam fase perkembangan remaja. Keteguhan Iman dan hati adalah penentu perilaku dan perbuatan seseorang. Bagaimana perkembangan spiritual ini terjadi pada psikologi remaja? Sesuai dengan perkembangannya kemampuan kritis
psikologi remaja
hingga menyoroti nilai-nilai agama dengan cermat. Mereka mulai membawa nilai-nilai agama ke dalam kalbu dan kehidupannya. Tetapi mereka juga mengamati secara kritis kepincangan-kepincangan di masyarakat yang gaya hidupnya kurang memperdulikan nilai agama, bersifat munafik, tidak jujur, dan perilaku amoral lainnya. Di sinilah idealisme keimanan dan spiritual remaja mengalami benturan-benturan dan ujian. Ketika salah sedikit saja bertindak akan berakibat fatal.
Kasus kejahatan dan solusinya
Kasus-kasus kejahatan yang melibatkan anak-anak (usia kurang dari 18 tahun) semakin marak, baik kuantitasnya yang semakin banyak, juga kualitas kejahatannya yang semakin keji. Dalam persepsi hukum positif saat ini, yakni UU perlindungan Anak, anak didefinisikan mereka yang berusia kurang dari 18 tahun.
Definisi ini sejatinya bertentangan dengan fakta di lapangan. Terbukti saat ini usia 14-18 tahu itu sudah membentuk sosok tak ubahnya seperti orang dewasa, karena memang mayoritas usia inilah –bahkan lebih rendah lagi, telah mengalami pubertas sebagai tanda-tanda peralihan dari masa anak-anak menjadi dewasa. Sangat salah jika memposisikan mereka sebagai anak-anak, sehingga setiap perilakunya ditoleransi. Berlaku kejahatanpun dibela dengan memposisikan mereka sebagai korban. Karena itu, definisi anak tidak relevan. Bersikap lunak terhadap anak perilaku kriminal hanya akan menularkan efek buruk terhadap anak lain, yang akan bisa melakukan yang serupa atau bahkan lebih buruk.
Adapun kondisi yang melatarbelakangi kejahatan anak seperti yang disebutkan di atas, seperti himpitan ekonomi, rendahnya pendidikan, kurangnya perhatian orang tua dll, bisa dituntaskan oleh negara dengan mekanisme penerapan sistem yang mampu memenuhi itu semua. Bukan dengan menghukum ringan pelaku kejahatan, atau bahkan memaafkannya sama sekali.
Bagaimana Islam dengan tegas memisahkan kategori anak dan dewasa, yakni ditandai dengan masa pubertas/baligh. Tanda-tanda baligh itu antara lain itu ihtilam (mimpi basah) bagi laki-laki, atau haid bagi perempuan, serta perubahan fisik lainnnya. Bagi yang belum baligh, dan jika melakukan tindak kriminal, orangtuanya yang dikenai sanksi, sementara anaknya yang melakukan tindak kriminal harus dibina/dididik. Bagi anak yang telah baligh konsekuensinya adalah taklif/pembebanan hukum syara' sudah berlaku. Termasuk ketika melakukan tindak kejahatan, dihukum setimpal.
Negara harus menciptakan sistem yang mampu menyiapkan anak, saat ketika baligh harus sudah siap memikul beban hukum, sehingga bisa memilih dan memilah mana tindakan terpuji/kebaikan, dan mana tindakan tercela/kejahatan, sehingga tercegah menjadi pelaku kriminal.
Keluarga, masyarakat dan negara bertanggung jawab terhadap kriminalitas yang dilakukan anak-anak. Tingkat tanggung jawabnya bertambah dan puncaknya berada di negara. Menyerahkan pendidikan anak kepada keluarga saja belum cukup, apabila masyarakat dan negara tidak menerapkan aturan dan sanksi untuk melindungi anak-anak dari tindak kejahatan dan berbuat jahat.
Dalam pandangan Islam, negara adalah satu-satunya institusi yang dapat melindungi anak dan mengatasi persoalan kejahatan anak ini secara sempurna. Dengan Islam-lah anak bisa terjauh dan terhindar dari tindak kriminal, dan mewajibkan negara untuk menerapkan hukum tersebut.
Rasulullah saw. bersabda terkait dengan tanggung jawab pemimpin negara: "Sesungguhnya imam itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Muslim)
Dalam hadist lainnya, "Imam adalah pengurus dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya." (HR Muslim dan Ahmad)
Islam mewajibkan negara untuk menjamin setiap warganya/masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Dengan jaminan seperti ini, para ayah diberikan kesempatan bekerja untuk mencukupi nafkah keluarganya. Para ibu dikembalikan kepada fungsi utamanya sebagai pendidik anak-anak dan pengatur urusan rumah tangga, sehingga bisa berkonsentrasi menjadikan putra-putrinya menjadi anak yang shalih dan shalihah. Wallâhu a'lam bish-shawâb.
Oleh : Henny (Ummu Ghiyas Faris)
E-mail :
ummughiyas@gmail.com
,
ummughiyasfaris@facebook.com
Web Site :
www.ummughiyas.blogspot.com
http://arrahmah.com/read/2012/07/27/21937-anak-berlaku-kriminal-salah-siapa.html
Tercatat
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin
KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/
Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0
ihsan
myQ Pejuang
Tulisan: 3.432
Jenis kelamin:
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #99 pada:
04 Agustus 2012, 22:27:44 »
Oase Iman
Haruskah Generasi Kembali Berulang?
Eramuslim.com | Media Islam Rujukan,
Oleh : Azimah Rahayu
Satu tahun berlalu. Fitra, keponakan kecil saya berusia tepat tiga tahun. Semestinya saya menyambutnya dengan gembira dan bahagia. Karena dalam usia yang kesekian itu seorang anak tengah lucu-lucunya. Tapi ternyata kali ini saya menyambut tiga tahun usianya dengan banjir airmata.
Sejak terakhir kali saya mencatat perkembangannya ketika dia berusia dua tahun, Fitra telah berkembang sangat pesat. Dalam waktu satu tahun sudah begitu banyak hal yang dia pelajari. Nyaris seluruh kosa kata bahasa jawa sudah dia kuasai dan digunakan dengan tepat, serta tanpa cadel kecuali sedikit saja. Bahkan dia suka mengulang ungkapan bahasa Indonesia yang saya pakai namun tidak lazim dalam percakapan bahasa Jawa. Suatu hal yang menggembirakan seharusnya.
Tapi mengapa saya menyambutnya dengan duka jiwa? Karena Fitra mengalami banyak perkembangan jiwa, akhlak dan moral menjurus ke arah negatif. Bahwa ada banyak hal positif yang telah dia raih, saya tidak menafikan itu. Tapi perkembangan hal buruknya jauh lebih mengkhawatirkan saya.
Fitra saya sekarang suka memaksakan kehendak jika menginginkan sesuatu. Jika tidak dipenuhi dia akan mengamuk. Selain itu, jika ditegur karena melakukan sesuatu yang tidak baik, dia malah marah, kadang mengamuk juga. Berteriak-teriak, memukul, mencubit, menggigit dan sebagainya. Tak peduli itu bapak, kakek, nenek, mamanya, saya, atau siapapun. Pun, dia suka berbicara dengan nada keras, tinggi serta memerintah. Kosakatanya yang sudah masyaAllah berhamburan dalam konotasi buruk. Sehingga dalam usianya yang tiga tahun, saya seakan melihat sosok pemuda masa depan yang kasar, suka memaksa dan tak bisa diatur.
Fitra punya kecenderungan pemberontak, itu mungkin sekali. Karena bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah itu tidak berarti semua anak benar-benar seperti kertas kosong dan memiliki kondisi start yang sama. Mereka punya potensi/gen yang mengalir dalam darah mereka. Potensi ini akan berkembang atau mati karena stimulan dari kondisi dan pembelajaran dari sekelilingnya. Mereka punya modal yang akan tumbuh dan mengarah pada kebaikan atau keburukan tergantung dari pengaruh dan pendidikan yang dia terima dari lingkungannya: orang-orang dekat yang setiap hari berinteraksi dengannya. Dan hal ini pun sudah saya sadari sejak lama, karena teori perkembangan anak menyatakan bahwa usia dua sampai tiga tahun seorang anak mengalami perkembangan tercepat, baik secara jiwa, fisik maupun akal.
Dan saya merenungi ini.
Bahwa tak ada yang mengajarinya berbicara dengan nada-nada tinggi dan meminta sesuatu dengan perintah kasar, saya percaya itu. Tapi saya tidak yakin Fitra kecilku tidak meniru orang-orang di sekelilingnya yang terbiasa berbicara dengan nada tinggi dan teriakan. Tak ada yang mengajarinya bersikap tidak sopan dan memukul orang yang lebih tua, namun saya percaya Fitra banyak melihat orang-orang dewasa bersikap tidak sopan dan suka memukul.
Sulit bagi saya mengajarkan Fitra untuk selalu membuang sampah pada tempatnya, sedang di sekelilingnya semua orang terbiasa membuang sampah sesuka hati. Susah setengah mati saya menyuruhnya mengenakan sandal atau sepatu jika bermain karena nyaris semua teman mainnya tidak mengenakan alas kaki. Tak mudah saya mengajarkan Fitra pipis di kamar mandi dan bersuci sesudahnya, sedang banyak tetangga kami buang air kecil di balik pohon atau di pagar halaman.
Menyaksikan perkembangan Fitra seperti memutar ulang memori tentang generasi saya dulu dan kadang membuat saya ketakutan:
haruskah sebuah genarasi kembali berulang? Dulu, saya pun dibesarkan dengan cara dan dalam kondisi yang sama.
Dan kemudian, saya tumbuh menjadi manusia dengan cara berpikir dan cara bersikap yang - setelah saya dewasa dan belajar agama-- sering saya sesali dan saya tangisi karena beratnya upaya untuk membenahi diri.
Dulu, teman-teman saya dibesarkan dengan cara dan dalam lingkungan yang nyaris sama, kemudian kini mereka tumbuh besar apa adanya,
dan nyaris merupakan replika
dan reinkarnasi dari para orang tuanya. Dalam budaya keseharian maupun budaya berpikir. Semuanya. Dulu, orang tua-orang tua kami banyak yang menikah setelah hamil, dan kini teman saya banyak yang melahirkan tanpa bapak. Dulu judi buntut adalah hal wajar bagi para dewasa, kini judi togel, taruhan playstation bahkan taruhan tarung tamiya dan beyblade sudah menjadi budaya anak TK hingga remaja. Dulu, minuman arak menjadi satu jamuan di hajatan, kini bir dan vodka ada di pos kamling dan tempat nongkrong. Dulu, orang tua kami sekolah secukupnya kemudian bekerja di pabrik. Kini, bahkan banyak anak yang tak meneruskan sekolahnya kemudian luntang lantung. Dulu, perbuatan-perbuatan musyrik menjadi keseharian kami, dan kini, tak seorang pun berupaya untuk merubahnya.
Semua nyaris tetap sama, meski generasinya telah berganti.
Nanti, haruskah itu terulang kembali pada generasi Fitra dan kawan-kawannya? Saya tak dapat membayangkan seperti apa jadinya jika demikian.
Lantas apa yang bisa saya lakukan? Mengharapkan Fitra saya tumbuh, kemudian mencari jalan kebenaran dari jiwanya sendiri hanyalah sepersemilyar kemungkinan.
Harus ada upaya dan stimulan dari orang dewasa di sekelilingnya dengan mendidik berdasarkan kesadaran atas benar salah, boleh dan tidak, bukan kebiasaan
. Agar ada atsar yang tertinggal di jiwanya hingga dapat menguatkan akal serta nuraninya dan membuatnya mampu berkembang menjadi lebih baik. Hingga dia peka terhadap kebaikan dan kebenaran. Agar apa yang dia peroleh dari lingkungannya menjadi suatu macam pertimbangan. Bukan sesuatu yang lekat dan tak berubah dari jiwanya. Masih banyak waktu untuk berubah, berkembang dan mekar.
Dan stimulan itu baru akan terwujud jika orang-orang di sekeliling Fitra pun berusaha berubah menjadi lebih baik.
Bertumpu pada bagaimana mendidik Fitra saja tanpa membenahi lingkungannya bagaikan memupuk di atas tapi dari bawah digerogoti. Bagaikan menulis di atas air. Nyaris tak berbekas, tak memberikan atsar. Tapi jika orang-orang dewasa di sekeliling Fitra mendapatkan pendidikan dan mendidik diri menjadi lebih baik, niscaya Fitra-Fitra yang lain pun tak perlu tumbuh sebagai replika generasi sebelumnya. InsyaAllah dengan demikian, setelah dewasa nanti, Fitra dan kawan-kawan akan membangun generasi anak-anaknya dengan lebih baik lagi, lagi, dan lagi. Sehingga, semakin tua dunia, semakin peka nurani manusia, semakin cerdas otak penghuninya, dan semakin indah budayanya. Dan, manusia pun akan menjadi sebenar-benar khalifah Allah di muka bumi. Semoga.
http://www.eramuslim.com/berita-haruskah-generasi-kembali-berulang.html
Tercatat
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin
KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/
Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0
ihsan
myQ Pejuang
Tulisan: 3.432
Jenis kelamin:
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #100 pada:
28 September 2012, 07:50:25 »
sekedar info, kemaren baru nonton tv beritanya tawuran demi tawuran dan salah satu tv text line beritanya sepanjang tahun ada 100 lebih tawuran dan korban kalau gak salah ada 30an....
Polda: Korban Jiwa Akibat Tawuran Meningkat
INILAH.COM, Jakarta - Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto mengatakan sejak bulan Januari hingga September 2012, tercatat telah lima orang tewas akibat tawuran di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
"Jumlah korban tewas akibat tawuran pelajar pada tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. Sekarang ada lima orang tewas dalam aksi tawuran, sedangkan tahun lalu terdapat empat korban tewas," ujar Rikwanto, Jakarta, Kamis, (27/9/2012).
Menurutnya, biasanya tawuran dipicu dari saling ledek antarsiswa atau aksi saling lempar. Tawuran juga tidak hanya terjadi dikalangan pelajar yang tingkat sekolah menengah atas saja, namun juga di kalangan pelajar siswa SMP bahkan mahasiswa. "Akibatnya, total korban luka 14 orang dan tewas 5 orang," ucapnya.
Berikut data tawuran yang terjadi dari Januari hingga September 2012
1. Tawuran pelajar di Jalan Matraman, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, pada 19 April 2012, pukul 20.00 WIB. menyebabkan dua pelajar yakni Guntur (17) dan Harzan Saparta (17), harus dilarikan ke RS Pertamina.
2. Tawuran antar pelajar di Jalan Ampera RT 03 RW 05 Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada tanggal 3 Mei pukul 17.50 WIB. Seorang pelajar bernama Bayu Dwi Kurniawan (16), mengalami luka bacok di kepala bagian belakang dan tewas. sementara dua orang pelajar yakni Rahman Aldi (17) dan Muhaji Adenan (16) mengalami kritis.
3. Jalan Diponegoro, depan kampus YAI dan UKI Jakarta Pusat, pada tanggal 5 Mei pukul 00.30 WIB. Dalam aksi ini tidak ada korban. Mahasaiswa UKI mengendarai sepeda motor melawan arus, kemudian diteriaki saat lewat depan YAI. Tidak terima, mahasiswa UKI masuk ke kampus YAI, tapi ternyata di dalam ada 15 mahasiswa YAI. Lalu ia kabur.
4. Kampus UKI dan YAI di Jl Diponegoro, Senen, Jakarta Pusat, pada tanggal 8 Mei pukul 01.10 WIB. Keributan antar dua kelompok dengan saling lempar batu dan bom molotov.
5. Jalan Diponegoro, Kel. Kenari, Senen, Jakarta Pusat, tanggal 9 Mei pukul 19.30 WIB. Korban luka 2 orang yang tak terdata. Tawuran kedua pihak UKI dan YAI, masing-masing personel 50 dan 300 orang.
6. Tawuran antar pelajar di Bundaran Bulungan, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tanggal 29 Mei pukul 17.00 WIB. Lima pelajar SMAN 6 Jakarta, dua siswa SMAN 70 Jakarta, dan seorang anggota Patko Res Jaksel Linga Wisnu Pamungkas terluka. Dari TKP, polisi menyita barang bukti berupa tiga buah arit, 3 bambu runcing.
7. Tawuran antarapelajar SMA Budi Utomo dan Santa Yosep. di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, pada 26 juli 2012 pukul 13.30 WIB. Korban bernama Roni (28). Korban saat itu berada di TKP, pada saat anak Budut saling ledek dengan anak Santa Yosep yang sedang menunggu bus, lalu terjadilah tawuran dan salah satu pelajar melempar air keras sehingga mengenai kaki korban sebelah kanan.
8. Stasiun Panjang, Buaran, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada 29 Agustus pukul 15.45 WIB. Korban tewas bernama Jasuli (16). Saat itu korban sedang tawuran dengan pelajar lain. tiba-tiba datang KA dari arah Jakarta menuju Bekasi. Korban tak bisa menghindar dan terseret KA dengan luka di kepala.
9. Lokasi di Jalan Raya Sawangan, perempatan mesjid Mampang Pancoran Mas Depok, 13 September 2012, jam 14.30 WIB. Korban tewas bernama Didik Triyuda, kelas 3 SMK Baskara.
10. Jalan Mahakam, Bunderan Bulungan, Blok M Plaza, Kebayoran Baru, 24 September jam 12.20 WIB. Korban tewas Alawi Yusianto Putra, dari SMAN 6 jakarta. Korban luka Ramdan Dimas dan Diaz Fahlevi dari SMAN6. Pelaku Fitra Rahamdani saat itu mengacungkan celurit ke arah siswa SMAN 6 di sevel. Korban melarikan diri sejauh 10 meter namun dikejar pelaku, dari arah belakang, FR langsung mengayunkan celurit ke sebelah kanan
tubuh korban.
11. Tawuran di Jalan Sahardjo, Manggarai, pada Rabu 26 September yang menewaskan Deni Yanuar, siswa SMA Yake 66.[bay]
http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1909750/polda-korban-jiwa-akibat-tawuran-meningkat
Tercatat
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin
KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/
Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0
ihsan
myQ Pejuang
Tulisan: 3.432
Jenis kelamin:
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #101 pada:
28 September 2012, 08:23:58 »
MUI: Pendidikan Akhlak Pelajar Tidak Cukup Diserahkan Pada Guru Agama
Jakarta (Voa-Islam) – Menyikapi tawuran pelajar yang terjadi akhir-akhir ini hingga jatuh korban (tewas),
Ketua Majelis Ulama Indonesia ((MUI) KH. Ma’ruf Amin
menyatakan keprihatinannya yang mendalam. Ini mengaku kecewa dengan pembinaan akhlak pelajar, sehingga perlu penanganan serius dari pemerintah.
“
Pembinaan pelajar ini sangat mengecewakan
, kita akan melakukan upaya dan kerjasama anatara MUI dengan Dikbud untuk melakukan perbaikan akhlak bangsa, terutama melalui pendidikan di sekolah. Jatuhnya korban hingga tewas adalah perbuatan yang melampaui batas. Kalau persoalan ini tidak ditangani serius oleh Dikbud, dikhawatirkan akan jatuh korban lebih banyak lagi,” kata Kiai Ma’ruf Amin di sela-sela Rakernas LPPOM MUI di Jakarta, kemarin.
Dikatakan kiai, harus ada upaya dari kepala sekolah untuk pembinaan akhlak secara koordinasi. Untuk pembinaan akhlak pelajar ini, MUI akan ikut ambil bagian. Selama ini kita hanya mementingkan aspek ketrampilan dan otaknya saja, tidak pada pendidikan akhlaknya.
Sehingga sangat menyedihkan jika ada pelajar yang menyatakan rasa puasnya setelah membunuh rekannya sesama pelajar
.
“
Merasa puas setelah membunuh itu adalah perasaan yang tumbuh dari cara berpikir dan pendidikan yang salah
. Seharusnya usai membunuh itu timbul rasa penyesalan, bukan kepuasan. Inilah akibat ada sesuatu yang salah dalam pendidikan di negeri ini.”
Salah satu yang mendukung pembinaan akhlak pelajar adalah kegiatan ekstrakurikuler rohis di sekolah-sekolah. Namun, disayangkan jika kemudian Rohis justru dituduh sebagai cikal bakal teroris.
Dikatakan KH. Maruf Amin, Rohis itu harus dikelola dengan baik, perlu ditata ulang agar tidak disusupi dan dimanfaatkan oleh pihak tertentu. Rohis tetap harus mendapat bimbingan dan arahan dari kepala sekolah dan para guru di sekolah.
Ketika ditanya, apakah tawuran pelajar akibat pendidikan agama yang kurang di sekolah, hanya dua jam saja. Menurut Kiai, tidak masalah, jika hanya dua jam, namun tetap ada kegiatan pembinaan akhlak secara integratif dibawah arahan pimpinan kepala sekolah dan para guru untuk melakukan hal-hal yang positif. Terpenting harus ada standar pendidikan agama dan disiplin yang benar.
Ada laporan dari beberapa guru di Depok, bahwa saat ini sekolah sangat kekurangan guru agama. Kalau pun ada hanya guru honorer saja. Kiai menyesalkan kenapa itu bisa terjadi. Itulah akibat, porsi guru agama sering dinomorduakan. Harus ada pengangkatan guru agama oleh pemerintah. Terpenting, permasalahan akhlak pelajar tidak cukup hanya diserahkan pada guru agama saja. Tapi juga kepala sekolah bersama para guru lainnya. Semua pihak harus terlihat untuk melakukan arahan dan pembinaan akhlak pejara menjadi lebih baik.
Menyinggung apakah sebaiknya kepala perlu dimutasi, jika gagal menghentikan pelajar untuk tidak melakukan tawuran yang berlangsung bertahun-tahun, Kiai Maruf menyatakan bisa saja kepala sekolah yang bersangkutan dimutasi. Karena kepala sekolah dinilai tidak bisa melakukan bimbingan kepada anak didiknya.
“Saya setuju jika kepala sekolah seperti itu diberi sanksi. Kiai menduga tawuran pelajaran yang seolah menjadi tardisi ini ditunggani oleh provokator. Boleh jadi tawuran ini disebabkan factor internal maupun eksternal,” ujarnya
http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/09/28/20897/mui-pendidikan-akhlak-pelajar-tidak-cukup-diserahkan-pada-guru-agama/
Tercatat
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin
KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/
Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0
ihsan
myQ Pejuang
Tulisan: 3.432
Jenis kelamin:
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #102 pada:
29 September 2012, 19:32:38 »
Tawuran Pelajar Marak - Kurikulum Pendidikan Diminta Dievaluasi
INILAH.COM, Jakarta - Tawuran antar siswa pelajar makin semakin tak terkendali, bahkan beberapa peristiwa tawuran menelan korban jiwa. Tentu ini membutuhkan perhatian serius semua elemen bangsa,
karena masalah pendidikan merupakan faktor fundamental untuk menentukan kemajuan dan masa depan bangsa dan negara.
Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dewan Perwakilan Rakyat Marwan Jafar mengatakan peristiwa itu menjadi masalah krusial karena pendidikan merupakan pondasi dalam rangka membentuk character and nation building.
"Perlu ada evaluasi secara holistik dan komprehensif terhadap sistem, arah, substansi dan tujuan pendidikan nasional kita baik dari sisi regulasi, pengawasan dan kurikulum," kata Marwan, Jakarta, Sabtu (29/9/2012).
Menurutnya, salah satu faktor penting lainnya yang perlu diimplementasikan adalah memberi tindakan efek jera bagi para pelajar yang melakukan hal yang destruktif dan negatif. Jika sudah sampai pada pembunuhan, maka hukum harus ditegakkan sesuai UU yang berlaku.
"Jika tidak ada evaluasi dan solusi pada sistem pendidikan kita secara komprehensif dan fiuturistik, maka tindakan vandalisme, kekerasan, dan tawauran antar pelajar akan terus terulang lagi," ujarnya.
Peran negara, kata Marwan, harus lebih ditingkatkan lagi. Karena, hal itu sesuai dengan amanat konstitusi. Untuk itu, negara wajib membendung penetrasi budaya-budaya asing yang negatif, supaya para pelajar tidak terinspirasi dan meniru budaya-budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya di tanah air.
"Stop tindakan kekerasan dan vandalisme di kalangan pelajar kita, termasuk mahasiswa, dengan acara apapun," tegasnya.
Selain itu, lanjut Marwan, pengawasan secara ketat para orang tua, guru, pihak aparatur negara tentu sangat dibutuhkan untuk mengatasi agar tawuran antar sekolah tak kembali terulang di tanah air. "Substansi dan tujuan pendidikan bukan hanya bersifat pengajaran semata, tapi lebih bersifat substantif yang mencakup budi pekerti, akhlaq, nilai-nilai humanisme, dan nilai-nilai transendental," demikian Marwan.
http://nasional.inilah.com/read/detail/1910315/kurikulum-pendidikan-diminta-dievaluasi
Polisi: Jangan Sampai Cap Sekolah yang Sering Tawuran Jadi Kebanggaan!
Jakarta Aksi tawuran antarpelajar kerap terulang dan seakan-akan menjadi warisan turun temurun.
Kebiasaan tawuran akan membentuk karakter dan cap bagi sekolah.
"Kecenderungan tiap sekolah itu ada dan itu diwariskan turun temurun terhadap juniornya, seperti tawuran ini. Dari 'warisan' ini nanti si muridnya
yang pelan-pelan membentuk karakter sekolah itu
. Karakter ini yang kemudian jadi brand image,"
jelas Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (28/9/2012).
Image sekolah yang terbentuk dari tawuran ini bisa ditanggapi secara positif atau pun negatif oleh siswanya.
"Jangan sampai cap sekolah yang sering tawuran ini menjadi kebanggaan buat siswa-siswanya," kata Rikwanto.
Ia melanjutkan, banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan tradisi tersebut, di mulai dari tingkat sekolah. Salah satu cara yang pernah diusulkan oleh masyarakat adalah dengan menghilangkan 1 hingga 2 generasi.
"Dihilangkan dengan cara tidak menerima siswa baru untuk 1 atau 2 tahun. Tetapi pihak sekolah siap tidak dengan cara ini?," katanya.
Cara lainnya bisa dilakukan dengan membuat aturan dan sanksi yang ketat bagi siswa yang melakukan kenakalan baik di dalam atau luar sekolah. Namun, lanjutnya, penerapan sanksi hukuman yang tegas kepada pelajar yang terlibat tawuran tidak dapat serta merta dijalankan.
Ia melanjutkan, tanggung jawab akan permasalahan tawuran pelajar tidak dapat dibebankan terhadap aparat kepolisian semata. Instansi terkait juga harus memberikan perhatian khusus akan permasalahan tersebut.
"Karena di sini ada BP masing-masing, kemudian ada pemerhati anak, mereka semua berkontribusi untuk sumbang pikiran dan saran terhadap anak-anak bermasalah," katanya.
http://news.detik.com/read/2012/09/28/123755/2042751/10/polisi-jangan-sampai-cap-sekolah-yang-sering-tawuran-jadi-kebanggaan
Lokasi Rawan Tawuran Pelajar Tersebar di 37 Titik
Jakarta Aksi tawuran antarpelajar di Jakarta dan sekitarnya sering terjadi setiap tahunnya. Aksi kekerasan di kalangan pelajar ini tidak hanya terjadi di lingkungan sekitar sekolah saja, tetapi juga tersebar di sejumlah lokasi yang menjadi fasilitas publik seperti jalan raya.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto mengatakan, pihaknya tidak dapat menyebutkan secara spesifik lokasi yang menjadi titik tawuran.
"Tetapi dari beberapa kejadian yang terangkum, tawuran ini terjadi di 37 titik di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Jumlah lokasinya ini fluktuatif, tergantung siswanya," kata Rikwanto kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Kamis (27/9/2012).
Tawuran pelajar ini tidak hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga telah meresahkan warga. Tidak jarang, aksi tawuran ini menimbulkan korban jiwa hingga kerugian materil.
"Untuk itu, diperlukan peran dari sekolah, keluarga dan alumni untuk mengurangi angka tawuran," kata Rikwanto.
Sementara itu, ditegaskan Rikwanto, kepolisian akan menindak tegas pelaku tawuran. Meski pelaku masih di bawah umur, sanksi hukuman yang sama akan dikenakan kepada pelaku.
"Kalau dari polisi jelas, tindak tegas. Jadi tidak ada lagi menyayangkan atau meringankan pelaku. Kalau faktanya dia sudah melakukan kejahatan tidak lagi bicara dia pelajar. Sanksinya tetap sama, hanya saja perlakuannya yang beda," jelasnya.
Berikut titik rawan aksi tawuran yang tercatat di Humas Polda Metro Jaya.
I. Jakarta Pusat
1. Jl Petojo, Gambir
2. Jl Kramat Jaya Senen
3. Jl Garuda, Senen
4. Jl Letjen Suprapto, Cempaka Putih
II. Jakarta Utara
1. Jl Yos Sudarso depan Pos Giro
2. Jl RE Martadinata Jembatan Goyang, Tanjung Priok
3. Samping lapangan golf Kemayoran
III. Jakarta Barat
1. Depan Season City Tambora/Jembatan Besi
2. Jl Ratu Menten, Tanjung Duren
3. Jl Daan Mogot, Depan indosiar
4. Jl Daan Mogot Taman Kota Cengkareng
5. Jl Baru Palmerah
IV. Jakarta Selatan
1. Kawasan Bulungan
2. Jl Buncit Raya
3. Jl bukit Duri
4. Jl Minangkabau, Manggarai
5. Jl Ir H Juanda, Ciputat, depan kampus UIN.
V. Jakarta Timur:
1. Jl Matraman Raya,
2. Jl Otista Raya,
3. Jl Pahlawan Revolusi Pondok Bambu
4. Jl DI Panjaitan Cawang
5. Jl Raya Cakung
VI Depok:
1. Jl raya sawangan
2. Jl Merdeka
VII. Bekasi Kota
1. Jl Ahyadi Sekitar gor
2. Jl Joyo Martono, Bulak kapal.
VIII. Bekasi Kabupaten:
1. Pertigaan Kawasan Hyundai, Cikarang Selatan
2. Jembatan flyover Cikarang Kota
3. Jembatan perbatasan Kedung Waringin
IX. Tangerang Kota:
1. Jl MH Thamrin Cipondoh
2. Flyover Jl Jenderal Sudirman
3. Flyover Cikokol
4. Jl Daan Mogot Batu Ceper
5. Jl R Patah Sudimara Selatan Ciledug
X. Tangerang Kabupaten:
1. Jl Serang depan Citra Raya Cikupa
2. Jl Serang pasar Balaraha
3. Jl Raya serpong Tangsel
http://news.detik.com/read/2012/09/27/213435/2041730/10/lokasi-rawan-tawuran-pelajar-tersebar-di-37-titik
«
Edit Terakhir: 29 September 2012, 19:46:59 oleh ihsan
»
Tercatat
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin
KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/
Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0
tri hidayanti
myQ Junior
Tulisan: 91
Jenis kelamin:
myQer
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #103 pada:
01 Oktober 2012, 14:15:45 »
generasi ayooo stop tawuran!
Tercatat
paket umroh 2013
Angdit
myQ Pro-Aktif
Tulisan: 925
Jenis kelamin:
Be a better man, Be the best of you
Re:GENERASI SALAH ASUH ...
«
Jawab #104 pada:
02 Oktober 2012, 14:27:38 »
Wah kalau SMA memang begitu... pihak sekolah A sudah mencap B sebagai sekolah musuh ! Ini terus diwariskan oleh senior ke juniornya ! Akibatnya junior akan ikut2 an rusuh ketika seniornya mengajak perang sekolah A meski sekolah B itu pada awalnya bukan sekolah perusuh. Jadi hentikan
doktrin
dari kakak seniornya terlebih dahulu kemudian
hukum tegas
sang senior yang ketahuan berantem. Jika sudah ditanya kemudian mereka tidak mau mengaku juga. Terpaksa dikeluarkan semua dengan tegas ! Tidak ada cara lagi selain cara itu untuk memutus rantai tawuran. Hanya jeleknya ialah... perusuh ini akan membawa pikiran permusuhan dan dendamnya ini ke tempat lain jika ia diterima di tempat baru. Dan siswa yang tidak ikut rusuh/tawuran jadi terpaksa di DO juga.
Cara mengetahui pelaku tawuran tersebut ialah dengan
tes kebohongan
menggunakan
alat
. Susah juga kalau tidak ada orang yang benar-benar memotret para pelakunya di tempat kejadian. Tidak ada cara lain selain cara tersebut.
Sebenarnya ada cara lain : yaitu mempushup/'menyiksa' fisik dalam tanda kutip semua kakak seniornya (misal kelas 3). Bila ia masih merasa kan empati kepada teman seangkatannya, maka ia akan gentle dan mengakui perbuatan salahnya. Untuk ini akan ada perawatan khusus untuknya. Jangan langsung dikeluarkan dulu karena virus tawuran ini belum dinetralisir.
Tercatat
Solidarity Forever. Organisasi Dakwah Islam boleh beda, ukhuwah tetap terjaga!
www.ruangmuslim.com
Cetak
Halaman:
1
...
5
6
[
7
]
8
Naik
« sebelumnya
berikutnya »
myQuran - Komunitas Muslim Indonesia
»
Pesantren Virtual
»
Artikel
(Moderator:
kurnia_saputra
,
ina13
,
mushab bin umair
) »
GENERASI SALAH ASUH ...
Short:
http://myquran.net/t/20151
myAgenda!
[
myQ Peduli
]:
Tebar #1000parcelcinta Ramadhan 1434H
[
myQ Peduli
] Baksos Cibuyutan Part III : Pemberian beasiswa untuk siswa siswi setempat.
[
Umum
]
Silakbarnas myQuran, 29 - 30 Juni 2013. Yuk rihlah dan silaturrahim ke Jogja!
myQomunitas!
myQuran @ Facebook
mySholat!
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
<img src="http://www.myquran.org/sholat/?type=png" title="Jadwal Sholat" />
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
myQripik
produk baru!
Jaket
Kaos
Kalender
Stiker
IMODE
|
myQ wiki
|
Quran Flash
|
Android
|
ChitCh@t
|
Plug-in
|
Radio
|
FB myQ Group